Minggu, 22 November 2015

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 100]....>>>...Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Israil dari Al A’masy dari Abi Shalih dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata “Sesungguhnya kami mengenal orang-orang munafik dari kalangan Anshar melalui kebencian mereka terhadap Ali” [Fadhail Shahabah no 979 dengan sanad shahih]...>> ..... Jadi hakikat sebenarnya pembunuh Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyad dan Umar bin Sa’ad bersama pasukan mereka yang menghadang Imam Husain di Karbala. Dalam pasukan tersebut terdapat mereka orang-orang Kufah yang memang setia dengan pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah dan terdapat pula sebagian penduduk Kuufah yang terlibat karena pengaruh, atau ancaman dari Ubaidillah bin Ziyad. Dan tentu Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah pada saat itu yang memerintahkan penyerangan kepada Imam Husain adalah orang yang paling patut untuk dikatakan sebagai pembunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Walaupun begitu, sudah seharusnya penduduk Kufah yang tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut bergabung dengan Imam Husain dan membela Beliau bersama keluarganya. Bukankah mereka mengetahui bahwa akan ada pasukan yang dikerahkan untuk menghadang Imam Husain maka tidak ada tindakan yang benar pada saat itu kecuali bergabung dengan Imam Husain dan keluarganya...>>>

Tinjauan Tafsir At Taubah Ayat 100 : Sahabat Nabi Yang Berhijrah Bukan Karena Allah

Tinjauan Tafsir At Taubah ayat 100 : Sahabat Nabi Yang Berhijrah Bukan Karena Allah
Ada salah satu ayat Al Qur’an yang sering dicatut kaum nashibi untuk memuliakan para sahabat yaitu At Taubah ayat 100. Ayat tersebut memang membicarakan keutamaan sahabat muhajirin dan anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik. Tulisan ini hanya ingin menunjukkan kekeliruan sebagian nashibi yang mengira ayat ini tertuju untuk semua muhajirin dan anshar.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 100]
Muhajirin dalam ayat ini adalah mereka yang berhijrah dengan mengharap ridha Allah dan bukan karena hal lain. Anshar dalam ayat ini adalah mereka dari kalangan kaum Anshar yang dengan ridha menyambut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan sebagian kaum Anshar yang munafik. Sering kaum awam nashibi mengartikan bahwa muhajirin dan anshar dalam ayat ini adalah mutlak untuk semua mereka. Hal ini jelas tidak bisa diterima, para sahabat sendiri mengakui ada orang munafik diantara kaum Anshar maka apakah mereka juga termasuk dalam ayat ini. Sudah jelas tidak.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا اسود بن عامر قثنا إسرائيل عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي سعيد الخدري قال إنما كنا نعرف منافقي الأنصار ببغضهم عليا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Israil dari Al A’masy dari Abi Shalih dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata “Sesungguhnya kami mengenal orang-orang munafik dari kalangan Anshar melalui kebencian mereka terhadap Ali” [Fadhail Shahabah no 979 dengan sanad shahih]
Begitu juga ternyata ada diantara kaum Muhajirin yang berhijrah bukan karena Allah SWT dan Rasul-Nya melainkan demi kepentingan dunia.

حدثنا محمد بن علي الصائغ ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن شقيق قال قال عبد الله من هاجر يبتغي شيئا فهو له قال : هاجر رجل ليتزوج امرأة يقال لها أم قيس وكان يسمى مهاجر أم قيس

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy As Shaigh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Syaqiq yang berkata ‘Abdullah berkata “siapa yang berhijrah demi mendapatkan sesuatu maka itulah yang ada untuknya. Ia berkata “seorang laki-laki hijrah demi menikahi seorang wanita yaitu Ummu Qais maka kami menamakannya Muhajir Ummu Qais” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 9/103 no 8540]
Riwayat Thabrani sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Syaikh Thabrani Muhammad bin ‘Ali Ash Shaaigh adalah seorang imam yang tsiqat
  • Muhammad bin Ali Ash Shaaigh adalah muhaddis imam yang tsiqat sebagaimana disebutkan Adz Dzahabi [As Siyar 13/428 no 212]
  • Sa’id bin Manshur adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad berkata “termasuk orang yang memiliki keutamaan dan shaduq”. Ibnu Khirasy dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang mutqin dan tsabit. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat tsabit”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 4 no 148]
  • Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70].
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]. Riwayat ‘an anahnya dari para syaikh-nya seperti Ibrahim, Abu Wail dan Abu Shalih dianggap muttashil [bersambung] seperti yang dikatakan Adz Dzahabi [Mizan Al Itidal 2/224 no 3517].
  • Syaqiq bin Salamah Abu Wa’il Al Kufiy adalah Mukhadhramun yang tsiqat perawi kutubus sittah. Ibnu Ma’in, Waki’, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 619]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/421]
Ummu Qais termasuk dalam golongan muhajirin awal maka laki-laki yang menyusulnya hijrah dengan berniat menikahi Ummu Qais juga termasuk dalam muhajirin awal.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ أُمَّ قَيْسٍ بِنْتَ مِحْصَنٍ الْأَسَدِيَّةَ أَسَدَ خُزَيْمَةَ وَكَانَتْ مِنْ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ اللَّاتِي بَايَعْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ubaidillah bin ‘Abdullah bahwa Ummu Qais binti Mihshan Al Asadiyyah singa khuzaimah ia termasuk muhajirin awal dan berbaiat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 7/127 no 5715]
Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, jika niatnya karena Allah SWT dan Rasul-Nya maka ia akan mendapatkan keutamaan tetapi jika niatnya demi menikahi wanita atau dunia maka baginya adalah apa yang ia niatkan sebagaimana sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahab yang berkata aku mendengar Yahya bin Sa’id yang mengatakan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqaash Al Laitsiy yang mengatakan aku mendengar Umar bin Khaththab radiallahu ‘anhu berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sekedar mendapatkan apa yang ia niatkan atasnya [Shahih Bukhari 8/140 no 6689]
Riwayat-riwayat shahih di atas menunjukkan betapa lemahnya akal nashibi dalam berhujjah. Mereka sering melakukan bias dalam berhujjah. Terkait tafsir Al Qur’an At Taubah ayat 100 di atas biasnya adalah generalisasi dengan hanya memandang title “muhajirin” dan title “anshar” padahal hakikatnya ayat tersebut tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya. Salam Damai

Benarkah Yazid bin Mu’awiyah Tidak Terlibat Dalam Pembunuhan Husain bin Aliy?

Benarkah Yazid bin Mu’awiyah Tidak Terlibat Dalam Pembunuhan Husain bin Aliy?
Salah satu syubhat nashibiy dalam merendahkan Syi’ah adalah mereka menuduh bahwa sebenarnya kaum Syi’ah yang membunuh Imam Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan di sisi lain mereka membela Yazid bin Mu’awiyah dan mengatakan bahwa ia tidak memerintahkan dan tidak terlibat atas pembunuhan tersebut.
Perkataan nashibiy tersebut kalau dipikirkan dengan baik akan menimbulkan banyak kerancuan, diantaranya adalah
  1. Dalam riwayat shahih memang disebutkan bahwa sebagian sahabat seperti Ibnu Umar mencela penduduk Iraq Kufah atas pembunuhan Imam Husain. Riwayat-riwayat seperti ini yang dijadikan hujjah oleh nashibiy untuk menyatakan bahwa kaum Syi’ah adalah pembunuh Husain, menurut pandangan mereka, siapa lagi penduduk Kufah kalau bukan Syi’ah?. Jadi yang dimaksudkan para nashibiy bahwa Syi’ah membunuh Imam Husain adalah sebagian penduduk Kuufah yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain dan keluarganya. Tentu tidak bisa dipukul rata bahwa semua penduduk Kuufah adalah pembunuh Husain. Betapa banyak orang-orang Kufah yang tsiqat di masa Imam Husain tersebut dan mungkin tidak ikut terlibat maka apakah dengan seenaknya bisa dikatakan mereka pembunuh Imam Husain hanya karena mereka tinggal di Kuufah?.
  2. Sebenarnya pihak yang lebih patut bertanggung jawab adalah para petinggi yang memerintahkan pembantaian tersebut yaitu Yazid atau yang memimpin serangan tersebut seperti Ubaidillah bin Ziyaad dan Umar bin Sa’ad. Sebagian penduduk kufah tidak akan terlibat jika tidak ada yang mempengaruhi, memaksa, mengancam atau memerintahkan mereka
  3. Pengertian Syi’ah pada masa tersebut tidaklah sama dengan Syi’ah sekarang yang dikatakan nashibiy sebagai rafidhah, Syi’ah di masa tersebut lebih tepat diartikan bertasyayyu’ dan tidak mesti berpaham rafidhah. Dan kalau kita melihat kitab Rijal maka makna Syi’ah seperti ini mencakup juga tabiin kufah yang tsiqat di sisi ahlus sunnah pada masa Husain bin Aliy dan sebagian ulama ahlus sunnah di masa setelahnya. Contoh para ulama ahlus sunnah yang mendapat predikat seperti ini misalnya Sulaiman bin Mihran Al A’masyiy, Syarik, Abdurrazaq, dan lain-lain.
  4. Kita tidak akan menemukan dalam kitab Syi’ah Imamiyah orang-orang seperti A’masyiy, Syarik, dan Abdurrazaq sebagai orang-orang yang mereka jadikan pegangan dalam kitab mereka tetapi kita dapat menemukan dalam kitab ahlus sunnah bahwa mereka walaupun dituduh Syi’ah tetapi hadis-hadis mereka tetap menjadi pegangan ahlus sunnah. Sekarang silakan para nashibiy tersebut memiikirkan dengan baik ketika mereka menyatakan kaum Syi’ah yang membunuh Imam Husain, maka itu Syi’ah yang bagaimana?. Syi’ah yang jadi pegangan ahlus sunnah atau Syi’ah yang jadi pegangan Syi’ah Imamiyah.
Jadi hakikat sebenarnya pembunuh Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyad dan Umar bin Sa’ad bersama pasukan mereka yang menghadang Imam Husain di Karbala. Dalam pasukan tersebut terdapat mereka orang-orang Kufah yang memang setia dengan pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah dan terdapat pula sebagian penduduk Kuufah yang terlibat karena pengaruh, atau ancaman dari Ubaidillah bin Ziyad. Dan tentu Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah pada saat itu yang memerintahkan penyerangan kepada Imam Husain adalah orang yang paling patut untuk dikatakan sebagai pembunuh Imam Husain [‘alaihis salaam].
Walaupun begitu, sudah seharusnya penduduk Kufah yang tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut bergabung dengan Imam Husain dan membela Beliau bersama keluarganya. Bukankah mereka mengetahui bahwa akan ada pasukan yang dikerahkan untuk menghadang Imam Husain maka tidak ada tindakan yang benar pada saat itu kecuali bergabung dengan Imam Husain dan keluarganya.
.

Kemudian mengenai pembelaan nashibiy bahwa Yazid bin Mu’awiyah tidak terlibat atas pembunuhan Imam Husain maka memang kita temukan ada ulama yang menyatakan demikian seperti Ibnu Taimiyyah tetapi sebagian ulama lain telah menegaskan bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan Imam Husain, diantara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsiir, Ibnu Jauziy, Adz Dzahabiy, As Suyuthiy, Ibnu Hazm dan selainnya.

قلت ولما فعل يزيد بأهل المدينة ما فعل وقتل الحسين وأخوته وآله وشرب يزيد الخمر وارتكب أشياء منكرة بغضه الناس وخرج عليه غير واحد ولم يبارك الله في عمره

[Adz Dzahabiy] aku katakan “dan ketika Yazid melakukan terhadap penduduk Madinah apa yang telah ia lakukan, membunuh Husain, saudaranya dan keluarganya, Yazid meminum khamar, dan melakukan berbagai perbuatan mungkar, orang-orang jadi membencinya, menyimpang darinya lebih dari sekali dan Allah SWT tidak memberikan barakah dalam hidupnya” [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 2/65]
As Suyuthiy dalam Tarikh Al Khulafaa’ setelah menyebutkan kisah pembunuhan Imam Husain, ia berkata

لعن الله قاتله و ابن زياد معه و يزيد

Laknat Allah atas yang membunuhnya, Ibnu Ziyaad dan Yaziid [Tarikh Al Khulafaa’ 1/182]
Ibnu Katsiir dalam kitabnya Bidayah Wan Nihayah pernah berkata

وقد أخطأ يزيد خطأ فاحشا في قوله لمسلم بن عقبة أن يبيح المدينة ثلاثة أيام، وهذا خطأ كبير فاحش، مع ما انضم إلى ذلك من قتل خلق من الصحابة وأبنائهم، وقد تقدم أنه قتلالحسين وأصحابه على يدي عبيد الله بن زياد

Dan sungguh Yazid telah berbuat kesalahan dengan kesalahan yang begitu keji, ia memerintahkan kepada Muslim bin ‘Uqbah untuk menyerang Madinah selama tiga hari, dan ini kesalahan yang besar dan keji, bersamaan dengan itu banyak sahabat dan anak-anak mereka terbunuh, dan telah disebutkan sebelumnya bahwa ia telah membunuh Husain dan para sahabatnya melalui tangan Ubaidillah bin Ziyaad [Al Bidayah Wan Nihayah 8/243]
.
.
.
Terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Yazid terlibat dalam pembunuhan Imam Husain sehingga kepala Imam Husain dibawa Ubaidillah bin Ziyaad kepada Yazid dan Yazid menusuk kepala Imam Husain tersebut

قال ابن أبي الدنيا وثنا أبو الوليد ، قال ثنا خالد بن يزيد بن أسد قال ثنا عمار الدهني عن أبي جعفر قال وضع رأس الحسين بين يدي يزيد وعنده أبو برزة، فجعل يزيد ينكت بالقضيب على فيه ، ويقول نفلقن هاماً…فقال له أبو برزة : ارفع قضيبك فوالله لربما رأيت فاه رسول الله صلى الله عليه وسلم على فيه يلثمه
قال ابن ابي الدنيا وثنا سلمة بن شبيب قال ثنا الحميدي عن سفيان قال سمعت سالم بن أبي حفصة يقول قال الحسن جعل يزيد بن معاوية يطعن بالقضيب موضع في رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ibnu Abi Dunyaa berkata telah menceritakan kepada kami Abul Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yaziid bin Asad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ammar Ad Duhniy dari Abu Ja’far yang berkata Kepala Husain diletakkan dihadapan Yazid dan disisinya ada Abu Barzah, maka Yazid menusuknya dengan tongkat seraya berkata “telah terpotong kepala…” maka Abu Barzah berkata “angkat tongkatmu, demi Allah aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menciumnya”
Ibnu Abi Dunyaa berkata dan telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy dari Sufyaan yang berkata aku mendengar Salim bin Abi Hafshah mengatakan Al Hasan berkata “Yazid bin Mu’awiyah menusuk dengan tongkat [kepala Husain] pada tempat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [menciumnya]…[Ar Rad ‘Ala Al Muta’ashib Ibnu Jauziy hal 58]
Sanad dari Ibnu Jauziy sampai ke Ibnu Abi Dunyaa, telah disebutkan dalam riwayat sebelumnya yaitu sebagai berikut

أخبرنا محمد بن ناصر ، قال : أخبرنا جعفر بن أحمد بن السراج ، قال : أخبرنا أبو طاهر محمد بن علي العلاف ، قال : أخبرنا أبو الحسين ابن أخي ميمي ، قال : ثنا الحسين بن صفوان ، قال : ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا القرشي

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Naashr yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As Siraaj yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Thaahir Muhammad bin Aliy Al ‘Alaaf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Akhiy Miimiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Shafwaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa Al Qurasyiy… [Ar Rad ‘Ala Al Muta’ashib Ibnu Jauziy hal 57]
Sanad Ibnu Jauziy sampai ke Ibnu Abi Dunyaa adalah jayyid [baik] berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Muhammad bin Naashir, dikenal dengan Ibnu Naashir seorang imam muhaddis mufiid Iraaq. Ibnu Jauziy berkata “syaikh kami yang tsiqat hafizh dhabit termasuk ahlus sunnah” [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/265]
  2. Ja’far bin Ahmad As Siraaj seorang syaikh imam muhaddis musnad, Abu Bakar bin Arabiy berkata “tsiqat”. Ibnu Naashir berkata “tsiqat ma’mun” [As Siyaar Adz Dzahabiy 19/228]
  3. Abu Thahir Muhammad bin Aliy yang dikenal Ibnu Al ‘Alaaf seorang imam yang alim, Al Khatib berkata “aku menulis darinya dan ia shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/608]
  4. Abu Husain Muhammad bin ‘Abdullah bin Husain Al Baghdadiy yang dikenal Ibnu Akhiy Miimiy syaikh shaduq musnad seorang yang tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/565]
  5. Husain bin Shafwan Abu Aliy seorang syaikh muhaddis tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 15/442]
  6. Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid yang dikenal Ibnu Abi Dunyaa seorang yang shaduq hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/321 no 3591]
Kami menukil dua sanad dari Ibnu Abi Dunyaa yang disebutkan Ibnu Jauziy, keduanya mengandung kelemahan tetapi saling menguatkan sehingga kedudukannya menjadi hasan.
.
.
Sanad pertama yaitu dari Ibnu Abi Dunyaa dari Abu Walid dari Khalid bin Yazid bin Asad dari ‘Ammar Ad Duhniy dari Abu Ja’far, berikut keterangan para perawinya
  1. Abul Walid adalah Ahmad bin Janab Al Mashiishiy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Telah meriwayatkan darinya Muslim, Abu Zur’ah, Ahmad bin Hanbal dan anaknya [dimana mereka dikenal hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat]. Shalih Al Jazariy berkata “shaduq”. Al Hakim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Hatim meriwayatkan darinya dan berkata “shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 25]
  2. Khalid bin Yazid bin Asad anak dari pemimpin Iraq, ia seorang ahli hadis dan ma’rifat, tidak mutqin, tafarrud dengan riwayat-riwayat mungkar. Al Uqailiy berkata “tidak memiliki mutaba’ah hadisnya”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Ibnu Adiy mengatakan hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah dan ia seorang yang dhaif tetapi ditulis hadisnya [As Siyaar Adz Dzahabiy 9/410]
  3. ‘Ammar bin Muawiyah Ad Duhniy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah . Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti ia tsiqat dalam pandangan Syu’bah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 662].
  4. Abu Ja’far Al Baqir, Muhammad bin Aliy bin Husain seorang yang tsiqat dan memiliki keutamaan [Taqrib At Tahdzib 1/497 no 6151]. Ia seorang Sayyid Imam, lahir pada tahun 56 H [As Siyaar Adz Dzahabiy]
Para perawinya tsiqat kecuali Khalid bin Yazid ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar dan Abu Ja’far Al Baqir lahir tahun 56 H sedangkan peristiwa Yazid menusuk kepala Imam Husain terjadi pada tahun 61 H maka pada saat itu usia Beliau 5 tahun sudah memasuki usia tamyiz dan besar kemungkinan pada saat itu Beliau bersama ayahnya Aliy bin Husain dan keluarganya yang selamat digiring Ubaidillah untuk menghadap Yazid.
Sanad kedua yaitu Ibnu Abi Dunyaa dari Salamah bin Syabiib dari Al Humaidiy dari Sufyaan dari Salim bin Abil Hafshah dari Hasan Al Bashriy, berikut keterangan para perawinya
  1. Salamah bin Syabiib termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/247 no 2494]
  2. Al Humaidiy Abdullah bin Zubair bin ‘Iisa Al Quurasyiy termasuk perawi Bukhariy dan Muslim seorang yang tsiqat hafizh faqih sahabat Ibnu Uyainah [Taqrib At Tahdzib 1/303 no 3320]
  3. Sufyan bin Uyainah perawi kutubus sittah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah, berubah hafalan diakhir umurnya, dituduh melakukan tadlis tetapi hanya dari perawi tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/245 no 2451]
  4. Salim bin Abil Hafshah termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad dan Tirmidzi seorang yang shaduq dalam hadis hanya saja ia berlebihan dalam syi’ahnya [Taqrib At Tahdzib 1/226 no 2171]. Terdapat perselisihan mengenai Salim bin Abi Hafshah, Ahmad bin Hanbal berkata “aku kira tidak ada masalah dalam hadisnya”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. ‘Amru bin Aliy menyatakan ia dhaif berlebihan dalam tasyayyu’. Abu Hatim berkata “ditulis hadinya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah”. Al Ijliy berkata “tsiqat”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Hibban berkata “sering terbalik dalam kabar dan keliru dalam riwayat”. Ibnu Adiy berkata “sesungguhnya aib atasnya hanyalah ia ghuluw dalam syi’ahnya adapun hadis-hadisnya aku harap tidak ada masalah padanya” [Tahdzib At Tahdzib juz 3 no 800]
  5. Hasan bin Abi Hasan Al Bashriy termasuk perawi kutubus sittah seorang yang tsiqat faqiih fadhl masyhur banyak melakukan irsal dan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/160 no 1227]
Para perawi sanad kedua semuanya tsiqat kecuali Salim bin Abi Hafshah, ia diperselisihkan kedudukannya tetapi sanad ini bersama-sama sanad yang pertama kedudukannya saling menguatkanmaka derajatnya menjadi hasan.
Riwayat Ibnu Abi Dunyaa di atas dikuatkan pula oleh riwayat Ibnu Sa’ad berikut

أخبرنا كثير بن هشام قال حدثنا جعفر ابن برقان قال حدثنا يزيد بن أبي زياد قال لما أتي يزيد بن معاوية برأس الحسين بن علي جعل ينكت بمخصرة معه سنه

Telah mengabarkan kepada kami Katsiir bin Hisyaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Ziyaad yang berkata ketika didatangkan kepada Yazid bin Mu’awiyah kepala Husain bin Aliy ia menusuknya dengan tongkat yang ia bawa…[Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/448]
Riwayat ini para perawinya tsiqat kecuali Yazid bin Abi Ziyaad, ia seorang yang diperselisihkan kedudukannya dan yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.
  1. Katsiir bin Hisyaam termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijliy berkata “tsiqat shaduq”. Abu Dawud berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 771]
  2. Ja’far bin Burqaan termasuk perawi Bukhariy dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “jika meriwayatkan dari selain Az Zuhriy maka tidak ada masalah dalam hadisnya tetapi jika meriwayatkan dari Az Zuhriy maka sering keliru”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat dan dhaif dalam riwayat Az Zuhriy”. Ibnu Numair berkata “tsiqat dan hadis-hadisnya dari Az Zuhriy mudhtharib”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat shaduq”. Abu Nu’aim, Marwan bin Muhammad dan Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tidak kuat dalam riwayat Az Zuhriy dan tidak ada masalah dalam riwayat selainnya” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 131]
  3. Yazid bin Abi Ziyaad Al Qurasyiy termasuk perawi Bukhariy dalam At Ta’liq, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak hafizh”. Yahya bin Ma’in berkata “tidak kuat”. Al Ijliy berkata “ja’iz al hadits”. Abu Zur’ah berkata “layyin ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Abu Dawud berkata “tidak diketahui satu orangpun yang meninggalkan hadisnya tetapi selainnya lebih disukai daripadanya”. Ibnu Adiy berkata “syi’ah Kufah dhaif ditulis hadisnya”. Jarir berkata dari Yazid bahwa ketika Husain terbunuh aku berumur 14 atau 15 tahun”. Ibnu Hibban berkata “shaduq kecuali ketika tua jelek dan berubah hafalannya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ahmad bin Shalih Al Mishriy berkata “tsiqat dan tidak membuatku heran perkataan yang membicarakannya”. An Nasa’iy berkata “tidak kuat” [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 531]
. .
Kemudian dikuatkan lagi oleh riwayat Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy sebagaimana yang disebutkan Ath Thabraniy berikut

حدثنا علي بن عبد العزيز ثنا الزبير بن بكار حدثني محمد بن الضحاك بن عثمان الحزامي عن أبيه قال خرج الحسين بن علي رضي الله عنهما إلى الكوفة ساخطا لولاية يزيد بن معاوية فكتب يزيد بن معاوية إلى عبيد الله بن زياد وهو واليه على العراق إنه قد بلغني أن حسينا قد سار إلى الكوفة وقد ابتلى به زمانك من بين الأزمان وبلدك من بين البلدان وابتليت به من بين العمال وعندها يعتق أو يعود عبدا كما يعتبد العبيد فقتله عبيد الله بن زياد وبعث برأسه إليه فلما وضع بين يديه تمثل بقول الحسين بن الحمامنفلق هاما من رجال أحبة … إلينا وهم كانو أعق وأظلما

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Zubair bin Bakaar yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Dhahhaak bin ‘Utsman Al Hazaamiiy dari Ayahnya yang berkata Husain bin Aliy [radiallahu ‘anhum] pergi menuju Kufah dalam keadaan marah terhadap kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah. Maka Yazid bin Mu’awiyah menulis kepada ‘Ubaidillah bin Ziyaad dan ia adalah wali-nya atas Irak “bahwasanya telah sampai kepadaku Husain melakukan perjalanan menuju Kufah dan sungguh itu akan menjadi bencana bagi zamanmu dibanding zaman-zaman lainnya dan negrimu dibanding negri-negri lainnya dan akan menimpamu dibanding perbuatan lainnya, dan dengannya engkau akan terbebas atau akan kembali menjadi budak seperti halnya perbudakan para budak, maka Ubaidillah bin Ziyad membunuhnya [Husain] dan mengirimkan kepalanya kepada Yazid, ketika [Kepala Husain] diletakkan di hadapannya maka ia berujar dengan perkataan Husain bin Hamaam “telah terpotong kepala orang yang dicintai…kepada kami mereka durhaka dan zalim” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 3/115 no 2846]
Para perawi sanad Thabraniy tsiqat dan shaduq. berikut keterangan mengenai para perawinya
  1. Aliy bin ‘Abdul Aziiz, Abul Hasan Al Baghawiy, Ibnu Abi Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 6/196 no 1076]. Daruquthniy berkata tentangnya “tsiqat ma’mun” [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 389]
  2. Zubair bin Bakaar termasuk perawi Ibnu Majah, seorang Qadhiy Madinah yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/214 no 1991]
  3. Muhammad bin Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Mundzir dan penduduk Madinah [Ats Tsiqat 9/59 no 15174]. Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya tanpa jarh dan ta’dil dan menyebutkan bahwa telah meriwayatkan darinya Yaqub bin Humaid Al Madaniy [Al Jarh Wat Ta’dil 7/290 no 1576]. Jadi telah meriwayatkan darinya perawi yang tsiqat dan shaduq yaitu Ibrahim bin Mundzir [shaduq] [Taqrib At Tahdzib 1/94 no 253], Yaqub bin Humaid [shaduq yahim] [Taqrib At Tahdzib 1/607 no 7815] dan Zubair bin Bakaar [tsiqat] [Taqrib At Tahdzib 1/214 no 1991].
  4. Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy termasuk perawi Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Mush’ab Az Zubairiy dan Abu Dawud menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah berkata “tidak kuat”. Abu Hatim berkata “ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah dan dia shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsabit”. Ibnu Bukair berkata “tsiqat”. Ibnu Numair berkata “tidak ada masalah padanya”. Ali bin Madiniy berkata “tsiqat”. Ibnu ‘Abdil Barr berkata “banyak melakukan kesalahan tidak menjadi hujjah” [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 787].
Riwayat Ath Thabraniy ini memiliki cacat yaitu Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy disebutkan bahwa ia wafat tahun 153 H [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 787] sedangkan kisah Yazid tersebut terjadi pada tahun 61 H. Maka terdapat jarak 92 tahun , tidak diketahui kapan lahirnya Dhahhaak bin Utsman dan jika berdasarkan usia pada umumnya maka ia lahir di atas tahun 61 H. Oleh karena itu riwayat Thabraniy tersebut dhaif karena sanadnya terputus, tetapi bisa dijadikan i’tibar.
.
.
Secara ringkas ada empat riwayat yang membuktikan bahwa kepala Imam Husain dibawa kehadapan Yazid dan tiga riwayat menyebutkan bahwa Yazid menusuk kepala Imam Husain dengan tongkat
  1. Riwayat Abu Ja’far Al Baqir lemah karena Khalid bin Yazid bin Asad seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar
  2. Riwayat Hasan Al Bashriy lemah karena Salim bin Abi Hafshah diperselisihkan kedudukannya tetapi bisa dijadikan i’tibar
  3. Riwayat Yazid bin Abi Ziyaad lemah karena Yazid bin Abi Ziyaad diperselisihkan kedudukannya tetapi bisa dijadikan i’tibar
  4. Riwayat Dhahhaak bin Utsman Al Hazaamiy lemah karena sanadnya terputus dan bisa dijadikan i’tibar.
Keempat riwayat tersebut saling menguatkan maka kedudukannya menjadi hasan. Kepala Imam Husain memang dibawa ke hadapan Yazid dan Yazid menusuknya dengan tongkat.
Jika ada yang berdalih bahwa riwayat-riwayat di atas tidak menunjukkan bahwa Yazid memerintahkan Ubaidillah bin Ziyaad untuk membunuh Imam Husain. Maka jawabannya adalah sebagai berikut, jika para nashibiy tersebut menginginkan riwayat shahih dengan lafaz jelas perintah Yazid kepada Ubaidillah bin Ziyaad maka kami katakan dengan jujur kami tidak menemukannya. Tetapi anehnya para nashibiy itu menyatakan bahwa riwayat paling shahih mengenai peristiwa karbala dan siapa pembunuh Imam Husain adalah riwayat Shahih Bukhariy berikut

حدثني محمد بن الحسين بن إبراهيم قال حدثني حسين بن محمد حدثنا جرير عن محمد عن أنس بن مالك رضي الله عنهأتي عبيد الله بن زياد برأس الحسين بن علي عليه السلام فجعل في طست فجعل ينكث وقال في حسنه شيئا فقال أنس كان أشبههم برسول الله صلى الله عليه و سلم وكان مخصوبا بالوسمة

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Husain bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Jariir dari Muhammad dari Anas bin Malik [radiallahu ‘anhu] “didatangkan kepada Ubaidillah bin Ziyaad kepala Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] maka ia meletakkannya di bejana dan menusuknya, seraya berkata tentang ketampanannya. Maka Anas berkata “Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan saat itu rambutnya disemir dengan wasmah [Shahih Bukhariy 5/26 no 3748]
Apakah dalam riwayat shahih Bukhariy di atas terdapat lafaz Ubaidillah bin Ziyad memerintahkan membunuh Imam Husain?. Tidak ada lafaz seperti itu tetapi para nashibiy memahami riwayat ini sebagai bukti paling shahih bahwa yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain adalah Ubaidillah bin Ziyaad.
Riwayat seperti ini sudah cukup bagi mereka yang ingin mencari kebenaran. Dihadapkannya kepala Imam Husain kepada Ubaidillah bin Ziyaad dan bagaimana cara Ubaidillah memperlakukan kepala Imam Husain tersebut menjadi bukti cukup bahwa ia bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]
Dan riwayat Bukhariy di atas tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang kami bahas sebelumnya, melainkan saling melengkapi. Setelah dihadapkan ke Ubaidillah maka ia mengirimkan kepala Imam Husain tersebut kepada Yazid dan Yazid-pun memperlakukan kepala Imam Husain tersebut dengan keji maka hal ini menjadi bukti bahwa Yazid bin Mu’awiyah juga bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam].
Pandangan kami adalah sebagaimana pandangan para ulama seperti Ibnu Hazm, Ibnu Katsiir, Adz Dzahabiy, Ibnu Jauziy dan As Suyuthiy bahwa Yazid bin Mu’awiyah termasuk pihak yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]. Dan pandangan ini memang memiliki bukti kuat dari berbagai riwayat dan tarikh, diantaranya telah kami bawakan di atas.
.
.
Para nashibiy biasanya suka mencela Syi’ah sambil mengutip kitab-kitab Syi’ah yang menyatakan bahwa mereka yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah kaum Syi’ah sendiri. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya bahwa Syi’ah yang dimaksud adalah penduduk Kufah yang mengaku setia kepada Imam Husain tetapi pada akhirnya malah berkhianat atau berlepas diri dari Imam Husain. Hal ini diakui dalam mazhab Syi’ah sebagaimana nampak dalam literatur mereka, tetapi walaupun begitu mereka tidak menafikan bahwa orang yang paling bertanggung-jawab untuk pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah Yazid bin Mu’awiyah yang memerintahkan Ubaidillah bin Ziyaad kemudian Ubaidillah bin Ziyaad mempengaruhi, memerintahkan dan mengancam sebagian penduduk Kufah, sehingga sebagian mereka berkhianat dan sebagian lagi berlepas diri atau mungkin walaupun tidak ikut tetap tidak berani untuk menentangnya.
Terdapat riwayat shahih di sisi mazhab Syi’ah yang membuktikan bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam]

ابن محبوب، عن عبد الله بن سنان قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقولثلاث هن فخر المؤمن وزينه في الدنيا والآخرة: الصلاة في آخر الليل ويأسه مما في أيدي الناس وولايته الامام من آل محمد (صلى الله عليه وآله) قال: وثلاثة هم شرار الخلق ابتلى بهم خيار الخلق: أبو سفيان أحدهم قاتل رسول الله (صلى الله عليه وآله) وعاداه ومعاوية قاتل عليا (عليه السلام) وعاداه ويزيد بن معاوية لعنه الله قاتل الحسين بن علي (عليهما السلام) وعاداه حتى قتله

Ibnu Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan yang berkata aku mendengar Aba ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Ada tiga hal yang menjadi kebanggan seorang mukmin dan menjadi keindahan baginya dalam kehidupan dunia dan akhirat yaitu Shalat di akhir malam, tidak mengharapnya ia terhadap apa yang ada di tangan orang-orang, dan wilayah Imam dari keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau berkata “dan ada tiga orang makhluk yang paling buruk telah menyakiti makhluk yang paling baik yaitu Abu Sufyan yang memerangi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan memusuhinya, Mu’awiyah yang memerangi Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya, dan Yazid bin Mu’awiyah laknat Allah atasnya, yang memerangi Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya sampai membunuhnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/234]
Riwayat Al Kulainiy di atas sanadnya shahih, sanad Al Kulainiy sampai Hasan bin Mahbuub telah disebutkan dalam riwayat sebelumnya yaitu dari Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/233]. Jadi sanad lengkap riwayat di atas adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan
  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  4. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
Kami menukil riwayat di atas hanya ingin menunjukkan bahwa di sisi mazhab Syi’ah pandangan bahwa Yazid bin Mu’awiyah yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah pandangan yang shahih.
.
.
Kesimpulan : Dalam pandangan mazhab Ahlus sunnah dan dalam pandangan mazhab Syi’ah telah tsabit bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Imam Husain bin Aliy [‘alaihis salaam].


Kedustaan Al Amiry : Bukti Nyata Bahwa Syi’ah Adalah Pembunuh Husain?.

Kedustaan Al Amiry : Bukti Nyata Bahwa Syi’ah Adalah Pembunuh Husain?.
Orang ini memang “agak lucu” dan mohon maaf kalau kata-kata “pendusta” sangat cocok disematkan kepadanya. Menuduh orang-orang Syi’ah bersandiwara ketika menangisi Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah kedustaan. Kami tidak tahu apa dasarnya tuduhan orang ini, adapun tulisan ngawurnya itu benar-benar salah sambung kalau ditujukan kepada mazhab Syi’ah yang ada sekarang.
Tidak dipungkiri bahwa dalam mazhab Syi’ah terdapat riwayat [terlepas dari kedudukannya apakah dhaif ataukah shahih] dimana ahlul bait mengecam orang-orang yang mengaku Syi’ah mereka. Seperti dalam kasus yang menimpa Imam Husain [‘alaihis salaam] yaitu terdapat orang-orang Syi’ah Kufah yang menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] kemudian orang-orang ini malah meninggalkan Beliau atau malah ikut menyakiti Beliau.
Pertanyaan penting yang harus dijawab disini adalah “Syi’ah Kufah” yang dimaksud itu sebenarnya Syi’ah yang bagaimana?. Pertanyaan ini yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang seperti Al Amiry. Apa itu Syi’ah yang dikenal sekarang sebagai Syi’ah Imamiyah atau Syi’ah yang dikenal karena kecenderungan kepada Imam Aliy?. Sebelum Al Amiry sok memfitnah mazhab lain, ada baiknya ia banyak membaca kitab mazhab ahlus sunnah.
.
.
.
Salah satu dari orang-orang yang dikatakan Syi’ah Kufah yang menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah Sulaiman bin Shurad Al Khuzaa’iy dan dia adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahkan meriwayatkan hadis dalam kutubus sittah. Ibnu Sa’d ketika menuliskan biografinya mengatakan
.
Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 4
Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 4 hal 196
.

وشهد مع علي بن أبي طالب عليه السلام الجمل وصفين كان فيمن كتب الى الحسين بن علي أن يقدم الكوفة فلما قدمها أمسك عنه ولم يقاتل معه

Dan dia bersama ‘Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] pada perang Jamal dan perang Shiffiin, dia termasuk diantara orang yang menulis surat kepada Husain bin ‘Aliy agar datang ke Kufah, maka ketika Beliau datang ia menahan darinya dan tidak berperang bersamanya…[Thabaqat Ibnu Sa’d 5/196 no 855]
Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib bahwa Sulaiman bin Shurad adalah sahabat Nabi dan termasuk perawi kutubus sittah [Shahih Bukhariy, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’iy, Sunan Ibnu Majah, Sunan Tirmidzi].
.
Tahdziin At Tahdziib juz 3
Tahdziib At Tahdziib juz 3 hal 36
.

سليمان بن صرد بن الجون بن أبي الجون بن منقذ بن ربيعة بن أصرم بن حرام الخزاعي أبو مطرف الكوفي له صحبة روى عن النبي صلى الله عليه وسلم وعن أبي بن كعب وعلي بن أبي طالب والحسن بن علي وجبير بن مطعم وعنه أبو إسحاق السبيعي ويحيى بن معمر وعدي بن ثابت وعبد الله بن يسار الجهني وأبو الضحى وغيرهم قال بن عبد البركان خيرا فاضلا وكان اسمه في الجاهلية يسارً افسماه النبي صلى الله عليه وسلم سليمان سكن الكوفة وكان له سن عالية وشرف في قومه وشهد مع علي صفين وكان فيمن كتب إلى الحسين يسأله القدوم إلى الكوفة فلما قدمها ترك القتال معه فلما قتل قدم سليمان هو والمسيب بن نجبة الفزاري وجميع من خذله وقالوا ما لنا توبة إلا أن نقتل أنفسنا في الطلب بدمه

Sulaiman bin Shurad bin Al Jawniy bin Abil Jawni bin Munqidz bin Rabii’ah bin Ashram bin Haraam Al Khuzaa’iy Abuu Muthrif Al Kuufiy seorang sahabat Nabi. Ia meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ubai bin Ka’ab, ‘Aliy bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Aliy dan Jubair bin Muth’im. Telah meriwayatkan darinya Abu Ishaaq As Sabii’iy, Yahya bin Ma’mar, ‘Adiy bin Tsaabit, ‘Abdullah bin Yasaar Al Juhaaniy, Abu Dhuha dan selain mereka. Ibnu ‘Abdill Barr berkata “ia seorang yang memiliki kebaikan dan keutamaan, namanya di masa jahiliah adalah Yasaar kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menamakannya Sulaiman, ia tinggal di Kuufah, dia memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia di tengah kaumnya, ia ikut bersama ‘Aliy dalam perang Shiffiin dan ia termasuk diantara yang menulis surat kepada Husain memintanya datang ke kuufah kemudian ketika [Husain] datang maka ia meninggalkan berperang bersamanya. Ketika [Husain] terbunuh, datanglah Sulaiman, Musayyab bin Najabah Al Fazaariy dan sekumpulan orang-orang yang menelantarkannya [Husain] dan mereka berkata “tidak ada bagi kita taubat kecuali bahwa kita terbunuh dalam menuntut balas atas darahnya [Husain]” …[Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 3/36-37 no 3013]
.
.
.
Siapakah Musayyab bin Najabah Al Fazaariy yang disebutkan Ibnu ‘Abdil Barr [sebagaimana dinukil Ibnu Hajar]?. Dia adalah salah satu perawi hadis kitab Sunan Tirmidzi sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib
.
Tahdziib At Tahdziib juz 6
Tahdziin At Tahdziib juz 6 hal 280
.

المسيب بن نجبة كوفي روى عن حذيفة وعلي وعنه أبو إسحاق السبيعي وأبو إدريس المرهبي قال أبو حاتم عن أبيه يقال إنه خرج مع سليمان بن صرد في طلب دم الحسين بن علي فقتلا سنة خمس وستين

Al Musayyab bin Najabah Al Kuufiy meriwayatkan dari Hudzaifah dan ‘Aliy, telah meriwayatkan darinya Abuu Ishaaq As Sabii’iy, Abuu Idriis Al Murhibiy. Abu Hatim berkata dari ayahnya dikatakan bahwa ia keluar bersama Sulaiman bin Shurad untuk menuntut darah Husain bin ‘Aliy maka keduanya terbunuh tahun 65 H [Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 6/280 no 7889]
Ibnu Hibban memasukkan Musayyab bin Najabah Al Fazaariy dalam kitabnya Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibbaan 5/437] dan Ibnu Hibban dalam kitab Masyaahiir ‘Ulamaa’ Al Amshaar berkata
.
Masyaahiir Ulamaa' Al Amshaar
Masyaahiir Ulamaa' Al Amshaar no 819
.

المسيب بن نجبة الفزاري من جلة الكوفيين قتله عبيد الله بن زياد يوم الخازر سنة سبع وستين

Al Musayyab bin Najabah Al Fazaariy termasuk diantara orang-orang Kufah yang mulia, Ubaidillah bin Ziyaad membunuhnya di hari Khaazar tahun 67 H [Masyaahiir ‘Ulamaa’ Al Amshaar hal 134 no 819]
Sulaiman bin Shurad Al Khuzaa’iy dan Al Musayyab bin Najabah Al Kuufiy dikenal sebagai Syi’ah ‘Aliy. Adz Dzahabiy menyebutkan hal ini dalam kitabny Tarikh Al Islaam
.
Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy
Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy juz 2 hal 602
.

وقد كان سليمان بن صرد الخزاعي، والمسيب بن نجبة الفزاري وهما من شيعة علي ومن كبار أصحابه خرجا في ربيع الآخر يطلبون بدم الحسين

Dan sungguh Sulaiman bin Shurad Al Khuzaa’iy dan Musayyab bin Najabah Al Fazaariy keduanya termasuk Syi’ah ‘Aliy dan termasuk sahabat utamanya, keduanya keluar pada bulan Rabii’ul Akhir untuk menuntut darah Husain…[Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 2/602]
Perhatikanlah sekali lagi, Syi’ah kufah yang dimaksud menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] ternyata termasuk di dalamnya sahabat Nabi dan tabiin yang mulia di sisi ahlus sunnah bahkan hadis-hadisnya ada diambil dalam kitab hadis ahlus sunnah. Hal ini menguatkan bahwa makna Syi’ah yang dimaksud pada masa itu juga mencakup ahlus sunnah yang mencintai dan berpihak kepada ‘Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam].

.
Selanjutnya mari kita lihat kutipan Al Amiry dari kitab Al Irsyad dimana ia menyebutkan bahwa Syabats bin Rib’iy termasuk orang Syi’ah yang mengundang Imam Husain tetapi setelah itu malah ingin membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Al Amiry menukil
.
Al Amiry
.
Siapakah Syabats bin Rib’iy di sisi kitab ahlus sunnah?. Al Ijliy memasukkannya dalam kitab Ma’rifat Ats Tsiqat dan mengatakan
.
Ma'rifat Ats Tsiqat juz 1
Ma'rifat Ats Tsiqat juz 1 no 448
.

شبث بن ربعي من تميم هو كان أول من أعان على قتل عثمان رضي الله عن عثمان وهو أول من حرر الحرورية واعان على قتل الحسين بن علي

Syabats bin Rib’iy dari Tamiim, ia adalah orang pertama yang membantu dalam pembunuhan Utsman [radiallahu ‘anhu], dan orang pertama yang melepaskan [dari] Al Haruuriyah dan membantu dalam pembunuhan Husain bin ‘Aliy [Ma’rifat Ats Tsiqat Al Ijliy 1/448 no 714]
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia termasuk salah satu perawi hadis dalam kitab Sunan Abu Dawud [Tahdziib At Tahdziib 3/131 no 3203]. Diantara ulama yang memujinya adalah Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat seraya berkata “yukhti’u” [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/371]. Kemudian Ibnu Abi Hatim berkata
.
Al Jarh Wat Ta'dil juz 4 hal 388
.

شبث بن ربعى روى عن على وحذيفة روى عنه محمد بن كعب وسليمان التيمى سمعت ابى يقول ذلك وسألته عنه فقال: حديثه مستقيم لا اعلم به بأسا، والذى روى انس عنه يقال ليس هو هذا

Syabats bin Rib’iy meriwayatkan dari ‘Aliy dan Hudzaifah, telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Ka’ab dan Sulaiman At Taimiy. Aku mendengar ayahku mengatakan hal itu. Dan aku bertanya kepadanya tentangnya maka ia berkata “hadisnya lurus tidak ada masalah padanya, ia adalah orang yang Anas telah meriwayatkan darinya, dan dikatakan bukan orang ini. [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 4/388 no 1695]
.
Agak aneh memang kalau kita melihat orang yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] masih dinyatakan oleh ulama tertentu dengan ta’dil atau bahkan tsiqat. Umar bin S’ad yang sudah dikenal sebagai pemimpin pasukan yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] tetap dinyatakan tsiqat oleh Al Ijliy. Al Ijliy berkata
.
Ma'rifat Ats Tsiqat juz 2
.Ma'rifat Ats Tsiqat juz 2 hal 166

عمر بن سعد بن أبي وقاص مدني ثقة كان يروي عن أبيه أحاديث وروى الناس عنه وهو الذي قتل الحسين قلت كان أمير الجيش ولم يباشر قتله

‘Umar bin Sa’d bin Abi Waqaash orang madinah yang tsiqat, ia meriwayatkan dari ayahnya hadis-hadis dan orang-orang telah meriwayatkan darinya, ia adalah orang yang membunuh Husain. [Al Haitsamiy] aku berkata “ia pemimpin pasukan dan tidak secara langsung membunuhnya” [Ma’rifat Ats Tsiqat 2/166-167 no 1343].
Lafaz “aku berkata” di atas berasal dari perkataan Al Haitsamiy [salah seorang penyusun kitab Ma’rifat Ats Tsiqat Al Ijliy]. Hal ini ditegaskan dalam catatan kaki kitab Ma’rifat Ats Tsiqat tahqiq Abdul Aliim Al Bastawiy.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ‘Umar bin Sa’d termasuk perawi hadis kitab Sunan Nasa’iy dan menyatakan tentangnya bahwa ia seorang yang shaduq. [Taqriib At Tahdziib Ibnu Hajar no 4937].
.
Taqrib At Tahdziib
.
Taqrib At Tahdziib no 4937
.
Sejauh ini terlihat jelas bahwa orang-orang yang dikatakan Al Amiriy sebagai Syi’ah Kufah yang menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] dan orang yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] ternyata adalah orang-orang yang hadisnya ternukil dalam kitab hadis ahlus sunnah bahkan ternukil sebagian ulama ahlus sunnah yang memujinya. Seharusnya sebelum Al Amiry membuat tuduhan dusta atas orang-orang Syi’ah [yang menangisi apa yang terjadi pada Imam Husain] hendaknya ia meneliti kitab-kitab ahlus sunnah. Jangan seperti orang yang mencela baju saudaranya lusuh padahal bajunya sendiri compang camping robek sana robek sini.
.
.
.
Tidak ada sedikitpun niat kami untuk menyudutkan mazhab Ahlus Sunnah apalagi menuduh mazhab Ahlus Sunnah sebagai pembunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Maaf kami tidak akan merendahkan akal kami seperti Al Amiry [dan orang-orang sejenisnya].
Dalam pandangan kami, Orang-orang yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] dan terlibat di dalamnya adalah orang-orang tercela yang akan dihukum oleh Allah SWT tidak peduli apapun pengakuan mazhab mereka. Adapun mereka yang menelantarkan Imam Husain [‘alaihis salaam] dan tidak menolongnya pada saat itu maka perhitungannya kembali kepada Allah SWT [walaupun begitu kami tetap menyalahkan sikap mereka]. Tidak ada gunanya menisbatkan orang-orang tersebut dengan mazhab Syi’ah ataupun Ahlus Sunnah. Bagaimana mungkin suatu mazhab bisa disalahkan dengan perilaku segelintir pengikut mazhab tersebut yang menyimpang.
Kami yakin apapun mazhabnya baik Syi’ah maupun Ahlus Sunnah pasti akan bersedih dan menangisi apa yang menimpa Imam Husain [‘alaihis salaam]. Dan hanya orang-orang rendah yang menuduh mereka yang menangisi Imam Husain [‘alaihis salaam] tersebut dengan tuduhan bersandiwara.
Ketika orang-orang Syi’ah mengenang Imam Husain [‘alaihis salaam] dan mengambil hikmah dari perjuangan Imam Husain [‘alaihis salaam] maka muncul orang-orang [seperti Al Amiry] yang memanfaatkan momen tersebut untuk mencela orang-orang Syi’ah. Alangkah memalukannya mereka ini, mereka yang hatinya dipenuhi penyakit tetapi merasa dirinya telah berjihad untuk agama Allah SWT. Cukuplah kami katakan bahwa kami berlepas diri dari orang-orang seperti mereka dan kami berlindung kepada Allah SWT dari keburukan yang ditimbulkan orang-orang seperti mereka.

.
Sedikit Catatan
Kisah dan perjuangan Imam Husain [‘alaihis salaam] mengandung hikmah yang sangat bermanfaat bagi umat islam sepanjang masa. Berikut sedikit nilai-nilai luhur yang kami dapatkan ketika merenungkan perjuangan Imam Husain [‘alaihis salaam].
  1. Kezaliman itu bisa dilakukan oleh orang mazhab manapun dan persatuan itu bisa terjadi antar orang-orang mazhab manapun. Modal awal persatuan itu cuma satu yaitu kemanusiaan dan ketika orang-orang mulai mengikis kemanusiaannya maka kezaliman akan muncul sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi kezaliman terbesar ketika kemanusiaan itu benar-benar hilang.
  2. Cinta kepada Ahlul Bait itu bukan sekedar pengakuan di mulut, tidak penting pengakuan bermazhab ini atau sebutan bermazhab itu. Cinta itu dari hati yang merasuk ke seluruh tubuh sehingga terpancar dalam perkataan dan perbuatan.
  3. Celakalah orang-orang yang berjuang mengatasnamakan agama tetapi hati mereka kosong dari cinta kepada sesama. Agama itu menyempurnakan kemanusiaan manusia bukan menghancurkannya.
  4. Kekuatan suatu perjuangan tidak dilihat dari keunggulan fisik tetapi terlihat dari “atas apa perjuangan itu berdiri” dan bagaimana perjuangan itu melahirkan kekuatan bagi siapapun yang berada di sisinya menembus batas ruang dan waktu.
  5. Orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan serta mereka yang terbuai di dalamnya tidak lebih dari orang lemah yang mudah terjatuh dalam kezaliman ketika mereka mulai menganggap rendah kemanusiaan dengan alasan apapun [bahkan mengatasnamakan agama].
  6. Manusia adalah manusia sebelum mereka beragama. Maka perlakukan manusia sebagai manusia sebelum memperlakukannya sebagai orang yang beragama. Bayi dan anak kecil adalah manusia sebelum mereka sadar akan agama mereka. Orang beragama yang tidak memperlakukan manusia sebagai manusia sungguh telah kehilangan kemanusiaannya. Maka jangan heran dalam kisah perjuangan sang Imam, bayi dan anak kecil menjadi korban kezaliman. Hal itu menunjukkan bahwa kezaliman bisa muncul dari orang yang mengaku beragama ketika mereka kehilangan kemanusiaan.
  7. Perhatikanlah dimana berdiri dan perhatikanlah berada di tengah-tengah orang yang zalim atau tidak kemudian ketika berada di ujung jalan ingatlah baik-baik akan kemanusiaan karena kisah perjuangan sang imam mengajarkan bahkan orang yang awalnya berada di sisi kelompok yang zalim bisa berubah haluan ketika ia kembali pada kemanusiannya.
Kami yang lemah ini rasanya tidak sanggup melihat betapa luasnya arti perjuangan sang Imam dan sangat tidak sanggup untuk membayangkan penderitaan ketika kezaliman itu terjadi. Ketika orang-orang yang mengaku beragama sudah kehilangan kemanusiaan maka umat islam akan menderita disana-sini, berpecah belah dan saling berperang.
Jangan anggap remeh kemanusiaan bahkan cahaya Ahlul Bait tidak bisa diterima oleh orang yang kehilangan kemanusiaannya tetapi ketika sedikit kemanusiaan itu muncul kembali pada seseorang dan berpadu dengan cinta kepada Ahlul Bait maka cahaya Ahlul Bait akan menyempurnakannya bagaikan “terlahir kembali”. Mari bersama-sama berpegang teguh pada apa yang diajarkan dari perjuangan sang Imam. Mari senantiasa kita jadikan agama untuk menyempurnakan kemanusiaan.

16 Tanggapan

  1. Tapi kenapa kitab2 syiah memberitakan kalo syiah pembunuhnya?
    Berikut copas dari tulisan Amin Muchtar :
    Syi’ah Harus Bertanggung Jawab atas Pembunuhan Husen Ra.
    Seorang penyair tersohor, Farazdaq berpantun berkaitan dengan Husen Ra., tatkala ia ditanya tentang Syi’ah beliau yang hendak dijumpai oleh beliau. Ia menjelaskan: “Hati mereka bersama Anda, sedang pedang beliau melawan An-da. Ketetapan turun dari langit, dan Allah kuasa berbuat se-kehendak-Nya.” Al-Husein menjawab: “Anda benar, Allahlah yang kuasa menetapkan persoalan. Dan setiap hari ia berada di dalam urusan. Sekiranya datang ketentuan sebagaimana kesukaan dan kerelaan kami, kami pun memuji Allah atas karu-nia-karunia nikmatnya, bahkan Dialah tempat tujuan selayak-nya untuk mengungkapkan syukur. Tetapi apabila terjadi si-tuasi yang di luar harapan, niscaya Dia tidak akan jauh dari orang-orang yang berniat baik dan berbatin takwa.” (Lihat, al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 79; ‘Alaa Khathi al-Husen, hal 100; Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 60; Ma’aalim al-Madrasatain, III:62)
    Husen Ra. tatkala beliau berpidato kepada mereka, beliau telah menyinggung sikap pendahulu mereka dan juga sikap mereka terhadap bapak dan saudara beliau. Di dalam pidato beliau itu, beliau menyatakan: “ . . ., sekiranya kalian tidak bersedia melaksanakannya dan kalian hendak membatalkan janji kalian, kalian hendak menanggalkan baiat terhadapku dari pundak kalian, maka memang kalian sudah dikenal dengan sikap demikian, karena kalian pun telah bersikap serupa itu terhadap bapakku, saudaraku, dan juga putra pamanku Muslim. Akan tertipulah orang-orang yang cenderung kepada kalian, . . . “(Lihat, Ma’aalim al-Madrasatain, II:71-72; Ma’aali as-Sibthain, I:275; Bahr al-‘Uluum, hal. 194; Nafs al-Mahmuum, hal. 172; Khoir al-Ashhaab, hal. 39; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 170.)
    Dan pernyataan-pernyataan Husen Ra. sebelumnya yang meragukan surat-surat mereka. Kata beliau: “Sesungguhnya mereka itu telah membuat diriku cemas, dan inilah surat-surat penduduk Kufah, sedang mereka memerangiku.” (Lihat, Maqtal al-Husain, hal. 175)
    Pada kesempatan lainnya, beliau mengatakan: “Wahai Allah, turunkanlah ketetapan antara kami dengan kaum yang telah mengundang diri kami yang hendak membela, tetapi justru memerangi kami!”(Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:535).
    Dari pernyataan-pernyataan Husen Ra. di atas tampak jelas bahwa Syi’ah (pengikut) Husein ra. telah mengundang beliau dengan dalih hendak membelanya, namun faktanya mereka justru memerangi beliau.
    Salah seorang Syi’i bernama Husein Kurani mengatakan: “Penduduk Kufah tidak puas sekedar berpisah meninggalkan Imam Husen, bahkan mereka berubah sikap, mengubah pendirian mereka ke pendirian ketiga, yaitu kini mereka bergegas berangkat menuju Karbala dan memerangi Imam Husen Ra. di Karbala’. Mereka saling berlomba menyatakan pendirian mereka sesuai dengan kepuasan setan dan mendatangkan murka Sang Mahapemurah. Contohnya, kita lihat, bahwa Amru bin al-Hajjaj, lelaki yang baru kemarin bersiap siaga di Kufah laksana seorang penggembala gembalaan Ahlul Bayt, berjuang membela mereka, juga merupakan orang yang telah mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan orang besar Hani bin Urwah, secara nyata-nyata telah berbalik pendirian, yaitu menganggap bahwa Imam Husen telah keluar dari agama (Islam). Marilah kita renungkan pernyataan berikut:
    “Ketika itu Amru bin al-Hajjaj berkata kepada rekan-rekannya: “Perangilah orang-orang yang telah keluar dari agama dan meninggalkan jamaah …” (Lihat, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 60-61)
    Husein Kurani juga menjelaskan: “Kita lihat pendirian lain yang membuktikan sikap munafik penduduk Kufah. Abdullah bin Hauzah at-Taimi datang berdiri di hadapan Imam Husen Ra. seraya berteriak, ‘Adakah di antara kalian yang bernama Husein?’
    Orang ini termasuk penduduk Kufah sedang kemarin ia tergolong Syi’ah Ali As. dan boleh jadi ia termasuk orang yang turut menulis surat kepada Imam, atau termasuk jamaah yang terlibat dan mereka yang lain yang juga menulis surat . . . , “ Lebih lanjut ia berkata, “Hai Husen, berbahagialah dengan masuk neraka !”(Lihat, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 61).
    Murtadha Muthahari mempertanyakan: “Bagaimana penduduk Kufah sampai berangkat untuk memerangi Husen Ra. pada saat menganggap cinta kepada mereka dan memiliki jalinan kasih sayang?”
    Kemudian ia pun menjawabnya sendiri: “Jawabannya, ialah karena rasa gentar dan takut yang telah menjangkiti penduduk Kufah. Secara umum sejak masa pemerintahan Ziyad dan Mu’awiyah, dan yang kemudian kian meningkat dan bertambah-tambah dengan kehadiran Ubaidillah, lelaki yang dengan serta merta telah membunuh Maitsam at-Tamar, Rasyid, Muslim, dan Hani, . . , dan ini berkaitan dengan perubahan sikap mereka yang terlibat lantaran berambisi dan berhasrat kepada penghasilan, harta, dan kehormatan duniawi. Sebagaimana hal itu terjadi pada diri Umar bin Sa’ad . . .,”
    “Adapun sikap orang-orang terpandang dan para tokoh, mereka ini telah dilanda takut terhadap Ibnu Ziyad, terpikat oleh harta sejak hari pertama ia memasuki Kufah. Pada saat ia berseru kepada mereka semua seraya berkata, ‘Barangsiapa di antara kalian berada di barisan yang menentang, maka saya akan menghapuskan soal hadiah kepadanya.’
    Demikianlah, contohnya Amir bin Majma’ atau bernama Majma’ bin Amir, ia berkata: “Adapun para tokoh mereka, maka mereka telah menjadi besarlah korupsi mereka, dan telah memenuhi tabiat mereka.” (Lihat, al-Malhamah al-Huseniyyah, III:47-48).
    Ulama Syi’i Kazhim al-Ihsa’i an-Najafi menjelaskan: “Pasukan yang berangkat hendak memerangi Imam Husen a.s. sebanyak 300.000. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada di antara mereka yang berasal dari Syam, Hejaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, maupun Afrika, bahkan seluruhnya adalah penduduk Kufah yang terhimpun dari beraneka ragam kabilah.” (Lihat, Asyuura’, hal. 89).
    Seorang sejarawan Syi’i Husein bin Ahmad al-Buraqi an-Najafi menerangkan: “Al-Qazwaini mengatakan: “Balasan yang perlu dilakukan terhadap penduduk Kufah, adalah lantaran mereka telah menikam Hasan bin Ali As., dan mereka membunuh Husen Ra. setelah mereka mengundang beliau.” (Lihat, Taariikh Kuufah, hal. 113).
    Seorang sejarawan Syi’i ternama Ayatullah al-‘Uzhma Muhsin Amin mengatakan: “Lalu berbaiatlah dari penduduk Kufah sebanyak 20.000 orang, di mana mereka mengkhianatinya. Kemudian mereka pun berangkat memerangi beliau pada saat baiat (janji setia) masih berada di pundak mereka. Kemudian mereka pun membunuh beliau.” (Lihat, A’yaan asy-Syii’ah, I:26).
    Jawad Muhaditsi mengatakan: “Segala penyebab seperti ini berdampak menyusahkan Imam Ali As. dalam dua kasus, dan Imam al-Hasan menghadapi pengkhianatan mereka. Di antara mereka Muslim bin ‘Aqil terbunuh dalam kondisi teraniaya. Husein mati dalam keadaan kehausan di Karbala dekat Kufah dan di tangan tentara Kufah.”(Lihat, Mawsuu’ah Asyuura’, hal. 59).
    Seorang tokoh Syi’i Abu Manshur ath-Thabrisi, Ibnu Thawus, al-Amin, dan para tokoh lainnya mengutip informasi dari Ali bin Hasan (menurut kami: Husein –pent) bin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Zainal Abidin Ra., dari bapak-bapaknya, seraya mencela Syi’ahnya yang telah menghinakan bapaknya dan membunuhnya pula, ia berkata: “Wahai manusia, kuperingatkan kalian terhadap Allah, tidak sadarkah kalian, bahwa kalian telah menulis surat kepada bapakku, lalu kalian khianati? Kalian memberikan janji, ikrar, dan baiat, lalu kalian membunuhnya dan menghinakannya. Celakalah hasil dari perbuatan yang telah kalian lakukan bagi diri kalian, buruknya nalar kalian. Dengan pandangan bagaimanakah kalian akan memandang kepada Rasulullah saw. manakala beliau bertanya kepada kalian, ‘Kalian telah membunuh keturunanku, dan kalian telah mencemarkan kehormatanku. Jadi, kalian bukanlah umatku!’.”
    Para wanita saling menjerit seraya menangis dari berbagai penjuru. Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Binasalah kalian lantaran perbuatan kalian.” Lalu beliau As. berkata lagi: “Semoga Allah merahmati orang yang suka menerima nasehatku, menjaga wasiatku berkaitan (hak-hak) Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul Baytnya. Sebab, kami telah memperoleh teladan baik dari Rasulullah.”
    Secara serentak para hadirin berseru: “Kami semua bersedia mendengar, patuh, siap membantu beban tuan, tidak akan mengabaikan tuan dan tidak pula melalaikan tuan. Oleh karena itu, perintahkanlah kami dengan suatu perintah, semoga tuan dirahmati Allah. Sebab, kami siap berperang kepada orang yang memerangi tuan, berdamai dengan orang yang berdamai dengan tuan. Benar-benar kami akan menuntut bela terhadap Yazid, dan kami pun memutuskan hubungan dari mereka yang menzalimi tuan dan menzalimi kami.”
    Beliau As. menjawab: “Aduhai, aduhai, wahai para pengkhianat penipu. Ambisi kalian telah dihalangi oleh hawa nafsu kalian. Adakah kalian akan bersikap terhadapku sebagaimana sikap kalian terhadap bapak-bapakku sebelumnya? Tidak lagi, betapa banyak orang-orang yang suka menari-nari. Sungguh luka ini belum lagi kering. Baru kemarin bapakku terbunuh dan Ahlul Baytku pun terbunuh bersamanya. Saya belum dapat melupakan derita Rasulullah saw. beserta keluarganya, derita bapakku beserta putra-putra bapakku. Dan itu bisa didapati di antara duka dan kepahitanku, di antara kerongkongan dan tenggorokanku, sedang cabang-cabangnya mengalir di hamparan dadaku…”(Pidato ini diterangkan oleh ath-Thabari, al-Ihtijaaj, II:32; Ibnu Thawus, al-Malhuuf, hal 92; Al-Amin, Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 158; Abbas al-Qumi, Muntahaa al-Aamaal, I:572; Husein al-Kurani, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 183; Abdur Razaq al-Muqarram, Maqtal al-Husen, hal. 317; Murtadha ‘Iyad, Maqtal al-Husen, hal. 87; Diulang pula oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum, hal. 360. Juga dikemukakan oleh Ridha al-Qazwaini di dalam Tadhlim az-Zahraa’, hal. 262)
    Tatkala Imam Zain al-Abidin rahimahullahu Ta’ala lewat dan melihat penduduk Kufah sedang meratap dan menangis, lalu beliau menegurnya seraya berkata: “Kalian meratapi dan menangisi kami, lalu siapa yang telah memerangi kami?” (Lihat, al-Malhuuf, hal. 86; Nafsu al-Mahmuum, hal. 257; Maqtal al-Husen, karya Murtadha ‘Iyad, hal. 83; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 257).
    Di dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala beliau melewati Kufah di mana penduduknya meratap. Ketika itu beliau tinggal sebagai tamu karena terhalang oleh sakit. Dengan suara pelahan beliau berkata: “Kalian meratapi dan menangis kami? Lalu siapa yang telah memerangi kami?” (Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:570).
    Pada riwayat lain tentang diri beliau, dinyatakan bahwa beliau berkata dengan suara lemah karena beliau sedang dirundung sakit: “Sekiranya mereka itu menangisi kami, lalu siapakah yang telah memerangi kami selain mereka?” (Lihat, al-Ihtijaaj, II:29).
    Ummu Kultsum binti Ali berkata: “Wahai penduduk Kufah, celakalah kalian, mengapa kalian menghinakan Husen dan membunuhnya, kalian rampok harta bendanya dan kalian warisi, kalian caci maki istri-istrinya dan kalian buat menderita. Celakalah kalian, terazablah kalian.”
    Tragedi apakah yang menimpa kalian, beban apakah yang terpikulkan di punggung kalian, darah-darah manakah yang telah kalian tumpahkan, kehormatan-kehormatan mana pulakah yang telah kalian cemarkan, anak-anak manakah yang telah kalian bajak, harta-harta mana yang telah kalian rampok. Kalian telah membunuh orang-orang baik sesudah Nabi saw. dan keluarganya, dan kasih sayang sudah tercabut dari hati kalian!”(Lihat, al-Luhuuf, hal. 91; Nafsu al-Mahmuum, 363; Maqtal al-Husen, karya al-Muqarram, hal. 316; Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 157; Maqtal al-Husen, karya Murtadha ‘Iyad, hal.86; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 261).
    Tentang riwayat Ummu Kultsum ini juga diterangkan pula oleh ath-Thabrisi dan al-Qumi, al-Muqarram, al-Kurani, Ahmad Rasim, dan juga menjelaskan tentang penyelewengan para pengkhianat yang hina dina. Kata beliau: “Kemudian dari itu, wahai penduduk Kufah, hai para pengkhianat, para penipu, dan tukang makar. Inga-lah, sejarah tiada akan terlupakan dan tragedi pun tiada akan tertenteramkan. Orang-orang seperti kalian adalah laksana orang yang merusak jalinan tenunannya sendiri setelah kokoh hingga tercerai berai.”
    Kalian jadikan iman kalian selaku barang dagangan di antara kalian. Adakah pada pribadi kalian selain hasrat hati dan bangga, lirikan dan dusta, merayu budak-budak wanita, bergelimang permusuhan. Seperti seorang penggembala pada tempat sampah, atau perak di dasar tanah. Betapa buruk bidang-bidang yang kalian upayakan bagi diri kalian, karena kemurkaan Allah akan menimpa kalian, dan kalian pun akan kekal di dalam azab. Adakah kalian menangisi saudaraku? Memang, sungguh! Banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit, karena kalian mendapat tragedi kehinaan dan terkenang aib karenanya, dan tak akan pernah terlupakan selamanya.
    Bagaimana kalian dapat melupakan pembunuhan terhadap keturunan Sang Penutup para nabi? sumber risalah? pemimpin pemuda penghuni surga? tempat berlindung perang kalian dan pembela kelompok kalian? pusat kesejahteraan kalian, wilayah pangkalan kalian, tempat rujukan untuk kalian mengadu, dan menara hujah kalian sendiri? Betapa buruk apa-apa yang telah kalian upayakan bagi diri kalian sendiri, betapa buruk beban yang akan kalian pikul pada hari kebangkitan kalian. Binasa, binasa, celaka, celaka, sebab upaya telah sia-sia, dan celakalah tangan-tangan manusia, tepukan-tepukan pun merugi. Dan kalian akan kembali dengan menghadap kemurkaan Allah. Kalian akan ditimpa kehinaan dan kenistaan. Celakalah kalian, tidakkah kalian mengerti betapa susah payah Muhammad telah kalian sia-siakan? Betapa janji telah kalian pungkiri? Betapa kehormatan beliau telah kalian cemarkan? Betapa darah beliau telah kalian tumpahkan? Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karenanya, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung pun runtuh. Sesungguhnya kalian telah mendatangkan kelusuhan dan ketercabik-cabikan sepenuh bumi dan langit.” (Lihat, al-Ihtijjaaj, II29; Muntahaa al-Aamaal, I:570; Maqtal al-Husen, karya al-Muqarram, hal. 311, dan berikutnya; Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 146, dan seterusnya; ‘Alaa Khathi al-Husen hal. 138; Tadhlim az-Zahraa’, 258).
    Seorang pemuka Syi’i Asad Haidar berkenaan Zainab binti Ali, di mana Zainab berpidato kepada segenap orang yang menyambutnya dengan tangisan seraya meratap. Kata beliau seraya mencemooh mereka: “Adakah kalian menangis dan berpura-pura sayang? Ya, benar, banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit. Sebab kalian akan menderita aib dan kenistaan karenanya, dan kalian tak akan dapat terbebas daripadanya melalui upaya pembersihan selama-lamanya. Bagaimana mungkin kalian akan terbebas dari pembunuhan terhadap cucu Sang Penutup para nabi? …” (Lihat, Ma’a al-Husen fii Nahdhatih, hal. 295, dan seterusnya).
    Pada riwayat lain dinyatakan, beliau mengeluarkan kepala dari tandu seraya berkata kepada penduduk Kufah: “Celakalah kalian hai penduduk Kufah! Para lelaki kalian membunuhi kami sementara para wanita kalian menangisi kami. Yang akan menjadi hakim bagi kami atas kalian adalah Allah pada hari ditetapkannya hukuman masing-masing.” (Dikutip oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum, hal. 365. Juga disebutkan oleh Syeikh Ridhla bin Nubi al-Qazwaini di dalam Tadhlimu az-Zahraa’, hal. 264)
    Berbagai penjelasan yang gamblang dari para saksi sejarah, baik dari Ahli Bait Nabi saw. Maupun lainnya, yang diakui kebenarannya oleh para sejarawan dan ulama Syi’ah di atas, telah membongkar kedustaan kelompok Syi’ah sendiri, di mana pada hakikatnya mereka tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa Husen As. telah dicela, dihinakan, dikhianati dan dibunuh oleh orang Syiah sendiri, karena mereka pengecut dan rakus akan kehidupan dunia.
  2. @boyanders
    Saya tidak membantah soal “syi’ah” yang ikut terlibat membunuh. Yang tidak mereka pahami termasuk Al Amiry dan Amin Muchtar itu adalah yang dimaksud “Syiah kufah” pada masa itu adalah Syi’ah yang bagaimana?. Syi’ah pada masa itu bisa merujuk pada orang yang memang mengakui Imamah Ahlul Bait dan menolak ketiga khalifah atau Syi’ah yang merujuk pada orang yang menerima ketiga khalifah hanya saja lebih mengutamakan Aliy dibanding Utsman. Atau mungkin bisa saja Syi’ah dalam makna “pengikut” Aliy bin Abi Thalib berpihak kepadanya dalam perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan
    Jadi sangat mungkin bahwa orang-orang Syi’ah Kufah tersebut hakikatnya ahlus sunnah hanya saja cenderung berpihak kepada ahlul bait. Buktinya pemimpin atau pemuka mereka yaitu Sulaiman bin Shurad adalah sahabat Nabi yang dijadikan pegangan hadis-hadisnya oleh Ahlus Sunnah. Coba lihat tulisan mereka ketika ditunjukkan ada perawi Syi’ah dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah, bisanya jawaban mereka adalah bersikeras kalau Syi’ah yang dimaksud bukan Rafidhah tetapi hanya mengutamakan Aliy di atas Utsman, yang jelas bukan mazhab Syi’ah Imamiyah yang ada sekarang. Lha kok ini seenaknya membawa makna Syi’ah Kufah dalam tragedi Imam Husain [‘alaihis salaam] ke makna Syiah Imamiyah sekarang. Tanaqudh itu namanya
    Coba tuh mereka berpikir sedikit, Yazid, Ibnu Ziyaad dan Umar bin Sa’d itu dari golongan mana?. Ya dari ahlus sunnah mereka kan pemimpin dan pejabat kekhalifahan pada saat itu. Lantas apa mau dikatakan kalau mazhab Ahlus Sunnah yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Saya heran para pembenci Syi’ah itu kalau sudah bicara Syi’ah kok akalnya jadi begitu rendah.
  3. pembela ahlussunnah itu sebenar adalah pemeluk agama wahabiyah,mereka ini pengikut ajaran sesat yg banyak mengkafirkan org dan sanggup mengebom org2 yg sedang sembahyang di dalam masjid2 konon2 di atas namanya jihad
  4. Mantab Pak dokter…,biarlah mereka para nasibi terus bernyanyi …,toh kebenaran tak bisa ditutup tutupi.
  5. kenapa agama wahabi kok selalu menyerang keyakinan orang lain?. kayak orang jual jamu, jamu orang lain jelek yg bagus jamunya sendiri.
    penganut agama wahabi itu ragu2x thd kebenaran agamanya, agamanya tdk akan laku kecuali dengan menjelek-jelekan mazhab yg lain. bahkan ini terjadi diantara mrk. kayaknya penganut wahabi kenak sindrom tertentu yg perlu diobati ke dokter jiwa.
  6. merek dagang wahabi sudah ngak laku terpaksa ganti merek jadi salafi, supaya ngak keliatan ngaku2 ahlulsunnah waljamaah….. hhehehehe… contohnya buku mui syiah sesat orang salafi yg bikin buku dan cetak ratusan ribu buku gratis lagiiiii

  7. Labbaik Ya Hussein.
  8. Kategori syiah:
    1. Ikut pasukan imam Ali as saat perang jamal
    2. Ikut pasukan imam Ali as saat perang siffin
    3. Ikut wilayah imam hasan as saat berdamai dngn muawiyah
    4. Ikut ke Karbala bersama rombongan imam husen as,
    5. orang kuffah yg mau bergabung dengan imam husen as namun diintimidasi pasukan yazid bin muawiyah LA
    #selain itu kaum KHAWARIJ Dan para pengikut yazid seperti sahabat Ibnu umar yg mengakui yazid
  9. apa kah krn kebencian kamu terhadap mazhab syiah maka membuatkan hati2 kamu tidak berasa sedih dan pilu diatas pembunuhan imam husin cucu kesayangan rasulullah saw,apa kah hati2 kamu sudah mati
  10. Ummu Kultsum binti Ali berkata: “Wahai penduduk Kufah, celakalah kalian, mengapa kalian menghinakan Husen dan membunuhnya, kalian rampok harta bendanya dan kalian warisi, kalian caci maki istri-istrinya dan kalian buat menderita. Celakalah kalian, terazablah kalian.” dari perkataan Ummu Kultsum tersebut beliau mengatakan “wahai penduduk kuffah, bukan wahai orang syiah kuffah.. ini menunjukkan ditujukan ke semua penduduk dari gubernur sampai rakyat apapun mazhabnya, apakah penduduk kuffah 100% syiah, hmm katanya waktu itu sepeninggal Ali bin abi thalib warga syiah adalah warga teraniaya oleh rezim muawiyah mereka diusir dibunuh, dari kuffah jadi mungkin penduduk kuffah saat itu justru lebih banyak yg bukan syiah, apakah yg nulis surat orang syiah? bisa ya tapi karena penduduk kuffah yg kirim surat dan akan baiat hussain diancam akan dibunuh oleh gubernur ziyad maka satu per satu penduduk itu meninggalkan tempat pertemuan dan pulang ke rumah masing masing, tetapi menurut saya yg kutukan itu adalah bukan kepada syiah tapi kepada penduduk kuffah titik
  11. Al-Husain pergi dari Mina ke Kufah berserta 50 orang lelaki (terlepas dari wanita dan anak-anak) yang menjadi perhatian orang sekitar. Mereka ke Mina bukan untuk berhaji, tetapi justru meninggalkan Makkah ke Kufah. Di tengah perjalanannya itu, Al-Husain bertemu dengan Farazdaq, seorang penyair muda. Farazdaq meminta Al-Husain agar tidak berangkat ke Kufah. “Hati mereka (orang-orang Kufah) bersamamu, tapi pedang mereka bisa melawanmu,” kata Farazdaq. Namun Al-Husain tetap berangkat.
    Berikut copas dari tulisan Amin Muchtar :
    Syi’ah Harus Bertanggung Jawab atas Pembunuhan Husen Ra.
    Seorang penyair tersohor, Farazdaq berpantun berkaitan dengan Husen Ra., tatkala ia ditanya tentang Syi’ah beliau yang hendak dijumpai oleh beliau. Ia menjelaskan: “Hati mereka bersama Anda, sedang pedang beliau melawan An-da
    Di Al-Sifah, Imam Husain as bertemu dengan penyair Farazdaq yang berkata: “Hati penduduk Kufah bersamamu, tapi pedang mereka (diarahkan) untuk membunuhmu.” (Tarikh Thabari, 6:218)
    ini yg bener yg mana? dari kompasiana imam hussain bertanya tentang penduduk kuffah, copasan tulisan amin muchtar tentang orang syiah? dari tarikh thabari yg dibicarakan adalah penduduk kuffah bukan orang syiah. Imam hussain berangkat ke kuffah ingin ketemu penduduk kuffah yang telah mengirim surat akan membaiatnya, imam hussain ke kuffah bukan pengin ketemu syiah. farazdag juga ga nyebut2 syiah tapi yg disebut penduduk kuffah
  12. Kok kitab syiah nyebut nama Husein tanpa sebutan IMAM dan Alaihisalam. Bener nih dr kitab2 syiah 😃😃😃
  13. Moyaa ini nampaknya tdk cerdas, apa yg ia kemukakannya yg hanya copas2 bukunya Amin Muchtar sdh terjawab oleh pak SP diatas sebelum Moyaa rajin mencopas Amin Muchtar. jadi ngomong sama orang model Moyaa ini tak ubahnya ngomong sama tembok. kasihan.
  14. Amin Muchtar: “Syiah harus bertanggung jawab atas pembunuhan Husen ra”. Yg di maksud “Syiah” di sini, di antaranya, adalah Sulaiman b. Shurad al-Khuza’i dan Musayyab b. Najabah al-Fazari. Dan mereka termasuk generasi sahabat. Jadi, “Sahabat harus bertanggung jawab atas pembunuhan Husen ra”.
    Hati2 loh, ash-shohabatu kulluhum ‘udul!
  15. @tohaa, saya memang copas2 dari komentar diatas no.1 dan membandingkannya dengan kata2 copasan dari yg lain (kompasiana & tarikh tabari) kenapa tidak sama? itu copasan dari amin muchtar hanya menggiring kalo kematian husein adalah syiah yang salah, padahal farazdag itu ditanya sama hussein tentang orang kuffah bukan orang syiah, baca koment jgn hanya sepotong nanti salah pengertian,
  16. @tabah, saya memang copas2 dari komentar diatas no.1 dan membandingkannya dengan kata2 copasan dari yg lain (kompasiana & tarikh tabari) kenapa tidak sama? itu copasan dari amin muchtar hanya menggiring kalo kematian husein adalah syiah yang salah, padahal farazdag itu ditanya sama hussein tentang orang kuffah bukan orang syiah, baca koment jgn hanya sepotong nanti salah pengertian,



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar