Kamis, 19 April 2012

SYIAH dan SUNNY dan MAZDHAB LAINNYA .. berjumlah 8 Mazdhab adalah SHAH DAN SHAHIH.. dan Harus Rukun dan Bersatu...SECARA UTUH-HALIM DAN AKHLAKULKARIM.....>>> MUI sendiri tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat untuk aliran Syi’ah ini (sumber bisa dilihat disini). Dan pernyataan dari hasil Konfrensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania;ada 8 mazhab/aliran yang disahkan oleh organisasi islam Internasional, dan Syi’ah salah satu di antaranya (sumber baca disini atau disinidalam bahasa inggris). >> ....PERNYATAAN SIKAP KONFERENSI ISLAM INTERNASIONAL, AMMAN...>> Konfrensi ini di hadiri dan disepakati oleh perwakilan Umat Islan seluruh dunia se-kurang2nya ada 49 Negara yang memiliki komunitas Umat Islam.. yang tersebar diseluruh Dunia... >>> Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.>> Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur'an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat(syahadatayn); kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara 'ulama adalah hal yang baik...>> ..Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas.>>... Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. Mengikuti tiap-tiap mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.>>

Konferensi ini  diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam  Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.)
Bismillahir-Rahmanir-Rahim
SALAM DAN SALAWAT SEMOGA TERCURAH PADA BAGINDA NABI MUHAMMAD  DAN KELUARGANYA YANG SUCI
Wahai manusia, bertakwalah kepada  Allah yang telah menciptakan kalian dari  satu jiwa... (Al-Nisa',4:1) Sesuai dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh YTH Imam Besar Syaikh Al-Azhar, YTH Ayatollah  Sayyid Ali Al-Sistani, YTH Mufti Besar Mesir, para ulama Syiah yang terhormat  (baik dari kalangan Syiah Ja'fari maupun Zaidi), YTH Mufti Besar Kesultanan Oman,  Akademi Fiqih Islam Kerajaan Saudi Arabia, Dewan Urusan Agama Turki, YTH Mufti  Besar Kerajaan Yordania dan Para Anggota Komite Fatwa  Nasional Yordania, dan  YTH Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi; Sesuai dengan kandungan pidato Yang Mulia Raja Abdullah  II bin Al-Hussein, Raja Yordania, pada acara pembukaan konferensi; Sesuai dengan pengetahuan tulus ikhlas kita pada  Allah SWT; Dan sesuai dengan seluruh makalah penelitian dan  kajian yang tersaji dalam konferensi ini, serta seluruh diskusi yang timbul  darinya; Kami, yang bertandatangan di bawah  ini, dengan ini menyetujui dan menegaskan kebenaran butir-butir yang tertera  di bawah ini:
(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut  salah satu dari empat mazhab 
Ahlus  Sunnah  (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan  Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. 
Tidak  diperbolehkan  mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab  yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari  pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. Lebih  lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang  mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan  mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak  diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan  dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui  lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan  disepakati dalam agama Islam.

(2) Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam  mazhab-mazhab Islam dibandingkan  dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka.  Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas  semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah  yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur'an sebagai wahyu Allah; dan  bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul  untuk seluruh manusia. Semua  sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat  syahadat(syahadatayn); kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan  Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah  Islam:  kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para  rasul-Nya,  hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan  di antara  ulama kedelapan  mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang  agama (furu’) dan tidak menyangkut  prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam.  Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat  Ilahi.  Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara 'ulama adalah hal yang baik.

(3) Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut  berarti bahwa mengikuti  suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang  yang berhak  mengeluarkan fatwa tanpa  keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh  masing-masing mazhab bagi  para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh  mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti  metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak  ada orang yang boleh mengklaim  untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru  atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing  mazhab yang telah disebut di atas.

(4)  Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H  dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah  kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang  telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. Mengikuti tiap-tiap   mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta  pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling  memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.

(5) Kami semua mengajak seluruh umat untuk  membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan  sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap  saling mendukung di antara  bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkukuh  tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan  kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara  sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di  antara mereka.

Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang beriman  adalah bersaudara. Maka itu islahkan hubungan di antara saudara-saudara  kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya. (Al-Hujurat, 49:10).
Amman, 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M.

Para penandatangan:

1. AFGHANISTAN
1. YTH. Nusair Ahmad Nour
Dubes Afghanistan untuk Qatar

2. ALJAZAIR
1. YTH. Lakhdar Ibrahimi
Utusan Khusus Sekjen PBB; Mantan Menlu Aljazair
2. Prof. Dr. Abd Allah bin al-Hajj Muhammad Al Ghulam Allah
Menteri Agama
3. Dr. Mustafa Sharif
Menteri Pendidikan
4. Dr. Sa'id Shayban
Mantan Menteri Agama
5. Prof. Dr. Ammar Al-Talibi
Departemen Filsafat, University of Algeria
6. Mr. Abu Jara Al-Sultani
Ketua LSM Algerian Peace Society Movement

3. AUSTRIA
1. Prof. Anas Al-Shaqfa
Ketua Komisi Islam
2. Mr. Tar afa Baghaj ati
Ketua LSM Initiative of Austrian Muslims

4. AUSTRALIA
1. Shaykh Salim 'Ulwan al-Hassani
Sekjen, Darulfatwa, Dewan Tinggi Islam

5. AZERBAIJAN
1. Shaykh Al-Islam Allah-Shakur bin Hemmat Bashazada
Ketua Muslim Administration of the Caucasus

6. BAHRAIN
1. Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Sutri
Menteri Kehakiman
2. Dr. Farid bin Ya'qub Al-Miftah
sekretaris Kementerian Agama

7. BANGLADESH
1. Prof. Dr. Abu Al-Hasan Sadiq
Rektor Asian University of Bangladesh

8. BOSNIA dan HERZEGOVINA
1. Prof. Dr. Syaikh Mustafa Ceric
Ketua Majlis 'Ulama'dan Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina
2. Prof. Hasan Makic
Mufti Bihac
3. Prof. Anes Lj evakovic
Peneliti dan Pengajar, Islamic Studies College

9. BRAZIL
1. Syaikh Ali Muhmmad Abduni
Perwakilan International Islamic Youth Club di Amerika Latin

10. KANADA
1. Shaykh Faraz Rabbani
Guru, Hanafijurisprudence, Sunnipath.com

11. REPUBLIk CHAD
1. Shaykh Dr. Hussein Hasan Abkar
Presiden, Higher Council for Islamic Affair; Imam Muslim, Chad

12. MESIR
1. Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq
Menteri Agama
2. Prof. Dr. Ali Jumu'a
Mufti Besar Mesir
3. Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib
Rektor Universitas Al-Azhar University
4. Prof. Dr. Kamal Abu Al-Majd
Pemikir Islam; Mantan Menteri Informasi;
5. Dr. Muhammad Al-Ahmadi Abu Al-Nur
Mantan Menteri Agama Mesir; Profesor Fakultas Syariah, Yarmouk University,  Jordan
6. Prof. Dr. Fawzi Al-Zifzaf
Ketua Masyayikh Al-Azhar; Anggota the Academy of Islamic Research
7. Prof. Dr. Hasan Hanafi
Peneliti dan Cendekiawan Muslim, Departemen Filsafat,      Cairo University
8. Prof. Dr. Muhammad Muhammad Al-Kahlawi
Sekjen Perserikatan Arkeolog Islam; Dekan Fakultas Studi Kesejarahan Kuno, Cairo University
9. Prof. Dr. Ayman Fuad Sayyid
Mantan Sekjen, Dar al-Kutub Al-Misriyya
10. Syaikh Dr. Zaghlul Najjar
Anggota Dewan Tinggi Urusan Islam, Mesir
11. Syaikh Moez Masood
Dai Islam
12. Dr. Raged al-Sirjani
13. Dr. Muhammad Hidaya

13. PERANCIS
1. Syaikh Prof. Dalil Abu Bakr
Ketua Dewan Tinggi Urusan Agama Islam dan Dekan Masjid Paris
2. Dr. Husayn Rais
Direktur Urusan Budaya, Masjid Jami’ Paris

14. JERMAN
1. Prof. Dr. Murad Hofmann
Mantan Dubes Jerman untuk Maroko
2. Syaikh Salah Al-Din Al- Ja'farawi
Asisten Sekjen World Council for Islamic Propagation

15. INDIA
1. H.E. Maulana Mahmood Madani
Anggota Parlemen Sekjen Jamiat Ulema-i-Hind
2. Ja'far Al-Sadiq Mufaddal Sayf Al-Din
Cendikiawan Muslim
3. Taha Sayf Al-Din
Cendikiawan Muslim
4. Prof. Dr. Sayyid Awsaf Ali
Rektor Hamdard University
5. Prof. Dr. Akhtar Al-Wasi
Dekan College of Humanities and Languages

16. INDONESIA
1. Dr. Tutty Alawiyah
Rektor Universitas Islam Al-Syafi'iyah
2. Rabhan Abd Al-Wahhab
Dubes RI untuk Yordania
3. KH Ahmad Hasyim Muzadi
Mantan Ketua PBNU
4. Rozy Munir
Mantan Wakil Ketua PBNU
5. Muhamad Iqbal Sullam
International Conference of Islamic Scholars, Indonesia

17. IRAN
1. Ayatollah Syaikh Muhammad Ali Al-Taskhiri
Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah.
2. Ayatollah Muhammad Waez-zadeh Al-Khorasani
Mantan Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah
3. Prof. Dr. Mustafa Mohaghegh Damad
Direktur the Academy of Sciences; Jaksa; Irjen Kementerian Kehakiman
4. Dr. Mahmoud Mohammadi Iraqi
Ketua LSM Cultural League and Islamic Relations in the Islamic Republic of Iran
5. Dr. Mahmoud Mar'ashi Al-Najafi
Kepala Perpustakaan Nasional Ayatollah Mar'ashi Al-Najafi
6. Dr. Muhammad Ali Adharshah
Sekjen Masyarakat Persahabatan Arab-Iran
7. Shaykh Abbas Ali Sulaymani
Wakil Pemimpin Spiritual Iran di wilayah Timur Iran

18. IRAK
1. Grand Ayatollah Shaykh Husayn Al-Mu'ayyad
Pengelola Knowledge Forum
2. Ayatollah Ahmad al-Bahadili
Dai Islam
3. Dr. Ahmad Abd Al-Ghaffur Al-Samara'i
Ketua Diwan Waqaf Sunni

19. ITALiA
1. Mr. Yahya Sergio Pallavicini
Wakil Ketua, Islamic Religious Community of Italy (CO.RE.IS.)

20. YORDANIA
1. Prof. Dr. Ghazi bin Muhammad
Utusan Khusus Raja Abdullah II bin Al-Hussein
2. Syaikh Izzedine Al-Khatib Al-Tamimi
Jaksa Agung
3. Prof. Dr. Abdul-Salam Al-Abbadi
Mantan Menteri Agama
4. Prof. Dr. Syaikh Ahmad Hlayyel
Penasehat Khusus Raja Abdullah dan Imam Istana Raja
5. Syaikh Said Al-Hijjawi
Mufti Besar Yordania
6. Akel Bultaji
Penasehat Raja
7. Prof. Dr. Khalid Touqan
Menteri Pendidikan dan Riset
8. Syaikh Salim Falahat
Ketua Umum Ikhwanul Muslimin Yordania
9. Syaikh Dr. Abd Al-Aziz Khayyat
Mantan Menteri Agama
10. Syaikh Nuh Al-Quda
Mantan Mufti Angkatan Bersenjata Yordania
11. Prof. Dr. Ishaq Al-Farhan
Mantan Menteri Pendidikan
12. Dr. Abd Al-Latif Arabiyyat
Mantan Ketua DPR Yordania;
Shaykh Abd Al-Karim Salim Sulayman Al-Khasawneh
Mufti Besar Angkatan Bersenjata Yordania
13. Prof. Dr. Adel Al-Toweisi
Menteri Kebudayaan
14. Mr.BilalAl-Tall
Pemimpin Redaksi Koran Liwa'
15. Dr. Rahid Sa'id Shahwan
Fakultas Ushuluddin, Balqa Applied University

21. KUWAIT
1. Prof. Dr. Abdullah Yusuf Al-Ghoneim
Kepala Pusat Riset dan Studi Agama
2. Dr. Adel Abdullah Al-Fallah
Wakil Menteri Agama

22. LEBANON
1. Prof. Dr. Hisham Nashabeh
Ketua Badan Pendidikan Tinggi
2. Prof. Dr. Sayyid Hani Fahs
Anggota Dewan Tinggi Syiah
3. Syaikh Abdullah al-Harari
Ketua Tarekat Habashi
4. Mr. Husam Mustafa Qaraqi
Anggota Tarekat Habashi
5. Prof. Dr. Ridwan Al-Sayyid
Fakultas Humaniora, Lebanese University; Pemred Majalah Al-Ijtihad
6. Syaikh Khalil Al-Mays
Mufti Zahleh and Beqa' bagian Barat

23. LIBYA
1. Prof. Ibrahim Al-Rabu
Sekretaris Dewan Dakwah Internasional
2. Dr. Al-Ujaili Farhat Al-Miri
Pengurus International Islamic Popular Leadership

24. MALAYSIA
1. Dato' Dr. Abdul Hamid Othman
Menteri Sekretariat Negara
2. Anwar Ibrahim
Mantan Perdana Menteri
3. Prof. Dr. Muhamad Hashem Kamaly
Dekan International Institute of Islamic Thought and Civilisation
4. Mr. Shahidan Kasem
Menteri Negara Bagian Perlis, Malaysia
5. Mr. Khayri Jamal Al-Din
Wakil Ketua Bidang Kepemudaan UMNO

25. MALADEWA
1. Dr. Mahmud Al-Shawqi
Menteri Pendidikan

26. MAROKO
1. Prof. Dr. Abbas Al-Jarari
Penasehat Raja
2. Prof. Dr. Mohammad Farouk Al-Nabhan
Mantan Kepala DarAl-Hadits Al-Hasaniyya
3. Prof. Dr. Ahmad Shawqi Benbin
Direktur Perpustakaan Hasaniyya
4. Prof. Dr. Najat Al-Marini
Departemen Bahasa Arab, Mohammed V University
27. NIGERIA
1. H.H. Prince Haji Ado Bayero
Amir Kano
2. Mr. Sulayman Osho
Sekjen Konferensi Islam Afrika

28. Kesultanan OMAN
1. Shaykh Ahmad bin Hamad Al-Khalili
Mufti Besar Kesultanan Oman
2. Shaykh Ahmad bin Sa'ud Al-Siyabi
Sekjen Kantor Mufti Besar

29. PAKISTAN
1. Prof. Dr. Zafar Ishaq Ansari
Direktur Umum, Pusat Riset Islam, Islamabad
2. Dr. Reza Shah-Kazemi
Cendikiawan Muslim
3. Arif Kamal
Dubes Pakistan untuk Yordania
4. Prof. Dr. Mahmoud Ahmad Ghazi
Rektor Islamic University, Islamabad; Mantan Menteri Agama Pakistan

30. PALESTINA
1. Shaykh Dr. Ikrimah Sabri
Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid Al-Aqsa
2. Shaykh Taysir Raj ab Al-Tamimi
Hakim Agung Palestina

31. PORTUGAL
1. Mr. Abdool Magid Vakil
Ketua LSM Banco Efisa
2. Mr. Sohail Nakhooda
Pemred Islamica Magazine

32. QATAR
1. Prof. Dr. Shaykh Yusuf Al-Qaradawi
Ketua Persatuan Internasional Ulama Islam
2. Prof. Dr. Aisha Al-Mana'i
Dekan Fakultas Hukum Islam, University of Qatar

33. RUSIA
1. Shaykh Rawi Ayn Al-Din
Ketua Urusan Muslim
2. Prof. Dr. Said Hibatullah Kamilev
Direktur, Moscow Institute of Islamic Civilisation
3. Dr. Murad Murtazein
Rektor, Islamic University, Moskow

34. ARAB SAUDI 
1. Dr. Abd Al-Aziz bin Uthman Al-Touaijiri
Direktur Umum, The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO)
2. Syaikh al-Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Saqqaf

35. SENEGAL
1. Al-Hajj Mustafa Sisi
Penasehat Khusus Presiden Senegal

36. SINGAPORA
1. Dr. Yaqub Ibrahim
Menteri Lingkuhan Hidup dan Urusan Muslim

37. AFRIKA SELATAN
1. Shaykh Ibrahim Gabriels
Ketua Majlis Ulama Afrika Utara South African 'Ulama'

38. SUDAN
1. Abd Al-Rahman Sawar Al-Dhahab
Mantan Presiden Sudan
2. Dr. Isam Ahmad Al-Bashir
Menteri Agama

39. SWISS
1. Prof. Tariq Ramadan
Cendikiawan Muslim

40. SYRIA
1. Dr. Muhammad Sa'id Ramadan Al-Buti
Dai, Pemikir dan Penulis Islam
2. Prof. Dr. Syaikh Wahba Mustafa Al-Zuhayli
Ketua Departemen Fiqih, Damascus University
3. Syaikh Dr. Ahmad Badr Hasoun
Mufti Besar Syria

41. THAILAND
1. Mr. Wan Muhammad Nur Matha
Penasehat Perdana Menteri
2. Wiboon Khusakul
Dubes Thailand untuk Irak

42. TUNISIA
1. Prof. Dr. Al-Hadi Al-Bakkoush
Mantan Perdana Menteri Tunisia
2. Dr. Abu Baker Al-Akhzuri
Menteri Agama

43. TURKi
1. Prof. Dr. Ekmeleddin I lis an og hi
Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI)
2. Prof. Dr. Mualla Saljuq
Dekan Fakultas Hukum, University of Ankara
3. Prof. Dr. Mustafa Qag nci
Mufti Besar Istanbul
4. Prof. Ibrahim Kafi Donmez
Profesor Fiqih University of Marmara

44. UKRAINA
1. Shaykh Dr. Ahmad Tamim
Mufti Ukraina

45. Uni Emirat Arab
1. Mr. Ali bin Al-Sayyid Abd Al-Rahman Al-Hashim
Penasehat Menteri Agama
2. Syaikh Muhammad Al-Banani
Hakim Pengadilan Tinggi
3. Dr. Abd al-Salam Muhammad Darwish al-Marzuqi
Hakim Pengadilan Dubai

46. INGGRIS
1. Syaikh Abdal Hakim Murad / Tim Winter
Dosen, University of Cambridge
2. Syaikh Yusuf Islam /Cat      Steven
Dai Islam dan mantan penyanyi
3. Dr.FuadNahdi
Pemimpin Redaksi Q-News International
4. SamiYusuf
Penyanyi Lagu-lagu Islam
47. Amerika Serikat
1. Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr
Penulis dan profesor Studi-studi Islam, George Washington University
2. Syaikh Hamza Yusuf
Ketua Zaytuna Institute
3. Syaikh Faisal Abdur Rauf
Imam Masjid Jami Kota New York
4. Prof. Dr. Ingrid Mattson
Profesor Studi-studi Islam, Hartford Seminary; Ketua Masyarakat Islam  Amerika Utara (ISNA)
48. UZBEKISTAN
1. Syaikh Muhammad Al-Sadiq Muhammad Yusuf
Mufti Besar
49. YAMAN
1. Syaikh Habib 'Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz
Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim
2. Syaikh Habib Ali Al-Jufri
Dai Internasional
3. Prof. Dr. Husayn Al-Umari
Anggota UNESCO; Profesor Sejarah, Universitas Sana'a'


Rabu, 21 Maret 2012

Syiah: Kedudukan Mereka Di Dalam Islam

Akhir-akhir ini, marak tentang pemberitaan aliran Syi’ah di Indonesia. Pro dan kontra pun mewarnai atas keberadaan aliran syi’ah didalam masyarakat

Masyarakat yang rawan akan info mengenai Syi’ah ini tentu dibingungkan dengan pemberitaan yang beredar yang mengatakan bahwa aliran Syi’ah ini adalah aliran sesat. Bahkan, ada pula yang mengatakan bahwa MUI juga sudah menfatwa bahwa aliran Syi’ah ini adalah aliran sesat, sama halnya dengan keberadaan aliran Ahmadiyah. Hal inilah menjadi konflik ummat islam ditanah air beberapa bulan terakhir ini yang dikuatirkan, aliran sesat ini akan menyebar dan menjadi racun didalam tubuh ummat islam.

Hal inilah yang menarik perhatian Mia. Karena setau Mia, MUI sendiri tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat untuk aliran Syi’ah ini (sumber bisa dilihat disini). Dan pernyataan dari hasil Konfrensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania;ada 8 mazhab/aliran yang disahkan oleh organisasi islam Internasional, dan Syi’ah salah satu di antaranya (sumber baca disini atau disinidalam bahasa inggris). 

Jadinya, kenapa justru di Indonesia, berita tentang Syi’ah ini cenderung berbau negatif dan menjadi momok baru bagi ummat muslim di Indonesia? Apakah ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan mayoritas muslim di Indonesia adalah Sunni untuk memerangi saudara sesama muslim dari golongan Syi’ah? Memang, ada beberapa pecahan dari Syi'ah ini sudah melenceng dari syariat islam dan menghina serta mengkafirkan para sahabat dan siti Aisyah. Akan tetapi, hal ini tidak bisa dipukul rata bahwa semua aliran Syi'ah seperti itu.

Terlebih lagi, sedikitnya pengetahuan kita mengenai aliran Syi’ah ini ditambah dengan pemberitaan2 dimedia online yang Mia nilai sangat provokatif. Apalagi setelah terjadinya bentrokan dibeberapa daerah Jawa Timur dengan kelompok Syi’ah yang berada disana, dengan sendirinya pernyataan dari kelompok masyarakat tersebut ikut menggiring opini publik bahwa aliran Syi’ah ini adalah aliran sesat yang harus diberantas dan diusir dari tanah air. Di tambah dengan informasi2 yang didapat dari internet yang bernada negatif tentang aliran Syi’ah ini yang pada awalnya juga ikut membentuk opini Mia terhadap aliran Syi'ah ini (walau Mia lebih cenderung bersikap netral, akan tetapi perlunya juga untuk kita mengetahui kebenarannya)

Alhamdullillah, akhirnya bertemu juga dengan beberapa teman-teman yang lebih faham mengenai hal ini seperti Kang A Lee yang merupakan orang Syi’ah sendiri, dan Mia banyak mendapat informasi mengenai Syi’ah dari beliau. Dan salah satu teman di Al Azhar, yang sama2 kelompok netral seperti Mia yaitu Ade Gumilar, serta teman-teman forum diskusi islam di dudung.net. Dari beliau-beliau inilah akhirnya Mia mendapat gambaran umum tentang Syi’ah yang sebenarnya

Bismillahirrahmanirrahim

APAKAH ALIRAN SYI’AH TERSEBUT?

Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. "Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya "pengikut Ali".

Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.

Akan tetapi, Syi'ah dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan didalam mazhabnya. Pecahan-pecahan inilah ada yang masih mengikuti madzhab aslinya ada juga yang sudah melenceng dan menjadi garis kanan yang keras yang saling melecehkan satu sama lainnya, saling mengkafirkan satu sama lainnya dan tak jarang, mengubah tatanan syariat islam yang sudah digariskan. Perpecahan mazhab2 ini tidak hanya dialami oleh aliran Sunni dan Syi'ah saja, karena ada 8 mazhab yang telah diakui di Islam (2 diantaranya Sunni dan Syi'ah) yang juga mengalami pergeseran dan perpecahan dari cabang2nya. Cabang2 dari 8 madzhab yang mengalami pergeseran jauh dari tuntutan syariat dan prinsip utama Islam inilah yang patut diwaspadai.

Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam 8 mazhab-mazhab Islam ini dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam semuanya sepakat dalam prinsip prinsip utama Islam (Ushuluddin). Adapun persamaan dari ke 8 madzhab islam tersebut:

1. Percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa dan tidak menyekutukanNya;
2. Percaya pada al-Qur'an sebagai wahyu Allah
3. Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia dan tiada lagi nabi dan rasul setelah beliau.
4.Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat(syahadatayn); kewajiban shalat 5 waktu; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah.
5. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah.

Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara 'ulama adalah hal yang baik.

Akan tetapi, semenjak imam Syi'ah pertama ( Ali bin Abu Tholib) meninggal banyak sekali perubahan dalam tubuh Syi'ah. Kita perbandingkan kitab-kitab hadist yang dipakai antara Syi'ah daN Sunni. Syi'ah memakai 4 kitab sebagai sumber hadist yaitu Al Kafi, Man La Yahdhuruhul Faqih, At tahdzib, Al istibshar. Sedangkan Sunni memiliki 9 kitab rujukan yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Nasa'i, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, Muwatha Malik, Musnad Ahmad, dan Sunan Darimi. Seperti halnya Sunni yang meyakini Bukhari dan Muslim saja yang seluruh hadistnya dianggap sahih,sedang kitab lain tidak semua hadist didalamnya dianggap sahih. Sedangkan didalam kitab hadist Syi'ah yaitu al-kafi, banyak terdapat keganjilan didalamnya bahkan banyak yang melanggar syariat. Akan tetapi, ternyata tidak semua Syi'ah yang memakai hadist dari Al-kafi tersebut. Bisa dikatakan, aliran Syi'ah yang sudah bercabang dan bergeser dari Syi'ah aslinya yang memakai kitab tsb. Wallahualam. 

Akan tetapi, kita tetap dilarang untuk mengkafirkan saudara sesama muslim, hanya karena perbedaan mereka SELAMA perbedaan itu tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar Islam yang spt disebutkan di atas tadi. 

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((أَيما رجُل قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا , فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ))

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

ASAL MULA MUNCULNYA SYI'AH 

Perbedaan pendapat di kalangan para ahli mengenai awal kemunculan Syi’ah adalah hal yang wajar. Para ahli melihat fakta sejarah perpecahan umat Islam mulai muncul pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan memanas pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah perang Shiffin. Adapun kaum Syi’ah berpendapat bahwa perpecahan itu sudah ada sejak wafatnya Nabi saw. dan kekhalifahan berada di bawah pimpinan Abu Bakar. 

Pada perkembangannya, perbedaan pendapat mengenai khalifah antara sunni dan syi'ah ini dimanfaatkan oleh beberapa orang yang mengincar kekuasaan dalam kekuatan baru dunia ini, yaitu kekuatan ummat islam. Fitnah semakin menyebar dikalangan ummat islam, terutama setelah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Satu-satunya sahabat utama yang masih hidup dikala itu adalah Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu rasul dan ayah dari para ahlul bayt (keturunan) rasul. Keistimewaan kedudukan Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya inilah mendapat banyak dukungan dari ummat, baik dari Sunni maupun Syi'ah yang dikuatirkan oleh kaum munafiq poros kekuatan berada ditangan Ali setelah tiadanya ketiga sahabat utama rasul yang lainnya. Maka dimulailah plot mereka untuk memecahkan antar sesama kaun muslimin terutama antara kelompok Sunni dan Syi'ah.

Ada 3 riwayat tentang asal mula kelompok Syi'ah ini:

1. Dari sumber lain dikatakan syi'ah sudah ada sejak nabi masih hidup. Syi'ah disini dimaksudkan hanyalah suatu kelompok yang bersimpati kepada Ali. Suatu kaum yang bersimpati kepada Ali karena kelebihan dan kedekatnya dengan Rosul. Jadi bukan karena ada campur tangan yahudi atau agama parsi, seperti yang orang2 katakan. Dan pada tahap selajutnya syi'ah hanya sebagai sebuah media politik (persoalan kekhalifahan) bukan perbedaan akidah seperti Syi'ah sekarang. 

2. Syi'ah muncul pada saat pemerintahan Utsman bin Affan. Di masa ini berkembang di masyarakat muslim sebuah rasa simpatik dan kekaguman yang tinggi terhadap Ali. Ali memang seorang pribadi yang mengesankan, keislamanya tidak diragukan, kesetiaan terhadap Rosul sudah terbukti, dan berbagai kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki sahabat lain. 

3. Syi'ah muncul setelah nabi meninggal, sebagai reaksi mendukung Ali untuk menjadi khalifah pengganti Rasul. Lawan politik Syi'ah waktu itu adalah kelompok Sunni yang mendukung 3 sahabat Rasul lainnya untuk menjadi khalifah, antara lain abu bakar, Umar dan Utsman. Perbedaan pandangan ummat islam mengenai inilah kemudian dimanfaatkan oleh kaum Yahudi untuk memecah-belahkan ummat islam. Kemudian, munculah Abdullah bin saba' seorang yahudi yang berpura-pura masuk islam (sumber lain mengatakan ia hanya diperalat oleh kaum Yahudi). Dan berusaha memecah belah umat islam, dengan fitnah bahwa Ali lah yang berhak menjadi khalifah, khalifah sebelumnya adalah kafir yang telah merampas dari yang berhak. Bahkan ia menuhankan Ali dan melebih-lebihkan kedudukan Ali diatas Rasul. Lalu ia pun membentuk kelompok Syi'ah Saba'iyah. Sampai-sampai, abdullah bin saba' inipun memprovokasi Ali secara langsung untuk memberontak kepada Utsman dan mengambil alih kepemimpinan.

Berdasarkan dua hal tersebut, Ali kemudian memerangi abdullah dan pengikutnya. Perang ini terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriyah. Pertempuran ini berjalan dari siang hari sampai sorenya, dan menelan korban sepuluh ribu Muslimin, bahkan dalam riwayat yang lain tiga belas ribu orang. Akan tetapi, abdullah bin saba' sendiri berhasil melarikan diri ke Mesir dengan meninggalkan paham dari Abdullah yang telah merusak sebagian kelompok Syi'ah yang ada. Hal ini bisa dilihat mereka sangat mengagungkan Ali bahkan melebihi dari Rasul sendiri dan menghina para sahabat seperti yang dilakukan oleh abdullah. Kelompok Syi'ah yang berpaham inilah yang membuat citra kelompok Syi'ah lainnya ikut menjadi buruk dimata Sunni dan kelompok islam lainnya.

Kemudian di Mesir, abdullah pun bertemu dengan beberapa kaum munafiquun untuk merencanakan suatu makar yang hebat. Kemudian dengan pengaruhnya, Abdullah bin Saba’ berhasil membuat opini tentang keburukan pemerintahan Utsman bin Affan ra di Madinah. sehingga beberapa orang kaum muslimin terpengaruh oleh cerita yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ tersebut. Setelah dirasakan banyak kaum muslimin yang terpengaruh olehnya maka Abdullah bin Saba’ berangkat ke madinah beserta rombongannya menuju Madinah. Sesampainya Madinah Abdullah bin Saba’ dan rombongannya membuat fitnah yang besar terhadap Khalifah Utsman bin Affan.

Saking hebatnya fitnah itu karena juga disebarkan oleh rombongan Abdullah bin Saba’ yang besar jumlahnya maka sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum terpengaruh oleh ucapan kaum munafiquun tersebut sampai – sampai putra Khalifah pertama yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi Khalifah Utsman bin Affan ra. dengan marah dan menarik jenggotnya.

Dan pada puncaknya kaum munafiquun dan sebagian kaum muslimin yang baik yang terprovokasi oleh ucapan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya mengepung rumah Utsman bin Affan ra. kemudian membunuhnya. Setelah meninggalnya Utsman bin Affan ra. maka kaum munafiquun dan sebagian sahabat serta kaum muslimin yang lain membai’at Ali bin Abi Thalib ra secara paksa. Salah satu yang memaksa Ali kala itu adalah Thalhah dan pemuka madinah yang meminta Ali bersedia untuk di baiat. 

Akan tetapi, Ali sudah membaca situasi dan fitnah yang akan menimpa dirinya jika ia menerima pembaiatan tsb, maka ini akan menjadi kesempatan bagi kelompok yang ingin menjatuhkan dirinya untuk menuntut pengusutan atas pembunuhan Utsman. Kemudian munculah fitnah yang menyebabkan sahabat terpecah belah yaitu tentang hukuman bagi para pembunuh Utsman bin Affan ra. Mereka terus mendesak Ali untuk menerima jabatan kepemimpinan atau keadaan ummat akan semakin kacau dan bingung setelah kematian Utsman dan ditakutkan hal ini dimanfaatkan oleh kelompok yang haus kekuasaan. Akhirnya Ali pun bersedia dibaiat. Akan tetapi, ia meminta waktu untuk berijtihad dalam kasus pembunuhan Ustman. Sikap 'diam'nya Ali ini dimanfaatkan oleh kaum muanfiquun untuk melancarkan fitnah terhadap Ali, bahwa Ali sengaja melindungi pembunuh Utsman bahkan mereka menuduh Ali lah dalang dari pembunuhan Utsman.

Fitnah tersebut semakin besar ketika Muawiyah dan kelompoknya mendesak dan menyatakan makar kepada Ali, jika Ali belum juga mengambil tindakan atas kasus pembunuhan Utsman, paman Muawiyah. Hal ini membuat sahabat radhiyallahu’anhum terpecah menjadi 2 kubu yaitu kubu Ali bin Abi Thalib ra. dan kubu Mu’awiyyah, Thalhah, Zubair dan sahabat lainnya menuntut disegerakannya hukuman qishas bagi pembunuh Utsman bin Affan ra. Dan mereka tidak akan tunduk kepada Ali selama pembunuh Utsman tidak dihukum. Namun Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. menundanya karena 2 ijtihad, pertama negara dalam keadaan kacau sehingga perlu ditertibkan dahulu dan yang kedua, untuk pembunuh Utsman bin Affan ra, Ali masih memerlukan waktu untuk memeriksa kebenarannya agar tidak salah menjatuhkan hukuman kepada kelompok yang tidak bersalah dari pihak muslimin karena ketidaktahuannya. Hal ini terlihat dalam perkataan Ali.

" Demi Allah aku sangat berharap seandainya Bani Umayyah Ridha, maka akan aku keluarkan orang-orang dari Bani Hasyim, kemudian mereka bersumpah bahwa kami tidak membunuh Utsman dan tidak mengetahui pembunuh Utsman". memang demikian, keadaan dia (Ali bin Abi Thalib Radiallahu anhu) tidak mengetahui para pembunuh Utsman Radiallahu anhu dengan pasti. Dan dia juga mengatakan pada saat terjadinya perang jamal : "Semoga Allah melaknati para pembunuh Utsman baik di lembah atau di gunung, didaratan atau di lautan". Beliau juga berdoa : "Ya Allah, limpahkanlah kehinaan para pembunuh Utsman. 

Sikap ijtihad Ali yang dianggap menunda-nunda ini kemudian disampaikan Thalhah kepada Aisyah yang dianggap sosok yang bisa menegur Ali. Aisyah yang kuatir masalah ini akan berlarut2 dan akan membawa keperpecahan ummat pun akhirnya bersedia keluar dari rumah beliau di Medinah untuk menemui Ali di Basrah. keluarnya Aisyah, dijadikan fitnah oleh kaum munafiq dan pengikut abdullah bin saba' dengan mengatakan Aisyah membenci Ali dan hendak memerangi Ali. Fitnah inilah yang membuat kelompok Syi'ah yang termakan hasutan membenci Aisyah RA. Tujuan Aisyah ke Basrah untuk menyatukan umat Islam, bukan beperang atau memberontak terhadap Ali radhiallahu ‘anh. Pasukan Ali r.a. pun pergi ke Basrah bukan untuk memerangi pasukan Aisyah, tapi untuk bersatu dengan mereka guna menghadapi peristiwa pembunuhan Usman r.a. Jika tujuannya untuk mempersatukan umat Islam, kenapa terjadi peperangan antara pasukan Aisyah dan Ali?

Sebenarnya ada orang-orang yang membunuh Usman (Sejarah Terbunuhnya Usman r.a.) menyamar di antara umat Islam . Mereka tidak suka melihat Aisyah dan Ali bersatu. Oleh karena itu mereka merencanakan untuk mengadu domba mereka. Setelah islah antara Aisyah dan Ali tersepakati, keesokan paginya, para pembunuh Usman menyerang pasukan Aisyah yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasukan Aisyah kaget dan menyangka pasukan Ali mengkhianati mereka. Untuk mempertahankan diri mereka, pasukan Aisyah menyerang pasukan Ali. Pasukan Ali menyangka pasukan Aisyah telah mengkhianati mereka. Akibatnya terjadilah perang Jamal yang dimana dimenangkan oleh Ali. Akan tetapi, pertempuran ini banyak menumpahkan darah sesama muslim.

Aisyah yang menyadari pertumpahan darah sesama muslim ini sangat menyesali diri kenapa ia tidak bisa mencegah dan meluruskan kesalahpahaman ini sehingga harus melihat antar ummat islam saling berperang hanya karena kesalahpahaman tersbut. Setelah perang Jamal berakhir, Aisyah meminta Ali untuk memulangkannya ke Madinah. Dan setelah itu, Aisyah tidak mau lagi ikut campur dalam urusan politik dan mempercayakannya kepada Ali. Dan Ali pun memulangkan Aisyah dengan selamat dan penuh rasa hormat dengan pengawalan dari saudara sepupu Aisyah dan beberapa pengawal wanita yang menyamar menjadi prajurit untuk menjaga kehormatan Aisyah agar tidak terjadi fitnah terhadap diri Aisyah.

Pada saat Aisyah akan bertolak ke Madinah, saat itu Ummul Mukminin Aisyah ra berkata; “Wahai anakku janganlah diantara kita saling menyalahkan”. Kemudian Khalifah Ali ra berkata;"Sesungguhnya ibunda Aisyah adalah istri Rosululloh didunia dan di akhirat." Hal ini menampakkan tiada kebencian diantara Aisyah terhadap Ali dan begitu pula dengan Ali kepada Aisyah.

Sungguh sangat menyesakkan, bahwa sebagian kisah tentang perang Jamal ini banyak dikisahkan kembali oleh pihak2 yang mengaku sebagai Syi'ah yang jelas2 telah melenceng dan menfitnah kemuliaan ibunda siti Aisyah r.a, salah satu istri Rasul yang berakhlak mulia, digambarkan sebagai sosok yang penuh dendam, dengki dan kebencian kepada Ali. Naudzubillah mindzalik. Tentu hal ini semakin mengobarkan kebencian para ummat muslim lainnya kepada kelompok yang telah melakukan fitnah terhadap ibunda Asiyah r.a dan sekaligus menyudutkan citra kelompok Syi'ah yang dituduh telah menyebarkan fitnahan dan cacian kepada Aisyah dan para sahabat. Dan disayangkan, beberapa aliran Syi'ah yang sudah terpecah dan melenceng, menerima versi fitnah atas diri Aisyah dan para sahabat tersebut sehingga semakin memperburuk citra Syi'ah yang sesungguhnya di mata ummat muslim lainnya.

PERPECAHAN DIDALAM ALIRAN SYI'AH

Dengan bergulirnya massa. Kelompok-kelompok Syi'ah ini sudahpun terpecah-pecah, sebagaimana yang juga terjadi dikelompok2 islam lainnya. bahkan, mayoritas agama langit seperti agama Yahudi, Kristen, Majusi dan Islam mengalami realita tersebut di atas. Terjadi perbedaan pendapat di antara para pemeluknya dalam menentukan siapakah yang berhak menjadi pemimpin sebagai penerusnya atau tak jarang dipengaruhi oleh politik dan kekuasaan bisa melatarbelakangi perpecahan dari sebuah madzhab. Dengan demikian, akan muncul aliran baru yang merupakan cabang dari mazhab itu.

Pada masa hidupnya Imam Ali a.s, Imam Hasan a.s. dan Imam Husein a.s. tidak terjadi perpecahan dalam tubuh mazhab Syi’ah. Setelah Imam Husein a.s. meninggal secara syahid, mayoritas pengikut Syi’ah menjadikan Imam Ali As-Sajjad a.s. sebagai imam keempat dan kelompok minoritas yang dikenal dengan sebutan “Kaisaniyah” menjadikan putra ketiga Imam Ali a.s. yang bernama Muhammad bin Hanafiah sebagai imam keempat dan mereka meyakini bahwa ia adalah Imam Mahdi a.s. yang ghaib di gunung Ridhawi. Di akhir zaman ia akan muncul kembali.

Setelah Imam Sajjad a.s. syahid, mayoritas pengikut Syi’ah mengakui Imam Baqir a.s., putranya sebagai imam Syi’ah dan kelompok minoritas meyakini Zaid, putranya yang lain sebagai penggantinya. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama Syi’ah Zaidiyah.

Pasca syahadah Imam Baqir a.s., para pengikut Syi’ah menjadikan Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., putranya sebagai imam keenam Syi’ah. Dan setelah Imam Shadiq a.s. syahid, para pengikut Syi’ah terpecah menjadi lima golongan:

a. Kelompok pertama. Mayoritas pengikut Syi’ah yang meyakini Imam Musa Al-Kazhim a.s, putranya Imam Ridha a.s sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Imam Ridha a.s. mengangkat putranya sebagai imam Syi’ah yang kedelapan dan kelompok minoritas dari mereka mengingkari imamahnya dan menjadikan Imam Kazhim a.s. sebagai imam Syi’ah terakhir. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Waqifiyah”.
b. Kelompok kedua menjadikan putra sulungnya yang bernama Ismail sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Ismailiyah”.
c. Kelompok ketiga menjadikan putranya yang bernama Abdullah Al-Afthah sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Fathahiyah”.
d. Kelompok keempat menjadikan putranya yang bernama Muhammad sebagai imam Syi’ah yang ketujuh.
e. Kelompok kelima menganggap bahwa Imam Shadiq a.s. adalah imam Syi’ah terakhir dan tidak ada imam lagi sepeningalnya.

Setelah Imam Ridha a.s. syahid hingga lahirnya Imam Mahdi a.s., di dalam tubuh Syi’ah tidak terjadi perpecahan yang berarti. Jika terjadi perpecahan pun, itu hanya berlangsung beberapa hari dan setelah itu sirna dengan sendirinya. Seperti peristiwa Ja’far bin Imam Ali Al-Hadi a.s., saudara Imam Hasan Al-Askari a.s. yang mengaku dirinya sebagai imam Syi’ah setelah saudaranya syahid.

Dari kelima aliran Syi'ah diatas akhirnya berkembang dan terpecah menjadi 22 aliran Syi'ah. Akan tetapi, Mia baru bisa mendapatkan 11 informasi dari aliran syi'ah ini. Tiga dari 22 aliran Syi'ah yang terbesar yang hingga sekarang masih memiliki pengikut yang tidak sedikit, sedangkan selebihnya mempunyai sedikit pengikut. Tiga aliran Syi’ah terbesar tersebut adalah:
1. Syi’ah Zaidiyah
2. Syi’ah Ismailiyah terpecah lagi menjadi 
a. Bathiniyah, yang nanti terpecah lagi menjadi dua yaitu; 
- Nazzariyah yang dikenal jg sbg Aqa-khaniyah 
- Musta’liyah
b. Duruziyah yang pada akhirnya para pengikutnya kembali ke bathiniyah
c. Muqanni’iyah yang juga para pengikutnya kembali ke bathiniyah 
3. Syi’ah Imamiah Itsna ‘Asyariyah.

dari ketiga aliran syi'ah tersebut, aliran bathiniyah pecahan dari Ismaliyah yang sangat berbeda ajarannya dibandingkan dua aliran syi'ah lainnya. Perbedaan mendasar antara Syi’ah Imamiah, Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Ismailiyah. Syi’ah Zaidiyah meyakini bahwa imamah bukanlah hak prerogatif Ahlul Bayt a.s. saja dan para imam tidak berjumlah dua belas orang serta mereka tidak mengikuti fiqih Ahlul Bayt a.s. Sementara, Syi’ah Ismailiyah meyakini bahwa para imam berjumlah tujuh orang, Rasulullah SAWW bukanlah penutup para nabi dan hukum-hukum syari’at bisa dirubah. Bahkan --menurut keyakinan Bathiniyah-- kewajiban manusia sebagai makhluk Allah (taklif) bisa dihapus total. Sedangkan aliran Syi'ah imamiah itsna 'Asyariyah, Mereka meyakini bahwa Rasulullah SAWW adalah penutup semua nabi dan para imam a.s. tersebut --berdasarkan hadis-hadis mutawatir yang disabdakan olehnya-- berjumlah dua belas orang, tidak lebih dan tidak kurang dan syi'ah imamiyah ini hanya memandang hak imamah pada Ahlul Bait dari garis keturunan Fatimah yang kemudian diteruskan oleh garis keturunan Al-Husein. Mereka juga meyakini bahwa Al Quran mencakup semua hukum yang diperlukan oleh kehidupan manusia dan hukum-hukum tersebut tidak akan pernah mengalami perubahan dan renovasi. Bahkan hukum-hukum tersebut adalah kekal dan abadi hingga hari kiamat.

dan ada 7 aliran Syi'ah lainnya akan tetapi tidak begitu banyak pengikutnya, yaitu
4. Syi'ah Gulat adalah kelompok syiah yang difatwa sesat, karena mereka secara jelas mengatakan Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan, bahkan al Jahd mengatakan ruh Allah adalah ruh Ali bin Abi Thalib. 
5. Syi'ah kaisaniyah yang pengikutnya membaiat Muhammad bin Ali atau Muhammad bin Muafiyah sebagai Imam Mahdi yang akan muncul kembali di akhir zaman
6. Syi'ah Rafidlah, yang juga dianggap sesat karena terkenal sebagai kelompok yang ekstrim dalam mencela sahabat dan Aisyah ra. Bahkan, kelompok ini hampir mirip dengan aliran Syi'ah Nazariyyah yang merupakan pecahan dari Syi'ah Ismailiyah, yang menghalalkan darah sesama muslim yang diluar Syi'ah. Sehingga kelompok Syi'ah Rafidlah ini terkenal dengan kekejamannya membantai ummat islam beraliran Sunni di Irak.
7. Syi'ah Mu'tadilah adalah kelompok Syi'ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap seperti kelompok Syi'ah Rafidlah. Mereka hanya mendukung/mengutamakan Ali ra saja di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat ahlulbait daripada riwayat yang lain, secara zahir mereka tetap menghormati para sahabat Nabi saw., sedang batinnya hanya Allah Swt. Yang Mahatahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan.
8. Syi’ah Almukhlasin Yaitu sekolompok siyi’ah yang pada waktu Ali bin Abi Thalaib RA menjadi khalifah sudah ada. Mereka terdiri dari nuhajirin dan Anshar yang mendukung Ali bin Abi Thalib sebagai khlifah. Mereka tidak mengkafirkan, mencaci, menghina dan membenci shahabat, mereka juga berpegang teguh dengan ajaran Allah dan rasulnya.
9. Syi’ah Tafdliliyah adalah kelompok yang sepenuhnya mendukung Khalifah Ali bin Abi Thalaib sebagai khlifah, melebihi sahabat lainnya. Mereka mengkafirkan, mencaci, menghina dan membenci shahabat nabi SAW. Seperti Umar dan Utsman Bin Affan.
10. Syi’ah As-Saba’iyah. Kelompok Syi’ah ini disebut juga syi’ah at-Tabriyah. Syi’ah inilah mengkafirkan, mencaci, menghina dan membenci shahabat nabi SAW. Seperti Umar dan Utsman Bin Affan. Mereka berlebihan memuji, membela dan menganggap Ali Bin Abi Thalib adalah nabi dan bahkan ada yang menganggap Ali adalah Tuhan, seperti Abdullah bi Saba’ yahudi teluen yang membidani berdirinya kelompok syi’ah Saba’iyah. Para pengikut Saba'iyah yang sudah melenceng ini diperangi oleh Ali sendiri. Tetapi sayangnya Abdullah bin saba' berhasil melarikan diri ke Mesir dan melanjutkan provokasinya dan mendalangi kematian Utsman bin Affan sehingga memicu perpecahan ummat islam semakin besar.
11. Syiah Qaramithah, yaitu Syiah yang sering menafsirkan Alquran sesuka hatinya. Mereka mengatakan bahwa malaikat adalah muballig mereka dan Syaitan adalah musuh mereka, yang dinamakan sembahyang adalah mengikuti mereka, haji adalah adalah ziarah kepada imam, puasa ialah tidak membuka rahasia imam.

KEDUDUKAN SAHABAT (AHLUL SUNNAH) DAN KELUARGA (AHLUK BAYT) DIMATA RASUL

Yang menjadi perbedaan antara Sunni dan Syi'ah pada awalnya hanyalah pada permasalahan politik yaitu mengenai tampuk kepemimpinan (khalifah) ummat islam setelah meninggalnya Rasulullah. Yang dimana kelompok Sunni berpendapat, bahwa tampuk kepemimpinan dipegang oleh para sahabat dekat Rasul yaitu Abu bakar, Umar bin khattab, Utsman bin affan (Ahlul Sunnah). Sedangkan kelompok Syi'ah berpendapat, bahwa tampuk kepemimpinan rasul sepantasnya diteruskan oleh keluarga dan keturunan beliau yaitu Ali bin abi thalib (sahabat sekaligus menantu rasul), Hasan dan Husein dan keturunannya (Ahlul Bayt).

Akan tetapi, perlu digarisbawahi, pada awalnya walau kelompok Sunni memilih kepemimpinan Ahlul Sunnah, akan tetapi mereka tidaklah mencela keluarga Rasul dan keturunannya. Dan begitu juga dengan kelompok Syi'ah, walau mereka mendukung Ahlul Bayt, akan tetapi mereka tidak mencela para sahabat. Akan tetapi, semenjak fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin saba', sehingga memecahbelahkan antara kelompok Sunni dan Syi'ah, tak jarang mereka saling menghina satu sama lainnya bahkan menghina para sahabat dan keluarga rasul.

Kelompok2 ekstrim inilah yang mengaku mencintai rasul, tetapi menghina apa yang dicintai oleh Rasul. Karena baik kedudukan para sahabat dan keluarga rasul sama-sama mendapat kedudukan yang penting dan dimuliakan oleh rasul sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, Rasul mempunyai banyak sahabat yang berjuang disisi beliau. Jika untuk jumlah, ada definisi yang dijabarkan oleh Abu Zur'ah Ar Razi tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi:

شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة

Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi" (Al Ba’its Al Hatsits (1/25)

Selain itu, ada dua pendapat mengenai definisi dari kata sahabat Rasul ini:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlul Sunnah wal-Jama'ah.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq karena mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justru itu yang baik diberi ganjaran karena kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab AhlulBait Rasulullah saw./Syi'ah/Imam Dua belas.

Dan untuk para sahabat tersebut, rasul sendiri memuji mereka 

لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني

Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi’in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi’ut tabi’in)"

Akan tetapi, dari puluhan ribu para sahabat Rasul yang dikatakan sebagai manusia yang terbaik pada zamannya tersebut, ada 4 sahabat utama yang sangat dicintai dan dipercayai oleh Rasul. Dan untuk mereka, Rasul sendiri mempunyai pujian khusus yang mencerminkan kedudukan mereka dimuliaan dan dicintai oleh Rasul. Yaitu, Abu Bakar, Ummar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Kecintaan Rasul kepada para sahabat utama beliau bisa kita lihat dengan pujian yang diberikan beliau kepada para sahabat yang dicintainya. Seperti kepada Abu Bakar, Rasul pernah memuliakannya karena sifat keadilan, kebenaran dan dermawan yang dimiliki Abu Bakar. "Andaikata kualitas keimanan Abu Bakar dan manusia sejagad ditimbang, tentu akan lebih berat kualitas keimanan Abu Bakar." Selain itu, beliau memberikan julukan Ash Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') kepada Abu Bakar yang akhirnya orang-orangpun memanggil beliau dengan nama Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan Rasulullah pun pernah bersabda,


“Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di [dinding] masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, di Kitab Fadha’il ash-Shahabah

Dan kepada Umar, Rasul memuliakan akhlaknya yang tegas dan keberaniannya membela agama Allah dengan perkataan. "jika kalian menjadikan Umar sebagai pemimpin, kalian akan menemukan dia seorang yang kuat, amanah, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut celaan orang yang suka mencela."

Dan Utsman bin Affan yang mendapat perlakuan khusus dan dimuliakan oleh Rasulullah dikarenakan sifatnya yang pemalu dan perilakunya yang penuh adab dan kesopanan. Diriwayatkan Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, "Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

Ketiga sahabat ini dipuji oleh Rasul dengan perkataan, "Yang paling penyayang di antara kalian dialah Abu Bakar, yang paling keras dalam agama Allah SWT dialah Umar, dan yang paling besar rasa malu nya dialah Utsman"

Dan kepada Ali, sahabat nabi paling muda usianya dan sekaligus sepupu dan menantu beliau. Rasul memuliakan kepribadian Ali yang cerdas, pintar, jenius dan energetik. Ia menguasai banyak ilmu, seperti fikih, hisab, zuhud, tasawuf, ilmu kalam, dll. beliau juga selalu menjadi rujukan khalifah-khalifah sebelum dirinya untuk menetapkan hukum terutama Umar, yang sering meminta pendapat Ali dalam mengambil keputusan. Kecerdasan Ali ini dipuji oleh Rasul, "jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya".

Dan bahkan Ali pernah ditunjuk Rasul untuk membawa bendera panji Islam diperang Badar disaat usianya masih terhitung sangat muda. Dikala ummat islam terdesak dengan jumlah musuh yang 10x lipat lebih banyak, Ali terus berjuang dan maju digaris terdepan tanpa gentar. Semangat dan perjuangan Ali inilah yang akhirnya menyatukan kembali semangat para pejuang dan mengantarkan mereka kepada kemenangan. Dan begitu pula disaat perang Uhud dan perang Khandak (Ahzab), Ali telah membuktikan kecintaannya untuk memperjuangkan agama Allah dan pembelaannya kepada Rasulullah. Sehingga Rasul pernah bersabda,
"peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak",

Ketika Ali berhadapan dengan Amr bin Abdi wud, seorang pemimpin pasukan dari pihak musuh yang terkenal keperkasaannya. Dan Ali berhasil mengalahkan Amr didalam perang Khandak tsb. Dan juga peristiwa penaklukan benteng Khaibar, yang dimana Abu bakar dan Umar sekalipun tidak bisa menaklukkan benteng Khaibar, Ali akhirnya berhasil membawakan kemenangan setelah kepemimpinan diserahkan ke tangan Ali.

Masih banyak kemuliaan para sahabat yang dipuji langsung oleh Rasulullah. Oleh karena itu, Rasul sendiri mengecam orang-orang yang mencela dan menghinakan para sahabatnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف


“Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya” (HR. Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540)

Selain kecintaan beliau terhadap para sahabatnya, Rasulullah sangat mencintai keluarga dan keturunan beliau. Seperti sabda Rasul. "Rasulullah saw. bersabda "Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah" "Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah" "al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga" (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).

Dan juga wasiat beliau kepada ummat islam,
"Kutinggalkan di tengah kalian dua peninggalanku: Kitabullah, sebagai tali yang terentang dari langit sampai ke bumi, dan keturunanku, ahlul baytku. Dua-duanya itu sungguh tidak akan terpisah hingga saat kembali kepadaku di haudh (telaga di surga)."


Jadi sudah jelas, kedudukan para sahabat terutama Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dengan kedudukan keluarga dan keturunan Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib, Fatimah RA, al Hasan dan al Husein dihati Rasul. Baik ahlul sunnah dan ahlul bayt beserta istri-istri rasul lainnya, mempunyai tempat yang mulia dan kecintaan istimewa terhadap mereka. Akankah pantas kita untuk mencela dan menghina salah satu darinya?


"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat ."(Q.S. Al-Hujurat : 10 )


                       - http://www.al-shia.org/html/id/shia/moarrefi/3.htm
                       - http://www.surgamakalah.com/2010/12/syiah.html
                       - dan sumber lainnya

Selasa, 28 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar