Selasa, 17 April 2012

Biji Gandum-pun Bisa Sebesar Bawang...??!! >>> .... Melacak Sejarah Penerjemahan Alquran...>>> ...Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari ..... Smg kita bisa mengambil jiwa dan ruhnya ilmu.... >>> Bukan kesombongan dan keangkuhan... bahkan ada yang membuat kezhaliman dengan ilmu...[Nauzdubillah..]??!!!

Dan Biji Gandum-pun Bisa Sebesar Bawang...
 
 
oleh: Muhaimin Iqbal 
PIKIRAN-pikiran positif dan optimis itu mewarnai ajaran agama ini, sampai-sampai ketika membahas masalah akhir jaman-pun nuansa positif itu masih bisa dirasakan. Di antaranya adalah perintah untuk  menanam bila di tangan kita masih ada benih pohon ketika rangkaian peristiwa kiamat telah mulai. Juga tidak kalah pentingnya berita bahwa bumi akan dipenuhi dengan keadilan dan kemakmuran sekali lagi sebelum akhir jaman itu bener-bener terjadi.

Perhatikan misalnya berita dari hadits berikut: “Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kedzaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kedzaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku (Muhammad bin Abdullah). Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana bumi telah dipenuhi sebelum itu oleh kedzaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun.” (HR. Thabrani).

Kedzaliman dan kesemena-menaan adalah karakter jaman ini, entah sampai kapan. Terjadinya tidak ujug-ujug tetapi bertahap atau gradual makin lama makin memburuk. Semoga saja yang dialami umat saat ini tidak terus bertambah buruk (lagi). Namun sebagaimana kedzaliman dan kesemena-menaan yang tidak terjadi ujug-ujug ini, demikian pula nantinya dengan datangnya keadilan dan kemakmuran.

Kemakmuran yang masih akan terjadi juga terungkap melalui hadits shahih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaih Wasallam bersabda: "Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai." (HR. Muslim).

Yang pertama '...lelaki yang pergi ke mana-mana membawa harta zakatnya tetapi tidak ada yang mau menerima...' bisa jadi itu sudah terjadi di jaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tetapi yang kedua '...tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang rumput dan sungai-sungai...' memang belum terjadi selama 1400 tahun lebih ini, jadi masih akan terjadi...insyaAllah dengan ijinNya.

Atas kuasaNya semata bumi akan kembali dipenuhi dengan keadilan dan kemakmuran, dengan atau tanpa peran kita-pun itu akan terjadi. Tetapi  kita bisa berharap agar Allah menjadikan kita tentaraNya untuk ikut menjadi penyebab hadirnya keadilan dan kemakmuran itu.

Bila kini bumi telah dirusak oleh tangan-tangan yang dzalim yang dengan semena-mena menguasai bumi dan seisinya, mengeksploitasinya hingga terjadi kerusakan alam yang luar biasa. Bumi yang semula subur ijo royo-royo kini menjadi lautan beton, bangunan dan sampah, hutan lebat tempat tumbuhnya berbagai satwa kini menjadi lahan-lahan gundul nan gersang. Tanah-tanah pertanian yang dahulunya subur alami kini rusak oleh berbagai unsur kimia yang dipaksakan untuk menghasilkan ilusi kesuburan sesaat.

Maka itu semua bisa diakhiri dan mulai dibalik arahnya, asal kita mau menjalankan misi yang memang diembankan ke kita dimuka bumi – yaitu misi sebagai khalifah yang memakmurkan bumi:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
 “…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…." (QS.Hud [ 11]:61).

Ketika Allah berbicara “…menjadikan kamu pemakmurnya…”, tidakkah kita merasa bahwa Allah sedang berbicara ke kita ?. Iya betul, kitalah yang sedang diajak Allah bicara dan disuruhNya untuk memakmurkan bumi ini. Tidakkah kita tergerak untuk melaksanakan kehormatan perintah ini ?. Kalau Anda sempat baca laporan utama harian Kompas kemarin (16/04/12) tentang dasyatnya kerusakan hutan Sumatra, maka segera sadar kita bahwa kita nampaknya tidak atau belum mendengar bahwa Allah sudah berbicara dengan kita melalui ayatNya tersebut di atas.

Puncak keadilan dan kemakmuran itu sendiri mungkin memang tidak lama, hanya 7 – 9 tahun seperti yang diungkap dalam hadits di atas, dan itu akan terjadi setelah kedatangan lelaki yang diutus dari umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yang namanya-pun bahkan sudah dikabarkan sampai nama bapaknya. Tetapi langkah panjang untuk setahap demi setahap menuju ke sana itulah yang menjadi peluang kita, peluang untuk ikut beramal positif mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang dimaksud.

Mungkin tidak banyak pula yang bisa kita lakukan, tetapi dengan hal-hal kecil yang bisa merubah keadaan itulah kita mulai. Itulah yang disebut tipping points, ketika air berubah menjadi uap pada titik didihnya – ketika di puncak kedzaliman, kesemena-menaan dan kerusakan – ada sekelompok kecil orang yang mau dengan gigih berusaha membalikkan arah itu.

Kita semua bisa menjadi bagian dari tipping points ini, dimanapun kita berada dan dalam bidang apapun kita bekerja. Ada yang mendidik menyiapkan generasi unggulan kedepan, ada yang kembali menyuburkan lahan yang rusak dan gersang, ada yang kembali mengajak ke system hukum yang adil,  dlsb-dlsb. Dan bahkan sudah ada juga yang terus mengingatkan kita bahwa, boleh jadi kiamat itu  sudah dekat!


Semoga termasuk salah satu langkah-langkah kecil itu adalah 'kiasan'  yang saya ungkapkan sebagai 'buah ciplukan sebesar terong' dalam tulisan sebelumnya. Setelah tulisan tersebut saya muat, saya mendapatkan masukan dari ustadz saya, bahwa itu mestinya bukan hanya kiasan - itu bisa benar-benar terjadi bila syaratnya terpenuhi.

Lantas beliau mengungkapkan sebuah riwayat dari Auf bin Abi Quhdam, dia berkata : "Dijumpai di jaman Ziyad atau Ibnu Ziyad suatu lubang yang di dalamnya ada biji gandum sebesar bawang. Padanya tertulis 'ini tumbuh di jaman yang adil'" (Musnad Ahmad no 7936 dan tafsir Ibnu Katsir 3/436).


Kalau  dilihat perkalian ukurannya dari biji gandum menjadi sebesar bawang, maka kurang lebih juga memang memungkinkan kalau saat itu buah ciplukannya menjadi sebesar terong! Syaratnya adalah - dia ditanam di jaman di mana manusia dan khususnya para pemimpinnya mampu dan mau berbuat adil, bukan hanya adil terhadap rakyat dan sesamanya tetapi juga adil terhadap alam dan seisinya.

Ketika masanya tiba, bumi dipenuhi keadilan dan kemakmuran entah seberapa jauhnya dari jaman ini, ketika langit tidak menahan setetes-pun airnya, ketika bumi tidak lagi menahan sedikit-pun tanamannya – kita semua tentu ingin ikut dicatat olehNya sebagai tentaraNya yang mematuhi perintahNya - antara lain dengan memulai langkah awal untuk menghadirkan kembalinya keadilan dan kemakmuran di bumi itu. Amin.*u
Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Melacak Sejarah Penerjemahan Alquran

Selasa, 17 April 2012, 16:01 WIB




Melacak Sejarah Penerjemahan Alquran
Tadarus Al Quran
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nidia Zuraya
Pertama kali penerjemahan surah Alquran dilakukan ke dalam bahasa Persia.

Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan petunjuk. Kitab suci umat Islam itu berfungsi sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia.  Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah [2]:2, ‘’Kitab Alquran ini tak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang beriman.’’
    
Kitab suci Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, namun agama Islam tak hanya berkembang di Jazirah Arab, namun hingga ke seantero dunia. Sejatinya, Alquran – sebagai kitab suci – tak hanya wajib dibaca, namun juga dikaji, dipahami, dan diamalkan. 

Perintah untuk mengkaji, memahami dan mengamalkan ayat-ayat Alquran itu tercantum dalam surah Al-Qamar [54];17,  ‘’Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.’’

Seiring berkembangnya ajaran Islam, maka muncullah keinginan dan kesadaran untuk menerjemahkan Alquran ke dalam berbagai bahasa yang ada di dunia. Upaya untuk menerjemahkan Alquran itu telah dimulai beberapa belas abad silam – ketika Islam mulai menyebar ke berbagai benua -- bahkan pada saat Rasulullah SAW masih hidup.
Menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa lain bukanlah pekerjaan mudah. Betapa tidak. Alquran merupakan mukjizat yang menggunakan bahasa ilahiyah, yang tak mungkin dapat ditandingi manusia manapun.

‘’Menerjemahkan Alquran selalu menjadi sebuah problematika dan isu  yang sulit dalam teologi Islam. Karena Muslim menghormati Alquran sebagai mukjizat dan tak bisa ditiru,’’ ujar Afnan Fatani (2006) dalam "Translation and the Qur'an". Terlebih,  kata-kata dalam Alquran memiliki berbagai arti tergantung pada konteks, sehingga untuk membuat sebuah terjemahan yang akurat amatlah sulit. 

Menerjemahkan Alquran bukanlah usaha untuk menduplikasi atau mengganti teks Alquran yang asli. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan manusia tidak sama dengan Alquran itu sendiri. Keaslian dan kemurnian Alquran dijaga oleh tangan Ilahi.

‘’Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.’’ (QS Al-Hijr [15]:9). ‘’Usaha manusia dalam menterjemahkan bahasa ilahiyah sangat tergantung pada kapasitas manusia itu sendiri,’’ ungkap Ziyadul Ul Haq dalam bukunya Psikologi Qurani.

Lalu sejak kapan upaya penerjemahan Alquran ke dalam bahasa lain mulai dilakukan? Menurut Afnan Fatani (2006) dalam "Translation and the Qur'an". Upaya menerjemahkan ayat-ayat Alquran boleh dibilang pertama kali dilakukan pada era Rasulullah SAW. Suatu hari, Nabi Muhammad pernah berkirim surat kepada dua penguasa, yakni Kaisar Negus dari Abysssinia dan Kaisar Heraclius dari Bizantium.

‘’Dalam surat itu, Rasulullah mencantumkan ayat-ayat dari Alquran,’’ papar Afnan. Dalam sebuah sarasehan ilmiah bertajuk ‘’Melacak Sejarah Penerjemahan Alquran’’ yang diselenggarakan Universitas Islam Madinah Al Munawwarah akhir 2007 lalu, terungkap bahwa pertama kali penerjemahan surah Alquran  dilakukan ke dalam bahasa Persia.
Guru Besar Sastra Arab Universitas Islam Madinah Al Munawwarah, Syekh Tamir Salum, mengungkapkan, berdasarkan data sejarah, permintaan untuk menerjemahkan Alquran diajukan oleh umat Islam dari Persia. Mereka memohon kepada Salman Al-Farisi untuk menerjemahkan kepada mereka beberapa ayat Alquran. 

‘’Salman kemudian menerjemahkan untuk Muslim Persia tersebut surat Al-Fatihah. Salman merupakan salah seorang sahabat Nabi SAW yang berasal dari non-Arab. Ia berasal dari desa Ji di Isfahan, Persia,’’ papar Syekh Salum. Menurut dia, terjemahan yang terbanyak dan diulang berkali-kali adalah ke bahasa Melayu, Indonesia dan Turki.

Versi lengkap
Sedangkan, penerjemahan Alquran secara lengkap pertama kali dilakukan pada  884 M di Alwar (Sindh, India sekarang bagian dari Pakistan). Terjemahan Alquran tersebut, sebagaimana dikutip dari laman Wikipedia, dibuat atas perintah Khalifah Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz. Saat itu, penguasa Hindu, Raja Mehruk memohon agar kitab suci umat Islam itu diterjemahkan. 

Sebuah terjemahan Alquran berbahasa Persia dari abad ke-11 M juga telah ditemukan. Namun hingga saat ini tidak diketahui siapa pemilik karya terjemahan yang diberi judul Qur'an Quds ini. Afnan menambahkan, seorang cendekiawan terkemuka Shah Waliullah juga pernah menerjemahkan Alquran secara lengkap kedalam bahasa Persia. 
Sedangkan, Shah Rafiuddin dan Shah Abdul Qadir menerjemahkan Alquran secara lengkap ke dalam bahasa Urdu. ‘’Pada 1936, barulah terdapat terjemahan Alquran ke dalam 102 bahasa yang ada di dunia,’’ papar Afnan. 

Syekh Salum memaparkan, Alquran  telah diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa dan disusul ke dalam bahasa bangsa-bangsa Asia. Namun, kata dia, sangat disayangkan masih adanya perbedaan antara terjemahan Alquran di negara-negara Asia dan Eropa. 

‘’Perbedaan tersebut terjadi karena di Eropa banyak terjadi distorsi, baik berupa penambahan atau pun pengurangan. Selain itu, orang-orang Eropa menganggap Alquran sebagai teks biasa, tidak sama dengan orang-orang Asia yang sangat menjunjung tinggi kesucian Alquran,’’ tutur Syekh Salum.

Penerjemahan Alquran ke berbagai bahasa Afrika, ungkap Salum, baru dilakukan pada saat para penjajah Barat datang ke benua hitam itu. Yang melatarbelakangi upaya penerjemahan tersebut, kata dia, adanya desakan dan permintaan kaum Muslimin Afrika karena kebutuhan yang mereka rasakan.

Dibukukan
Upaya pembukuan karya terjemahan Alquran mulai dilakukan oleh orang-orang Eropa pada abad ke-12 M. Adalah Kepala biara Gereja Cluny, Petrus Agung atau Peter The Venerable asal Prancis, menurut el-Hurr dalam tulisannya yang berjudul "Barat dan Alquran: Antara Ilmu dan Tendensi", yang pertama kali menerjemahkan Alquran secara tertulis pada 1143 M. 

Dibantu seorang teolog abad pertengahan berkebangsaan Inggris, Robertus Ketenensis atau juga dikenal dengan nama Robert dari Ketton, dan Hermannus Dalmatin atau juga dikenal dengan nama Herman dari Carinthia, Petrus Agung kemudian menerjemahkan teks Alquran ke dalam bahasa Latin yang diberi judul 'Lex Mahumet Pseudoprophete'.

Menurut el-Hurr, Petrus Agung menerjemahkan Alquran untuk mendapatkan pengetahuan tentang kitab suci umat Islam yang pada zamannya menjadi agama yang berkembang pesat di Andalusia, Spanyol. Salinan terjemahan tersebut sekitar empat abad lamanya hanya dimiliki oleh pihak gereja untuk dipelajari dan tidak diizinkan dicetak di luar gereja dengan alasan supaya umat Kristen tidak mempunyai kesempatan mempelajari Alquran terjemahan tersebut, hingga tidak akan ada penganut Kristen yang murtad dari agamanya.

Pertengahan abad ke-16 M, tepatnya 1543, di bawah pengawasan seorang berkebangsaan Swiss bernama Theodor Bibliander, terjemahan ini kemudian dicetak ulang untuk pertama kalinya. Pada 1550, untuk kedua kalinya terjemahan Alquran ini dicetak ke dalam tiga jilid, meskipun terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan yang tidak sedikit dalam terjemahan karya Petrus itu. 

Meski begitu, terjemahan Alquran karya Petrus tersebut dapat diterima oleh bangsa Eropa, dan dalam waktu singkat menyebarluas di tengah-tengah masyarakat non-Muslim. Redaktur: Heri Ruslan



Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari (4-habis)

Selasa, 17 April 2012, 11:16 WIB


Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari (4-habis)
Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, Al-Allamah Syekh Muhammad bin Ali As-San’ani Asy-Syaukani, penulis kitab Nailul Authar, juga sangat mengagumi Ibnu Hajar. 

"Tidak ada kitab syarah shahih Bukhari yang melebihi Fath Al-Bari," kata Asy-Syaukani.

Selain Fath Al-Bari, Ibnu Hajar juga mengarang beberapa kitab lainnya. Dalam buku "Sejarah dan Keagungan Madzab Syafi’i" karya KH Siradjuddin Abbas disebutkan, bahwa jumlah karya Ibnu Hajar mencapai 150 buah kitab. Kesemua karyanya ini bermutu tinggi dan hingga kini masih dijadikan rujukan pada sekolah-sekolah tinggi agama. 

Diantara karangan Ibnu Hajar lainnya adalah kitabBulugh Al-Maram min Adillah Al-Ahkam yang merupakan sebuah kitab hadits yang telah disyarahkan oleh As-San’ani dengan nama “Kitab Subulus Salam”; Al-Ishabah fi Tamyiz Asma'i ash-Shahabah (Kamus Biografi Sahabat); Tahdzib al-Tahdzib; Talkhisul Habir; Ad-Durar al-Kaminah (Kamus Biografi Tokoh Abad ke-8); Raf'u al-Ishri fi Qadhai Mishri; dan Al-Isti'dad Liyaumil Mii'aad.

Mengenai karya-karya Ibnu Hajar ini, Imam As-Sakhawi berkata, ''Karya-karyanya tersebar semasa dia masih hidup. Para raja banyak memberi hadiah untuknya dan para pembesar banyak menulis tentang dia.'' 

"Dia banyak duduk mempelajari tentang hadits, membaca dan menulisnya, sehingga menambah kemasyhuran fatwanya. Orang-orang mencari dan menimba ilmu darinya, karena kecerdasan, hafalan dan kefasihannya serta pengetahuannya tentang sya'ir-sya'ir pujangga terdahulu dan mutakhir," imbuh As-Sakhawi.

Sementara Al-Iraqi berkata, ''Ia adalah syekh yang alim, sempurna, mulia, seorang muhadits (ahli hadist) yang banyak memberikan manfaat, dan agung. Seorang Al-Hafizh yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah.'' 

Dan masih banyak lagi ulama yang memuji kepandaian Ibnu Hajar. 
Redaktur: Chairul Akhmad Reporter: Nidia Zuraya

Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari (3)


REPUBLIKA.CO.ID, Semasa hidupnya, Ibnu Hajar Al-Asqalani banyak sekali mengarang kitab-kitab dalam bermacam-macam bidang ilmu. 

Tetapi karangannya yang sangat terkenal ialah kitabFath Al-Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan syarah kitab shahihnya Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan yang paling detil yang pernah dibuat.

Dari 82 macam kitab syarah yang pernah ditulis sepanjang masa, yang paling terkenal adalah kitab syarah yang ditulis oleh Ibnu Hajar ini. Kitab Fath Al-Bari terdiri dari 17 jilid. Kitab ini disusun oleh Ibnu Hajar dari tahun 813 H sampai dengan tahun 842 H. 

Mengenai tahun penyusunannya ada juga yang menyebutkan bahwa kitab itu mulai ditulis tahun 817 H dan selesai tahun 842 H. Maka tidak mengherankan bila kitab itu paling bagus, teliti dan sempurna. Selain itu, penulisannya dilakukan oleh penyusunnya dengan penuh keikhlasan.

Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar menjelaskan masalah bahasa dan i’rab dan menguraikan masalah penting yang tidak ditemukan di kitab lainnya. Ia juga menjelaskan dari segi balaghah dan sastranya, mengambil hukum, serta memaparkan berbagai masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, baik menyangkut fikih maupun ilmu kalam secara terperinci dan tidak memihak. 

Disamping itu, dia mengumpulkan seluruh sanad hadits dan menelitinya, serta menerangkan tingkat keshahihan dan kedhaifannya. Semua itu menunjukkan keluasan ilmu dan penguasaannya mengenai kitab-kitab hadits.

Fath Al-Bari mempunyai mukaddimah yang bernama Hadyus Saari. Mukaddimah ini amat tinggi nilainya. Seandainya ia ditulis dengan tinta emas, maka emas itu belum sebanding dengan tulisan itu. Sebab, ia merupakan kunci untuk memahami Shahih Bukhari.

Kemudian Al-Asqalani mulai menulis kitab Syarah. Pada mulanya, uraian dan pembahasan direncanakan ditulis panjang lebar dan terperinci. Namun, dia khawatir bila ada halangan untuk menyelesaikannya yang mengakibatkan kitab itu selesai tapi tidak sempurna. Karena itu, ia menulis kitab syarah tersebut dengan cara sederhana yang diberi nama Fath Al-Bari.

Kitab ini selalu mendapatkan sambutan hangat dari para ulama, baik pada masa dulu maupun sekarang, dan selalu menjadi kitab rujukan. 

Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari (2)

Redaktur: Chairul Akhmad  
Reporter: Nidia Zuraya

REPUBLIKA.CO.ID, Kendati sudah menimba ilmu di banyak tempat, namun Ibnu Hajar belum merasa puasa dengan ilmu yang telah diperolehnya. 

Ia kemudian memutuskan untuk berguru kepada Al-Hafizh Al-Iraqi, seorang syekh besar yang terkenal sebagai ahli fikih dari mahzab Syafi’i. Selain menguasai fikih, Syekh Al-Hafizh juga menguasai ilmu tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Ibnu Hajar menyertai sang guru selama sepuluh tahun. Dalam masa sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam, Yaman dan Hijaz. Di bawah bimbingan Syekh Al-Hafizh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin oleh gurunya untuk mengajarkan hadits.

Adapun setelah sang guru meninggal, dia belajar dengan Nuruddin Al-Haitsami dan Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih. Melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, gurunya ini memberi saran agar dia mempelajari fikih juga karena orang akan membutuhkan ilmu itu. Selain juga, sang guru beralasan, bahwa ulama di daerah tersebut akan habis sehingga keberadaan Ibnu Hajar amat diperlukan sebagai penerus para ulama setempat.

Menjadi qadhi
Setelah merasa puas dengan ilmu yang telah diperolehnya, Ibnu Hajar akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mesir dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Selama bermukim di Mesir, ia tercatat pernah menjadi qadhi selama kurang lebih 21 tahun di mana ia menjadi hakim dalam mazhab Syafi'i. 

Ia juga menjadi wali para guru hadits dan mengajarkan ilmu fikih di beberapa tempat di negeri Mesir. Ia juga kerap diminta naik mimbar sebagai khatib di Masjid Amr bin Ash dan Masjid Al-Azhar.

Ibnu Hajar memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai seorang qadhi begitu terpilih untuk yang keenam kalinya pada tahun 852 H. Tak lama berselang, ia jatuh sakit di rumahnya. Ketika tengah sakit hingga membawanya kepada kematian, Ibnu Hajar berkata, ''Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.''

Pada malam Sabtu tanggal 28 Dzulhijjah berselang dua jam setelah shalat Isya, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun di dekat Ibnu Hajar untuk membacakan surat Yasin. Ketika sampai ayat ke-58 keluarlah ruhnya dari jasadnya. Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar.

Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang non-Muslim pun ikut meratapi kematiannya. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung, semua para pembesar saat itu datang melayatRedaktur: Chairul Akhmad Reporter: Nidia Zuraya

Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari (1)


REPUBLIKA.CO.ID, Nama lengkapnya Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al-Asqalani. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai seorang ahli hadits. 

Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fath Al-Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan syarah kitab shahihnya Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan yang paling detil yang pernah dibuat.

Ibnu Hajar dilahirkan pada tahun 773 Hijriyah dan wafat pada tahun 852 Hijriyah. Mengenai tempat kelahirannya, terdapat beberapa pendapat. Ada yang menyebutkan ia dilahirkan di Kota Asqalan, Palestina. Sementara versi lain menyebutkan, ia lahir besar dan meninggal di Mesir.

Ia digambarkan sebagai sosok yang mempunyai tinggi badan sedang, berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya. 

Dia juga memiliki pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya. Disamping itu ia juga dikenal fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, dan pintar bersyair.

Dalam buku "60 Biografi Ulama Salaf" karya Syekh Ahmad Farid disebutkan bahwa Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu. Ayahnya meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Sepeninggal kedua orang tuanya, ia diasuh oleh kakak tertuanya, Az-Zaki Al-Kharubi.

Ketika sang kakak memutuskan untuk hijrah ke Makkah, Ibnu Hajar turut menyertainya. Saat bermukim di Tanah Suci, Ibnu Hajar dimasukkan ke Al-Maktab (sekolah khusus untuk belajar dan menghafal Alquran). Ia saat itu baru menginjak usia 5 tahun. Salah seorang gurunya di Al-Maktab adalah Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi Gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy.

Akan tetapi saat menimba ilmu di Al-Maktab, Ibnu Hajar belum berhasil menghafal Alquran sampai ia diajar oleh seorang ahli fikih dan pengajar sejati, yaitu Shadrudin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al-Muqri’. Kepadanya, akhirnya Ibnu Hajar dapat mengkhatamkan hafalan Alquran ketika berumur 9 tahun.

Ketika berumur 12 tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat tarawih di Masjidil Haram. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun 785 H. Ketika sang kakak pindah ke Mesir di tahun 786 H, Ibnu Hajar juga turut serta. Di Mesir Ibnu Hajar benar-benar berusaha sungguh-sungguh. Dia menghafal beberapa kitab, di antaranya kitab Al-Hawi karangan Al-Mawardi dan kitab Mukhtasarkarangan Ibnul Hajib. 
Redaktur: Chairul Akhmad  
Reporter: Nidia Zuraya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar