Senin, 19 Mei 2014

....... Presiden Amerika Barack Obama pun telah mengungkapkan retorika perangnya. “Apa yang selalu saya katakan adalah bahwa setiap Rusia melakukan langkah-langkah untuk mendestabilisasi Ukraina dan melanggar kedaulatannya, akan ada konsekuensi-konsekuensinya. Tidak hanya ketika Rusia telah menganeksasi Krimea secara ilegal, namun juga apa yang telah mereka lakukan dengan mendukung milisi-milisi di Ukraina selatan dan timur,” kata Obama minggu lalu. “Mereka (sebenarnya) tidak ingin terlibat konfrontrasi langsung dengan kita, karena mengerti bahwa kekuatan militer kita jauh lebih unggul dari Rusia,” tambah Obama....>>> ...Jendral Scales telah mempelajari Spetsnaz, pasukan khusus Rusia yang terlibat dalam aksi pengambil-alihan fasilitas-fasilitas militer Ukraina di Krimea beberapa waktu lalu. Ia pun terkesan dengan perlengkapan militer mereka, yang menurutnya adalah hasil dari modernisasi militer Rusia sejak tahun 2008. Tidak hanya kendaraan lapis bajanya, namun juga perlengkapan personal mereka. “Mereka memiliki perlengkapan yang lebih modern daripada 5 tahun lalu. Mereka memiliki peluncur granat baru yang mengagumkan. Helm mereka lebih baik dari helm tentara kita. Kendaraan lapis baja mereka lebih tangguh dari milik kita. Mereka telah melakukan banyak kemajuan dan saya terkesan olehnya,” kata Scott Traudt, seorang eksekutif di perusahaan pembuat perlengkapan militer Green Mountain yang berbasis di Vermont, AS. Menurut Traudt, rompi anti peluru personil militer Rusia telah menjadi ancaman serius bagi pasukan infantri NATO dan Ukraina, karena mampu menahan hantaman senjata kaliber 5,56 mm. Baju lapis baja Rusia itu kini diperkuat dengan pelapis titanium dan keramik “hard carbide boron”...>>> ...“Jika Ukraina terpecah belah dengan wilayah-wilayah selatan dan timur bergabung dengan Rusia, Amerika akan merasa dipermalukan. Untuk menghindarkan ini, Amerika pun berupaya mendorong krisis ini menjadi perang,” kata Paul Craig Roberts, mantan editor senior Wall Street Journal dan Asisten Menkeu AS dalam artikel yang dimuat di situs thetruthseeker.co.uk, “Washington Drives The World To War”. Craig Roberts merujuk pada kunjungan Direktur CIA ke Kiev beberapa hari lalu, yang diikuti oleh operasi militer Ukraina di wilayah timur Ukraina yang diberi nama “operasi anti-terorisme”. Penamaan itu sendiri telah menunjukkan bahwa Ukraina telah bertekad untuk menghancurkan gerakan pro-Rusia di kota-kota Ukraina timur, tidak peduli bahwa aksi-aksi massa di Ukraina timur tidak berbeda dengan aksi-aksi yang dilakukan rezim Ukraina saat ini, ketika menumbangkan rezim Victor Yanukovych bulan Februari lalu....>>.... “Washington telah kehilangan Krimea, dimana mereka bermaksud mengusir AL Rusia dari Laut Hitam. Dan alih-alih mengakui kegagalannya merenggut Ukraina seutuhnya, Washington justru mendorong krisis ke tingkat yang lebih berbahaya,” tulis Robert. Namun Rusia pun telah memberi peringatan bahwa setiap penggunaan kekuatan senjata di Ukraina timur akan mendorong terjadinya perang sipil dan Rusia terpaksa akan turut campur untuk melindungi warga keturunan Rusia. Dengan apa yang telah dilakukan Rusia ketika mengirimkan pasukan untuk melindungi wilayah protektoratnya, Ossetia Selatan, dari serangan Georgia tahun 2008 lalu, peringatan Rusia ini sangat jauh dari sekedar gertak sambal. Menurut Robert, yang terbaik bagi Rusia adalah segera mengirim pasukan ke Ukraina timur untuk mencegah wilayah itu jatuh ke tangan Amerika dan sekutunya. Amerika dan Uni’Eropa, kata Robert, sama sekali tidak pernah menginginkan krisis Ukraina selesai dengan damai dengan Krimea yang telah jatuh ke tangan Rusia dan pengaruh Rusia yang masih kuat di wilayah timur dan selatan. Dengan wilayah-wilayah tersebut yang telah lebih dahulu jatuh ke tangan Rusia, Amerika dan NATO akan mengalami kesulitan untuk memulai perang ...>> Syrian army carried out wide military operations against armed terrorist groups on Sunday in several areas around the country, state-run SANA news agency reported. In Homs countryside, army units targeted gatherings and dens of the foreign-backed militants in al-Rastan, Talbiseh, Hosh Hajjo, al-Dweir al-Shamali and al-Nassiriyeh, killing many of the terrorists and injuring others. In Daraa, army units destroyed terrorists' vehicles, weapons and ammunition in the city and its countryside...>>> ...kapal penjelajah peluru kendali AS USS Vella Gulf dikabarkan akan memasuki perairan Laut Hitam pada tanggal 23 Mei mendatang. Demikian keterangan dari sumber inteligen-militer kepada kantor berita ITAR-TASS hari Senin (19/5). “Diperkirakan Vella Gulf akan melintasi Selat Laut Hitam pada tanggal 23 Mei. Menurut informasi yang ada kapal itu akan melakukan tugas-tugas AL AS di wilayah timur Laut Hitam,” kata sumber tersebut. Sebenarnya kapal ini telah dijadwalkan tiba di Laut Hitam tanggal 9 Mei lalu, namun ditunda dan dikirim kembali menjelang pemilihan presiden Ukraina tanggal 25 Mei....>> ...Berdasar Konvensi Montreux kapal-kapal perang asing (selain Rusia, Ukraina dan negara-negara sekitar Laut Hitam) hanya diijinkan tinggal di perairan itu selama 21 hari. Dengan demikian kapal tersebut harus sudah meninggalkan Laut Hitam selambat-lambatnya tanggal 13 Juni mendatang. USS Vella Gulf dilengkapi dengan sistem pertahanan udara berlapis Aegis, rudal-rudal jelajah Tomahawk dan rudal-rudal anti-kapal selam ASROC, serta rudal-rudal anti pesawat Standard-2 dan Standard-3. Kapal ini juga dilengkapi 2 helikopter multiguna. Dengan berat 9.800 ton dan panjang 172 meter serta lebar 16 meter, kapal ini mampu melaju dengan kecepatan 30 knots...>>> .....Menurut laporan media-media lokal, sepasukan militer bersenjata dengan truk militer memasuki pangkalan udara militer Ukraina yang dihuni oleh sekitar 100 personil militer. Setelah bernegosisasi dengan militer Ukraina, mereka pun menguasai pangkalan itu, namun tidak ada senjata yang dirampas. Pangkalan militer tersebut terletak di dekat Sevastopol, kota terbesar di Krimea yang menjadi pangkalan Armada Laut Hitam Rusia. Di sisi lain, dalam upaya “menggertak Rusia” untuk tidak melanjutkan “ekspansi”-nya di Ukraina, Amerika telah melakukan serangkaian langkah militer, termasuk mengirim kapal perang ke kawasan Laut Hitam. USS Truxtun, sebuah kapal destroyer berpeluru kendali modern Amerika dikabarkan telah melintasi Selat Bosporus, Turki, hari Jumat (7/3) untuk bergabung dengan kapal-kapal perang Rumania dan Bulgaria melakukan latihan militer bersama di Laut Hitam..>>>

Riyadh used cluster bombs against Houthis: Report

Saudi King Abdullah bin Abdulaziz
Saudi King Abdullah bin Abdulaziz
Saudi Arabia has reportedly used cluster bombs against the Houthis in northern Yemen in 2009, a new report has said.
A documentary report by US television network HBO said Saudi forces dropped bombs on areas in Yemen’s northern province of Sa’ada, adding that the bombs are still claiming civilians' lives.
The report noted that shells which were marked with a model type, CBU-52B/B, and labels that read “US AIR FORCE” were found in Sa’ada.
IHS Jane’s, a defense and security analysis firm, said the Saudis used European Tornado IDS and American-made F-15S aircraft in the fighting, the report added.
“Most of the planes they used to drop the cluster bombs were Tornadoes,” Hamoud Gabish, the deputy director of al-Hayyat humanitarian organization, said of a series of attacks that, by his estimate, resulted in bombs being dropped on 164 locations in Sa’ada.
In addition to Saudi Arabia, Gabish held the US and UK accountable for the bombings and their aftermath.
The US and UK militaries provide training and logistical support to the Saudi army and UK and American firms including BAE Systems and Boeing have profitable service and supply contracts with the Saudi Air Force. BAE led the manufacture of the Tornado, and Boeing merged with F-15 maker McDonnell Douglas in 1997.
In November 2009, Saudi forces started fighting against the Houthis and bombing their positions after accusing the fighters of killing Saudi border guards.
The Houthis have been fighting against the central government in Sana’a for years. They complain that they have been economically and politically marginalized by the Yemeni government.
Cluster bombs are weapons dropped by aircraft or fired from the ground and they scatter submunitions over a wide area. Campaigners say many of these submunitions or bomblets fail to blow up during wars, posing a long-lasting threat to civilians, particularly farmers and children.
Last August, the US Defense Department gave a contract valued at $641 million to manufacture 1,300 cluster bombs for Saudi Arabia to Textron Defense Systems, a unit of Textron Inc. (TXT.N).
SHI/SHI
- See more at: http://en.alalam.ir/news/1595234#sthash.e5Lo3NAC.dpuf





Syrian Army Chases Foreign-Backed Gunmen across Country, Claims More Terrorists
Local Editor 
Syrian armyhttp://www.almanar.com.lb/english/adetails.php?eid=152194&cid=23&fromval=1&frid=23&seccatid=20&s1=1

Syrian army carried out wide military operations against armed terrorist groups on Sunday in several areas around the country, state-run SANA news agency reported.

In Homs countryside, army units targeted gatherings and dens of the foreign-backed militants in al-Rastan, Talbiseh, Hosh Hajjo, al-Dweir al-Shamali and al-Nassiriyeh, killing many of the terrorists and injuring others.

In Daraa, army units destroyed terrorists' vehicles, weapons and ammunition in the city and its countryside.

A military source said that army units targeted armed mercenaries' dens to the southern west of al-Yarmouk Suburb, to the west of Sajna, in the area surrounding al-Masri roundabout in al-Manshieh neighborhood in Daraa city, killing many of the terrorists and destroying an armored vehicle with all terrorists inside.

The source added that army units destroyed a tunnel that was used by terrorists in their criminal acts in al-Kark area, killing many terrorists.

Other army units destroyed two mortar launchers and a vehicle equipped with a machinegun, in addition to several vehicles on the road of al-Yadouda town, to the west of Atman town and in the surrounding area of Jadal village in al-Lajat area.

In Aleppo, a military source told SANA that an army unit confronted armed terrorist groups to the west of al-Zahraa neighborhood and Alleramoun factories in Aleppo city, killing and injuring all their members.

The source added that other army units targeted the gatherings and hideouts of the leaders of gunmen groups in the neighborhoods of al-Rashidin, Bani Zaid, al-Kastilo, Hanano and al-Mansourah in the old city, killing a number of terrorists and injuring others.

The national military also killed terrorists and injured others in the villages of Marea, Handarat, Khan al-Assal, al-Mesilmiyeh, Daret Ezza, Anadan, Ezzan, Ba'idin, Kafer Naha,  Maaret al-Artiq, the industrial city and surrounding the central prison in Aleppo countryside and destroyed their tools.

In Deir-Ezzor, an explosive device claimed the lives of four citizens and injured 12 others when terrorists blew it up in a bus on the rural path.

A source in the province told SANA reporter that terrorists detonated an explosive device while a bus was moving on a road in Deir Ezzor desert.

Last March, terrorists detonated an explosive device while a bus was moving also in Deir Ezzor heading to Damascus killing 3 citizens and injuring 7 others.


Source: Agencies
18-05-2014 - 16:44 Last updated 18-05-2014 - 16:44 | 1102 View    
 
 
 
slavyanks militia
 
 
Slavyansk, LiputanIslam.com -http://liputanislam.com/berita/tembak-menembak-kembali-terjadi-di-slavyansk-ukraina-timur/
— Tembak-menembak kembali terjadi di kota Slavyansk, Ukraina Timur, Minggu malam (18/5). Menurut walikota Slavyansk yang dipilih para separatis, Vyacheslav Ponomaryov, tembak-menembak diawali oleh serangan artileri pasukan Ukraina.
 “Malam tiba dan kami dihujani tembakan lagi. Ada peluru howitzer dan mortar yang menghantam daerah Perekop area. Para sukarelawan kami telah bersiap-siap menghadapi,” kata Ponomaryov kepada kantor berita Interfax.

Namun Ponomaryov mengaku belum mengetahui jumlah korban akibat tembak-menembak tersebut.

Laporan terjadinya tembak-menembak juga disampaikan markas pertahanan milisi anti-Ukraina di Slavyansk yang menyebutkan militer Ukraina telah melancarkan serangan di beberapa wilayah di luar kota Slavyansk.

“Penduduk telah menghentikan satu konvoi militer di area Pavlograd, Dnepropetrovsk. Ada 2 senjata howitzer dan satu peleton pasukan bersama mereka,” kata sumber milisi kepad Interfax.

Menurut para milisi, para prajurit Ukraina mengatakan kepada penduduk bahwa mereka terpaksa memerangi warga Ukraina timur karena takut keluarganya akan ditahan.

Kapal Peluru Kendali AS Kembali Masuki Laut Hitam

Sementara itu dikabarkan kapal penjelajah peluru kendali AS USS Vella Gulf dikabarkan akan memasuki perairan Laut Hitam pada tanggal 23 Mei mendatang. Demikian keterangan dari sumber inteligen-militer kepada kantor berita ITAR-TASS hari Senin (19/5).

“Diperkirakan Vella Gulf akan melintasi Selat Laut Hitam pada tanggal 23 Mei. Menurut informasi yang ada kapal itu akan melakukan tugas-tugas AL AS di wilayah timur Laut Hitam,” kata sumber tersebut.

Sebenarnya kapal ini telah dijadwalkan tiba di Laut Hitam tanggal 9 Mei lalu, namun ditunda dan dikirim kembali menjelang pemilihan presiden Ukraina tanggal 25 Mei.

Sumber tersebut menyebutkan bahwa kehadiran kapal perang ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan moral kepada otoritas Kiev menghadapi krisis yang terjadi di Ukraina timur.

Berdasar Konvensi Montreux kapal-kapal perang asing (selain Rusia, Ukraina dan negara-negara sekitar Laut Hitam) hanya diijinkan tinggal di perairan itu selama 21 hari. Dengan demikian kapal tersebut harus sudah meninggalkan Laut Hitam selambat-lambatnya tanggal 13 Juni mendatang.

USS Vella Gulf dilengkapi dengan sistem pertahanan udara berlapis Aegis, rudal-rudal jelajah Tomahawk dan rudal-rudal anti-kapal selam ASROC, serta rudal-rudal anti pesawat Standard-2 dan Standard-3. Kapal ini juga dilengkapi 2 helikopter multiguna.

Dengan berat 9.800 ton dan panjang 172 meter serta lebar 16 meter, kapal ini mampu melaju dengan kecepatan 30 knots.(ca/voice of russia)


DN-SC-90-02333

 

(Amerika Kerahkan Kekuatan Militer)

Simferopol, LiputanIslam.com 

— Sekelompok orang bersenjata yang diyakini adalah personil militer Rusia di Krimea, kembali menduduki sebuah pangkalan militer Ukraina di Semenanjung Krimea, hari Jumat (7/3).

Menurut laporan media-media lokal, sepasukan militer bersenjata dengan truk militer memasuki pangkalan udara militer Ukraina yang dihuni oleh sekitar 100 personil militer. Setelah bernegosisasi dengan militer Ukraina, mereka pun menguasai pangkalan itu, namun tidak ada senjata yang dirampas. Pangkalan militer tersebut terletak di dekat Sevastopol, kota terbesar di Krimea yang menjadi pangkalan Armada Laut Hitam Rusia.

Di sisi lain, dalam upaya “menggertak Rusia” untuk tidak melanjutkan “ekspansi”-nya di Ukraina, Amerika telah melakukan serangkaian langkah militer, termasuk mengirim kapal perang ke kawasan Laut Hitam.

USS Truxtun, sebuah kapal destroyer berpeluru kendali modern Amerika dikabarkan telah melintasi Selat Bosporus, Turki, hari Jumat (7/3) untuk bergabung dengan kapal-kapal perang Rumania dan Bulgaria melakukan latihan militer bersama di Laut Hitam.

Kapal tersebut diawaki oleh 300 personil terlatih dan dilengkapi dengan rudal-rudal jelajah andalan Amerika, Tomahawk.

Amerika menyatakan kedatangan kapal tersebut tidak ada kaitannya dengan krisis di Ukraina dan telah direncanakan jauh hari. Namun media Amerika seperti “CNN” menyebut kapal tersebut merupakan “signal” bagi Rusia.

Amerika juga telah mengirimkan 12 pesawat pembom tempur F-16 dengan 300 personil pendukungnya ke Polandia untuk melakukan latihan tempur sebagai respon atas krisis di Ukraina.

Menhan Polandia dalam pernyataannya hari Jumat mengatakan latihan tempur tersebut diadakan atas permintaan pemerintah Polandia, setelah Rusia mengambil alih kendali atas Semenanjung Krimea.

Sebelumnya, pada hari Kamis (6/3) Amerika juga telah mengerahkan 6 pesawat tempur F-15 ke Lithuania sebagai respon atas “agresi Rusia atas Ukraina”, demikian pernyataan Menhan Lithuania Juozas Olekas, hari Kamis lalu.(ca/thehindu.com/russia today/press tv)

 
russia
 
LiputanIslam.com 
 — Bagi para pengamat internasional, apa yang terjadi di Ukraina saat ini merupakan awal dari perang besar yang melibatkan negara-negara terkuat di dunia. Mulai dari penambahan dan penempatan militer Amerika dan NATO di negara-negara Eropa timur, penumpukan pasukan Rusia di perbatasan dengan Ukraina, hingga insiden terbang rendah pesawat-pesawat tempur Rusia di atas kapal perang Amerika di Laut Hitam, semuanya mengindikasikan hal itu. 
 
Dan bahwa arena terjadinya mobilisasi kekuatan militer negara-negara besar itu di sekitar Ukraina dan Semenanjung Krimea, hal itu menjadi pengulangan sejarah menjelang Perang Krimea di abad 19 lalu, ketika kekuatan-kekuatan militer negara-negara besar kala itu, Inggris, Perancis, Rusia dan Turki menumpuk di wilayah itu.

Dan akhirnya Presiden Amerika Barack Obama pun telah mengungkapkan retorika perangnya.

“Apa yang selalu saya katakan adalah bahwa setiap Rusia melakukan langkah-langkah untuk mendestabilisasi Ukraina dan melanggar kedaulatannya, akan ada konsekuensi-konsekuensinya. Tidak hanya ketika Rusia telah menganeksasi Krimea secara ilegal, namun juga apa yang telah mereka lakukan dengan mendukung milisi-milisi di Ukraina selatan dan timur,” kata Obama minggu lalu.

“Mereka (sebenarnya) tidak ingin terlibat konfrontrasi langsung dengan kita, karena mengerti bahwa kekuatan militer kita jauh lebih unggul dari Rusia,” tambah Obama.

Namun, pendapat Obama tentang kekuatan militer Rusia itu dibantah secara tegas oleh para ahli militer.

“Apa yang kita lihat dan apa yang mengayun-ayun di hadapan kita adalah adalah indikasi yang kuat bahwa Putin telah bergerak maju,” kata Mayjend (Purn) Robert Scales sebagaimana dikutip The Washington Post, hari Senin (21/4).

Jendral Scales telah mempelajari Spetsnaz, pasukan khusus Rusia yang terlibat dalam aksi pengambil-alihan fasilitas-fasilitas militer Ukraina di Krimea beberapa waktu lalu. Ia pun terkesan dengan perlengkapan militer mereka, yang menurutnya adalah hasil dari modernisasi militer Rusia sejak tahun 2008. Tidak hanya kendaraan lapis bajanya, namun juga perlengkapan personal mereka.

“Mereka memiliki perlengkapan yang lebih modern daripada 5 tahun lalu. Mereka memiliki peluncur granat baru yang mengagumkan. Helm mereka lebih baik dari helm tentara kita. Kendaraan lapis baja mereka lebih tangguh dari milik kita. Mereka telah melakukan banyak kemajuan dan saya terkesan olehnya,” kata Scott Traudt, seorang eksekutif di perusahaan pembuat perlengkapan militer Green Mountain yang berbasis di Vermont, AS.

Menurut Traudt, rompi anti peluru personil militer Rusia telah menjadi ancaman serius bagi pasukan infantri NATO dan Ukraina, karena mampu menahan hantaman senjata kaliber 5,56 mm. Baju lapis baja Rusia itu kini diperkuat dengan pelapis titanium dan keramik “hard carbide boron”.

Namun Amerika tampaknya telah bertekad bulat untuk beradu otot dengan Rusia, sebuah rencana lama yang telah dilancarkan oleh para presiden Amerika setelah Ronald Reagan, yaitu sejak Amerika secara agresif mengembangkan pengaruhnya atas negara-negara Eropa Timur, termasuk negara-negara bekas Uni Sovyet meski hal itu secara telak melanggar kesepakatan sebelumnya dengan Rusia yang tidak menghendaki Amerika mengepung Rusia dan menempatkan negara itu dalam posisi “terjepit”.

“Jika Ukraina terpecah belah dengan wilayah-wilayah selatan dan timur bergabung dengan Rusia, Amerika akan merasa dipermalukan. Untuk menghindarkan ini, Amerika pun berupaya mendorong krisis ini menjadi perang,” kata Paul Craig Roberts, mantan editor senior Wall Street Journal dan Asisten Menkeu AS dalam artikel yang dimuat di situs thetruthseeker.co.uk, “Washington Drives The World To War”.

Craig Roberts merujuk pada kunjungan Direktur CIA ke Kiev beberapa hari lalu, yang diikuti oleh operasi militer Ukraina di wilayah timur Ukraina yang diberi nama “operasi anti-terorisme”. Penamaan itu sendiri telah menunjukkan bahwa Ukraina telah bertekad untuk menghancurkan gerakan pro-Rusia di kota-kota Ukraina timur, tidak peduli bahwa aksi-aksi massa di Ukraina timur tidak berbeda dengan aksi-aksi yang dilakukan rezim Ukraina saat ini, ketika menumbangkan rezim Victor Yanukovych bulan Februari lalu.

Bagi Amerika dan Uni Eropa sendiri, apa yang mereka lakukan di Ukraina merupakan bentuk kebijakan “standar ganda” yang teramat vulgar. Di satu sisi mereka menganggap aksi-aksi massa melawan rezim Yanukovych yang diwarnai pertumpahan darah sebagai “demokratis” dan “patriotis”. Namun ketika rakyat Krimea menggelar referendum damai, mereka menganggapnya sebagai “aksi ilegal”. Bahkan rakyat Ukraina timur yang menuntut referendum kini disebut sebagai “teroris”.

“Washington telah kehilangan Krimea, dimana mereka bermaksud mengusir AL Rusia dari Laut Hitam. Dan alih-alih mengakui kegagalannya merenggut Ukraina seutuhnya, Washington justru mendorong krisis ke tingkat yang lebih berbahaya,” tulis Robert.

Namun Rusia pun telah memberi peringatan bahwa setiap penggunaan kekuatan senjata di Ukraina timur akan mendorong terjadinya perang sipil dan Rusia terpaksa akan turut campur untuk melindungi warga keturunan Rusia. Dengan apa yang telah dilakukan Rusia ketika mengirimkan pasukan untuk melindungi wilayah protektoratnya, Ossetia Selatan, dari serangan Georgia tahun 2008 lalu, peringatan Rusia ini sangat jauh dari sekedar gertak sambal.

Menurut Robert, yang terbaik bagi Rusia adalah segera mengirim pasukan ke Ukraina timur untuk mencegah wilayah itu jatuh ke tangan Amerika dan sekutunya. Amerika dan Uni’Eropa, kata Robert, sama sekali tidak pernah menginginkan krisis Ukraina selesai dengan damai dengan Krimea yang telah jatuh ke tangan Rusia dan pengaruh Rusia yang masih kuat di wilayah timur dan selatan. Dengan wilayah-wilayah tersebut yang telah lebih dahulu jatuh ke tangan Rusia, Amerika dan NATO akan mengalami kesulitan untuk memulai perang

“Rusia tetap akan disalahkan oleh mesin propaganda barat, baik mereka menguasai Ukraina timur ataupun tidak. Namun jika Rusia membiarkan wilayah itu ditindas oleh Washington, harga diri otoritas dan pemerintah Rusia akan runtuh. Mungkin inilah yang menjadi perhitungan Washington,” tulis Robert.

Dan dengan harga diri yang sudah jatuh, pemerintah Rusia tidak akan sanggup bertahan dari serangan mesin propaganda dan agen-agen barat di Rusia, terutama NGO-NGO bentukan barat yang jumlahnya ratusan.(ca/Washington Times/thetruthseeker.co.uk)

 


Source: Agencies
18-05-2014 - 16:44 Last updated 18-05-2014 - 16:44 | 1102 View 

Riyadh used cluster bombs against Houthis: Report

Saudi King Abdullah bin Abdulaziz
Saudi King Abdullah bin Abdulaziz
Saudi Arabia has reportedly used cluster bombs against the Houthis in northern Yemen in 2009, a new report has said.
A documentary report by US television network HBO said Saudi forces dropped bombs on areas in Yemen’s northern province of Sa’ada, adding that the bombs are still claiming civilians' lives.
The report noted that shells which were marked with a model type, CBU-52B/B, and labels that read “US AIR FORCE” were found in Sa’ada.
IHS Jane’s, a defense and security analysis firm, said the Saudis used European Tornado IDS and American-made F-15S aircraft in the fighting, the report added.
“Most of the planes they used to drop the cluster bombs were Tornadoes,” Hamoud Gabish, the deputy director of al-Hayyat humanitarian organization, said of a series of attacks that, by his estimate, resulted in bombs being dropped on 164 locations in Sa’ada.
In addition to Saudi Arabia, Gabish held the US and UK accountable for the bombings and their aftermath.
The US and UK militaries provide training and logistical support to the Saudi army and UK and American firms including BAE Systems and Boeing have profitable service and supply contracts with the Saudi Air Force. BAE led the manufacture of the Tornado, and Boeing merged with F-15 maker McDonnell Douglas in 1997.
In November 2009, Saudi forces started fighting against the Houthis and bombing their positions after accusing the fighters of killing Saudi border guards.
The Houthis have been fighting against the central government in Sana’a for years. They complain that they have been economically and politically marginalized by the Yemeni government.
Cluster bombs are weapons dropped by aircraft or fired from the ground and they scatter submunitions over a wide area. Campaigners say many of these submunitions or bomblets fail to blow up during wars, posing a long-lasting threat to civilians, particularly farmers and children.
Last August, the US Defense Department gave a contract valued at $641 million to manufacture 1,300 cluster bombs for Saudi Arabia to Textron Defense Systems, a unit of Textron Inc. (TXT.N).
SHI/SHI
- See more at: http://en.alalam.ir/news/1595234#sthash.e5Lo3NAC.dpuf
 

Riyadh used cluster bombs against Houthis: Report

Saudi King Abdullah bin Abdulaziz
Saudi King Abdullah bin Abdulaziz
Saudi Arabia has reportedly used cluster bombs against the Houthis in northern Yemen in 2009, a new report has said.
A documentary report by US television network HBO said Saudi forces dropped bombs on areas in Yemen’s northern province of Sa’ada, adding that the bombs are still claiming civilians' lives.
The report noted that shells which were marked with a model type, CBU-52B/B, and labels that read “US AIR FORCE” were found in Sa’ada.
IHS Jane’s, a defense and security analysis firm, said the Saudis used European Tornado IDS and American-made F-15S aircraft in the fighting, the report added.
“Most of the planes they used to drop the cluster bombs were Tornadoes,” Hamoud Gabish, the deputy director of al-Hayyat humanitarian organization, said of a series of attacks that, by his estimate, resulted in bombs being dropped on 164 locations in Sa’ada.
In addition to Saudi Arabia, Gabish held the US and UK accountable for the bombings and their aftermath.
The US and UK militaries provide training and logistical support to the Saudi army and UK and American firms including BAE Systems and Boeing have profitable service and supply contracts with the Saudi Air Force. BAE led the manufacture of the Tornado, and Boeing merged with F-15 maker McDonnell Douglas in 1997.
In November 2009, Saudi forces started fighting against the Houthis and bombing their positions after accusing the fighters of killing Saudi border guards.
The Houthis have been fighting against the central government in Sana’a for years. They complain that they have been economically and politically marginalized by the Yemeni government.
Cluster bombs are weapons dropped by aircraft or fired from the ground and they scatter submunitions over a wide area. Campaigners say many of these submunitions or bomblets fail to blow up during wars, posing a long-lasting threat to civilians, particularly farmers and children.
Last August, the US Defense Department gave a contract valued at $641 million to manufacture 1,300 cluster bombs for Saudi Arabia to Textron Defense Systems, a unit of Textron Inc. (TXT.N).
SHI/SHI
- See more at: http://en.alalam.ir/news/1595234#sthash.e5Lo3NAC.dpuf
 
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar