Minggu, 25 September 2016

YAMAN ADALAH NEGARA MERDEKA DAN BERDAULAT..>> ........ KLW ADA PENGGANTIAN PIMPINAN NEGARA.. ITU ADALAH BIASA..??>> TERLEBIH.. MASALAH ..... HADI RABUH.. SEBENARNYA.. BUKAN DI GULINGKAN.. TAPI SUATU KOMPROMI ... SESAMA KEKUATAN POLITIK DI YAMAN..... .. DIMANA KEKUASAAN BERBAGI ANTARA HADI RABUH DENGAN KELOMPOK HOUTHI... >> BHW SEAKAN PRESIDEN TETAP HADI RABUH .. DAN PM.. ADALAH PIMPINAN KELOMPOK HOUTHI...??>> NAMUN RABUH.. RUPANYA.. TDK PUAS.. DAN MELARIKAN DIRI.. DAN SUAKA KE SAUDI..??>> N ... SAUDI .. KRN INI.. ADALAH PROXY NYA.. MK KEMUDIAN.. MENGUMPULKAN KELOMPOKNYA.. 10 NEGARA LIGA ARAB.. N MELAKUKAN AGRESI.. LANGSUNG.. N BRUTAL... KE YAMAN.. DIMANA MENGERAHKAN 40 000 PASUKAN DAN JUGA SERANGAN UDARA.. N LAUT.. KEPADA YAMAN HOUTHI.. N ... SEPERTINYA.. SE-KURANG2NYA... TUJUAN.. SAUDI...DKK.. INGIN MEREBUT ADEN.. N TA'IZ.. YG DIANGGAP.. LOKASI YG PALING STRATEGIS.. MENGIKUTI POLA RUSIA .. DI CRIMEA... UKRAINA...?? .. SEHINGGA TERJADI PERLAWANAN.. RAKYAT YAMAN.. SECARA MENYELURUH.. KRN SIKAP BANGSA YAMAN.. YG BERSATU... TERHADAP AGRESI SAUDI... N DISEBUT2 SBG PEMBERONTAKAN OLEH SAUDI..??....... >> YAMAN... INI POSISI STRATEGIS.. BAGI SAUDI DAN AS.. N ISRAEL.. KRN BERADA DI TANDUK AFRIKA N JAZIRAH ARAB SAUDI..DI SELAT BAB EL MANDEB...MULUTNYA.. LAUT MERAH...??...>> DAN DEMI KEPENTINGAN ... SAUDI - AS - DAN ISRAEL.. MK.. SEKUTU2NYA .. BERGABUNG.. MELAKUKAN AGRESI KEPADA YAMAN.. NEGARA MUSLIM YNG RELATIF MISKIN..>>.... SEDG SURIAH MEMANG SDH LAMA... DI PLOT N DI JADIKAN TARGET.... OLEH AS-ISRAEL DAN SEKUTU ARAB NYA... UTK DI HANCURKAN.. KRN SANGAT KUAT N KONSISTEN... MENDUKUNG PALESTINA..MERDEKA..PENUH DAN UTUH... DAN JUGA.. DI LEBANON.. DIMANA SAUDI... SEMAKIN KEDODORAN.. BERSAMA.. PROXY2..MRK...YG KONGKALINGKONG... ??>> TERLEBIH SETELAH BERKAWAN DG IRAN.. N RUSIA..??? >> AKANKAH SAUDI -AS-ISRAEL.. MENINGGALKAN PERANG SURIAH.. DAN JUGA YAMAN..?? APA MUNGKIN..?? ATW SEKEDAR OLOK2..?? N .. ... LALU SIAPA SASARAN BERIKUTNYA.. DALAM MENENTUKAN BABAK AKHIR PEPERANGAN.. INI..???>>> ... KONON IRAN..?? KRN MESIR.. SDH JADI SAPI PELIHARAAN AS.. DIMANA AL SISI.. SDH TAKLUK KEPADA AS-SAUDI DAN ISRAEL... ?? KLW TDK MEMANG MESIR.. MASIH BELUM SIUMAN.. N BAHKAN KONON MENINDAS RAKYATNYA SENDIRI..??>> LALU KENAPA.. N APA SEBENARNYA ... PERANG DI TIMUR TENGAH INI.. DG SELALU MENGGUNAKAN KARTU.. POLITIK N MILITER..NYA.. ISRAEL.. SEBAGAI PENJAJAH KRIMINAL.. DAN DIJADIKAN UJUNG TOMBAK INVASI DAN AGRESI AS DKK.. TERHADAP RAKYAT N BANGSA ARAB DAN UMAT ISLAM ... ITU..??>> SEMAKIN HARI.. PERANG2.. INI AKHIRNYA.. AKAN MENYULUT PERANG BESAR.. ATW.. RUNTUHNYA KERAJAAN SAUDI..DAN MUSNAHNYA ISRAEL.. KRN SEJAK AWAL.. ADALAH PERMAINAN DAN KEDUSTAAN POLITIK INGGRIS DKK.. YG TERUTAMA DIDUKUNG AS-DAN SEKUTUNYA ITU..??>> .. KSA SEJAK AWAL MEMANG JADI PROXY.. BARAT..CQ.. PERMAINAN KOLONIAL INGGRIS..?? .. DAN BIASA DI MAINKAN.. UTK .. MENGADU DOMBA.. RAKYAT LOKAL.. YG JADI.. ANAK JAJAHANNYA..... PASCA RUNTUHNYA KE KHALIFAHAN USTMANY..>> .. SIMAK SEJARANG AWAL.. BERDIRI TURKI SEKULER.. MUSTAFA KAMAL.. DAN JUGA GERAKAN.. SALAFI-WAHABI.. YG DIJADIKAN UJUNG TOMBAK.. PERMAINAN ..DAN PERSETERUAN MAZHAB.. DALAM ISLAM.. N AKHIRNYA.. MENGHANCURKAN .. KEKHALIFAHAN USTMANY SECARA KESELURUHAN..??>> ... SEJARAH .. BISA JADI ..PELAJARAN .. N IBRAH.. YG JELAS.. SEBAGAIMANA AL QURLAN SENANTIASA.. MENGINGATKAN.. BAGAIMANA .. SEJARAK NABI2.. N RASUL2.. DAN JUGA KEADAAN.. KEKUASAAN KAFIRIN.. SECARA.. MODEL.. DAN PERISTIWA2..>>... AYOO UMAT ISLAM BANGKIT DAN BERGERAK UTK SEGERA BERSATU.. DAN JAUHKAN DARI PERSETERUAN SESAMA MUSLIM..N KUATKAN SILATURAKMI SESAMA TOKOH N KOMPONEN ISLAM N UMAT ISLAM.. DARI BERBAGAI LAPISAN.. N MAZHAB.. SECARA KAFFAH .. MENYELURUH UTUH..>> LEPASKAN KEPENTINGAN.. MAZHAB DAN ALURAN.. N BANGUNKAN PERSAUDARAAN DAN PERSATUAN UTUH.. MELEKAT..DAN ERAT.. SBG SDR MUSLIM.. YG UTUH..N FURQON N SUNNAH RASULULLAH SAWW.. YG JADI PEGANGAN N ARAHAN SEGNAP UMAT ...>>> Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani dalam sebuah wawancara dengan harian Inggris, ....... Financial Times pada 15 April mengatakan bahwa Doha seharusnya menjadi pemain utama dalam pemberontakan Suriah. Krisis Suriah tidak ada kaitannya dengan politik dalam negeri...>> ..Di Yaman, situasinya terbalik. Rakyat Yaman menghadapi invasi penuh dari luar negeri, yang dipimpin oleh bandit Saudi Arabia yang secara ilegal telah menduduki Semenanjung Arab. Kerajaan barbar Saudi Arabia telah menewaskan ribuan orang tak bersalah di Yaman dan telah memberlakukan blokade total pada negara miskin yang mengakibatkan 22 juta dari 24 juta orang menjadi kekurangan makanan....>>.... Para pejuang Ansarallah tidak akan membiarkan Sana’a menderita seperti nasib dua kota tersebut. Menyerahkan senjata kepada mereka telah berkhianat terhadap bangsa Yaman, atau tidak lagi memiliki legitimasi. Hanya orang-orang Yaman bisa memutuskan masa depan mereka, bukan bandit Najd Saudi antek Yahudi. Milisi premanisme Hadi tidak bisa mengambil alih Yaman dengan paksa, mereka menuntut melalui negosiasi. Ini yang terjadi sama persis dengan yang terjadi di Suriah. Teroris dan sponsor mereka tidak dapat menggulingkan pemerintah Bashar al-Asad dengan paksa, namun mereka memaksa menyerahkan kekuasaan di meja perundingan....>>...Pesawat-pesawat tempur AS mnyerang pasukan pemerintah Suriah di dekat kota Timur Deir Ezzur pada 17 September, meninggalkan lebih dari 90 personil militer tewas dan seratus lainnya terluka...>>...Sehari kemudian, di hari Minggu, sumber militer mengungkap bahwa ISIS melancarkan serangan pada posisi tentara Suriah di Deir Ezzur hanya 7 menit setelah serangan udara koalisi pimpinan AS. (VOAI)..>>...... “Gejolak keamanan di selatan Yaman adalah plot AS untuk menduduki negara ini”, kata komandan Ansarullah Abdullah al-Nassiri kepada FNA pada hari Sabtu...>> Komando Umum Suriah menyebut pemboman itu menunjukkan agresi “serius dan terang-terangan” terhadap pasukan Suriah, dan mengatakan bahwa itu adalah “bukti” bahwa AS dan sekutunya mendukung kelompok teroris ISIS....>>..“Gejolak keamanan di selatan Yaman adalah plot AS untuk menduduki negara ini”, kata komandan Ansarullah Abdullah al-Nassiri kepada FNA pada hari Sabtu....>>

Berencana Menarik Diri dari Suriah, AS Disebut Akui Kemenangan Putin

https://indonesia.rbth.com/news/2016/09/22/berencana-menarik-diri-dari-suriah-as-disebut-akui-kemenangan-putin_632131

22 September 2016 Resmita Reski, RBTH Indonesia
Sebuah perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani oleh Moskow dan Washington di Jenewa pada 10 September lalu menunjukkan bahwa Barack Obama ingin mengurangi ketegangan di Suriah, bahkan jika hal ini berarti harus menyerahkan urusan tersebut ke tangan Rusia dan Iran.



Russian President Vladimir Putin, left, listens to U.S. President Barack Obama
Setelah pemilihan presiden AS, satu perubahan serius yang mungkin terjadi adalah kebijakan luar negeri Washington. Sumber: AP 




Satu tahun telah berlalu sejak Rusia meluncurkan operasi militernya di Suriah. Menurut surat kabar Prancis Le Figaro, tahun ini menandai kemenangan strategis Rusia di Suriah karena Washington kini mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan strategi Moskow, demikian dilansir dari Sputnik.

Operasi Rusia di Suriah merupakan bagian dari strategi global Moskow yang ditujukan untuk memperbaiki pengaruh internasionalnya di luar wilayah pasca-Soviet, tulis surat kabar tersebut. Strategi ini mengubah keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah, termasuk mengurangi peran Amerika Serikat. Menurut penulis, masa depan strategi Moskow akan bergantung pada kemenangan militer di area publik. Pada gilirannya, hal itu bergantung pada kerja sama dengan Iran, negosiasi dengan Turki, dan "sikap acuh tak acuh Amerika Serikat."

Keberhasilan Strategi Rusia

Berkat intervensi Rusia, pemerintah Suriah pimpinan Presiden Bashar Assad berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat yang hilang setelah serangkaian kegagalan yang terjadi pada musim semi 2015.

Tentara Suriah memang belum menciptakan perkembangan signifikan dalam hal perebutan kembali wilayah-wilayah yang dikuasai teroris, tetapi mereka memiliki kepentingan strategis yang besar. Saat ini, wilayah Syiah Alawi aman dari serangan pemberontak dan Tentara Suriah menyapu bersih benteng militan di dekat Damaskus, termasuk di wilayah Darayya dan Ghouta.

Situasi yang rumit terjadi di Aleppo karena para milisi menerima dukungan dari Turki. Selain itu, pesawat tempur Rusia mendukung pasukan Suriah yang tidak mampu mempertahankan wilayahnya, seperti yang terjadi di wilayah utara Provinsi Hama.

Sang penulis menyarankan Rusia agar melibatkan operasi darat untuk tahap berikutnya, guna melindungi wilayah strategis Suriah, termasuk area barat laut Latakia, Tadmur, dan Aleppo.

Disebutkan bahwa alokasi anggaran Rusia untuk operasi tersebut ialah rata-rata tiga juta dolar AS per hari, sehingga hal itu terjangkau bagi Moskow. Selain itu, pameran kekuatan militer Rusia di Suriah telah membuat Rusia memperoleh sejumlah kesepakatan jual-beli senjata baru. Pada 2016, jumlah ekspor Rusia di bidang pertahanan mencapai 50 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibanding 2011 yang jumlahnya hanya mencapai 38,5 miliar dolar AS. Saat ini, Rusia adalah eksportir senjata terbesar kedua di dunia dengan pangsa pasar 25 persen.

Washington Berpaling dari Suriah

Setelah pemilihan presiden AS, satu perubahan serius yang mungkin terjadi adalah kebijakan luar negeri Washington.

"Masalah Suriah mungkin akan ditinggalkan untuk Rusia dan Iran," menurut artikel Prancis tersebut. AS tidak akan menentang strategi Rusia di Suriah. Sebuah perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani oleh Moskow dan Washington di Jenewa pada 10 September lalu menunjukkan bahwa Barack Obama ingin mengurangi ketegangan di Suriah, bahkan jika hal ini berarti harus menyerahkan urusan tersebut ke tangan Rusia dan Iran. Hal ini didorong oleh kurangnya alternatif pernyelesaian konflik tersebut secara damai.

Dengan demikian, tulis artikel tersebut, AS mengakui kelemahannya dan ini merupakan kemenangan diplomatik Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Di luar fakta bahwa pencapaian militer terbilang rendah dan butuh upaya dua kali lipat untuk menciptakan kemenangan, hal yang terpenting ialah strategi AS untuk mengubah rezim di Suriah telah gagal," kata sang penulis menyimpulkan.

Presiden Putin Tekankan Peran Komunitas Muslim dalam Menjaga Perdamaian

Warga Suriah: Kami Tak Akan Biarkan Sepatu Amerika Menginjak Tanah Air Kami

https://indonesia.rbth.com/news/2016/05/06/warga-suriah-kami-tak-akan-biarkan-sepatu-amerika-menginjak-tanah-air-kami_590745




Warga dan pejabat pemerintah setempat di kota Al-Hasakah di utara Suriah berunjuk rasa memprotes kehadiran 150 tentara AS di kota Rumeilan yang dikendalikan Kurdistan Suriah. Demikian hal tersebut dilaporkan media Rusia Sputnik, mengutip informasi yang dipublikasikan kantor berita Suriah SANA.

"Kami mengecam pelanggaran terhadap kedaulatan yang dilakukan secara terang-terangan terhadap Suriah. Kami tidak akan membiarkan sepatu Amerika menginjak tanah air kami. Kami juga melawan terhadap segala rencana untuk memfederalisasi Suriah," kata Gubernur Al-Hasakah Mohammad Zaal selama demonstrasi.

Unjuk rasa serupa sebelumnya telah diadakan di kota tetangga Al-Hasakah, Al-Qamishli.

Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut pengiriman 150 tentara AS ke bandara Rumeilan di timur laut negara itu sebagai "intervensi yang tidak dapat diterima dan ilegal" yang datang begitu saja tanpa izin dari pemerintah Suriah.

Pada tanggal 28 April, Presiden AS Barack Obama mengumumkan bahwa Washington akan "menurunkan hingga 250 personil tambahan di Suriah, termasuk Pasukan Khusus". Mereka diharapkan akan melatih Pasukan Demokratik Suriah.

Gedung Putih menegaskan bahwa penyebaran Pasukan Khusus dimaksudkan untuk mengusir teroris ISIS.

Pada Rabu (27/4), sekitar 150 orang tentara AS tiba di timur laut Suriah, di kota Rumeilan yang dikontrol oleh Kurdistan Suriah. Menurut sumber keamanan Kurdi, sebagian dari kontingen militer AS telah tiba segera menuju ke utara Provinsi Raqqa.

Menuai Kritik

Sementara itu, seorang perwira Angkatan Darat AS telah menggugat Presiden Barack Obama atas legalitas perang melawan ISIS. Perwira berusia 28 tahun tersebut mempertanyakan klaim Obama yang menyatakan bahwa ia tak memerlukan otoritas Kongres untuk memerintahkan militer AS melaksanakan misi yang lebih dalam, tulis The New York Times pada Rabu.


Kapten Nathan Michael Smith, seorang perwira intelijen yang ditempatkan di Kuwait, menyuarakan dukungan kuat untuk memerangi ISIS. Namun demikian, ia mengatakan bahwa ia harus berpegang pada "hati nurani" dan sumpahnya untuk menegakkan Konstitusi. Ia mengatakan bahwa ia percaya bahwa misi penambahan personil ke Suriah tersebut kekurangan otorisasi yang tepat dari Kongres.

Tantangan hukum datang setelah kematian prajurit Amerika yang ketiga dalam memerangi ISIS. Karena alasan itu, Presiden Obama memutuskan untuk secara signifikan menambah jumlah anggota Pasukan Khusus.

Presiden Obama telah menyatakan bahwa ia sudah memiliki wewenang yang ia perlukan untuk mengobarkan perang terhadap ISIS di bawah otorisasi melawan pelaku serangan teroris 11 September 2001, yang ditetapkan oleh Kongres tak lama setelah serangan tersebut terjadi.

Damaskus: Kehadiran 150 Prajurit AS di Suriah Melanggar Kedaulatan Negara

Damaskus: Kehadiran 150 Prajurit AS di Suriah Melanggar Kedaulatan Negara

http://indonesia.rbth.com/news/2016/04/29/damaskus-kehadiran-150-prajurit-as-di-suriah-melanggar-kedaulatan-negara_589127




Laporan kehadiran 150 prajurit AS di Suriah menimbulkan perhatian serius dan dianggap Damaskus sebagai invasi sekaligus pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Demikian hal tersebut dilaporkan kantor berita SANA Suriah, mengutip Kementerian Luar Negeri Suriah, Kamis (28/4).

Pada Senin (24/4), Presiden AS Barack Obama mengumumkan bahwa Washington akan "menambah hingga 250 personil prajurit AS di Suriah, termasuk pasukan khusus". Mereka diharapkan untuk melatih Pasukan Demokratik Suriah.

Gedung Putih menegaskan bahwa penyebaran Pasukan Khusus AS dimaksudkan untuk mengusir kelompok teroris ISIS.

Pada Rabu (27/4), sekitar 150 orang tentara AS tiba di timur laut Suriah, di kota Rumeilan yang dikontrol oleh Kurdistan Suriah. Menurut sumber keamanan Kurdi, sebagian dari kontingen militer AS telah tiba segera menuju ke utara Provinsi Raqqa.

"Kami menganggap kedatangan 150 tentara Amerika ke daerah Rumeilan di Suriah sebagai sesuatu yang serius. Republik Arab Suriah mengutuk agresi ini yang merupakan invasi berbahaya dan melanggar kedaulatan Suriah," kata kantor berita tersebut sebagaimana yang dikutip dari kementerian.

Meskipun Barack Obama berulang kali mengatakan tidak akan ada "jejak sepatu" pasukan AS di Suriah, rencana peningkatan kehadiran pasukan Amerika di Suriah baru-baru ini justru meningkat secara dramatis dari 250 personil tambahan menjadi 300 personil.

Lavrov: Tindakan Koalisi Pimpinan AS di Suriah Ilegal dan Salah Besar

Rabu, 07 September 2016

Gagal di Suriah, Yaman, Saudi akan Pindahkan Perang ke Iran 

http://cahyono-adi.blogspot.co.id/2016/09/gagal-di-suriah-yaman-saudi-akan.html#.V-ybfPQXFJk

 
 
Indonesian Free Press -- Saudi Arabia ingin memindahkan medan perang yang dilancarkannya ke Iran, setelah petualangannya di Suriah dan Yaman mengalami kegagalan. Hal ini sekaligus akan memberikan pukulan langsung ke Iran setelah gagal dalam perang proksi melawan Iran di kedua wilayah itu.

Seperti dilaporkan Veterans Today, 5 September, Saudi Arabia bekerjasama dengan Israel telah mengubah kantor-kantor diplomatiknya di kawasan menjadi jaringan mata-mata untuk menggerakkan para teroris beroperasi di wilayah Iran.

Mengutip media Lebanon Al-Manar laporan itu menulis, “Sejumlah sumber mengkonfirmasikan bahwa Saudi Arabia telah merekrut kelompok-kelompok teroris untuk menghantam keamanana nasional Iran. ” Terkait dengan hal itu Menhan Saudi Arabia Pangeran Mohammed bin Salman telah menawarkan hadiah senilai $500.000 bagi bagi para teroris yang beraksi di Iran.


"Saudi dengan bekerjasama dengan Israel telah mengubah kedutaan-kedutaan besarnya menjadi jaringan mata-mata untuk menghantam Iran. Mereka berusaha untuk memindahkan operasi teroris ke wilayah Iran," tulis laporan itu.

Hal itu berkaitan dengan kegagalan 'petualangan' Saudi Arabia di Suriah, dan terakhir di Yaman. Yang terakhir terjadi setelah para pejuang Yaman berhasil menembakkan rudal-rudal ballistiknya yang tidak bisa dihentikan Saudi dan koalisi pimpinananya, sehingga menimbulkan kerusakan hebat pasukan koalisi Saudi di Yaman.


Terakhir, para pejuang Yaman menembakkan rudal Berkanes, rudal yang memiliki daya jangkau hingga 800 km, jauh ke wilayah Saudi Arabia.

Seperti dilaporkan Veterans Today dalam laporan itu, rudal ballistik baru bernama Berkane 1 berhasil ditembakkan ke wilayah Ta'if yang kaya minyak. Kota ini berada 700 kilometer di dalam wilayah Saudi Arabia.

"Fakta bahwa Yaman berhasil menembakkan rudal sejauh itu, telah mengubah nasib peperangan di Yaman. Kini Ibukota Saudi Riyadh berada dalam jangkauan serangan rudal Yaman," tulis Veterans Today.

Menurut laporan-laporan media Yaman, rudal Berkane 1 dibuata seluruhnya oleh para teknisi Yaman. Dibuat meniru rudal Scud buatan Rusia, rudal ini diklaim berdaya jangkau hingga 800 km. Menurut laporan itu, para pejabat militer Saudi terkejut dengan kecepatan rudal itu, yang disebut-sebut 'melesat bak meteor'.

Sebelumnya Yaman diketahui sukses meluncurkan rudal-rudal ballistik buatan Rusia yang membawa kehancuran hebat bagi pasukan koalisi pimpinan Saudi Arabia yang tidak memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iran.(ca)
 

Israel Aktifkan Ruang Operasi di Quneitra, Suriah

 Kamis, 29 September 2016,
QUNEITRA, ARRAHMAHNEWS.COM – Seorang komandan senior Resimen Golan dalam pasukan Suriah mengungkap bahwa Israel telah mengaktifkan ruang operasi di provinsi Barat Daya dari Quneitra dekat perbatasannya dengan Suriah untuk membantu teroris Fatah al-Sham (Jabhat al-Nusra).
“Serangan teroris baru-baru ini di Quneitra, yang disebut oleh teroris sebagai ‘Operasi Qadesiya Selatan’, jelas menunjukkan dukungan rezim Zionis untuk kelompok-kelompok teroris di Selatan Suriah,” kata Arwa Satter kepada FNA pada hari Rabu (28/09). (Baca juga: Coba Serang SAA, Teroris di Dataran Tinggi Golan Mati Bergelimpangan)
Ia mengacu pada aktivasi Israel yang mendirikan ruang operasi di wilayah Jabat al-Khashab di Quneitra Suriah, dan mengatakan dalam serangan terbaru mereka, 600 teroris, yang telah dipanggil dari Dara’a, menerima perintah dari ruang operasi Zionis tersebut dan berusaha untuk mengambil kendali pangkalan al-Rabe’a atau Sya’ban di Utara Quneitra tetapi mereka gagal karena kesigapan dan reaksi cepat tentara Suriah serta pasukan perlawanan.
“Tentara dan sekutunya siap untuk mengusir serangan besar teroris ‘di wilayah ini serta setiap melawan agresi Zionis maupun agresi pimpinan Zionis yang baru,” kata Satter. (Baca juga: DK PBB Tolak Klaim Terbaru Israel atas Dataran Tinggi Golan)
Sementara itu, media Israel mengungkap bahwa Tel Aviv telah mengerahkan sejumlah drone di Dataran Tinggi Golan untuk mendeteksi gerakan Tentara Suriah di wilayah tersebut.
Media Israel mengatakan pesawat-pesawat pengintai ini akan memainkan peran penting dalam memantau perkembangan militer di Selatan Suriah, khususnya di Dataran tinggi Golan. (ARN)

 

Tentara Suriah, Hizbullah Siapkan Perang Besar di Perbatasan Israel

https://arrahmahnews.com/2016/09/06/tentara-suriah-hizbullah-siapkan-perang-besar-di-perbatasan-israel/


Selasa, 06 September 2016,
GOLAN, ARRAHMAHNEWS.COM – Tentara Suriah dan Gerakan Perlawanan Hizbullah Lebanon saat ini tengah mengkoordinasikan langkah-langkah akhir untuk meluncurkan operasi anti-terorisme gabungan skala besar di provinsi Quneitra, selatan Suriah. Hal ini diungkap oleh beberapa sumber militer pada hari Senin (05/09) kemarin. (Baca juga: Analis; Invasi Turki di Suriah Untuk Gulingkan Assad)
“Tentara Suriah dan pejuang Hizbullah telah mengerjakan sebuah rencana bersama untuk mengakhiri militansi di Selatan Suriah, terutama di dekat Dataran Tinggi Golan,” kata sumber itu.
“Hizbullah telah mengerahkan sejumlah besar pasukannya di wilayah Quneitra yang menghubungkan Suriah ke wilayah pendudukan Golan,” tambah mereka. (Baca juga: Utusan Suriah: Arab Saudi, Turki, Qatar, Tingkatkan Perang Suriah dengan Dukung Teroris)
Akhir bulan Agustus, Fatah al-Sham (nama baru front al-Nusra, kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaeda) menderita sejumlah besar korban tewas dan hancurnya peralatan militer akibat kekalahan yang berkelanjutan dalam serangan pasukan Tentara Suriah ‘di pusat-pusat mereka di Quneitra.
Tentara Arab Suriah menargetkan pusat-pusat pertemuan dan konsentrasi Fatah al-Sham dekat desa Um Batna Selatan kota al-Ba’ath, menewaskan beberapa teroris dan menghancurkan tiga kendaraan yang membawa sejumlah teroris dan volume besar senjata dan amunisi. (ARN)

Warisan Obama dan Rusia: Bagaimana Hubungan Masa Depan Moskow dan AS?

26 Mei 2015 Fyodor Lukyanov

Sejak kedatangan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Juru Bicara Menteri Luar Negeri AS Victoria Nuland ke Rusia, para pakar mulai membicarakan kemungkinan meredanya ketegangan antara Rusia dan AS. Namun, apakah kunjungan itu bisa dilihat sebagai titik balik? Pakar politik Fyodor Lukyanov menganalisis apakah pencairan hubungan antara Moskow dan Washington mungkin terjadi dan mengapa hampir habisnya masa jabatan Presiden AS Barack Obama menjadi faktor penting.




Pertemuan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Sochi pada 12 Mei lalu, serta kedatangan Juru Bicara Menteri Luar Negeri AS Victoria Nuland ke Moskow (18/5) membuat para pakar kembali membicarakan perkembangan hubungan Rusia-AS. Namun, apakah itu benar-benar menunjukkan titik balik hubungan Moskow dan Washington?
Pertama dan yang terpenting, kita harus mengingat sesuatu yang hampir terlupakan: komunikasi bilateral bukan hanya tentang bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan. Pada masa Perang Dingin, AS dan Uni Soviet berupaya untuk mempertahankan komunikasi, namun bukan untuk mencapai kesepakatan atau menyelesaikan isu spesifik tertentu, melainkan untuk sesuatu yang lebih vital: kedua pihak berusaha memahami logika dan intensi pihak lain.

Kegagalan Kebijakan Pasca-Soviet

Sejak awal 1990-an, kedua negara mulai kehilangan kemampuan tersebut, seolah mereka tak membutuhkan hal itu lagi. Ancaman perang tak lagi dipersepsikan sebagai hal yang nyata, dan negosiasi selanjutnya dianggap harus memberikan hasil yang riil. Namun, perubahan situasi politik pada 2014 dan 2015 telah membuktikan bahwa harapan untuk mengakhiri semua konfrontasi ini adalah hal yang delusional. Kebiasaan dan sikap yang ditunjukkan pada masa Perang Dingin telah kembali, namun kali ini tak ada instrumen untuk tetap saling mengawasi satu sama lain.

Kebijakan AS terhadap Rusia sejak bergabungnya Krimea ke Rusia dapat dirangkum sebagai berikut: meminimalisir segala bentuk komunikasi hingga Kremlin mengubah sikapnya.
Kebijakan ini tak menghasilkan apa-apa. Ekspektasi AS bahwa Rusia akan mengubah posisinya terkait Ukraina tetap tak terpenuhi. Di sisi lain, Moskow tak bisa diandalkan untuk mengembalikan stabilitas Ukraina dan tanpa melibatkan Amerika Serikat. Akhirnya, ketegangan mulai meruak, terwujud dalam beragam insiden tak menyenangkan yang melibatkan pesawat dan kapal perang Rusia dan NATO.
Namun, ini bukan berarti AS dan Rusia memasuki Perang Dingin babak baru. Masih ada beberapa "tantangan bersama" yang harus dihadapi. Misalnya, Rusia dan AS mungkin memiliki pandangan yang berbeda mengenai penyebab situasi di Timur Tengah, namun mereka sama-sama sepakat bahwa ISIS adalah ancaman baik bagi Rusia maupun Amerika.

Peninggalan Obama

Presiden AS Barack Obama memasuki tahap akhir masa kepemimpinannya, dan biasanya ini merupakan waktu di mana para presiden benar-benar memikirkan hal apa yang mereka wariskan. Obama menjadi presiden dalam periode yang sulit, ketika dekonstruksi tatanan dunia tengah meningkat, sehingga sulit untuk mencapai kesuksesan internasional. Tentu, ia tak berhasil menghindari beberapa kesalahan. Pada konteks ini, ia perlu lebih fokus untuk mengukir sejarah di area yang memungkinkan. Bagi Obama, hal itu adalah Iran, dan mungkin Kuba.

Penyelesaian masalah di Iran membutuhkan kerja keras di semua lini. Konsensus yang hendak dicapai tergolong rapuh, sehingga perlu kerja sama maksimal dengan semua pihak, termasuk Rusia.

Secara lebih luas, Presiden Obama yakin tak akan meninggalkan Timur Tengah di masa yang kacau seperti ini. Ia butuh kerja sama, atau sikap yang kooperatif, dari Rusia. Ukraina, sebaliknya, tak mungkin memberi 'kenangan manis' bagi masa pemerintahan Obama, dan ia paham bahwa tak akan ada perubahan instan yang terjadi di sana.


Oleh karena itu, tahap baru hubungan Rusia-AS (hingga 2017) mungkin akan seperti ini: kedua pihak akan menciptakan komunikasi antara pejabat-pejabat yang bertanggung jawab dalam bidang keamanan politik dan militer, untuk meminimalisasi risiko 'tabrakan' yang tak disengaja. Mereka juga akan bertukar pandangan mengenai situasi di Timur Tengah dan mengelaborasi langkah yang mungkin dilakukan. Tak akan ada konsensus, namun tak akan ada pula konfrontasi langsung. Terkait Iran, kedua negara mungkin akan bekerja bersama, sementara di Suriah mereka tak mungkin mengambil tindakan besar. Pendirian mengenai Ukraina yang bertolak belakang akan tetap sama, namun sangat mungkin kedua pihak mencoba menghindari ketegangan.

Modus vivendi (persetujuan sementara antara kedua belah pihak yang bersengketa -red.) yang dideskripsikan di sini tak menunjukkan bahwa retorika akan berkurang; malah, reduksi ketegangan yang sesungguhnya mungkin akan dikompensasi bahkan oleh pernyataan yang bersifat memusuhi. Secara umum, situasi ini mungkin akan berlanjut hingga berakhirnya masa kepresidenan Obama.

Selain itu, situasi juga akan tergantung pada banyak faktor, salah satunya pada hubungan kedua negara dengan Tiongkok.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Rossiyskaya Gazeta.
 


Trio Bandit Tak Ingin Ada Perdamaian di Suriah & Yaman


http://redaksiislam.com/trio-bandit-tak-ingin-ada-perdamaian-di-suriah-yaman/


photo_2016-05-24_13-08-08

Di Suriah: Saudi, Turki dan Qatar di Balik Jubah Terorisme

http://redaksiislam.com/trio-bandit-tak-ingin-ada-perdamaian-di-suriah-yaman/



Islam-Institute, DAMASKUS – Pemerintah Suriah resmi mengirimkan surat kepada PBB. Suriah menyalahkan Arab Saudi, Turki, dan Qatar atas tragedi pemboman oleh teroris pada Senin (23/05). Pemboman telah menewaskan hampir 150 orang di kota-kota pesisir di Tartous dan Jableh, peristiwa mengerikan ini sebagaimana yang dirilis kantor berita SANA.


Kementerian Luar Negeri Suriah dalam surat yang dikirim kepada PBB mengatakan bahwa ledakan adalah hasil dari eskalasi permusuhan berbahaya yang dilancarkan ekstremis dukungan rezim di Riyadh, Ankara dan Doha.


Surat itu menyatakan bahwa tiga negara tersebut berusaha untuk menggagalkan pembicaraan damai yang ditengahi oleh PBB di Jenewa. Ketiga negara ingin  menggagalkan upaya dalam menghentikan pertumpahan darah di Suriah serta mengeliminir prestasi luar biasa dari tentara Suriah melawan teroris.


Kementerian Suriah juga menyatakan Dewan Keamanan PBB lamban dalam merespon kejahatan keji yang dilakukan oleh kelompok teroris yang disponsori asing di Suriah, dan rezim-rezim yang mendukung terorisme untuk menyebarkan pion-pion teroris mereka di Suriah.


Surat dari Suriah juga mengkritik Inggris, Perancis dan Amerika Serikat atas penolakan mereka dalam memberikan label kepada Jaysh al-Islam dan al-Qaeda yang berafiliasi pada Ahrar al-Sham sebagai kelompok teroris. Dalam surat juga ditegaskan tidak adanya pendekatan dan kurangnya keseriusan dalam memerangi terorisme.


Surat itu juga mengatakan bahwa peristiwa pemboman dan serangan teroris mengerikan yang terjadi Tartous dan Jableh tidak akan melemahkan tekad Suriah untuk memerangi terorisme di wilayah negara Suriah.


Surat ini adalah desakan pada Dewan Keamanan PBB untuk mengadopsi langkah-langkah hukuman langsung terhadap negara-negara yang mensponsori terorisme dan merusak perdamaian dan keamanan internasional.


Gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon juga mengutuk pemboman mematikan dalam sebuah pernyataan, dan menegaskan dengan menyebut Hizbullah memiliki sikap yang jelas dan tegas terhadap kekuatan regional dan global pendukung terorisme.


“Genosida sedang berlangsung, dilakukan oleh kelompok teroris dengan dukungan dinas rahasia internasional CIA, Mossad, Arab Saudi, Qatar dan Turki, adalah hasil dari ideologi gelap yang bertujuan untuk menyebarkan ketakutan dan kekacauan di Timur Tengah dan masyarakat umat Islam”. 


Trio Bandit “AS, Israel, Saudi” Tak Ingin Ada Perdamaian di Suriah dan Yaman

Dalam sekala lebih luas, rakyat Suriah dan Yaman menginginkan yang lebih baik daripada perdamaian. Tetapi kekuatan asing masih terus bertekad untuk melanjutkan kekacauan meskipun harus menghilangkan lebih banyak lagi nyawa warga sipil.


AS, Zionis dan Arab Saudi serta beberapa pemain lainnya tidak menginginkan perdamaian di Suriah dan Yaman. Hal ini meskipun ancaman kematian mencengkeram rakyat Yaman dan Suriah. Mereka yang akrab dengan realitas di kedua negara tersebut, tidak akan mengabaikan fakta ini keluar begitu saja dari tangan  tanpa alasan yang jelas. Orang-orang di kedua negara itu menginginkan perdamaian, tapi sayangnya mereka bukan tuan rumah bagi negara dan sehingga lemah menentukan nasib mereka sendiri. Nasib mereka ditentukan oleh kekuatan asing yang bersikeras memaksakan agenda mereka pada orang-orang malang ini.

Trio-Bandit

Pembicaraan damai Suriah yang ditengahi PBB di Jenewa, dan Yaman di Kuwait, telah menempatkan teroris sebagai kelompok  oposisi dan moderat, di bawah instruksi dari tuan asing mereka, membuat tuntutan menggelikan yang hanya bisa menyabotase prospek penyelesaian yang dinegosiasikan.


Pertumpahan darah di Suriah dimulai lebih dari lima tahun lalu, melalui konspirasi bersama oleh para pejabat Saudi, Amerika, Israel di Paris. Trio poros kejahatan menghasut oportunis Suriah, sebagian besar dari mereka tinggal di pengasingan di London, Paris atau Washington dan mereka menjanjikan kemenangan cepat dengan kepala Bashar al Assad yang akan disajikan di piring. Konspirator mengklaim rezim Suriah akan digulingkan seperti Muammar al-Qaddafi di Libya digulingkan dalam hitungan bulan. Turki, Yordania dan Qatar juga bergabung dalam plot kejahatan ini.


Mantan perdana menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani dalam sebuah wawancara dengan harian Inggris, Financial Times pada 15 April mengatakan bahwa Doha seharusnya menjadi pemain utama dalam pemberontakan Suriah. Krisis Suriah tidak ada kaitannya dengan politik dalam negeri. Ia juga mengungkapkan bahwa Arab Saudi awalnya enggan untuk terlibat tetapi kemudian mengambil alih peran utama dari Qatar. Ia juga tidak menampik keterlibatan mendalam mantan kepala intelijen Saudi, Bandar bin Sultan dalam menghasut agar muncul kekacauan besar.


Haytham Manna, salah satu pemimpin oposisi Suriah menentang pemberontakan bersenjata untuk menggulingkan pemerintah, dan mengungkapkan ini segera setelah pertemuan pada Februari 2011 dalam konspirasi di Paris, yang ia ikut hadir dalam pertemuan itu.


Kekacauan di Suriah telah mengakibatkan hampir 400.000 kematian manusia, hampir setengah dari populasi warga Suriah mengungsi dan infrastruktur negara hancur total. Apa yang didapat dari kekacauan besar yang telah mereka buat?


Bashar al-Assad masih berkuasa dan tampaknya ada sedikit prospek bahwa ia akan digulingkan dalam waktu dekat. Tentara Suriah di sisi lain tidak dapat memberikan pukulan KO untuk melenyapkan teroris atau pemberontak moderat, dan sekarang AS mengirim pasukan khusus tambahan ke Suriah tanpa izin dari Damaskus. Mereka selain menambah kekuatan pemberontak, juga dapat memberikan lebih banyak senjata mematikan bagi para pemberontak.


Di sisi lain, pengurangan serangan udara Rusia, ketidak mampuan tentara Suriah dalam menutup perbatasan dengan Turki yang berfungsi sebagai pintu masuk bantuan senjata dan aliran teroris sehingga kekacauan masih berlanjut hingga sekarang atau beberapa tahun ke depan.


Dari semua ini, apa yang dapat anda simpulkan? Tampaknya jelas bahwa kekuatan luar ingin pertempuran dan kekacauan berlanjut. Tujuan yang telah ditetapkan adalah untuk melemahkan negara Suriah sedemikian rupa, sehingga tidak lagi mampu menyediakan banyak membantu perlawanan terhadap Israel. Dalam hal ini mungkin tujuan itu sudah tercapai.


Penghancuran Suriah dimaksudkan untuk mengamankan pendudukan rezim Zionis di Palestina. Tujuan yang juga tampaknya telah dicapai seperti yang dapat disaksikan dengan banyaknya aneksasi merayap Zionis dari Masjid al Aqsa di Yerusalem dan deklarasi Dataran Tinggi Golan adalah milik mereka selamanya! Bersamaan dengan itu, penguasa Arab bergegas merangkul rakasa Zionis untuk melawan Republik Islam Iran.

photo_2016-05-24_12-15-49

Di Yaman, situasinya terbalik. Rakyat Yaman menghadapi invasi penuh dari luar negeri, yang dipimpin oleh bandit Saudi Arabia yang secara ilegal telah menduduki Semenanjung Arab. Kerajaan barbar Saudi Arabia telah menewaskan ribuan orang tak bersalah di Yaman dan telah memberlakukan blokade total pada negara miskin yang mengakibatkan 22 juta dari 24 juta orang menjadi kekurangan makanan.


Kerajaan barbar Saudi Arabia juga telah menggunakan bom cluster untuk menyerang sekolah, rumah sakit, pabrik-pabrik dan infrastruktur umum lainnya. Ini merupakan kejahatan perang, tetapi mengingat bahwa kaum imperialis dan Zionis memberikan perlindungan kepada bandit Najd, mereka bisa lolos dari kejahatan seperti ini, setidaknya untuk saat ini.


Seperti di Suriah, pembicaraan damai Yaman juga tidak mendapatkan tempat. Houthi dan sekutu mereka bergabung dengan pembicaraan damai yang ditengahi PBB di Kuwait hanya setelah menerima jaminan dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB bahwa Saudi Arabia akan menghentikan pemboman negara mereka dan gencatan senjata yang seharusnya mulai berlaku pada tanggal 11 April. Houthi bergabung dalam pembicaraan itu pada tanggal 21 April 2016 tapi tidak ada sedikit pun kemajuan, mengapa?


Mantan presiden buronan Yaman, Abd Rabbuh Mansour Hadi bersembunyi di Arab Saudi. Ia mengajukan tuntutan yang akan mengkebiri perlawanan rakyat Yaman. Misalnya, ia menegaskan gerakan perlawanan Yaman yang dipimpin Houthi Ansarallah harus meletakkan senjata dan menarik diri dari ibu kota Sana’a. Ansarallah tidak mengontrol Aden atau Ta’iz. Pasukan loyalis Hadi mengendalikan dua kota ini, al Qaeda dan kelompok teroris ISIS terus membuat kekacauan, pembunuhan dan kehancuran di dua kota tersebut.


Para pejuang Ansarallah tidak akan membiarkan Sana’a menderita seperti nasib dua kota tersebut. Menyerahkan senjata kepada mereka telah berkhianat terhadap bangsa Yaman, atau tidak lagi memiliki legitimasi. Hanya orang-orang Yaman bisa memutuskan masa depan mereka, bukan bandit Najd Saudi antek Yahudi. Milisi premanisme Hadi tidak bisa mengambil alih Yaman dengan paksa, mereka menuntut melalui negosiasi. Ini yang terjadi sama persis dengan yang terjadi di Suriah. Teroris dan sponsor mereka tidak dapat menggulingkan pemerintah Bashar al-Asad dengan paksa, namun mereka memaksa menyerahkan kekuasaan di meja perundingan.


Melihat realitas yang terjadi, rakyat di Suriah dan Yaman akan terus menderita karena perang telah dipaksakan oleh kekuatan Barat dan sekutunya di Timur Tengah untuk memaksa pemerintah di dua negara itu melucuti kekuasannya.  (al/arn)

Sumber; Why peace eludes Syria and Yemen by Zafar Bangash.
Artikel ini dipersembahkan oleh RedaksiIslam.com

Klik SHARE jika info ini bermanfaat ya..

BERITA TAHUN 2012.. SAAT AWAL YAMAN DI KACAUKAN OLEH JARINGAN SAUDI MELALUI ISIS ..MODEL AFRIKA...?? 
3 Pemberontak Syiah  Iran Tewas  di Dekat Perbatasan  Saudi-Yaman

SANA’A (Panjimas.com) – 3 milisi Syiah Iran tewas ketika pasukan Saudi   menghancurkan 7 kendaraan pemberontak Houthi selama   serangan di wilayah Asir selatan yang terletak dekat perbatasan   Yaman, demikian laporan televisi Al Ekhbariya.

Hingga kini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai identitas 3 milisi Syiah Iran itu

Arab Saudi menyebut Iran memasok   pemberontak Syiah Houthi Yaman dengan persenjataan, uang dan sejumlah besar milisi. Kelompok Houthi telah   menguasai ibukota Yaman, Sanaa pada akhir tahun 2014.

Pada bulan Maret 2015, Koalisi militer Arab yang dipimpin oleh Saudi, [terdiri dari Koalisi 10 negara yakni Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, Mesir, Maroko, Sudan, dan Pakistan] memulai   kampanye serangan udara yang bertujuan untuk membalikkan situasi di Yaman, dengan upaya menumpas pasukan Syiah Houthi kemudian memulihkan pemerintahan   Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi menuduh Iran telah   mencampuri urusan dalam negeri negaranya selama pertemuan pada hari Senin (15/02./2016) di Riyadh dengan perwakilan anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Hadi mengatakan bahwa campur tangan Iran di negaranya itu bukanlah hal baru, tapi pihaknya telah mendokumentasikan gerak-gerik mereka, setelah sejumlah persenjataan disita di kapal

“Kami adalah pendukung perdamaian dan bertanggung jawab untuk semua orang Yaman, namun sayangnya kami dihadapkan dengan mentalitas yang kompleks yang ingin menghancurkan Negara ini, dalam rangka untuk   kembali berkuasa, dan mendukung kelompok teroris (Houthi) untuk mengacaukan situasi dan mengepung kota Taiz tanpa tanggung jawab manusiawi atau etika sedikit pun, “katanya

Arab Saudi dan para sekutunya   melihat   pemberontak   Houthi   sebagai   proxy   untuk   kekuatan Iran   di   dunia   Arab.

PBB   mengatakan   bahwa   setidaknya     5.700   orang,   hampir   1/2   dari   mereka   adalah   warga sipil,   telah   tewas   sejak     aliansi   militer   yang   dipimpin     Saudi melancarkan   serangan   udara   sejak   Maret   lalu   melawan   Syiah Houthi   dan     sekutu-sekutu   mereka.

Pendukung   Presiden   Hadi,   yang     disokong   oleh   pasukan   darat   dari koalisi militer   yang   dipimpin   Saudi, telah   mengusir   pemberontak Houthi   dari   selatan     kota   pelabuhan   Aden dan   daerah-daerah   lain     di     Yaman     Selatan,   serta   Marib   di   timur   ibukota   Sana’a.

Tetapi   kelompok Houthi   tetap   masih     mengendalikan   ibukota   dan   banyak     bagian utara   wilayah   Yaman. [IZ] 

yaman vs saudi 

Kairo, LiputanIslam.com – Isu mengenai kemungkinan terjadinya serangan darat pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi ke Yaman tampaknya terus menguat. Beberapa sumber militer di Mesir menyatakan sedikitnya 43,000 pasukan akan terlibat dalam serangan darat ke Yaman.
Menurut laporan AFP Selasa (14/4), sumber-sumber itu secara lebih rinci menyebutkan pasukan kolektif Arab yang melibatkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Jordania, Mesir, Sudan dan beberapa negara Arab lain akan dibentuk dengan kekuatan yang terdiri atas 500-1000 angkatan udara, 3000-5000 angkatan laut, dan 35,000 angkatan darat.
Koran al-Arab terbitan Saudi tentang ini melaporkan, komando angkatan darat pasukan koalisi Arab itu akan diserahkan kepada Saudi, dan pasukan itu akan dibagi menjadi tiga bagian; pasukan operasi khusus, pasukan gerak cepat, dan pasukan penyalur bantuan dan pertolongan.
Di pihak lain, gerakan Ansarullah (Houthi) menyatakan rakyat Yaman siap menyongsong segala bentuk serangan pasukan asing.
“Rakyat Yaman tidak ingin terbunuh di dalam rumah, gang dan jalanan. Karena itu mereka tidak akan menunggu para penjajah datang dan melanggar kedaulatan Yaman. Sebaliknya, sekarang rakyat Yaman bangkit di semua penjuru dan akan mengendalikan segala inisiatif, serta melawan segala bentuk agresi dan campur tangan negara-negara penindas itu,” tegas Ali al-Qahum, salah satu petinggi Ansarullah dalam wawancara dengan Alalam, Selasa.
Dia menambahkan, “25 juta rakyat bersenjata Yaman siap menyongsong agresi kejam dan ilegal ini.” (mm)

Yaman minta campur tangan PBB

  • 7 Mei 2015
    http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150507_yaman_pbb

Yaman mendesak PBB untuk memberi kewenangan bagi penggunaan pasukan darat asing untuk memukul mundur pasukan pemberontak Houthi, khususnya di kota Taiz dan Aden.

Para pemberontak makin melaju jauh di kedua kota itu kendati koalisi militer pimpinan Saudi terus melancarkan serangan udara.

Koalisi melancarkan berbagai serangan udara menyusul surat Yaman kepada PBB Maret lalu, meminta bantuan militer dari negara-negara Teluk.

Surat permintaan kali ini juga mendesak lembaga-lembaga pemantau HAM agar mencatat "pelanggaran-pelangaran barbar" yang dilakukan kaum Houthi.

Disebutkan dalam surat yang ditanda-tangani duta besar Yaman di PBB Khaled Alyemany, dalam sebuah peristiwa di hari Rabu (06/05), setidaknya 32 orang terbunuh saat berusaha mengungsi dari Aden dengan perahu.

Menurutnya, pemberontak Houthi "membidik apapun yang bergerak" di Aden.
"Kami mendesak masyarakat internasional untuk secepatnya turun tangan dengan kekuatan darat untuk menyelamatkan Yaman, khususnya Aden dan Taiz," tulisnya.

Warga biasa terjebak

Pertempuran berlangsung sengit khususnya di distrik al-Tawahi, Aden. Di sini para pemberontak melakukan gempuran untuk mengambil alih kawasan yang dikuasai para pendukung pemerintah.

Masyarakat internasional sudah mengungkapkan kecemasan terkait banyak warga biasa yang terjebak dalam pertempuran.

Lebih dari 20 lembaga bantuan internasional memperingatkan bahwa kelangkaan bahan bakar bisa menghambat langkah-langkah mereka.

Koalisi militer pimpinan Saudi berusaha memulihkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang sekarang berada di pengasingan, namun sejauh ini belum berhasil menghentikan gempuran Houthi ke Aden.

Presiden Mansour Hadi meloloskan diri dari Sanaa Februari lalu dan berlindung di Aden, Namun tatkala pasukan pemberontak memasuki pinggiran Aden, Maret lalu, ia mengungsi ke Saudi Arabia.

Sejak itu, menurut catatan PBB, lebih dari 640 warga biasa terbunuh.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang tiba di ibukota Saudi, Riyadh hari Rabu (6/5) menyerukan dilakukannya jeda perang.


Komandan Senior al-Nushra Akui AS Ada di Pihaknya


Selasa, 27 September 2016
http://www.voa-islamnews.com/komandan-senior-al-nushra-akui-as-ada-di-pihaknya.html

VOA-ISLAMNEWS.COM, BERLIN – Majalah berita mingguan Jerman Focus melaporkan bahwa seorang komandan senior front al-Nusra yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada wartawan Jürgen Todenhöfer, bahwa kelompok yang dianggap teroris oleh Rusia, serta PBB bahkan Amerika Serikat, memiliki persenjataan terutama rudal TOW anti-tank BGM-71, yang diterima langsung dari AS.
“Rudal-rudal itu diserahkan langsung kepada kami. Amerika ada di pihak kami,” lapor outlet media itu mengutip pernyataan komandan militan tersebut. Pernyataan itu diungkap menanggapi pertanyaan Jürgen Todenhöfer apakah ada perantara dalam transfer senjata ini, misalkan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung AS. (Baca juga:Teroris Dukungan AS Sengaja Matikan Aliran Air untuk 1,5 Juta Warga Aleppo)
Front Al-Nusra telah menjadi salah satu lawan sengit Damaskus. Kelompok teroris itu telah berusaha untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad dan mendirikan sebuah kekhalifahan di Suriah. Komandan itu juga mengkonfirmasi hal ini:
“Kami akan berjuang sampai rezim digulingkan,” katanya, mengacu pada pemerintah Assad.  Kami tidak mengakui negara sekuler.” (Baca juga:Jabhat Nusra Siapkan Rencana Licik Serangan Kimia Untuk Salahkan Pemerintah Suriah)
Front Al-Nusra didirikan sebagai cabang al-Qaeda di Suriah, namun baru-baru ini memutuskan hubungan dengan jaringan teroris global itu, dan mengubah nama menjadi Jabhat Fateh al-Sham. Para ahli mengatakan bahwa rebranding tersebut tidak mempengaruhi tujuan kelompok atau sarana untuk mencapaitujuan itu. (VOAI)
Sumber: Arrahmahnews.com


Pasukan Yaman Hajar Pasukan Saudi dengan Rudal Tosca, Ratusan Tewas


Senin, 18 Juli 2016,
http://www.voa-islamnews.com/pasukan-yaman-hajar-pasukan-saudi-dengan-rudal-tosca-ratusan-tewas.html
VOA-ISLAMNEWS.COM, TA’IZ – Setelah beberapa kemenangan berturut-turut yang diraih oleh pasukan Houthi, serta sekutunya yaitu pasukan suku dan Pasukan Garda Republik Yaman dalam melawan agresi koalisi Saudi dan front-front mereka, kemenangan lebih besar lagi diperoleh pasukan Yaman setelah ledakan besar yang terjadi akibat Rudal pasukan Yaman menghantam sebuah Camp Saudi. Berikut videonya: (Baca juga: Intelijen Ungkap Kerugian Saudi Dalam Serangan Rudal Toska)
Rudal tersebut menargetkan Camp Jahf di sebelah selatan dari Ta’iz yang saat ini diduduki oleh Angkatan Bersenjata Saudi. Kamp ini telah sangat berperan baik sebagai titik peluncuran untuk pasukan loyalis Hadi di front Ta’iz dan sebagai basis operasional untuk menghentikan kemenangan Houthi di sebelah selatan dari Ta’iz ke Lahj dan Aden. (Baca juga: Demo Rakyat Yaman: Kami Bangkit Bersama Houthi Tolak Invasi AS dan Saudi)
Rudal yang diluncurkan adalah rudal strategis Tochka OTR-21. Pasukan anti-Saudi mengklaim bahwa serangan ini menewaskan 179 tentara. Jumlah tersebut masih belum dapat dipastikan karena serangan rudal sebelumnya yang diluncurkan ke pangkalan Saudi juga telah menghancurkan dalam proporsi yang sama. (VOAI)
Sumber: Arrahmahnews.com


Bukti Kuat, Suriah Dapatkan Rekaman Percakapan AS dan ISIS Pra Penyerangan Deir Ezzor


Selasa, 27 September 2016
http://www.voa-islamnews.com/bukti-kuat-suriah-dapatkan-rekaman-percakapan-as-dan-isis-pra-penyerangan-deir-ezzor.html

VOA-ISLAMNEWS.COM, DEIR EZZUR – Seorang pejabat tinggi Suriah mengatakan bahwa unit intelijen negara itu memiliki rekaman audio percakapan antara teroris ISIS dan militer AS sebelum serangan udara yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan AS pada pasukan tentara Suriah di dekat Deir Ezzur pada 17 September.
Pembicara dari Dewan Rakyat Suriah, Hadiya Khalaf Abbas, seperti dikutip oleh Sputnik pada hari Senin (26/09) kemarin, mengatakan bahwa setelah serangan udara koalisi AS pada pasukan Suriah, militer AS kemudian mengarahkan ISIS untuk melakukan serangan teroris pada tentara Suriah.
Pesawat-pesawat tempur AS mnyerang pasukan pemerintah Suriah di dekat kota Timur Deir Ezzur pada 17 September, meninggalkan lebih dari 90 personil militer tewas dan seratus lainnya terluka.

Sebelumnya, kementerian Pertahanan Rusia mengkonfirmasi laporan kantor berita negara Suriah bahwa serangan ISIS di mulai tepat setelah posisi Tentara Suriah terkena dari udara.
Tindakan koalisi “jelas membuka jalan bagi teroris ISIS untuk menyerang posisi tersebut dan mengambil kendali dari daerah itu.”
Komando Umum Suriah menyebut pemboman itu menunjukkan agresi “serius dan terang-terangan” terhadap pasukan Suriah, dan mengatakan bahwa itu adalah “bukti” bahwa AS dan sekutunya mendukung kelompok teroris ISIS.

Sehari kemudian, di hari Minggu, sumber militer mengungkap bahwa ISIS melancarkan serangan pada posisi tentara Suriah di Deir Ezzur hanya 7 menit setelah serangan udara koalisi pimpinan AS. (VOAI)
Sumber: Arrahmahnews.com







Pengerahan Pasukan AS di Yaman Untuk Merebut Kendali Atas Selat El-Mandeb


Selasa, 17 Mei 2016
http://www.voa-islamnews.com/pengerahan-pasukan-as-di-yaman-untuk-merebut-kendali-atas-selat-el-mandeb.html

ADEN, Voa-Islamnews.com – 
Seorang analis politik Yaman terkemuka memperingatkan plot kekuatan hegemonik ingin menghancurkan Yaman, dan mengatakan bahwa penumpukan militer AS baru-baru ini dan bentrokan di bagian selatan Yaman bertujuan untuk memenangkan kontrol atas wilayah  selat strategis Bab al-Mandab.

“Bentrokan baru-baru ini di selatan Yaman, dan meningkatnya kehadiran pasukan AS di wilayah ini ditujukan untuk mengendalikan wilayah strategis selat Bab al-Mandab”, kata Qanim al-Shokor kepada FNA pada hari Senin.

Arab Saudi dan negara-negara lain yang mendukung aliran teroris berusaha untuk mengontrol wilayah kaya minyak yang paling besar di dunia, katanya dan menambahkan bahwa pulau Yaman juga telah menarik perhatian Barat dan Israel.

“Dua pulau indah Perim dan Socotra adalah salah satu pulau strategis yang diincar oleh Israel dan Barat untuk digunakan pengendalian lalu-lintas kapal-kapal mereka”, Shokor memperingatkan.

Komandan Angkatan Populer Yaman juga memperingatkan pada hari Sabtu bahwa Washington telah menimbulkan ancaman keamanan di selatan Yaman untuk menemukan alasan atas kehadiran pasukan AS di sana.

“Gejolak keamanan di selatan Yaman adalah plot AS untuk menduduki negara ini”, kata komandan Ansarullah Abdullah al-Nassiri kepada FNA pada hari Sabtu.

Al-Nassiri menegaskan bahwa AS, UEA dan Arab Saudi bekerja sama untuk melanjutkan pekerjaan mereka di Yaman.

Minggu lalu, Juru Bicara gerakan Ansarullah Mohammad Abdulsalam mengutuk AS atas pengiriman pasukan khusus ke sebuah pangkalan militer di provinsi Lahij, selatan Yaman.

“Kehadiran tentara AS di Yaman adalah pelanggaran terang-terangan atas kedaulatan nasional Yaman,” tulis juru bicara gerakan Ansarullah Mohammad Abdulsalam di akun Twitter-nya yang mereaksi penyebaran pasukan AS di selatan Yaman.

Abdulsalam menggarisbawahi bahwa pasukan pendudukan harus meninggalkan Yaman dan mengambil peralatan militer mereka.

“Tindakan ini sejalan dengan tujuan kolonial Washington dan agresi terang-terangan terhadap Yaman,” bagian dari pernyataan itu.

Pernyataan itu menegaskan bahwa orang-orang Yaman, terlepas dari kecenderungan politik mereka menentang pengerahan pasukan AS di negara mereka.

“Negara-negara anggota PBB dan dunia seharusnya tidak tinggal diam atas intervensi militer AS di Yaman,” tambahnya.

“Kehadiran Al-Qaeda dan ISIS di bagian selatan Yaman adalah tanggung jawab tentara Yaman untuk menghadapi mereka, bukan Riyadh dan AS”, kata juru bicara Ansarullah.

Upaya yang dilakukan AS dengan mengirim pasukan khusus di selatan Yaman adalah langkah berbahaya yang akan mencederai upaya politik dan pembicaraan damai yang sedang berlangsung di Kuwait untuk mengakhiri perang dan penderitaan rakyat Yaman. [ARN]


KONYOL! Jet Tempur Saudi Bombardir Tentara Sekutunya Sendiri


Selasa, 27 September 2016,

VOA-ISLAMNEWS.COM, SANA’A – Jet-jet tempur Saudi menghantam posisi pasukan sekutu mereka sendiri di Yaman Tengah, dan menewaskan sejumlah besar militan yang setia kepada buronan mantan Presiden Mansour Hadi. Kesalahan yang lagi-lagi terjadi ini dikenal sebagai penembakan dan pemboman “rutin” angkatan udara Saudi terhadap pasukan sekutunya sendiri. (Baca juga: Saudi Kembali Bombardir Tentara Bayarannya, Konflik Internal Makin Meluas)
“Puluhan milisi pro-Hadi tewas dalam serangan udara jet tempur Saudi ‘pada posisi mereka di provinsi Ma’rib di Yaman Tengah,” demikian dilaporkan FNA, Senin (26/09).
Dalam insiden serupa pada 6 Agustus, puluhan milisi yang setia kepada Mansour Hadi tewas dalam serangan udara Saudi di provinsi al-Jawf.

Juga pada tanggal 24 Juni, puluhan milisi yang setia kepada Mansour Hadi tewas dalam serangan udara Saudi di provinsi al-Jawf. (Baca juga: SALAH SERANG LAGI! Saudi Tewaskan Puluhan Milisi Pro-Hadi dalam Serangan Terbaru)

Pada tanggal 30 Desember, sejumlah milisi yang setia kepada Mansour Hadi tewas dalam serangan udara Saudi di provinsi Ta’iz di Selatan Yaman.

Pada 17 November, pesawat tempur Saudi menewaskan puluhan milisi yang setia kepada Mansour Hadi.

Pada 18 Oktober, jet tempur Saudi menewaskan 30 militan pro-Hadi di provinsi Ta’iz.

Pada tanggal 10 Agustus, jet tempur Saudi menewaskan 20 milisi sekutu lainnya dari kelompok-kelompok militan pro-Hadi. (Baca juga: Lagi-Lagi Salah Sasaran, Jet Tempur Saudi Tewaskan Puluhan Milisi Pro-Hadi)

Dalam insiden serupa pada tanggal 28 Juli, Arab Saudi juga menewaskan 15 militan pro-Hadi. Jet-jet tempur Saudi melakukan serangan udara di bukit-bukit yang menghadap ke pangkalan udara al-Anad dekat kota al-Houta, terletak sekitar 30 kilometer (20 mil) dari kota pelabuhan selatan strategis Aden, meninggalkan 15 militan tewas dan sedikitnya 40 lainnya luka-luka. (VOAI)
Sumber: Arrahmahnews.com








 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar