Rabu, 13 Maret 2013

......Muhammad Nashiruddin Al-Albani....>>> TOKOH ULAMA SUNNY SALAFI...>>





Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Nashiruddin_Al-Albani 
Muhammad Nashiruddin al-Albani
Lahir
1914
Shkoder (Askhodera), Albania
Meninggal
1999
Yordania
Era
Era modern
Tradisi
Ahlussunnah (Sunni) / Salafiyah (Pengikut Salaf)
Minat utama
Pemurnian syariat Islam sesuai ajaran Muhammad
Dipengaruhi[tampilkan]
Mempengaruhi[tampilkan]

Muhammad Nashiruddin al-Albani (Arab: محمد ناصر الدين الألباني) (lahir di Shkoder, Albania1914 / 1333 H – meninggal di Yordania; 1 Oktober 1999 / 21 Jumadil Akhir 1420 H; umur 84–85 tahun) adalah seorang ulama Hadits terkemuka dari era kontemporer (abad ke-20) yang sangat berpengaruh, dikenal dikalangan kaum Muslimin dengan nama Syaikh al-Albani atau Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, sebutan al-Albani ini merujuk kepada daerah asalnya yaitu Albania. Lahir pada tahun 1914 di Askhodera, Albania. Syaikh al-Albani adalah seorang ulama besar Sunni dan asli berdarah Balkan, Eropa. Menelurkan banyak karya-karya monumental dibidang hadits dan fiqh (fikih) serta banyak dijadikan rujukan oleh ulama-ulama Islam dimasa sekarang. Pernah menjadi dosen selama tiga tahun di Universitas Islam Madinah dan kemudian dilanjutkan dengan menjabat sebagai dewan tinggi Universitas Islam Madinah. Meraih penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi, yaitu piagam internasional King Faisal pada tahun 1999 atas karya-karya ilmiahnya. Meninggal pada tahun 1999 di Yordania.[1][2][3][4]

Daftar isi


 

Pertumbuhan

Nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin bin Nuh an-Najati al-Albani, nama kunyahnya adalah Abu Abdurrahman (anak pertamanya bernama Abdurrahman) dan akrab ditelinga umat Islam dengan nama Syaikh al-Albani, sedangkan al-Albani sendiri adalah penyandaran terhadap negara asalnya yaitu Albania. Syaikh al-Albani dilahirkan pada tahun 1914 di kota Askhodera (Shkoder), sebuah disktrik pemerintahan di Albania. Perlu diketahui bahwa Albania pada masa itu masih termasuk negara yang menerapkan undang-undang Islam, sebagaimana halnya ketika daerah itu masih menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Ottoman, meskipun kemudian merdeka setelah Kesultanan Ottoman mengalami masa kemundurannya. Ayahnya adalah seorang ulama disana, yaitu al-Hajj Nuh an-Najati (Haji Nuh, nama lengkapnya: Nuh bin Adam an-Najati al-Albani). Haji Nuh adalah salah satu pemuka Mazhab Hanafi di Albania dan begitu ahli dibidang ilmu syar'i yang didalaminya di Istanbul, Ibukota Kesultanan Ottoman.

Saat ideologi komunis menguasai daerah Balkan, hingga salah seorang pemimpinnya yaitu Ahmet Zog (Zog dari Albania) naik tahta, terjadilah suatu peristiwa yang kelak akan mengebiri Albania dari identitas negara Islamnya, yaitu pensekuleran undang-undang oleh Ahmet Zog. Pola politik ala Stalin mulai diterapkan di Albania, banyak terjadi perombakan undang-undang secara menyeluruh, bahkan lafadz Azan yang sangat sakral bagi umat Islam pun dipaksa untuk diucapkan dalam bahasa Albania. Maka semenjak itu menjadi maraklah gelombang pengungsian orang-orang yang masih dengan teguh mengadopsi nilai-nilai keislamannya, salah satu dari orang-orang itu adalah keluarga Haji Nuh yang memutuskan untuk migrasi ke Damaskus, ibukota Syiria yang ketika itu masih menjadi bagian dari wilayah Syam, saat itu Syaikh al-Albani baru berusia 9 tahun.[5]

Syaikh al-Albani tumbuh besar dan memulai lembaran-lembaran hidupnya di kota ini, latar belakangnya adalah berasal dari keluarga yang miskin, meskipun begitu pendidikan agama tetap menjadi acuan utama dalam kehidupan keluarganya. Oleh ayahnya, al-Albani kecil dimasukkan ke sebuah sekolah setingkat SD (Sekolah Dasar), yaitu al-Is'af al-Khairiyah al-Ibtidaiyah di Damaskus, lalu ayahnya memindahkannya ke sekolah lain. Di sekolah keduanya inilah ia selesaikan pendidikan dasar formalnya. Ayahnya tak memasukkannya ke sekolah tingkat lanjutan, karena Haji Nuh memandang bahwa ternyata sekolah akademik dengan kurikulum formal ternyata tidak memberikan manfaat yang besar selain sekedar mengajari seorang anak belajar membaca, menulis, dan pendidikan wawasan serta akhlak yang sangat rendah mutunya. Namun bukan ternyata tak sampai disini saja, demi program pendidikan yang lebih kuat dan terarah, ayahnya pun membuatkan kurikulum untuknya yang lebih fokus. Melalui kurikulum tersebut, Syaikh al-Albani mulai belajar al-Qur'an dan tajwidnya, ilmu sharaf, dan fiqih melalui mazhab Hanafi, karena ayahnya adalah ulama mazhab tersebut. Selain belajar melalui ayahnya, tak luput pula Syaikh al-Albani belajar dari ulama-ulama didaerahnya. Syaikh al-Albani pun mulai mempelajari buku Maraaqi al-falaah, beberapa buku Hadits, dan ilmu balaghah dari gurunya, Syaikh Sa'id al-Burhaani. Selain itu, ada beberapa cabang ilmu yang lain yang dipelajarinya dari Imam Abdul Fattah, Syaikh Taufiq al-Barzah, dan lain-lain.
Membaca adalah hobi yang digandrunginya sejak kecil, waktu-waktu luang tak akan berlalu begitu saja melainkan akan dimanfaatkan untuk membaca. Proses belajar terus dijalaninya seiring dengan usianya yang semakin dewasa, ayahnya pun juga membekalinya keahlian dalam hal pekerjaan untuk menjadi modal mencari nafkahnya kelak, yaitu keahlian sebagai Tukang Kayu dan Tukang Reparasi Jam. Tukang kayu adalah profesi awalnya, kemudian ia mengalihkan kesibukannya sebagai Tukang Reparasi Jam, yang mana Syaikh al-Albani sangat mahir dalam bidang ini sebagaimana ayahnya. Karena keahlian Reparasi Jamnya sangat terkenal, hingga julukan as-Sa'ti (Tukang Reparasi Jam) pun tersemat kepadanya saat itu.

Menuju Ilmu Hadits

Pada umur sekitar 20-an tahun, pandangan Syaikh al-Albani muda tertuju kepada majalah al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridha di salah satu toko yang dilaluinya. Dilihatnya majalah itu, kemudian dibukanya lembar demi lembar hingga terhentilah perhatiannya pada sebuah makalah studi kritik hadits terhadap Ihya' Ulumuddin (karangan al-Ghozali) dan hadits-hadits yang ada didalamnya. "Pertama kali aku dapati kritik begitu ilmiah semacam ini", ungkap Syaikh al-Albani ketika mengisahkan awal mula terjunnya kedunia hadits secara mendalam. Rasa penasaran membuatnya ingin merujuk secara langsung ke kitab yang dijadikan referensi makalah itu, yaitu kitab al-Mughni 'an Hamlil Asfar, karya al-Hafizh al-Iraqi. Namun, kondisi ekonomi tak mendukungnya untuk membeli kitab tersebut. Maka, menyewa kitab pun menjadi jalan alternatifnya. Kitab yang terbit dalam 3 jilid itupun disewa kemudian disalin dengan pena tangannya sendiri, dari awal hingga akhir. Itulah aktivitas pertamanya dalam ilmu hadits, sebuah salinan kitab hadits. Selama proses menyalin itu, tentunya menjadikan Syaikh al-Albani secara tak langsung telah membaca dan menelaah kitabnya secara mendalam, yang mana dari hal ini menjadikan perbendaharaan wawasan yang ada pada Syaikh al-Albani pun bertambah, dan ilmu hadits menjadi daya tarik baginya.

Ilmu hadits begitu luar biasa memikat Syaikh al-Albani, sehingga menjadi pudarlah ideologi mazhab Hanafi yang ditanamkan ayahnya kepadanya, dan semenjak saat itu Syaikh al-Albani bukan lagi menjadi seorang yang mengacu pada mazhab tertentu (bukan lagi menjadi seorang yang fanatik terhadap mazhab tertentu), melainkan setiap hukum agama yang datang dari pendapat tertentu pasti akan ditimbangnya dahulu dengan dasar dan kaidah yang murni serta kuat yang berasal dari sunnah Nabi Muhammad/hadits. Kesibukan barunya pada hadits ini mendapat kritikan keras dari ayahnya, bahwasanya "ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit", demikian ungkap ayahnya ketika mengomentari Syaikh al-Albani. Semakin terpikatnya Syaikh al-Albani terhadap hadits Nabi, itulah kata yang tepat baginya. Bahkan hingga toko reparasi jamnya pun memiliki dua fungsi, sebagai tempat mencari nafkah dan tempat belajar, dikarenakan bagian belakang toko itu sudah dirubahnya sedemikian rupa menjadi perpustakaan pribadi. Bahkan waktunya mencari nafkah pun tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktunya untuk belajar, yang pada saat-saat tertentu hingga (total) 18 jam dalam sehari untuk belajar, diluar waktu-waktu sholat dan aktivitas lainnya.[6]

Syaikh al-Albani pun secara rutin mengunjungi perpustakaan azh-Zhahiriyyah di Damaskus untuk membaca buku-buku yang tak biasanya didapatinya di toko buku. Dan perpustakaan pun menjadi laboratorium umum baginya, waktu 6-8 jam bisa habis di perpustakaan itu, hanya keluar di waktu-waktu sholat, bahkan untuk makan pun sudah disiapkannya dari rumah berupa makanan-makanan ringan untuk dinikmatinya selama di perpustakaan. Selain itu, Syaikh al-Albani juga menjalin persahabatan dengan pemilik-pemilik toko buku (karena saking seringnya Syaikh al-Albani mengunjungi toko bukunya untuk membaca-baca), hal ini memudahkannya untuk meminjam buku-buku yang diinginkannya karena keterbatasan hartanya untuk membelinya, dan disaat ada orang yang hendak membeli buku yang dipinjamnya, maka buku tersebut dikembalikan. Bertahun-tahun masa-masa ini dilaluinya bersama sepeda sederhana yang biasa digunakannya untuk keperluan bepergian.

Syaikh al-Albani sering mengambil sobekan kertas dari jalan, biasanya berupa kartu undangan pernikahan yang dibuang, yang kemudian akan digunakannya sebagai alat mencatat, hal ini adalah bentuk penghematannya karena keterbatasan Syaikh al-Albani dalam harta. Seringkali pula dibelinya potongan-potongan kertas dari tempat pembuangan, yang mana dengan cara ini Syaikh al-Albani bisa membeli kertas dengan harga murah dan dalam jumlah yang cukup banyak, kemudian dibawanya kerumah dan kertas-kertas itu kemudian dipilahnya yang masih bisa digunakan untuk kemudian dipakainya sebagai alat mencatat.

Suatu hari di perpustakaan azh-Zhahirriyyah, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan Syaikh al-Albani untuk belajar. Kejadian ini menjadikannya mencurahkan seluruh perhatian untuk membuat katalog dari seluruh manuskrip hadits di perpustakaan agar folio yang hilang tersebut bisa ditemukan. Dan karena sebab ini, Syaikh al-Albani pun mendapatkan banyak sekali ilmu dari ribuan manuskrip hadits yang disalinnya. Kehebatannya ini dibuktikan beberapa tahun kemudian oleh DR. Muhammad Mustafa A'dhami pada pendahuluan "Studi Literatur Hadits Awal", dimana DR. Muhammad Mustafa A'dhami mengatakan: "Saya mengucapkan terimakasih kepada Syaikh Nashiruddin al-Albani, yang telah menempatkan keluasan ilmunya pada manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya", hal ini dikarenakan DR. Muhammad Mustafa A'dhami memanfaatkan perpustakaan itu untuk penyelesaian doktoralnya, dan ternyata apa yang didapatkannya dari manuskrip-manuskrip hasil kerja keras Syaikh al-Albani dulunya menghasilkan kekaguman dari para pembimbingnya.

Tak cukup dengan belajar sendiri, Syaikh al-Albani pun sering ikut serta dalam seminar-seminar ulama besar semacam Syaikh Muhammad Bahjat al-Baitar yang sangat ahli dalam bidang hadits dan sanad. Didatanginya pula majlis-majlis ilmu Syaikh Bahjat al-Baitar dan Syaikh al-Albani pun banyak mengambil manfaat darinya, dari majlis serta diskusi-diskusi ini mulai nampaklah kejeniusan Syaikh al-Albani dalam sains hadits. Suatu ketika ada seorang ahli hadits, al-musnid (ahli sanad), sekaligus sejarawan dari kota Halab (Aleppo) tertarik kepadanya, beliau adalah Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbakh yang kagum terhadap kecerdasan Syaikh al-Albani. Syaikh at-Tabbakh berupaya menguji hafalan serta pengetahuan Syaikh al-Albani terhadap ilmu mustholah hadits, dan hasilnya pun sangat memuaskan. Maka turunlah sebuah pengakuan dari Syaikh at-Tabbakh, yaitu al-Anwar al-Jaliyyah fi Mukhtashar al-Atsbat al-Hanbaliyyah, sebuah ijazah sekaligus sanad yang bersambung hingga Imam Ahmad bin Hanbal (yang melalui jalur Syaikh at-Tabbakh). Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang Imam ahli hadits diantara Imam yang empat (Hanafi, Malik, Syafi'i, & Ahmad), Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi'i (dalam hal fiqh) sekaligus guru Imam Syafi'i (dalam hal ilmu hadits), dan Imam Ahmad juga merupakan guru yang paling berpengaruh bagi Imam Bukhari (sang bapak muhadits).

Syaikh al-Albani mulai melebarkan hubungannya dengan ulama-ulama hadits diluar negri, senantiasa berkorespondensi dengan banyak ulama, ada diantaranya yang berasal dari India, Pakistan dan negara-negara lain. Mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan Syaikh Muhammad Zamzami dari Maroko, Syaikh 'Ubaidullah Rahman (pengarang Mirqah al-Mafatih Syarh Musykilah al-Mashabih), dan juga Syaikh Ahmad Syakir dari Mesir, bahkan mereka berdua (Syaikh al-Albani dan Syaikh Ahmad Syakir) terlibat dalam sebuah diskusi dan penelitian mengenai hadits. Syaikh al-Albani juga bertemu dengan ulama hadits terkemuka asal India, yaitu Syaikh Abdus Shomad Syarafuddin yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan al-Kubra karya Imam an-Nasai, kemudian juga karya Imam al-Mizzi yang monumental yaitu Tuhfat al-Asyraf, yang selanjutnya mereka berdua saling berkirim surat. Dalam salah satu surat, Syaikh Abdus Shamad menunjukkan pengakuan atas keyakinan beliau bahwa Syaikh al-Albani adalah ulama hadits terhebat pada masa itu.

Pada tahun 1962, Syaikh al-Albani mendapatkan panggilan dari Universitas Islam Madinah yang ketika itu dipimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, rektor Universitas tersebut yang sekaligus menjabat sebagai mufti (penasehat) Kerajaan Arab Saudi, dan Syaikh al-Albani direncanakan akan diangkat menjadi dosen disana. Disana Syaikh al-Albani mengajar ilmu Hadits dan fiqh Hadits di fakultas pasca sarjana, bahkan menjadi Guru Besar ilmu Hadits. Kemudian pada tahun 1975, Syaikh al-Albani diangkat menjadi dewan tinggi Universitas Islam Madinah selama tiga tahun hingga kemudian memutuskan kembali pulang ke negaranya. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memberikan komentar atas Syaikh al-Albani, "Aku belum pernah melihat di kolong langit pada saat ini orang yang sangat alim (berilmu) dalam ilmu hadits seperti al-'Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani", demikian ungkap beliau.

Ketika percobaan pendudukan Israel atas Palestina di Yerusalem (saat itu Yerusalem belum diduduki Israel), Syaikh al-Albani mendapatkan paspor (izin) untuk pergi ke Yerusalem di Palestina, disana Syaikh al-Albani menjadi mentor para pejuang Al-Quds yang tergabung didalam brigade Izzuddin al-Qossam dan mengajari mereka sunnah-sunnah Nabi dalam berjihad serta syariat berjihad, disana disempatkannya pula untuk sholat di Masjidil Aqsa bersama para pemuda yang berjuang di Yerusalem tersebut. Ketika Syaikh al-Albani hendak bergabung dalam barisan pejuang pembebasan Al-Quds, hal ini pun segera diketahui oleh pemerintah negrinya dan serta merta mencabut izin keluar negri milik Syaikh al-Albani dan dengan segera memulangkannya. Sedangkan di lain sisi, pemerintah Syam seakan menggantikan posisi Syaikh al-Albani dengan bergabungnya tentara Syam kedalam koalisi Arab untuk melawan Israel dan Amerika, dan dari hal ini menjadikan sebagian wilayah Syam pun meluas karena resmi terlepas dari pendudukan Israel yang sebelumnya telah melakukan pemekaran wilayah kedaerah selatan dan sempat menguasai sebagian wilayah Syam.

Semakin mendalam mempelajari ilmu hadits, semakin ahli pula dalam bidang hadits, hingga ribuan hadits dipelajari Syaikh al-Albani dengan studi ilmiah yang sangat luar biasa kejelian serta ketelitiannya. Karya-karyanya mencapai lebih dari 200 buah buku, yang kecil maupun yang besar (tebal), bahkan ada yang berjilid-jilid, yang lengkap maupun yang belum, yang sudah dicetak maupun yang masih berbentuk manuskrip. Selama hidupnya, Syaikh Albani menghafal al-Qur'an dan ratusan ribu hadits beserta sanad sekaligus matan dan rijalnya, beliau juga telah banyak meneliti dan men-ta'liq puluhan ribu silsilah perawi hadits (sanad) pada hadits-hadits yang sudah tak terhitung jumlahnya secara pasti, dan menghabiskan waktu enam puluh tahun untuk belajar buku-buku hadits, sehingga seakan-akan buku-buku tersebut menjadi sahabat sekaligus jalan Syaikh al-Albani untuk berhubungan dengan ulama-ulamanya (pengarang kitab-kitab tersebut).[7]

Beberapa Tugas Ilmiah Dan Dakwah Yang Pernah Diemban

  • Setelah menganalisa hadits-hadits pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, seorang ulama hadits asal India, yaitu Syaikh Muhammad Musthofa A'dhami (kepala Ilmu Hadits di Mekkah), memilih Syaikh al-Albani untuk memeriksa dan mengoreksi kembali analisa yang dilakukan Syaikh Muhammad Musthofa A'dhami, dan pekerjaan tersebut telah diterbitkan empat jilid lengkap dengan ta'liq (catatan) dari keduanya, yaitu Syaikh A'dhami maupun Syaikh al-Albani. Ini merupakan bentuk penghormatan dari ulama yang lain atas keilmuan hadits Syaikh al-Albani.
  • Universitas Damaskus Fakultas Syari'ah memilih Syaikh al-Albani untuk melakukan studi hadits dalam bab fiqh jual-beli dalam Mausu'ah (ensiklopedi) Fiqh Islam.
  • Terpilih sebagai dewan tinggi "Dewan Hadits" yang dibentuk oleh pemerintah Mesir-Syiria (dimasa persatuan) untuk mengawasi penyebaran buku-buku hadits dan tahqiqnya.
  • Sebagai salah satu bentuk pengakuan ulama Arab terhadap keilmuannya, pihak Universitas Islam Madinah memilihnya sebagai pengajar materi hadits, ilmu dan fiqih hadits di perguruan tinggi tersebut. Syaikh al-Albani bertugas selama 3 tahun, kemudian diangkat sebagai anggota majlis al-A'la (dewan tinggi) Universitas Islam Madinah. Saat berada disana Syaikh al-Albani menjadi tokoh panutan dalam kesungguhan dan keikhlasan. Ketika jam istirahat tiba dimana dosen-dosen lain menimati hidangan teh dan kurma, Syaikh al-Albani lebih asyik duduk-duduk di pasir bersama murid-muridnya untuk memberi pelajaran tambahan. Hubungannya dengan murid adalah hubungan persahabatan, bukan semata hubungan guru dan murid saja. Syaikh al-Albani juga pernah diminta oleh Menteri Penerangan Kerajaan Arab Saudi untuk menangani jurusan hadits pada pendidikan pasca sarjana di Universitas Makkah al-Mukarramah, namun karena beberapa hal maka keinginan tersebut tidak tercapai. Atas jasanya yang besar terhadap ilmu agama, Syaikh al-Albani pun mendapatkan sebuah penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi yaitu piagam internasional King Faisal pada tahun 1999.
  • Pada edisi dari himpunan hadits terkenal, Misykah al-Mashabih, penerbit Maktabah Islamy meminta Syaikh al-Albani untuk memeriksa pekerjaan mereka sebelum diterbitkan. Pihak penerbit telah menulis pada bagian pendahuluan di Misykah al-Mashabih: "Kami meminta kepada ulama hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, untuk membantu kami dalam memeriksa Misykat dan bertanggung jawab untuk memberi tambahan hadits-hadits yang diperlukan dan meneliti serta memeriksa kembali sumber-sumber dan keasliannya pada tempat-tempat yang diperlukan, serta membetulkan kesalahan-kesalahan..."
  • Perhatian Syaikh al-Albani terhadap kasus Palestina sangatlah besar. Syaikh al-Albani pernah secara langsung turun ke Yerusalem dan menjadi mentor untuk mengajari ilmu syar'i bagi Brigade Izzuddin al-Qossam, bahkan hampir juga Syaikh al-Albani berjuang disana sebelum pemerintah di negrinya mengetahui hal ini dan serta merta memulangkan Syaikh al-Albani. Syaikh al-Albani senantiasa mengikuti perkembangan Palestina, hingga pernah difatwakan juga olehnya dan fatwa ini ditujukan kepada warga Gaza pada khususnya, agar sebaiknya hijrah keluar dari wilayah Gaza dan masuk ke negri muslim terdekat untuk menegakkan ibadah serta mengumpulkan kekuatan, sebagaimana hijrahnya para Sahabat Nabi ke Etyopia atau hijrahnya Nabi serta sebagian Sahabat yang lainnya ke kota Madinah ketika di kota Mekkah kaum Muslimin mendapat tekanan yang keras dan larangan beribadah oleh para penyembah berhala, dan kemudian kembali lagi ke Mekkah pada peristiwa Fathu Makkah (Pembukaan/Penaklukan kota Mekkah). Hal ini dikarenakan pada waktu itu pemerintah militer Israel melarang adanya kegiatan azan dan sholat bagi kaum Muslimin secara terang-terangan ketika mereka menduduki jalur Gaza, dan disisi lain warga Gaza pun dalam keadaan lemah serta belum mampu berbuat apa-apa. Meskipun begitu, banyak kalangan yang mengkritisi keluarnya fatwa ini dan menuduh Syaikh al-Albani dengan berbagai macam tuduhan yang buruk.
  • Dan masih sangat banyak lagi yang lainnya...

Karya-karya

Tercatat kurang lebih 200 karya mulai dari ukuran satu jilid kecil, besar, hingga yang berjilid-jilid, baik yang berbentuk karya tulis pena, takhrij (koreksi hadits) pada karya orang lain, buku khusus takhrij hadits, maupun tahqiq (penelitian atas kitab tertentu dari segala macam sisinya), lalu dituangkan dalam catatan kaki dalam kitab tersebut. Sebagiannya telah lengkap, sebagiannya lagi belum sempurna (karena wafat), dan sebagiannya lagi sudah sempurna namun masih dalam bentuk manuskrip (belum dicetak dan diterbitkan). Beberapa diantaranya yang paling populer serta monumental adalah:
  1. Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah wa Syai'un min Fiqiha wa Fawaaidiha (9 jilid), karya ini berisikan studi ilmiah terhadap hadits-hadits Nabi untuk dinyatakan shahih sesuai dengan kaidah musthalah hadits yang telah disepakati ulama ahli hadits sepanjang zaman. Berdasarkan penomeran terakhir dari kitab itu, jumlah hadits yang tertera adalah 4.035 buah.
  2. Silsilah al-Ahaadits adh-Dhaifah wal Maudhuu’ah wa Atsaaruha As-Sayyi' fil Ummah (14 jilid), karya ini berisikan studi ilmiah atas hadits-hadits untuk dinyatakan lemah atau palsu sesuai dengan kaidah musthalah hadits yang telah disepakati ulama ahli hadits sepanjang zaman. Rata-rata setiap jilidnya berisikan 500 buah hadits.
  3. Irwa'ul Ghalil (8 jilid), kitab ini berisikan takhrij (studi ilmiah) atas hadits-hadits dalam kitab Manarus Sabil. Berdasarkan penomeran hadits di jilid terakhir, jumlah haditsnya sebanyak 2.707 buah.
  4. Shahih & Dha'if Jami' ash-Shaghir wa Ziyadat ihi, kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpukan as-Suyuthi lalu Syaikh al-Albani memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif. Tercatat, yang shahih berjumlah 8.202 hadits dan yang tidak shahih berjumlah 6.452 hadits.
  5. Shahih Sunan Abu Dawud dan Dhaif Sunan Abu Dawud, kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu Syaikh al-Albani memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 5.274 buah.
  6. Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Dhaif Sunan at-Tirmidzi, kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu Syaikh al-Albani memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 3.956 buah.
  7. Shahih Sunan an-Nasa'i dan Dhaif Sunan an-Nasa'i, kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu Syaikh al-Albani memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 5.774 buah.
  8. Shahih Sunan Ibnu Majah dan Dhaif Sunan Ibnu Majah, kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu Syaikh al-Albani memberikan keterangan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah shahih ataukah dhoif atau yang lainnya, dengan total jumlah hadits sebanyak 4.341 buah.
Dan masih banyak lagi yang lainnya, seperti misalnya (yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia):
  1. Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah,
  2. Ahkaamul Janaaiz,
  3. Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil,
  4. Tamaamul Minnah fi Ta’liq 'Alaa Fiqh Sunnah,
  5. Shifat salat Nabi shallahu'alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha (berisi tuntunan-tuntunan dalam melaksanakan sholat sebagaimana yang tertera dalam hadits Nabi),
  6. Shahih At-Targhib wat Tarhiib,
  7. Dha’if At-Targhib wat Tarhiib,
  8. Fitnatut Takfiir (kitab ini memuat hadits-hadits dan penjelasan ulama besar masa lampau tentang bahaya dari mudah/gegabah dalam mengkafirkan seseorang),
  9. Jilbaab Al-Mar’atul Muslimah,
  10. Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa 'alaihis sallam wa qatluhu iyyahu fi akhiriz Zaman (kitab ini memuat hadits yang berbentuk riwayat-riwayat kabar tentang kedatangan Dajjal dan turunnya Nabi Isa di akhir zaman),
  11. Dan lain-lain.
Semua ini adalah sebuah realisasi proyek besar Syaikh al-Albani yang disebutnya dengan "Taqribus Sunnah Baina Yadayil Ummah" (Mendekatkan Sunnah Kehadapan Ummat), tujuannya adalah memudahkan ummat secara umum untuk mengambil hadits Nabi yang shahih secara instan tanpa harus kepayahan untuk mempelajarinya terlebih dahulu. Agar ummat lebih akrab dengan hadits Nabi yang shahih dan lebih mudah untuk mendapatkannya, namun disisi lain Syaikh al-Albani pun juga menuliskan kitab yang berisikan kaidah-kaidah ilmu hadits yang sudah disepakati oleh para ulama ahlul hadits sepanjang zaman, tentunya ini adalah bagi mereka yang tertarik juga untuk mempelajari ilmu hadits.[8]

Cara Pandang

Syaikh al-Albani sangat aktif di medan dakwah dan sangat memerangi metode taklid, taklid yaitu menerima apapun yang dikatakan seseorang (biasanya ulama atau ahli ilmu) tanpa mempertanyakan keabsahan dasar penyandaran hukumnya. Ayahnya cenderung senantiasa mengarahkannya kepada mazhab Hanafi untuk kemudian menjadi ulama mazhab Hanafi mengikuti jejak ayahnya, namun ternyata yang terjadi adalah lain dari apa yang diharapkan oleh ayahnya. Ketekunan terhadap ilmu hadits menyebabkan Syaikh al-Albani tidak mau terikat dengan mazhab tertentu. Bahkan secara prinsip, Syaikh al-Albani terikat dengan 4 mazhab sekaligus, yaitu dalam hal penyandaran hukum, yaitu menyandarkan semua syariat kepada al-Qur'an dan as-Sunnah (hadits) dengan dibimbing pemahaman para Salafusshalih (para Sahabat Nabi).
Sebagaimana Islam yang satu diatas pemahaman yang satu dan murni sebagaimana Islam dimasa Nabi dan para Sahabatnya, maka metode memurnikan ajaran Islam dengan cara kembali pada pemahaman para Sahabat Nabi dalam menerapkan syariat Islam dan memahami al-Qur'an serta as-Sunnah adalah satu-satunya cara untuk mempersatukan ummat yang saat ini terpecah-pecah akibat dari adanya hizbi (partai atau kelompok), sekte, maupun aliran yang bermacam-macam. Dan bahkan dengan adanya perbedaan mazhab Imam pun bisa memecah belah kesatuan ummat. Akibat dari perpecahan ini adalah menjadi lemah lah kekuatan ukhuwah ummat dan sangat mudah diprovokasi oleh orang-orang yang memusuhi Islam.
  • Sebagaimana perkataan Imam Malik:
"Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah maka ambillah, dan bila tidak sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah..." (Muqaddimah al-Muwaththo', karya Imam Malik).
  • Atau perkataan Imam Syafi'i:
"Apabila telah shahih suatu hadits, maka itulah mazhabku" (Hilyatul Aulia I/475 - Abu Nu'aim, dishahihkan oleh Imam an-Nawawi (ulama besar Mazhab Syafi'i) dalam al-Majmu I/63, dibawakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar (ulama besar Mazhab Syafi'i) dalam Tawali Ta'sis hal. 109, dan ditakhrij secara khusus oleh al-Imam as-Subki (ulama besar Mazhab Syafi'i) dalam kitab Ma'na Qaulil Imam al-Muthallibi Idza Shahhal Haditsu Fahuwa Mazhabi).
  • Dan juga perkataan yang lain dari Imam Syafi'i:
"Setiap apa yang aku katakan lalu ada hadits shahih dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang menyelisihi ucapanku, maka hadits lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taklid kepadaku" (Hilyatul Aulia' IX/106-107 - Abu Nu'aim) Yang dari perkataan-perkataan diatas cukup menggambarkan bahwasanya Imam Mazhab pun sebenarnya tak ingin diambil ilmunya secara membabi buta tanpa menelitinya terlebih dahulu apakah sesuai dengan kaidah Nabi (hadits/as-Sunnah) ataukah tidak.
Syaikh al-Albani sangat getol menyerukan manhaj (metode beragama) para Salaf (para pendahulu / generasi pertama umat Islam / para Sahabat Nabi). Syaikh al-Albani mengadopsi metode yang murni, yaitu memahami syariat pada hakikat asalnya, sebagaimana yang dilakukan Nabi dan para Sahabat, tanpa penafsiran-penafsiran yang tak diperlukan dan bahkan menyeleweng dari hakikat asalnya. Meskipun begitu, tetap hal semurni ini tak menghindarkannya dari hujatan, Syaikh al-Albani pun kemudian banyak dimusuhi oleh ulama-ulama yang fanatik terhadap mazhab tertentu, yang mana masing-masing dari mereka merasa dirugikan.[9]

Cobaan Di penjara

Dalam dakwahnya, tak jarang Syaikh al-Albani mengalami tentangan-tentangan yang keras dari orang-orang yang memusuhinya. Dan sebagai buahnya, Syaikh al-Albani pun pernah merasakan dinginnya lantai penjara dikarenakan fitnah yang menerpanya, pertama pada tahun 1967 Syaikh al-Albani mendekam selama 2 bulan di penjara, dan yang kedua selama 6 bulan. Syaikh al-Albani dilepaskan dari penjara dan tuntutan yang mengarah kepadanya dicabut, kesemuanya adalah dikarenakan tuduhan yang disematkan kepadanya tidak pernah terbukti.

Wafatnya

Di akhir-akhir masa usianya, Syaikh al-Albani melemah hingga mengalami sakit dan sempat beberapa kali masuk rumah sakit. Sesekali Syaikh al-Albani keluar rumah sakit dalam kondisi yang nampak sehat. Pada akhir sakitnya, Syaikh al-Albani dibawa ke rumah sakit di Yordania untuk menjalani perawatan yang intensif. Pada hari sabtu tanggal 2 Oktober 1999, beberapa saat sebelum Maghrib, Syaikh al-Albani pun menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya diurus dengan sangat cepat, meskipun berita wafatnya Syaikh al-Albani telah ditekan dari penyebarannya, namun ternyata diluar dugaan, lebih dari 5.000 orang datang kemudian menyalati dan mengiringi penguburan jenazah Syaikh al-Albani.[10]

Perkataan Para Ulama Tentangnya

  • Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu-Syaikh berkata: "Ia adalah ulama ahli sunnah yang senantiasa membela al-Haq dan menyerang ahli kebatilan."
  • Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi (penulis kitab tafsir Adhwa'ul Bayan). Diriwayatkan dari Abdul Aziz al-Haddah (murid Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi) berkata: "Sesungguhnya al-'Allamah (yang sangat berimu) Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi sangat menghormati Syaikh al-Albani dengan penghormatan yang luar biasa. Sampai-sampai apabila beliau melihat Syaikh al-Albani lewat ketika beliau sedang mengajar di Masjid Nabawi, beliau pun memutus sebentar pelajarannya lalu berdiri dan memberikan salam kepada Syaikh Albani dalam rangka menghormatinya."
  • Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata: "Aku belum pernah melihat di kolong langit pada saat ini orang yang alim dalam ilmu hadits seperti al-'Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani.” Saat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya tentang hadits Rasulullah shallahu’alaihi wasallam: "Sesungguhnya Allah akan membangkitkan dari umat ini setiap awal seratus tahun seorang mujaddid yang akan mengembalikan kemurnian agama ini", beliau (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz) pun ditanya siapakah mujaddid abad ini. Beliau menjawab: "Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, beliau lah mujaddid abad ini dalam pandanganku (menurutku), dan Allah lebih mengetahui (tentang hal ini)."
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: "Beliau adalah alim (orang berilmu) yang memilki ilmu yang sangat luas dalam bidang hadits baik dari sisi riwayat maupun dirayat, seorang ulama yang memilki penelitian yang dalam dan hujjah yang kuat."
  • Syaikh Muqbil bin Hadi al-wadi'i berkata: "yang saya yakini bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, semoga Allah menjaganya, tergolong pembaharu (pemurni), yang tepat baginya sabda Rasul (yang artinya): Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada penghujung tiap seratus tahun seseorang yang akan memurnikan untuk umat ini agamanya."

Guru-gurunya

  • Al-Hajj Nuh bin Adam al-Albani (ayahnya, seorang ulama Albania),
  • Syaikh Sa'id al-Burhaani,
  • Imam Abdul Fattah,
  • Syaikh Taufiq al-Barzah,
  • Syaikh Muhammad Bahjat al-Baitar,
  • Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbakh,
  • Dan Lain-lain.

Murid-muridnya

  • Syaikh DR. Muhammad bin Musa Alu Nasr,
  • Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly,
  • Syaikh Ali bin Hassan al-Halabi,
  • Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini
  • Syaikh Muqbil bin Hadi al-wadi'i,
  • Syaikh 'Ashim bin Abdillah Alu Ma'mar al-Qoryuthi,
  • Syaikh DR. Amin al-Mishri,
  • Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali,
  • Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Salman,
  • Syaikh Abu Ahmad Muhammad Nashir at-Turmaniniy,
  • Dan Lain-lain.

Pranala luar

Situs-situs berikut menyediakan unduhan kitab-kitab karya Syaikh al-Albani:

Referensi

  1. ^ "Biografi Syaikh Albani, Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini", Mubarak B. Mahfudh Bamualim
  2. ^ AsySyariah Vol. VII/No. 77/1432/2011, Qomar Suaidi, Lc
  3. ^ Hayah al-Albani, Syaikh Muhammad asy-Syaibani
  4. ^ Al-Imam al-Mujaddid al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani, oleh Umar Abu Bakar
  5. ^ Hayah al-Albani, Syaikh Muhammad asy-Syaibani
  6. ^ AsySyariah Vol. VII/No. 77/1432/2011 hal. 12, Qomar Suaidi, Lc
  7. ^ Safahaat baydhaa min hayaat Shaykhinaa al-Albaanee – Page 40, Shaykh 'Ashees
  8. ^ AsySyariah Vol. VII/No. 77/1432/2011 hal. 16, Qomar Suaidi, Lc
  9. ^ Syaikh Albani dan Manhaj Salaf, oleh Umar Abdul Mun'im Salim
  10. ^ AsySyariah Vol. VII/No. 77/1432/2011 hal 19, Qomar Suaidi, Lc


ADA BEBERAPA KRITIK TERHADAP SYIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN ALBANI.... SEPERTI DIANTARANYA..OLEH SECOND PRINCE...SBB:http://secondprince.wordpress.com/2009/11/22/mengungkap-kebodohan-dan-kedustaan-syaikh-al-albani-dan-pengikutnya-abul-jauzaa-tuduhan-dusta-terhadap-syaikh-al-musawi/

Mengungkap Kebodohan dan Kedustaan Syaikh Al Albani dan Pengikutnya Abul Jauzaa : Tuduhan Dusta Terhadap Syaikh Al Musawi

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Silsilah Ahadiits Ash Shahihah no 2487 telah menyatakan tuduhan dusta kepada Syaikh Syarafuddin Al Musawi penulis kitab Al Muraja’at [Dialog Sunni-Syiah]. Syaikh Al Albani menyatakan kalau Syaikh Al Musawi telah memanipulasi atau mengubah hadis. Tuduhan dusta ini diikuti pula oleh pengikut salafy Abul Jauzaa’ dalam salah satu tulisannya. Abul Jauzaa’ terang-terangan membuat judul tulisan yang provokatif yaitu Mengungkap Kebodohan dan Kedustaan Abdul Husain Asy Syi’i Dalam Kitab Al Muraja’at – Manipulasi Hadits.
Tulisan ini adalah studi kritis terhadap tulisan saudara Abul Jauzaa tersebut sebagai bantahan terhadapnya dan Syaikhnya yang terhormat yaitu Syaikh Al Albani. Insya Allah akan diungkapkan siapa sebenarnya yang bodoh dan dusta itu.
.
.
Hadis yang dibicarakan itu adalah hadis Rasulullah SAW dimana Imam Ali dikatakan akan berperang dalam penafsiran Al Qur’an sebagaimana Rasul SAW berperang dalam penurunan Al Qur’an. Hadis tersebut adalah hadis yang shahih sebagaimana telah diakui oleh Syaikh Al Albani dan pengikutnya. Kami katakan pernyataan mereka bahwa hadis ini shahih adalah pernyataan yang benar dan tidak ada alasan bagi kami untuk menolaknya.
Kami akan memberikan catatan ringkas mengenai kutipan di atas. Hadis yang ditakhrij oleh Syaikh Al Albani itu memiliki lafaz yang berbeda-beda. Lafaz yang ditulis Syaikh adalah lafaz Ahmad dalam Musnad-nya 3/82 no 11790. Sedangkan Lafaz Ahmad dalam Musnad-nya 3/33 no 11307 adalah “dan berdirilah  Abu bakar dan Umar”.  lafaz An Nasa’i dalam Al Khasa’is no 55 tidak dengan lafaz “dan diantara kami ada Abu Bakar dan Umar” tetapi dengan lafaz “Abu Bakar berkata ‘saya kah?’ Rasulullah SAW menjawab “tidak”, Umar berkata ‘saya kah?’ Rasulullah SAW menjawab “tidak”. Begitu pula lafaz yang ada pada kitab Musnad Abu Ya’la no 1086. Perbedaan lafaz itu adalah hal yang biasa dan tidak ada masalah dalam pengutipan hadis jika seseorang mengeluarkan salah satu lafaz saja dari hadis-hadis tersebut. Yang aneh bin ajaib adalah jika menuduh dusta atau menuduh seseorang memanipulasi hadis hanya karena lafaz hadis yang berbeda.
.
.
Kami katakan memang benar Syaikh Al Musawi keliru tetapi kekeliruannya disini karena ia mengikuti apa yang tertera dalam kitab Al Kanz Ali Mutaqqi Al Hindi. Penyebutan Said bin Manshur oleh Syaikh Al Musawi disebabkan syaikh hanya membaca apa yang tertulis dalam kitab Al Kanz tanpa menelitinya kembali. Sedangkan kesalahan Syaikh soal penulisan kitab Abu Ya’la, memang benar Abu Ya’la tidak memiliki kitab Sunan dan kitab yang dimaksud adalah Musnad Abu Ya’la. Walaupun begitu Syaikh Al Musawi sendiri di tempat yang lain yaitu dalam Al Muraja’at catatan kaki dialog no 44 ketika mengutip hadis ini, ia memang menyebutkan kitab Musnad Abu Ya’la bukan Sunan

أخرجه الامام أحمد بن حنبل من حديث أبي سعيد في مسنده، ورواه الحاكم في مستدركه، أبو يعلى في المسند

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Hadis Abu Sa’id di dalam Musnadnya dan diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadraknya dan Abu Ya’la di dalam Al Musnad.
Kalau memang kesalahan Syaikh Al Musawi ini disebut sebagai kebodohan maka kami katakan orang pertama yang harus dikatakan begitu adalah penulis Kitab Al Kanz. Karena kesalahan tersebut bersumber dari kode yang ada di kitab tersebut. Bagi kami pribadi kesalahan tersebut adalah hal yang lumrah, cukup banyak para ulama yang melakukan kesalahan seperti itu. Anehnya baik Syaikh Al Albani maupun pengikutnya Abul Jauzaa hanya bersemangat untuk merendahkan Syaikh Al Musawi saja, dan tidak berkomentar apapun mengenai penulis kitab Al Kanz. Kenapa? Apakah karena Syaikh Al Musawi itu syiah sedangkan penulis kitab Al Kanz itu Sunni maka yang berdusta hanya Syiah sedangkan yang Sunni tidak, walaupun sebenarnya yang Syiah hanya mengutip dari yang Sunni? Mereka mengatakan bahwa ada kesalahan penulisan dalam kitab Al Kanz maka mengapa pula tidak bisa dikatakan ada kesalahan penulisan dalam kitab Al Muraja’at.
.
.
Kutipan diatas inilah yang menunjukkan kebodohan dan kedustaan Syaikh Al Albani dan pengikutnya Abul Jauzaa’. Tuduhan mereka bahwa Syaikh Al Musawi yang mengganti lafaz tersebut adalah dusta. Syaikh Syarafuddin Al Musawi hanya menyalin apa yang tertulis dalam Kitab Al Kanz. Berikut hadisnya dalam Kitab Al Kanz no 36351

مسند أبي سعيد } قال كنا جلوسا في المسجد فخرج رسول الله صلى الله عليه و سلم فجلس إلينا ولكأن على رؤسنا الطير لا يتكلم منا أحد فقال : إن منكم رجلا يقاتل الناس على تأويل القرآن كما قوتلتم على تنزيله فقام أبو بكر فقال : أنا هو يا رسول الله ؟ قال : لا فقام عمر فقال : أنا هو يا رسول الله ؟ قال : لا ولكنه خاصف النعل في الحجرة فخرج علينا علي ومعه نعل رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلح منها

Musnad Abu Sa’id : Ia berkata “kami duduk-duduk di dalam masjid kemudian Rasulullah SAW datang dan ikut duduk bersama kami. Seolah-olah di atas kepala kami ada burung-burung hingga tak seorangpun diantara kami yang berbicara. kemudian Rasulullah SAW bersabda “Diantara kamu ada seseorang yang berperang atas penafsiran Al Qur’an sebagaimana kamu diperangi dalam penurunannya. Maka berdirilah Abu Bakar dan berkata “sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab “bukan”. Umar pun berdiri dan berkata “sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab “bukan, dia adalah yang sedang menjahit sandal “. kemudian Ali datang kepada kami bersama sandal Rasulullah SAW yang sudah diperbaikinya.
Silakan perhatikan kata-kata yang dicetak biru. Itulah lafaz hadis yang menurut Syaikh Al Albani dan pengikutnya Abul Jauzaa’ telah dirubah atau diganti oleh Syaikh Al Musawi. Penulis kitab Al Kanz Ali Al Hindi memang menuliskan hadis tersebut dengan lafaz seperti itu. Jika memang hal ini disebut kedustaan maka seharusnya yang mereka tuduh melakukan kedustaan adalah penulis kitab Al Kanz bukan Syaikh Al Musawi. Kami yakin Syaikh Al Albani telah membaca kitab Al Kanz buktinya ia bisa mengetahui adanya kesalahan kode dalam kitab tersebut tetapi entah mengapa ia tetap menuduh Syaikh Al Musawi yang mengubah lafaz hadisnya. Maka siapakah yang sebenarnya berdusta?.
.
.
Hal lain yang menunjukkan kebodohan dan kedustaan Syaikh Al Albani dan pengikutnya Abul Jauzaa’ adalah hadis dengan lafaz seperti itu ternyata memang terdapat di dalam kitab lain yaitu Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 32618 dengan sanad yang shahih. Berikut kutipannya
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Ghaniyyah dari Ayahnya dari Isma’il bin Rajaa’ dari Ayahnya dari Abu Sa’id Al Khudri RA yang berkata “kami duduk-duduk di dalam masjid kemudian Rasulullah SAW datang dan ikut duduk bersama kami. Seolah-olah di atas kepala kami ada burung-burung hingga tak seorangpun diantara kami yang berbicara. kemudian Rasulullah SAW bersabda “Diantara kamu ada seseorang yang berperang atas penafsiran Al Qur’an sebagaimana kamu diperangi dalam penurunan Al Qur’an. Maka berdirilah Abu Bakar dan berkata “sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab “bukan”. Umar pun berdiri dan berkata “sayakah orangnya wahai Rasulullah?. Beliau SAW menjawab “bukan, dia adalah yang sedang menjahit sandal “. kemudian Ali datang kepada kami bersama sandal Rasulullah SAW yang sudah diperbaikinya.
Hadis tersebut bersanad shahih dengan syarat Muslim karena semua perawinya adalah perawi tsiqat dan perawi Muslim.
  • Ibnu Abi Ghaniyyah adalah Yahya bin Abdul Malik bin Humaid bin Abi Ghaniyyah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 406 bahwa ia adalah perawi Bukhari Muslim dan dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in, Al Ajli, Ibnu Hibban, Abu Dawud dan Daruquthni. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib no 7598 kalau ia seorang yang tsiqat.
  • Ayah Ibnu Abi Ghaniyyah adalah Abdul Malik bin Humaid bin Abi Ghaniyyah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 6 no 743, ia juga adalah perawi Bukhari dan Muslim dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/615 menyatakan ia tsiqat.
  • Ismail bin Rajaa’ Az Zubaidi adalah perawi Muslim, Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib 1 no 548 kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Ibnu Ma’in, An Nasa’i dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/94 menyatakan ia tsiqat.
  • Rajaa’ bin Rabi’ah Az Zubaidi Abu Ismail Al Kufi adalah Ayah Ismail seorang perawi Muslim, Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 3 no 501 menyatakan bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan Al Ajli. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/298 menyatakan ia shaduq.
Oleh karena itu hadis dengan lafaz seperti itu memang shahih dan justru orang yang mengatakan dusta itulah sebenarnya yang menunjukkan kebodohan dan melakukan kedustaan. Jika memang tidak suka dikatakan bodoh dan dusta maka jangan seenaknya menuduh orang lain bodoh dan dusta. Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Wassalam
.
.
Catatan :
  • Judul tulisan sepertinya hanya disesuaikan dengan tulisan yang dibantah :mrgreen:
  • Jika ada yang berkeberatan terhadap judul tersebut silakan diberi tanggapan dan masukan. Insya Allah jika kami keliru akan diperbaiki :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar