Minggu, 03 Maret 2013

PERHATIKAN SIKAP JENDRAL SUDIRMAN...YANG BIJAKSANA....DAN TEGAS... . >>> DAN BAGAIMANA SIKAP YUSUF KALLA... .YANG TEGAS DAN GENTLEMAN...?? ...Sikap Tegas Jusuf Kalla Soal Gereja di Depan 700 Pendeta...>>>...Pada akhir Desember 2012 lalu, Menteri Agama Suryadharma Ali mengungkapkan bahwa per- tumbuhan gereja di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan masjid. Menurut data dari Kementerian Agama, pertumbuhan rumah ibadah pada tahun 1997-2004, Masjid hanya 64 persen, Gereja 165 persen, Hindu lebih dari 300 persen, Buddha lebih dari lebih dari 400 persen. “Saat ini ada informasi yang berkembang tapi tidak berimbang, seakan-akan persoalan menjadikan rumah ibadah itu hanya menimpa Gereja, padahal rumah Ibadah lain juga memiliki persoalan”, kata Suryadharma, Rabu (27/12/2012). ..>> “Ada Masjid kalau gak salah namanya Baitul Makmur, itu mesjid punya orang Betawi. Orang Betawinya NU, nah Gubernurnya pada waktu itu pak Fauzi Bowo, mantan pengurus NU wilayah Jakarta, si pemilik masjid ini sekarang pengurus NU wilayah Jakarta. Jadi sama-sama Islam, sama-sama Betawi, tetapi si pak Gubernur tidak memberikan izin pendirian. Silahkan cek di jalan Talang No. 6, kenapa? Karena persyaratan IMB-nya tidak terpenuhi,” ungkap SDA....>> Jenderal Besar Sudirman merupakan pahlawan yang pernah untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan pejajahan. Saat usianya masih yang masih relatif muda yaitu saat berumur 31 tahun sudah menjadi seorang jenderal. Walaupun menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem, berasal dari Rawalo, Purwokerto. Mereka adalah keluarga petani.Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. .....>>>



Wajib Baca! Sikap Tegas Jusuf Kalla Soal Gereja di Depan 700 Pendeta

JAKARTA (voa-islam.com) - http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/03/23469/wajib-baca-sikap-tegas-jusuf-kalla-soal-gereja-di-depan-700-pendeta/

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bicara soal toleransi 56.000 gereja, itulah tema sebuah kiriman Broadcast BlackBerry Messenger yang banyak tersebar dan diterima redaksi voa-islam.com.


Isi dari pesan tersebut mengisahkan Jusuf Kalla yang kini menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang menanggapi secara tegas pertanyaan tentang GKI Yasmin, Bogor di hadapan 700 ratus pendeta. Ia juga berbicara soal toleransi yang harus berasal dari kedua belah pihak. Berikut ini kutipan lengkap kisah Jusuf Kalla yang berani bersikap tegas di hadapan para pendeta.


Jumat sore kemarin (1/3/2013), Pak Jusuf Kalla memimpin rapat DMI. Sehabis Magrib beliau cerita bahwa baru saja ceramah di Makasar dalam konferensi gereja dihadapan 700 pendeta. Dalam sesi tanya jawab ada yang tanya tentang gereja di Yasmin (GKI Yasmin- red.)  Bogor beliau menjawab: “Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia?”


“Toleransi itu kedua belah pihak, anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota,” begitu khasnya Jusuf Kalla dengan nada yang tinggi.


Kemudian Jusuf Kalla bercerita lagi, bahwa dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta Pak Jusuf Kalla juga ditanya: "Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?"


Dengan tegas JK menjawab: "Justru ini dalam rangka menghormati anda. Jumat kan tidak libur, anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali shift, ibadah Jum’at cuma sekali. Kalau anda tidak suka ada masjid di kantor, apa anda mau hari liburnya ditukar; Jum’at libur, Minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen,” tegas Jusuf Kalla.


Tentu saja kisah Jusuf Kalla yang begitu berani mengambil sikap tegas itu jelas membuat kagum umat Islam yang mendengarnya. Namun demi memperoleh kebenaran cerita tersebut jurnalis voa-islam.com mengkonfirmasi ustadz Fahmi Salim yang turut serta dalam rapat DMI bersama Jusuf Kalla.


Wakil Sekjen MIUMI tersebut akhirnya membenarkan cerita Jusuf Kalla tersebut. “itu betul, disampaikan bapak Jusuf Kalla saat rapat di DMI Jum’at sore kemarin. Jadi beliau menceritakan apa yang disampaikan saat diundang oleh sinode gereja di Makassar,” kata ustadz Fahmi Salim, kepada voa-islam.com, Ahad (3/3/2013).


Semoga sikap bijak dan tegas Jusuf Kalla itu bisa dicontoh oleh para pemimpin, tokoh maupun negarawan yang lain. Jangan sampai demi meraih simpati minoritas seorang Muslim menanggalkan pembelaannya terhadap kepentingan umat Islam. [Ahmed Widad]


JK: Izin Membangun Gereja Bukan Urusan Tuhan, Tapi Urusan Wali Kota

Sabtu, 02/03/2013 20:22:49 | Shodiq Ramadhan | Dibaca : 251

Jakarta (SI ONLINE) -  http://www.suara-islam.com/read/index/6641/JK--Izin-Membangun-Gereja-Bukan-Urusan-Tuhan--Tapi-Urusan-Wali-Kota

Meski dianggap telah usai, kasus GKI Yasmin Bogor rupanya masih menjadi persoalan bagi kalangan Kristen. Dikabarkan, dalam sebuah konferensi gereja di Makassar yang diikuti sekitar 700 pendeta, masih ada yang bertanyya soal kasus ini kepada mantan wakil presiden Jusuf Kalla.

Hal ini terungkap dalam pesan yang beredar melalui
Blackberry Mesengger (BBM). Dalam pesan tersebut ditulis bahwa pada Jumat (1/3/2013) dalam rapat Dewan Masjid Indonesia (DMI), JK bercerita jika dirinya baru saja ceramah di Makasar dalam konferensi gereja dihadapan 700 pendeta. Dalam sesi tanya jawab ada yang bertanya tentang gereja di Yasmin Bogor.

Menaggapi pertanyaan tersebut JK mengatakan bahwa kasus tersebut murni masalah hukum perizinan.


"Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia dan tidak ada masalah. Seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan 1 gereja ini Anda sampai bicara ke seluruh dunia?. Toleransi itu harus dari kedua belah pihak, anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan Wali Kota," ujar JK dengan nada tinggi.

Terkait kasus GKI Yasmin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor Bidang Kerukunan Beragama, Ustadz Iyus Khaerunnas, menjelaskan kasus tersebut murni soal Izin Mendirikan Bangunan (IMB).


"Kasus GKI Yasmin bermula pada tahun 2002 ketika ditemukannya pemalsuan surat dan tanda tangan masyarakat setempat untuk persyaratan keluarnya IMB. Dan pelaku pemalsuan pun saudara Munir Karta sudah divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Bogor pada Januari 2011 lalu. Dan tidak hanya itu syarat lain seperti jumlah jemaat, pihak GKI Yasmin tidak bisa memenuhi ketentuan aturan mendirikan rumah ibadah, jemaat GKI yang tinggal di Yasmin tak lebih dari 5 orang, masih jauh dari syarat harus ada 90 jemaat. Bahkan syarat lainnya yaitu rekomendari FKUB dan Depagpun tidak dimiliki oleh GKI Yasmin. Itulah kenapa pada 11 Maret 2011 Walikota Bogor akhirnya mencabut IMB GKI Yasmin," ungkap Iyus kepada Suara Islam Online, Sabtu (2/3/2013).


Menurut Iyus, pemerintah kota Bogor telah memberikan tiga alternatif tempat bagi GKI Yasmin agar bisa beribadah dengan biaya ditanggung penuh oleh Pemkot Bogor.


"Namun sayangnya solusi tersebut di tolak GKI Yasmin dan mereka lebih memilih untuk beribadah di trotoar jalan sambil membuat opini lewat berbagai media seolah-olah mereka dilarang beribadah," tambahnya.


Pertumbuhan Gereja Lebih Besar


Pada akhir Desember 2012 lalu, Menteri Agama Suryadharma Ali mengungkapkan bahwa per- tumbuhan gereja di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan masjid. Menurut data dari Kementerian Agama, pertumbuhan rumah ibadah pada tahun 1997-2004, Masjid hanya 64 persen, Gereja 165 persen, Hindu lebih dari 300 persen, Buddha lebih dari lebih dari 400 persen.


“Saat ini ada informasi yang berkembang tapi tidak berimbang, seakan-akan persoalan menjadikan rumah ibadah itu hanya menimpa Gereja, padahal rumah Ibadah lain juga memiliki persoalan”,  kata Suryadharma, Rabu (27/12/2012).


Ia mengungkapkan, pada umumnya persoalan itu mencuat karena aspek perizinan bukan perseteruan antar umat beragama. “Ini harus dicatat bukan perseteruan, apa yang terjadi di Gereja Yasmin, Gereja Philadelphia itu semuanya masalah perizinan,” ungkapnya.

Sampai saat ini, kata Suryadharma, masih ada juga rumah ibadah lain seperti masjid yang terkendala masalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Ia menyebut masjid yang berada di Jalan Talang No. 6, Menteng, Jakarta Pusat.

“Ada Masjid kalau gak salah namanya Baitul Makmur, itu mesjid punya orang Betawi. Orang Betawinya NU, nah Gubernurnya pada waktu itu pak Fauzi Bowo, mantan pengurus NU wilayah Jakarta, si pemilik masjid ini sekarang pengurus NU wilayah Jakarta. Jadi sama-sama Islam, sama-sama Betawi, tetapi si pak Gubernur tidak memberikan izin pendirian. Silahkan cek di jalan Talang No. 6, kenapa? Karena persyaratan IMB-nya tidak terpenuhi,” ungkap SDA.
rep: syaiful falah
red: shodiq ramadhan

GENERAL SUDIRMAN
http://driwancybermuseum.wordpress.com/author/driwancybermuseum/page/9/
 
General Sudirman was the hero ever to win the independence of the Republic of Indonesia from the hands pejajahan. When he was still relatively young at the age of 31 years has become a general. Although suffering from severe lung, he still guerrilla against the Dutch. Sudirman was born on January 24, 1916 in the Village Bodaskarangjati, District Apex, Purbalingga, Central Java. His father was Karsid Kartawiradji, a foreman on the sugar cane sugar factories in Navan. His mother named Siyem, derived from Rawalo, Navan. They are family farmers.
Sudirman is one of the fighters and exemplary leader of this nation. His private firm on principle and conviction, always promotes the interests of many people and nation above personal interests. He is always consistent and consistent in defending the interests of homeland, nation and state. This may be seen when the Dutch Military Aggression II. He is in a weakened state because of illness remained committed despite having participated in guerrilla stretcher. In sickness, he was leading and encouraging the soldiers to take the fight against the Dutch. That is why he mentioned is one of the great figures who are born by the revolution of this country.
COMMANDER OF MAJOR principled Soedirman
United we stand divided we fall divorced, so the saying goes. We emulate Sudirman, principled, loving people, wise and steadfast.
Principled.
“… Our struggle must be based on the sanctity,” he delivered in his inauguration speech Sudirman he became Commander in Chief. Principles that reflect the attitude of an honest, fair and credible is his hold on in every action he took. For example, after signing a ceasefire agreement with the Netherlands, General Sudirman respect all aspects of the approved both parties, although the agreement was much detrimental to the country Indonesia. With these principles, he is also calm the troops to take a prudent attitude. Apparently, the musuhlah the first violation of ceasefire has been agreed upon, by implementing Aggression II.
Loving people.
Sudirman love of the people had formed long before he became leader of the nation. With the knowledge, power, capabilities, Soedirman young at that time already become local community leaders try to help people not only in education (teaching at the elementary school), but also in terms of leadership (via scout organization which he led), and the economy (through cooperative activities that he had pushed). Love of the people continued when he entered the army. General Soedirman aware that people in the early days of the Republic of Indonesia has been under pressure both economically, politically, and socially. He also understands that the Army of the Republic of Indonesia can not fight alone to build the nation. For the Sudirman and the troops fighting for and with people. The struggle of the people who were initially inclined fragmented based on idealism and regionalism are encouraged to unite against an enemy who wants to return the throne, while trying to continue to build the nation, although with limited means.
Wise.
Like a great leader, known as the Sudirman figure wise leader, both in speaking and in acting. When the President ordered General Sudirman and the troops to “retreat” as a follow-up of the Renville Agreement, the general did not immediately protest. General Sudirman carefully considering how best to execute it without breaking the spirit of men who might feel their dignity trampled because they have to retreat. Then, the great leader ordered his men with words of a wise but firm to “migrate” from the rear line troops Van Mook. Period “hijra” is used Soedirman General and his troops to build strategies and develop greater strength.
Teguh.
Sudirman determination has been seen since the days he was active in scouting. In divulging scouting activities in open fields in mountainous areas, many participants who succumbed to the cold and hurried home. Not so with the young firm Soedirman survive in a cold field to complete the tasks that have been imposed on him. His firmness was also shown on the guerillas. Although physically weak condition, General Sudirman remain steadfast to accompany troops in the field to prepare forces repel the enemy. Perseverance is one quality that makes all parties respect and trust to the leader of the nation on this one. General Sudirman struggle shows that the principle, love of the people, attitude wise, and courage that is always based on the pure intention is the cornerstone of the act.
Small Soedirman
Sudirman was born on January 24, 1916 in the Village Bodaskarangjati, District Apex, Purbalingga, Central Java. His father was Karsid Kartawiradji, a foreman on the sugar cane sugar factories in Navan. His mother named Siyem, derived from Rawalo, Navan. They are family farmers. Since infancy, has been appointed as a child Soedirman by R. Tjokrosunaryo, assistant district officer (District Head) in Apex, District Cahyana, Purbalingga, who married the aunt Soedirman. After retirement, the family later settled in Cilacap Tjokrosunaryo. In the seven years of age entered the Hollandsche Inlandsche Soedirman School (HIS) the level of elementary school in Cilacap. In a simple life, R. Tjokrosunaryo educate Soedirman with discipline. Soedirman educated ways of keeping time and learn to use the allowance as well as possible. He should be able to divide their time between studying, playing, and chanting. Soedirman also educated in the traditional gentry manners by Mrs. Tjokrosunaryo.
Soedirman Teens
In 1930, Sudirman graduated from HIS. In 1932 Sudirman entered Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) junior level. A year later, is moved to Wiworo Tomo Parama College and graduated in 1935. At school, Soedirman including an intelligent and diligent students to follow the lessons taught by his teacher. Soedirman showed great interest in learning English, statecraft, world history, nationality, and religion. Soedirman so diligent study Islam so that his friends dubbed the “review”.
Being Soedirman Pandu
He was also active in the scouting organization (now Scout) Hizbul Wathon (HW) are cared for by Muhammadiyah. Through scouting activities, the talents of leadership began to look Soedirman. He was a scout who disciplined, militant, and responsible. This can be seen when Hizbul Wathon jamboree held on the slopes of Mount Slamet famous cold air. At night the air so cold, so that children can not stand HW stay in camp. They went to houses that are near the venue, just Soedirman himself remained in his tent.
Soedirman School Teacher, Head of Cooperative, Member of the Legislative
After graduating from Parama Wiworo Tomo, he became a teacher in his Muhammadiyah. as a teacher, still active in the Hizbul Soedirman Wathon. In 1936, Sudirman entering a new life. He is married to Siti Alfiah, daughter of Mr. Sastroatmodjo, from the placenta, Cilacap familiar while attending Parama Wiworo Tomo. From this marriage, they were blessed with seven children. At the beginning of Japanese occupation, Muhammadiyah schools where teaching is closed. Thanks to these schools struggle Soedirman eventually be reopened. Then Soedirman with some friends set up a cooperative named Perbi trade and direct diketuainya own. With the establishment Perbi, then in Cilacap standing cooperation that resulted in some less healthy rivalry. Seeing this, Soedirman trying to unite them, and finally stand Wijayakusuma Association of Indonesian cooperatives. The condition of the people at that time was difficult to find food, so the state is actively encouraging Soedirman to foster the Governing Body of the People’s Food (BPMR), an entity managed by the communities themselves, rather than an artificial entity Japanese Government. The agency is engaged in the collection and distribution of food to keep people from starving Cilacap. Including community leaders as he led the organization’s skill and honesty. In 1943, the Japanese government lifted a member Syu Soedirman Songikai (a kind of council consideration of residency) Banyumas.
Entering the Military World Soedirman
In mid-1943, Japanese troops began pressured by the Allies. In October 1943, the Government announced the establishment of the Japanese Occupation Army Defenders of the Homeland (Map). Soedirman as community leaders appointed for training in Bogor Map second generation. Education completed, he was appointed Daidanco (battalion commander) is domiciled in Kroja, Banyumas. Therein Soedirman began his career as a soldier. As a commander, Soedirman deeply loved by his subordinates, because it is very concerned about their welfare. He is not afraid to oppose the mistreatment Japanese officers, who became coach and supervisor battalion.
After the rebellion Peta Blitar in February 1945, Japan entered the observation of the officers Maps. They are to be charming (recalcitrant), categorized as hazardous. In July 1945, Sudirman and several other officers maps that include the category of “dangerous” were called to Bogor on the grounds will receive further training. Only then there is the impression that Japan intends to capture them. Even if they were in Bogor “Advanced Training” was canceled, because the single August 14, 1945 the Japanese had surrendered to the allies. After that Soedirman and his friends returned to the propagators and respectively. At the time of the Proclamation of Indonesian Independence dikumandang
right, in Kroja Soedirman. The next day on August 18, 1945. Japan dissolve Map and stripped of their weapons, then they are sent home to their respective homelands. After the announcement of the formation of BKR, Soedirman trying to gather them back and gather strength People’s Security Agency (BKR). Together with Mr. Resident Banyumas. Iskaq Tjokroadisurjo and several other figures, Soedirman a coup d’etat from the hands of Japan peacefully. Japanese Army Battalion Commander Major Yuda pretty much handed weapons. Therefore BKR Banyumas an entity that has a complete weapon.
Unique Selection of Great Commander General Sudirman
When Allied troops, as represented by the British with being followed by the Dutch landed behind him, and they demanded the Japanese weapons from our hands again, then erupted everywhere new battles. First with Japan, now with the Allies. We are not willing to give back the weapons we seized it. The new battles are not only happening in Jakarta and its surroundings, but also in Semarang, and the largest and longest in the city of Surabaya, from 28 to October 30, 1945, and from 10 to 30 November 1945. Soedirman who was appointed by the Government as the Chief of the Division of Sunan Gunung Jati or Division V, and are responsible for Banyumas and Kedu, also faced attacks from the British who came to the majors Semarang Ambarawa and Banyubiru. Thanks to the spirit of leadership Soedirman British troops can be removed. In such an atmosphere that’s Colonel Sudirman selected as Commander in Chief. Which to choose is the Division Commander and Commander of the Regiment who gathered in Yogyakarta on 12 November 1945. Rank since it was General. In that election he defeated another colon-colon. Judging from the military education, then the other candidates were far higher than that of General Sudirman. This unique selection reflects the Zeitgeist or “spirit day” at the time. That is the spirit of revolution everywhere. Our people as if stricken with fever. Fever revolution. The spirit of the revolutionary struggle raged everywhere. Waged in public meetings, organized by the Movement from the time our politicians, and by means of the new Government was formed, and therefore less than perfect. Everywhere our people actively remodel the Dutch East Indies colonial system and system of Japanese militarism. People fed up with both systems during colonialism and militarism Iampau it. People can not wait, and in the old system’s overhaul effort, not infrequently arise turmoil of chaos. Serobot-pilfer, good fortune and even oust-kidnap kidnap occasionally occur. Who is undergoing his own situation at that time, really feel the revolution, the rapid changes in force lightning. Especially among our youth. Often a quick change without the rule of “normal”. Sometimes even “anarchistis” at all. Irosionalitas and emotionality often overcome rationality and cold mind. It’s a revolution! Eine Umwertung aller Werte. Penjungkirbalikkan all kinds of value. An “inspiration razende van de historie”. An “inspiration that look rather than history.” And the “inspiration of history” was “a meeting point of all that is the nation’s consciousness with what is living under the nation’s historical consciousness.” He ontmoetingspunt, en het van het vewuste onderbewuste in de geschiedenis! “The choice of Commander Soedirman fall in such situations. Many emotions in the subconscious in determining that choice. Many are not pleased rationalistic mind into consideration the choices. Indeed the revolution has its own values. Moreover the character of popular revolution, as the revolution we had it. Agree or disagree, the reality is that the values ​​of magical emotions, instincts and vibration-mystical charismatic in determining the course of our revolution at that time. Also in the selection of Grand Commander of RI for the first time, those values ​​will determine. Of course, rational values ​​and cool thoughts Also living at that time. But the more prominent and more powerful are the values ​​of magical emotions, instincts charismatic and mystical vibrations mentioned above. And that then empties into the decision-lift Sudirman as the Commander in Chief. The chosen candidate instead of having levels rationality and high technical military skills, the product of Western education in big cities, but the chosen people was a child, raised in the village, then by a wave of revolution which catapulted to the top, and is a milestone confidence of the majority of the division commander and the commanders regiment were present at that time. The composition of divisions and regiments of our army at that time was far from perfect. Headquarters, the headquarters were uncertain, and often have to move. The Division Commander and the commanders of the regiment did not all have the military-technical skill perfect, according to measures such as the West. Skill military service may be questionable, but which can not be doubted is the struggle to defend the spirit and soul of the Proclamation, against the return of colonialism. If the choice of Commander in Chief position at the time submitted to the Central Government, then it most likely that the choice will not fall to Soedirman. And indeed, the Government at that time, executive power in the hands of PM Sjahrir want another character. Among Urip Sumohardjo, a Dutch-educated military man, but the patriotic spirit. Also proposed lane, which at the time It received the titular rank of General. In the meeting of the Division Commander and Commander of the Regiment also called names Sjarifuddin Sjahrir and Amir, who sits in Cabinet as Minister of Information Sjahrir. Apparently, the pattern of placing the army under the leadership of the civil-political power at that time was about to be applied by politicians. But the majority of the audience chose Soedirman. One thing that is unique in our revolution. Great Commander of the first is not appointed by the Government, but elected “democratically” by the division commander and regimental commander. That’s the revolutionary atmosphere of the time. That is also Zeit -Geist her, or the “spirit of the age” full of revolutionary populist soul. Elan revolutionary erupted out onto the surface of our society that is churning away in the election results reflect that. Elan revolutionary leadership of the army was entrusted to a person we Soedirman. ( dr. H. Roeslan Abdulgani Soedirman Commander Role in Revolution Indonesia, Restu Agung, Jakarta, 2004, p.32-35.
Soedirman Deceased
Dated January 29, 1950 Sudirman’s death, news of the death of Sudirman, which was broadcast repeatedly by the Radio. Following Harlan command of Chief of Staff of the Armed Forces of RIS, Colonel TB Simatupang addressed to all soldiers of the Armed Forces RIS contains a whole seven days of mourning were ordered to carry out the flying of the Red White benders at half mast on each unit is run with great reverence and respect, keep all the actions and behaviors that can interfere with the atmosphere of mourning. The government announced a National Day of Mourning in connection with the death of Commander Soedirman, and in his speech the Prime Minister Hatta RIS RIS Government announced its decision to raise the rank of Lieutenant General Sudirman posthumously become a General. 11.00 on January 30, 1950, the funeral procession Great Commander General Sudirman slowly left the town of Magelang to Yogyakarta. After disembahyangkan at the Grand Mosque, the corpse was interred with military ceremony at the Heroes Cemetery Semaki Yogyakarta, beside the tomb of Gen. Oerip Letnal Soemoharjo.
Words of Wisdom Sudirman
Yogyakarta, 12 November 1945
The army has only one duty, is to defend state sovereignty and maintain safety, it was enough to firmly hold this duty soldiers, besides the army, discipline must be adhered to. Subject to the leadership of his superiors willingly doing his duty, subject to the orders of his boss that is the strength of an army. That the Indonesian state was not sufficiently defended by the army alone, it is necessary once held as firmly as-close cooperation with groups and agencies outside the army. Soldiers should not be a tool of a group or anyone else.
Pronounced before the conference is the mandate of the TKR and the first time since taking office as Pangsar TKR. Yogyakarta, 1Januari 1946
The army is not a group outside the community, not a “caste” that stands above society. The army is nothing more than one section of society who have a particular obligation.
Mandate as stipulated in the intimation TKR. Yogyakarta, 17 February 1946
We are soldiers of the Republic of Indonesia will rise and sink together with the state.
Mandate in order to commemorate Indonesia’s independence half a year. Yogyakarta 9 April 1946
Never among our troops there in violation of a promise, a traitor homeland, nation and religion, should be with you all always remember, that each particular battle casualties, but you all have vowed willingly die to defend your friend who had died as a ratna , anyway, to defend the homeland, nation and religion, the oath shall ye keep, once you promised to keep.
Believing in the power of its own
Continue your struggle.
Keep us all home and yard.
Our soldiers do not ever know the nature and deeds of surrender to anyone who would colonize and oppress us again.
Hold fast to discipline soldiers and unseen heroes of our services have been written in Indonesian history books, all of you as a son of Indonesia must also fill the history books.
Mandate within the framework of the inauguration of the status of the position of the air TRI TRI parallel to the other. Yogyakarta, May 25, 1946.
Able to defend the sovereignty and independence of the Republic of Indonesia, which had been proclaimed on August 17, 1945, to the death of efflux. Able to obey and submit to the Government of the Republic, which fulfill their obligations, according to the Constitution of the Republic of Indonesia and to maintain its independence sebulat-round. Inch tanahpun we will not submit to the opponent, but we will keep an all-out …………………. Although we are not afraid to bluff your opponent, but we too should always be ready.
Mandate before the president / commander in chief APRI to pledge an oath of the army leadership. Yogyakarta, May 27, 1945
Although you get a physical workout as powerful, incredibly, will not be useful if you have a nature to give up! Versatility is however high, is of no use if the person has surrendered the properties! Soldiers will live till the end, the army will arise and go down with the country!
 
 
INDONESIA VERSION:
Jenderal Besar Sudirman merupakan pahlawan yang pernah untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan pejajahan. Saat usianya masih yang masih relatif muda yaitu saat berumur 31 tahun sudah menjadi seorang jenderal. Walaupun menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda.
Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem, berasal dari Rawalo, Purwokerto. Mereka adalah keluarga petani.Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. 
 

SOEDIRMAN PANGLIMA BESAR YANG BERPRINSIP


Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, begitu kata pepatah. Kita teladani Pak Dirman, yang berprinsip, mencintai rakyat, bijak dan teguh.
Berprinsip.
” … perjuangan kita harus didasarkan pada kesucian,” demikian yang disampaikan Pak Dirman dalam pidato pelantikan beliau menjadi Panglima Besar. Prinsip yang mencerminkan sikap jujur, adil, dan dapat dipercaya tersebut beliau pegang teguh dalam setiap tindakan yang beliau ambil. Misalnya saja, setelah menandatangani persetujuan gencatan senjata dengan Belanda, Jendral Sudirman menghormati semua aspek yang telah disetujui kedua belah pihak, walaupun perjanjian tersebut ternyata banyak merugikan negara Indonesia. Dengan prinsipnya tersebut, beliau juga menenangkan pasukannya untuk mengambil sikap bijaksana. Ternyata, pihak musuhlah yang lebih dulu melanggar gencatan senjata yang telah disepakati, dengan melaksanakan Agresi II.
Mencintai rakyat.
Kecintaan Pak Dirman pada Rakyat telah terbentuk jauh sebelum beliau menjadi pemimpin bangsa. Dengan pengetahuan, tenaga, kemampuan yang dimiliki, Soedirman muda yang waktu itu sudah menjadi tokoh masyarakat setempat berupaya membantu rakyat tidak hanya dalam bidang pendidikan (mengajar di sekolah rakyat), tapi juga dalam hal kepemimpinan (melalui organisasi pandu yang beliau pimpin), dan ekonomi (melalui kegiatan koperasi yang beliau rintis). Kecintaan pada rakyat terus berlanjut ketika beliau memasuki masa dinas ketentaraan. Jendral Soedirman sadar bahwa rakyat pada awal berdirinya Republik Indonesia banyak mengalami tekanan baik secara ekonomi, politik, maupun sosial. Beliau juga paham bahwa Tentara Republik Indonesia tidak bisa berjuang sendirian untuk membangun bangsa. Untuk itu Pak Dirman dan pasukan berjuang untuk dan bersama rakyat. Perjuangan rakyat yang pada awalnya cenderung terkotak-kotak berdasarkan idealisme dan kedaerahan dihimbau untuk bersatu melawan musuh yang ingin kembali bertakhta, sambil berupaya terus membangun bangsa walaupun dengan sarana yang terbatas.
Bijak.
Seperti layaknya seorang pemimpin besar, Pak Dirman terkenal sebagai sosok pemimpin yang bijak, baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak. Ketika Presiden Soekarno memerintahkan Jenderal Soedirman dan Pasukan untuk “mundur” sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Renville, sang jendral tidak langsung protes. Dengan saksama Jendral Soedirman memikirkan cara terbaik untuk menjalankan perintah tersebut tanpa mematahkan semangat anak buah yang mungkin saja merasa harga diri mereka terinjak-injak karena harus mundur. Kemudian, sang pemimpin besar memerintahkan anak buahnya dengan kata-kata yang bijak namun tegas untuk “hijrah” dari garis belakang pasukan Van Mook. Masa “hijrah” ini digunakan Jendral Besar Soedirman dan pasukannya untuk membangun strategi dan menyusun kekuatan yang lebih besar.
Teguh.
Keteguhan hati Pak Dirman sudah terlihat sejak masa beliau aktif di kepanduan. Pada suat kegiatan kepanduan di padang terbuka di daerah pegunungan, banyak peserta yang menyerah pada hawa dingin dan bergegas pulang. Tidak demikian dengan Soedirman muda yang teguh bertahan di medan yang dingin untuk menyelesaikan tugas yang telah dibebankan kepadanya. Keteguhan ini juga diperlihatkan beliau pada masa bergerilya. Walaupun kondisi fisik lemah, Jenderal Soedirman tetap teguh mendampingi pasukannya di lapangan untuk menyusun kekuatan mengusir musuh. Keteguhan ini merupakan salah satu kualitas yang membuat berbagai pihak hormat dan percaya kepada pemimpin bangsa yang satu ini. Perjuangan Jenderal Soedirman menunjukkan bahwa prinsip, kecintaan pada rakyat, sikap bijak, dan keteguhan hati yang senantiasa dilandaskan pada niat yang suci merupakan landasan penting dalam bertindak.

Soedirman Kecil
Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Karsid Kartawiradji, seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem, berasal dari Rawalo, Purwokerto. Mereka adalah keluarga petani. Sejak masih bayi, Soedirman telah diangkat sebagai anak oleh R.Tjokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) di Rembang, Distrik Cahyana, Kabupaten Purbalingga, yang kawin dengan bibi Soedirman. Setelah pensiun, keluarga Tjokrosunaryo kemudian menetap di Cilacap. Dalam usia tujuh tahun Soedirman memasuki Hollandsche Inlandsche School (HIS) setingkat Sekolah Dasar di Cilacap. Dalam kehidupan yang sederhana, R. Tjokrosunaryo mendidik Soedirman dengan penuh disiplin. Soedirman dididik cara-cara menepati waktu dan belajar menggunakan uang saku sebaik-baiknya. Ia harus bisa membagi waktu antara belajar, bermain, dan mengaji. Soedirman juga dididik dalam hal sopan santun priyayi yang tradisional oleh Ibu Tjokrosunaryo.

Soedirman Remaja
Pada tahun 1930, Soedirman tamat dari HIS. Pada tahun 1932 Soedirman memasuki Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) setingkat SLTP. Setahun kemudian, is pindah ke Perguruan Parama Wiworo Tomo dan tamat pada tahun 1935. Di sekolah, Soedirman termasuk murid yang cerdas dan rajin mengikuti pelajaran yang diajarkan gurunya. Soedirman menunjukkan minatnya yang besar pada pelajaran bahasa Inggris, ilmu tata negara, sejarah dunia, sejarah kebangsaan, dan agama Islam. Demikian tekunnya Soedirman mempelajari agama Islam sehingga oleh teman-temannya diberi julukan “kaji”.
Soedirman Menjadi Pandu
Ia juga aktif di organisasi kepanduan (sekarang Pramuka) Hizbul Wathon (HW) yang diasuh oleh Muhammadiyah. Melalui kegiatan kepanduan ini, bakat-bakat kepemimpinan Soedirman mulai kelihatan. Ia ternyata seorang pandu yang berdisiplin, militan, dan bertanggung jawab. Hal ini terlihat ketika Hizbul Wathon mengadakan jambore di lereng Gunung Slamet yang terkenal berhawa dingin. Pada malam hari udara sedemikian dinginnya, sehingga anak-anak HW tidak tahan tinggal di kemah. Mereka pergi ke rumah penduduk yang ada di dekat tempat tersebut,hanya Soedirman sendiri yang tetap tinggal di kemahnya.

Soedirman Guru Sekolah, Ketua Koperasi, Anggota Legislatif
Setelah lulus dari Parama Wiworo Tomo, ia menjadi guru di HIS Muhammadiyah. sebagai seorang guru, Soedirman tetap aktif di Hizbul Wathon. Pada tahun 1936, Soedirman memasuki hidup baru. Ia menikah dengan Siti Alfiah, puteri Bapak Sastroatmodjo, dari Plasen, Cilacap yang sudah dikenalnya sewaktu bersekolah di Parama Wiworo Tomo. Dari perkawinan ini, mereka dikaruniai 7 orang anak. Pada awal pendudukan Jepang, Sekolah Muhammadiyah tempat is mengajar ditutup. Berkat perjuangan Soedirman sekolah tersebut akhirnya boleh dibuka kembali. Kemudian Soedirman bersama beberapa orang temannya mendirikan koperasi dagang yang diberi nama Perbi dan langsung diketuainya sendiri. Dengan berdirinya Perbi, kemudian di Cilacap berdiri beberapa koperasi yang mengakibatkan terjadi persaingan kurang sehat. Melihat gelagat ini, Soedirman berusaha mempersatukannya, dan akhirnya berdirilah Persatuan koperasi Indonesia Wijayakusuma. Kondisi rakyat pada waktu itu sulit mencari bahan makanan, sehingga keadaan ini membangkitkan semangat Soedirman untuk aktif membina Badan Pengurus Makanan Rakyat (BPMR), suatu badan yang dikelola oleh masyarakat sendiri, bukan badan buatan Pemerintah Jepang. Badan ini bergerak dibidang pengumpulan dan distribusi bahan makanan untuk menghindarkan rakyat Cilacap dari bahaya kelaparan. Ia termasuk tokoh masyarakat karena kecakapan memimpin organisasi dan kejujurannya. Pada tahun 1943, Pemerintah Jepang mengangkat Soedirman menjadi anggota Syu Songikai (semacam dewan pertimbangan karesidenan) Banyumas.

Soedirman Memasuki Dunia Militer
Pada pertengahan tahun 1943, tentara Jepang mulai terdesak oleh Sekutu. Pada bulan Oktober 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (Peta). Soedirman sebagai tokoh masyarakat ditunjuk untuk mengikuti latihan Peta angkatan kedua di Bogor. Selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di Kroya, Banyumas. Disanalah Soedirman memulai karirnya sebagai seorang prajurit. Sebagai komandan, Soedirman sangat dicintai oleh bawahannya, karena is sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Ia tidak takut menentang perlakuan buruk opsir-opsir Jepang,yang menjadi pelatih dan pengawas batalyonnya.


Sesudah terjadi pemberontakan Tentara Peta Blitar pada bulan Pebruari 1945, Jepang mengadakan observasi terhadap para perwira Peta. Mereka yang bersikap menawan (recalcitrant), dikategorikan berbahaya. Pada bulan Juli 1945, Soedirman dan beberapa orang perwira Peta lainnya yang termasuk kategori “berbahaya” dipanggil ke Bogor dengan alasan akan mendapat latihan lanjutan. Hanya kemudian ada kesan bahwa Jepang berniat untuk menawan mereka. Sekalipun mereka sudah berada di Bogor “Pelatihan Lanjutan” dibatalkan, karena tunggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Sesudah itu Soedirman dan kawan-kawannya kembali lagi ke dai dan masing-masing. Pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandang
kan, Soedirman berada di Kroya. Esok harinya tanggal 18 Agustus 1945. Jepang membubarkan Peta dan senjata mereka dilucuti, selanjutnya mereka disuruh pulang ke kampung halaman masing-masing. Setelah pengumuman pembentukan BKR, Soedirman berusaha mengumpulkan mereka kembali dan menghimpun kekuatan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Bersama Residen Banyumas Mr. Iskaq Tjokroadisurjo dan beberapa tokoh lainnya, Soedirman melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang secara damai. Komandan Batalyon Tentara Jepang Mayor Yuda menyerahkan senjata cukup banyak. Karena itu BKR Banyumas merupakan kesatuan yang memiliki senjata terlengkap.


Pemilihan Unik Panglima Besar Jenderal Soedirman


Sewaktu Tentara Sekutu, yang diwakili oleh Inggris dengan dibuntuti oleh Belanda dibelakangnya mendarat, dan mereka menuntut senjata Jepang kembali dari tangan kita, maka meletuslah dimana-mana pertempuran-pertempuran baru. Dulu dengan Jepang, kini dengan Sekutu. Kita tidak sudi menyerahkan kembali senjata yang kita rebut itu. Pertempuran-pertempuran baru tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di Semarang, dan yang terbesar serta paling lama adalah di kota Surabaya, dari 28 hingga 30 Oktober 1945, dan dari 10 hingga 30 Nopember 1945. Soedirman yang pada waktu itu diangkat oleh Pemerintah sebagai Panglima Divisi Sunan Gunung Jati atau Divisi V, dan yang bertanggungjawab untuk daerah Banyumas dan Kedu, menghadapi juga serangan-serangan Inggris yang datang dari jurusan Semarang menuju ke Ambarawa dan Banyubiru. Berkat semangat kepemimpinan Soedirman tentara Inggris dapat dienyahkan. Dalam suasana demikian itulah Kolonel Soedirman dipilih sebagai Panglima Besar. Yang memilih adalah para Panglima Divisi dan Komandan Resimen yang berkumpul di Yogyakarta pada tanggal 12 Nopember 1945. Pangkatnya sejak itu adalah Jenderal. Dalam pemilihan itu beliau mengalahkan colon-colon lain. Ditinjau dari pendidikan kemiliteran, maka calon-calon lain itu jauh lebih tinggi dari Jenderal Soedirman. Pemilihan yang unik ini mencerminkan Zeitgeist atau “Semangat Zaman” waktu itu. Yaitu semangat revolusi dimana-mana. Rakyat kita seakan-akan terserang demam. Demam revolusi. Semangat perjuangan revolusioner di mana-mana berkobar. Dikobarkan dalam rapat-rapat umum, yang diselenggarakan oleh kaum politisi kita dari zaman Pergerakan, dan oleh alat-alat Pemerintahan yang baru dibentuk, dan karenanya kurang sempurna. Di mana-mana rakyat kita giat merombak sistem kolonialisme Hindia-Belanda dan sistem militerisme Jepang. Rakyat muak terhadap kedua sistem kolonialisme dan militerisme masa Iampau itu. Rakyat tidak sabar lagi, dan di dalam usaha merombak sistem lama itu, tidak jarang timbul gejolak kekacauan. Serobot-menyerobot, daulat mendaulat dan malahan culik-menculik adakalanya terjadi. Siapa yang menjalani sendiri situasi pada waktu itu, benar-benar merasa adanya revolusi, adanya perubahan cepat kilat yang sedang berlaku. Terutama di kalangan pemuda kita. Seringkali perubahan cepat itu tanpa aturan “normal”. Kadangkadang malahan “anarchistis” sama sekali. Irosionalitas dan emosionalitas seringkali mengatasi rasionalitas dan pikiran dingin. Memang itulah revolusi ! Eine Umwertung aller Werte. Penjungkirbalikkan segala macam nilai. Suatu “razende inspirasi van de historie”. Suatu “ilham yang memandang daripada sejarah”. Dan “ilham sejarah” itu adalah “titik temu dari segala apa yang merupakan kesadaran bangsa dengan apa yang hidup di bawah kesadaran sejarah bangsa itu. “He ontmoetingspunt, van het vewuste en het onderbewuste in de geschiedenis!” Pilihan atas Panglima Besar Soedirman jatuh dalam situasi demikian. Banyak emosi di bawah sadar ikut menentukan pilihan itu. Banyak pikiran rasionalistis tidak berkenan masuk dalam pertimbangan pilihan tersebut. Memang revolusi mempunyai nilai-nilai sendiri. Apalagi revolusi yang berwatak kerakyatan, seperti revolusi kita dulu itu. Setuju atau tidak setuju, realitanya ialah bahwa nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatis dan getaran-mistis ikut menentukan jalannya revolusi kita pada waktu itu. Juga dalam pemilihan Panglima Besar RI untuk pertama kalinya, nilai-nilai tersebut ikut menentukan. Sudah barang tentu nilai-nilai rasional dan pikiran dingin hidup Juga pada waktu itu. Namun yang lebih menonjol dan lebih kuat adalah nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatik dan getaran mistis tersebut di atas. Dan itulah yang kemudian bermuara ke dalam keputusan mengangkat Soedirman sebagai Panglima Besar. Yang terpilih bukan calon yang memiliki kadar rasionalitas dan ketrampilan militer teknis yang tinggi, produk dari didikan Barat di kota-kota besar, melainkan yang terpilih adalah seorang anak rakyat, dibesarkan di desa, yang kemudian oleh gelombang revolusi terlempar ke atas, dan merupakan tonggak kepercayaan mayoritas para panglima divisi dan para komandan resimen yang hadir pada waktu itu. Susunan divisi serta resimen tentara kita pada waktu itu jauh dari sempurna. Markas-markas pun belum menentu, dan seringkali harus berpindah-pindah. Para Panglima Divisi serta para komandan resimen pun tidak semuanya memiliki kepandaian kemiliteran-teknis yang sempurna, seperti menurut ukuran-ukuran Barat. Kepandaian kemiliterannya boleh diragukan, namun yang tidak dapat diragukan adalah semangat dan jiwa perjuangannya membela Proklamasi, melawan kembalinya kolonialisme. Andaikata pilihan jabatan Panglima Besar pada waktu itu diserahkan kepada Pemerintah Pusat, maka besar sekali kemungkinan bahwa pilihan tidak akan jatuh kepada Soedirman. Dan memang, Pemerintahan yang pada waktu itu kekuasaan eksekutifnya berada di tangan PM Sjahrir menginginkan tokoh lain. Di antaranya Urip Sumohardjo, seorang tokoh militer didikan Belanda, tetapi berjiwa patriotik. Juga dikemukakan Sri Sultan Hamengku Buwono, yang pada waktu itu mendapat pangkat Jenderal Tituler. Dalam rapat para Panglima Divisi dan Komandan Resimen disebut juga nama-nama Sjahrir dan Amir Sjarifuddin, yang duduk sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Sjahrir. Rupanya pola menempatkan pimpinan ketentaraan di bawah kekuasaan sipil-politis pada waktu itu hendak diterapkan oleh kaum politisi. Namun mayoritas hadirin memilih Soedirman. Suatu hal yang unik dalam revolusi kita. Panglima Besar yang pertama tidak diangkat oleh Pemerintah, melainkan dipilih secara “demokratis” oleh para panglima divisi dan komandan resimen. Itulah suasana revolusioner pada waktu itu. Itulah juga Zeit-geist-nya, atau “semangat zaman” revolusioner yang penuh dengan jiwa kerakyatan. Elan revolusioner yang meletus keluar ke atas permukaan masyarakat kita yang sedang bergolak mencerminkan diri dalam hasil pemilihan tersebut. Elan revolusioner tersebut mempercayakan kepemimpinan tentara kita kepada seorang pribadi Soedirman. (Dr. H. Roeslan Abdulgani Peranan Panglima Besar Soedirman dalam Revolusi Indonesia, Restu Agung, Jakarta, 2004, hal.32-35.
Soedirman Wafat


Tanggal 29 Januari 1950 Soedirman wafat, berita tentang wafatnya Soedirman, yang disiarkan berulang-ulang oleh Radio. Menyusul perintah Harlan Pejabat Kepala Staf Angkatan Perang RIS, Kolonel T.B. Simatupang yang ditujukan kepada seluruh tentara berisi Seluruh Angkatan Perang RIS diperintahkan berkabung selama tujuh hari dengan melaksanakan pengibaran benders Merah Putih setengah tiang pada masing-masing kesatuan dijalankan dengan penuh khidmat serta hormat, menjauhkan segala tindakan dan tingkah laku yang dapat mengganggu suasana berkabung. Pemerintah mengumumkan Hari Berkabung Nasional sehubungan dengan wafatnya Panglima Besar Soedirman, dan dalam pidatonya Perdana Menteri RIS Bung Hatta mengumumkan keputusan Pemerintah RIS untuk menaikkan pangkat Letnan Jenderal Soedirman secara anumerta menjadi Jenderal. Pukul 11.00 tanggal 30 Januari 1950, iring-iringan jenazah Panglima Besar Jenderal Soedirman perlahan-lahan meninggalkan kota Magelang menuju Yogya. Setelah disembahyangkan di Masjid Agung, jenazah dikebumikan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta, disamping makam Letnal Jenderal TNI Oerip Soemoharjo.


Kata-kata Mutiara Sudirman
 
Yogyakarta 12 November 1945

Tentara hanya memiliki kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. 
 
Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya, tunduk kepada perintah pimpinannya itulah yang merupakan kekuatan dari suatu tentara. Bahwa negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara. 
 
Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau siapapun juga.

Diucapkan dihadapan konferensi TKR dan merupakan amanat pertama kali sejak menjabat sebagai Pangsar TKR. Yogyakarta , 1Januari 1946Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu “kasta” yang berdiri di atas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.

Amanat yang tertuang dalam maklumat TKR. Yogyakarta 17 Pebruari 1946 Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara.
Amanat dalam rangka memperingati setengah tahun kemerdekaan RI. Yogyakarta 9 April 1946

Jangan sekali-kali diantara tentara kita ada yang menyalahi janji, menjadi pengkhianat nusa, bangsa dan agama, harus kamu sekalian senantiasa ingat, bahwa tiap-tiap perjuangan tertentu memakan korban, tetapi kamu sekalian telah bersumpah ikhlas mati untuk membela temanmu yang telah gugur sebagi ratna, lagi pula untuk membela nusa, bangsa dan agamamu, sumpah wajib kamu tepati, sekali berjanji kamu tepati.
  • Percaya kepada kekuatan sendiri
  • Teruskan perjuangan kamu.
  • Pertahankan rumah dan pekarangan kita sekalian.
  • Tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat dan perbuatan menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali.
  • Pegang teguh disiplin tentara lahir dan batin jasa pahlawan kita telah tertulis dalam buku sejarah Indonesia, kamu sekalian sebagai putera Indonesia wajib turut mengisi buku sejarah itu.
Amanat dalam rangka peresmian status kedudukan TRI bagian udara sejajar dengan TRI lainnya. Yogyakarta 25 Mei 1946.

Sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah yang penghabisan. Sanggup taat dan tunduk pada Pemerintah Negara Republik, yang menjalankan kewajibannya, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya sebulat-bulatnya. Sejengkal tanahpun tidak akan kita serahkan kepada lawan, tetapi akan kita pertahankan habis-habisan………………….

 Meskipun kita tidak gentar akan gertakan lawan itu, tetapi kitapun harus selalu siap sedia.
Amanat dihadapan presiden/panglima tertinggi APRI untuk mengikrarkan sumpah anggota pimpinan tentara. Yogyakarta 27 Mei 1945


Meskipun kamu mendapat latihan jasmani yang sehebat-hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah ! Kepandaian yang bagaimanapun tingginya, tidak ada gunanya jika orang itu mempunyai sifat menyerah ! Tentara akan hidup sampai akhir jaman, tentara akan timbul dan tenggelam bersama negara !

 

 
 
 
Rare Admiral JOHN LIE
 
Jahja Daniel Dharma (John Lie) 2.jpg 
info one:John Lie
The smuggler who Humanist The story leading admiral in the struggle.

A day around the year 1921. Rear Adm. John Lie will never forget it. A eskader Dutch navy ships anchored in Manado. The size is large and sophisticated. Many residents want to see up close and boarded the ship to pay 10 cents.

John Lie, who were aged approximately 10 years, had no money. Not wanting to be broke, he and his friends swim toward the boat. Successful. Near the ship, he said to his friends, “I’ll want to be a captain, a time will lead this ship,” he recalled, as quoted Bian Loho M. Nursam Fulfilling the Call Mother Earth: Biography of Rear Admiral John Lie.

Born on March 9, 1911, John Lie Tjeng Tjoan was the second child of eight children the couple Tae Kae and Oei Lie Tseng Nie. Lie Tae Kae is a freight company owner Vetol (Veem en transportonderneming Lie Tae Kae) famous before World War II and closed after the death of Kae Tae Lie in 1957. Eight children did not down the commercial skill. John Lie’s own childhood was more interested in the maritime world.

Despite the Dutch-language education in schools, Hollands Chinese School (HCS), then Christelijke Lagere School, John Lie desire to be a sailor so strong. He saved money from his father to collect receivables. When the age of 17, he left Manado. “If asked for parental consent must not be given, for being too young,” said Rita Tuwasey, nephew John Lie.

In Batavia, he worked as a longshoreman in sesela busy taking a course navigation. He then finished Klerk Muallim III in KPM (Royal Paketvaart Mattschappij), Dutch shipping company. After a few times to move the ship, he served on the MV Tosari which in February 1942 brought him to the Royal Navy Base Koramshar in Iran. At the time of World War II is underway. MV Tosari used as logistics support vessel fleet of the Allies. The crew of MV Tosari given military training.

In August 1945 World War II ended, shortly after Indonesia’s independence. The news made the sailors are “stranded” in Koramshar want to go home. “So that we can fight, serve with the fighters in Indonesia, to provide knowledge and experience we have been in the marine field,” wrote John Lie.

The desire was realized in February 1946. The MV Ophir that brought them sailed, anchorage in Bombay and Kalcuta, then stop in Singapore for 10 days. Here they take the time to learn sweeping sea mines and battlefield tactics.

After working at ports and marine deepening in Jakarta, John Lie joined the navy. At his request, John Lie was placed in the Port of Cilacap. Missions began to penetrate the Dutch blockade and the smugglers who made his name legendary.

John Lie launch its first mission to penetrate the Dutch blockade with boats ML 336. This ship load of weapons and ammunition for the purpose of Labuan room, a small town in East Sumatra. In the course of these vessels and patrol boats chased by patrol aircraft spotted the Netherlands. Almost happened gunfire. But the Dutch patrol aircraft would not be fired. Perhaps, according to John Lie, its fuel running low.

In Labuhan room, the ML 366 is registered to the Bureau Shipping and numbered PPB 31 LB (Register Port 31 Labuhan room). A week docked, the ship sailed back to Port Swettenham, Malaya. John Lie and his team then set up a Help the Naval Base of The Republic of Indonesia in there. Since then, he continued to blockade the Dutch shipping penetration. He was arrested in Singapore but the court released him because they do not proven guilty. At least six cruise penetration which he did with PPB 31 LB. BBC Radio broadcast the success of the voyage was always John Lie. BBC’s John Lie ship dubbed as “The Black Speed ​​Boat”.

John Lie shortly led PPB 31 LB, until the end of 1948. From the beginning of his duty to lead the ship PPB LB 58, which by John Lie was named “The Outlaw”. With this ship he had led at least 15 times “cruise death”. His name then legendary. Roy Rowan, a reporter for Life magazine, capturing the story of heroic struggle of John Lie in “Guns – And Bibbles – Are Smuggled to Indonesia”, published Life on October 26, 1949. And the foreign press dubbed John Lie, “The Great Smuggler with the Bibble”.

After receiving a new assignment at the Post Foreign Relations in Bangkok, led the Eagles and the Gadjah Mada KRI, active quell separatist movements such as DI / TII, RMS, and Permesta, John Lie, retiring in 1967.

He filled it with social activities: distributing bundles of rice to the poor and homeless children raised, because John had no children. He is also attention to the friends of compatriots. According to Rita, he wrote to one by a member of the 50 petitioners in order to make peace with Suharto. Advice was not ignored but their relations remained good.

On August 27, 1988, John Lie’s death. Many people came to the funeral, from President Suharto to homeless children.

Minister of Education and Culture Wardiman Djojonegoro “recognize” John Lie as a national hero. Through his letter dated 10 November 1995, Wardiman congratulate John Lie families of the conferring the title of national hero and Main Mahaputera Star honors for the (deceased) John Lie. But the bestowal John Lie as a new national hero realized on the anniversary of Memorial Day, 10 November 2009.

“By incorporating John Lie, as a national hero, to perpetuate the work and struggle, I think removing one of the potential for violence against the Chinese,” said Warman Adam Asvi.
 
 
  Next image
Info two:
Jahja Daniel Dharma (John Lie) 2.jpg
 

Jahja Daniel Dharma (John Lie)

One of the historical actors who actively penetrate the Dutch blockade is the ‘Chinese smugglers’ based in Singapore. He is known as John Lie John Daniel Darma. Later he became one of the high officers of the Navy with the rank of Rear Admiral. After he died, he received the Bintang Utama Mahaputera of president Soeharto on 10 November 1995. John Lie is the propagator cruise ship owned by Dutch KPM merchant who later joined the navy RI. Early in his career starting from his job at Cilacap PORT with the rank of captain. Rose to major rank for a few months after he managed to clear mines planted by the Japanese army to face the allies in the small harbor.Because the state treasury was still thin, the Republic of Indonesia to sell commodities exports abroad. Major John Lie given the task of securing the cruise ships that carry commodities with small fast boats called The Outlaw.
 
Around 1947 ,John Lie had escorted a ship carrying 800 tons of rubber to be submitted to the chief representative of Indonesia in Singapore, Utoyo Ramelan. Rubber or other crops brought to Singapore in exchange for weapons. Then the gun was presented to officials in the republic as regent Sumatra Riau against Holland. Major John Lie routinely perform surgery through blockade the Dutch, was recorded at least 15 times. With a small boat they were struggling to avoid the Dutch patrol boat and face the ocean waves.  A British officer when he was arrested and jailed in Singapore for carrying 18 drums of palm oil. Because it was evident not violate the law, he was released. When carrying semi-automatic weapons from Johor to Sumatra, he confronted the Dutch patrol aircraft. John Lie mangatakan, his ship was aground and the plane was leaving The Outlaw without any incident. 

Weapons handed over to the battalion commander Usman Effendi and Abusamah. They also received an official letter from the port that the ships of The Outlaw’s Affairs and named PPB 58 LB. John Lie establish a naval base at Port Swettenham in Malaya in order to provide fuel, gasoline, food, weapons and other purposes for the struggle of defending the sovereignty of Indonesia. 

While at the beginning of 1950 he dipanggill Bangkok to Surabaya by KSAL Subijakto who gave the task to become commander of the warship Rajawali
 
SYEKH YUSUF TAJUL KHALWATI
 
Syekh Yusuf dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, tanggal 3 Juli 1626. Setelah berguru ilmu agama di daerahnya, ia bermaksud makin memperdalam ilmu agamanya di Mekkah sekaligus menjalankan ibadah Haji. Sebelum menuju Tanah Suci, ia singgah terlebih dahulu ke Banten untuk menemui Sultan Ageng Tirtayasa yang tak lain adalah sahabatnya. Ia tinggal selama 5 tahun di Banten. Ketika itu Banten tengah berperang melawan pasukan kompeni Belanda.

Sekembalinya Syekh Yusuf dari Mekkah pada tahun 1664, ia kembali menuju Banten. Syekh Yusuf kemudian dijadikan menantu sekaligus penasihat kesultanan Banten. Ketika mendapati sahabatnya tengah berperang melawan pasukan Belanda, Syekh Yusuf bersegera membantu sahabatnya. Ia turut bahu-membahu berjuang bersama rakyat Banten menghadapi Belanda yang telah bergabung dengan Abdulnasar Abdulkadir, putra sulung Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam pertempuran itu Syekh Yusuf tertangkap dan kemudian dibuang ke Sri Lanka pada tahun 1684.

Meskipun berada di tanah pengasingan, namun Syekh Yusuf tetap berjuang. Selain menyebarkan agama Islam, ia juga rajin berkirim surat kepada para penguasa di Indonesia untuk menentang serta melawan penjajah Belanda. Tindakan Syekh Yusuf membuat Belanda gusar. Ia beserta para pengikutnya kemudian dibuang ke Afrika Selatan.

Dimanapun juga Syekh Yusuf berada, ulama asal Gowa itu tidak pernah surut menyebarkan agama Islam. Begitu pula ketika ia berada di Afrika Selatan. Selama 5 tahun berada di ujung selatan benua Afrika itu ia terus menyebarkan agama Islam. Karena sepak terjangnya itu penduduk Cape Town, Afrika Selatan, menganggapnya selaku pionir penyebar agama Islam di Afrika Selatan.

Pemerintah Indonesia sangat menghargai jerih payah dan perjuangan keras Syekh Yusuf Tajul Khalwati dan menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar