Rabu, 23 November 2011

Jihad Sebagai Gaya Hidup.....>>>.. Ibnu Taimiyah beliau memberikan isyarat bahwa jihad mencakup aktivitas hati berupa niat dan keteguhan, aktivitas lisan berupa dakwah dan penjelasan, aktivitas akal berupa pemikiran dan ide, serta aktivitas tubuh berupa perang dan lain sebagainya. Beliau membagi jenis jihad menjadi empat: 1. Jihad Militer: Jihad Perlawanan dan Jihad Penyerangan 2. Jihad Spiritual 3. Jihad Dakwah 4. Jihad Sipil (al-Jihad al-Madani). Jihad sipil ini mencakup Jihad Ilmu, Jihad Sosial, Jihad Ekonomi, Jihad Pengajaran, Jihad Kesehatan, dan jihad lainnya....>> Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya “Fiqhul Jihad” berpendapat bahwa kata jihad mempunyai makna yang lebih luas daripada kata peperangan (al-qital), meskipun kata beliau, fiqih memahami kata jihad hanya berarti peperangan. Beliau mengemukakan berbagai definisi jihad yang diberikan para ulama. Beliau lebih memilih jihad yang didefinisikan sebagai pengerahan usaha dan kemampuan di jalan Allah dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan lain sebagainya. Menurut beliau definisi ini yang lebih tepat karena mencakup seluruh jenis jihad yang diterangkan al-Qur’an dan Sunnah. ...>> ..Pemuda Ikhwan Bergabung di Tahrir, Meski Sikap Resmi Ikhwan Tidak Berpartisipasi...>> ...Wakil Ketua Komisi Yudisial (KY) Imam Anshori Saleh menyatakan prihatin pada perilaku hakim cabul yang sudah dijatuhi sanksi terberat, diberhentikan tidak hormat alias dipecat. Hakim DD dari Pengadilan Negeri Yogyakarta dinilai tidak bisa menjaga harkat martabat sebagai penegak hukum. Selain hakim DD, Majelis Kehormatan Hakim (MKH) juga memberhentikan hakim D, Hakim Mahkamah Syariah Tapaktuan, Aceh karena persoalan susila juga. "Krisis moral memang tengah melanda aparat penegak hukum kita. Selain asusila juga suap dan korupsi," kata Imam, Kamis, (24/11/2011). "Tidak ada maaf bagi mereka." ..>>.... Hah...Beredar Kabar WHO 'Borong' Tokek untuk Obat HIV/AIDS.....>>> JIHAD !!!....JIHAD !!!! JIHAD !!!!.... STOP MOLIMO- Gharar-Riba-Maisir. Tegakan Syariah dan Kuatkan Akhlaqul Karimah..>>... STOP PERPECAHAN DAN ADU DOMBA UMAT ISLAM.... Hayyyooo Sadarlah UMAT ISLAM.. >> JIHAD !!! JIHAD !!! JIHAD !!!! KUATKAN PERSATUAN UMAT ISLAM... DAN TEGUHKAN PERSAUDARAAN UMAT ISLAM.... !!!! JIHAD !!! JIHAD !!!.JIHAD !!!! HAYYO AKTIFLAH UMAT ISLAM BERSILATURAHIM... SEMUA SESAMA ULAMA... SESAMA KAUM CENDEKIA...PEMUDA-MAHASISWA-DAN SEMUA FOQOHA !!!! .. SATUKAN NAWAETU DAN SATUKAN HATI UNTUK KEJAYAAN AGAMA ISLAM DAN UMAT ISLAM...!!!! BERSATULAH UMAT ISLAM....!!! BANGUNKAN JIWA2 KEMANDIRIAN...!!! DAN PILIHLAH PEMIMPIN2 ISLAM OLEH UMAT ISLAM UNTUK ISLAM DAN KEJAYAAN UMAT ISLAM DAN BANGSA DAN NEGARA INDINESIA ..!!!! BANGKITLAH UMAT ISLAM...!!!! BERSATULAH UMAT ISLAM...!!!!! Allahumma afrigh alaina shabran watsabbit aqdamana wanshurna alalqoumilkafirin....Aaamiiin.....



Kamis, 24 Nov 2011

Jihad Lebih Utama Daripada Haji Mabrur

By: Abdullah Al-Mustofa
Peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur, kandidat Master Studi Al-Qur’an di IIUM (International Islamic University Malaysia)

SEBUAH sinetron berdasarkan kisah nyata dari Mesir beberapa hari yang lalu ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta tanah air. Sinetron tersebut mengisahkan seorang ibu yang diajak putranya pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah. Betapa bahagianya si anak karena ibunya dapat mengunjungi Tanah Suci. Tapi kebahagiaannya itu berubah menjadi kesedihan tatkala ibunya berada di dalam kawasan Masjidil Haram tidak bisa melihat Ka’bah karena tidak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan.

Dia tidak putus asa. Dia tiada putus memohon kepada Allah SWT agar Dia berkenan mengampuni dosa-dosa ibunya serta membuat ibunya bisa melihat Ka’bah. Namun Allah SWT belum berkenan mengabulkan doa-doanya hingga saatnya harus kembali ke tanah air mereka. Dia pun tidak putus asa untuk mengajak ibunya untuk pergi ke Tanah Suci hingga lima kali umrah dan satu kali haji meskipun ternyata ibunya tetap mengalami hal yang sama, ibunya selalu mengalami kebutaan ketika berada di kawasan Masjidil Haram.
Di laman web onislam.com berbahasa Inggris ada seorang yang telah tiga kali melaksanakan haji dan berencana akan melaksanakan haji tahun ini mengajukan pertanyaan apa yang sebaiknya dia lakukan antara memenuhi keinginan diri sendiri dengan melaksanakan haji lagi dan memenuhi kebutuhan umat dengan jalan membantu meringankan beban umat Islam yang dirundung kemalangan.
Setiap tahun selalu ada saja sejumlah artis atau selebriti Indonesia yang berkesempatan pergi ke tanah suci untuk berumrah atau berhaji.

Haji Sebagai Gaya Hidup

Di jaman yang penuh dengan kemudahan dan fasilitas ini menunaikan ibadah umrah dan haji telah menjadi gaya hidup sebagian kaum Muslimin dari sudut dunia manapun baik itu pejabat pemerintah, tokoh agama, kalangan selebritis, pengusaha maupun mereka yang berasal dari kalangan awam. Mereka dengan mudah dan ringan mengunjungi Baitullah (Rumah Allah) layaknya mengunjungi rumah kawan,  kenalan atau kerabat di luar desa atau di luar kota. Saking mudah dan ringannya hingga sebagian dari mereka mampu haji atau umrah setiap tahunnya. Bahkan juga tidak mengherankan ada yang mampu beberapa kali dalam setahun ulang-alik antara tanah air dan tanah suci.

Fenomena tersebut patut disyukuri. Hal ini secara kasat mata menunjukkan adanya peningkatan ghiroh keislaman dalam beramal di kalangan umat Islam. Namun fenomena ini juga patut menjadi keprihatinan dan bahan renungan kita bersama. Apakah patut menjadikan haji dan atau umroh sebagai gaya hidup sedangkan pada saat yang sama ada begitu banyak saudara-saudara seiman (dan jumlah mereka ini jauh melebihi mereka yang mampu menjadikan haji dan umrah sebagai gaya hidup) yang menjadi korban peperangan, bencana alam, bencana ekonomi dan bencana sosial?


Pribadi yang berakal sehat dan beriman tentu tidak bisa menerima hal ini dan menjawab tidak patut! 

“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”(HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap orang yang waras tentu mencintainya dirinya sendiri, untuk itu dia tidak pelit untuk mengerahkan daya, upaya, waktu dan dana untuk menjaga keberlangsungan, kesejahteraan dan keselamatan hidupnya. Salah satu tanda keimanan seorang Muslim adalah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Dengan demikian dia tidak akan pelit mengerahkan daya, upaya, waktu dan dana untuk menjaga keberlangsungan, kesejahteraan dan keselamatan hidup saudara-saudara seagamanya.

Jihad Sebagai Gaya Hidup

Lalu apa yang patut dan mesti dilakukan? Yang bisa ditawarkan adalah menjadikan jihad dalam arti yang sebenarnya -bukan yang salah dimengerti dan dalam pengertian yang salah- sebagai gaya hidup di kalangan umat Islam.

Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya “Fiqhul Jihad”  berpendapat  bahwa kata jihad mempunyai makna yang lebih luas daripada kata peperangan (al-qital), meskipun kata beliau, fiqih memahami kata jihad hanya berarti peperangan.

Beliau mengemukakan berbagai definisi jihad yang diberikan para ulama. Beliau lebih memilih jihad yang didefinisikan sebagai pengerahan usaha dan kemampuan di jalan Allah dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan lain sebagainya. Menurut beliau definisi ini yang lebih tepat karena mencakup seluruh jenis jihad yang diterangkan al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan mengutip pendapat Ibnu Taimiyah beliau memberikan isyarat bahwa jihad mencakup aktivitas hati berupa niat dan keteguhan, aktivitas lisan berupa dakwah dan penjelasan, aktivitas akal berupa pemikiran dan ide, serta aktivitas tubuh berupa perang dan lain sebagainya.

Beliau membagi jenis jihad menjadi empat:
1. Jihad Militer: Jihad Perlawanan dan Jihad Penyerangan
2. Jihad Spiritual 
3. Jihad Dakwah
4. Jihad Sipil (al-Jihad al-Madani). Jihad sipil ini mencakup Jihad Ilmu, Jihad Sosial, Jihad Ekonomi, Jihad Pengajaran, Jihad Kesehatan, dan jihad lainnya.

    Mengingat dan menimbang betapa kronisnya problematika umat Islam di manapun mereka berada saat ini seperti di Palestina, Somalia, Burma, Kashmir dan di tanah air sendiri sudah saatnya seluruh komponen umat Islam terutama para pemimpin dan ulama untuk mensosialisasikan gerakan jihad sebagai gaya hidup kaum Muslimin.

    Jihad Sebagai Solusi Problematika Umat

    Berdasarkan makna, definisi, konsep dan cakupan jihad sebagaimana yang dijelaskan secara gamblang dalam komprehensif oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya tersebut dapat penulis simpulkan jika jihad benar-benar dan sungguh-sungguh diterapkan oleh umat Islam akan mampu menyelesaikan problematika umat Islam kontemporer.
    Dr. Wael Shihab, yang memperoleh gelar doktor dalam bidang Studi Islam dari Universitas Al-Azhar Mesir, mantan Ketua Unit Fatwa di IslamOnline.net versi Bahasa Inggris dalam laman web onislam.com memaparkan, tidak bisa diterima jika seorang Muslim berulang kali melakukan ibadah umrah dan haji yang merupakan ibadah sunnah tapi meninggalkan kewajibannya membantu saudara seagamanya untuk mempertahankan identitas dan keyakinan agama mereka dan melindungi kehidupan mereka. Mendukung dakwah, kesejahteraan masyarakat,  proyek-proyek keislaman seperti pusat Islam dan sekolah-sekolah yang mendidik Muslim dan non-Muslim untuk mengetahui Islam dan ajaran-ajarannya, dan mendidik generasi penerus umat Islam dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, jika seorang Muslim memberikan prioritas pada tugas ini akan mendapatkan pahala lebih banyak dari pada melakukan haji dan umrah berulang kali.

    Keutamaan Jihad

    Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur” (HR Bukhari dan Muslim).

    Hadits di atas menunjukkan berjihad di jalan Allah merupakan amal yang lebih utama dibandingkan dengan haji mabrur, apatah lagi haji yang tidak mabrur. Jika anda sudah berhaji dan atau umrah satu kali apalagi lebih dari satu kali, saat ini yang lebih tepat anda lakukan adalah berjihad. Allahu Akbar! Wallahu a’lam [voa-islam.com]

    MUI minta pihak luar tak perkeruh kasus GKI Yasmin

    Althaf
    Rabu, 23 November 2011 12:01:48
    BOGOR (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor menghimbau agar pihak-pihak luar tidak ikut memperkeruh suasana terkait kisruh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, Bogor.
    Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Umum MUI Kota Bogor, KH. Adam Ibrahim dalam jumpa pers di Bogor, Selasa, (22/11/2011).
    Adam menjelaskan, banyak pihak yang telah terpengaruh hasutan GKI  menganggap masalah tersebut sebagai masalah SARA.
    “Padahal, itu murni masalah hukum,” kata Adam.
    Yang dimaksud Adam, GKI Yasmin telah terbukti melakukan pelanggaran-pelanggaran ihwal peraturan pendirian rumah ibadah. Katanya, GKI tidak bisa memenuhi satupun syarat pendirian rumah ibadah yang ditentukan dalam Surat Keputusan Bersama Dua Menteri.
    “Syarat minimal 90 orang jamaah yang merupakan warga sekitar, tidak terpenuhi. Syarat dukungan dari minimal 60 kepala keluarga setempat juga tidak. Belakangan, ternyata mereka memalsukan tandatangan warga untuk mendapatkan IMB,” kata Adam.
    Menurut Adam, hampir setiap pembangunan di Kota Bogor memang bermasalah. Tapi, hanya GKI Yasmin saja yang sulit untuk diajak menyelesaikan masalah secara baik-baik. Sedangkan, gereja-gereja lainnya bisa diajak dialog dan mau terima hasil keputusan. (era/hid/arrahmah.com)
        

    Hah...Beredar Kabar WHO 'Borong' Tokek untuk Obat HIV/AIDS

    Kamis, 24 November 2011 10:55 WIB
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia membantah pernah membeli tokek untuk alasan apapun. Hal ini terkait tersebarnya berita bahwa WHO membeli tokek.

    Rilis Kantor WHO Indonesia menegaskan bahwa berita itu adalah penipuan. Mereka yang mengatasnamakan WHO melakukan pembelian tokek melakukan penipuan.

    Diingatkan bahwa tokek bukan obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS atau penyakit kanker.Rumor yang menyebutkan tokek bisa menyembuhkan kedua penyakit itu adalah hoax atau berita bohong.

    Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa tokek bisa menyembuhkan HIV/AIDS atau kanker.Kami memahami banyak orang yang bersedia membayar mahal untuk mendapatkan binatang ini. Hal ini karena mereka telah dimanipulasi oleh pihak lain.WHO meminta setiap orang untuk menyebarkan bantahan ini.
    Redaktur: Siwi Tri Puji B
    Reporter: Prima Restri


    KY: Krisis Moral Melanda Aparat Penegak Hukum
     
    Kamis, 24 November 2011 

    Hidayatullah.com--Wakil Ketua Komisi Yudisial (KY) Imam Anshori Saleh menyatakan prihatin pada perilaku hakim cabul yang sudah dijatuhi sanksi terberat, diberhentikan tidak hormat alias dipecat. Hakim DD dari Pengadilan Negeri Yogyakarta dinilai tidak bisa menjaga harkat martabat sebagai penegak hukum.

    Selain hakim DD, Majelis Kehormatan Hakim (MKH) juga memberhentikan hakim D, Hakim Mahkamah Syariah Tapaktuan, Aceh karena persoalan susila juga. 

    "Krisis moral memang tengah melanda aparat penegak hukum kita. Selain asusila juga suap dan korupsi," kata Imam,  Kamis, (24/11/2011). "Tidak ada maaf bagi mereka." 

    Seharusnya, kata dia, penegak hukum bisa menjaga harkat martabat dan menjadi teladan, bukan sebaliknya. Karena itu, pembersihan aparat yang cacat moral harus dilakukan di semua institusi penegak hukum.

    Selain itu, dia menjelaskan bahwa jabatan hakim dan status pegawai negeri sipil itu melekat. "Dipecat dari hakim ya otomatis PNS-nya pun tanggal," imbuhnya, dimuat Vivanews.

    Hakim DD dipecat setelah terbukti meminta penari telanjang kepada pengacara yang berperkara di kasus yang dia tangani. Selain itu, DD juga meminta tiket pesawat terbang.
    Sementara hakim D terbukti bermesraan dengan perempuan yang juga berperkara dalam kasus yang dia tangani.

    Untuk kasus jaksa menghamili tahanan, Jaksa Agung Basrif Arief mengatakan, akan memecat Kasie Pidum Kejari Lamongan HS jika hasil pemeriksaan Kejati Jatim menemukan ada unsur tindak asusila. 

    "Nanti sanksinya mengarah ke situ, karena memang itu amoral," kata Basrif, usai penantangan MoU antara MA, Kejaksaan Agung, Kepolisian, Peradi dengan Komnas Perempuan dan Anak di gedung MA Jakarta, Rabu, dimuat Antara.

    Menurut Basrif, pihaknya baru mendengar kasus itu secara lisan dari Jamwas Kejagung. Kasusnya menurut Basrif adalah menghamili tahanan.*
    Rep: CR2
    Red: Syai

    Pemuda Ikhwan Bergabung di Tahrir, Meski Sikap Resmi Ikhwan Tidak Berpartisipasi


    Sejumlah pemuda Ikhwanul Muslimin bergabung dengan aksi demonstrasi di Tahrir Square di Kairo yang bertujuan untuk mengakhiri kekuasaan militer, meskipun sikap resmi dari kelompok Islam ini adalah mereka tidak berpartisipasi dalam aksi demonstrasi.
    Sayap politik Ikhwan, Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), mengumumkan penolakan mereka untuk mengambil bagian dalam demonstrasi, yang telah menjadi konfrontasi berdarah, sembari mengecam kebrutalan pasukan keamanan dalam upaya mereka untuk membubarkan massa.
    Sikap Ikhwanul Muslimin yang tidak mau bergabung di Tahrir di tengah bentrokan dianggap bertentangan dengan semangat revolusioner, para aktivis mengatakan.
    Di Tahrir Square dan lokasi lainnya di beberapa distrik, demonstran meneriakkan slogan-slogan menentang Ikhwan dan menuduh Ikhwan sebagai "pengkhianat" Revolusi 25 Januari.
    Tokoh terkemuka FJP Muhammad El-Beltagi bahkan diusir dari Tahrir Square ketika ia pergi untuk mengekspresikan dukungan kepada para pengunjuk rasa. Ia dituduh berusaha untuk mempromosikan dirinya sendiri dan partainya menjelang pemilihan parlemen dengan berpura-pura mendukung demonstran Tahrir.
    Pemuda Ikhwan, di sisi lain, memiliki status yang berbeda di antara demonstran karena banyak dari mereka pergi ke garis depan bentrokan atas kemauan mereka sendiri, bersama pemuda Mesir lainnya. Banyak di antara mereka juga bekerja sebagai relawan dokter dan paramedis di rumah sakit lapangan di Tahrir Square dan jalanan di sekitarnya.
    Seperti demonstran lainnya dari aliran politik yang berbeda, para pemuda Ikhwan menolak untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota kelompok Ikhwan. "Kami di sini sebagai paramedis Mesir untuk membantu yang terluka dan kami tidak mewakili kelompok atau kekuatan politik," jawab beberapa pria muda berjanggut ketika ditanya apakah mereka adalah anggota dari ikhwan atau FJP.(fq/alahram)

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar