Rabu, 06 Maret 2013

.......Selamat Jalan Comandante Chavez, Bapak Bangsa yang Dicintai Rakyat Miskin ..>>> pemimpinyang dihormati kawan dan disegani lawan..karena cinta rakyat dan bangsanya secara jujur dan penuh darma bakti...yang tulus...>>>

Hugo Chavez in 1998


Rita Uli Hutapea - detikNews

  Hugo Chavez dan dua putrinya (AFP)
Caracas, - Presiden Venezuela Hugo Chavez tutup usia setelah 14 tahun memimpin negara Amerika Latin itu. Kepergian pemimpin berumur 58 tahun itu menimbulkan duka mendalam bagi rakyat Venezuela. Kini, bapak bangsa yang sangat peduli pada rakyat miskin itu telah berpulang.

Dilahirkan dengan nama Hugo Rafael Chavez Frias pada 28 Juli 1954 di kota pinggiran Sabaneta, Venezuela barat, Chavez berasal dari keluarga miskin.

Masa kecilnya yang miskin namun bahagia kerap dijadikan bahan guyonan Chavez saat dirinya berbicara tentang politik. Ditambah dengan karismanya, latar belakang keluarganya yang sederhana membantu Chavez menjalin hubungan emosional yang kuat dengan banyak warga miskin Venezuela.

Mantan letnan kolonel itu seperti dilansir Mirror, Rabu (6/3/2013), menghabiskan masa karir militernya dengan berkonspirasi bersama para tentara sayap kiri untuk menggulingkan pemerintahan. Pada tahun 1992, Chavez memimpin kudeta terhadap Presiden Carlos Andres Perez namun gagal.

Meski gagal, itu menjadi awal karir politiknya. Saat dibawa menuju ke penjara, Chavez yang memakai baret merah khasnya, sempat berpidato singkat. Pidato itu menyentuh banyak warga Venezuela dan membuatnya dikenal sebagai pemimpin kerakyatan.

Setelah mendapat pengampunan, Chavez melakukan tur dalam negeri sebelum memenangi pemilihan presiden pada tahun 1998. Bagi para pemilih dari kalangan miskin, Chavez melambangkan awal baru setelah selama beberapa dekade pemerintah Venezuela dianggap korup dan memperkaya diri sendiri.

Namun media swasta dan para figur bisnis tetap gigih menentang Chavez. Pada tahun 2002, sekelompok politikus oposisi dan tentara pembelot melancarkan kudeta. Chavez pun ditangkap dan diterbangkan ke pangkalan militer di sebuah pulau Karibia.

Dua hari kemudian, para perwira militer yang setia dan para pendukungnya beraksi hingga membuat Chavez kembali berkuasa. Chavez kala itu menuding Amerika Serikat berada di balik kudeta itu. Dia pun khawatir dirinya akan dibunuh.

Chavez sangat dielu-elukan masyarakat miskin Venezuela, terutama atas besarnya anggaran negara untuk mengembangkan program kesehatan dan pendidikan, yang dibiayai dari hasil ekspor minyak. Pada tahun 2006, Chavez pun terpilih kembali sebagai presiden.

Chavez juga meraih dukungan luas karena terang-terangan melawan AS yang disebutnya sebagai negara penghasut perang. Beberapa kali Chavez pernah mengancam akan menghentikan pengiriman minyak ke AS. Termasuk ketika Chavez menuding Presiden AS saat itu George W. Bush mendukung kudeta tahun 2002.

Namun ancaman itu tak pernah terbukti. AS tetap menjadi pasar ekspor minyak terbesar Venezuela. Namun Chavez juga meningkatkan penjualan minyak ke China dan negara-negara anti-Barat seperti Iran, Belarus dan Suriah.

Terinspirasi dari teman sekaligus mentornya, mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro, Chavez membawa Venezuela ke arah yang radikal, menasionalisasi perekonomian dan menjalankan pemerintahan secara otoriter. Para oposisi menuding Chavez menekan para pengkritiknya, membuat takut para investor dengan merebut aset-aset mulai dari toko-toko dan peternakan hingga proyek kilang minyak jutaan dolar AS yang dikelola perusahaan asing.

Chavez menikah dan bercerai dua kali. Dari dua pernikahan itu, Chavez memiliki tiga anak perempuan dan seorang putra. Dia dan istri keduanya, seorang jurnalis sekaligus politikus, bercerai pada tahun 2000. Tak banyak yang diketahui mengenai kehidupan pribadi Chavez yang telah dikaruniai empat cucu itu. Sejak perceraian Chavez yang kedua, salah seorang putrinya, Maria atau Rosa, kerap mendampinginya di acara-acara resmi.

Pada pertengahan 2011, Chavez mengumumkan bahwa dirinya tengah menjalani pengobatan atas penyakit kanker. Dia menjalani empat operasi di Kuba serta pengobatan radiasi dan kemoterapi. Chavez pernah dua kali menyebut dirinya telah sembuh.

Chavez kembali memenangi pemilihan presiden pada Oktober 2012 dengan meraih 55 persen suara. Namun penyakit yang dideritanya, membuat Chavez tak bisa dilantik untuk memulai masa jabatan yang baru terhitung sejak 10 Januari. Mahkamah Agung Venezuela pun memutuskan bahwa Chavez tetap presiden, meskipun dia terus berada di rumah sakit di Kuba.

Chavez pulang ke Venezuela pada Februari lalu dan langsung dirawat di rumah sakit militer di Caracas. Namun pada 5 Maret 2013, Chavez dinyatakan meninggal dunia.

Selamat jalan, Comandante Chavez!

(ita/nrl)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar