Barack Obama Terpilih Lagi Menjadi Presiden AS
Washington (voa-islam), http://www.voa-islam.com/news/world-world/2012/11/07/21569/barack-obama-terpilih-lagi-menjadi-presiden-as/
Pertarungan yang sangat
melelahkan itu, dan berlangsung sangat dahsyat antara Presiden Barack
Obama dan Mitt Romney berakhir dengan kemenangan Barack Obama, di mana
Obama mendapatkan angka 275 electoral vote, sedangkan Mitt Romneya hanya
mendapatkan 204 electoral vote.
Penghitungan suara telah usai, dan telah diumumkan oleh seluruh media
di Amerika Serikat, kemenangna Obama yang berhasil menggulung calon
dari Partai Republik Mitt Romney, yang pada awalnya diunggulkan. Mitt
Romney yang sangat konservatif, dan beragama Mormon itu, gagal
mengungguli Obama.
Mitt Romney dengan gigih mengecam kegagalan Obama kebijakan ekonomi.
Obama dinillai oleh Romney tidak mampu mengatasi masalah ekonomi Amerika
yang stagnan, dan berlanjutnya pengangguran. Tetapi, Presiden Barack
Obama, kembali menegaskan sesungguhnya, kelamnya ekonomi Amerika Serikat
itu, akibat petualangan militer yang dilakukan zamannya Presiden Bush.
Amerika Serikat tenggelam dalam utang yang jumlahnya lebih dari $ 16
triliun dollar Amerika, akibat perang, dan terus mengalami defisit
anggaran, lebih dari $ 2 triliun dollar setiap tahunnya. Di masa
pemerintah Obama itu, kebijakan perang ditinjau kembali. Obama seperti
janjinya dalam kampanye menarik pasukan Amerika Irak, yang sudah
terjebak dalam rawa-rawa perang di Irak, yang banyakmenimbulkan
kematian. Obama juga akan menarik pasukan dari Afghanistan, di tahun
2014.
Namun, seperti dikatakan oleh Muslim Amerika, sejatinya baik Obama
dan Mitt Romney, sama saja, tak yang beda, hanya "style", yang berbeda.
Kedua berada di bawah bayang rezim Iluminati dan Zionis. Ketua Tim
Pemenangan Kampanye Barack Obama, tokoh Yahudi, David Axelorld, yang
sekarang berhasil mengangkat kembali Obama ke Gedung Putih.
Barack Obama, saat pertama pemerintahannya, tahun 2008, mengangkat
orang yang paling penting di Gedung Putih, yang menjadi Kepala Staf
Gedung Putih, seorang tokoh Yahudi Ramm Emmanuel, dan sekarang menjadi
Walikota Chicago. Obama atau Mitt Romnye sama saja. Hanya gayanya saja
yang beda, substansinya sama. Sama-sama bagian dari rezim Iluminati dan
Zionsi. af
Obama Wins Election – Four More Years!
On Tuesday, November 6th, 2012 in
Elections b
y Brandon Jones.
http://obama.net/obama-wins-election-2012/
Consensus projections are that Barack Obama has won the 2012
presidential election! With the majority of states reported, Barack
Obama has locked in 275 electoral votes to Mitt Romney’s 203. As you
know it takes 271 electoral college votes to win.

Interestingly enough, Mitt Romney leads the popular vote as of this
moment, 45,899,639 to 45,709,932. If Romney’s general vote lead holds up
this will be the second time a president was elected by winning the
electoral college but losing the general populous vote.
Congratulations to President Obama. Let’s make positive changes over the next four years!
Perbedaan Suara Obama-Romney Setipis Silet
TEMPO.CO – 10 jam yang lalu
http://id.berita.yahoo.com/perbedaan-suara-obama-romney-setipis-silet-030327315.html
TEMPO.CO,
Washington - Barack Obama dan penantang dari Partai Republik, Mitt
Romney, bersaing ketat dalam memperebutkan suara menuju Gedung Putih.
Pemungutan suara telah resmi ditutup.
Romney, mantan
Gubernur Massachusetts, memenangkan pemilihan di beberapa negara bagian.
Kemenangannya tercatat di Kentucky, West Virginia, South Carolina,
Indiana, Oklahoma, dan Tennessee. Obama memenangkan pilihan di negara
bagian asal Romney di Massachusetts dan tujuh negara lainnya ditambah
District of Columbia. Dia juga menang di negara bagian asalnya,
Illinois, serta negara bagian asal Joe Biden, Delaware.
Banyak
media menyebut, perbedaan suara antara Obama dan Romney setipis silet.
Perolehan suara mereka susul-menyusul. Posisi terakhir, Obama 123 suara
dan Romney 153 suara. Dibutuhkan 270 suara untuk memenangkan pencalonan.
Jajak pendapat dari pemilih di negara-negara kunci
menunjukkan ekonomi adalah masalah utama di benak pemilih. Jelas bahwa
Obama tidak akan melakukan sebaik yang dia lakukan pada tahun 2008,
ketika ia menang dengan margin 7,3 persen dari suara rakyat.
Jajak
pendapat lain menunjukkan Romney yang menang antara laki-laki dengan
dua digit. Obama menang di kalangan perempuan, yang merupakan fokus dari
banyak kampanyenya, namun dengan margin yang lebih kecil dari empat
tahun yang lalu.
Obama menunggu hasil pemungutan suara
diumumkan di Chicago dan Romney berada di Massachusetts, setelah 17
bulan dan lebih dari US$ 2 miliar dihabiskan oleh masing-masing calon
presiden.
"Cara yang kasar. Semua orang ingin seseorang
untuk disalahkan," kata Frank Robles, 45 tahun, yang mempekerjakan 15
orang di rumahnya yang menjadi toko sepatu di Las Vegas Utara. Namun
Robles yang mendukung Obama, mengatakan dia tidak bukan penyebab krisis
ekonomi. "Orang perlu untuk memberinya kesempatan."
Di
Ohio, ajang pertempuran utama bagi kedua belah pihak, suasana di
beberapa tempat pemungutan suara sangat santai dan akrab, meskipun
kampanye intens dan rentetan iklan TV negatif.
"Terlalu banyak iklan, fitnah terlalu banyak," kata Nancy Manion.
BBC | TRIP B
Electoral College: Penentu Kemenangan Kandidat Presiden AS
Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience
http://id.berita.yahoo.com/electoral-college-penentu-kemenangan-kandidat-presiden-as.html
Selasa malam waktu
AS (atau Rabu siang di Indonesia), hasil penghitungan suara pemilihan
presiden akan diumumkan -- kecuali ada kekacauan penghitungan atau seri
dalam electoral college.
Seperti yang terjadi pada 2000, suara Electoral College akan berpengaruh pada pemilihan presiden. Bagaimana caranya?
Ternyata,
saat seorang pemilih di AS mencoblos kandidat Barack Obama atau Mitt
Romney, mereka tak langsung memilih kandidat presiden mereka itu. Mereka
memilih para elector, atau sekumpulan orang (yang biasanya ditunjuk
oleh partai politik) yang kemudian memilih kandidat mereka. Setiap
negara bagian mendapat satu 'elector' untuk setiap perwakilan mereka di
House of Representatives atau DPR AS, dan dua 'elector' untuk setiap
perwakilan senator.
Karena perwakilan di DPR berdasarkan
populasi, begitu juga dengan Electoral College. Dengan 55 suara
electoral, maka California yang populasinya besar memiliki suara
terbanyak. Sementara negara-negara bagian seperti Wyoming, Alaska dan
the Dakota, yang penduduknya sedikit, masing-masing hanya mendapat 3
suara electoral, begitu juga dengan Distric of Columbia.
Totalnya
ada 538 elector yang bisa diperebutkan dalam Electoral College. Setiap
kandidat setidaknya membutuhkan 270 suara electoral untuk bisa
memenangkan kursi kepresidenan.
Di kebanyakan negara bagian,
kandidat yang meraih suara terbanyak (popular vote) juga mendapat suara
Electoral College di negara bagian tersebut. Namun negara bagian seperti
Maine dan Nebraska membagi suara electoral mereka secara proporsional,
maka suara electoral tersebut bisa terbagi.
Sejarah Electoral College
Kandidat
yang memenangkan suara terbanyak dalam sistem electoral bisa tak
terpilih sebagai presiden. Seperti yang terjadi pada 2000, saat Al Gore
memenangkan suara terbanyak (popular vote) dengan 50,99 juta suara
dibanding George W. Bush pada 50,45 juta. Namun Bush mendapat suara
electoral yang lebih banyak dengan 271 (setelah penghitungan suara ketat
di Florida), sementara Gore hanya mendapat 266 suara electoral.
Pada
1876, Rutherford B. Hayes juga kalah suara dibanding Samuel J. Tilden,
namun Hayes bisa menjadi presiden karena unggul satu suara Electoral
College. Sementara Benjamin Harrison kalah 90 ribu suara pemilih
dibandingkan Grover Cleveland pada 1888, namun bisa unggul jauh di
Electoral College, mendapat 233 suara dibanding 168 yang diperoleh
Cleveland.
Meski begitu, John Quincy Adams kalah suara populer
dan suara electoral pada 1824, namun tetap bisa menjadi presiden.
Alasannya, saat itu Adams dan lawannya, Andrew Jackson, sama-sama
mendapat 131 suara electoral. Maka keputusannya jatuh pada DPR, yang
memenangkan Adams. Adams pun langsung menunjuk Ketua DPR Henry Clay
sebagai Menteri Luar Negeri. Jackson pun menuduh keduanya melakukan
'politik dagang sapi korup'.
Persaingan suara electoral tahun ini Sistem
elektoral yang sifatnya 'sapu habis' membuat para kandidat memfokuskan
energi pada negara-negara bagian yang bisa berubah-ubah atau 'swing
state'. Maka kampanye terakhir para kandidat tak berhenti di Texas yang
pasti mendukung Republik, tapi Colorado yang cenderung 'swing state'
penuh dengan para kandidat.
Menurut ABC News, Obama dan Wakil
Presiden Joe Biden berencana menghabiskan 96 jam terakhir sebelum
pemilihan dengan berpidato di Ohio, Wisconsin, Iowa, Virginia, New
Hampshire, Colorado, dan Florida. Sementara Romney dan calon wapresnya
Paul Ryan akan berkunjung ke New Hampshire, Iowa, Colorado, Ohio,
Pennsylvania, Florida, Virginia, Minnesota, Nevada, dan Wisconsin.
Kebanyakan
analis politik memperkirakan Colorado, Iowa, Wisconsin, Florida, Ohio,
Virginia, dan New Hampshire sebagai 'swing state'. Jika digabungkan,
negara-negara bagian tersebut memiliki 89 suara electoral yang bisa
diperebutkan.
Updated: Wed, 07 Nov 2012 05:54:01 GMT
Pilpres AS, Ketatnya Sejarah Persaingan Antarkandidat
http://berita.plasa.msn.com/internasional/republika/pilpres-as-ketatnya-sejarah-persaingan-antarkandidat
Pilpres AS, Ketatnya Sejarah Persaingan Antarkandidat
REPUBLIKA.CO.ID,Pertarungan
pemilihan presiden antara calon Partai Demokrat Presiden Barack Obama
dan penantangnya dari Partai Republik Mitt Romney memang berlangsung
sengit. Di AS, kemenangan satu calon tidak ditentukan dengan berdasarkan
suara terbanyak, tetapi melalui suara Electoral Collegeyang diperoleh
masing-masing kandidat.
Seorang kandidat membutuhkan 270 dari 538 Electoral Collegejika ingin memenangkan pemilihan.
Elektoral
terdiri atas keanggotaan DPR AS 435, keanggotaan senat 100, dan
tambahan tiga elektor dari distrik Kolombia. Jumlah elektoral per negara
bagian adalah jumlah penduduknya. Dengan demikian, mereka yang memiliki
suara terbanyak belum tentu memenangi pemilihan, seandainya raihan
elektoralnya kecil.
Seperti pada 2000 ketika George W Bush mengalahkan Al Gore yang mempunyai suara lebih besar.
Dalam
sejarah pemilihan presiden di AS, terdapat sejumlah pertarungan sengit
antara kandidat Partai Republik dan Partai Demokrat. BBC mengungkapkan
lima persaingan kandidat dengan perbedaan suara tipis.
Pertama,
yakni pada 1916 antara Woodrow Wilson (Demokrat) dan Charles Hughes
(Republik). Pemilihan terjadi di saat berkecamuknya Perang Dunia I di
Eropa. Janji Woodrow Wilson agar AS tetap netral sangat populer di
antara rakyat Amerika. Wilson akhirnya memenangkan pemilihan dan
mengamankan jabatan periode keduanya dengan raihan suara 9,12 juta dan
raihan suara elektoral 277 berbanding 254.
Pada 1960,
pertarungan sengit juga terjadi antara John F Kennedy (Demokrat ) dan
Richard Nixon (Republik). Persaingan keduanya merupakan salah satu yang
paling ketat sepanjang sejarah pemilihan AS.
Saat itu John Kennedy
mendapatkan suara 49,7 persen dibandingkan Nixon 49,6 persen. Sementara
itu, secara elektoral Kennedy unggul 303 berbanding 219. Keme- nangan
Kennedy tak terlepas dari kepercayaan diri dan kekharismatikannya saat
berdebat dan berpidato.
Pertarungan ketat juga terjadi pada 1976
antara Jimmy Carter dan Gerald Ford. Saat itu Carter yang berasal dari
Partai Demokrat berhasil unggul dengan 50,1 persen suara. Carter
mendapatkan 297 suara elektoral. Sementara Gerald Ford hanya mendapatkan
48 persen dengan raihan 240 suara elektoral.
Sementara itu,
pemilihan tahun 2000 juga tak bisa terlupakan. Saat itu kursi Gedung
Putih diperebutkan antara George W Bush (Republik) dan kandidat Partai
Demokrat Al Gore. Al Gore berhasil memperoleh suara terbanyak dengan
48,38 persen suara. Unggul dari Bush yang hanya meraih 47,87 persen.
Meski demikian, Bush yang merupakan mantan gubernur Texas berhasil
mendapatkan suara elektoral lebih besar, yakni 271 suara, dibandingkan
Al Gore 266 suara elektoral. Ke- menangan Bush tak terlepas dari
perintah Mahkamah Agung untuk menghitung ulang suara di Florida.
Bush
unggul tipis dengan 537 suara dari total 6 juta pemilih. Kemenangannya
membuat ia memperoleh tambahan 25 suara elektoral. Terakhir, yakni
persaingan antara George W Bush dan John Kerry pada 2004.
Bush
berhasil unggul dengan 50,7 persen berbanding 48,3 persen suara yang
diraih Kerry. Bush juga unggul mutlak dengan perolehan 286 suara
elektoral. Bush menang karena isu keamanan nasional.
Dubes Scot Marciel: Sistem Pemilihan di AS Memang Rumit
Oleh Widiyabuana Andarias | TRIBUNnews.com – 10 jam yang lalu
TRIBUNNEWS.COM -
http://id.berita.yahoo.com/dubes-scot-marciel-sistem-pemilihan-di-memang-rumit-025421838.html
Duta Besar (Dubes)
Amerika Serikat (AS), Scot Marciel, mengakui jika sistem pemilihan
presiden (pilpres) memang terbilang sulit. Karena itu, ia meminta kepada
undangan untuk mengunjungi stan-stan yang ada di Grand Ballroom Hotel
Indonesia Kempinski.
"Sistem pemilihan di Amerika Serikat memang
termasuk rumit karena ada yang disebut electoral college," katanya saat
membuka acara siaran langsung hasil pemungutan suara, Rabu (7/10/2012). Electoral College
adalah sistem pemilihan tidak langsung yang dirancang pada tahun 1787.
Hal ini dimaksudkan untuk mengalokasikan kepada pemerintahan nasional
dalam sistem federal yang mewakili tidak hanya rakyat namun juga negara
bagian.
Electoral College mensyaratkan kandidat presiden
mempunyai reputasi nasional dan juga daya tarik yang luas di berbagai
daerah. "Satu di antaranya konsekuensi dari Electoral College adalah
sistem yang menyulitkan partai ketiga, faksi-faksi regional, atau hanya
sedikit tokoh-tokoh yang bisa meraih kursi kepresidenan," demikian kata
John C Frontier, penulis dari After People Vote.
Para elector yang memberikan suara di
Electral College
pada bulan Desember hampir selalu memilih cara yang sama seperti yang
dilakukan pada pemilihan populer di bulan November. Kandidat yang menang
pada
Electoral College hampir selalu memenangkan pemilihan populer secara nasional.
Israel Ancam Serang Suriah
Kamis, 08 November 2012, 01:10 WIB
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/11/07/md4n6n-israel-ancam-serang-suriah
Asap pekat membubung di sejumlah apartemen yang terkena serangan bom di kawasan Distrik Saif Ad-Daulah di Aleppo, Suriah.
REPUBLIKA.CO.ID, Rezim Zionis mengancam akan melancarkan serangan
militer ke Suriah dan. Peringatan Israel tersebut disampaikan melalui
'UN Disengagement Observer Force' (UNDOF) di Dataran Tinggi Golan.
Demikian dilaporkan Debkafile, Selasa, (6/11), seperti dikutip
Islamtimes.
Ancaman rezim Zionis tersebut datang setelah negara-negara pendukung
kerusuhan di Suriah termasuk Turki, Arab Saudi, Qatar, dan AS gagal
melemahkan pemerintah Suriah.
Sebagaimana diberitakan, AS, melalui Menlu Hillary Clinton secara
tegas mengatakan teroris Tentara Oposisi Suriah gagal merebut kota
terbesar kedua Suriah, Aleppo.
Koran Word Tribune pada Ahad (4/11) juga menulis kekalahan Tentara
Oposisi Suriah, yang menurut koran tersebut pukulan dan bencana bagi
negara-negara pendukung Dewan Nasional Suriah (SNC).
Ahmadinejad Ditolak Meninjau Penjara
Senin, 22 Oktober 2012 | 15:33 WIB
AFP PHOTO / HO / PRESIDENT.IR
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyambut para pendukungnya di Pulau Abu Musa pada 11 April 2012.
http://internasional.kompas.com/read/2012/10/22/15332728/Ahmadinejad.Ditolak.Meninjau.Penjara
DUBAI, KOMPAS.com —
Kejaksaan Iran menolak permintaan Presiden Mahmoud Ahmadinejad untuk
mengunjungi penjara Evin di Teheran, tempat salah seorang penasihat
kepresidenan ditahan.
Ali Akbar Javanfekr, penasihat pers Ahmadinejad dan kepala kantor berita Iran
IRNA,
dikirim ke Evin pada September lalu untuk menjalani hukuman penjara
selama enam bulan karena menerbitkan berita yang dianggap melanggar
norma-norma masyarakat.
Javanfker juga dinyatakan bersalah
menghina Pemimpin Spiritual Ayatollah Ali Khamenei dalam situs web
pribadinya meskipun tidak jelas bagaimana dan kapan hal itu terjadi.
Permintaan
kunjungan Ahmadinejad itu terungkap di publik bulan ini, dipandang oleh
media dan komentator Iran terkait penahanan Javanfekr meskipun belum
ada konfirmasi resmi.
Kejaksaan menolak permintaan itu pada Minggu
(21/10/2012) dengan mengatakan, kunjungan itu bukan hal penting bagi
negara yang tengah menghadapi krisis dan pihak yang berseberangan di
parlemen menuduh pemerintahan Ahmadinejad salah mengurus negara.
"Kita harus memberi perhatian pada masalah-masalah besar," kata jaksa agung Gholam-Hossein Mohseni-ejei, seperti dikutip Mehr, Minggu.
"Meninjau
penjara pada situasi seperti ini hanya masalah kecil," lanjutnya. "Jika
kita memikirkan kepentingan negara, kunjungan (ke penjara) saat ini
tidaklah pantas."
Pengaruh Ahmadinejad di Iran terus memudar
menyusul pertentangan dengan Khamenei pada 2012. Peseteruan antara
pemimpin terpilih dan yang ditunjuk pecah tahun lalu setelah Khamenei,
yang memegang kekuasaan mutlak, mengangkat kembali menteri intelijen
Heydar Moslehi, yang dipecat oleh Ahmadinejad.
Kubu konservatif,
yang menjadi rival Ahmadinejad di parlemen, mengatakan, pemerintahannya
salah mengurus krisis mata uang dan masalah ekonomi lainnya akibat
sanksi Barat terkait program nuklir Iran.
Menurut konstitusi,
Ahmadinejad tidak diperbolehkan mencalonkan diri untuk masa jabatan
ketiga pada pemilu presiden Juni 2013 mendatang.
Bali Democracy Forum
Dari Bali Ahmadinejad Kritik Pemilu AS
Kamis, 8 November 2012 | 13:43 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/08/13430413/Dari.Bali.Ahmadinejad.Kritik.Pemilu.AS
ADEK BERRY / AFP
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut Presiden Iran,
Mahmud Ahmadinejad yang hadir dalam Bali Democracy Forum 2012.
DENPASAR, KOMPAS.com - Hari pertama Bali Democracy Forum, Kamis (8/11/2012), sudah diwarnai pernyataan keras Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.
Hanya
sehari setelah Barack Obama terpilih kembali menjadi presiden AS untuk
masa jabatan kedua, Ahmadinejad menjuluki pemilu AS sebagai "medan
tempur para kapitalis".
"Sebuah pemilu, sebagai salah satu cara
manifestasi keinginan rakyat, telah menjadi medan tempur para kapitalis.
Sebuah pembenaran untuk pengeluaran uang yang sangat besar," kata
Ahmadinejad yang tidak berkomentar langsung soal terpilihnya kembali
Obama.
Selain mengkritik pemilu AS, Ahmadinejad juga mengkritik negara-negara yang menganggap diri mereka sebagai pejuang demokrasi.
Para
analis ekonomi di AS memperkirakan pemilihan presiden yang baru saja
berakhir menghabiskan biaya sebesar 6 miliar dollar atau sekitar Rp 57,6
triliun. Sehingga pemilu presiden AS 2012 dianggap sebagai pemilu
termahal sepanjang sejarah AS.
"Mereka tetap saja mereka melanjutkan perbudakan, kolonialisme dan kekerasan terhadap umat manusia," lanjut Ahmadinejad.
Ahmadinejad,
yang terpilih kembali dalam pemilihan umum 2009 yang banyak dituding
penuh kecurangan, untuk pertama kalinya hadir dalam ajang Bali Democracy
Forum yang sudah lima kali digelar ini.
Namun, sejumlah kalangan
menilai, Teheran menggunakan ajang ini sebagai cara untuk keluar dari
isolasi yang diberlakukan kepada Iran terkait program nuklirnya yang
oleh sejumlah negara dianggap mengancam perdamaian dunia.
Pemilu AS
Kesal Obama Menang, Donald Trump "Berkicau" di Twitter
Rabu, 7 November 2012 | 21:10 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/07/21102117/Kesal.Obama.Menang.Donald.Trump.Berkicau.di.Twitter
Reuters
Pengusaha Donald Trump.
WASHINGTON DC, KOMPAS.com —
Kandidat presiden Partai Republik Mitt Romney sudah berbesar hati
menerima kekalahannya dan telah memberi selamat kepada Barack Obama yang
memenangkan pemilihan presiden AS, Rabu (7/11/2012).
Namun,
pengusaha terkenal, Donald Trump, merasa tidak puas dengan kemenangan
Obama. Dia menumpahkan kekesalannya melalui Twitter dan menyebut hasil
pemilihan presiden itu sebagai sebuah "parodi" dan "ketidakadilan yang
menjijikkan".
"Kita harus datang ke Washington dan menghentikan
parodi ini. Negara kita sudah terpecah," demikian tulis raja properti
ini melalui akun Twitternya.
Sudah sejak lama Trump tidak menyukai Obama dan tahun ini dia secara terang-terangan menyatakan dukungan untuk Mitt Romney.
"Mari berjuang dan menghentikan ketidakadilan yang menjijikkan ini! Dunia menertawakan kita," kicauan lain dari Trump.
Namun,
kicauan yang menyebut Obama meraup suara lebih sedikit dari Romney dan
seruan "revolusi" kemudian dicabut. Pasalnya, hitungan akhir menunjukkan
Obama juga meraup suara lebih banyak dari Romney.
Selama masa
kampanye, Trump pernah menantang Obama untuk menunjukkan catatan
pendidikan dan paspornya sebagai imbalan donasi amal sebesar 5 juta
dollar AS.
Trump juga menjuluki Obama sebagai "Presiden AS paling tidak transparan sepanjang sejarah".
"Pemilihan kali ini benar-benar memalukan dan sebuah parodi. Kita tidak menjalankan demokrasi," masih kicauan Trump.
Donald
Trump dikenal sebagai tokoh utama yang mencuatkan apa yang disebut
"konspirasi tanah kelahiran". Teori konspirasi ini adalah Obama lahir di
Kenya, bukan di Hawaii seperti yang selama ini diketahui banyak orang.
Karena
lahir di Kenya, Obama seharusnya tidak bisa mencalonkan diri sebagai
Presiden Amerika Serikat. Teori ini akhirnya meredup setelah Gedung
Putih merilis sertifikat kelahiran Obama yang menunjukkan bahwa dia
benar-benar lahir di Hawaii.
Romney Akrabi Politik dan Agama sejak Kecil
Senin, 5 November 2012 | 08:16 WIB
AFP PHOTO/Emmanuel DUNAND
Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Mitt Romney berkampanye di Englewood, Colorado, Sabtu (3/11/2012).
KOMPAS.com —
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/05/08162887/Romney.Akrabi.Politik.dan.Agama.sejak.Kecil
Willard
Mitt Romney dilahirkan di rumah yang kental dengan politik dan agama.
Kedua tema itu menjadi pusat kehidupannya hingga kini.
Romney
merupakan putra termuda George Romney, seorang eksekutif sebuah industri
mobil, dengan istrinya Lenore. Mitt tumbuh di tengah diskusi tentang
kebijakan publik dan Mormonisme.
Mitt Romney sangat mengidolakan
ayahnya, yang menjabat sebagai bos American Motors Corporation sebelum
menjadi Gubernur Michigan. Kecintaan ayahnya pada mobil menular padanya,
begitu juga dengan pandangan konservatifnya.
Romney mulai kuliah
di Stanford University pada 1965, tetapi dia hanya bertahan selama
setahun sebelum memutuskan pindah ke Perancis untuk menjadi misionaris
Mormon.
Pada 1968, George Romney meramaikan bursa pencalonan
presiden AS di Partai Republik, tetapi kampanyenya gagal setelah dia
mengatakan dalam wawancara televisi bahwa dia telah "dicuci otak" oleh
para jenderal untuk mendukung Perang Vietnam.
Bukan cuma sang ayah
yang gagal dalam pencalonan untuk menduduki jabatan publik. Ibunya,
Lenore Romney, juga gagal terpilih menjadi Senator AS pada 1970.
Kegagalan kedua orangtuanya ternyata cukup membekas di benak Romney
muda.
Pada usia 21 tahun, Mitt Romney menikah dengan Ann Davies,
putri seorang imigran Wales. Keduanya bertemu di SMA dan terus menjalin
kontak waktu Romney berada di luar negeri.
Setelah lulus dari
Brigham Young University, institusi pendidikan Mormon di Utah, Romney
pindah ke Boston dan kuliah di sekolah hukum dan bisnis Harvard.
Romney
kemudian bekerja pada Bain & Company, sebelum kemudian mendapat
tugas baru, mendirikan perusahaan ekuitas Bain Capital pada 1984. Di
bawah kepemimpinan Romney, Bain Capiltal mendulang keuntungan besar
melalui perusahaan-perusahaan seperti Staples dan Domino's Pizza.
Menjadi
pengusaha bukan berarti ambisi politiknya meredup. Pada 1994, dia
menantang Ted Kennedy untuk kursi Senat AS. Namun, dia kalah.
Romney kembali menunjukkan naluri bisnisnya yang tajam dengan menjadi CEO Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, Utah.
Berbekal
sukses itu, Romney membidik jabatan Gubernur Massachusetts pada 2002.
Setelah menyelesaikan masa jabatan pertama sebagai Gubernur, Romney
tidak tertarik untuk mencari masa jabatan kedua karena dia ingin
menduduki kursi yang lebih tinggi, yakni Presiden AS.
Pada 2006
dia mulai merintis langkahnya untuk meramaikan bursa capres di Partai
Republik sebagai persiapan pemilu 2008. Sayangnya, dia kalah di tingkat
partai setelah tiket Republik direbut John McCain, yang kemudian
menantang capres Partai Demokrat, Barack Obama.
Romney kembali
meramaikan bursa capres untuk Republik pada pemilu 2012. Kali ini dia
terpilih menjadi menjadi capres Republik untuk berhadapan dengan
presiden petahana, Barack Obama.
Pada Agustus 2012, dia memilih
Paul Ryan, seorang anggota Kongres dari Wisconsin sebagai calon wakil
presiden.
Editor :
Kistyarini
Reaksi Pasar atas Tugas Berat Presiden
Obama
Kamis, 8 November 2012 | 00:22 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/08/00225636/Reaksi.Pasar.atas.Tugas.Berat.Presiden.Obama
BBC
Pedagang saham di Jerman mengikuti siaran langsung berita kemenangan Presiden Barack Obama.
KOMPAS.com — Bursa saham sempat
turun pada Rabu 7 November menanggapi terpilihnya Presiden Barack Obama
yang harus berjuang meloloskan anggaran dari Kongres AS.
Pasar Wall Street di New York saat dibuka langsung turun
1,3 persen pada 13.069, sedangkan S&P 500 turun 1,4 persen pada
1.408.
Sementara indeks FTSE di London turun 0,8 persen dan di
Jerman indeks DAX turun 1,5 persen, sedangkan indeks CAC-40 di Prancis
turun 1,5 persen.
Masalah yang paling besar
dihadapi pemerintahan Obama mendatang adalah yang disebut dengan
"tebing fiskal" yang merupakan kombinasi dari pajak tinggi dengan
pemotongan anggaran pemerintah yang akan langsung terjadi jika tidak
dicapai kesepakatan anggaran baru dengan Kongres AS pada 1 Januari
2013.
Para ekonom sudah memperingatkan bahwa
kegagalan mencapai kesepakatan dalam anggaran baru bisa memukul
perekonomian AS kembali masuk ke dalam resesi.
"Reaksi
awal yang mendukung sudah menguap dengan tugas berat untuk mengatasi
tebing fiskal yang membayangi optimisme awal," tutur Andrew Wilkonson
dari perusahaan konsultan ekonomi, Miller Tabak & Co, kepada kantor
berita
AP.
Tugas ekonomi Obama
Turunnya
bursa saham di Amerika Serikat dan Eropa juga didorong oleh prakiraan
yang dikeluarkan Komisi Eropa bahwa perekonomian negara-negara pengguna
Euro akan menyusut 0,4 persen tahun ini dan hanya tumbuh 0,1 persen
pada tahun mendatang.
Sejak memerintah
tahun 2009 lalu, tugas terberat Presiden Obama adalah menangani
perekonomian Amerika Serikat yang menderita resesi terburuk sejak zaman
"Depresi Besar" tahun 1930-an.
Di masa
jabatan kedua ini, selain masalah "tebing fiskal", masalah lain yang
harus ditangani Obama adalah tingginya pengangguran yang tetap tinggi
pada tingkat 9,7 persen.
Pertumbuhan ekonomi
masih tetap lamban, sekitar 2 persen untuk kuartal ketiga yang jelas
bukan berita baik untuk negara dengan perekonomian terbesar di dunia.
Sementara itu, program tunjangan kesehatan
Medicare—untuk warga Amerika yang berusia 65 tahun ke atas dan penderita
cacat—diperkirakan akan segera kehabisan dana pada tahun 2024.
Tugas Obama itu dibayang-bayangi dengan upaya
diplomasi yang tidak mudah dengan Kongres Amerika Serikat dengan Senat
yang dikuasai oleh Partai Demokrat, sementara mayoritas di Dewan
Perwakilan Rakyat dipegang oleh Partai Republik.
Ikuti perkembangan pemilihan presiden AS dalam topik pilihan "Pemilu Amerika"
Bagaimana presiden AS dipilih?
Baca artikel-artikel berikut:
- Pilpres Amerika, Langsung atau Tak Langsung
- 270, Angka Sakti Pilpres AS - Mengenal Ke-12 "Battleground States" - Apa Itu "Swing States" dan "Split Vote" - Mengapa Pemilu Presiden AS Hari Selasa Pertama November?
Sejarah
Mengapa Pemilu Presiden AS Hari Selasa
Pertama November?
Penulis : Pieter P Gero | Sabtu, 3 November 2012 | 00:01 WIB
Reuters/Rick Wilking
Seorang warga di Denver, Colorado, memasukkan kertas suara pada pemilu yang diadakan lebih awal (25/10).
WASHINGTON, KOMPAS.com
--
Jangan pernah ragu mengatakan bahwa pemilihan Presiden Amerika
Serikat (AS) akan selalu berlangsung pada hari Selasa pertama pada bulan
November. Pemilihan presiden yang berlangsung setiap empat tahun itu
akan berlangsung pada Selasa, 6 November 2012.
Namun harus diingat
juga, hari Selasa pertama itu setelah ada hari Senin pertama pada
bulan November. Mengapa selalu hari Selasa pertama setelah hari Senin
pertama dalam bulan November? Penentuan soal hari Selasa pertama ini
diputuskan pada tahun 1845. Pada tahun 1875, hari Selasa pertama ini
juga diputuskan sebagai hari pemilihan anggota DPR AS. Pada tahun 1914,
hari Selasa pertama ini juga ditetapkan pemilu Senat AS.
Mengapa
juga pemilu ini harus dilakukan pada awal November? Semuanya tak lepas
dari komposisi profesi dan pekerjaan penduduk AS. Pada tahun 1845,
komposisi warga AS sangat didominasi para petani. Karena mereka petani,
maka bulan November adalah bulan paling memungkinkan bagi para petani
untuk beramai-ramai mendatangani kotak-kotak suara untuk memberikan
suara mereka.
Pada bulan November biasanya masa panenan sudah
usai. Mulai masuk musim gugur. Para petani di AS punya waktu luang
termasuk bersantai, termasuk bisa bepergian. Karenanya mereka juga punya
waktu untuk menggunakan hak suaranya dengan mendatangi kotak-kotak
suara.
Petani di AS biasanya sibuk menanam pada musim semi dan
musim panas adalah masa mengelola tanaman, menyiangi dan memupuki, serta
memanen. Pada musim gugur, cuaca masih dianggap bersahabat bagi warga
untuk bepergian, termasuk menuju tempat-tempat pemungutan suara. Kondisi
AS pada waktu itu tidak sebaik sekarang ini. Jalan-jalan di pedesaan
relatif rusak dan becek.
Kondisi infrastruktur yang masih buruk
ini yang membuat hari pemilu selalu dilaksanakan di setiap hari Selasa.
Saat itu, warga AS harus menempuh jarak yang relatif jauh untuk
memilih. Hari Senin dianggap kurang tepat. Sebab kalau jatuh pada hari
Senin, maka sejak hari Minggu warga AS sudah harus pergi dari desa atau
rumah mereka untuk memilih. Padahal, warga AS pada hari Minggu masih
harus ke gereja untuk bersyukur. Jadi hari Selasa yang paling tepat.
Lantas
apa alasan lain mengapa pemilihan selalu dilakukan hari Selasa setelah
Senin pertama pada bulan November? Tokoh masyarakat dan politisi AS
menghindari agar hari pemilu itu tidak jatuh pada tanggal 1 November.
Rupanya, para tokoh dan politisi ini memperhatikan Hari Semua Orang
Kudus (All Saints Day) yang diperingati setiap 1 November yang merupakan
hari libur bagi pemeluk agama Katolik. Apabila 1 November jatuh pada
hari Selasa, maka pemilu tidak akan dilakukan pada hari itu. Karena hari
Selasa pada tanggal ini bukanlah hari Selasa setelah hari Senin pertama
pada bulan November.
Pertimbangan lain, hampir semua pedagang di
AS pada saat itu umumnya sibuk melihat rekening pembukuan mereka pada
tanggal 1 setiap bulan. Politisi AS mempertimbangkan bahwa sukses atau
kegagalan bisnis pada
Pilpres Amerika, Langsung atau Tak Langsung
Penulis : Iskandar Zulkarnaen | Senin, 5 November 2012 | 11:55 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/05/11550452/Pilpres.Amerika.Langsung.atau.Tak.Langsung?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Bagaimana%20Presiden%20As%20Dipilih
AFP PHOTO/Paul J. Richards
Warga memasukkan suara di tempat pemungutan suara darurat di
gedung pengadilan Ocean County di Toms River, New Jersey, Minggu
(4/11/2012). Pemungutan suara dini ini memungkinkan warga di
wilayah-wilayah yang kena terjangan Badai Sandi untuk bisa memilih.
KOMPAS.com — Sistem
pemilihan presiden Amerika Serikat cukup unik. Bahkan sangat unik,
melihat dari betapa tuanya sistem ini diterapkan di sebuah negara
demokratis terbesar di muka bumi.
Saat berkunjung ke Amerika
Serikat dalam rangka mengikuti program pertukaran International Visitor
Leadership Program (IVLP 2012) selama Agustus-September 2012 lalu, saya
menangkap kesan beragam terhadap sistem pemilihan presiden AS.
Beberapa
warga setempat yang saya temui di lebih dari lima negara bagian
mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Bagi masyarakat umum yang
kurang memahami kompleksitas sistem pemilu, mereka menganggap pilpres di
Amerika berlangsung demokratis. Setiap orang berhak untuk memilih
pasangan capres yang diinginkan, juga berhak untuk tidak menggunakan hak
pilihnya.
Namun, para pengamat dan akademisi di bidang politik
yang memiliki pemahaman lebih seputar mesin pemilu di Amerika Serikat,
termasuk bagaimana Electoral College menjalankan perannya sebagai
penentu kunci presiden berikutnya, meyakinkan saya bahwa pelaksanaan
pemilu di Amerika tidak sesederhana yang tampak di layar kaca atau di
koran-koran.
Sebagian dari mereka menilai sistem pemilu tidak
cukup adil karena kekuasaan rakyat dalam memilih presiden menjadi semu.
Sementara sebagian lain menganggap mekanisme pemilihan presiden yang
sudah berjalan sejak kemerdekaan Amerika Serikat ini sangat demokratis,
bahkan sempurna. Tetapi, dengan catatan, sistem ini hanya cocok
diterapkan di Amerika Serikat.
Langsung atau tidak langsung?
Untuk
mengetahui bagaimana sebenarnya sistem pemilu di "Negara Paman Sam",
sebaiknya dimulai dengan menjawab pertanyaan, apakah rakyat Amerika
Serikat memilih calon presiden mereka secara langsung atau tidak?
Bila
menganggap pemilu di Amerika Serikat adalah pemilu langsung, Anda
salah. Dan faktanya, di Amerika sendiri, banyak warga yang tidak sadar
bahwa mereka memiliki persepsi yang salah seperti Anda.
Yang
mereka tahu bahwa hari ini mereka mencoblos si A sebagai presiden, maka
suaranya itu akan langsung diterima oleh si calon. Mereka tidak tahu
kalau ternyata calon presiden pilihan mayoritas rakyat belum tentu
menjadi presiden berikutnya.
Namun, bila Anda menganggap pilpres
Amerika Serikat menggunakan sistem tidak langsung, jangan bayangkan
sistem ini berjalan sesederhana pilpres Indonesia di era Orde Baru,
rakyat memilih anggota DPR, lalu anggota DPR memilih presiden dengan
cara musyawarah ataupun dengan pemungutan suara di gedung rakyat.
Bila
Anda memiliki kesempatan berdiskusi dengan warga Amerika seputar sistem
pemilihan presiden, niscaya mereka akan merasa iri dengan sistem
pilpres Indonesia pascakejatuhan Orde Baru yang benar-benar dijalankan
secara langsung.
Iri karena warga Indonesia benar-benar memilih
calon yang mereka inginkan, sedangkan mereka seolah-olah memilih seorang
kandidat secara langsung, tetapi secara teknis, presiden terpilih
bukanlah pilihan mereka.
"Electoral college"
Pemilihan presiden di Amerika Serikat menggunakan sistem
electoral college,
yaitu sebuah sistem yang menjadi penentu akhir presiden berikutnya.
Dalam sistem ini, presiden terpilih tidak diangkat berdasarkan pilihan
rakyat lewat pemungutan suara di TPS, tetapi oleh
electoral votes (suara pemilu) yang tersebar di 51 negara bagian.
Setiap negara bagian memiliki jatah
electoral votes
yang berbeda. Jatah ini ditentukan oleh banyaknya alokasi kursi Senat
dan DPR yang dimiliki tiap-tiap negara bagian. Alokasi kursi Senat dan
DPR sendiri bisa berubah berdasarkan populasi penduduk yang ditetapkan
oleh sensus sepuluh tahunan.
Saat ini terdapat 538
electoral votes. Jumlah itu ditetapkan berdasarkan 435 kursi DPR (House of Representatives), 100 kursi Senat, ditambah tiga jatah
electoral votes untuk ibu kota Washington DC—meskipun kota pemerintah federal ini tidak memiliki wakil di Senat.
Untuk memenangi pemilu, seorang calon presiden harus mendapatkan minimal 270 dari 538
electoral votes. Oleh karena itu, dalam setiap pemilu, para politisi selalu membidik negara bagian yang memiliki jumlah
electoral votes terbanyak, seperti California (55), Texas (34), Florida (27), dan Illinois (21).
Setelah pemungutan suara selesai, para
electors (orang yang memiliki mandat atas
electoral votes)
akan menggelar konvensi di ibu kota negara bagian untuk memberikan
suara mereka. Dalam pertemuan yang berlangsung pada bulan Desember
inilah pilpres benar-benar digelar secara langsung. Mereka akan memilih
satu dari dua pasangan capres yang sedang bertarung menuju Gedung Putih.
Lantas bagaimana "elector" ditetapkan?Pemegang
electoral votes
diangkat oleh dewan pimpinan partai di tingkat negara bagian.
Penetapannya dilakukan dengan mempertimbangkan loyalitas kepada partai
dan diyakini tidak akan mengkhianati suara rakyat dan suara partai yang
diwakilinya.
Para
elector dipilih oleh partai sebelum
pemilu berlangsung, waktu persisnya berbeda di masing-masing negara
bagian. Masa jabatannya pun berbeda. Dan, satu hal, tidak ada pengumuman
resmi dari partai terkait proses penetapan atau pengangkatan
elector.
Itulah sebabnya, ketika warga Amerika ditanya soal
elector,
electoral votes ataupun
electoral college,
banyak dari mereka yang bingung dan balik bertanya, “Pertanyaan macam
apa itu?” Tetapi, ada juga negara nagian yang mengumumkannya dan
mencantumkan nama-nama mereka di kertas suara.
Setiap partai yang ikut pemilu, yakni Demokrat dan Republik, mengangkat
elector sejumlah alokasi
electoral votes di negara bagian masing-masing.
Misalnya, Wisconsin memiliki 10
electoral votes, maka partai di negara bagian ini masing-masing mengangkat 10
elector. Tetapi, hanya partai yang memenangi pemilu yang bisa mengirimkan
elector-nya ke konvensi. Istilahnya, the
winner take it all. Pemenang meraup semua jatah
electoral votes di tingkat negara bagian.
Dengan
sistem semacam itu, ada kesan bahwa pilpres empat tahunan yang
melibatkan seluruh elemen masyarakat pada Selasa minggu pertama bulan
November (tahun ini jatuh pada tanggal 6 November 2012) tidak digelar
untuk memilih presiden, tetapi memilih partai mana yang akan menguasai
electoral votes di tiap-tiap negara bagian.
"Popular vote vs electoral vote"
Sampai di sini, keunikan sistem pemilu AS belum seberapa. Saat konvensi
electoral college berlangsung, ada beragam muslihat yang mungkin terjadi. Pasalnya, tidak ada ketentuan yang mewajibkan
elector memberikan pilihan yang sama dengan amanat partai dan konstituennya.
Dalam
electoral college, negara bagian boleh meminta dan boleh tidak meminta para
elector memilih berdasarkan hasil pilpres. Dan, setiap
elector bisa saja memilih capres yang berbeda dari capres pilihan mayoritas rakyat di tingkat negara bagian.
Esensi
dari sistem pilpres di AS adalah pertarungan antara 51 negara bagian
(termasuk Washington DC). Selain itu, pilpres di negara ini menggunakan
sistem pemilu tidak langsung karena perolehan suara terbanyak tidak bisa
memutuskan siapa presiden berikutnya sehingga, dalam sejarahnya,
pilpres Amerika mengalami beberapa peristiwa di mana presiden pilihan
rakyat tidak bisa menjabat di Gedung Putih.
Mereka adalah Andrew Jackson menang dalam pemungutan suara pilpres 1824, tetapi di
electoral college dia kalah dari John Quincy Adams. Samuel Tilden menang dalam pemungutan suara pilpres 1876, tetapi di
electoral college dia kalah dari Rutherford B Hayes. Grover Cleveland menang dalam pemungutan suara pilpres 1888, tetapi di
electoral college dia kalah dari Benjamin Harrison.
Dan,
kasus paling hangat adalah ketika Al Gore menang dalam pemungutan suara
pilpres 2000, tetapi akhirnya George W Bush yang menjadi presiden
setelah berhasil mencundangi lawannya di
electoral college.Hasil seri
Bagaimana jika hasil perolehan suara
electoral college berimbang, dengan perolehan 269 untuk Obama dan 269 untuk Romney?
Bila ini terjadi (dan mungkin terjadi karena total
electoral votes
adalah bilangan genap), pemilihan presiden berpindah ke lembaga DPR
(House of Representatives), berdasarkan Amandemen ke-12 UUD.
Namun, berbeda dengan sistem
electoral college
di mana satu suara mewakili satu pilihan, pemilihan presiden di DPR ini
diwakili oleh 51 suara berdasarkan jumlah negara bagian plus Washington
DC. Artinya, setiap negara bagian (yang diwakili oleh sejumlah anggota
DPR) hanya memiliki satu suara untuk satu calon presiden.
Pemilihan
juga tidak dilakukan dalam satu paket seperti sebelumnya. Calon
presiden dan calon wakil presiden menghadapi dua pemilihan yang berbeda.
Capres
yang pertama kali meraih 26 suara dari total 51 suara, dinyatakan
terpilih sebagai presiden yang baru. Proses pemilihan presiden ini
harus selesai paling lambat tanggal 4 Maret.
Setelah itu, lembaga
Senat akan memilih calon wakil presiden dengan cara satu orang Senator
memiliki satu suara. Cawapres yang meraih 51 suara dari total 100 suara
ditetapkan sebagai wakil presiden, mendampingi presiden hasil pemilihan
di lembaga DPR.
Editor :
Kistyarini
Pemilu AS
Apa Itu "Swing States" dan "Split Vote"
Selasa, 6 November 2012 | 16:47 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/06/16475747/Apa.Itu.Swing.States.dan.Split.Vote?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Bagaimana%20Presiden%20As%20Dipilih
Reuters/Rick Wilking
Seorang warga di Denver, Colorado, memasukkan kertas suara pada pemilu yang diadakan lebih awal (25/10).
Berikut adalah sejumlah istilah yang familiar dalam penyelenggaraan Pemilu Presiden AS yang digelar pada Selasa (6/11) ini.
RACE TO 270Presiden Amerika tidak dipilih berdasarkan suara rakyat terbanyak, tetapi oleh
electoral college. Jumlah suara
electoral college per
negara bagian proporsional dengan jumlah populasi negara bagian itu.
Negara Bagian California adalah yang terbesar, dengan 55 suara. Secara
total ada 538 suara
electoral college. Maka, untuk mengamankan
kursi Gedung Putih, seorang calon harus meraih 269 suara plus satu demi
kemenangan mayoritas. Itulah yang disebut
Race to 270.Partai
Demokrat memulai pemilihan kali ini dengan keuntungan karena banyak
negara bagian yang padat penduduk, seperti California dan New York,
yang merupakan basis Partai Demokrat. Menurut analisis situs Real Clear
Politics, Partai Demokrat dari Presiden Barack Obama memulai kampanye
dengan 201 suara. Penantang dari Partai Republik, Mitt Romney,
mengantongi 191 suara.
SWING STATES Dengan hitungan di atas, berarti tinggal 11 negara bagian yang diperebutkan (
swing states).
Dari 11 negara bagian itu, yang paling berharga adalah negara bagian
dengan suara eletoral terbanyak tempat para calon bersaing ketat. Tahun
ini, Negara Bagian Ohio, Florida, dan Virginia adalah yang paling
penting, serta North Carolina, Pennsylvania, Wisconsin, Iowa, dan New
Hampshire.
SPLIT VOTEHal ini juga
berarti bahwa ada kemungkinan untuk kalah dalam meraih suara rakyat,
tetapi tetap memenangi pemilu. Dengan Obama memimpin perhitungan suara
electoral college sejauh
ini, tetapi bersaing ketat dalam berbagai jajak pendapat nasional,
banyak orang menduga hal itu akan bisa terjadi tahun ini (kalah dalam
meraih suara rakyat tetapi tetap memenangi kursi Gedung Putih).
KONGRESOrang
AS tidak hanya memilih presiden mereka pada Selasa pagi ini (Selasa
malam waktu Indonesia). Sekitar sepertiga dari anggota Senat akan
dipilih, serta semua anggota DPR. Sejumlah prediksi awal menunjukkan,
Partai Demokrat akan mempertahankan kontrol mereka di Senat, sebaliknya
Partai Republik akan mempertahankan cengkeramannya di DPR. Hal itu
memicu kekhawatiran bahwa
gridlock di legislatif seperti saat ini berlanjut, tak peduli siapa pun yang akan meraih kursi Gedung Putih.
TRANSFER OF POWERJika
Romney memenangi pemilu, ia segera akan menjadi presiden terpilih,
tetapi tidak memiliki kekuasaan eksekutif resmi sampai dilantik. Dia
akan dilantik dan mengambil sumpah jabatan di Washington DC pada siang
hari tanggal 20 Januari 2013.
Untuk menjalankan roda
pemerintahan antara terpilihnya presiden baru dan pelantikan, presiden
terpilih secara tradisional akan menunjuk seorang pemimpin transisi guna
mengelola tugas-tugas administrasi selama masa transisi kekuasaan.
Seorang kepala staf Gedung Putih akan diumumkan dan sekretaris kabinet
akan dicalonkan meskipun mereka harus disetujui oleh suara mayoritas di
Senat AS yang tidak dapat terwujud hingga tahun baru.
STATE BY STATEWarga
Amerika juga akan melakukan pemungutan suara pada sejumlah referendum,
serta bagi negara bagian, daerah, dan bahkan untuk sejumlah posisi dewan
sekolah. Diperkirakan sejumlah orang butuh waktu 45 menit hanya untuk
mengisi surat suara mereka.
Sumber :
Sydney Morning Herald
Editor :
Egidius Patnistik
Pilpres AS
Mengenal Ke-12 "Battleground States"
Senin, 5 November 2012 | 19:34 WIB
http://internasional.kompas.com/read/2012/11/05/19343721/Mengenal.Ke12.Battleground.States?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Bagaimana%20Presiden%20As%20Dipilih
VOA
Presiden AS Barack Obama dan penantangnya dari Partai Republik, Mitt Romney.
KOMPAS.com - Dalam sistem pemilihan presiden AS, ada yang disebut sebagai
Battleground States, atau bisa dikatakan sebagai negara-negara bagian yang suara pemilihnya menjadi rebutan para kandidat calon presiden.
Ada 12 negara bagian yang masuk katagori
battleground states
ini, yang secara tradisional negara-negara bagian ini bukanlah ladang
kemenangan bagi Demokrat atau Republik. Namun, seringkali negara-negara
bagian ini menjadi penentu kemenangan seorang kandidat.
Berikut, Kompas.com mengulas profil ke-12
battleground states, peluang kedua kandidat plus hasil jajak pendapat yang dilakukan
realclearpolitics.com:
TIGA BESAR1
. Negara Bagian Ohio (18 suara elektoral)Ohio
mungkin menjadi negara bagian paling krusial di antara 12 battleground
states. Di saat industri Ohio sedang terpuruk, nampaknya suara negara
bagian ini cenderung akan diberikan kepada Barack Obama. Pada 2004, Ohio
memberikan suaranya kepada George W BUsh (Republik). Jajak pendapat
realclearpolitics.com mengunggulkan Obama 2,3 persen dari Romney.
2.
Negara Bagian Florida (29 suara elektoral)Negara
bagian berjuluk Sunshine States ini tak hanya terkenal dengan pantai
dan mataharinya. Florida juga menjadi idola para kandidat calon presiden
AS. Dengan suara elektoral terbesar, maka Florida menjadi magnet utama.
Pada pilpres 2000, Florida yang menentukan kemenangan George W Bush.
Jajak pendapat realclearpolitics.com mencatat keunggulan Romney 1,2
persen di atas Obama.
3.
Negara Bagian Virginia (13 suara elektoral)Pada
pilpres 2008 untuk pertama kalinya Virginia memilih capres Demokrat
sejak 1964. Negara bagian yang terletak di sebelah utara Washington DC
menjadi biru empat tahun lalu. Namun, kini pertarungan sesungguhnya
terpusat di sekitar Norfolk, lokasi sejumlah pangkalan militer besar.
Dengan kebijakan pengetatan anggaran militer di masa Obama, maka Romney
akan unggul tipis di sini. Jajak pendapat realclearpolitics, Romney
ungguli Obama dengan selisih 0,5 persen.
PERTARUNGAN KETAT4.
Negara Bagian Colorado (9 suara elektoral)Colorado
dibanjiri pendatang dari California dan tempat-tempat lain. Negara
bagian pegunungan yang biasanya memihak Republik kini lebih cenderung
mengikuti Demokrat. Colorado memberikan suaranya untuk Obama pada 2008.
Tahun ini, sang petahana nampaknya agak sulit mempertahankan basis
pendukungnya. Sehingga dia hanya unggul tipis 0,5 persen dari Romney.
5.
Negara Bagian New Hampshire (4 suara elektoral)Dengan
kondisi berimbang seperti saat ini, maka suara dari negara bagian kecil
seperti New Hampshire menjadi sangat berharga. Obama sudah berkampanye
di New Hampshire setidaknya enam kali, sementara Romney delapan kali.
Keunggulan tipis masih ada di tangan Obama dengan selisih hanya 1
persen.
6.
Negara Bagian Iowa (6 suara elektoral)Pada pemilu 2008, Iowa memberikan pilihannya untuk Barack Obama. Di sini Obama unggul dengan perbedaan 1,3 persen.
7.
Negara Bagian Nevada (6 suara elektoral)Ibukota
judi Amerika Serikat ini tengah didera angka pengangguran tinggi dan
krisis kredit macet. Di saat angka pengangguran nasional menurun, jumlah
pengangguran di Nevada tetap tinggi. Obama berhasil meraup dukungan
dari warga keturunan Spanyol, namun sebagian besar warga Nevada menilai
Obama tak cukup cepat memperbaiki kondisi ekonomi. Meski demikian, Obama
masih unggul 2,4 persen.
8.
Negara Bagian North Carolina (15 suara elektoral)Pada
2008 lalu, di Negara Bagian yang cenderung mendukung Republik ini,
Obama memenangkan pertarungan dengan selisih beberapa ribu suara saja.
Obama sempat mendukung pernikahan gay tahun ini, namun warga North
Carolina menolaknya. Akibatnya Obama tertinggal 3,8 persen dari Romney.
9.
Negara Bagian Wisconsin (10 suara elektoral)Keberadaan
sang gubernur yang berasal dari Partai Republik, ternyata sangat
berpengaruh. Mesin politik Republik di negara bagian ini berputar
kencang. Akibatnya, dukungan untuk Obama menurun. Apalagi, pasangan
Romney, Paul Ryan berasal dari negara bagian ini. Meski demikian, Obama
diprediksi masih unggul dengan selisih 4 persen.
POTENSIAL MENGEJUTKAN10.
Negara Bagian Pennsylvania (20 suara elektoral)
Berbagai
jajak pendapat di Pennsylvania, seperti halnya di Iowa, menunjukkan
dukungan untuk Obama sangat tinggi setidaknya hingga enam pekan lalu.
Namun, kini kekuatan kedua kandidat berimbang. Pada 2010, Pennsylvania
memilih gubernur dan senator dari Republik. Selain itu dukungan untuk
Romney cukup besar di sini. Meski begitu, Obama masih unggul 4,6 persen.
11.
Negara Bagian Michigan (16 suara elektoral)Michigan
belum pernah memenangkan presiden dari Partai Republik sejak 1988 dan
Obama masih menjadi favorit di sini. Namun, dalam sejumlah jajak
pendapat terbaru jumlah dukungan Obama dan Romney seimbang. Keputusan
Obama memberikan dana talangan untuk dua perusahaan otomotif raksasa GM
dan Chrysler, ditentang Romney. Namun keputusan itu dinilai sebagai
langkah tepat menyelamatkan salah satu industri terpenting Michigan.
Faktor ini bisa menjadi penentu. Obama unggul 3 persen di Michigan.
12.
Negara Bagian Minnesota (10 suara elektroral)Satu
jajak pendapat terbaru memberikan hasil yang cukup mengejutkan, Obama
hanya unggul tiga angka atas Romney di negara bagian yang biasanya
menjadi lahan kemenangan Demokrat ini. Ada dugaan, Minnesota mulai
cenderung bergerak ke tengah dari kiri liberal selama ini. Namun, "Tanah
10.000 Danau" ini belum pernah memilih presiden dari Republik sejak
Richard Nixon pada 1971. Obama unggul jauh 5 persen dari Romney.