Selasa, 31 Maret 2015

YAMAN DISERBU SAUDI ..DENGAN RATUSAN PESAWAT TEMPUR DAN BOMBER..YG CANGGIH..?? ..... DALAM AGENDA ..ATAW PROTOKOL.. ZIONIS.. KONON ADA.. PROGRAM PEMBUNUHAN MASAL.. AGAR BUMI INI MENJADI SEDIKIT SAJA PENDUDUKNYA..?? DENGAN TUJUAN.. KEMAKMURAN MAKSIMAL BAGI MANUSIA PILIHAN SAJA..?? YAITU KELOMPOK ARIA..?? ... DAN KONON.. PEMBUNUHAN MASAL ITU.. YG PALING EFEKTIF ADALAH DENGAN MENCIPTAKAN PERANG..MASSAL.. DAN KEKACAUAN.. SERTA ADU DOMBA.. SESAMA .. KELOMPOK ATAW NEGARA.. DAN .. BISA.. ADANYA.. ALASAN.. PENGGUNAAN BOMB2 PEMBUNUH MASSAL..?? .. SIMAKLAH.. SEJARAH PEPERANGAN DIDUNIA.. SEJAK PROTOKOL ITU DI SAHKAN.. OLEH KELOMPOK ZIONIS.. YANG DIHADIRI.. OLEH.. SEKITAR 300 ORANG SAJA.. DI BASEL..?? ..KENAPA SAUDI BERSAMA-SAMA 10 NEGARA TELUK... MENYERBU YAMAN .. ?? ... DAN KONON.. SAUDI DKK NEGARA TELUK- TURKI-MESIR-MENGEROYOK YAMAN..?? PADAHAL YAMAN ADALAH NEGARA KECIL..... DAN MISKIN.. DAN BUKAN ANCAMAN BAGI SAUDI.. DKK ...?? ... SAUDI DKK.. YANG KAYA RAYA DAN SANGAT KUAT DENGAN TENTARA.. DAN JUGA ALAT TEMPUR SANGAT CANGGIH.. ?? ... ANEH DAN TAK MASUK AKAL SEHAT.. KALAW SAUDI TIBA2 BERANG.. DAN.... TIDAK ADA USAHA.. MELAKUKAN SESUATU AWALAN CARA YG BAEK.. SEPERTI.. BERDIPLOMASI TERLEBIH DULU.. YG SEMISAL.. MENGIRIM UTUSAN UNTUK MELAKUKAN AJAKAN... PERUNDINGAN DAN NEGOSIASI.. JIKA MEMANG ADA MASALAH YG SANGAT URGENT.. DAN MENGANCAM KEDAULATAN SAUDI.. DKK... ?? .... LALU MENGAPA SAUDI LANGSUNG MENYERANG DAN INTERVENSI.. DENGAN MELAKUKAN TINDAKAN PERANG SEPIHAK.. DAN MEMBUNUH RAKYAT SIPIL YAMAN..YG TIDK BERDOSA..?? INI BISA JADI KEJAHATAN INTERNASIONAL.. DAN MELANGGAR PANJI2 PBB... UNTUK LANGSUNG INTERVENSI.. TERHADAP NEGARA BERDAULAT.. DAN MERDEKA.. SEPERTI YAMAN..?? .... MENGAPA.. RAJA SALMAN BERBUAT CEROBOH.. DAN SANGAT SEMBERONO..?? ADA APA DENGAN YAMAN.. DAN MENGAPA SAUDI.. KOK TIBA2 JADI SANGAT GARANG DAN AROGAN... ?? PADAHAL YAMAN ADALAH SAUDARA MUSLIM JUGA.. YG SELAMA INI SELALU BERBUAT BAEK DENGAN SAUDI..?? .... RAJA SALMAN.. SANGAT ANEH.. DAN BANYAK HARUS DIPERTANYAKAN.. SIAPA RAJA SALMAN..?? ...DAN SIAPA DIBELAKANG RAJA SALMAN.. ?? .. AJARAN ISLAM.. DENGAN SIAPAPUN.. MENGETENGAHKAN CARA2 BERDAMAI.. ATAU JALAN DAMAI TERLEBIH DULU.. DAN BUKAN LANGSUNG MEYERBU.. DAN HANYA MENGIKUTI INFORMASI.. INTELIGEN.. YG BISA SAJA ..BIAS.. DAN BANYAK KETIDAK BENARAN..?? ...ANEH.. ANEH.. DAN INI SUDAH TERJADI.. SEPERTI NASI SUDAH MENJADI BUBUR.. ?? SANGAT SULIT.. MENGEMBALIKAN SITUASI.. YG TERLUKA..DENGA .. CARA2.. BRUTAL.. DAN SANGAT JAUH DARI AJARAN ISLAM.. DAN CARA2 DIPLOMASI INTERNASIONAL.. YG SEPATUTNYA.. MENJADI ACUAN SEMUA PIHAK.. DALAM SETIAP ADA SENGKETA.. ATAW KESALAH FAHAMAN..?? >>Karakter asli penduduknya yang lembut dan mudah menerima kebenaran manjadi salah satu faktor yang membantu penyebaran islam di Yaman. Oleh sebab itu, dalam masa islam, pergolakan dan huru-hara di Yaman terbilang kecil bila dibandingkan yang terjadi di negeri Irak, Iran, Mesir, dan Syam. >>

Digempur Arab Saudi dkk, Pemimpin Syiah Houthi Berang

Rita Uli Hutapea - detikNews
http://news.detik.com/read/2015/03/26/120623/2870214/1148/digempur-arab-saudi-dkk-pemimpin-syiah-houthi-berang

Sanaa, - Negara-negara Teluk Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi mulai melancarkan operasi militer terhadap para pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Pemimpin senior Houthi berang atas serangan militer ini.

Mohammed al-Bukhaiti mencetuskan, serangan militer Saudi dkk berarti agresi terhadap Yaman dan dia mengancam, serangan ini akan memicu "perang yang melebar" di wilayah tersebut.

"Rakyat Yaman adalah rakyat yang bebas dan mereka akan melawan para agresor. Saya ingatkan Anda bahwa pemerintah Saudi dan pemerintahan Teluk akan menyesali agresi ini," ujar al-Bukhaiti, pemimpin senior Houthi kepada stasiun televisi Al-Jazeera seperti dilansir Reuters, Kamis (26/3/2015).

"Operasi militer akan menyeret wilayah ini ke perang yang melebar," tandasnya.

Pada Kamis ini, serangan-serangan udara terhadap Houthi telah dilancarkan Saudi dkk. Dalam operasi militer ini, Saudi mengerahkan 100 pesawat tempur dan 150 ribu tentara. Selain itu, pesawat-pesawat dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain juga ikut serta dalam operasi besar-besaran ini.

Mesir, Pakistan, Yordania dan Sudan saat ini juga siap untuk berpartisipasi dalam operasi pertempuran di darat.

"Kampanye ini tujuannya untuk mencegah para pemberontak Houthi menggunakan bandara-bandara dan pesawat untuk menyerang Aden dan bagian-bagian Yaman lainnya serta mencegah mereka menggunakan roket-roket," tutur Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen.

Sebelumnya dalam statemen bersama, lima negara Teluk Arab: Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Qatar telah memutuskan untuk bertindak melindungi Yaman dari apa yang mereka sebut sebagai agresi milisi Houthi yang didukung Iran.

Langkah ini dilakukan setelah Houthi yang juga didukung pasukan militer Yaman yang setia pada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, bergerak mendekati kota Aden, Yaman selatan, yang kini menjadi basis Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(ita/ita)

Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,
Pejuang Huthi
Yaman sejak tahun 1990 dan pasca bersatunya Yaman utara dan selatan senantiasa menyaksikan krisis dan perang saudara. Para penduduk Yaman selatan yang ingin merdeka, aktivitas kelompok Al-Qaeda dan konflik bersenjata di Provinsi Saadah dengan pemerintah Yaman termasuk ketegangan yang dihadapi pemerintah Ali Abdul Saleh, Presiden Yaman selama beberapa tahun terakhir.

Sekitar 42 persen dari populasi penduduk Yaman bermazhab Syiah dan dari kelompok ini dibagi menjadi tiga kategori; Zaidiah yang mayoritas, Ismailiah dan Itsna ‘Asyari (12 Imam). Mayoritas penduduk 20 juta negeri Yaman bermazhab Ahli Sunnah dan setelah itu adalah pemeluk mazhab Syiah Zaidiah.

Mencermati kondisi kehidupan orang-orang Syiah Yaman dapat memperjelas satu masalah betapa sepanjang kekuasaan pemerintah Yaman, mereka senantiasa menghadapi berbagai masalah. Orang-orang Syiah Yaman tidak diberi hak untuk mendirikan sekolah-sekolah agama khusus Syiah. Mereka kerap disiksa dan dijebloskan ke penjara, tidak hanya orang biasa tapi juga para ulama. Mereka dilarang untuk menyelenggarakan peraan khas Syiah seperti Idul Ghadir. Dan secara terang-terangan pemerintah membakar buku-buku Nahjul Balaghah dan Shahifah Sajjadiah. Semua ini hanya sebagian perlakuan diskriminatif yang diterapkan pemerintah terhadap mereka.

Al-Hauthi adalah gerakan syiah Saidiah di utara Yaman di Provinsi Saadah yang dinisbatkan kepada Badruddin Al-Hauthi lalu kemudian terkenal dengan gerakan Al-Hauthi. Gerakan ini dibentuk sekitar dekade 80-an dan hingga kini mereka terus berperang dengan pemerintah Yaman sebanyak 6 kali demi memperjuangkan hak-hak sipil mereka. Sejatinya kelompok ini memrotes aksi-aksi pemerintah yang ingin membatasi kelompok ini agar beraktivitas di bidang agama, politik dan upaya untuk memusnahkan budaya dan keyakinan Zaidiah dan kebijakan diskriminatif pemerintah dalam membangun Saadah.

Sistem Kekuasaan Yaman

Ali Abdullah Saleh adalah Presiden Republik Yaman Utara selama 12 tahun dan sejak tahun 1990 ketika dua Yaman; selatan dan utara bersatu, ia menjadi presiden Yaman bersatu selama 19 tahun hingga sekarang. Beberapa tahun sebelumnya Ali Abdullah Saleh menandatangani sejumlah kontrak dengan Amerika dan Arab Saudi dan setelah itu menyatakan akan menumpas kelompok Al-Hauthi dengan segala cara, bahkan lewat aksi militer.

Presiden Yaman mengklaim dirinya sebagai pemeluk Syiah Zaidiah, namun kinerjanya menunjukkan dirinya adalah kader Baath yang anti Syiah dan punya permusuhan lama dengan Zaidiah. Kini Ali Abdullah Saleh malah menunjukkan dirinya sebagai pendukung Wahhabi.

Ali Abdullah Saleh saat ini dijuluki “Saddam kecil” disebabkan sikapnya memberikan suaka politik kepada para anasir partai Baath yang lari dari Irak dan dukungan anasir-anasir Wahhabi seperti Syeikh Al-Ahmar atau Abdulmajid Al-Zandani terhadap kekuasaannya selama 31 tahun.

Kebijakan dalam negeri Ali Abdullah Saleh adalah upaya untuk mengubah demografi populasi Syiah di utara Yaman.

Pertumbuhan Syiah dan Semakin Intensnya Tekanan

Ali Abdullah Saleh yang berasal dari kabilah Al-Ahmar. Sementara kabilah Al-Ahmar merupakan keluarga penting Syiah Zaidiah Yaman dan memiliki hubungan kekeluargaan khusus dengan tokoh-tokoh Wahhabi Arab Saudi. Syeikh Abdullah Al-Ahmar yang masih keluarga Ali Abdullah Saleh adalah Ketua Parlemen Yaman dan posisinya adalah Syeikh Al-Syuyukh Yaman. Syeikh Abdullah Al-Ahmar adalah tokoh kedua paling berpengaruh di Yaman.

Sekaitan dengan pribadi Syeikh Abdullah Al-Ahmar, Mahmoud Pirbaddaghi, seorang pakar Timur Tengah mengatakan, “Syeikh Abdullah Al-Ahmar beberapa tahun lalu punya hubungan kuat dengan Ali Abdullah Saleh. Namun menyusul lawatannya ke Senegal untuk mengikuti pertemuan Uni Antarparlemen Islam, berbeda dengan aturan protokoler, Kedutaan Besar Yaman di Senegal memaksanya kembali ke hotel dengan kendaraan kedubes. Terjadi tabrakan yang dibuat-buat di tengah perjalanan dan terbongkar hubungan para pegawai kedubes Yaman dengan intelijen negara ini. Sejak saat itu Syeikh Abdullah Al-Ahmar tidak mempercayai Ali Abdullah Saleh dan ia lebih banyak tinggal di Riyadh ketimbang San’a. Kejadian ini hingga sekarang ada dua kutub yang menguasai kancah politik Yaman.”

Ditambahkannya, “Ali Muhsin Al-Ahmar, saudara tiri Ali Abdullah Saleh termasuk keluarga Al-Ahmar dan termasuk tokoh penting Yaman. Ia memiliki hubungan dengan dengan Wahabbi Arab Saudi dan dituduh Amerika mendukung terorisme. Ia ditunjuk Presiden Yaman sebagai panglima militer Yaman ke Provinsi Saadah di utara negara ini. Kesukaannya menggunakan senjata pemusnah massal terhadap rakyat Yaman membuatnya dikenal juga dengan sebutan Ali Kimia, sama seperti Ali Hasan Al-Majid di masa Saddam Husein. Kesadisannya ini juga membuat Ali Abdullah Saleh menyebut saudara tirinya dengan julukan “pria tanpa belas kasih”.”

Pirbaddaghi setelah itu menjelaskan tentang pertumbuhan angka pemeluk Syiah dan mengenai peran kemenangan Hizbullah Lebanon sebagai simbol perlawanan Syiah menghadapi rezim Zionis Israel menyebutkan, “Pasca pembebasan daerah-daerah yang diduduki Zionis Israel di Lebanon Selatan, Syiah, khususnya mazhab 12 Imam mengalami pertumbuhan luar biasa di Yaman. Perang 33 hari yang berujung pada kemenangan Hizbullah Lebanon dan kekalahan memalukan rezim Zionis Israel mengalirkan darah baru kepada orang-orang Syiah Yaman. Kondisi ini terus berkembang, bahkan seorang dari anak ulama terkenal Wahhabi di timur Yaman akhirnya memeluk mazhab Syiah 12 Imam.”

Seraya menyinggung usaha keras Wahhabi dengan menanam modal miliaran untuk menyebarkan pemikiran Wahhabi di Yaman, Pirbaddaghi menjelaskan, “Pemerintah Yaman punya banyak kesamaan dengan pemerintah Arab Saudi. Hal ini semakin membuat pemerintah Yaman menerapkan tekanan lebih besar kepada warga Syiah yang tinggal di dekat perbatasan dengan Arab Saudi. Kenyataan ini menyebabkan ketertindasan politik, ekonomi dan budaya semakin nyata di sana.”

Analis Timur Tengah ini menyebut Radio berbahasa Arab Republik Islam Iran sebagai sumber utama mereka baik dari sisi informasi maupun keagamaan. Ditambahkannya, “Selama bertahun-tahun orang-orang Syiah menjadi pendengar setia Radio Iran dan hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan dari sisi budaya. Sekalipun sumber-sumber budaya seperti buku dan mengakses ulama Syiah, guna memperkuat keyakinan mereka, sebisa mungkin mereka menyelenggarakan acara-acara keagamaan seperti Asyura dan Idul Ghadir secara sembunyi-sembunyi.

Sumber: http://www.islamtimes.org/

Kamis, 26 Maret 2015 13:43

Agresi Militer Arab Saudi ke Yaman dan Negara-negara Pendukungnya 

http://indonesian.irib.ir/editorial/fokus/item/93440-agresi-militer-arab-saudi-ke-yaman-dan-negara-negara-pendukungnya


Pesawat-pesawat tempur militer rezim Arab Saudi memulai serangannya terhadap berbagai wilayah Yaman pada Rabu (25/3) tengah malam. Seperti dilaporkan Alalam, jet-jet tempur Saudi membombardir beberapa pangkalan militer di kota Sanaa, ibukota Yaman.

Adel al-Jubeir, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat mengatakan, 10 negara termasuk lima negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) kecuali Oman, terlibat dalam agresi militer ke Yaman. 

Ia menambahkan, operasi udara dengan nama "Badai al-Hazm" terbatas pada serangan udara, dan serangan ini dilancarkan dengan koordinasi AS.

Al-Jubeir mengklaim bahwa operasi tersebut didasarkan pada Piagam PBB dan Liga Arab untuk melindungi Abd-Rabbuh Mansur Hadi, Presiden Yaman yang telah mengundurkan diri.

Lima negara P-GCC meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Kuwait dalam sebuah pernyataan, menyebut Mansur Hadi masih sebagai Presiden Yaman. Mereka mengumumkan, "Kami memutuskan untuk menanggapai secara positif permohonan Abd-Rabbuh Mansur Hadi untuk melindungi Yaman dan rakyat negara ini."

Statemen tersebut dikeluarkan bersamaan dengan pernyataan Dubes Arab Saudi untuk AS yang menyebut pemerintah Mansur Hadi sebagai "legal dan sah." Al-Jubeir mengklaim bahwa tujuan operasi militer ke Yaman untuk melindungi pemerintah sah negara ini.

Sementara itu, sejumlah media menyebutkan keterlibatan jet-jet tempur dan kapal perang Pakistan dalam agresi Arab Saudi ke Yaman. Disebutkan pula bahwa Mesir dan Yordania berpartisipasi dalam serangan udara militer Arab Saudi ke Yaman.

Wartawan Alalam di Yaman mengatakan, militer dan Komite-komite Rakyat sepenuhnya telah mengontrol Provinsi Aden dan Abyan di selatan negara ini. Ia menambahkan, jet-jet tempur Arab Saudi telah menarget Bandara Udara Internasional Sanaa, dan serangan tersebut direspon oleh pertahanan udara militer Yaman.

Menurutnya, sumber-sumber keamanan menegaskan bahwa serangan udara militer Arab Saudi menarget beberapa posisi militer di kota Sanaa termasuk pangkalan udara al-Dailami dan unit-unit rudal.

Serangan udara negara-negara P-GCC yang dipimpin oleh Arab Saudi ke Yaman selain menarget pangkalan udara al-Dailami, juga menarget pangkalan pasukan khusus di Sanaa, dan pangkalan udara al-Anad di Provinsi Lahij, di Yaman Selatan.

Militer dan Komite-komite rakyat pada Rabu berhasil mengontrol penuh Provinsi Abyan setelah sepenuhnya menguasai kota Aden terutama istana presiden dan bandara. Mereka juga menangkap Mahmoud al-Subaihi, mantan Menteri Pertahanan Yaman yang memimpin operasi Mansur Hadi dan milisi pendukungnya.

Selain itu, mereka berhasil mengontrol banyak kota dan desa ke arah Yaman dan pangkalan udara al-Anad, di mana pasukan AS yang ditempatkan di pangkalan ini telah ditarik keluar Yaman.

Setelah berhasil menangkap mantan Menhan Yaman, militer dan komite-komite rakyat negara ini mengontrol kota Lahij, distrik di wilayah Aden, pelabuhan al- Makha, dekat Bab el-Mandeb, sebuah penyeberangan penting perdagangan internasional.

Para pejabat AS pada Rabu mengatakan, rezim Al Saud telah menempatkan pasukannya di wilayah perbatasan dengan Yaman. Pasukan Saudi mengerahkan sistem-sistem pertahanan udara dan berbagai unit artilerinya di perbatasan dengan Yaman.

AS baru-baru ini mengungkap keterlibatannya dalam agresi militer Arab Saudi ke Yaman. Gedung Putih menyatakan akan memberikan bantuan logistik dan informasi. Menurut pernyataan itu, AS sedang berkoordinasi dengan Arab Saudi dan sejumlah sekutu Arabnya terkait agresi militer ke Yaman.

Sementara itu, Gerakan Ansarullah menggambarkan serangan militer Arab Saudi ke Yaman sebagai pengumuman perang terhadap rakyat negara ini. Gerakan ini menegaskan, rakyat Yaman akan melawan agresi tersebut dengan penuh keberanian. (IRIB Indonesia/RA)
Minggu, 05 April 2015 | 01:54
  

Jalanan Aden Dipenuhi Mayat, Palang Merah Minta Gencatan Senjata

Warga sipil mencari perlindungan saat milisi Houthi berusaha mengambil alih Aden, Yaman, 25 Maret 2015
Warga sipil mencari perlindungan saat milisi Houthi berusah
http://www.beritasatu.com/dunia/262856-jalanan-aden-dipenuhi-mayat-palang-merah-minta-gencatan-senjata.html


Yaman - Palang Merah internasional mendesak dilakukannya gencatan senjata di Yaman untuk memberikan kesempatan bagi bantuan kemanusiaan.
Palang Merah mengatakan bahwa mereka perlu untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui Aden, yang kini menjadi tempat bertahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.
"Bantuan dan personel kemanusiaan harus diizinkan untuk masuk ke Aden untuk memberikan bantuan. Jika kami tidak bisa masuk, maka akan lebih banyak korban jiwa," kata Robert Mardini, kepala operasi Komite Internasional Palang Merah di Timur Tengah, hari ini.

Peperangan di Aden memuncak dalam beberapa hari terakhir. Arab Saudi meluncurkan serangan udara untuk memukul mundur milisi Hutsi.

Selain Palang Merah, Rusia juga mendesak PBB untuk mengadakan gencatan senjata.
Palang Merah mengatakan bahwa jalanan kota Aden kini dipenuhi oleh mayat dan korban luka membanjiri klinik dan rumah sakit.

Dua minggu terakhir, peperangan di Yaman menewaskan 500 orang dan 1.700 luka-luka, menurut kepala humanitarian PBB Valerie Amos.
Saudi membombardir Aden selama 10 hari terakhir.
Faisal Maliki Baskoro/FMB
BBC

MENGENAL LEBIH DEKAT RAJA SALMAN BIN ABDULAZIZ

Raja Salman bin Abdulaziz. (Foto: Wikipedia)
Raja Salman bin Abdulaziz. (Foto: Wikipedia)

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Salman bin Abdulaziz didaulat menjadi menjadi raja Arab Saudi setelah Raja Abdullah bin Abdulaziz meninggal Jumat pagi di usia 90.
Raja Salman otomatis berstatus sebagai Penjaga Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), telah menjadi pemimpin dunia yang banyak diikuti di Twitter, popularitasnya secara progresif tumbuh di jaringan media sosial lainnya.
Mantan Gubernur Riyadh itu populer di situs microblogging, dan saat ini sedang diikuti di semua situs sosial oleh warga Arab Saudi, ulama dan para pemimpin dunia.
Naiknya Raja Salman sebagai orang nomor satu di Kerajaan Arab Saudi, membuat namanya menjadi fenomena positif di dunia nyata dan dunia maya.
Siapa sebenarnya Raja Salman?

Salman dan keluarga

Salman bin Abdulaziz lahir 31 Desember 1935, naik tahta pada 23 Januari 2015, setelah kakak tirinya wafat pukul 01:00 di hari yang sama oleh penyakit infeksi paru-paru.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dibaiat oleh Keluarga Kerajaan, di Riyadh, Jumat (23/1). (Foto: Saudi TV/AFP)
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dibaiat oleh Keluarga Kerajaan, di Riyadh, Jumat (23/1). (Foto: Saudi TV/AFP)
Salman adalah pewaris ketiga dari Raja Abdullah dengan status Putera Mahkota  pada Juni 2012, setelah dua kakak laki-lakinya (adik Raja Fahd) meninggal pada akhir 2011 dan pertengahan 2012.
Ia adalah putera ke-25 Abdulaziz bin Al-Saud.  Ibunya bernama Hassa Al Sudairi. Salman dan enam saudaranya membentuk pengelompokan bernama Sudairi Seven. Ia dibesarkan di Istana Murabba di Riyadh.
Dalam sistem pewarisan raja Saudi, tahta bergilir di antara putra Raja Abdulaziz yang mendirikan Arab Saudi modern pada 1932. Anak-anaknya, Saud, Faisal, Khalid dan Fahd masing-masing menjadi raja di abad ke-20. Abdullah adik tiri Raja Fahd naik takhta ketika kakaknya itu meninggal pada 2005.
Namun, Salman (79 tahun) dilaporkan kesehatannya buruk dalam beberapa tahun terakhir, dan mungkin ia tidak akan memerintah selama saudara tuanya.
Raja Salman menjadikan adiknya Pangeran Muqrin bin Abdulaziz, putra bungsu Raja Abdulaziz, sebagai Putera Mahkota.
Salman menerima pendidikan awal di Sekolah Pangeran di ibukota, sebuah sekolah yang didirikan oleh Ibn Saud khusus untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Ia belajar agama dan ilmu pengetahuan modern.

Pengalaman Gubernur Riyadh

Pengalaman memerintah Salman bermula pada 17 Maret 1954, pada usia 19, ayahnya menunjuknya sebagai emir dan Wakil Gubernur Riyadh. Kemudian diangkat sebagai Gubernur Riyadh dengan pangkat menteri pada 19 April 1955. Namun ia mengundurkan diri jabatan ini pada 25 Desember 1960.
Salman diangkat kembali sebagai Gubernur Provinsi Riyadh pada 4 Februari 1963 hingga 2011, selama 48 tahun. Sebagai gubernur, ia memberikan kontribusi untuk pengembangan Riyadh dari kota menengah menjadi perkotaan besar metropolis. Ia menjabat sebagai penghubung penting untuk menarik pariwisata, modal proyek dan investasi asing ke negaranya. Hubungan politik dan ekonominya disukai oleh negara-negara Barat.

Raja Salman bin Abdulaziz (Foto: File On Islam)
Raja Salman bin Abdulaziz (Foto: File On Islam)
Selama lima dekade sebagai gubernur Riyadh, ia menjadi mahir mengelola keseimbangan ulama, suku, dan kepentingan pangeran dalam menentukan kebijakan bagi rakyat Arab Saudi. Selama tahun 1980-an, ia membantu mengumpulkan dana untuk mendukung Mujahidin dalam perang melawan Uni Soviet di Afghanistan.
Januari 2011, ia membersihkan Riyadh dari pengemis yang dianggap mencoba mengambil keuntungan dari kemurahan hati orang.
Ia juga ketua Yayasan King Abdulaziz untuk Penelitian dan Arsip (Kafra), Museum King Abdulaziz, Pangeran Salman Center untuk Penelitian Kecacatan dan Masyarakat Amal Pangeran Fahd bin Salman untuk Perawatan Pasien Ginjal.

Sebagai Menteri Pertahanan

Pada 5 November 2011, Salman diangkat menjadi Menteri Pertahanan, menggantikan kakak kandungnya sekaligus Putra Mahkota, Sultan bin Abdul Aziz, dan Pangeran Sattam bin Abdulaziz dinobatkan sebagai gubernur Provinsi Riyadh menggantikannya.
Pangeran Salman juga terpilih sebagai anggota Dewan Keamanan Nasional (NSC) pada hari yang sama.
Dalam militer, Salman melanjutkan kebijakan intervensi militer di Bahrain, mencoba menghancurkan pemberontakan Bahrain.
Pada April 2012, Salman mengunjungi Amerika Serikat (AS) dan Inggris, bertemu Presiden AS Barack Obama dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.
Setelahnya, pengeluaran militer Arab Saudi naik menjadi $ 67 miliar, menyalip Inggris, Perancis dan Jepang, menjadi urutan keempat di dunia setelah AS, China dan Rusia. Salman juga bergabung dalam koalisi pimpinan AS bersama negara Arab lainnya melaksanakan serangan udara terhadap Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) pada 2014-2015.

Putera Mahkota

Pada 18 Juni 2012, Salman diangkat sebagai Putra Mahkota Arab Saudi tak lama setelah wafatnya Putra Mahkota Nayef bin Abdulaziz. Pangeran Salman juga diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri.
Pangeran meluncurkan akun Twitter pada 23 Februari 2013, kini pengikut Twitter-nya mencapai 1,61 juta.
Pada bulan September 2012, Salman juga menjabat Wakil Ketua Dewan Militer. Dia adalah pendukung kuat untuk amal sosial di negara-negara Muslim miskin seperti Somalia, Sudan, Bangladesh dan Afghanistan.

Analisa kepemimpinan Salman

Di saat pencalonannya Salman sebagai Putera Mahkota dan Wakil Perdana Menteri, Reuters menilai sebagai sinyal bahwa reformasi hati-hati Raja Abdullah kemungkinan akan berlanjut.
Di sisi lain, reformis Saudi menyatakan, Pangeran Salman akan melakukan pendekatan diplomatis terhadap anggota kerajaan lainnya, dan ia tidak bisa dianggap sebagai pembaharu politik.
Mereka juga berpendapat, seperti Raja Abdullah, Salman memfokuskan pada peningkatan ekonomi dibandingkan perubahan politik.
Menjadi gubernur lama ibukota, Salman memiliki reputasi sebagai seorang pangeran yang progresif dan praktis.

“Dia harus mengkombinasikan sebagai seorang reformis, seorang hakim, juri dalam beberapa kasus, dan menangani perbedaan pendapat, serta menangani masalah-masalah ekonomi,” kata Robert Jordan, mantan duta besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi, kepada CNN.

Pengalaman Salman memimpin Riyadh membuatnya bisa menjaga hubungan dengan banyak anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi bisa tetap sejalan.

“Karena sebagian besar pangeran dan putri kerajaan tinggal di Riyadh, ia juga sheriff keluarga, memastikan setiap pelanggaran ditangani dengan lancar dan tenang, tanpa publisitas,” kata Bruce Riedel, seorang rekan senior Raja Salman di Brookings Institution’s Center untuk Politik Timur Tengah.

Riedel yang bekerja untuk CIA selama 30 tahun menambahkan, Salman telah memimpin rapat kabinet selama beberapa bulan dan menangani hampir semua tanggung jawab agenda di luar negeri untuk kerajaan sejak ia menjadi Putera Mahkota pada 2012.

Terkait pengangkatannya sebagai Menteri Pertahanan pada 2011, pengamat mengatakan itu terjadi karena kualitasnya. Pertama, ia memiliki sifat damai dan diplomatik. Dia memimpin dewan keluarga yang disebut The Descendants ‘Council atau Al Uthra dalam bahasa Arab (Majelis Turunan), yang didirikan oleh Raja Fahd pada 2000 untuk memecahkan masalah keluarga, mencapai kesepakatan dan mencoba menghindari perilaku memalukan dari beberapa anggota keluarga.

Kedua, Salman milik generasi menengah dalam keluarga kerajaan. Oleh karenanya, ia bisa mengembangkan hubungan dekat sosial dan budaya kedua generasi. Terakhir, akibat dari jabatan gubernur jangka panjangnya, ia telah mengembangkan jaringan hubungan di kalangan Arab dan internasional.
Pada Jumat 23 Januari 2015, Raja Salman berjanji akan melanjutkan kebijakan pemerintahan mendiang Raja Abdullah saat ini untuk memastikan stabilitas dan persatuan di negara itu. (T/P001/R03)
Sumber: Arab News, On Islam, Wikipedia
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

SERANGAN ARAB SAUDI DI YAMAN UNGKAP TUJUAN ARAB SPRING

http://mirajnews.com/id/artikel/opini/serangan-arab-saudi-di-yaman-ungkap-tujuan-arab-spring/

Aktivis kemanusiaan dan pengamat zionisme, Joserizal Jurnalis. (Foto: Zaenal/MINA)
Aktivis kemanusiaan dan pengamat zionisme, Joserizal Jurnalis. (Foto: Zaenal/MINA)


Oleh: Joserizal Jurnalis*
Dalam menghadapi konflik di Timur Tengah saat ini, Arab Spring dan Extended Arab Spring terlihat ruwet jika kita melihat faktor-faktor satu persatu.
Faktor-faktor itu bukanlah faktor utama tapi kita sebut complementary factor (faktor yang saling melengkapi).
“Demokrasi” didengung-dengungkan pada awal Arab Spring sebagai alasan terjadinya revolusi di beberapa negara Arab. Ternyata tidak ada demokrasi yang tegak di negara-negara yang penguasanya digulingkan, bahkan dibunuh karena dituduh diktator dan tidak demokratis.

Padahal, negara-negara Arab yang terlibat dalam membiayai Arab Spring ini, seperti Arab Saudi, Qatar dan Kuwait adalah negara monarki (kerajaan), yang tidak demokratis sama sekali.

“Menegakkan syariat” dan “pendirian khilafah” juga menjadi slogan sebagian peserta Arab Spring dalam menumbangkan rezim yang mereka sebut “toghut, anti syariah, inkar sunnah, atau Syiah”.

Yang agak tersembunyi pada awal Arab Spring, terutama dalam kasus konflik Suriah adalah “Untuk apa keterlibatan Turki, Arab Saudi, Kuwait dan Qatar di Suriah ?”

Agak aneh, Suriah adalah anggota Liga Arab, sama seperti Arab Saudi, Qatar dan Kuwait. Kalau ingin menegakkan demokrasi karena rezim tidak demokrasi, ketiga negara tersebut jauh dari kesan demokratis. Turki terlibat karena negara anggota NATO dan perdana menterinya saat itu, Recep Tayyip Erdogan, adalah simpatisan Ikhwanul Muslimin (IM), di mana angggota IM terlibat sebagai pihak oposisi di Suriah.

Menjadi agak jelas frame permainan Arab Saudi, Qatar dan Kuwait yang menjadi anggota koalisi utama, ketika menyerang Yaman Utara yang dikuasai suku Houthi yang bermazhab Syiah Zaidiyah dan loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.
Walaupun secara terbuka Arab Saudi dkk menyerang Yaman Utara dalam rangka ingin mengembalikan kekuasaan Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi yang minta tolong, tapi sebenarnya Arab Saudi dkk – terutama Arab Saudi – “takut” dengan makin besarnya pengaruh Iran.
Hal itu terjadi karena Arab Saudi takut dengan “aroma” Revolusi 1979 yang menggulingkan kerajaan (Shah Iran) yang berumur 2000 tahun, di mana dulunya adalah sahabat Arab Saudi, Amerika Serikat dan Israel.
Akhirnya kita bisa membaca permainan Arab Saudi di Arab Spring dengan membandingkan kasus Suriah dan Yaman.
Tentu timbul pertanyaan “Kenapa Arab Saudi dan Qatar juga terlibat menumbangkan Presiden Libya Muammar Gaddafi dan Presiden Mesir Hosni Mubarak?”
Arab Saudi dan Qatar merupakan “kawan seiring” dalam Arab Spring, tapi dalam kasus menumbangkan Presiden Mesir Muhammad Mursi mereka berbeda posisi. Arab Saudi meninggalkan Qatar yang tetap mendukung Mursi.

Lalu kenapa Arab Saudi dan Qatar masih bisa disatukan dalam “proyek” konflik Suriah, ISIS dan Yaman?

Di sinilah sebenarnya permainan itu terkuak, karena yang bisa melakukan itu adalah Amerika Serikat (AS) dan Israel.

AS dan Israel ini sangat berkepentingan dengan Timur Tengah. Israel perlu keamanan dirinya dari negara-negara Arab yang dalam sejarah memang tidak bersahabat dengan Israel. Israel perlu melemahkan musuh-musuhnya dengan penyusupan, adu domba, merekayasa ulama-ulama adu domba, sehingga musuhnya terpecah-pecah berdasarkan suku dan sekte, pada akhirnya lemah.

Bagi AS, Timur Tengah harus tetap bisa dikontrol, supaya sumber-sumber energi tetap bisa dikuasai.

Terjadilah siombiose-mutualisma antara Israel dan AS di Timur Tengah.
Dan hasil Arab Spring adalah instability of the Middle East (ketidakstabilan Timur Tengah). (T/P001/P2)

*) Joserizal Jurnalis adalah seorang aktivis kemanusiaan dan dokter bedah spesialis tulang. Saat ini menjabat Anggota Presidium lembaga medis kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pengalamannya di banyak daerah konflik dan pengetahuannya yang luas tentang konspirasi Zionis dan konflik Timur Tengah, membuatnya sering menjadi nara sumber di berbagai diskusi dan media.
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
 

PETA GEOPOLITIK PERANG YAMAN

341

Nazemroaya
Mahdi Darius Nazemroaya (voltairenet)
http://mirajnews.com/id/artikel/opini/peta-geopolitik-perang-yaman/

Oleh: Mahdi Darius Nazemroaya, Analisis Scientific Committee of Geopolitica, Italia
Amerika Serikat dan Kerajaan Arab Saudi menjadi sangat gelisah ketika gerakan Houthi Yaman menguasai ibukota Yaman, Shana’a pada bulan September 2014.

Presiden Yaman Abd-Rabbo Mansour Al-Hadi merasa dipermalukan dipaksa untuk berbagi kekuasaan dengan Houthi dan koalisi suku Yaman Utara yang telah membantu Houthi masuk Shana’a.

Al-Hadi pun terguling dari kursi kekuasaannya. Tersingkirnya Presiden Al-Hadi oleh Houthi dan sekutu politik mereka, berdampak reaksi Al-Hadi yang berencana meminta bantuan Washington dan Riyadh.

Gedung Putih dan Kerajaan Saudi tidak pernah menduga sebelumnya kalau Houthi kemudian menyingkirkan Al-Hadi dari tampuk kekuasaan. Setelah ia menjadi presiden, setelah Ali Abdullah Saleh terpaksa menyerahkan kekuasaannya pada tahun 2011.

Kudeta?

Pada awalnya, ketika Houthi mengambil alih Shana’a pada akhir 2014, Houthi menolak usulan Al-Hadi untuk penawaran baru perjanjian pembagian kekuasaan formal. Houthi menganggap Al-Hadi telah gagal dan telah mengingkari janji sebelumnya untuk berbagi kekuasaan politik.
Pada saat itu, hubungan Presiden Al-Hadi dengan Washington telah membuatnya sangat tidak populer di kalangan mayoritas penduduk Yaman.
Pada 8 November 2014, partai Presiden Al-Hadi sendiri, The Yemenite General People’s Congress (al-Mu’tamar asy-Syi’bi al-‘Am), akan mengeluarkan Al-Hadi sebagai pemimpinnya juga.
Huthi akhirnya merebut istana presiden dan gedung-gedung pemerintah Yaman lainnya pada 20 Januari 2015. Dua minggu kemudian, Houthi resmi membentuk pemerintahan transisi Yaman. Pada 6 Februari Al-Hadi terpaksa mengundurkan diri.
Pengunduran diri Al-Hadi adalah kemunduran bagi kebijakan luar negeri AS. Hal itu akan berdampak pada mundurnya militer dan operasional badan intelejen pemerintah federal AS CIA (The Central Intelligence Agency) di Yaman.
The Los Angeles Times melaporkan pada tanggal 25 Maret, mengutip para pejabat AS, bahwa Houthi telah mendapatkan rahasia AS pada berbagai dokumen rahasia ketika mereka merebut Biro Keamanan Nasional Yaman, yang selama bekerja sama dengan CIA, yang dikompromikan sebagai operasi Washington di Yaman.
Al-Hadi pun kemudian melarikan diri dari ibukota Yaman Shana’a ke Aden, di bagian Selatan Yaman,  pada tanggal 21 Februari. Lalu menyatakan ibukota sementara Yaman di Aden pada 7 Maret.
AS, Perancis, Turki, dan sekutu Eropa Barat mereka menutup kedutaan mereka di Yaman. Segera setelah itu, dalam apa yang mungkin disebut sebagai langkah terkoordinasi, AS, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab semua memindahkan kedutaan mereka ke Aden dari Shana’a.
Al-Hadi mencabut surat pengunduran dirinya sebagai presiden dan menyatakan bahwa ia membentuk pemerintahan di pengasingan.
Houthi dan sekutu politik mereka menolak untuk memenuhi tuntutan AS dan Arab Saudi, yang memang diminta bantuannya oleh Al-Hadi di Aden. Melalui Menteri Luar Negeri Al-Hadi, Riyadh Yasin, meminta Arab Saudi dan sekutunya di Arab untuk bantuan militer mencegah Houthi, menghentikan kontrol wilayah udara Yaman. Pada 23 Maret Yasin mengatakan kepada Saudi Al-Sharq Al-AWSA bahwa kampanye pengeboman lewat udara diperlukan dan bahwa zona larangan terbang harus dikenakan atas Yaman.
Kelompok Houthi menyadari bahwa perjuangan militer akan dimulai. Inilah mengapa kemudian Houthi dan sekutu mereka di militer Yaman bergegas untuk mengendalikan banyak lapangan udara militer Yaman dan pangkalan udara, seperti Al-Anad, secepat mungkin. Mereka pun bergegas untuk mengejar Al-Hadi ke Aden pada tanggal 25 Maret.
Namun, pada saat Houthi dan sekutu mereka memasuki Aden, Al-Hadi telah melarikan diri dari kota melalui pelabuhan Yaman. Al-Hadi kemudian diketahui muncul di istana Arab Saudi ketika koalisi Arab memulai menyerang Yaman pada 26 Maret.
Dari Arab Saudi, Abd-Rabbo Mansour Al-Hadi kemudian terbang ke Mesir menghadiri Pertemuan Liga Arab untuk melegitimasi perang Yaman.

Strategi Kawasan

Houthi mengambil alih Shana’a dalam rentang waktu yang bersamaan dengan serangkaian keberhasilan atau kemenangan regional di Iran, Hizbullah Lebanon, dan Suriah. Hal tersebut dianggap membentuk kekuatan kolektif wilayah.
Persamaan strategis di Timur Tengah mulai bergeser karena menjadi jelas bahwa Iran dianggap menjadi pusat keamanan dan stabilitas kawasan.
Saudi dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mulai mengeluhkan hal tersebut dan menyebut bahwa Iran mulai mengendalikan empat ibukota terpenting di kawasan, Beirut, Damaskus, Baghdad, dan Shana’a. Saudi dan Israel mengajukan permintaan untuk menghentikan ekspansi Iran lebih luas lagi. Sebagai hasil dari persamaan strategis baru tersebut, Israel dan Saudi menjadi selaras dengan satu tujuan utama menetralisir Iran dan sekutu regionalnya.
Duta Besar Israel, Ron Dermer kepada Fox News pada 5 Maret menyatakan keselarasan Israel dan Arab Saudi tersebut.
Namun, kekhawatiran pengaruh kawasan tersebut kurang ditanggapi pihak AS. Menurut jajak pendapat Gallup, hanya 9% dari warga AS yang memandang Iran sebagai musuh terbesar dari Amerika Serikat. Pada waktu itu, Netanyahu sendiri tiba di Washington untuk berbicara menentang kesepakatan nuklir antara AS dan Iran.

Geo-Strategis AS

Kerajaan Arab Saudi telah lama menganggap Yaman sebagai semacam provinsi bawahan dan sebagai bagian dari lingkup pengaruh  Riyadh. AS ingin memastikan bahwa hal itu bisa mengendalikan daerah strategis Yaman, Bab Al-Mandeb, Teluk Aden, dan Kepulauan Socotra .
Bab Al-Mandeb adalah titik strategis yang penting bagi pengiriman perdagangan dan energi jalur perairan internasional yang menghubungkan Teluk Persia melalui Samudera Hindia dengan Laut Mediterania melalui Laut Merah. Hal ini sama pentingnya dengan Terusan Suez untuk jalur perairan dan perdagangan antara Afrika, Asia, dan Eropa.
Israel juga khawatir, dengan kontrol Yaman bisa jadi memotong akses Israel ke Samudera Hindia melalui Laut Merah, dan mencegah kapal selam masuk ke Teluk Persia untuk mengancam Iran.
Inilah sebabnya mengapa kontrol Yaman sebenarnya adalah salah satu poin penting pembicaraan Netanyahu di Capitol Hill, saat ia berbicara kepada Kongres AS tentang Iran, pada tanggal 3 Maret lalu. New York Times mempublikasikan pidato Netanyahu pada 4 Maret.
Arab Saudi sendiri tampaknya takut bahwa Yaman bisa akan sejalan dengan Iran dan khawatir dapat mengakibatkan pemberontakan baru di Semenanjung Arab terhadap Kerajaan Saudi.
AS juga khawatir tentang hal ini, dalam perspektif persaingan global. AS berkehendak mencegah pengaruh Iran, Rusia, dan China dari memiliki pijakan strategis di Yaman. Ditambah lagi pentingnya geopolitik Yaman dalam mengawasi strategis perairan dan rudal persenjataan militernya.
AS melihat rudal Yaman bisa mengancam kapal-kapal di Teluk Aden atau Bab Al-Mandeb. Maka, dalam hal ini, serangan Saudi ke Yaman merupakan jalan strategis menjalankan kepentingan AS dan Israel di kawasan itu.
Kemudian Riyadh mengancam akan mengambil tindakan militer jika Houthi dan sekutu politik mereka tidak bernegosiasi dengan Al-Hadi.
Akhirnya, sebagai hasil dari ancaman Saudi, meluncurlah serangan udara koalisi Arab menyerang Houthi Yaman pada tanggal 25 Maret.  Amerika Serikat, Arab Saudi, Bahrain, UEA, Qatar, dan Kuwait pun mulai mempersiapkan untuk menaikkan ulang Al-Hadi sebagai penguasa Yaman.

Koalisi Arab

Untuk mengokohkan pembicaraan tentang Arab Saudi sebagai kekuatan regional, Saudi menganggap terlalu lemah untuk menghadapi Iran sendirian. Saudi pun kemudian menyusun strategi memperkuat sistem aliansi regional untuk membuat blok konfrontasi dengan Iran. Dalam hal ini Arab Saudi memerlukan sumbu kawasan Mesir-Turki-Pakistan untuk membantu menghadapi Iran dan sekutu regionalnya.
Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Zayed bin Sultan Al-Nahyan, Putera Mahkota Emirat dan wakil komandan tertinggi militer UEA, bermaksud mengunjungi Maroko untuk berbicara tentang respon militer kolektif ke Yaman.
Di sisi lain, Al-Hadi meminta Arab Saudi dan organisasi kawasan Teluk  Gulf Cooperation Council (GCC) untuk membantu serangan militer mengintervensi Yaman.
Dari seluruh anggota GCC itu (GCC terdiri dari Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar dan UEA), Kesultanan Oman menolak untuk bergabung dalam serangan ke Yaman.
Muscat, ibukota Oman, memiliki hubungan persahabatan yang baik dengan Teheran. Selain itu, Oman merasa jenuh dengan proyek Saudi dan GCC yang menggunakan sektarianisme untuk menyalakan konfrontasi dengan Iran dan sekutunya.
Mayoritas penduduk Oman adalah Muslim, tetapi tidak menyebut Muslim Sunni atau Muslim Syi’ah. Mereka menyebut Muslim Ibadi yang takut mengipasi hasutan sektarian dengan sesamanya.
Propagandis masuka ke Saudi dan memberikan klaim bahwa perang merupakan upaya menghambat pengaruh Iran di perbatasan Arab Saudi. Turki baru akan mengumumkan dukungannya bagi perang di Yaman.

Al-Sisi Mesir menyatakan bahwa keamanan Kairo dan keamanan Arab Saudi merupakan satu kawasan. Namun, Mesir mengatakan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam perang di Yaman pada tanggal 25 Maret. Akan tetapi hari berikutnya, Kairo bergabung ke Arab Saudi dalam serangan ke Yaman, dengan mengirimkan jet dan kapal ke Yaman.
Hal senada dinyatakan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dalam sebuah pernyataan pada 26 Maret, bahwa setiap ancaman ke Arab Saudi akan mengancam pula Pakistan.

Peran AS dan Israel

Pada tanggal 27 Maret, diumumkan di Yaman bahwa Israel terlibat membantu Arab Saudi menyerang Yaman. Ini berarti pertama kalinya bahwa Zionis Israel melakukan operasi bersama dengan koalisi Arab Saudi.
Hassan Zayd, Presiden Partai Al-Haq Yaman, menulis di jejaring sosial bahwa hal itu menunjukkan kepentingan bersama antara Arab Saudi dan Israel. Aliansi Israel-Saudi menghadapi Yaman, bagaimanapun, bukanlah hal baru. Israel pernah membantu Saudi dalam Perang Saudara Yaman Utara yang dimulai tahun 1962, dengan penyediaan senjata dari Arab Saudi untuk membantu kaum royalis terhadap kaum republiken di Yaman Utara.

Sementara AS juga terlibat dan mendukung dari belakang dan jarak jauh. Pada saat bersamaan, AS bekerja keras untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran. Satu sisi AS ingin mempertahankan aliansi terhadap Teheran menggunakan Saudi. Pentagon juga akan memberikan apa yang disebut bantuan intelijen dan dukungan logistik terhadap Arab Saudi.
Fakta menyebutkan, peta kawasan dan kepentingan geopolitik terus bergulir untuk kepentingan AS-Israel, khususnya di kawasan Yaman. Sumber: Global Research (T/P4/R11)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sebenarnya…, Ada Apa dengan Salafi Wahabi?

http://www.islam-institute.com/benarkah-salafi-wahabi-seiring-sejalan-dengan-misi-zionis.html

Ketika Fatwa Salafi Wahabi Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis Yahudi

1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya, 2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya, 3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran ), 4. Pecah belah dan hancurkan!
Ada apa dengan Salafi Wahabi? Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap Umat Islam untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah :
1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya
2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya
3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran )
4. Pecah belah dan hancurkan!
 
Beberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis. Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang beberapa fatwa Salafi Wahabi sekaligus efek yang terjadi dalam konteks keselarasan fatwa-fatwa tersebut dengan misi Zionis:

Misi Zionis 1: Pisahkan umat Islam dari ulamanya

Misi ini bertujuan agar umat Islam kehilangan central command/komando yang terpusat dalam segala hal, baik dalam berpolitik, bersosial, beragama, serta menghilangkan metode yang benar dalam memahami agama. Mereka sadar bahwa kegagalan mereka selama ini diakibatkan oleh kuatnya semangat dan persatuan kaum Muslimin dalam melawan mereka. Dan semangat serta persatuan kaum Muslimin tersebut faktanya berpusat pada para ulama. Fakta terbaru, adalah betapa dahsyat akibat/efek dari “Resolusi Jihad” (22-Okt-1945) yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari (NU) juga betapa dahsyat dampak dari seruan para ulama dalam menumpas PKI.

Fatwa Salafi Wahabi yang disinyalir “mendukung” misi zionis tersebut di antaranya adalah :

1. Sesatnya Mazhab Asya’irah/ Asy’ariah dan Maturidiah

Bukti paling dekat atas fatwa tersebut adalah buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir Jawas. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.

2. Propaganda : Para Ulama adalah Manusia yang Tidak Ma’shum (Tidak terjaga dari salah)

Propaganda “Para ulama adalah manusia yang tidak ma’shum” adalah “Kalimatu Haqqin Uriida Biha Al Bathil” (pernyataan yang benar yang disertai misi batil). Propaganda ini berperan untuk mendorong umat Islam keluar dari mazhab-mazhab yang mu’tabar (diakui) dan beralih kepada “mazhab” yang mereka bangun (mazhab yang tidak bermetode dalam memahami Al-Quran dan Sunnah). Propaganda ini mengesampingkan pesan Allah: “Maka bertanyalah kalian pada Ahlidz Dzikri jika kalian tidak tahu” (An Nahl : 43 dan Al Anbiya’ : 7)
Efek lain dari propaganda ini dapat Anda buktikan dalam sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof enggan menerima pendapat para ulama dengan alasan mereka tidak ma’shum.
3. Tuduhan “Ta’ashub” (Fanatik) kepada Para Penganut Mazhab
4. Tuduhan “Ghuluw” (Berlebihan) Bahkan Musyrik terhadap Umat Islam yang Menghormati Para Ulama denga Cara Mencium Tangan

5. Haramnya Tawasul dengan Orang-orang Shaleh yang Sudah Meninggal.

Efek lain yang ditimbulkan dari fatwa-fatwa dan propaganda tersebut diantaranya adalah:
a. Hilangnya atau setidaknya berkurangnya trust/kepercayaan umat Islam terhadap para ulama khususnya yang bermazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah semacam Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, Imam Al-Haitami, Imam Al-Qurthubi, bahkan sebagian besar Pengarang “Al Kutub As Sittah” serta ratusan ulama yang lain.
b. Membuang semua/sebagian pendapat para ulama Asy’ariyah & Maturidiyah yang tidak sesuai misi mereka.
c. Bebas men-tahrif (mengubah) karya-karya mereka yang tidak sesuai keinginan dan bahkan membakarnya, karena dianggap karya orang-orang sesat.
d. Menggantikan peran/pendapat para ulama sejak abad ke-3 hingga abad ke-19 (Munculnya Muhammad Ibnu Abdil Wahab) dengan para “ulama” yang mereka ciptakan diabad 19 dst.
e. Cukup banyak ulama yang pemikirannya dijauhkan dari umatnya.
f. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa hormat umat Islam terhadap para ulamanya.
g. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi kepatuhan umat Islam terhadap para ulamanya.
h. Menghilangkan metode yang benar dalam mamahami Islam. (hal ini penting untuk misi yang lain)
i. Ibarat hutan yang telah ditinggal “Macan”nya, dan yang tersisa hanyalah “Macan” ompong piaraan dengan fatwa-fatwa aneh.
j. dll

Misi Zionis 2: Pisahkan Umat Islam dari Nabinya

Misi ini penting, mengingat ikatan emosional umat Islam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah faktor fital yang mampu membuat umat Islam rela mengorbankan segalanya.
Adapun fatwa dan tindakan yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut adalah:

1. Haramnya Bepergian Menziarahi (Qubbatul Khadra’) Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Anda yang pernah menziarahi Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tahu efek emosional bagi penziarah baik ketika berziarah maupun sesudahnya. Betapa hati yang normal takkan mampu membendung air mata ketika berada di pusara mulia beliau. Rasa haru, bahagia, malu, rindu, bangga, terimakasih, bercampur dalam sebuah hidangan istimewa berupa “Mahabbah” (rasa cinta) yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.

Anehnya menurut teman-teman yang pernah muqim di Saudi, ada ulama kebanggaan Wahabi (maaf tidak disebut nama karena orangnya sudah meninggal) yang bersyukur karena tidak pernah menziarahi makam Nabi selama 25 tahun tinggal di Madinah, hingga para santri di sana berkata: “Memang Nabi nggak mau ketemu Anda”.

2. Haramnya Pelaksanaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Mereka sadar betul akan efek tumbuhnya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui pujian dan pembacaan sirah Nabi yang ada dalam kitab-kitab maulid yang identik lebih mengangkat sisi Irhash dan Mukjizat Nabi. Fakta telah membuktikan efek Maulid yang terjadi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, bahkan fakta terbaru adalah betapa dahsyat efek “Shalawat Badar” dalam membakar semangat umat Islam guna menumpas PKI.

3. Haramnya Tawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Wafat

Hal ini jika kita cermati argumentasi mereka kita dapati sebuah fakta: Menghilangkan atau setidaknya mengurangi pemahaman umat Islam terhadap Nabinya dalam aspek Nubuwwah dan lebih menonjolkan aspek Basyariyah Nabi (sisi kemanusiaan). Bukti dari efek tersebut adalah pernyataan ulama kebanggaan mereka yang menyatakan bahwa tongkatnya lebih berguna daripada Rasulullah yang sudah wafat.

Dan bukti lain adalah sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof tidak puas ketika diajukan hadits shahih dari Imam Al-Bukhari dengan dalih Nabi Muhammad bisa salah berdasar QS: ‘Abasa.

4. Menghilangkan Situs-Situs Bersejarah yang Berkaitan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat
Efek yang ditimbulkan dari tindakan tersebut adalah: Hilangnya bukti fisik perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang dapat membangkitkan semangat dan keimanan umat Islam.
Jika dalam penghancuran situs-situs bersejarah tersebut Salafi/Wahabi beralasan “Syaddudz Dzari’ah” (mencegah kemungkaran yang mungkin ditimbulkan) yakni sikap “Ghuluw” (berlebihan), maka faktanya mereka mengalihkan sikap “Ghuluw” tersebut kepada Syekh Al ‘Utsimin dengan membangun museum Yayasan Al ‘Utsaimin. 
Dimana dalam museum tersebut tidak hanya karya sang Syekh yang dihormati, bahkan pena terakhir sang Syekh-pun ditempatkan di tempat khusus dalam etalase mahal. aneh.

Misi Zionis 3: Pisahkan Umat Islam dari Al-Quran

Kita semua tahu arti dan peran Kitab Suci bagi semua pemeluk agama, maka sangat wajar jika misi ketiga ini menjadi misi penting. Adapun fatwa dan propaganda Salafi/Wahabi yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut diantaranya adalah:

1. Haram Mengikuti Mazhab Tertentu

Silahkan Anda baca Fatwa Syekh Albani tentang masalah tersebut, dan silahkan Anda bayangkan ketika kaum awam melepaskan diri dari tuntunan para ulama dalam memahami Al-Quran.
Bukti akan adanya efek tersebut adalah propaganda yang didengungkan MTA, yakni : “Ngaji ko’ kitab kuning, Ngaji ya Al-Quran sak maknanya”. Dan akibatnya fatwa-fatwa mereka ngawur dan paling ironis dengan enteng mereka mengafirkan sesama saudara Muslim.

2. Jargon Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah

Coba kita cermati akibat yang ditimbulkan dari keberanian orang-orang awam menginterpretasikan Al-Quran tanpa sarana ilmu yang memadahi. Disamping pemahaman yang kontradiktif, mereka telah lepas dari nafas Al-Quran itu sendiri, sehingga begitu mudah mereka mengafirkan sesama umat Islam.

Hal inilah yang diwanti-wanti Rasulullah dalam sabda beliau:

يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .
“Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri khas mereka?” Rasul menjawab “Bercukur gundul”. (Sunan Abu Daud : 4765)

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Bukhari Muslim)

Selanjutnya adalah misi Zionis ke empat:

Misi Zionis 4. Pecah Belah Lalu Hancurkan!

Inilah tujuan pokok dari misi-misi penghantar yang kami sebutkan di atas. Sebagaimana di wanti-wantikan Allah dalam Al-Quran :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS : Al Baqarah:120)

Sedang tindakan kongkrit dalam mendukung misi ini adalah menciptakan kelompok yang menyimpang yang mereka lindungi atas nama HAM semisal “AHMADIYAH” di India, dan di saat bersamaan mereka ciptakan “WAHABI” di Timur Tengah (Arab Saudi), sebuah kelompok yang berhasil membuat umat Islam saling menghujat, saling mengkafirkan, dst.
Lantas adakah korelasinya misi Zionis tersebut dengan fatwa dan atau propaganda di atas? Mari kita cermati bersama:
Apakah jadinya ketika umat Islam sudah tidak lagi menghormati figur-figur yang dapat meredam pertikaian dan mempersatukan umat, yakni para ulama? Dan apa jadinya ketika umat Islam memandang dan memahami Nabinya hanya dari aspek Basyariyah (manusia biasa)? Dan apa jadinya ketika umat Islam yang tidak memiliki sarana ilmu yang memadai ikut-ikutan berijtihad dan mengesampingkan tuntunan para ulama?

Fakta yang sudah di depan mata adalah: PERPECAHAN UMAT ISLAM !

Wal ‘Iyaadzu Billah…
(Mundzir Ahmad)
198 Shares
Kemajuan Teknologi Internet menjadi berkah sekaligus fitnah bagi Islam dan umat Islam. Situs web 'Islam Institute' memberi inspirasi agar umat Islam tergugah daya kritisnya dalam memahami info-info ajaran Islam berbasis internet. Semoga Kita senantiasa dalam naungan Hidayah Allah Swt, amiin....
 


Rabu, 01 April 2015 11:11

Badan Internasional Kesulitan Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Yaman


Serangan udara Arab Saudi telah membuat berbagai kawasan yang menjadi ajang pertempuran di Yaman semakin tak aman bagi penyaluran bantuan kemanusiaan oleh berbagai organisasi internasional.

AFP melaporkan, berbagai organisasi internasional menyatakan, kondisi yang semakin parah di Yaman dan bombardir jet-jet tempur Arab Saudi membuat rakyat di berbagai kawasan yang menjadi ajang pertempuran tidak mendapat bantuan kemanusiaan.

Menurut sumber ini, salah satu tim penyelamat lokal dari Palang Merah Internasional dilaporkan tewas tertembak ketika terjadi bentrokan.

Laporan ini juga menyebutkan penutupan seluruh bandara udara internasional di Sanaa dan Aden sebagai penghalang penyaluran bantuan kemanusiaan organisasi internasional kepada rakyat Yaman.

Sementara itu, telah lewat enam hari dari bombardir mematikan jet-jet tempur di bawah komando Arab Saudi terhadap pos-pos pejuang Ansarullah di Yaman.

Hari Senin (30/3) sedikitnya 45 orang tewas dan 200 lainnya cidera dalam serangan udara jet tempur Arab Saudi ke sebuah kamp pengungsi al-Mazraq di Provinsi Hajjah, Yaman. Menurut keterangan PBB, sedikitnya 11 anak-anak turut menjadi korban dalam serangan brutal tersebut.

Arab Saudi sebelumnya di tahun 2009 dan 2010 juga membombardir pos-pos al-Houthi di Yaman. (IRIB Indonesia/MF) irib.ir/international/timur-tengah/item/93786-badan-internasional-kesulitan-salurkan-bantuan-kemanusiaan-ke-yaman


Rabu, 01 April 2015 11:05 
ib.ir/international/timur-tengah/item/93785-jumlah-korban-agresi-arab-saudi-ke-yaman-terus-bertambah 

Jumlah Korban Agresi Arab Saudi ke Yaman Terus Bertambah

Departemen Kesehatan Yaman mengumumkan sejak agresi Arab Saudi ke negara ini tercatat 100 warga Yaman meninggal dunia.

Televisi al-Alam Selasa (31/3) mengutip Departemen Kesehatan Yaman melaporkan, berdasarkan data terbaru dari serangan jet tempur Arab Saudi yang didukung sejumlah negara Arab ke berbagai wilayah Yaman, 120 warga sipil tercatat menjadi korban keganasan mereka.

Departemen Kesehatan Yaman seraya mengisyaratkan berlanjutnya serangan jet tempur Arab Saudi ke berbagai kawasan pemukiman dan infrastruktur negara ini menyatakan, jumlah korban terus bertambah.

Kantor organisasi medis lintas territorial di Yaman mengumumkan, lebih dari 500 orang menderita luka-luka di bentrokan yang berlangsung di kota Aden dan akibat serangan udara dan darat Arab Saudi beserta sekutunya ke kota ini.

Dalam hal ini, rezim al-Saud menentang kedatangan pesawat udara milik Palang Merah Internasional yang membawa bantuan kemanusiaan bagi warga Yaman di bandara udara Sanaa.

Jet-jet tempur Arab Saudi sejak enam hari lalu membombardir berbagai kawasan Yaman. Ulah Arab Saudi ini selaras dengan kepentingan rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat. (IRIB Indonesia/MF)

Rabu, 01 April 2015 10:59

Abdollahian: Serangan Udara Arab Saudi ke Yaman Harus Dihentikan


Hossein Amir Abdollahian, deputi menlu Iran untuk Arab dan Afrika menuntut segera dihentikannya serangan udara Arab Saudi ke Yaman.

“Solusi bagi krisis di Yaman adalah dihentikannya dengan segera serangan udara dan langkah brutal terhadap negara serta rakyat Yaman. Selain itu juga harus disertai dengan perealisasian kesepakatan nasional yang telah dicapai oleh berbagai partai dan kubu Yaman,” papar Abdollahian Selasa (31/3).

Saat berbicara di pertemuan internasional bertema bantuan kemanusiaan untuk Suriah di Kuwait, Abdollahian menambahkan, Republik Islam Iran menilai serangan udara pasukan asing ke Yaman yang menewaskan dan menciderai sejumlah warga tak berdosa negara ini sebagai langkah berbahaya dan bertentangan dengan tanggung jawab internasional dalam menghormati kedaulatan negara lain.

Amir Abdollahian juga menyatakan penyesalannya atas korban jiwa dan harta akibat aksi terorisme yang harus ditanggung rakyat Suriah. “Kinerja Iran dalam menyikapi transformasi negara ini bertumpu pada dua prinsip penting, prinsip pertama adalah mendukung tuntutan legal rakyat Suriah terkait reformasi,” kata Abdollahian.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, “Prinsip kedua adalah menentang intervensi asing, karena setiap perubahan dan reformasi di Suriah harus dilakukan oleh rakyat negara ini sendiri serta berlangsung damai.”

“Sangat disayangkan bahwa dua prinsip ini bukan saja tidak diperhatikan oleh sejumlah negara, namun mereka malah berusaha memanfaatkan teroris sebagai alat untuk merealisasikan ambisinya di Suriah. Sementara mereka lupa bahwa terorisme sebagai alat berbahaya dapat juga berbalik menyerang mereka dan mengancam keamanan serta stabilitas seluruh pihak,” tandas Abdollahian.

Deputi menlu Iran ini mengatakan, “Jika perbatasan tertutup bagi teroris, negara tetangga Suriah harus memainkan perannya untuk mengendalikan terorisme dan menghentikan pelatihan serta persenjataan bagi teroris. Jika hal ini dilakukan maka dapat dipastikan bahwa teroris akan musnah dari dalam.”

Konferensi internasional ketiga terkait bantuan kemanusiaan bagi Suriah tengah digelar di Kuwait atas undangan Sekjen PBB, Ban Ki Moon kepada 80 menlu berbagai negara dunia. Konferensi ini juga dihadiri oleh Emir Kuwait. (IRIB Indonesia/MF)esian.irib.ir/krisis-yaman/item/93780-abdollahian-serangan-udara-arab-saudi-ke-yaman-harus-dihentikan

Syiah Hautsi: dari Saada hingga Sanaa

KIBLAT.NET – Syiah Hautsi mulanya adalah kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman bagian utara. Sebelum masa revolusi rakyat (Arab Spring) pada tahun 2011, mereka kurang memiliki daya tarik maupun pengaruh di luar wilayah basis mereka di utara.

Dengan berakar pada semangat kebangkitan Zaidiyah, gerakan tersebut pada mulanya bangkit dalam rangka melindungi tradisi keagamaan dan kultural mereka dari ancaman kelompok Salafi yang semakin mereka rasakan, dan juga dari intervensi barat terhadap dunia Islam.

Kemudian di bawah kepemimpinan Hussein Badr al-Din al-Hautsi, dan dipicu oleh invasi Amerika ke Iraq pada tahun 2003, lalu mereka mengubah pola gerakan mereka dari yang bersifat kultural keagamaan menjadi aktifitas politik.

Pada tahun 2004, usaha pemerintah Yaman menangkap Hussein al-Hautsi mengalami kegagalan. Hal itu mendorong serangkaian peperangan atau konfrontasi brutal antara Hautsi dengan pemerintah Yaman yang terjadi hingga enam putaran. Perang secara resmi berakhir dengan adanya gencatan senjata pada bulan Februari 2010, namun masih menyisakan baNyak keluhan.

Konflik terpusat di propinsi Saada yang merupakan benteng pertahanan utama Hautsi. Di wilayah ini pula mereka menjadi pewaris pasca era kemunduran strata sosial pemerintahan Bani Hasyim (Hasyimiyah) akibat revolusi perlawanan tahun 1962 terhadap kepemimpinan “Imamah Zaidiyah”.

Demikian juga pola manajemen negara yang gagal dalam mengatasi pluralitas keagamaan, keterbelakangan yang kronis, mengakibatkan situasi yang rentan terjadinya perebutan kekuasaan di daerah serta munculnya aktor baru keagamaan termasuk kelompok Salafi.

Dalam lingkungan yang begitu kompleks ini, berbagai macam peperangan baik yang bermotif sektarian, kesukuan, maupun politis terjadi secara simultan, termasuk efek turunan akibat dari perang dingin antara Arab Saudi dan Iran. Hingga saat ini, Hautsi masih belum punya agenda yang jelas, sementara di luar propinsi basis mereka di Saada dan juga di wilayah Haraf Sufyan di propinsi Amran sebelah utara mereka masih menghadapi perlawanan dari kelompok pesaing.

Era Arab Spring 

Sejak awal mula Arab Spring, gerakan ini dengan cepat telah berevolusi dalam konteks politik. Pada tahun 2011 ketika Hautsi bergabung dengan para demonstran memprotes Presiden Ali Abdullah Saleh, mereka membentuk aliansi dengan para aktifis anti rezim di seluruh negeri.
Dengan memanfaatkan situasi yang vakum dari kekuasaan karena ditinggalkan oleh para elit rezim lama yang telah terpecah, Hautsi memperluas wilayah yang mereka kontrol dan terus bekerja untuk meraih simpati yang lebih luas dari masyarakat, menetapkan suatu program politik, dan mengklaim punya legitimasi dalam proses pembuatan keputusan nasional. Gerakan ini bisa dikatakan sebagai pemenang utama yang muncul dari hasil perlawanan rakyat.
Selama masa transisi itu, Hautsi bergabung dengan proses politik yang ada tanpa meninggalkan kamp revolusioner. Partisipasi mereka dalam konferensi dialog nasional NDC (National Dialogue Conference) dukungan PBB memberikan Hautsi legitimasi baik nasional maupun internasional serta memungkinkan mereka menentukan agenda reformasi.

Pemberontak Syiah Houthi berjalan di sebuah pos pemeriksaan di Sana'a, 11 Desember 2014. (foto oleh Reuters Mohamed al-Sayaghi)
Pemberontak Syiah Houthi berjalan di sebuah pos pemeriksaan di Sana’a, 11 Desember 2014. (foto oleh Reuters Mohamed al-Sayaghi)

Di Saada, mereka membentuk kelompok kerja, yaitu salah satu dari sembilan kelompok kerja tematik NDC di mana mereka menyepakati prinsip-prinsip penyelesaian masalah di utara, termasuk pelucutan senjata terhadap semua aktor-aktor non-negara.
Di waktu yang sama, Hautsi menolak prinsip-prinsip yang berasal dari inisiatif Dewan Kerjasama Teluk GCC (Gulf Cooperation Council) pada bulan November 2011 yang memberikan kekebalan terhadap Saleh dari tuntutan hukum dan membentuk pemerintahan koalisi – yang dikenal dengan “pemerintah konsensus” (hukumat al-wifaaq) – yang membelah antara partai mantan presiden Saleh GPC (General People Congress) dengan blok mantan oposisi partai JMP (Joint Meeting Parties).
Oposisi mereka yang terus berlangsung terhadap pemerintahan koalisi (konsensus) ini sejalan dengan rasa frustrasi sebagian besar rakyat yang disebabkan oleh perubahan yang berjalan lambat, korupsi yang sudah mengakar, serta tidak adanya keamanan.
Pada saat perwakilan politik Hautsi berpartisipasi dalam proses transisi, para milisi bersenjata mereka menahan persenjataan berat milik mereka dan dengan signifikan memperluas control wilayah.

Resmi memerintah

Pada tahun 2011 mereka secara de-facto menjadi otoritas yang memerintah di propinsi Saada dengan menunjuk seorang gubernur, menarik pajak, mengawasi kerja pemerintahan lokal serta mengatur sistem peradilan.
Pada tahun 2012, aliansi jangka pendek anti-Saleh antara Hautsi dengan musuh-musuh tradisional mereka – Partai Islah, Ali Mohsen, dan al-Ahmar – mengalami friksi internal. Ketegangan terjadi secara sporadis di antara para pendukung kedua kubu tersebut di wilayah Jawf, Amran, Ibb, Dammar, dan wilayah propinsi Sanaa.
Kekerasan menjadi semakin intensif pada saat batas waktu tanggal 18 September untuk penyelesaian perundingan NDC semakin dekat di mana semua pihak membuat kesimpulan sesuai versi masing-masing dan – yang terpenting – mereka mengimplementasikannya dengan cara yang menguntungkan mereka.
Terkadang, bentrokan kecil dan terbatas bisa berubah menjadi konflik yang lebih luas seperti pada bulan Oktober 2013 ketika pertempuran pecah antara Hautsi dengan para pejuang Salafi di dekat sebuah institut keagamaan Darul Hadits di Dammaj di propinsi Saada.
Hautsi menuduh kelompok Salafi merekrut pejuang-pejuang asing dan mempersiapkan penyerangan. Di bagian lain, Salafi mengklaim sangat tidak beralasan untuk melakukan serangan terhadap para pelajar keagamaan yang damai (tidak bersenjata/bermusuhan).

Pemberontak Syiah Houtsi
Pemberontak Syiah Houtsi

Konflik yang dengan begitu cepat meluas ini terkonsolidasi menjadi dua koalisi yang bersebrangan, yaitu Hautsi dengan suku-suku pendukungnya, kebanyakan berasal dari partai GPC-nya mantan presiden Saleh, melawan para pejuang Salafi, keluarga al-Ahmar, dan para kombatan yang secara politis terkait dengan partai Islah dan Ali Mohsen.
Pada bulan Januari 2014, pertempuran meletus di banyak tempat di wilayah di utara, mulai dari perbatasan dengan Arab Saudi di Kitaf, Saada , kemudian Amran, Hajja, dan daerah propinsi Jawf hingga pintu gerbang kota Sanaa di daerah Arhab. Hautsi muncul sebagai pemenang.
Pada bulan Januari, setelah bertahan dari blokade terhadap Institute Darul Hadits, Salafi setuju untuk mengevakuasi pusat kelompok mereka dan merelokasi sementara ke Sanaa. Hautsi juga memenangkan pertempuran di Kitaf melengkapi kontrol mereka atas propinsi Saada. Apa yang telah mereka capai di Amran secara politis sangat penting.
Pada tanggal 3 Februari, mereka mengalahkan pejuang al-Ahmar di perkampungan yang menjadi basis mereka di Khamir, lalu membakar rumah-rumah keluarga al-Ahmar, mendapatkan stok persenjataan secara signifikan, serta memaksa para pejuang al-Ahmar mundur ke Sanaa.
Dengan pengecualian yang perlu dicatat bahwa brigade ke-310 militer di Amran yang secara politis sejalan dengan Ali Mohsen dan mendukung koalisi anti Hautsi, maka kehadiran negara sangat tidak ada.

Upaya hindari kekerasan

Meskipun ada seruan dari partai Islah dan al-Ahmar terhadap pemerintah pusat untuk menghentikan kekerasan, Presiden Hadi menghindari intervensi militer yang hampir pasti akan mengakibatkan situasi menjadi lebih rumit dan membuat perang berlarut-larut dengan hasil yang tidak pasti.

Sebaliknya, ia berkonsentrasi melengkapi hasil kesepakatan NDC yang akan berakhir pada tanggal 21 Januari 2014, yaitu masa dimulainya kerja komite mediasi dalam rangka merundingkan gencatan senjata lokal. Pada pertengahan Februari, kerangka kerja gencatan senjata terutama di Dammaj, Arhab, dan Amran telah berhasil menekan aksi kekerasan meskipun masih sering ditemukan adanya pelanggaran.
Pada bulan April 2014, presiden mengirim delegasi untuk menemui Abdul Malik untuk membahas tentang kekerasan yang masih terus berlangsung serta mendiskusikan cara mengimplementasikan hasil kesepakatan NDC, termasuk agenda pelucutan senjata dan re-integrasi para pejuang Hautsi.
Delegasi tersebut juga menyampaikan permintaan tambahan yang belum tertera atau dibahas dalam NDC, termasuk bahwa Hautsi harus membentuk partai politik. Respon Abdul Malik secara umum positif, meskipun belum ada kesepakatan terhadap masalah-masalah yang spesifik.
Akan tetapi, kekerasan terbaru terutama yang terjadi di Amran sangat membahayakan karena bisa membalikkan semua pembicaraan yang baru saja dirintis.
Pada bulan Mei, pertempuran antara Hautsi dengan pihak militer Brigade ke-310 yang didukung oleh partai Islah dan suku-suku afiliasi al-Ahmar berhasil membunuh puluhan pejuang.
Kemudian pada bulan Juni, dalam suatu eskalasi yang signifikan, angkatan udara Yaman membom posisi-posisi Hautsi. Para negosiator termasuk di antaranya Menteri Pertahanan berhasil memediasi sebuah kesepakatan gencatan senjata baru pada tanggal 4 Juni antara pihak security service dengan Hautsi di Amran, meskipun para kombatan sedang bersiap-siap untuk pertempuran-pertempuran baru selanjutnya.
http://www.kiblat.net/2015/03/31/syiah-hautsi-dari-saada-hingga-sanaa/

Alih bahasa: Yasin Muslim
Editor: Fajar Shadiq

Analisis Dua Tahun Revolusi Arab

Oleh  Adnan Khan (Aktifis HT Inggris)
https://matanbjm.wordpress.com/analisis-dua-tahun-revolusi-arab/

Revolusi Arab yang dimulai pada Januari 2011 yang menyebabkan beberapa pemberontakan dan mengakhiri pemerintahan kejam Hosni Mubarak dari Mesir, Ben Ali dari Tunisia dan Kolonel Gaddafi dari Libya. Hingga sekarang, Bashar al-Assad masih berkuasa. Pemilu telah dilakukan di sejumlah negara dan di semua negara itu partai-partai Islam memperoleh suara secara signifikan, sedangkan perolehan suara kaum sekularis buruk. Dua tahun sejak Revolusi Arab dimulai, partai-partai Islam masih menghadapi rintangan yang signifikan dalam mengembangkan konstitusi baru. Di Mesir dan Tunisia kelompok Islam yang menang kini telah berkuasa cukup lama untuk bisa dianalisis. Debat dan diskusi mengenai konstitusi baru dan peran Islam terus mendominasi Revolusi Arab.

Tunisia

Revolusi Arab mulai terjadi di Tunisia pada akhir tahun 2010. Sebuah pemerintahan sementara menggantikan Ben Ali, dan pemilu berlangsung pada bulan Oktober 2011. Partai Islam di negara itu, Ennahda, memenangkan pemilu legislatif, dengan memperoleh 90 dari 217 kursi, dan kemudian membentuk pemerintah koalisi dengan partai-partai sekuler yang memenangkan posisi kedua dan ketiga untuk kursi parlemen.
Tahun 2012 Tunisia telah didominasi oleh penulisan konstitusi baru bagi negara. Majelis konstituante yang didominasi oleh Ennahda diberikan wewenang bagi pemerintahan transisi untuk menyusun satu konstitusi baru. Majelis Konstituante belum mengeluarkan laporan dari setiap pertemuan baik laporan komite maupun laporan sesi pleno. Selain itu, laporan hasil voting dan kehadiran belum diungkap, meskipun para pengamat mencatat bahwa hanya lima atau sepuluh dari 20 anggota komisi penyusunan konstitusi yang hadir secara teratur. Ketidakhadiran telah menjadi sangat menonjol di antara partai-partai oposisi, sebagian karena mereka tidak melakukan pekerjaannya secara serius dan sebagian lagi karena beberapa ingin melihat Ennahdha gagal.
Konstitusi, yang disusun oleh enam komite penyusunan diumumkan ke publik pada bulan Agustus 2012, sebelum diserahkan kepada komite koordinasi lain dari majelis yang mempersiapkannya untuk dipresentasikan kepada sidang majelis paripurna untuk diperdebatkan dan dilakukan pemungutan suara. Setelah menjalankan pemerintahan, Ennahda menegaskan tidak akan menjadikan syariat sebagai sumber hukum dalam konstitusi baru dan akan mempertahankan sifat Negara sekuler. Ennahda bersikeras bahwa mereka akan terus mempertahankan artikel pertama Konstitusi 1956 pada UUD baru. Artikel ini mengabadikan adanya pemisahan antara agama dan negara, yang menyatakan bahwa: “Tunisia adalah sebuah Negara yang bebas, merdeka dan berdaulat, beragama Islam, berbahasa Arab dan Tunisia adalah sebuah negara republik” “Kami tidak akan menggunakan hukum untuk memaksakan agama, “[1] kata pemimpin Ennahda Rachid Ghannouchi kepada para wartawan di depan konstituen komite partai Islam yang melakukan voting untuk mempertahankan artikel konstitusional dengan 52 suara melawan 12.  Artikel itu, tambahnya, “merupakan obyek dari konsensus di antara semua sektor masyarakat; yang melestarikan identitas Tunisia sebagai negara Arab-Muslim sementara menjamin prinsip-prinsip negara yang demokratis dan sekuler “[2]. Islam adalah agama resmi Tunisia sementara konstitusi menetapkan presiden harus seorang Muslim, negara adalah sekuler. Sebagian menyuarakan keprihatinan bahwa Ennahda akan berusaha mengekang hak-hak perempuan dan kebebasan yang di negara Arab dikenal dengan hukum progresif. Namun, Ghannouchi mengatakan partai Islamnya tidak akan “memperkenalkan definisi yang ambigu dalam konstitusi dengan risiko yang memecah belah rakyat”, sambil menambahkan bahwa “banyak rakyat Tunisia yang tidak memiliki pandangan yang jelas tentang syariah dan praktek-praktek syariah yang salah di beberapa tertentu telah menimbulkan ketakutan”. Draft akhir konstitusi masih akan diterbitkan.

Ennahda didirikan pada tahun 1980 dengan model partai Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang selama dua dekade terakhir telah menjadi lebih nyaman dengan ide-ide sekularismenya, hingga ke titik yang sekarang yang memiliki lebih banyak kesamaannya dengan partai-partai sekuler dibandingkan terlihat sebagai sebuah partai Islam. Partai ini telah menjadi mirip dengan Partai AKP di Turki dimana Islam hanya sebagai nama saja.
Ummat Islam Tunisia memilih partai Islam karena sentimen keIslaman mereka. Posisi Ennahda telah menjadi semakin jelas sekarang pada saat mereka berkuasa, bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menerapkan Islam. Tunisia telah menjadi satu-satunya negara yang mengusir pemimpinnya namun secara terbuka menyatakan akan mempertahankan sistem yang ada, meskipun dengan beberapa perubahan palsu, namun Islam hampir tidak memiliki peran. Pemimpin Ennahda, Rachid Ghannouchi, menjelaskan berkaitan berkaitan dengan pendirian Khilafah setelah memenangkan pemilu: “Jelas, kami adalah sebuah negara bangsa. Kami menginginkan pemerintah untuk reformasi Tunisia, untuk negara Tunisia. Adapun isu Khilafah merupakan sebuah masalah yang tidak ada realitasnya. Persoalan realitas saat ini adalah bahwa kami adalah sebuah Negara Tunisia yang menginginkan reformasi, sehingga menjadi sebuah  negara untuk Rakyat Tunisia, tidak untuk melawan mereka “[3].

Mesir

Mohamed Mursi dilantik sebagai presiden Mesir pada hari Sabtu 30 Juni 2012. Ini adalah momen yang unik dalam sejarah Mesir karena sejumlah alasan. Pertama Mursi terpilih oleh rakyat, sesuatu yang tidak bisa diklaim oleh para pendahulunya. Dia juga merupakan pemimpin sipil pertama dalam sejarah negara itu. Partainya, Ikhwanul Muslimin (IM) telah bekerja bagi perubahan selama lebih dari delapan dekade, Mohamed Mursi mengambil kursi kepresidenan dalam sebuah negara yang paling berpengaruh dan berkuasa di wilayah itu jika bukan paling berpengaruh di dunia Muslim.
IM mengambil kendali kekuasaan di sebuah lingkungan, di mana kekuasaan presiden tidak didefinisikan dan konstitusi negara juga belum ditulis. Kedua, Mohamed Mursi dan IM telah berhadapan muka dengan tantangan dunia yang nyata sebagaimana yang dihadapi oleh kepala Negara manapun.
IM dan Mursi belum menyajikan visi besar bagi negara. Mereka telah menggunakan slogan-slogan seperti “Islam adalah solusi,” yang kini telah mereka campakkan. Apa yang tidak ada adalah kemana mereka berencana membawa rakyat dan bagaimana mereka berencana untuk memperkaya negara. Tanpa visi besar, Mesir akan tetap menjadi negara yang rapuh dan tidak akan mampu bergerak ke satu arah.
Sementara Panglima Tertinggi Tantawi dan Letnan Jenderal Sami Annan digantikan oleh para perwira termuda di SCAF di bawah kepemimpinan Jenderal Sisi, yang pada dasarnya adalah sebuah kudeta internal, Partai Mursi, Ikhwanul Muslimin, telah mengambil banyak langkah moderasi kepada Barat. IM telah menerima mandat besar untuk Islam, umat memberikan mereka mandat untuk memerintah dengan apa yang mereka kampanyekan tidak hanya untuk pemilu ini, namun untuk masa selama hampir satu abad yakni Islam.
Sejak kemenangan pemilu, IM telah berusaha keras untuk menunjukkan sikap moderasi terhadap Barat. Dalam usaha untuk menenangkan opini internasional, mereka meninggalkan semua kepura-puraan politik Islam. Dalam melakukannya, mereka menganggap bahwa mereka bersikap pragmatis, pintar dan cerdas secara politik. Ketika berkaitan dengan penerapan politik Islam mereka mengutip adanya hambatan konstitusional dan perlunya menjaga dukungan kaum minoritas. Ketika berkaitan dengan penerapan ekonomi Islam, mereka mengutip perlunya menghindari ketakutan para investor internasional dan wisatawan. Ketika berkaitan dengan kebijakan luar negeri Islam, mereka mengutip perlunya kebutuhan untuk memberikan gambaran yang moderat untuk menenangkan Barat. Realitas saat ini adalah bahwa kelompok-kelompok Islam yang dulunya mendekam di sel-sel penyiksaan dari orang-orang seperti Mubarak yang menggembar-gemborkan ‘Islam adalah solusi’, sekarang benar-benar mencegah Ummat dari pemerintahan Islam di Mesir.
Tentara dan partai sipil yang berkuasa berselisih untuk memberi jalan kepada Mursi untuk bertanggung jawab kepada bangsa. Mursi dan IM tidak lagi berbicara tentang ‘Islam adalah solusi’. Saad al-Husseini, anggota biro eksekutif Partai Kebebasan dan Keadilan Mesir mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa pariwisata adalah sangat penting bagi Mesir dan menekankan bahwa minum dan menjual alkohol adalah dilarang dalam Islam. Namun, dia menambahkan, “Namun, hukum Islam juga melarang memata-matai tempat-tempat pribadi dan ini juga berlaku bagi pantai-pantai… Saya berharap ada 50 juta wisatawan yang akan melakukan perjalanan ke Mesir walaupun mereka datang dengan bertelanjang.” [4]
Krisis konstitusi tahun 2012-an adalah karena perbedaan pusat-pusat kekuatan yang ada di negara itu. Mursi berusaha mengubah status quo, namun menyebabkan reaksi penolakan yang besar dari partai-partai sekuler yang keras kepala dan yudikatif, sementara tentara membiarkan Mursi untuk menjadi lemah.
Sistem yang dibangun oleh militer yang mengabadikan kepentingan AS dan melindungi negara Israel memiliki seorang manajer baru. Sementara banyak orang yang turun ke jalan-jalan untuk menuntut perubahan, wajah-wajah telah berubah, namun sistem yang mendasari negara tetap bercokol di tempatnya.

Libya

Pada bulan November 2011, Dewan Transisi Nasional (NTC) dibentuk pemerintah untuk menjadi otoritas politik setelah jatuhnya Gaddafi. Pemerintah Libya telah menghabiskan seluruh masa transisi, yang berakhir pada bulan Juli 2012, dengan pemilu yang berfokus untuk memperoleh legitimasi politik nasional, suatu prasyarat untuk membangun aparat keamanan yang kompeten yang mampu menangani ancaman-ancaman yang berasal dari Benghazi maupun tempat-tempat lain.
Mustafa Abushagur yang terpilih sebagai perdana menteri Libya pada bulan September 2012 adalah seorang mantan warga negara Amerika Serikat dan mantan karyawan NASA. Abushagur menjadi perdana menteri hanya selama beberapa minggu, setelah terpilih pada tanggal 12 September, dan diberi waktu 72 jam untuk membentuk sebuah kabinet baru, dan ketika dia gagal dia dipecat dalam sebuah mosi tidak percaya. Kabinet-kabinet harus disetujui oleh Majelis Umum Nasional (GNC), yang terpilih pada bulan Juli 2012. Kejatuhannya membawa Ali Zidan ke tampuk kekuasaan.
Pada akhir tahun 2012, rezim Libya masih menghitung tantangan-tantangan di antara tugas-tugas yang paling dasar dari pembentukan negara: membangun keamanan internal. Pembentukan Tentara Nasional Libya yang masih berlangsung- telah menjadi pusat pemerintah untuk menyelesaikan tugas ini, tapi sejauh ini, semua upaya yang mengancam milisi-milisi untuk tunduk tidak menghasilkan apapun. Ketidakmampuan otoritas pusat yang sah untuk memaksakan perintahnya kepada negara telah mengabadikan  penyebaran kekuasaan kepada pemerintah-pemerintah kota yang dipilih secara lokal dan meningkatkan pengaruh milisi-milisi lokal.
Milisi regional terbesar Libya ada di Zentan, Misurata dan Benghazi. Milisi-milisi itu, selain berkaitan dengan dewan-dewan kota, tetap menjadi kendala terbesar bagi pemerintah pusat untuk mencapai kontrol atas negara Libya bersatu. Pasukan keamanan negara telah mampu mencegah serangan-serangan para pemberontak milisi atau mampu meyakinkan para pemimpin milisi regional untuk meletakkan senjata mereka atau bergabung dengan pasukan keamanan. Misalnya, Brigade al-Awfea mengambil alih bandara Tripoli pada bulan Juni 2012 dan menahannya hingga keesokan harinya, ketika Dewan Transisi Nasional menegosiasikan sebuah resolusi. Pada bulan April 2012, dewan harus mengamankan bandara internasional, yang telah diambil alih oleh Milisi Zentan, dan kota bandara di dalamnya, Benita, yang telah jatuh di bawah kendali Souq al-Jomaa, sebuah milisi yang berasal dari pinggiran Tripoli dengan nama yang sama.
Bekas kubu pemberontak seperti Benghazi dan Misurata, terus bekerja dari kampung halaman mereka. Perwakilan regional ini terus mempertahankan ikatan yang kuat baik kepada komunitas mereka maupun kepada milisi-milisi lokal, dengan membangun jaringan patronase mereka sendiri. Hal ini juga yang menyebabkan peningkatan dukungan bagi dewan kota lokal yang terpilih dalam bekas-bekas benteng pemberontak, di mana pengaruh Tripoli dan lembaga-lembaga birokrasi terus diguncang. Dewan Kota Benghazi mengumumkan pada bulan Maret 2012 untuk mengambil alih kontrol masalah administrasi harian kota itu, Para anggota dewan kota Benghazi mengelola proyek-proyek infrastruktur lokal dan isu-isu keamanan dan menyelesaikan perselisihan dengan para pesain regional – yang bebas dari pemerintah pusat dan mendapat dukungan milisi-milisi lokal.
Libya kini dikendalikan oleh jaringan milisi bersenjata, dimana banyak yang mewakili suku-suku kuat. Kelemahan pemerintah pusat berarti mereka dapat melakukan operasinya dengan tidak mendapat hukuman. Beberapa kota telah mengalami eksperimen-eksperimen politik mereka sendiri.
Milisi-milisi lokal juga mengontrol infrastruktur ekspor minyak yang penting dan telah mampu membuktikan diri untuk mengambil alih infrastruktur vital seperti bandara untuk menuntut sesuatu dari Dewan Transisi Nasional. Saat pemerintah pusat gagal menjamin keamanan dan tidak dapat memenuhi janji untuk membayar gaji para milisi, perusahaan-perusahaan minyak Barat mulai berhubungan langsung dengan para milisi, dengan perusahaan-perusahaan minyak lokal dan para pemimpin sipil daerah agar bisa bekerja hari demi hari. Sejumlah sumber telah mengkonfirmasi bahwa perusahaan-perusahaan minyak Barat telah menyewa para milisi lokal, khususnya milisi Zentan, untuk melindungi lading-ladang minyak di barat daya Tuareg. [5]
Setelah penggulingan Gaddafi, Libya  tetap dalam keadaan fluktuasi, dimana NTC dan pemerintahan penggantinya GNC hanya memiliki otoritas pusat yang sedikit.

Suriah

Revolusi di Suriah kini telah berkecamuk selama hampir dua tahun. Pembantaian yang dilakukan oleh rezim Al – Assad telah hampir menjadi sesuatu yang normal. Umat Islam bangkit melawan pemerintahan Bashar al-Assad yang bengis walaupun dilakukan taktik kejam dengan penindasan yang digunakan untuk memadamkan pemberontakan. Dengan memiliki sedikit persenjataan dan dengan pembantaian yang dilakukan di seluruh negeri terhadap rakyat Suriah menyebabkan kebuntuan rezim Suriah. Umat terus menunjukkan perlawanan yang luar biasa dalam menghadapi tank-tank baja, jet-jet tempur dan artileri.
Pemberontakan di Suriah dimulai pada bulan Maret 2011, ini adalah saat demonstrasi skala besar dimulai dan juga awal penumpasan yang bengis oleh rezim. Saat pembunuhan meningkat, sebagian rakyat Suriah meminta bantuan internasional untuk melawan terhadap rezim dan hal ini membuka jalan campur tangan internasional. Masyarakat internasional sampai saat ini mengajukan sejumlah solusi terhadap krisis. AS menggeser sikapnya dari yang awalnya mendukung Assad sebagai seorang ‘reformis yang potensial’ menjadi sikap yang mencela rezim – tetapi sepanjang waktu tidak melakukan apapun selain mengeluarkan pernyataan-pernyataan.
Saat gambar-gambar mengenai berlangsungnya pembantaian ke seluruh dunia, seorang misi pengamat Liga Arab dikirim untuk bernegosiasi dengan semua pihak untuk mengakhiri konflik. Misi ini selalu ditakdirkan untuk gagal dan menjadi pertanyaan seberapa seriuskah masyarakat internasional tentang misi seperti itu. Umat berjuang melawan teror Al-Assad, sementara perlawanan ini menjadikan internasional untuk mulai membangun pemerintahan pasca-Al-Assad di Suriah. Masyarakat internasional berpaling pada Dewan Nasional Suriah (SNC) dan Komite Koordinasi Lokal (LCC) dengan harapan bisa ambil bagian setelah jatuhnya kekuasaan Al – Assad.
Digunakannya Rusia oleh AS dan dukungan nyata China atas rezim Suriah adalah salah satu alasan kenapa konflik Suriah meluas di luar kendali. AS menunjukkan negara-negara Eropa dan dirinya sendiri berada di satu sisi dengan menyerukan al-Assad untuk mundur sementara Rusia dan China di sisi lain berusaha mempertahankan Al-Assad.
Kemudian Kofi Annan memimpin gencatan senjata yang diumumkan, yang merupakan upaya lain untuk mengatasi pemberontakan. Rencana ini tidak berguna sebagai misi pengamat Liga Arab. Ketika strategi ini mengungkap bahwa AS mulai menyerukan penyelesaian model Yaman untuk bisa diterapkan atas Suriah, dimana para pemberontak dibawa ke meja perundingan. Masyarakat internasional mulai mempromosikan sebuah “transisi politik” yang sama seperti langkah-langkah yang diambil oleh Ali Abdallah Saleh di Yaman. Strategi ini gagal ketika pada tanggal 18 Juli sebuah bom menghancurkan Markas Keamanan Nasional di Damaskus sehingga menewaskan beberapa petinggi rezim keamanan dan para kandidat yang berencana mengambil alih kekuasaan. Menteri Pertahanan Suriah Dawoud Rajha, mantan Menteri Pertahanan Hassan Turkmani, Menteri Dalam Negeri Mohammad al-Shaar, Kepala Dewan Keamanan Nasional Hisham Biktyar dan Deputi Menteri Pertahanan Assef Shawkat (kakak ipar Al-Assad) semuanya dilaporkan telah tewas, sementara Saudara Al-Assad Maher al Assad – Pengawal Republik dan Panglima Divisi Keempat dilaporkan telah kehilangan kedua kakinya.
Rezim Assad gagal memadamkan pemberontakan di Homs, Hama, Idlib dan perlawanan yang mencapai Damaskus – yang merupakan markas rezim. Hal ini mengkhawatirkan n AS dan menjadikannya terus menyoroti prospek terjadinya perang saudara dan jatuhnya senjata kimia ke tangan yang salah. Hal ini menyebabkan kebingungan pernyataan yang dikeluarkan pada bulan Juni oleh para pejabat AS seperti Ketua Gabungan Kepala Staf AS, Menteri Pertahanan AS, Sekretaris Negara dan Presiden sendiri untuk meningkatkan seruan intervensi militer.
Situasi saat ini di negara itu adalah bahwa rezim al-Assad yang mengendalikan setiap lapisan masyarakat telah gagal untuk mengakhiri pemberontakan, dengan menggunakan segala macam taktik bengis untuk memadamkan permintaan perubahan dari massa. Situasi ini dipersulit oleh kekuatan-kekuatan internasional yang semuanya punya andil dan yang telah melakukan manuver untuk mempengaruhi hasil-hasil yang didapatkan. Strategi yang dilakukan oleh Barat secara berturut-turut telah gagal membendung seruan bagi perubahan oleh rakyat Suriah. Apa yang saat ini sedang berlangsung adalah pertempuran untuk pasca Al-Assad antara kaum Muslim Sunni dan Amerika Serikat.
Pada tahun 2012 peristiwa yang mirip dengan pemberontakan yang terjadi di seluruh wilayah, umat di Suriah telah menghilangkan ketakutan mereka terhadap rezim dan semua peralatannya yang terkenal buruk dan memutuskan untuk melawan rezim. Umat di Suriah telah berperang selama lebih dari satu tahun, dengan pengalaman dan bantuan yang diperolah dari tentara Suriah yang membelot telah menjadikan ketajaman pertempuran mereka menjadi lebih baik. Ketajam peningkatan pertempuran dalam menghancurkan sejumlah tank tentara Suriah dan kendaraan tempur lapis baja telah membuktikan kemampuan umat. Masuknya para pejuang dari negara lain seperti yang telah dilaporkan juga telah mendukung umat. Termasuk juga bergabungnya para pejuang Suriah dan Irak yang berpengalaman dalam melawan pasukan AS. Pengalaman mereka dalam membuat alat peledak rakitan (IED) akan memiliki efek yang sangat besar pada kemampuan umat untuk menimbulkan korban dan kerusakan pada militer Suriah.
Inilah alasannya mengapa militer Suriah menghindari serangan lapis baja yang mahal pada wilayah-wilayah perkotaan yang dikuasai pemberontak di mana kendaraan lapis baja lebih rentan. Rezim hanya mengandalkan serangan udara dan penembakan jarak jauh dengan menggunakan tank, artileri dan dukungan serangan helikopter. Tentara Pembebasan Suriah (FSA) tidak perlu lagi mencocokkan nomor pasukan keamanan atau senjata karena para pemberontak dapat memaksa rezim untuk berperang dimana saja dengan sekaligus, dengan mengambil keuntungan mobilitas dan fleksibilitas untuk melakukan serangan yang efektif dan penyergapan di manapun dan kapanpun.
Setelah puluhan tahun dalam penindasan, umat di Suriah berdiri menantang penumpasan bengis oleh rezim Al – Assad. Untuk saat ini, perjuangan di Suriah ada dalam berbagai kekuatan untuk mendapatkan pengaruh di negara yang strategis ini. Situasi di negara ini masih berubah dan berpotensi berubah ke segala arah. Tantangan Umat di Suriah adalah untuk tidak tergoda dengan janji-janji senjata oleh kekuatan-kekuatan asing dan berkompromi dengan pemberontakan mereka.
Ringkasnya, pengamatan-pengamatan berikut dapat dilakukan pada ulang tahun kedua Revolusi Arab:
– Di Tunisia, Maroko dan Mesir, para pemilih yang berjumlah jutaan telah secara jelas menyatakan penentangan mereka terhadap nilai-nilai liberal sekuler dan berkeinginan kuat bagi pemerintahan Islam. Namun, pihak yang sama berusaha keras untuk menunjukkan loyalitas Islam mereka kepada massa dalam kampanye pemilu, namun sekarang berusaha lebih keras untuk menunjukkan sikap lunak mereka kepada Barat. Kelompok-kelompok Islam, apakah itu Ennahda di Tunisia atau Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) Ikhwanul Muslimin di Mesir telah membuat satu kesalahan strategis. Partai-partai Islam telah memenangkan pemilu yang cacat sejak awal. Pemilu itu adalah untuk memilih parlemen yang merupakan peninggalan dari segala sesuatu yang salah di dunia Muslim. Alih-alih membuat perubahan dan mengganti sistim, partai-partai Islam itu telah memasuki sistem yang korup dan menggantikan Ben Ali dan Hosni Mubarak dengan diri mereka sendiri dalam menjaga sistem yang korup dan sekuler.
– Sementara banyak dari kelompok-kelompok Islam yang sekarang berkuasa, yang telah berkorban banyak di masa lalu dan menerima tindakan kebrutalan para penguasa diktator, perhitungan politik mereka banyak yang berakar pada mitos. Mereka percaya bahwa sistem Islam hanya dapat dilaksanakan secara bertahap. Sementara kelompok-kelompok yang telah mencapai kekuasaan memiliki banyak kekurangan dalam pengembangan kebijakan dan berpendapat bahwa solusi Islam tidak siap untuk berurusan dengan masalah-masalah seperti kemiskinan, pengangguran dan pembangunan. Mereka juga percaya bahwa penerapan Islam akan menakut-nakuti kaum minoritas, menakut-nakuti para investor dan menakut-nakuti masyarakat internasional.
– Ada sejumlah negara yang belum terlihat pemberontakan seperti Arab Saudi, Yordania, dan sebagian besar negara-negara Teluk. Namun ada alasan khusus untuk hal ini. Hubungan antara para penguasa dan orang-orang di negara-negara berbeda itu jika dibandingkan dengan hubungan antara para penguasa dan rakyat di Libya, Suriah dan Mesir. Di Libya, Suriah dan Mesir para penguasa memerintah dengan tangan besi, dengan mendirikan negara-negara polisi dan kohesi sosial dipertahankan oleh dinas rahasia. Faktor-faktor itu tidak ada di negara-negara Teluk, Saudi dan Yordania.
– Protes-protes di Yordania hanya terbatas pada seruan untuk menjatuhkan Perdana Menteri. Raja Abdullah telah menolak berbagai pemerintah dikarenakan protes-protes jalanan. Sejak kemerdekaan Yordania pada tahun 1946, istana telah menunjuk lebih dari 60 perdana menteri, termasuk tiga diantaranya sejak kerusuhan Arab pecah pada tahun 2011. Raja Abdullah membubarkan pemerintahan Perdana Menteri Samir Rifai dan kemudian memasukkan Marouf al-Bakhit, seorang mantan jenderal, yang bertanggung jawab untuk membentuk kabinet baru dan melembagakan reformasi. Protes-protes masih terus berlangsung, hingga menyebabkan Raja Abdullah memecat Bakhit dan kabinetnya, yang menyebutkan Awn Shawkat Al-Khasawneh untuk memimpin pemerintah baru dan melakukan reformasi baru. Raja Abdullah telah berhasil hingga saat ini untuk membendung protes yang terus-menerus menggoyang pemerintah dan hal ini telah menenangkan rakyat.
– Arab Saudi telah mampu menyajikan protes-protes yang terjadi di wilayahnya sebagai pemberontakan kaum Syiah dan hal ini telah menyebabkan sebagian besar penduduk mengawasi dengan ketat kota-kota seperti Qatif, al-Awamiyah, dan Hofuf. Dalam rangka membendung pemberontakan, monarki mengumumkan serangkaian manfaat bagi warganya sebesar $ 10,7 miliar. Hal ini termasuk pendanaan untuk mengimbangi inflasi yang tinggi dan untuk membantu orang-orang muda pengangguran dan warga Saudi yang belajar di luar negeri, serta menghapus sebagian pinjaman. Sebagai bagian skema Saudi, para pegawai negeri melihat kenaikan gaji 15%, dan uang tunai tersedia bagi kredit perumahan. Tidak ada reformasi politik yang diumumkan sebagai bagian dari paket. Grand Mufti Arab Saudi juga mengeluarkan fatwa yang menentang petisi dan demonstrasi, fatwa itu termasuk “ancaman yang besar terhadap perbedaan pendapat internal.” [6]
– Negara-negara Teluk tidak melihat banyak protes selain Bahrain dan Oman. Negara-negara kota tersebut menenangkan pemberontakan dengan membuat beberapa reformasi, dengan merubah kabinet-kabinet dan melalui ekonomi. Meskipun banyak dari negara itu adalah monarki mereka tidak memerintah dengan tangan besi. Sementara Bahrain terus menekan mayoritas penduduk Syiah, Oman adalah satu-satunya negara Teluk lainnya yang melihat terjadinya protes yang signifikan. Sultan melanjutkan kampanye reformasinya dengan membubarkan beberapa kementerian, mendirikan beberapa kementrian baru, pemberian manfaat kepada mahasiswa dan pengangguran, menolak sejumlah menteri, dan me-reshuffle kabinetnya tiga kali. Selain itu, hampir 50.000 pekerjaan diciptakan di sektor publik, termasuk 10.000 pekerjaan baru di Kepolisian Royal Oman. Upaya pemerintah sebagian besar telah menenangkan para demonstran, dan Oman belum melihat demonstrasi yang signifikan sejak Mei 2011, ketika protes yang semakin keras di Salalah mereda.
– Pemberontakan lama tidak terjadi di Pakistan. Pakistan belum menjadi sebuah kediktatoran bengis seperti yang telah terjadi di Libya, Suriah dan Mesir. Sejak era Musharraf, Pakistan telah bergerak sedemikian rupa, seperti yang dapat dilihat dengan hilangnya banyak orang yang dikaitkan dengan terorisme, namun fenomena ini adalah relatif baru. UU di Libya, Mesir dan Suriah berada di tangan para diktator bengis dan satu-satunya cara untuk mengubahnya adalah melalui pemberontakan.
Berbeda dengan Libya, Mesir dan Suriah,  sistem politik Pakistan tidak dikendalikan oleh klan tunggal, namun terdapat pusat-pusat kekuasaan yang berbeda, dimana dua keluarga secara historis mendominasi sistem politik. Para pemilik tanah feodal, industrialis, keluarga-keluarga kaya dan tentara semuanya adalah pusat-pusat kekuasaan yang menjaga arsitektur politik Pakistan. Sementara itu kaum oportunis dan berbagai fraksi telah memasuki proses politik untuk kepentingan pribadi mereka. Proses politik di Pakistan memiliki keterlibatan segmen yang jauh lebih luas dari penduduk dibandingkan dengan yang ada di Libya, Mesir dan Suriah dan hal ini merupakan garis hidupnya.
Untuk saat ini, sedruan perubahan di Pakistan adalah untuk membuat sistem politik yang lebih demokratis atau mensahkan sebagian hukum Islam. Inilah alasannya mengapa belum terjadi pemberontakan di negara itu meskipun perekonomian terus bergoyang dan pemadaman listrik telah menjadi norma.
– Dalam penilaian kami dari Revolusi Arab yang terjadi pada akhir 2011 kami menyimpulkan:
“Islam telah memainkan peran sentral dalam pemberontakan. Kelompok-kelompok seperti Ennahdah di Tunisia dan Ikhwanul Muslimin di Mesir telah mendapatkan keuntungan signifikan dalam pemilu karena mandat Islam mereka beresonansi dengan rakyat. ”
Namun, disamping pemberontakan Suriah pemberintakan lain yang menjadi mandeg adalah karena orang-orang yang mendukung Islam dalam realitasnya adalah orang-orang yang menjaga sistim pra-revolusi. Mereka berusaha untuk menjaga Barat agar tetap senang dengan sikap moderasi mereka dan orang-orang yang memberikan suara kepada mereka merasa bahagia dengan dibuat perubahan yang pura-pura, sementara semua mereka tetap dalam sistem sekuler dan melindungi kepentingan-kepentingan Barat.
Pada tahun 2013 tantangan-tanrangan berikut adalah yang paling mungkin perlu ditangani:
– Seharusnya sekarang menjadi jelas bahwa intervensi Barat belum memperhitungkan tuntutan-tuntutan di wilayah itu. Inilah alasannya mengapa Barat melakukan kontak dengan individu-individu yang sangat spesifik dan kelompok-kelompok yang mendukung cita-cita Barat atau dapat dirubah untuk mendukung cita-cita tersebut. Tantangan bagi umat Islam di wilayah itu adalah untuk memastikan revolusi mereka tidak dibajak oleh agenda asing. Intervensi Barat di Mesir dan Libya adalah kunci terhadap infiltrasi revolusi Barat. Melalui hal ini, diharapkan mereka memiliki suara di wilayah tersebut.
– Perdebatan terbesar adalah sistem pemerintahan di wilayah tersebut. Semua seruan bagi Islam sedang dikucilkan oleh media global yang ingin melihat nilai-nilai Barat menguasau wilayah tersebut. Tekanan ini telah menyebabkan kelompok-kelompok Islam banyak yang menderita oleh para diktator di wilayah itu untuk mengkompromikan kebijakan Islam mereka dalam rangka menenangkan Barat. Membangun Islam politik merupakan tantangan kawasan tersebut yang perlu untuk diambil.
– Kelompok yang berbeda yang cenderung berbeda datang untuk bersama-sama menggulingkan para penguasa wilayah itu. Kesatuan ini kemudian berakhir ketika para penguasa itu digulingkan. Sekarang perbedaan telah muncul pasca-rezim dan hal ini telah digunakan oleh Barat untuk memecah belah rakyat dan memungkinkan Barat menumbuhkan pengganti mereka yang akan mendapatkan mereka dukung. Tantangan bagi masyarakat di wilayah itu adalah untuk mengembangkan sebuah sistem baru bagi wilayah itu yang mampu menyatukan rakyat dan mengenyahkan campur tangan Barat.
– Upaya-upaya AS untuk melakukan campur tangan dalam pemberontakan di Suriah terus berlanjut. AS sedang mencoba memancing  aktivis-kativis yang “terpancing”  melalui penawaran pelatihan dan dukungan sehingga mereka dapat memperoleh pengaruh yang lebih besar dalam pemberontak di wilayah Suriah dan mengambil peran kepemimpinan. Dilaporkan bahwa pada minggu terakhir bulan Agustus 2012 AS dan Inggris mendirikan sebuah kamp pelatihan di perbatasan Turki untuk melatih para aktivis Suriah dari dalam Suriah. Telegraf melaporkan bahwa: “Sebuah jaringan bawah tanah bagi para aktivis oposisi Suriah dibuat untuk menerima pelatihan dan persediaan peralatan penting sebagai upaya gabungan Amerika dan Inggris untuk membentuk suatu alternatif yang efektif kepada rezim Damaskus. Puluhan pembangkang telah dibawa keluar Suriah untuk diperiksa dan mendapat dukungan asing. “Orang-orang yang direkrut melakukan “dua hari pemeriksaan yang dirancang untuk memastikan bahwa program tersebut tidak jatuh ke dalam perangkap yang mempromosikan agenda sektarian atau memmunculkan gerakan fundamentalis gaya al-Qaeda.” Opsi terakhir yang tersisa bagi AS untuk menyusup dan mempengaruhi FSA untuk mematuhi rantai komando yang setia dan dikontrol oleh AS. Ini akan mengarahkan para pemberontak dari tujuan mereka untuk menjatuhkan rezim dan untuk duduk di meja perundingan. Tantangan umat adalah untuk menjaga pemberontakan yang murni, yang bebas dari kontrol Barat. Hasil-hasil yang terjadi di Suriah akan berdampak ke seluruh wilayah. (RZ)

Artikel ini adalah versi singkat dari ekstrak dari publikasi tahunan yang diterbitkan oleh Khilafah.com – Strategic Estimate 2013.

[1] Tunisia’s Islamists rule out sharia in constitution, France 24, March 2012, retrieved 23 September 2012, http://www.france24.com/en/20120328-tunisia-islamists-rule-out-sharia-constitution-ennahda
[2] Ibid
[3] Interview with Rachid Ghannouchi, France 24, 13 November 2011, retrieved 11 November 2012, http://alhittin.com/2011/11/13/rashid-al-ghannushi-rejects-the-idea-of-khilafah-wants-reforms/
[4] Egypt’s Islamist parties allay public fears but say no presidency for Copts, Al Arabiya, January 2012, retrieved 23 September 2012, http://english.alarabiya.net/articles/2012/01/03/186120.html
[5] Libyan violence threatens oil recovery, UPI.com, 26 September 2012, retrieved 11 November 2012, http://www.upi.com/Business_News/Energy-Resources/2012/09/26/Libyan-violence-threatens-oil-recovery/UPI-73801348692042/
[6] A fatwa from the Council of Senior Scholars in the Kingdom of Saudi Arabia warning against mass demonstrations, Asharq al awsat News, October 2011, retrieved 1 October 2012, http://islamopediaonline.org/fatwa/fatwa-council-senior-scholars-kingdom-saudi-arabia-warning-against-mass-demonstrations

Populasi Muslim Dunia ( Part 1 ) : Hampir Seperempat Penduduk Dunia Adalah Muslim


3 Votes

Sabtu, 24 Oktober 2009 | 23:49
https://abdaz.wordpress.com/2009/10/24/populasi-muslim-dunia-part-1-hampir-seperempat-penduduk-dunia-adalah-muslim/

Satellite-- There has been an upward trend in building new mosque in Germany. 

Awal bulan Oktober ini, The Pew Forum on Religion & Public Life , sebuah lembaga riset dan survei terkemuka Amerika Serikat yang nonpartisan dan nonadvokasi , merilis laporan penelitiannya tentang Mapping the Global Muslim Populatian : A Report on the Size and Distribution of the World’s Muslim Population. Laporan ini merupakan sebuah studi demografis yang komprehensif dari 232 negara dan wilayah  ( territory) selama tiga tahun.

Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah 1,57 milyar penduduk Muslim di dunia saat ini, merepresentasikan 23 % dari penduduk dunia yang pada 2009 diperkirakan berjumlah sekitar 6,8 milyar. Dengan demikian, sekarang ini hampir satu dari setiap empat penduduk dunia beragama Islam atau hampir seperempat penduduk dunia adalah Muslim.
Dalam estimasi-estimasi sebelumnya, penduduk Muslim dunia diperkirapakn sekitar 1 sampai 1,8 milyar jiwa. Tetapi estimasi-estimasi ini lebih merupakan dugaan-dugaan tanpa sumber-sumber spesifik atau penjelasan tentang asal dan dan dasar estimasi.
Laporan ini berdasarkan penelitian yang melibatkan konsultan sekitar 50 demografer dan ahli sosial dari universitas dan pusat riset seluruh dunia. Para peneliti Pew Forum ini mengumpulkan dan menganalisis sekitar 1.500 sumber dan data kependudukan.
Populasi Muslim saat ini, 60 % lebih hidup di benua Asia, dan sekitar 20% di Timur Tengah dan Afrika Utara. Tapi, Timur Tengah dan kawasan Afrika Utara memiliki pesentase tertinggi dari negara-negara mayoritas penduduknya Muslim. Setengahnya lebih dari 20 negara dan wilayah di kawasan ini memiliki populasi sekitar 95 % atau lebih penduduknya Muslim.
Dua pertiga umat Muslim dunia tinggal di 10 negara. Dari kesepuluh negara ini, enam di Asia ( Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Iran, dan Turki ), tiga di Afrika Utara ( Mesir, Algeria, dan Maroko ) dan satu negara di Sub-Sahara Afrika ( Nigeria ). Dari semua itu, Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, menurut estimasi berjumlah 202.867.000 jiwa, 88,2% dari seluruh penduduk negeri ini, atau 12,9% dari populasi Muslim dunia.
Pakistan , di urutan ke dua, berpenduduk 96,3% Muslim, yaitu 174.082.000 jiwa, atau 11,1% dari populasi Muslim dunia. Dan ke tiga, adalah India. Walaupun persentasenya hanya 13,4 % tapi jumlahnya ketiga terbesar dunia, yaitu 160.945.000 jiwa, atau 10,3% dari jumlah Muslim dunia.
Sementara itu, Bangladesh berpenduduk 145.312.000 Muslim, 89,6% dari keseluruhan penduduknya, atau 9,3% dari populasi Muslim dunia. Sedangkan dua negara Afrika menduduki urutan ke lima dan ke enam, yaitu Mesir dan Nigeria. Mesir berpenduduk 94,6% Muslim, yaitu 78.513.000 jiwa, atau 5,0% dari penduduk Muslim dunia. Dan Nigeria, 78.056.000 penduduknya Muslim, yaitu 50,4% atau 5,0% dari keseluruhan Muslim di dunia.
Dua negara Asia lainnya yang penduduk Muslimnya menduduki urutan ke tujuh dan ke delapan, yaitu Iran dan Turki. Iran berpenduduk 99,4% Muslim, yaitu 73.777.000 jiwa, atau 4,7% Muslim dunia. Sedangkan Turki jumlahnya hampir sama dengan Iran, yaitu 73.619.000 jiwa, hampir 98% dari seluruh penduduknya, dan 4,7% dari penganut Islam dunia.
Jumlah penduduk Muslim terbesar ke-9 dan ke-10 ditempati oleh dua negara Afrika Utara, yaitu Algeria dan Maroko. Algeria berpenduduk 98,0% Muslim atau 2,2% dari seluruh Muslim dunia, yaitu 34.199.000 jiwa. Sedangkan Maroko penduduknya hampir 99% adalah Muslim, yaitu 31.993.000 jiwa, tapi persentase dari populasi Muslim dunia kurang dari 2%.
Dari data-data tersebut, mungkin sebagian kalangan Muslim merasa senang dengan jumlah populasi yang begitu besar, karena secara demografis tidak bisa begitu saja diabaikan. Sebaliknya kalangan non-Muslim dan negara-negara tertentu, di Barat maupun di Asia merasa khawatir dengan jumlah yang besar itu, bahkan diperkirakan akan terus bertambah lebih besar.
Sementara itu, kita diingatkan oleh kekhawatiran Rasulullah SAW tentang jumlah Muslim yang begitu banyak tapi bagaikan buih di lautan , terombang-ambing tanpa arah, tidak jelas eksistensinya. Dan hal itu kita rasakan sekarang ini.
Hampir setiap negara Muslim saat ini menghadapi masalah besar dalam berbagai bidang kehidupan, baik bidang pendidikan, ekonomi, sosial politik, maupun keamanan. Dan semua itu mempengaruhi kulitas umat Muslim. Jadi jumlah populasi yang besar tidak sejalan dengan kualitas hidup penduduknya.
Untuk itu perlu diupayakan berbagai langkah besar agar populasi yang besar itu bisa sejalan dengan peningkatan kualitas hidup umat dalam segala aspek kehidupan. Dan itu semua menjadi tanggung jawab kaum Muslim sendiri, bukan siapa-siapa.
Gambar : IslamOnline.net



Populasi Muslim Dunia ( Part 2 ) : Muslim Sebagai Mayoritas dan Minoritas


5 Votes

Senin, 26 Oktober 2009 | 23:48
bdaz.wordpress.com/2009/10/26/populasi-muslim-dunia-part-2-muslim-sebagai-mayoritas-dan-minoritas/
cov01a-islamonline.net 

Sebaran populasi Muslim dunia tidak terkonsentrasi  di    kawasan   ( region )  tertentu.  Pew Forum, dalam laporan setebal 62 halaman itu, tidak menyebutkan apakah ada suatu negara yang tidak terdapat penduduk Muslimnya. Vatican City , misalnya, di dalam laporan itu tidak disebutkan berapa jumlah Muslimnya, tapi persentasenya kurang dari 0,1% ( World Religion Database, 2005 ). Jadi di sana pun terdapat warga Muslim, walau sekecil apa pun jumlahnya .

Kawasan dengan jumlah populasi Muslim terbesar terdapat di negara-negara Asia-Pasifik. Menurut estimasi tahun ini sebesar 972.537.000 jiwa, 24,1% dari jumlah penduduk di kawasan ini, atau 61,9% dari populasi Muslim dunia.
Sementara itu, Timur Tengah dan Afrika Utara, yang sebagian besarnya termasuk dalam kawasan Dunia Arab, terdapat 315.322.000 warga Muslim. Persentasenya sangat tinggi, yaitu 91,2% dari jumlah penduduknya, tapi hanya 20,1% dari total populasi Muslim dunia.
Negara-negara di kawasan Sub-Sahara Afrika memiliki jumlah penduduk Muslim yang sangat besar juga. Kawasan ini berpenduduk 240.632.000 umat islam, 30,1% dari keseluruhan penduduknya, atau 15,3% dari populasi Muslim dunia.  Sedangkan negara-negara Eropa yang sering dipersepsikan sebagai negara-negara yang Muslimnya sedikit, ternyata memiliki jumlah warga Muslim yang cukup besar. Di kawasan ini tinggal 38.112.000 warga Muslim, atau 5,2% penduduk Eropa adalah Muslim. Dengan jumlah sebanyak itu, di Eropa tinggal 2,4% dari keseluruhan populasi Muslim di muka bumi ini.
Benua Amerika merupakan kawasan yang paling sedikit populasi Muslimnya. Jumlah Muslim keseluruhan di kawasan ini sebesar 4.596.000 jiwa. Hanya 0,5% penduduk kawasan ini yang beragama Islam, dan 0,3% dari total penduduk Muslim di  dunia ini. Amerika Serikat  memiliki jumlah Muslim terbesar di benua ini yaitu 2.454.000, tapi persentasenya hanya 0,8% saja. Suriname memiliki persentase terbesar, yaitu 15,9%. Namun penduduk Muslim Suriname ini hanya 83.000 jiwa.
Dari 1.571.198.000 populasi Muslim di muka bumi ini, 80%-nya tinggal di negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Sedangkan , dengan jumlah yang cukup signifikan, sisanya ( 20%) tinggal sebagai warga minoritas di negaranya. Diperkirakan sekitar 317 juta umat Muslim tinggal sebagai minoritas, dan sekitar 240 juta tinggal di lima negara , yaitu India ( 161 juta ), Ethiopia ( 28 juta ), China ( 22 juta ),  Russia  ( 16 juta ) dan Tanzania  ( 13 juta ). Dua dari sepuluh negara dengan jumlah Muslim terbesar tinggal sebagai warga minoritas di Eropa, yaitu Russia (  16 juta )  dan  Jerman ( 4 juta ).
Ada juga negara yang Muslimnya minoritas , tapi populasinya sangat besar. India, misalnya, negara yang mayoritas penduduknya Hindu, memiliki populasi Muslim terbesar ke tiga di dunia. Populasi Muslim Ethiopia sebesar Afghanistan, 28 juta jiwa. China memiliki umat Muslim lebih besar dari Syria. Sementara itu, di Russia tinggal warga Muslim dengan jumlah lebih besar dari Jordan dan Libya digabungkan. Sedangkan Jerman memiliki penduduk Muslim lebih besar dari Lebanon.
Negara-negara dengan jumlah umat Muslim yang besar tapi merupakan warga  minoritas adalah India ( 160.945.000 ),  Ethiopia ( 28.063.000 ),  China   21.667.000 ), Russia    ( 16.482.000 ),  Tanzania ( 13.218.000 ),  Ivory Coast ( 7.745.000 ), Mozambique ( 5.224.000 ),  Philippines ( 4.654.000 ),  Jerman ( 4.026.000 ),  dan Uganda ( 3.958.000 ).
Dari 232 negara dan wilayah yang tercakup dalam penelitian ini, terdapat 50 negara mayoritas Muslim. Tapi dari semua itu, lebih 62% memiliki populasi Muslim lebih kecil daripada populasi Muslim Russia atau China.

Kawasan  Timur Tengah dan Afrika Utara merupakan negara-negara mayoritas Muslim dengan pesentase tertinggi dibandingkan dengan kawasan lain. Dari 20 negara dan wilayah di kawasan ini, 17 negara memiliki populasi Muslim lebih dari 75%. Tiga negara lainnya kurang dari 75% , yaitu Lebanon  ( 59,3% ), Israel (16,7%), dan Sudan ( 71,3%). Bandingkan dengan hanya 12 dari 61 negara di Asia, 10 dari 50 negara di Sub-Sahara Afrika dan dua dari 50 negara di Eropa ( Kosovo dan Albania ) adalah 75% atau lebih umat Muslim.

Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara yang mayoritas penduduknya Muslim adalah Algeria ( 98,0% ),  Bahrain ( 81,2%),  Mesir (94,6%),  Iraq ( – 99%),  Jordan (98,2%),  Kuwait  ( – 95%), Libya (96,6%),  Maroko ( – 99%) ,  Oman (87,7%),  Palestina     ( – 98%),  Qatar  (77,5%),  Saudi Arabia ( – 97%),  Syria ( 92,2%),  Tunisia ( 99,5%),  Uni Emirat Arab ( 76,2%),  Sahara barat (99,4%),  dan Yaman (99,1%).
Di Asia yang warga negaranya mayoritas Muslim adalah Afghanistan  (99,7%), Azerbaijan (99,2%),  Bangladesh (89,6%), Indonesia (88,2%),  Iran (99,4%), Kyrgyzstan (86,3%),  Maldives (98,4%),  Pakistan (96,3%), Tajikistan (84,1%), Turki  ( -98%), Turkmenistan (93,1%),  dan Uzbekistan (96,3%).
Di Sub-Sahara Afrika yang negaranya berpenduduk mayoritas Muslim adalah Comoros (98,3%),  Djibouti (96,9%), Gambia   ( – 95%), Guinea ( 84,4%), Mali (92,5%), Mauritania ( 99,1%),  Mayotte (98,4%),  Niger  (98,6%),    Senegal   ( 96,0%), dan Somalia (98,5%).
Sedangkan di Eropa ada dua negara yang berpenduduk Muslim dan merupakan mayoritas yaitu Albania ( 79,9%) dan Kosovo (89,6%).
Gambar : IslamOnline.net


Populasi Muslim Dunia ( Part 3 ) : Muslim Sunni dan Syi’ah

https://abdaz.wordpress.com/2009/10/31/populasi-muslim-dunia-part-3-muslim-sunni-dan-syiah/


3 Votes

Sabtu, 31 Oktober 2009 | 23:31

Satellite--Can Turkey Inspire reform in the Muslim World 
Populasi Muslim dengan mayoritas yang besar sekali adalah Sunni, sementara berdasarkan estimasi 10-13% adalah Syi’ah. Laporan Pew Forum ini memperkirakan ada 154 sampai 200 juta jiwa Muslim Syi’ah di dunia saat ini.
Diperkirakan antara 116 sampai 147 juta Syi’ah tinggal di Asia, merepresentasikan sekitar tiga per empat dari populasi Syi’ah sedunia. Iran yang dikenal dengan mayoritas Syi’ahnya berada di kawasan Asia-Pasifik. Sementara itu, seperempat warga Syi’ah dunia ( 36 – 44 juta ) tinggal di kawasan Timur Tengah—Afrika Utara.

Sekitar 12-15% populasi Muslim kawasan Asia-Pasifik adalah Syi’ah, dan 11-14% dari populasi Muslim di kawasan Timur Tengah—Afrika Utara. Jumlah komunitas Syi’ah pada umumnya diberikan dalam rentang perkiraan , karena keterbatasan di dalam data sumber-sumber sekunder.
Kebanyakan Syi’ah ( antara 68 dan 80%) tinggal di empat negara : Iran, Pakistan, India , dan Irak. Iran memiliki 66-70 juta Syi’ah. Atau 37-40 % total populasi Muslim Syi’ah dunia. Irak, India, dan Pakistan, masing-masing sekurang-kurangnya dihuni 16 juta komunitas Syi’ah.
Muslim Sunni dan Syi’ah ( Shiites) merupakan  dua sekte utama ( main sects) dalam Islam. Sunni dan Syi’ah awalnya terbentuk karena terjadinya perselisihan tentang suksesi kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW tahun 632 M. Kemudian, perpecahan  politik antar dua kelompok ini meluas mencakup perbedaan theologis dan juga perbedaan dalam praktek-praktek keagamaan .
Sementara  itu, kedua kelompok ini memiliki kesamaan dalam banyak hal, tapi mereka berbeda konsepsi dan interpretasi dalam otoritas keagamaan, begitu juga peran politik keluarga Nabi saw, misalnya.
Tidak ada estimasi yang membedakan Sufi, apakah Sunni atau Syi’ah. Juga tidak diketahui secara  meyakinkan tentang berapa banyak Muslim yang menjalani praktek Sufisme.
Jumlah Syi’ah yang besar ( 1 juta atau lebih ) terdapat di Turki, Yaman , Azerbaijan, Afghanistan, Syria, Saudi Arabia, Lebanon, Nigeria, dan Tanzania. Pengikut Syi’ah persentasenya relatif kecil dari populasi Muslim di seluruh dunia. Sekitar 300.000 orang Syi’ah tinggal di Amerika Utara, termasuk AS dan Canada, sekitar 10% dari populasi Muslim di kawasan Amerika Utara.
Di empat negara, Iran, Azerbaijan, Bahrain, dan Irak, Syi’ah merupakan mayoritas dari total populasi, karena persentasenya tertinggi.
Di Iran, Syi’ah berjumlah sekitar 66-70 juta atau 90 -95% dari seluruh populasi dengan persentase 37-40% jumlah komunitas Syi’ah sedunia. Selanjutnya, Azerbaijan ( 65-75%), tapi hanya 5-7 juta jiwa. Bahrain, mencapai 65-75% dari jumlah penduduk negera itu, tapi jumlahnya hanya 400.000 – 500.000 jiwa. Sedangkan Irak berpenduduk Syi’ah sekitar 65-70% atau sekitar 19-22 juta jiwa.
Bila dilihat dari jumlah komunitas Syi’ah tertinggi berada di Iran dengan jumlah populasi antara 66 s.d. 70 juta jiwa. Kemudian Pakistan, sekitar 17 – 26 juta jiwa. Disusul India , yaitu antara 16 s.d 24 juta jiwa adalah komunitas Syi’ah. Irak menempati urutan berikutnya, yaitu sekitar 19 – 22 juta jiwa. Sedangkan Turki berpenduduk Syi’ah sekitar 7 -11 juta jiwa, dan di Yaman tinggal komunitas Syi’ah sekitar 8 – 10 juta jiwa.
Negara-negara di Timur Tengah yang persentase populasi Syi’ahnya cukup tinggi tapi jumlah populasinya sedikit adalah Lebanon ( 45-55%), Kuwait ( 20-25%), Syria ( 15-20%), dan Saudi Arabia (10-15%).
Sedangakn di negara Eropa- Amerika yang persentasenya cukup tinggi adalah Latvia ( 25-35%), Swedia ( 20-40%), Georgia ( 15-25%), dan Lithuania (10-20%). Sedangkan Inggris,  AS, Bulgaria, Jerman, dan Yunani, masing-masing sekitar 10-15% dari jumlah komunitas Muslimnya.
Bagaimana dengan Syi’ah di negeri kita ? Walaupun, konon jumlahnya semakin meningkat, tapi Pew Forum dalam laporannya memberikan estimasi kurang dari satu persen dari seluruh populasi Muslim di negara kita ini.
Gambar : IslamOnline.net

Populasi Muslim Dunia ( Part 4 of 4 ) : Lebih dari Separuh Muslim Eropa Adalah Penduduk Asli


Sabtu, 07 November 2009 | 17: 47
https://abdaz.wordpress.com/2009/11/07/populasi-muslim-dunia-part-4-of-4-lebih-dari-separuh-muslim-eropa-adalah-penduduk-asli/
 
20090813185400 
Selama ini orang selalu beranggapan bahwa populasi Muslim Eropa adalah para imigran yang berasal dari negara-negara bekas jajahan. Memang ada benarnya, tapi itu hanya di Eropa bagian barat saja. “Sisanya di Russia, Albania, Kosovo, dan yang lainnya, adalah penduduk asli. Lebih dari separuh Muslim di Eropa adalah penduduk asli”, kata Allan Cooperman, Associate Director Pew Forum.
Di Eropa Barat , komunitas Muslim merupakan imigran dan juga anak-anaknya yang lahir dan besar di Eropa. Mereka berdatangan dari Turki, Afrika Utara, dan Asia Selatan.

Pertumbuhan populasi Muslim dunia tercepat terjadi di benua Eropa, yang kini memiliki 38.112.000 penganut Islam atau sekitar 5,2 % dari total penduduk Eropa. Jumlah ini merupakan 2,4 % dari populasi Muslim dunia.
Jerman merupakan negara Eropa Barat dengan penduduk Muslimnya terbesar, yaitu 4.026.000 jiwa. Jumlah Muslim Jerman ini hampir menyamai populasi Muslim di seluruh negara benua Amerika, yaitu 4.596.000 jiwa, yang  kebanyakan tinggal di Amerika Serikat , sebesar 2.454.000 jiwa.
Muslim Jerman juga jumlahnya lebih banyak dari Lebanon ( 2.504.000 jiwa ), sebuah negara Arab di Timur Tengah.  Jerman juga berada pada urutan ke-9  dari sepuluh negara yang jumlah Muslimnya terbesar tapi merupakan warga minoritas.
Sedangkan Russia ( 16.482.000 jiwa ) di Eropa Timur merupakan yang terbesar jumlah Muslimnya di seluruh Eropa. Jumlah sebesar ini merupakan 43,2 % dari total Muslim Eropa. Muslim Russia lebih banyak dari gabungan jumlah Muslim Jordan ( 6.202.000 jiwa  ) dan Libya  (  6.203.000 jiwa ), yang kedua-duanya termasuk negara Arab.
Russia berada pada urutan ke-4 terbesar, setelah India (160.945.000 jiwa ),Ethiopia ( 28.063.000 jiwa),  dan China ( 21.667.000 ) dalam urutan sepuluh negara yang jumlah Muslimnya terbesar tapi sebagai warga minoritas.
Dari keseluruhan jumlah Muslim di Eropa , sekitar 60% adalah penduduk asli negara-negara tersebut. Kebanyakan Muslim di Russia, Albania, Kosovo, Bosnia-Herzogovina, dan Bulgaria adalah warga asli di negaranya.
Sedangkan Prancis memiliki persentase yang lebih tinggi daripada Jerman, namun warga Muslimnya hanya 3.554.000. Sekitar 6% warga Prancis adalah Muslim, dan Jerman hanya sekitar 5%. Sedangkan di Inggris tinggal komunitas Muslim kurang dari 2 juta jiwa, kurang dari 3% dari total populasi warga Inggris.
Negara-negara Eropa dengan tingkat konsentrasi Muslim tertinggi berada di Eropa bagian timur dan tengah, yaitu Kosovo ( 90%), Albania (80%), Bosnia-Herzogovina  (40%) , Republik Macedonia ( 33%), Bulgaria ( 12% lebih ), dan Russia ( hampir 12%).
Beberapa bulan yang lalu, Daily Telegraph Inggris melaporkan tentang prediksi para ahli demografis tentang populasi Muslim di Eropa pada tahun 2050 yang diperkirakan mencapai 20% dari seluruh populasi benua itu.
Data demografis tentang tingkat pertumbuhan Muslim memperlihatkan bahwa meningkatnya jumlah populasi Muslim di negara-negara non-Muslim disebabkan terutama oleh imigrasi ( di negara-negara barat ) dan angka kelahiran yang lebih tinggi di seluruh dunia. Negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim memiliki angka pertumbuhan penduduk rata-rata 1,8% per tahun. Sedangkan angka pertumbuhan penduduk dunia hanya 1,12% per tahun.
Selain dua faktor di atas, pertumbuhan populasi Muslim juga disebabkan semakin banyaknya orang yang masuk agama Islam. Namun data mualaf ini sulit untuk diverifikasi.
New York Times pernah mengklaim bahwa 25% Muslim Amerika adalah mualaf. Di Inggirs juga ada klaim bahwa sekitar 10.000 sampai 20.000 orang menjadi Muslim tiap tahunnya.
Itulah barangkali yang menyebabkan berbagai pihak di negara-negara Barat melakukan berbagai upaya untuk mengurangi laju pertumbuhan jumlah Muslim dan upaya untuk melemahkan posisi komunitas Muslim secara politis, sosial, budaya maupun ekonomi.
Upaya itu dilakukan dengan cara-cara yang halus , vulgar, juga pembunuhan seperti beberapa waktu lalu di Jerman, bahkan penghancuran negara-negara Muslim , seperti Irak dan Afghanistan oleh rezim George W. Bush.
Walupun terus-menerus dilakukan propaganda negatif terhadap Islam, alih-alih masyarakat dunia takut terhadap Islam, yang terjadi justru sebaliknya. Sejak peristiwa 9/11, mereka semakin penasaran ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam. Dan, al-hamdulillah, banyak di antara mereka yang mendapatkan hidayah dan menjadi Muslim. Menariknya, selama George Bush berkuasa , data di Amerika menunjukkan populasi Muslim semakin bertambah .
Gambar : Warga asli Jerman yang beralih memeluk Islam menjalankan shalat.                                        (

Tricky Issues’ Remain as Deadline Nears in Nuclear Talks With Iran





Photo
The European Union's foreign policy chief, Federica Mogherini, left, Foreign Minister Mohammad Javad Zarif of Iran, center, and the head of the Iranian Atomic Energy Organization, Ali Akbar Salehi, on Monday in Lausanne, Switzerland. Credit Fabrice Coffrini/Agence France-Presse — Getty Images


LAUSANNE, Switzerland — Negotiators from the United States, Iran and five other nations pushed into the night on Monday to try to reach a preliminary political agreement on limiting Iran’s nuclear program.
But with a Tuesday deadline, it seemed clear that even if an accord were reached some of the toughest issues would remain unresolved until late June.
“We are working late into the night and obviously into tomorrow,” Secretary of State John Kerry told CNN on Monday night. “There is a little more light there today, but there are still some tricky issues. Everyone knows the meaning of tomorrow.”
The main points that the negotiators have been grappling with include the pace of lifting United Nations sanctions, restriction on the research and development of new types of centrifuges, the length of the agreement and even whether it would be detailed in a public document.
Yet another dispute was highlighted Sunday when Iran’s deputy foreign minister, Abbas Araqchi, told Iranian and other international news organizations that Iran had no intention of disposing of its nuclear stockpile by shipping the fuel out of the country, as the United States has long preferred.





Yet another dispute was highlighted Sunday when Iran’s deputy foreign minister, Abbas Araqchi, told Iranian and other international news organizations that Iran had no intention of disposing of its nuclear stockpile by shipping the fuel out of the country, as the United States has long preferred.






Continue reading the main story Video
Play Video|4:55

What’s at Stake in the Iran Negotiations

What’s at Stake in the Iran Negotiations

Can the West trust Iran? Can Iran trust the West? A look at the bet each side is making in the nuclear talks, along with the challenges and risks that they face.
Video by Emily B. Hager on Publish Date March 27, 2015.

“The export of stocks of enriched uranium is not in our program, and we do not intend sending them abroad,” Mr. Araqchi said.
A State Department spokeswoman confirmed that the stockpile question remained unresolved while insisting that Iran had not backtracked in recent days. “The bottom line is that we don’t have agreement with the Iranians on the stockpile issue,” the spokeswoman, Marie Harf, told reporters. “This is still one of the outstanding issues.”
The political accord, which American officials hope will be announced on Tuesday, is intended to define the main elements of a comprehensive agreement that it is to be completed by the end of June.
As the deadline has approached, Mr. Kerry and Mohammad Javad Zarif, Iran’s foreign minister, have been joined by the chief diplomats from France, Britain, Germany, China, Russia and the European Union, though Sergey V. Lavrov, the Russian foreign minister, left on Monday.






As the deadline has approached, Mr. Kerry and Mohammad Javad Zarif, Iran’s foreign minister, have been joined by the chief diplomats from France, Britain, Germany, China, Russia and the European Union, though Sergey V. Lavrov, the Russian foreign minister, left on Monday.











Photographs

Stress and Hope in Tehran

As Iran and world powers including the United States try to reach a deal on nuclear controls in exchange for the lifting of sanctions, Iranians from all walks of life are watching and hoping for a new start.
OPEN Photographs

The United States’ goal is to extend to a year the amount of time, known as the “breakout” time, that Iran would need to produce enough bomb-grade material for a single nuclear weapon. Achieving that objective depends on many factors, including how much nuclear fuel Iran has on hand and how fast it can produce new fuel.
The country has tens of thousands of pounds of uranium in various stages of enrichment, but over the past 18 months it has diluted the portion of its stockpile that was closest to being usable in a weapon.
American officials, however, are looking for a longer-term solution. The simplest approach would be to place much of the fuel out of Iran’s reach. Hopes were raised last year when diplomats believed that Iran would be willing to go along with that approach.
In November, there were reports that Iran had tentatively agreed to send the fuel to Russia for conversion into fuel rods that could power its only commercial power reactor. Ms. Harf insisted on Monday, after Mr Araqchi declared that Iran would never give up the fuel, that there never had been a tentative agreement and that shipping the fuel out of Iran was not a requirement for an agreement.





Photo
Secretary of State John Kerry in Lausanne, Switzerland, on Monday. Credit Jean-Christophe Bott/European Pressphoto Agency

“You could have some other dispositions for it that get us where we need to be in terms of our bottom line,” she said.
On Capitol Hill, where lawmakers have said they expect a good part of Iran’s nuclear material to be removed from the country, the Iranian declaration triggered more unease.

“The shipping out of Iran’s uranium stockpile was to be the key administration win in this agreement,” Representative Ed Royce, the California Republican who is chairman of the House Foreign Affairs Committee, said in an interview Monday. “It was presumed they were going to win on that point because they were giving in on every other point.
“Now,” he added, “it looks like that rationale is being tossed out the window.”




Continue reading the main story

Graphic: The Nuclear Talks With Iran, Explained


Outside experts said the resolution of the issue was critical to the administration’s ability to make a convincing political case that the United States and its allies would have plenty of warning time if Iran made a dash for a bomb.






“The shipping out of Iran’s uranium stockpile was to be the key administration win in this agreement,” Representative Ed Royce, the California Republican who is chairman of the House Foreign Affairs Committee, said in an interview Monday. “It was presumed they were going to win on that point because they were giving in on every other point.
“Now,” he added, “it looks like that rationale is being tossed out the window.”





Continue reading the main story
Robert Einhorn, a Brookings Institution scholar who worked for the first five years of the Obama administration on the Iran nuclear problem, said that for the last several months the United States and its negotiating partners “have been operating on the assumption that all but several hundred kilograms” of the country’s low-enriched uranium “would be shipped out.”
“Breakout calculations have based on that assumption,” he wrote in an email, using the term for how long it would take Iran to get a weapon’s worth of uranium.
In essence, Mr. Einhorn argued, the assumption that Iran would keep its uranium stockpile at a low level by exporting its fuel has enabled the United States to accept a trade-off in which Iran would be allowed to retain a high number of centrifuges without shortening the breakout time.
“So if Iran is withdrawing its tentative agreement to ship out the stocks, this would be a real setback,” he wrote. “It is not clear what measures would be needed to compensate in order to preserve the one-year breakout time.”
It appears that this issue, both a major political decision and a big technical hurdle, could be put off until June to enable the announcement of a broad but still vague “political understanding.”
 

Graphic: The Nuclear Talks With Iran, Explained


Outside experts said the resolution of the issue was critical to the administration’s ability to make a convincing political case that the United States and its allies would have plenty of warning time if Iran made a dash for a bomb.
Robert Einhorn, a Brookings Institution scholar who worked for the first five years of the Obama administration on the Iran nuclear problem, said that for the last several months the United States and its negotiating partners “have been operating on the assumption that all but several hundred kilograms” of the country’s low-enriched uranium “would be shipped out.”
“Breakout calculations have based on that assumption,” he wrote in an email, using the term for how long it would take Iran to get a weapon’s worth of uranium.
In essence, Mr. Einhorn argued, the assumption that Iran would keep its uranium stockpile at a low level by exporting its fuel has enabled the United States to accept a trade-off in which Iran would be allowed to retain a high number of centrifuges without shortening the breakout time.
“So if Iran is withdrawing its tentative agreement to ship out the stocks, this would be a real setback,” he wrote. “It is not clear what measures would be needed to compensate in order to preserve the one-year breakout time.”
It appears that this issue, both a major political decision and a big technical hurdle, could be put off until June to enable the announcement of a broad but still vague “political understanding.”
Jonathan Weisman contributed reporting from Washington.
A version of this article appears in print on March 31, 2015, on page A8 of the New York edition

Mengapa harus ke Yaman – Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

https://pondokhabib.wordpress.com/about/mengapa-harus-ke-yaman-habib-abdullah-bin-alwi-al-haddad/

Mengapa harus ke Yaman, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, ‘Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat. Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ?

Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, dikarena beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, dimana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein.  Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.

Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman : Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi : Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang’. Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 : ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘. Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan jumlah tujuh ratus orang’.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman‘.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>

Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah. Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, sispa yang membenci mereka berarti telah membenciku’





Negeri Yaman ‘Surga’ Para Pencari Ilmu


Menulis

Yaman adalah negara terluas urutan kedua setelah Arab Saudi di bentangan Jazirah Arab. Posisinya yang berada di ujung jazirah menjadikan Yaman sebagai negara yang mengambil pesan vital dalam konteks hubungan antar negara di Timur Tengah secara khusus, dan dunia secara umum. Apalagi, Teluk Aden sebagai pintu masuk Laut Merah berada di dalam wilayah Yaman. Hal ini semakin menegaskan peran vital Yaman untuk negara-negara di sepanjang garis Afrika Utara dan negara-negara Timur Tengah.
Secara historis, Yaman tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan islam. Ribuan Shahabat yang berasal dari Yaman tercatat indah di dalam sejarah. Sebut saja Abu Hurairah, Abu Musa Al Asy’ari, Ammar bin Yasir, Uqbah bin Amir, Jarir bin Abdillah Al Bajali, Adi bin Hatim, Wail bin Hujr Al Hadrami, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh terkemuka shahabat yang berasal dari Yaman

Karakter asli penduduknya yang lembut dan mudah menerima kebenaran manjadi salah satu faktor yang membantu penyebaran islam di Yaman. Oleh sebab itu, dalam masa islam, pergolakan dan huru-hara di Yaman terbilang kecil bila dibandingkan yang terjadi di negeri Irak, Iran, Mesir, dan Syam.

Mengenai kedatangan Abu Musa Asy’ari beserta rombongan dari Yaman, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, riwayat Al Bukhari dan Muslim :
“Penduduk Yaman telah datang kepada kalian. Perasaan mereka halus. Hati mereka lembut. Iman itu Yaman dan hikmah pun Yaman.”
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas merupakan bentuk pujian untuk penduduk Yaman. Para ulama yang mensyarah hadits di atas memang menyebutkan khilaf (perbedaan pandangan) tentang; apa yang dimaksud dengan Yaman di dalam sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Namun demikian, sebagian ulama mengakui bahwa karakter penduduk Yaman di sepanjang sejarah Islam memang demikian. Wallahu a’lam.

NEGERI YAMAN, NEGERI ILMU

Di dalam peta rihlah thalabul ilmi (perjalanan suci dalam menuntut ilmu syar’i), Yaman juga mengambil porsi yang cukup besar. Ulama yang pernah muncul di dalam sejarah Yaman tidak terhitung jumlahnya. Shan’a sebagai simbol Yaman adalah magnet yang menarik para pecinta ilmu untuk berdatangan. Sebab pada waktu itu, Shan’a menjadi salah satu pusat berkumpulnya para ahlul hadits.
Lebih-lebih lagi pada masa Al Imam Abdurrazaq bin Hammam Ash Shan’ani (126-211). Sejumlah ulama besar Islam datang dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu langsung kepada Abdurrazaq bin Hammam di Yaman. Sufyan bin Uyainah, Al Mu’tamir bin Sulaiman, Ishaq bin Rahuyah, Ali Ibnul Madini hanyalah contoh sekian banyak murid-murid beliau. Sampai-sampai muncul istilah Laa Budda Min Shan’a Wa In Thalas Safar (pokoknya harus sampai ke Shan’a, meski harus menempuh perjalanan panjang).
Salah satu keajaiban thalabul ilmi yang termaktub di dalam sejarah adalah kisah Al Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in yang hendak berguru kepada Abdurrazaq bin Hammam.

Perjalanan beliau berdua dimulai dari Baghdad, ribuan kilo dari Yaman. Sejak awal beliau berdua bertekad menimba ilmu dari Abdurrazaq di Yaman. Berbagai negeri dilewati, panasnya siang dan dinginnya malam bukanlah penghalang.

Mereka tiba di Makkah bertepatan dengan musim haji. Kesempatan untuk berhaji pun tidak disia-siakan. Dalam sebuah kesempatan thawaf, Yahya bin Ma’in berjumpa dengan Abdurrazaq bin Hammam. Ternyata, tahun itu juga Abdurrazaq sedang menunaikan ibadah haji.

Setelah pertemuan itu, Yahya bin Ma’in segera mencari Imam Ahmad untuk menyampaikan kabar gembira dan berita besar tentang keberadaan Abdurrazaq bin Hammam yang sedang berhaji di Makkah.

“Sungguh! Allah telah mendekatkan langkah-langkah kaki kita. Allah telah memudahkan kita untuk menghemat bekal perjalanan. Allah juga telah membebaskan kita dari perjalanan sebulan penuh untuk menuju shan’a.

Lihatlah! Saat ini, Abdurrazaq sedang berada di Makkah. Marilah kita mendengar riwayat-riwayat hadits dari dari Abdurrazaq di sini saja (di Makkah)!” Ujar Yahya bin Ma’in.
Subhanallah!

Mendengar “kabar baik” semacam ini ternyata tidak membuat Imam Ahmad lantas menanggapi dan menyetujui.
Dengan mantap Imam Ahmad menjawab :
“Sesungguhnya, sejak masih di Baghdad, aku telah berniat untuk mendengar riwayat hadits dari Abdurrazaq di Shan’a. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah niatku selama-lamanya.”

Ya! Imam Ahmad tetep memegang tekad untuk berguru kepada Abdurrazaq di Yaman. Dan tekad beliau benar-benar terwujud. Kurang lebih sepuluh bulan lamanya Imam Ahmad berada di Yaman dalam rangka rihlah thalabul ilmi.

THALABUL ILMI DI YAMAN SAAT INI

Tiap-tiap generasi selalu saja bermunculan para ulama besar dari negeri Yaman. Kaum muslimin tentu tidak asing lagi dengan nama harum Asy Syaukani, Ash Shan’ani, Ibnul Wazir, dan Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi. Beberapa karya tulis yang menghimpun nama-nama ulama Yaman juga sangat mudah didapatkan di perpustaan-perpustakaan Islam.
Di masa-masa terakhir ini nama besar Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i sangat akrab bagi kaum muslimin. Bisa dikatakan setiap warga Yaman pasti pernah mendengar nama dan gerakan dakwah beliau. Murid-murid beliau yang datang berguru bukanlah hanya dari dalam negeri, namun juga dari mancanegara. Begitu banyaknya murid beliau hingga dinyatakan, “Tidak pernah ada rihlah seramai ini di Yaman sejak zaman Abdurrazaq bin Hammam.

Meskipun telah meninggal belasan tahun yang lalu, murid-murid senior beliau tetap meneruskan estafet dakwah salaf yang berpondasikan di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Hari demi hari dakwah salaf semakin kuat dan meluas. Tidak ada satu pun desa di Yaman –meski terpencil-, kecuali dakwah salaf telah menghujam kuat di sana. Wajar saja jika dakwah salaf dinilai oleh banyak pengamat sebagai dakwah mayoritas di Yaman.

Kelompok-kelompok sempalan Islam memang ada juga. Akan tetapi, watak orang Yaman yang senang dengan al haq membuat kelompok-kelompok tersebut seakan berjalan di tempat, bahkan semakin surut. Syi’ah, Sufi, Al Qaeda, Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, dan beberapa kelompok sesat lainnya justru semakin melemah sejak dakwah salaf dihidupkan kembali oleh Syaikh Muqbil dan murid-muridnya.

Jika anda sempat berkunjung ke Yaman dan menggunakan syi’ar Salaf, jangan kaget jika ada orang menyapa Anda dan mengatakan, “ Anda tentu muridnya Syaikh Muqbil!”

KESEMPATAN TIDAK DATANG BERKALI-KALI

Alhamdulillah. Negeri Yaman saat ini telah menjadi pusat destinasi rihlah thalabul ilmi. Kemudahan demi kemudahan merupakan faktor pendukung yang seharusnya disyukuri secara penuh. Belajar agama secara benar di Yaman tidak di batasi oleh usia. Muda maupun tua, bahkan yang telah sepuh pun memiliki kesempatan yang sama.
Jumlah markiz (pesantren) yang mengajarkan akidah dan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sangat banyak di negeri Yaman. Ada yang bertaraf sederhana, sedang, sampai besar. Beberapa Markiz yang tergolong besar seperti :

1. Darul Hadits Ma’bar, pimpinan Syaikh Muhammad Al Imam
2. Darul Hadits Fuyus, pimpinan Syaikh Abdurrahman Al Adeni
3. Darul Hadits Dzammar, pimpinan Syaikh Utsman As Salimi
4. Darul Hadits Syihr, pimpinan Syaikh Abdullah Al Mar’i

Untuk belajar Salaf di Yaman tidak dipungut biaya sepeserpun untuk biaya pendidikan. Bahkan konsumsi, asrama, dan beberapa hal lainnya digratiskan juga. Maka tidak mengherankan jika jumlah pelajar Indonesia di Markiz-markiz Salaf Yaman saat ini telah menembus angka 300-an. Sebagian besarnya berstatus lajang, sementara yang telah menikah dan meninggalkan anak istri juga tidak sedikit. Bahkan ada puluhan pelajar yang turut memboyong anak istrinya untuk sama-sama thalabul ilmi.

Suasana dan lingkungan Yaman sangat mendukung sekali untuk mempelajari Islam secara Intensif dan optimal. Jauh dari hiruk piruk keduniaan dan sangat menjanjikan ketenangan. Setiap saat selalu tentram dengan mendengarkan ayat Al Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seta nasihat ulama. Jika sesekali suntuk atau sedang menghadapi problem, hanya dengan sekedar duduk mendengarkan ceramah Syaikh, semua hilang dan meleleh tak tersisa.

Sebagian pelajar mengatakan, “Rasa-rasa tidak ingin pulang ke Indonesia. Di sini telah ku temukan hakikat ketenangan hati. Di sinilah aku benar-benar bisa merasakan apa yang dimaksud dengan hidup bahagia itu. Di sini telah ku temukan ketentraman jiwa.”

Semua bidang ilmu agama bisa Anda peroleh dan pelajari dengan mudah di Markiz-markiz Salaf di Yaman. Ketersediaan pengajar dan guru seolah tidak pernah habis. Akidah, bahasa Arab, ilmu hadits, fiqih, ushul fiqih, Al Qur’an, maupun ilmu-ilmu lainnya tinggal Anda pilih saja. Dijamin memuaskan! Insya Allah.

Thalabul Ilmi di Yaman memeng menjadi pilihan utama. Anda bisa memilih Markiz sesuai dengan cuaca yang anda senangi. Makanan dan minumannya pun mudah diadaptasikan. Proses keberangkatan dan perizinan pun sangat ringan. Secara periodik, Bapak-bapak dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) juga mengadakan silahturahmi dan kunjungan ke Markiz-markiz Salaf.

Biaya? Murah sekali jika dibandingkan biaya yang dihambur-hamburkan untuk sekolah maupun kuliah. Cukup dengan 18 juta Anda bisa berangkat Thalabul Ilmi ke Yaman, kemudian pulang ke Indonesia dengan membawa pulang ilmu bermanfaat untuk didakwahkan kepada masyarakat luas, insya Allah.

Tertarik? Jangan tunggu lama-lama! Segeralah ambil keputusan dan jangan menunda!
[Ditulis ulang dari Majalah Qudwah, Edisi 10, hal 16-20]
Disalin dari : http://pemetik-ilmu.blogspot.com/2013/09/negeri-yaman-surga-para-pencari-ilmu.html

Ada Apa dengan Yaman?

Ada apa dengan Yaman? Sebaiknya kita lihat dulu petanya.
https://dinasulaeman.files.wordpress.com/2010/01/arabianpeninsula.jpg

Sumber peta: www.nystromnet.com
Di peta terlihat bahwa Yaman berbatasan darat dengan Arab Saudi, dan menguasai perairan strategis Bab el Mandab dan teluk Aden, dan bahkan menguasai pulau Socotra yang kini menjadi pangkalan militer AS. Jalur perairan ini sangat penting karena menjadi tempat lewatnya kapal-kapal tanker pembawa minyak dari Teluk Persia ke Eropa (melewati Terusan Suez). AS sangat berambisi mengontrol jalur minyak ini dan di saat yang sama, secara ekonomi Iran pun terancam bila AS sampai menguasai jalur tersebut. Selain itu, meski saat ini produksi minyak Yaman hanya 0,2% dari total produksi minyak dunia, negeri ini menyimpan cadangan minyak yang sangat sangat besar.

Kelompok-kelompok Utama dalam Konflik Yaman:
  1. Ikhwanul Muslimin vs Imam Yahya (Syiah Zaidiyah)
Yaman tadinya berada di bawah kekuasaan Imperium Ottoman. Kemudian, setelah Ottoman kalah dalam Perang Dunia I, Inggris menguasai Yaman selatan (terutama wilayah Aden yang menguasai jalur laut); sementara Yaman utara dikuasai oleh Imam Yahya yang bermazhab Syiah Zaidiah, yang membentuk Kerajaan Yaman. Italia mengakui pemerintahan Imam Yahya, sementara Inggris menentangnya karena tekad Imam Yahya adalah mengusir Inggris dan menyatukan Yaman.

Inggris (dan Mesir) membacking gerakan “Free Yemenis” yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini pada tahun 1962 berhasil menggulingkan pemerintahan Imam Yahya dan memproklamasikan “Republik Arab Yaman.”

Pemerintahan baru ini memperluas gerakan untuk menguasai Yaman selatan (yang dikuasai Inggris), dengan meminta bantuan militer dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang mengirim 70.000 tentara ke Yaman (1962-1965).

Inggris, yang memusuhi Nasser akibat aksinya menasionalisasi Terusan Suez tahun 1956, menggunakan konflik internal Yaman untuk melemahkan Nasser, dengan bantuan Mossad, CIA, intelijen Arab Saudi, dan SAVAK (intel Iran zaman Syah Pahlevi). Selama tahun 1960-an, AS menyuplai perlengkapan militer Arab Saudi senilai 500 juta Dollar (agar Arab Saudi semakin kuat dan memegang kendali dalam konflik di Yaman). Tahun 1968, Nasser mundur dari Yaman, dan setahun sebelumnya, Inggris juga angkat kaki dari negara itu.

Namun, kelompok pro Naser masih eksis hingga sekarang dan menjadi salah satu aktor utama politik Yaman, yaitu the Nasserite Unionist People’s Organization.
  1. Partai Sosialis vs Ikhwanul Muslimin
Tahun 1967, the National Liberation Front (NLF) yang berhaluan Marxis menguasai Yaman selatan dan membentuk negara independen (Republik Rakyat Demokratik Yaman). Sementara itu, sejak tahun 1978, Republik Arab Yaman dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh.


Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990 membuat kedua pemerintahan Yaman yang memang lemah memutuskan memulai negosiasi untuk bersatu. Pada Mei 1990, terbentuklah pemerintahan persatuan dengan nama Republik Arab Yaman, dengan Ali Abdullah Saleh sebagai presiden dan Ali Salim Beidh (semula Presiden Yaman selatan, berasal dari partai sosialis) menjadi wakil presiden. Untuk menundukkan orang-orang sosialis, Saleh bekerja sama dengan anasir Ikhwanul Muslimin (Partai Islah atau Partai Reformasi didirikan 13 Sept 1993. Menurut pendirinya, Syekh Abdullah bin Hasan al-Ahmar, tujuan utama didirikannya partai ini adalah untuk melawan orang-orang sosialis). Saleh harus menggunakan tangan Partai Islah, karena partainya sendiri (the General People’s Congress) terikat perjanjian unifikasi dengan Partai Sosialis.

Namun belakangan, IM dan Sosialis (dan Nasserite) justru bergabung untuk melawan Saleh; mereka membentuk Joint Meeting Parties (JMP).
  1. Rezim Saleh vs Ikhwanul Muslimin
Kekuasaan Ikhwanul Muslimin (IM) di Yaman sangat besar sejak mereka berhasil menggulingkan Imam Yahya. Mereka menguasai separuh institusi pendidikan di Yaman (dan mendapatkan dana yang besar dari Arab Saudi). Tokoh IM juga menjadi pejabat di Dinas Intel dan berperan besar dalam membungkam kelompok kiri dan komunis. Empat menteri penting juga dijabat orang IM (menkeu, mendagri, mendiknas, dan menkeh). Pejabat-pejabat penting di pemerintahan pun banyak yang dipegang tokoh IM.

Pengaruh besar IM ini membuat khawatir Presiden Saleh dan sejak tahun 2001, ia mulai melucuti kekuasaan IM dengan cara merombak sistem pendidikan. Sejak itu konflik antara kedua faksi ini semakin meluas. Bila pada pilpres 1999, IM (Partai Islah/Partai Reformis) mencalonkan Saleh sebagai kandidat presiden, tahun 2006 mereka mendukung lawan Saleh, Faisal Bin Shamlan (namun Saleh tetap menang pilpres).
  1. Rezim Saleh vs Sosialis dan Suku Houthi (Ansarullah)
Meskipun memiliki cadangan minyak yang kaya dan posisi yang sangat strategis, Yaman adalah negara miskin, menghadapi krisis pangan, dan ketidakadilan ekonomi. Berbagai gerakan pemberontakan terhadap Rezim Saleh bermunculan. Tahun 1994, Wapres Ali Salim Beidh (sosialis) mundur dan kelompok sosialis kemudian angkat senjata dan terjadilah perang sipil. Presiden Saleh, dibantu oleh Arab Saudi (dan Partai Islah/Ikhwanul Muslimin) akhirnya menundukkan pemberontakan itu.

Sejak tahun 2004, suku Houthi yang bermazhab Syiah Zaidiyah menuntut otonomi khusus di wilayah Saada sebagai protes atas diskriminasi dan penindasan dari rezim Saleh. Tuntutan ini dihadapi dengan senjata oleh Saleh (lagi-lagi dibantu Arab Saudi), dan meletuslah perang sipil yang menewaskan lebih dari 5000 tentara dan rakyat sipil (suku Houthi) pada rentang 2004-2008.
  1. Rezim Saleh – Amerika – Al Qaida – Kelompok Salafi
Tahun 2009, kelompok Salafi (Gerakan Yaman Selatan/ al Hirak al Janoubi) yang dipimpin kelompok Tareq Al Fadhli angkat senjata melawan rezim Saleh. Al Fadhli adalah alumnus jihad Afganistan yang berperan membantu Saleh dalam membungkam faksi sosialis. Al Fadhli dan iparnya, Jenderal Mohsen Al Ahmar, kemudian menjadi tokoh penting dalam pemerintahan Saleh. Mohsen adalah pelindung utama Saleh dalam menghadapi berbagai pemberontakan, termasuk dalam upaya membungkam suku Houthi. Namun bulan madu Saleh-Mohsen mulai buyar sejak tahun 2000, karena kekhawatiran Saleh bila kubu Mohsen kelak akan merebut kekuasaan dari kubu Saleh. Kekuasaan Mohsen kemudian dilucuti satu demi satu. Mohsen pun bersekutu dengan keturunan Husein Al Ahmar (pendiri Partai Islah/Reformis) untuk menggulingkan Saleh.
Di masa ini, muncul aktor baru di Yaman, yaitu Al Qaida Arab Peninsula (AQAP) yang memproklamasikan diri pada tahun 2009. Dua tokoh utama AQAP, anehnya, adalah dua warga Arab Saudi alumni Guantanamo, Abu-Sayyaf al-Shihri dan Abu-al-Harith Muhammad al-Awfi. William Engdahl menyebut fakta ini memunculkan kecurigaan bahwa tujuan utama CIA dan Pentagon melakukan teknik brutal kepada tawanan Guantanamo sejak September 2001 adalah untuk mentraining ‘sleeper terrorists’ (teroris tidur) yang sewaktu-waktu bisa diaktifkan sesuai komando intelijen AS. Di saat yang hampir bersamaan, Presiden Saleh membebaskan 700 narapidana teroris dengan alasan ‘mereka sudah berkelakuan baik’.

Mengingat donatur utama Al Qaida adalah Arab Saudi, dan pembentukan Al Qaida memang didalangi AS dan Arab Saudi (hal ini sudah diakui oleh Hillary Clinton), tentu kemunculan Al Qaida di Yaman adalah demi kepentingan AS.

Meski Al Fadhli menolak tuduhan bahwa dia bekerja sama dengan Al Qaida, namun AS tetap membombardir Yaman dengan alasan mengejar Al Qaida. Antara 2009-2011, korban serangan bom yang diluncurkan pesawat tempur AS (dengan seizin Presiden Saleh) telah menewaskan ratusan rakyat sipil Yaman, termasuk anak-anak.

Atas alasan untuk menumpas Al Qaida pula, pada tahun 2010, Presiden Saleh dan Jenderal Petraeus dari AS bertemu. Petraeus menjanjikan bantuan “dana keamanan” 14 kali lipat lebih besar (dana total sejak 2008 hingga 2010 yang diterima Saleh dari AS mencapai 500 juta dollar), dan imbalannya, Saleh mengizinkan Pulau Socotra untuk dipenuhi dengan berbagai peralatan militer canggih AS.

Namun, akhirnya pada Juni 2014, Al Fadhli menyatakan bergabung dengan Al Qaida. Dan sejak 2015, ISIS menyatakan ikut bergabung dengan Al Qaida Yaman. Pada 21 Maret 2015, ISIS mengebom sebuah masjid di Sanaa (ibu kota Yaman), yang jamaahnya sebagian besar muslim Syiah Zaidiah yang tengah menunaikan sholat Jumat (142 tewas, 351 lainnya terluka).

Era Arab Spring
Melihat track record Presiden Saleh yang selalu berperang dengan rakyatnya sendiri dan kemiskinan yang semakin mencekik rakyat, tentu tidak mengherankan bila pada tahun 2011, seiring dengan gelombang Arab Spring, rakyat Yaman (dari berbagai suku dan mazhab) bangkit berdemo menuntut pengunduran dirinya. Masifnya gerakan demo di Yaman akhirnya berujung pada tergulingnya Saleh yang telah berkuasa 33 tahun. Ia melarikan diri pada November 2011 ke Arab Saudi, dan digantikan oleh Mansur Hadi. Namun, tahun 2012, Saleh kembali ke Yaman dan dilindungi oleh Mansur Hadi. Anak Saleh, Jenderal Ahmed Ali, bahkan tetap memiliki kekuasaan penting di militer. Dalam situasi ini, Al Qaida melakukan aksi-aksi pengeboman, termasuk mengebom istana kepresidenan, menambah kacau situasi di Yaman.
Singkat kata, pasca keberhasilan rakyat menggulingkan Saleh, yang berkuasa di Yaman adalah elit-elit lama, termasuk anasir Al Qaida. Faksi-faksi yang banyak berjuang dalam upaya penggulingan Saleh justru disingkirkan, termasuk suku Houthi (gerakan Ansarullah). Ini memunculkan ketidakpuasan rakyat yang semula berharap terjadinya reformasi.
Gerakan Ansarullah bahkan berhasil menggalang demo besar-besaran (rakyat umum, tidak sebatas suku Houthi) sejak Agustus 2014, menuntut diturunkannya harga BBM dan dilakukannya reformasi politik. Menyusul aksi demo ini, Perdana Menteri Salim Basindwa mundur dari jabatannya dan Presiden Mansur Hadi bersedia menandatangani perjanjian dengan Ansarullah, yang isinya Mansur bersedia membentuk pemerintahan baru dengan melibatkan Ansarullah dan semua partai politik yang ada. Perjanjian ini menandai semakin meluasnya pengaruh Ansarullah (Syiah Houthi) di pusat kekuasaan Yaman. Namun kemudian, Mansur Hadi memilih lari ke Arab Saudi dan meminta bantuan militer dari Saudi. Sejak 26 Maret 2015, Arab Saudi dibantu negara-negara Teluk dan Israel, serta didukung oleh AS membombardir Yaman.

Kesimpulan saya, suku Houthi (Ansarullah) hanyalah satu dari sekian banyak aktor yang terlibat konflik di Yaman dan awalnya tidak dominan. Yaman sejak awal telah dilanda konflik internal yang ruwet, melibatkan sangat banyak suku, ‘aliran agama’, kelompok bisnis, dan dinasti/keluarga (yang saya tulis di atas hanya ringkasan saja). Namun, kesolidan dan strategi Ansarullah dalam membangkitkan kekuatan rakyat tertindas rupanya berhasil membawa mereka naik ke permukaan melawan dominasi elit yang berkuasa selama 37 tahun terakhir. Dan ‘gara-gara’ kelompok ini bermazhab Syiah, dengan segera isu yang dimainkan adalah isu mazhab.
Namun yang perlu dicatat, lihat lagi peta di awal tulisan ini, potensi ekonomi dan geopolitik yang sangat besarlah yang menjadi pivotal factor bagi negara-negara kuat untuk menggelontorkan dana sangat besar untuk membiayai faksi-faksi yang berseteru di Yaman.
Aktor asing terkuat di Yaman, tentu saja AS, yang sejak 2001 menggelontorkan ratusan juta dollar (triliunan rupiah) untuk rezim Saleh. AS juga menginvestasi dana dan perlengkapan militer tercanggihnya di Pulau Socotra. Di saat yang sama, AS meraup untung besar dari perdagangan senjata ke negara-negara Arab dan Teluk. Kemudian ketika pemerintahan boneka terbentuk, perusahaan-perusahaan AS pula yang dipastikan akan mendapatkan berbagai kontrak infrastruktur dan minyak (seperti yang terjadi di Libya dan Irak).[ditulis oleh Dina Y. Sulaeman untuk http://www.ic-mes.org]

Ref:
http://www.longwarjournal.org/archives/2014/06/yemeni_tribal_leader_joins_aqa.php
https://www.stratfor.com/weekly/20110420-islamist-militancy-pre-and-post-saleh-yemen
http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2013/09/yemen-brotherhood-losses-unknown-future.html#
http://english.al-akhbar.com/node/16346
http://business.financialpost.com/2015/03/26/why-yemen-that-produces-less-oil-than-denmark-is-roiling-energy-markets-this-morning/?__lsa=61a7-8c88
www.globalresearch.ca/yemen-american-weapons-once-more-landed-up-in-the-wrong-hands-mistakenly-in-the-hands-of-al-qaeda/5437988
www.globalresearch.ca/the-yemen-hidden-agenda-behind-the-al-qaeda-scenarios-a-strategic-oil-transit-chokepoint/16786
www.globalresearch.ca/yemen-and-the-militarization-of-strategic-waterways/17460
www.globalresearch.ca/yemen-the-covert-apparatus-of-the-american-empire/21306
http://www.nytimes.com/2015/03/26/world/middleeast/al-anad-air-base-houthis-yemen.html?_r=3
dll.








Ada Apa dengan Arab Saudi?

http://adhwaus-salaf.or.id/ada-apa-dengan-arab-saudi/


the-Kabah
Ada Apa dengan Arab Saudi?
“Aku merasa takjub ketika dibawa berobat ke Mekkah. Ketika di Yaman, di depan pintu rumah selalu ada 4 orang penjaga. Meski demikian, kita masih saja belum merasa aman di sana. Tidak siang, tidak pula malam.

Di Mekkah, beberapa malam aku menginap di Hotel Darul Azhar. Di sana, setiap kali aku tidur, lalu aku keluar tengah malam ke Masjidil Haram dan sendirian, aku merasakan kenikmatan, kelapangan, dan kelezatan yang tidak ada tandingannya sama sekali.

Kaluar malam, sendirian -walhamdulillah-, perg ke Masjidil Haram dan melakukan tawaf, shalat serta duduk di sana selama yang aku ingini, setelah itu aku pulang ke rumah.

Keadaan aman seperti itu -yang tidak kurasakan di negeri sendiri- sebenarnya karena keistiqomahan mereka, pihak penguasa dan rakyat Arab Saudi, di atas al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh shollallohu alayhi wasallam.”

(asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh)

Asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafidzahulloh, Dosen Aqidah Universitas Ummul Quro, Mekkah, Saudi Arabi, menyatakan keistimewaan negeri Saudi Arabia ini:
1. Kiblat kaum muslimin, baitullah, rumah Alloh yang pertama kali dibangun di muka bumi ini, ada di Arab Saudi. Hal ini terekam pada Surah al-Imran: 96
2. Madinah, tempat orang-orang berhijrah kepada Rosululloh shollallohu alayhi waaallam pada masanya, juga sekaligus benteng keimanan kaum muslimin, ada si Arab Saudi juga. Ini termaktub pada Hadits Bukhori, kitab al-Hajj no. 1876
3. Setiap bela negara dimana pun dilarang, kecuali di Kerajaan Arab Saudi. Sebab di dalam membela negara ini terkandung pula pembelaan terhadap agama.
4. Di wilayah kerajaan Arab Saudi inilah, Rosululloh telah melarang kaum musyrikin untuk bermukim dan membangun tempat peribadatab mereka.
5. Undang-Undang Kerajaan Arab Saudi satu-satuunya undang-undang negara yang berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman salaf.
5. Di Arab Saudi terdapat para ulama yang menjadi penawar dahaga umat ini.
6. Di negeri Arab Saudi ini berdiam bangsa yang hanya ridho kepada Islam, loyal kepada raja mereka, juga pemerintah dan negara mereka.
(Disadur dari pengantar Haqiqah Manhaj al Mamlakah al Arabiyah as Su’udiyah)


NUBUAT IMAM ALI BIN ABI THALIB AS TENTANG BANGSA DAN NEGARA ARAB DI AKHIR ZAMAN

Nubuat Imam Ali bin Abi Thalib as tentang Bangsa dan Negara Arab di Akhir Zaman!

M3
the-zionist-arab-states-council-1
Sebelum saya mulai mengutip nubuat Imam Ali as yang fenomenal ini tentang kondisi bangsa dan negara-negara Arab di Akhir Zaman, maka ada yang perlu kita garis bawahi terlebih dulu dan mengapa saya hanya fokus kepada bangsa dan negara-negara Arab yang lokasi geografisnya terletak di Peninsula Arabia atau lebih dikenal dengan nama Hijaz.


the-zionist-arab-states-council-4-640x480

Perlu kita pahami bersama bahwa pada era Imam Ali as, peta Timur Tengah seperti yang kita kenal pada zaman kita sekarang belum terbentuk.
Pada saat ini, bangsa dan negara-negara Arab sudah sedemikian meluas dan besar hingga ke Maroko di wilayah paling Timur benua Afrika Utara, kemudian di wilayah Afrika Tengah atau Selatan Mesir, seperti Somalia, Sudan, Djibouti dan wilayah timur, yaitu Irak.
Walaupun demikian, kita juga tahu bahwa sebagian dari negara-negara yang saat ini sudah resmi menjadi bangsa Arab, sejatinya pada era dulu bukanlah bangsa yang secara biologis keturunan Arab atau Bani Ismail. Tapi mereka adalah bangsa ajam (non-Arab) yang sejak era penyebaran Islam purba dan pada periode-periode selanjutnya secara resmi telah mengadopsi bahasa dan budaya Arab ke dalam sistem kebangsaan mereka, seperti bangsa Mesir, Berber, Palestina, Syria, Irak dan seterusnya. Dominasi keturunan bangsa Arab di wilayah-wilayah ini sejak era penyebaran Islam pada akhirnya telah semakin kuat dan bercampur dengan kultur lokal dari bangsa-bangsa tersebut.
Oleh sebab itu, penjelasan sekilas ini penting dipahami karena tujuannya untuk memberikan gambaran umum kepada kita semua bahwa pada saat Imam Ali as menyampaikan nubuatnya ini, maka tentu yang dimaksud oleh beliau pertama kali adalah keturunan Ibrahim yang berasal dari Bani Ismail, atau yang lebih dikenal dengan bangsa Arab di wilayah Hijaz. Namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa nubuat yang Imam Ali as sampaikan ini bisa meliputi seluruh bangsa dan negara-negara Arab yang kita kenal dengan sebutan Timur Tengah pada zaman sekarang. Artinya, meskipun nubuat ini bisa tertuju bagi seluruh bangsa dan negara-negara Arab yag kita kenal sekarang, maka pada saat yang sama, kita juga tidak mungkin mengecualikan wilayah Semenanjung Arabia yang justru menjadi sentra Timur Tengah di zaman kita sekarang dan tentu saja pada saat Imam Ali as menyampaikan nubuat-nubuatnya tersebut.
Atas pertimbangan inilah saya fokuskan muatan-muatan nubuat Imam Ali as ini terlebih dulu kepada “jantung” wilayah Timur Tengah yang berada di Peninsula Arabia yang saat ini terdiri dari beberapa negara, seperti Yaman, Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Oman.
Terkait dengan Yaman yang merupakan wilayah bangsa Arab di Selatan Semenanjung Arabia, maka sudah maklum kepada kita semua bahwa Syam dan Yaman adalah dua wilayah di Timur Tengah yang pernah mendapat doa keselamatan dari Rasulullah saww, seperti pada hadis yang pernah disampaikan oleh Nabi saww sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]
Terkait tentang Syam, tentu terlepas dari tanggung jawab analisa kita kali ini, meski seperti saya katakan di atas tadi bahwa nubuat Imam Ali as ini bisa saja diterapkan secara umum ke seluruh wilayah Timur Tengah yang terbentang dari Maroko sampai Irak dan dari Syam hingga Yaman. Akan tetapi, seperti yang artikel ini ingin ungkapkan secara khusus bahwa sentra Timur Tengah pada saat Imam Ali as menyampaikan nubuatnya, bahkan hingga saat kita sekarang adalah wilayah Hijaz atau yang lebih dikenal dengan nama Semenanjung Arabia.
Dalam kesempatan ini juga, saya juga tidak akan membodoh-bodohi diri saya sendiri atau menghabiskan waktu untuk menjelaskan dimana wilayah Najd berada, karena hanya orang-orang yang “gagap-geografi” saja yang tidak bisa menemukan dimana Najd itu berada dan apa saja sejarah Najd sejak awal abad 19? Namun bila anda termasuk di antara orang-orang tersebut (God Forbid!) dan masih mencari-cari dimana wilayah Najd itu di muka bumi ini, maka banyak artikel yang terkait dengan wilayah Najd yang bisa dijadikan referensi pembahasan anda.
1. Sejarah Wilayah Najd dan Para Amirnya.
2. Sejarah Kerajaan Najd dan Hijaz.
3. Sejarah Kerajaan Najd dan Hasa.
4. Sejarah Najd.
Kesimpulannya, nubuat Imam Ali as ini sejatinya mesti pertama kali terkait dengan bangsa dan negara-negara Arab yang berada di wilayah semenanjung Arabia terlebih dulu sebelum ingin dilihat melampaui scope tersebut. Pada saat nubuat Imam Ali as dituangkan, maka Anda akan bisa memahami alasan-alasannya.
Walhasil dengan mengecualikan wilayah Syam dan Yaman atas dasar keberadaan doa Nabi saww pada hadis di atas, maka wilayah yang tersisa di Semenanjung Arabia adalah Najd yang menjadi sentra asal-muasal dan juga induk kekuasaan Kerajaan Saudi Arabia sejak awal berdirinya dan juga keberadaan beberapa negara-negara Arab kecil di sekitarnya selain Saudi Arabia, yaitu: Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab dan Oman. Di Era sekarang, negara-negara Arab ini lebih akrabnya disebut sebagai negara-negara Teluk dan telah membentuk persekutuan “keluarga” bersama yang disebut Gulf Cooperation Council alias GCC.

LordOfArabia-map06-[1]
Hadis Tentang Kemunculan Tanduk Setan di Najd!
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najdkami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Hadis Tentang Kemunculan Kelompok dari Bani Tamim yang menyimpangkan Islam
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Ra berkata: “Saat Rasulullah saww sedang membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang), datanglah seseorang dari Bani Tamim dengan pakaian yang pendek (bagian bawahnya), di antara kedua matanya ada tanda bekas sujud yang menghitam, lalu ia berkata: “Berbuat adillah wahai Rasulullah!”

Rasulullah Saw bersabda: “Celakalah engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Maka engkau akan binasa dan rugi jika aku sendiri tidak berlaku adil.”
Lalu Rasulullah Saww bersabda: “Akan datang suatu kaum kelak seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk kelakuannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Mereka mengajak kepada Kitabullah, tetapi mereka sendiri tidak mengambil darinya sedikitpun.
Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melebihi kerongkongannya. Kalian akan mendapatkan bacaan Al-Qur’an mereka lebih baik dari kalian dan shalat dan puasa mereka lebih baik dari kalian. Mereka akan melesat meninggalkan Islan sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Mereka mencukur kepala serta mencukur kumisnya, pakaian mereka hanya sebatas setengah betis mereka.” Setelah Rasulullah Saww menjelaskan ciri-ciri mereka, Rasulullah Saww bersabda: “Mereka akan membunuh para pemeluk Islam dan melindungi penyembah berhala!”
[Diriwayatkan dalam kitab: Bukhari fi kitab dad’ al-khalq Bab “Alamah An-Nubuwwah”, An-Nisai’ fi khasa-is hal 43, 44, Muslim fi Kitab Az-Zakah Bab At-Tahdzir Min Zinah Ad-Dun-ya, Musnad Imam Ahmad juz I hal 78, 88, 91)

  • the-zionist-arab-states-council-12-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-2-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-3-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-5-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-6-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-7-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-8-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-9-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-10-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-14-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-11-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-12-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-2-640x480
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Nubuat Imam Ali as di dalam Kitab al-Jafr tentang kondisi bangsa dan negara-negara Arab ini sungguh luar biasa! Karena gambaran nubuat yang Imam Ali as beritakan sudah semakin searah dengan apa yang Nabi saww sendiri peringatkan kepada umatnya. Bahkan realitanya dengan kondisi kita di zaman sekarang sudah kian tampak sebagai kenyataan yang selayaknya menjadi fokus dan perhatian bagi kita sebagai Umat Nabi Muhammad saww.
Berikut ini saya akan mulai mengutip nubuat Imam Ali as tentang kondisi bangsa dan negara-negara Arab di Akhir Zaman. Imam Ali as bersabda:

“Sungguh sangat aneh, tetapi bagiku tiada yang lebih aneh dari kelompok-kelompok kecil Arab. Berbagai macam dalih mereka termasuk soal agama mereka. Mereka tidak mengikuti jejak Nabi saww, tidak mencontoh perbuatan seorang wali (imam), tidak mengimani yang gaib dan tidak memaafkan kesalahan. Para penguasa hanya mengenal hukum yang berlaku dan tidak mentolerir kebenaran suatu perkataan, kecuali orang yang dirahmati Allah.

Kemungkaran adalah apa yang mereka ingkari dan pendapat adalah menurut apa yang mereka katakan. Mereka menghimpun pasukan dari kaum-kaum mereka dan dengan pasukan itu mereka menghantam kaum-kaum mereka sendiri. Setiap orang dari mereka adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Fitnah-fitnah seperti bagian-bagian malam yang gulita, menimpa dan mengendalikan mereka, sampai sebagian mereka dilanda kematian yang mengerikan, sebagian ditimpa busung lapar dan sebagian lagi dilanda bahan bakar (kobaran api) yang tidak kunjung padam. Lahir generasi buruk yang tidak diturunkan hujan oleh Allah …
Sebagian mereka (bangsa Arab) meludahi wajah sebagian yang lain. Lidah mereka menjadi api bagi yang lain di tengah kelemahan yang tersebar, menyenangkan hati Israel dan pemimpinnya…”

Kemudian Imam Ali as kembali bersabda:
“… Mereka berjalan di belakang si pendusta Israel, dan di antara mereka adalah para pemimpin kesesatan dan para penyeru kepada neraka. Para raja dan amir yang menjadikan mereka para penguasa, menaiki kendaraan mereka. Bersama merekalah para kepala (pemimpin) ini makan dunia… Di zaman mereka, Masjid Al-Aqsha terabaikan … Setiap daerah terjadi perselisihan besar. Darah membanjiri Tanah Suci Allah secara merata. Bangsa Timur dan bangsa Barat bersiteru, termasuk penduduk Kiblat (bisa jadi maksud khususnya adalah warga Mekah dan umumnya adalah Kaum MusliminM3).
Umat manusia ditimpa rasa takut oleh sebuah kekuatan yang dahsyat. Mereka larut dalam kondisi demikian, sampai ada penyeru dari langit. Maka apabila ada penyeru mereka berhamburan.
Demi Allah, aku seolah melihat ia (al-Mahdi) di antara rukun dan maqam, membaiat orang-orang dengan perkara baru,pemerintahan baru, keputusan baru, dan langkah baru. Ia sangat keras terhadap bangsa Arab…”
—– oOo —–
Demikianlah sedikit dari kutipan Nubuat Imam Ali bin Abi Thalib as dari Kitab al-jafr. Nubuat di atas dikutip dari buku Ramalan Akhir Zaman Imam Ali bin Abi Thalib as – Kondisi Akhir Zaman & Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi, karya Sayyid Ali Asyur, edisi bahasa Indonesia. Penerbit Zahra, 2012.

Gedung, Logo & Emblem Kemiliteran, Keamanan, Kesehatan dan Keamanan Kerajaan Saudi Arabia

  • the-zionist-arab-states-council-27-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-17-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-16-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-28-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-18-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-19-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-20-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-21-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-22-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-23-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-24-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-25-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-26-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-27-640x480 
  •  
  • the-zionist-arab-states-council-17-640x480
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  • the-zionist-arab-states-council-30-640x480
SUMBER :
http://www.musadiqmarhaban.com/2014/03/16/nubuat-imam-ali-bin-abi-thalib-as-tentang-bangsa-dan-negara-arab-di-akhir-zaman/

KENAPA WAHABI KELAK JADI PENGIKUT DAJJAL ?, INILAH KAJIAN ILMIYAH-NYA

 https://satuislam.wordpress.com/2013/12/11/kenapa-wahabi-kelak-jadi-pengikut-dajjal-inilah-kajian-ilmiyah-nya/

972346_1409477352601607_1005496841_n 
SIAPAKAH WAHABI ???
Wahabi adalah Khawarijnya umat ini dan mereka kelak akan bersama DAJJAL
Wahabi itu adalah mazhab plintir sana plintir sini dan akhirnya mereka akan diplintir bersama DAJJAL
Segera saja kita terbitkan buku saku dan dibagikan gratis bahwa sebuah kajian ilmiyah tentang WAHABI kelak akan menjadi pengikut DAJJAL
Slogan kembali kepada Kitabullah adalah jargon mereka untuk menipu umat seperti yg disebutkan dalam beberapa hadis dan sesungguhnya WAHABI adalah ajaran bathil berkedok TAUHID

Terhadap Wahabi yang berdalih mereka bukan pengikut Dajjal karena Dajjal tak bisa masuk Madinah, ini jawabnya: Meski Dajjal tidak bisa memasuki kota Madinah, namun para pengikutnya yang terdiri dari orang2 kafir dan munafik bisa. Saat guncangan 3x, pengikut Dajjal ini akan keluar dari Madinah.

Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu negeripun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorongpun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turunlah di suatu tanah yang berpasir -di luar Madinah- lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan akan setiap orang kafir dan munafik.” (Riwayat Muslim)

Fakta tambahan adalah Wahabi dan Arab Saudi itu dekat dgn AS yang dikuasai Zionis Yahudi. Dajjal adalah Yahudi. Begitu pula berbagai simbol di Arab Saudi seperti Simbol Polisi Riyadh yang berupa Mata Satu. Simbol organisasi Yahudi Illuminati.
http://www.islam-institute.com/kenapa-wahabi-kelak-jadi-pengikut-dajjal-inilah-kajian-ilmiyah-nya/

ISLAM INSTITUTE – DAJJAL – PENGANTAR REDAKSI :

Soal Dajjal, banyak orang pada akhirnya akan sangat lalai memperhatikannya. Manusia akan lupa siapa Dajjal, yang mana sosok ini dulu umat Islam pernah sangat mengenalnya lewat ciri-ci-cirinya. Ya benar, kita sudah mengenal Dajjal, karena Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam jauh-jauh hari, bahkan sejak 1.400 tahun yang lalu sudah memperkenalkan Dajjal kepada ummatnya. Bahwa Dajjal adalah sebagai sosok buta sebelah matanya, dan penyebar fitnah yang paling dahsyat di muka bumi yang akan muncul di akhir zaman.

Fitnah Dajjal sebenarnya merupakan rangkaian fitnah yang sejak lama ada, disebarkan melalui fitnah yang terjadi di antara manusia yang telah diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri. Bahkan Nabi saw memperingatkan bahwa kelompok umat Nabi Muhammad yang tidak hanyut dalam pusaran fitnah sesama manusia akan selamat pula dari fitnah Dajjal di akhir zaman. Rangkaian segala fitnah yang pernah ada di dunia saling berkaitan dari zaman ke zaman dan akan hadir mengkondisikan dunia semakin gonjang-ganjing menghadapi fitnah Dajjal.

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini – baik kecil ataupun besar – kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad 22215)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Allah tidak menurunkan ke muka bumi fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.” (HR. Thabrani 1672)
Justeru ketika kebanyakan manusia telah lalai dan tidak peduli akan Dajjal, kemunculan Dajjal sebagai “sosok jasmani” yang mengaku Tuhan sungguh mengagumkan bagi kebanyakan manusia. Terlebih Dajjal memiliki kemampuan yang luar biasa, sanggup menciptakan, mematikan dan menghidupkan, bahkan di tangan kanannya mempertontonkan kenikmatan surga dan tangan kirinya ada intimidasi dan horror sangat menakutkan bagi manusia yaitu neraka. Semuanya untuk menebar fitnah dan kekacauan akhir zaman. Pada saat itu manusia lupa akan pengetahuan tentang sosok Dajjal yang pernah dikenalnya, sedemikian rupa sehingga bila ada yang memperingatkan soal Dajjal, maka mereka mentertawakannya dan sinis cenderung menganggapnya sekedar mitos atau legenda. Maka betapa manusia terlena dan terpedaya oleh Dajjal.

لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ
“Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.” (HR. Ahmad 16073)
Nah…. Siapakah sebenarnya Dajjal? Siapa kelak yang akan menjadi pengikut Dajjal sehingga terpedaya masuk ke surga Dajjal? Dan apakah Dajjal itu seorang manusia, ataukah dia termasuk makhluk setan atau jin, ataukah raksasa sehingga di tangannya terdapat surga dan neraka? Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kajian ilmiyah soal Dajjal yang dipresentasikan oleh utadz Ibnu Abdillah Al Katiby.

DATA MENGEJUTKAN : WAHABI ADALAH PENGIKUT DAJJAL KELAK

Oleh; Ibnu Abdillah Al Katiby
Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman, di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.
Dalam hadits disebutkan :

قام رسول الله صلى الله عليه و سلم في الناس فأثنى على الله بما هو أهله، ثم ذكر الدجال فقال: ” إني لأنذركموه، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه

“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudianbeliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal, tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari : 6705)

Dalam hadits lain, Nabi bersabda :

ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال

“ Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (HR. Bukhari : 1782)
Pada kesempatan ini, saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal. Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal, namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah umat Nabi Muhammad lainnya, mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran. Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya ? simak uraiannya berikut :
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“ Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)

Nabi juga bersabda :

سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ

“ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “. (Sunan Abu Daud : 4765)
Nabi juga bersabda :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة
“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “. (HR. Imam Bukhari 3342)
Dalam hadits lain Nabi bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبَادَهُمْ وَأَرَاحَنَا مِنْهُمْ
“ Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :

كَلاَّ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ مِنْهُمْ لَمَنْ هُوَ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ لَمْ تَحْمِلْهُ النِّسَاءُ وَلِيَكُوْنَنَّ آخِرَهُمْ مَعَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّال
“ Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.

Penjelasan :
Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan dalam hadits-haditsnya di atas sebagai berikut :
1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannyaartinya tidak membawa bekas dalam hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menjadi pengikut dajjal.

Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.
Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut?? Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam. Ciri mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya, justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??

Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk. Mereka jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran tanpa ada adabnya sama sekali.
Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. Tanda mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini, kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada Al-Quran. Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? Sebab merekalah satu-satunya kelompok yang dikenali di kalangan awam yang selalu teriak mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari mereka.Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok khawarij lainnya.

Tanda mereka adalah bercukur gundul. Hal ini menambah keyakinan kita bahwa yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain kelompok wahabi ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah. Namun kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.

Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah. Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Sebab-Sebab Manusia Jadi Pengikut Dajjal

Kemunculan kaum ( Wahabi ) ini ada di akhir zaman sebagaimana hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya. Namun apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ??Berikut kajian dan analisa ilmiyyahnya :

Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tasybih.

Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung, tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.

Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya. Mereka meyakini Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka Arsy kosong dari Allah namun menurut pendapat kuat mereka Arsy tidak kosong dari Allah. Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari pensifatan mereka bahwa Allah berjisim….

Nah, demikian juga dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya,bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya, dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat, memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim.

Perhatikan dan renungkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

إني حدثتكم عن الدجال، حتى خشيت أن لا تعقلوا ، إن المسيح الدجال قصير أفحج ، جعد أعور ، مطموس العين ، ليست بناتئة ، ولا جحراء ، فإن التبس عليكم ، فاعلموا أن ربكم ليس بأعور
“ Sesungguhnya aku ceritkan pada kalian tentang dajjal, karena aku khawatir kalian tidak bisa mengenalinya, sesungguhnya dajjal itu pendek lagi congkak, ranbutnya keriting (kribo), matanya buta sebelah dan tidak menonjol dan cengkung, jika kalian masih samar, maka ketahuilah sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah matanya “. (HR. Abu Dawud)

Nabi benar-benar khawatir umatnya tidak bisa mengenali dajjal, dan Nabi menyebutkan cirri-ciri dajjal yang semuanya itu bermuara pada jisim, dan menyebutkan aib-aib yang disepakati oleh kaum musyabbih dan sunni yang mutanazzih, namun kaum musyabbihah (wahabi-salafi) sangat mendominasi pada pemikiran tajsimnya sehingga bagi mereka Allah Maha melakukan apapun, dan Allah maha Mampu atas segala sesuatu, bahkan menurut mereka kemampuan Allah memungkinkan berkaitan dengan perkara yang mustahil bagi-Nya yang seharusnya kita sucikan, sehingga berkatalah sebagian mereka : Bahwa Allah jika berkehendak untuk bersemayam di punggung nyamuk, maka Allah pun akan bersemayam di atasnya. Naudzu billahi min dzaalik..

Sebab kedua : Tidak adanya pehamahan mereka tentang perkara-perkara di luar kebiasaan (khawariqul ‘aadah) atau disebut karomah.

Realita yang ada saat ini, kaum wahhabi-salafi tidak pernah membicarakan tentang khawariqul ‘aadah atau karomah, bahkan mereka mengingkari karomah-karomah para wali Allah yang disebutkan oleh para ulama hafidz hadits seperti al-Hafidz Abu Nu’aim dalam kitab hilyahnya, imam Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya dan lainnya, bahkan mereka memvonis kafir kepada sebagian para wali Allah yang mayoritas ahli tasawwuf. Mereka tidak bisa mencerna karomah-karomah para wali yang ada sehingga tidak mempercayai imdadaat ruhiyyah (perkara luar biasa yang bersifat ruh) yang Allah berlakukan di tangan para wali-Nya yang bertaqwa sebagai kemuliaan Allah atas mereka.
Sedangkan dajjal akan datang dengan kesaktian-kesaktian yang lebih hebat dan luar biasa sebagai fitnah bagi orang yang Allah kehendaki, menumbuhkan tanah yang kering, menurunkan hujan, memunculkan harta duniawi, emas, permata, menghidupkan orang yang mati dan lain sebagainya, sedangkan kaum wahhabi tidak perneh membicarakan khawariqul ‘aadat semacam itu, sehingg akal mereka tidak mampu membenarkannya, oleh sebab itu ketika dajjal muncul dengan membawa khowariqul ‘aadat semacam itu disertai pengakuan rububiyyahnya, maka bagi wahabi, dajjal itu adalah Allah karena wahabi tidak mengathui sama sekali tentang khowariqul ‘aadat yang Allah jalankan atas seorang dari golongan manusia.
Mereka pun tidak mampu membedakan antara pelaku secara hakikatnya dan semata-semata sebab / perantaranya, maka bercampurlah pemahaman mereka antara kekhususan sang pencipta dengan makhluk-Nya. Seandainya mereka mengetahui bahwa apa yang terjadi dari khowariqul ‘aadat hanyalah semata-mata dari qudrah Allah, dan manusia hanyalah perantara, maka wahabi tidak akan heran atas apa yang dilakukan dajjal. Dan seandainya kaum wahabi bertafakkur atas khowariqul ‘aadat yang terjadi dari para Nabi dan wali, maka wahabi tidak akan terkena fitnah oleh khowariqul ‘aadat yang terjadi dari dajjal sebagai bentuk istidraajnya.
Yang membedakan khowariqul ‘aadat yang terjadi atas para Nabi dan dajjal adalah bahwa para nabi memperoleh hal itu sebagai penguat kebenaran yang mereka serukan, sedangkan dajjal memperoleh hal itu sebagai fitnah atas seseorang yang mengaku rububiyyah, perkara hal itu sama-sama perkara khowariqul ‘aadat (perkara luar biasa).
Sebab ketiga : Bermanhaj khowarij yakni keluar dari jama’ah muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin.Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mensifati pengikut dajjal bahwasanya mereka adalah kaum khowarij,sebagaimana sebagian telah dijelaskan di awal :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ
“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn ( kurun / generasi ) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya).

Arah Timur yang Nabi maksud tidak ada lain adalah arah Timur kota Madinah yaitu Najd sebab Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah menspesifikasikan letak posisinya yaitu tempat dimana ciri-ciri khas penduduknya orang-orang yang memiliki banyak unta dan baduwi yang berwatak keras dan berhati kasar dan tempat di mana menetapnya suku Mudhar dan Rabi’ah, dan semua itu hanya ada di Najd Saudi Arabia,Nabi bersabda :

مِنْ هَا هُنَا جَاءَتِ اْلفِتَنُ ، نَحْوَ اْلمَشْرِقِ ، وَاْلجَفَاءُ وَغِلَظُ اْلقُلوْبِ فيِ اْلفَدَّادِينَ أَهْلُ اْلوَبَرِ ، عِنْدَ أُصُوْلِ أَذْنَابِ اْلإِبِلِ وَاْلَبقَرِ ،فِي رَبِيْعَةْ وَمُضَرً
“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “.(HR. Bukhari)

Maka kaum wahhabi-salafi ini adalah regenerasi dari kaum khowarij pertama di masa Nabi dan sahabat, perbedaaanya kaum khowarij pertama bermanhaj mu’aththilah (membatalkan sifat-sifat Allah), sedangkankaum neo khowarij (wahhabi) ini bermanhaj tajsim dan taysbih. Walaupun berbeda, namun sama-sama menyimpang dari aqidah Islam, dan Allah merubah manhaj mereka dari kejelekan menuju manhaj yang lebih jelek lagi sebagai balasan atas kedhaliman dan kesombongan yang memenuhi hati mereka. Atas manhaj tajsim mereka inilah menjadi penyebab wahhabi mudah terpengaruh oleh dajjal, sedangkan khowarij terdahulu jika masih ada yg mengikuti manhaj ta’thilnya tidak mungkin terpengaruh oleh dajjal, sebab sangat anti terhadap sifat-sifat Allah, mereka mensucikan Allah dari sifat gerak, pindah, bersemayam, diam, duduk, turun dan sebagainya bahkan mereka membatalkan sifat-sifat wajib Allah.

Maka dengan jelas wahabi kelak akan menjadi pengikut dajjal, Naudzu billahi min syarril wahhabiyyah wa imaamihim dajjal….
http://kabarislam.wordpress.com/2013/05/27/kenapa-wahabi-kelak-jadi-pengikut-dajjal-inilah-kajian-ilmiyah-nya/
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/05/19/dajjal-sang-penipu/

************************************************************************************************************
Najd Tempat Khawarij/Fitnah: Di Najd atau Di Iraq?
najd 
Ummat Islam banyak yang tidak suka saat mereka difitnah sebagai Ahlul Bid’ah, Sesat, Penyembah Kuburan, Musyrik, bahkan kafir oleh Wahabi. Bahkan ada yang dibunuh. Oleh karena itu mereka balik mngkritik Wahabi. Ada pun Wahabi yang menamakan dirinya macam-macam dari Muwahidun, Salafi, Ahlus Sunnah (Tanpa kata Jama’ah) justru marah. Mereka merasa mereka dan syeikh mereka, Muhammad bin Abdul Wahhab yang lahir di Najd difitnah oleh “Musuh-musuh Islam.”

Siapakah yang benar? Nabi menyebut Najd, tempat kelahiran pendiri Wahabi sebagai tempat fitnah. Ini hadits-haditsnya. Silahkan baca dengan seksama. Bebaskan diri anda dari taqlid. Gunakan akal pikiran anda untuk memahaminya. Jika pun bertanya pada ulama, jangan tanya pada kelompok anda saja. Tanya pada Jumhur Ulama agar tak tersesat:

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

Pada hadits di atas disebut ada orang Najd yang meminta Nabi agar memberkahi Najd. Saat itu dakwah Nabi belum mencapai Iraq. Selain itu ucapan Nabi tentang tanduk setan (قرن / qorn) itu sesuai dengan miqat haji orang-orang Najd di QORN yang artinya TANDUK. Jelaslah bahwa Najd yang disebut Nabi adalah Najd yang kita kenal sekarang. Bukan Iraq! Jika pun orang Iraq yang hadir, tentu mereka minta agar IRAQ yang diberkati. Bukan Najd!

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)

Posisi Nabi saat hadits yang menyebut tempat fitnah ada di sebelah TIMUR dan tempat MATAHARI TERBIT adalah di MADINAH. Kita harus paham dasar-dasar ilmu Geografi atau Ilmu Bumi agar bisa paham. Madinah dan Riyadh (Najd) letaknya sejajar sekitar 24 derajad lintang utara. Sementara Kufah / Najaf terletak di 32 derajad lintang utara. 8 derajad lebih utara dari kota Madinah. Sebagai perbandingan, Amman, Yordania yang ada di utara Madinah sejajar dengan Kufah yaitu di 32 derajad lintang utara. Matahari itu paling tinggi posisinya berada di 23,5 derajad lintang utara pada tanggal 21 Juni sebelum akhirnya bergerak ke selatan. Jadi matahari terbit di Madinah itu posisinya dari arah Najd yang persis ada di sebelah timur Madinah. Tidak mungkin dari Iraq yang ada di utara Madinah.
Dari sini kita paham bahwa Najd yang dimaksud adalah Najd sekarang yang memang ada tepat di sebelah timur Madinah. Bukan Iraq yang berada di utara.

najd11


http://kabarislam.wordpress.com/2012/01/16/najd-tempat-khawarijfitnah-di-najd-atau-di-iraq/

Anda bisa melihat berbagai peta kota Madinah, Najd, dan Iraq baik dari segi topografi sehingga paham daerah yang tinggi (Najd) dan yang rendah (bukan Najd), serta tempat yang di timur kota Madinah itu apa.

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656)

Hadits Nabi di atas berulang-kali menyebut Tanduk Setan (Qorn Syaithon). Dan Miqat Haji penduduk Najd di Qarn (Tanduk). Sementara Miqat penduduk Iraq di Dzatu “Irq. Jelas bukan kalau Najd dan Iraq adalah dua nama yang berbeda yang menunjukkan dua tempat yang berbeda. Najd adalah Nejd, Najd dulu dan Najd sekarang adalah sama jadi tidak bisa ditakwil-takwilkan bahwa Iraq adalah Najd. Tidak betul itu!

Berbagai hadits di atas tentang Najd sesungguhnya menunjukkan Najd itu adalah Najd yang dikenal umum baik di zaman Nabi mau pun sekarang. Bukan tempat lainnya sebagaimana ditafsirkan Ibnu Taimiyyah ada di Kufah. Apalagi Najd yang dikenal di zaman Nabi di hadits tersebut disebut ada di TIMUR kota Madinah dan tempat terbitnya matahari. Tak mungkin penduduk Madinah melihat matahari terbit dari arah Kufah. Najd sekarang pun memang selain di Timur Madinah juga merupakan dataran Tinggi (762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut). Di hadits Sunan Nasa’i no 2656 Nabi menyebutkan tempat miqat bagi penduduk Iraq dan penduduk Najd. Jelas Iraq dan Najd adalah dua tempat yang berbeda.

Sebaliknya Kufah yang juga disebut An Najaf ternyata terletak di dataran rendah di lembah sungai Efrat. Jadi tidak mungkin Ibnu Taimiyyah berkata demikian. Bisa jadi ulama Wahabi memang suka mengubah-ubah tulisan sebagaimana disinyalir oleh Syekh Idahram dan juga beberapa ulama lainnya. Sehingga ada ulama yang bilang kalau beli kitab kuning sebaiknya beli di Yaman atau Mesir. Jangan di Arab Saudi sebab sudah dirubah-rubah oleh Wahabi.
Coba lihat peta Kufah (An Najaf) yang berada di daerah hijau (dataran rendah). Bukan kuning yang merupakan tanda dataran tinggi:

topographic-najd


Apalagi Muhammad bin Abdul Wahab dikenal juga dengan Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi. Jadi bagaimana lagi mau berkelit atau mentakwil-takwilkannya dengan cara lain sehingga Najd yang dimaksud Nabi itu berbeda dengan Najd yang dikenal masyarakat Arab baik di zaman dahulu atau pun sekarang?

http://id.wikipedia.org/wiki/Najd

Ada pernyataan kelompok Salafi Wahabi mengenai celaan terhadap kota Najd yang merupakan tempat kelahiran pendiri paham Wahabi: Muhammad bin Abdul Wahab. “Apa salahnya jika lahir di Najd? Apakah otomatis akan jadi Khawarij/Sesat?”

Tidak salah memang. Apalagi jika memang orang tersebut memurnikan ajaran Islam dengan memurnikan Tauhid dan menghidupkan Sunnah. Yang jadi masalah adalah jika cara dakwahnya akhirnya menganggap sesat/kafir sesama Muslim bahkan ulama apalagi sampai membunuh sesama Muslim sehingga timbul Fitnah. Jika itu sampai terjadi, tentu orang tersebut merupakan Khawarij pembuat Fitnah yang disebut Nabi berasal dari Najd di sebelah timur kota Madinah (arah tempat terbitnya matahari di kota Madinah).

Kalau kita kaji Al Qur’an dan Hadits dan Sejarah Muhammad bin Abdul Wahhab, niscaya kita tahu bahwa perkataan dan perbuatan Muhammad bin Abdul Wahhab itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Coba lihat fitnah Muhammad bin Abdul Wahhab yang menuduh ummat Islam (termasuk di Mekkah dan Madinah) lebih Musyrik daripada kaum Musyrik penyembah berhala. Tersinggungkah anda jika difitnah sbg Musyrik?

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’: “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu

http://muslim.or.id/manhaj/apa-itu-wahabi-1.html
http://kabarislam.wordpress.com/2013/03/12/wahabi-tuduh-muslim-lebih-syirik-dari-musyrikin-quraisy-mekkah

MBAW memfitnah ummat Islam di Mekkah, Madinah, dan kota2 lain di jazirah Arab sebagai lebih Musyrik daripada orang Kafir Quraisy Mekkah dulu. Ini jelas bertentangan dengan firman Allah untuk tidak mengolok-olok dan menggunjing sesama Muslim [Al Hujuraat 11-12]
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/11/30/haram-berteman-dengan-kafir-harbi-dan-membunuh-sesama-muslim/

Menyebut Muslim sebagai Musyrik sama dengan memfitnah Muslim sebagai Murtad. Menurut Islam, hukuman bagi orang-orang Murtad adalah mati. Tak heran jika Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya akhirnya memerangi dan membunuh orang Islam di Thaif, Mekkah, Madinah, dsb.

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [An Nisaa’ 94]
 
Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/
Di situ juga disebut bagaimana MAW bekerjasama dengan Raja Arab guna memerangi musuhnya:
Selanjutnya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkerjasama secara sistematis dan saling menguntungkan dengan keluarga Saud untuk menegakkan Islam.
http://www.arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html
Padahal Nabi memerintahkan agar menjauhi para penguasa/raja:
Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ”Barang siapa tinggal di padang pasir, ia kekeringan. Barang siapa mengikuti buruan ia lalai. Dan barang siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa, maka ia terkena fitnah.” (Riwayat Ahmad).

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Meski hadits diatas mencerca ulama yang bergaul-erat dengan penguasa, pada dasarnya jika untuk memberi nasehat kebaikan tidak masalah. Tapi jika justru memberi keburukan sehingga si Raja tersebut gemar berperang membunuh sesama Muslim, niscaya itu tidak baik.
Keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupanya terlibat dalam PEPERANGAN dengan kepala-kepala suku lainnya selama 28 tahun, secara perlahan namun pasti memasuki masa kejayaannya…
Keluarga Ibnu Saud, sebagai pendukung dan unsur utama garakan ini segera menaklukkan hampir seluruh semenanjung Arab, termasuk kota-kota suci Mekkah dan Madinah. Gerakan Wahabi ini akhirnya menjadi mazhab fikih resmi keluarga Saudi yang berkuasa
http://www.arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html
Itu adalah tulisan dari website Wahabi, arrahmah.com. Jika kita membacanya tidak dengan kritis/tidak pakai akal, niscaya kita tidak paham. Tapi jika kita menggunakan akal, niscaya kita tahu kalau Keluarga Saud yang hampir seluruh kehidupannya TERLIBAT PEPERANGAN dgn “KEPALA SUKU” lain selama 28 TAHUN itu sebetulnya memerangi dan membunuh orang-orang Islam. Boleh dikata sejak zaman Sahabat seluruh Jazirah Arab itu sudah Islam. Kalau disebut perang dengan kepala suku, artinya Ibnu Saud yang dibantu MBAW itu memerangi/membunuh ummat Islam di jazirah Arab selama 28 tahun termasuk Mekkah dan Madinah yang mereka “TAKLUKKAN”. Bahkan lebih karena diteruskan oleh penggantinya. Tidak ada di situ disebut perang melawan Inggris.

Nabi itu utusan Allah. Beliau bicara tidak sembarangan. Tapi dari Wahyu Allah. Banyak hadits tentang Fitnah (Pembunuhan) dari Najd. Baik saat ada orang Najd datang ke Nabi, Najd dari arah Timur dan Najd dari arah matahari terbit. Lintang Utara Madinah dgn Najd (mis: Riyadh) sejajar=24 derajad lintang utara. Matahari paling utara di 23,5 derajad lintang utara. Sementara Syams atau Iraq itu 32 derajad Lintang Utara lebih. Baik Syams mau pun Iraq lebih dekat disebut Utara (Syimal) ketimbang Timur.

Selain itu ada hadits Miqat orang Iraq di Zati ‘Irq sedang Najd di Qorn.

Qorn ini artinya TANDUK. Identik dgn hadits tentang Qornus Shaython. Tanduk Setan. Najd itu artinya tanah tinggi. Sesuai dgn Najd yg tingginya sekitar 1000 meter di atas laut. Ada pun Iraq itu tanah rendah. Kurang dari 50 meter.

Dajjal tidak bisa masuk Mekkah dan Madinah. Tapi pengikutnya bisa:
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)

Cuma ya terserah. Mau percaya syukur, tidak percaya juga silahkan. Peta ini insya Allah jelas bagi orang2 yg bertakwa

Silahkan baca juga:
Salafi Wahabi Memecah Belah Islam dari Dalam
Beberapa Kekeliruan Salafi Wahabi
Muhammad bin Abdul Wahhab: Mujaddid atau Fitnah dari Najd?
http://bicarasalafy.wordpress.com/2011/03/11/dimanakah-masyriq-pada-hadis-fitnah-najd-rabiah-mudhar-ahlul-masyriq/
Membantah Salafy: Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq.
Posted by bicarasalafy pada Maret 11, 2011
Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq
SUMBER: Analisis Pencari Kebenaran
Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq
Tulisan ini bisa dibilang pengulangan yang disertai dengan sedikit tambahan untuk membungkam para salafy berkaitan dengan hadis Najd. Seperti yang kita ketahui bersama, salafy berkeras [bin ngotot] kalau Najd yang dimaksud dalam hadis Fitnah Najd adalah Iraq bukannya Najd yang ada di Jazirah Arab. Cara pendalilan mereka ini telah kami bahas dan merupakan fallacy [sesat pikir] yang sangat nyata [bagi yang belum membacanya maka silakan membaca beberapa tulisan kami tentang Najd].
Hadis Tanduk Setan Kontroversi Najd dan Irak
Analisis Hadis Tanduk Setan Najd Bukan Irak
Najd Bukan Irak Bantahan Bagi Salafy

Hadis Fitnah Timur : Najd
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Kedua hadis di atas dengan jelas menyebutkan tentang masyriq [timur] sebagai arah tempat datangnya fitnah atau arah munculnya tanduk setan. Pertanyaannya adalah timur yang dimana?. Salafy mengatakan bahwa di masa arab dahulu istilah timur barat sama halnya dengan istilah kanan kiri. Artinya di sebelah kanan adalah timur dan disebelah kiri adalah barat. Salafy menginginkan dengan pengertian tersebut maka arah timur yang dimaksud tidak mesti tepat di timur arah mata angin sekarang. Syubhat salafy ini terbantahkan dengan adanya berbagai hadis shahih yang menunjukkan kalau arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit. Yaitu hadis berikut

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbitseraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 dengan sanad shahih]

Tidak hanya soal arah yang dimaksud timur matahari terbit. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan nama tempat yang dimaksud yang sesuai dengan arah timur matahari terbit dari Madinah. Tempat tersebut adalah Najd
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Najd disini bukanlah Iraq karena antara Najd dan Iraq hanya Najd yang merupakan tempat dengan arah timur matahari terbit dari Madinah. Salafy bisa saja berdalih kalau Iraq juga terletak di timur madinah dengan alasan kanan Madinah adalah timur dan kiri Madinah adalah barat tetapi dalih tersebut tertolak dengan penjelasan arah yang dimaksud adalah timur matahari terbit. Irak tidak terletak pada arah timur matahari terbit. Siapapun yang berada di Madinah dan menyaksikan arah terbitnya matahari kemudian ia menelusuri jalan dengan arah tersebut maka ia akan sampai di Najd bukan di Iraq.

Selain menunjukkan nama tempat tersebut, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan ciri-ciri orang atau penduduk di tempat tersebut. Diantaranya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan kalau orang-orang disana [tempat munculnya fitnah] adalah orang yang berhati sombong dan angkuh termasuk pengembala unta atau dikenal dengan sebutan Ahlul wabar.

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala [aku membacakan kepada] Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

Kedua hadis di atas menyebutkan tempat munculnya fitnah adalah tempat pada arah timur matahari terbit dimana orang-orang disana dikenal sebagai pengembala unta, orang yang berhati kasar sombong dan angkuh yang merupakan tabiat kebanyakan dari ahlul wabar atau arab badui. Ahlul wabar bisa diartikan sebagai orang arab badui karena tempat tinggal mereka terbuat dari al wabr atau bulu. Di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Ahlul wabar tinggal di Najd.

Rabi’ah dan Mudhar Ahlul Masyriq
Selain menyebutkan ciri-ciri mereka, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan kabilah mereka yang dikenal sebagai Rabiah dan Mudhar. Rabi’ah dan Mudhar dikenal sebagai Ahlul Masyriq [penduduk timur] di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari]Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

Dalil-dalil di atas hanya pengulangan dari tulisan kami sebelumnya tetapi disini akan kami tambahkan sedikit dalil shahih kalau Rabiah dan Mudhar adalah penduduk Masyriq [timur] di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Berikut hadis yang memuat keterangan tentang Rabi’ah dan Mudhar

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ الْوَفْدُ أَوْ مَنْ الْقَوْمُ قَالُوا رَبِيعَةُ فَقَالَ مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى قَالُوا إِنَّا نَأْتِيكَ مِنْ شُقَّةٍ بَعِيدَةٍ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيَكَ إِلَّا فِي شَهْرٍ حَرَامٍ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ نُخْبِرُ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا نَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَتُعْطُوا الْخُمُسَ مِنْ الْمَغْنَمِ وَنَهَاهُمْ عَنْ الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ قَالَ شُعْبَةُ رُبَّمَا قَالَ النَّقِيرِ وَرُبَّمَا قَالَ الْمُقَيَّرِ قَالَ احْفَظُوهُ وَأَخْبِرُوهُ مَنْ وَرَاءَكُمْ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Jamrah yang berkata saya pernah menjadi penterjemah antara Ibnu Abbas dan orang-orang. [Ibnu Abbas] berkata “sesungguhnya delegasi [utusan] Abdul Qais pernah mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “siapakah utusan itu atau kaum itu?”. [para sahabat] berkata “Rabi’ah”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “selamat datang kaum atau utusan semoga tidak ada kesedihan dan penyesalan. Mereka berkata “kami datang dari perjalanan jauh dan diantara tempat tinggal kami dan tempat tinggal-Mu terdapat perkampungan kaum kafir Mudhar sehingga kami tidak bisa datang kepadaMu kecuali pada bulan haram maka perintahkanlah kepada kami perintah yang dapat kami ajarkan kepada orang-orang di tempat kami dan karenanya kami dapat masuk surga. Maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan kepada mereka empat hal dan melarang mereka empat hal, memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah ‘azza wajalla satu-satunya. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tahukah kalian arti beriman kepada Allah satu-satunya?”. Mereka berkata “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan Shalat dan menunaikan zakat dan berpuasa di bulan ramadhan dan memberikan seperlima [khumus] dari harta rampasan perang [ghanimah] . Dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mereka dari meminum Ad Dubaa’ Al Hantam dan Al Muzaffat. Syu’bah berkata “terkadang Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan An Naqiir dan terkadang berkata Muqayyir. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hafalkanlah itu dan kabarkanlah kepada orang-orang di tempat kalian” [Shahih Bukhari 1/29 no 87]

Hadis di atas menjelaskan bahwa kabilah Abdul Qais adalah salah satu dari Kabilah Rabi’ah dan diantara tempat tinggal mereka dan tempat tinggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di madinah terdapat tempat tinggal kabilah Mudhar [yang masih kafir]. Pertanyaannya siapakah kabilah Abdul Qais ini dan dimana mereka tinggal. Terdapat dalil shahih yang menyebutkan kalau Abdul Qais termasuk penduduk Masyriq [timur]

حدثنا أحمد قال حدثنا شباب قال حدثنا عون بن كهمس قال حدثنا هشام بن حسان عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة عن النبي قال خير أهل المشرق عبد القيس
Telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaab yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aun bin Kahmas yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Hassaan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bersabda “penduduk Masyriq [timur] yang paling baik adalah Abdul Qais” [Mu’jam Al Awsath Thabrani 2/171 no 1615]

Hadis ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. Berikut adalah keterangan mengenai para perawinya
Ahmad syaikh [guru] Thabrani dalam sanad di atas adalah Ahmad bin Husein bin Nashr Abu Ja’far Al ‘Askariy . Daruquthni menyatakan kalau ia seorang yang tsiqat [Su’alat Hamzah 1/146 no 144]
Syabab adalah Khalifah bin Khayaath termasuk salah satu syaikh [guru] Bukhari. Ibnu Adiy menyatakan ia hadisnya lurus shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan ia mutqin. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 3 no 304]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 1409]
‘Aun bin Kahmas adalah salah satu perawi Abu Dawud. Telah meriwayatkan darinya jamaah tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak dikenal”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Dawud berkata “tidak disampaikan kepadaku kecuali yang baik” [At Tahdzib juz 8 no 313]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir Taqrib At Thadzib no 5225]. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4319]
Hisyam bin Hassaan adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibnu Saad Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat. Abu Hatim dan Ibnu Adiy berkata “shaduq”. [At Tahdzib juz 11 no 75]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang tsabit riwayatnya dari Ibnu Sirin [At Taqrib 2/266]
Muhammad bin Sirin adalah perawi kutubus sittah tabiin yang dikenal tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dan ahli ibadah [At Taqrib 2/85]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 4898]
Hadis di atas menyebutkan kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebut Abdul Qais sebagai ahlul masyriq [penduduk timur] yang paling baik. Apakah masyriq [timur] yang dimaksud?. Arah timur manakah yang dimaksud?. Dimana sebenarnya tempat tinggal kabilah Abdul Qais?. Perhatikan hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ الضُّبَعِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ جُمُعَةٍ جُمِّعَتْ بَعْدَ جُمُعَةٍ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسْجِدِ عَبْدِ الْقَيْسِ بِجُوَاثَى مِنْ الْبَحْرَيْنِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al ‘Aqdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Abi Jamrah Adh Dhuba’iy dari Ibnu Abbas yang berkata “sesungguhnya shalat jum’at yang pertama dilakukan setelah shalat jum’at di masjid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah di masjid kabilah Abdul Qais di Juwatsa daerah Bahrain [Shahih Bukhari 2/5 no 892]

Jadi kabilah Abdul Qais yang termasuk salah satu kabilah Rabi’ah tinggal di Bahrain. Dimanakah Bahrain?. Bahrain adalah kawasan yang terletak di sebelah timur arah matahari terbit dari madinah. Kalau Bahrain adalah tempat tinggal kabilah Abdul Qais maka dimanakah tempat tinggal kafir Mudhar yang disebutkan dalam hadis Bukhari sebelumnya terletak di antara madinah [tempat tinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Bahrain [tempat tinggal Abdul Qais]. Jawabannya gampang, ambil peta dan lihat tempat itu adalah Najd.
أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان قال أخبرنا أحمد بن أبي بكر عن مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير نحو المشرق ويقول ( ها إن الفتنة ها هنا إن الفتنة ها هنا من حيث يطلع قرن الشيطان ) قال أبو حاتم رضي الله عنه مشرق المدينة هو البحرين و مسيلمة منها وخروجه كان أول حادث حدث في الإسلام

Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Sa’id bin Sinaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar yang berkata sesungguhnya aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengarahkan tangannya kea rah timur dan berkata “dari sini fitnah dari sini fitnah dari sini dari arah munculnya tanduk setan”. Abu Hatim berkata “timur madinah adalah Bahrain, Musailamah berasal darinya dan keluar darinya dialah yang pertama membuat bid’ah dalam islam” [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 Syaikh Al Arnauth berkata “shahih dengan syarat Bukhari Muslim]
Kawasan Bahrain dan sekitarnya termasuk Najd adalah kawasan yang di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikenal sebagai masyriq [timur] sehingga penduduknya Rabi’ah dan Mudhar disebut sebagai ahlul masyriq.
najd-bahrain



Jadi hadis fitnah yang katanya muncul dari arah timur matahari terbit dari arah munculnya tanduk setan dari Rabiah dan Mudhar maka sangat jelas tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang tertera jelas dalam hadis shahih.
Catatan : sedikit tentang Bahrain, dahulu Bahrain meliputi daerah kawasan timur yaitu Ahsa, Qatif dan Awal. Sekarang Ahsa dan Qatif menjadi bagian dari propinsi timur Arab Saudi dan Awal menjadi yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Bahrain. Jadi dahulu Bahrain itu bersebelahan dengan Najd. Selengkapnya tentang Bahrain dapat dibaca disini. Gambar dicomot dari Mbah Gugel blog-nya salafytobat
http://jalansunnah.wordpress.com/2011/08/13/menuntaskan-fitnah-najd-sebagai-negeri-dua-tanduk-setan/
Menuntaskan Fitnah NAJD Sebagai Negeri Dua Tanduk Setan
Posted on Agustus 13, 2011 | 1 Komentar
“….katakanlah Najd yang dimaksud adalah Najd Hijaz dan diantara dua tanduk Syaitan tersebut adalah Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab -rahimahullah- dengan ‘Wahhabi’nya… maka konsekuensi logisnya adalah ‘Wahhabi’ merupakan ‘Ajaran Syaitan’ dan pengikutnya adalah ‘Syaitan Manusia’,
dan konsekuensi logisnya lagi adalah ‘Anti-Wahhabi’ meyakini bahwa Haramain (Makkah & Madinah) telah dikuasai oleh ‘Syaitan’.Apakah ini tidak bertentangan dengan sekian banyak dalil yang menyatakanbahwa Syaitan tidak mampu memasuki Makkah dan Madinahyang merupakan benteng terakhir Ummat Islam ?…..”
Dajjal tidak bisa masuk Mekkah dan Madinah. Tapi pengikutnya bisa:
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal. (Shahih Muslim No.5236)
* * *
Sumber : http://syaikhulislaam.wordpress.com/2011/02/21/fitnah-dari-timur/
http://kabarislam.wordpress.com/2012/01/16/najd-tempat-khawarijfitnah-di-najd-atau-di-iraq/

http://kaahil.wordpress.com/2011/08/08/kupas-tuntas-wahaby-nejd-saudi-arabia-hadits-fitnah-negeri-dua-tanduk-setan-%E2%80%9C-disana-muncul-kegoncangan-dan-fitnah-dan-disanalah-akan-muncul-tanduk-setan%E2%80%9D/
http://ummatipress.com/2013/01/07/miqat-haji-menyingkap-misteri-najd-dan-fitnah-qarn-tanduk-setan/


GUNDUL WAHHABI

Oleh Khoirul Hatifh Yhan Maulana
Fitnah DARI Timur.Wahabi berkilah Nejd di Irak?
Suruh menghubungkan Nejd Irak dengan Dongeng Rustum!!!
Wahabi membual tentang Rustum?
Suruh saja menghubungkan cerita itu dengan Irak!!!
Pasti tidak akan bisa. Andai seluruh Kitab Rekayasa Wahabi di seluruh dunia dikumpulkan untuk membantahnya, atau seluruh syeikhnya mulai dari barat hingga timur dikumpulkan untuk menjawabnya, TIDAK AKAN BISA MENJAWABNYA.

Gundul Wahhabi

Yang jelas, anda pasti kena marah besar plus sumpah serapah Atau, disuruh beristighfar, bertaubat!!!
Jawaban? Jangan harap. Sampai kiamat tak akan ada jawabannya karena kebenaran wahyu Allah tak mungkin dapat dibantah. Hadits Nabi saw tak mungkin dapat dipatahkan!!!
Supaya makin jelas, kali ini akan saya utarakan tentang satu lagi ciri tanduk syaitan. Dalam hadits tanduk syetan, terdapat kalimat:
سيماهم التحليق
“tanda-tanda mereka adalah bercukur gundul”
Kok Wahabi gak gundul?
Ya kalo hari gini wahhabi mau bergundul-gundul ria, namanya bunuh diri, mbah…..

Ceritanya begini, mbah:
Dulu, Muhammad bin Abdul Wahab, tiap ada pemeluk baru masuk, langsung disuruh cukur gundul. Alasannya, itu rambut masa kemusyrikan. Langsung cukur habis alias gundul. Laki maupun perempuan. Plontos, men!
Suatu ketika, datang seorang wanita melabrak MBAW. “Kau telah memerintahkan wanita untuk dicukur gundul. Tahukah kau bahwa rambut bagi wanita bernilai seperti jenggot pada laki-laki arab? Mengapa tidak kau cukur juga jenggot para laki2? Bukankah itu juga jenggot masa kemusyrikan?”
Muhammad bin Abdul Wahhab langsung diam. Bingung, mbah………….! Nah, sejak saat itu, acara pergundulan rambut musyrik mulai mereda. Dicancel sedikit demi sedikit biar gak kentara. Sambil menjaga kewibawaan sang syekh supaya gak kehilangan muka.
Mau lari dari hadits Nabi?! Eh, cucunya sendiri ngaku, Cucu Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdul Aziz bin Hamd berkata:

الحلق هو العادة عندنا، ولا يتركه إلا السفهاء عندنا، فنهى عن ذلك نهي تنزيه لا نهي تحريم سدا للذريعة؛ ولأن كفار زماننا لا يحلقون فصار في عدم الحلق تشبها بهم. انتهى من مجموعة الرسائل والمسائل4/578

“Bercukur gundul adalah kebiasaan kami, hanya orang bodoh saja yang enggan gundul. Tapi tidak bergundul juga gak apa-apa, tidak sampai derajat haram. Orang-orang kafir di masa kita tidak bergundul. Maka meninggalkan bergundul bisa menjadi tasyabbuh dengan mereka”. Majmu’ah Rosail wal Masa’il juz 4 hal 578

Pada kesempatan lain, dia juga berkata, “Sesungguhnya yg dilarang itu mencukur sebagian dan membiarkan sebagian”.
Yang jelas, belum ada satu aliran sesatpun di muka bumi ini, yang menyuruh untuk bercukur gundul kecuali Wahabi.
Tahliq ini makin membuat bingung Wahabi dalam menghubungkan antara Timur (Irak), Rustum dan Tahliq.
Salam

One response to “KENAPA WAHABI KELAK JADI PENGIKUT DAJJAL ?, INILAH KAJIAN ILMIYAH-NYA”

Kelompok wahabi adalah kaki tangan dajjal laknatullah….kerjaanya menghancurkan situs islam sehingga suatu saat islam hanya dianggap agama dongeng karna gk ada bukti sejarahnya yg menunjukkan islam itu ada….smia situs dan bukti sejarahnya dihancurin kelompok wahabi dajjal dengan alasan syirik dan bid’ah sedangkan mereka mengijinkan amerika bikin pangkalan di arab saudi ….ini dajjal yg sangat nyata
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar