Senin, 13 Juni 2016

SIAPA JKWEEE...???.... SIAPA AHOK...???.... SIAPA LUHUT B. PANJAITAN...???.....>>>>> ....MUNGKIN PERLU UJI FORENSIK GEN PRESIDEN DAN WAPRES..DAN CALON2.. NYA TERMASUK PARA ANGGOTA KABINET.. PEMERINTAHAN NKRI...??>> MUNGKIN KINI... SUDAH SAAT-NYA... UMAT ISLAM INDONESIA SEGERA BERGERAK DAN MELAWAN JKWEEE..YG TERANG2AN... MELECEHKAN UMAT ISLAM..???>> ....... Seolah tidak mempedulikan hak otonomi, Jokowi resmi mencabut 3.143 perda termasuk perda miras dan semua yang mengandung unsur keislaman. Di antaranya adalah himbauan berbusana islami pegawai yang beragama Islam...........>>>.... Lebih jauh lagi, Jokowi enggan mengindahkan mekanisme pencabutan perda yaitu harus melalui kajian terlebih dahulu. Dirinya ngotot mencabut perda sesegera mungkin karena menurutnya kalau menunggu dikaji, setahun bisa-bisa hanya 15 perda yang berhasil dimusnahkan..... >>> Berikut adalah contoh-contoh perda yang telah dicabut Jokowi melalui Mendagri Tjahjo Kumolo, dari daerah berpenduduk muslim: Himbauan berbusana muslim kepada kepala dinas pendidikan dan tenaga kerja. Wajib bisa baca Al Qur'an bagi siswa dan calon pengantin. Kewajiban memakai jilbab di Cianjur. Pelarangan membuka restoran, warung, rombong dan sejenisnya di bulan ramadan. Makan dan minum atau merokok di tempat umum pada bulan ramadan. Khatam Al Quran bagi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah. Tata cara pemilihan kades, calon dan keluarganya bisa membaca Al Quran. Kewajiban membaca Al Quran bagi PNS yang akan mengambil SK dan Kenaikan Pangkat. Begitu juga calon pengantin, calon siswa SMP dan SMU, dan bagi siswa yang akan mengambil ijazah. Kewajiban memakai busana muslim (Jilbab) di Dompu. Kewajiban mengembangkan budaya Islam (MTQ, qosidah, dll)......>>>>

Jokowi Tabuh Genderang Perang Terhadap Umat Islam, Perda Islami Dicabut Semua

http://www.bagi.me/2016/06/jokowi-tabuh-genderang-perang-terhadap.html?m=1 

Seolah tidak mempedulikan hak otonomi, Jokowi resmi mencabut 3.143 perda termasuk perda miras dan semua yang mengandung unsur keislaman. Di antaranya adalah himbauan berbusana islami pegawai yang beragama Islam.

Wakil Ketua Komisi II DPR, Almuzzammil Yusuf menjelaskan, Pemerintah harus mempertimbangkan moralitas, norma, nilai agama, norma masyarakat daerah, dan kondisi generasi masa depan bangsa Indonesia apabila mencabut Perda. 

Dia menegaskan pentingnya Pemerintah Pusat menghormati hak otonomi daerah bagi Pemerintahan Daerah dalam membentuk peraturan daerah yang dilindungi Konstitusi RI. 

Lebih jauh lagi, Jokowi enggan mengindahkan mekanisme pencabutan perda yaitu harus melalui kajian terlebih dahulu. Dirinya ngotot mencabut perda sesegera mungkin karena menurutnya kalau menunggu dikaji, setahun bisa-bisa hanya 15 perda yang berhasil dimusnahkan.

Berikut adalah contoh-contoh perda yang telah dicabut Jokowi melalui Mendagri Tjahjo Kumolo, dari daerah berpenduduk muslim:

  • Himbauan berbusana muslim kepada kepala dinas pendidikan dan tenaga kerja.
  • Wajib bisa baca Al Qur'an bagi siswa dan calon pengantin.
  • Kewajiban memakai jilbab di Cianjur.
  • Pelarangan membuka restoran, warung, rombong dan sejenisnya di bulan ramadan. Makan dan minum atau merokok di tempat umum pada bulan ramadan.
  • Khatam Al Quran bagi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah.
  • Tata cara pemilihan kades, calon dan keluarganya bisa membaca Al Quran.
  • Kewajiban membaca Al Quran bagi PNS yang akan mengambil SK dan Kenaikan Pangkat. Begitu juga calon pengantin, calon siswa SMP dan SMU, dan bagi siswa yang akan mengambil ijazah.
  • Kewajiban memakai busana muslim (Jilbab) di Dompu.
  • Kewajiban mengembangkan budaya Islam (MTQ, qosidah, dll)




Sementara itu, tidak satu pun perda DKI yang disentuh. Jika ada demo dan unjuk rasa, sebesar apa pun itu, tidak ada saluran televisi yang menyiarkannya. Hal tersebut belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, bahkan pada jaman Orde Baru sekali pun. Betapa saat ini rakyat dikhianati oleh stasiun-stasiun televisi yang tidak transparan.

Harap sebarkan di facebook kedzaliman penguasa yang telah seenaknya mencabut perda yang sejatinya merupakan bentuk aspirasi dan keinginan rakyat daerah.


Semoga Allah menganugerahkan masyarakat Indonesia, pemimpin yang adil, jujur dan enggan disetir asing.


"Sesungguhnya di antara seagung-agungnya jihad adalah menyampaikan kalimat yang haq di hadapan penguasa yang zhalim." (HR. At-Tirmidzi)

 

Pemberontakan PKI tahun 1926-1927, 1948 dan 1965

Penulis Toto Gutomo, pada 13 Okt 2011

http://iwaka91.blogspot.co.id/2011/10/pemberontakan-pki-tahun-1926-1927-1948.html



(Logo Partai Komunis Indonesia)


Lokasi, Waktu, Latar Belakang, dan Sikap Pemerintah

 Oleh: Toto Gutomo[1]

A.     Tahun 1926 – 1927

 


1.      Sumatera Barat



Masuknya pengaruh PKI ke Sumatera Barat tidak lepas dari peran serta pemuka agama Islam, Haji Datuk Batuah yang membawa dan menyebarkan paham komunis  di daerah tersebut. Pada tahun 1923 ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padang Panjang[2]. Oleh  masyarakat setempat ajaran komunis ini disebut “ilmu kominih” (Schrieke, 1960: 155), yakni menggabungkan ajaran Islam dengan  ide anti penjajahan Belanda, anti imperialisme-anti kapitalisme dan ajaran Marxis. Pada akhir 1923 didirikan pusat Komunikasi Islam di Padang panjang. 

Desember 1925 di Prambanan, Yogyakarta diadakan pertemuan partai yang dipimpin oleh Alimin. Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh PKI, diantaranya Budi Sucipto, Aliarcham, Sugono, Surat Hardjo, Martojo, jatim, Sukirno, Suwarno, Kusno dan lain-lainnya. Sedang Said Ali, pemimpin PKI cabang Sumatera Barat pada pertemuan ini hadir mewakili seluruh Sumatera. Kemudian diputuskan:

a.    Sejalan dangan Surat Edaran Komite Pusat PKI No.221[3] maka PKI cabang Sumatera Barat berusaha mengumpulkan senjata.

b.   Mengadakan aksi-aksi ilegal. Ini terutama dilakukan dalam bentuk membangun sel-sel PKI di derah-daerah pertanian dalam rangka memperkuat semangat perlawanan.

c.    Memperkuat propaganda di kalangan buruh-buruh tani. 

Gelagat pemberontakan tercium Pemerintah kolonial Belanda kemudian segera melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin PKI dengan tuduhan hendak memberontak. Sekalipun para pemimpin PKI Sumatera Barat telah banyak yang ditangkap dan dipenjarakan, akan tetapi pada akhirnya pemberontakan tetap meletus juga, pendukung PKI akhirnya mengikuti jejak rekan-rekan mereka di Banten, yang meletuskan pemberontakan pada pertengahan November 1926. Mereka menyerang kedudukan pemerintah. Selanjutnya di Tanjung Ampulu, pada tanggal 1 Januari 1927 terjadi pembakaran rumah milik para pegawai pemerintah Kolonial Belanda dan kaki tangannya. Di Padang Siberuk para pemberontak membunuh kepala nagari dan beberapa penduduk yang dianggap kaki tangan Belanda. Di Silungkang, markas besar kaum pemberontak, terjadi pembunuhan terhadap opsir-opsir Belanda dan beberapa orang guru agama serta tukang emas yang dianggap bekerja sama dengan Belanda. 

2.      Jawa Barat (Kabupaten Lebak – Madiun)



Masuknya komunisme dikalangan masyarakat menggunakan Islam sebagai senjata propagandanya, pengertian komunis ditekankan sebagai usaha menentang  Belanda  dan  dipersamakan  dengan  perang  sabil.  Hal  tersebut kemudian dipertegas oleh Alimin dan Musso yang datang ke Pandeglang  sekitar tahun 1925. Di hadapan massa, kedua tokoh PKI ini menguraikan secara panjang lebar  soal-soal  perjuangan  bangsa  menghadapi  penjajahan  Belanda.  Dengan demikian,  dalam  usahanya  mendapatkan  dukungan  dari  rakyat  Banten,  para proganda  PKI  menghilangkan  pengertian  komunisme,  tetapi  kemudian  lebih mengedepankan  persamaan  perjuangan  antara  Islam  dan  PKI.  Oleh  karena  itu, para  ulama Banten  tidak menentang  kehadiran  PKI  di Banten  bahkan  di  antara para ulama itu kemudian ada yang menjadi pengurus PKI Cabang Banten. Selain itu dukungan juga datang dari golongan petani yang dijanjikan akan dibebaskan dari pajak kepal/perorangan  (hoofdgeld). 

Dengan meningkatnya aktivitas PKI Banten, bulan Juli – September 1926, pemerintah  Hindia  Belanda  melakukan  penangkapan  terhadap beberapa  pemimpin  PKI  Banten.[4] Penahanan  ini mengakibatkan  pimpinan  PKI  berada  di  bawah  tangan  para  ulama  dan  jawara. Golongan  inilah  yang  kemudian  memimpin  para  petani  melancarkan pemberontakan  pada  bulan  November  1926.  Target  utama  pemberontakan  adalah kaum priyayi dan dipilih secara selektif (kaum  priyayi  bukan  asli Banten  dan  suka melakukan  kekerasan  kepada  rakyat) yang menjadi  sasaran  adalah mereka yang  telah dianggap mencemari nama  baik  Banten.  Sementara  orang  Cina  tidak  menjadi  sasaran  karena  ada indikasi  keterlibatan  secara  tidak  langsung  dalam  pemberontakan  tersebut[5].

Pada  tanggal  6  November  1926,  pecahlah  pemberontakan  PKI  yang ditandai dengan penyerbuan kota Labuan pada  tengah malam oleh  ratusan orang bersenjata. Pemerintah  Hindia  Belanda  segera  melakukan  tindakan  terhadap  para pemberontak.  Pada  tanggal  13  November  1926,  pemerintah  kolonial  telah melakukan penangkapan di berbagai tempat di Banten, di antaranya enam kali di Kabupaten  Lebak.  Sehari  kemudian,  pemberontakan  PKI  Banten  berhasil dipadamkan  oleh  pemerintah  kolonial  dan  sampai  bulan  Desember  1926, pemerintah  kolonial  masih  melakukan  penangkapan  kepada  para  pelaku pemberontakan. Para pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian dibuang ke Boven Digul[6], dipenjaran dan atau dihukum mati.

Dengan dihancurkannya komunisme dan semakin tidak berdayanya Islam sebagai kekuatan politik, agaknya zaman bagi nasionalisme telah tiba dan lahirlah PNI pada 4 Juli 1927 dengan Sukarno sebagai Ketua.



B.     Tahun 1948



Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dawali dengan ketidakpuasan terhadap hasil persetujuan Renville yang dianggap merugikan pihak Indonesia, kabinet Amir Syarifuddin dijatuhkan pada 23 Januari 1948 dan menyerahkan mandatnya kepada presiden dan digantikan kabinet Hatta yang terkenal dengan Re-Ra[7]. Amir kemudian menjadi “golongan kiri” diluar pemerintahan republik memulai suatu usaha yang menimbulkan bencana untuk mendapatkan kembali kekuasaan. Februari 1948 berganti nama menjadi Front Demokrasi Rakyat dan mencela persetujuan Renville yang sebetulnya dirundingkan sendiri oleh pemerintahan Amir. 

11 Agustus 1948 Musso (pemimpin PKI tahun 1920-an) tiba di Yogyakarta dari Unisoviet memberi kekuatan tersendiri ditubuh PKI, ditambah lagi partai-partai dalam tubuh FDR menyatakan bersatu dengan PKI. Pertengahan September pertempuran terjadi antara yang Pro-PKI dan Pro-pemerintah yang pada 17 September dapat dipukul mundur hingga mereka mundur ke Madiun yang kemudian begabung dengan satuan-satuan yang Pro-PKI lainnya. Puncak aksi PKI adalah pemberotakan terhadap RI pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. Tujuan pemberontakan itu adalah meruntuhkan negara RI dan menggantinya dengan negara komunis.[8]
 

Tanggapan pemerintah yang cepat dapat dilihat melalui kecaman pemberontak melalui radio oleh Sukarno dan menghimbau bangsa Indonesia bergabung bersama dirinya dan Hatta daripada dengan Musso dan rencananya membentuk pemerintahan gaya Soviet. Dihadapkan pada dua pilihan, banyak satuan militer yang pada dasarnya bersimpati kepada pihak anti-pemerintah meilih menjauhkan diri, begitu juga FDR di Banten dan Sumatera mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan gerakan Madiun.[9]

Pada 30 September 1948, Madiun dapat diduduki kembali oleh TNI dan polisi. pemberontak terus dipukul mundur, Aidit dan Lukman melarikan diri ke Cina dan Vietnam,  Amir Syarifuddin dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Pada 31 Oktober Musso tewas saat berupaya melarikan diri dari tahanan.[10] Dalam aksi pemberontakan dan penumpasan ini banyak sekali berjatuhan korban jiwa, baik dari kubu PKI maupun dari pemerintah.

C.     Tahun 1965


Doktrin Nasakom yang dikembangkan oleh Presiden Soekarno memberi keleluasaan PKI untuk memperluas pengaruh. Usaha PKI untuk mencari pengaruh didukung oleh kondisi ekonomi bangsa yang semakin memprihatinkan. Dengan adanya nasakomisasi tersebut, PKI menjadi salah satu kekuatan yang penting pada masa Demokrasi Terpimpin bersama Presiden Soekarno dan Angkatan Darat.[11]

Pada pertengahan tahun 1965, berita sakitnya Sukarno memanggil Aidit yang tengah melakukan perjalanan ke Cina untuk pulang sekaligus membawa ahli medis dari Cina. Melihat kondisi Sukarno, pada ahli menyimpulkan bahwa Sukarno akan segera meningggal atau mengalami kelumpuhan permanen. Disis lain terhembus bahwa ada “Dewan Jendral” yang hendak memberontak pemerintah berdasarkan bukti dari pernyataan-pernyataan Aidit dan dengan ditemukannya Telegram Gilchrist.[12] Kaitannya dengan pihak Inggris adalah bersangkut paut dengan persoalan Malaysia.

Usulan pembentukan angkatan kelimapun dilontarkan oleh pihak PKI yang menghendaki masyarakat dipersenjatai, meski hal ini menimbulkan konflik antara PKI dan Angkatan Darat yang dengan terpaksa, Jenderal Achmad Yani menyatakan bahwa Presiden berhak mengambil keputusan semacam itu, selain itu adapula serangan-serangan terbuka terhadap pada elite Angkatan Darat yang berkaitan dengan gaya hidup mereka yang penuh dengan kemewahan maupun dengan sikap-sikap reaksioner yang mereka tampilkan. Ditengah situasi yang demikian, tiba-tiba Sukarno jatuh sakit yang pada gilirannya memunculkan perkejolakan kekuasaan dan mendorong Aidit untuk lebih berjaga-jaga.

Angkatan Daratpun menyelenggarakan pertemuan-pertemuan secara teratur, meski isu tentang Dewan Jendral yang hendak menggulingkan pemerintah semaki merebak luas, hingga pada kritik PKI yang mencap mereka sebagai koruptor dan kapitalis birokrat.

Pada tanggal 30 September malam 1 Oktober 1965, ketegangan-ketegangan meletus karena terjadinya percobaan kudeta di Jakarta yang didalamnya terdapat skenario penculikan jenderal-jenderal yang berakhir dengan pembunuhan sadis. Tepat menjelang fajar Soeharto yang tidak masuk dalam daftar penculikan, pergi ke kostrad setelah mendengar berita tersebut dan langsung mengambil alih komando atas angkatan bersenjata dengan persetujuan jenderal-jenderal angkatan darat.

Paginya, pihak pemberontak mengumumkan melalui radio bahwa “Gerakan 30 September” adalah suatu kelompok militer yang telah bertindak untuk melindungi Sukarno dari kudeta yang telah direncanakan oleh dewan jenderal yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat (CIA).

Referensi:
Buku:



Edman, Peter. 2005. Komunisme Ala Aidit. Center for Information Analysis



Falah, Miftahul. Tt. Pemberontakan Pki 1926 Di Kabupaten Lebak. Jurnal



Karso., Imran, A., dan Setiadi, Asep.  Pelajaran Sejarah Untuk SMTA Kelas 3. Bandung: Penerbit Angkasa



Nurhabsyah. 2004. Pemberontakan PKI Di Silungkung Tahun 1927. Jurnal Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Sumatera Utara



Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi



Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1994. Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang Aksi, dan Penumpasannya. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia



Sudiyo. 2003. Arus Perjuangan Pemuda Dari Masa Ke Masa. Jakarta: Rineka Cipta





Internet:

http://www.mitrafm.or.id/



http://www.sejarahkita.comoj.com/jenny17.html



http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Madiun



http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia









[1] Mahasiswa Program S1 Pendidikan Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

[2] Suatu lembaga pendidikan yang  dimiliki oleh kalangan pembaharu Islam di Sumatera Barat, dimana haji Batuah  merupakan salah seorang pengajarnya (Nurhabsyah, 2004).

[3] berisi perintah kepada cabang Padang supaya mengumpulkan uang derma yang dimaksudkan untuk membeli persenjataan yang akan digunakan untuk melakukan aksi pemberontakan

[4] Di  Rangkasbitung,  empat  orang  tokoh  utama PKI,  yakni  Tjondroseputro,  Atjim,  Salihun,  dan  Thu  Tong  Hin  ditahan  oleh Pemerintah  Hindia  Belanda  pada  akhir  bulan  September  1926 (Falah, TT)

[5] Sebagian  masyarakat  Cina  di  Labuan  dan  Menes  telah  menjual  senjata  dan amunisi  kepada  kaum  pemberontak.  Selain  itu,  ada  juga  orang Cina  yang  telah menjadi  pemimpin  terkemuka  PKI  Banten,  salah  satunya  adalah  Tju  Tong Hin yang bergabung dengan PKI Rangkasbitung. (Ibid)

[6] Boven Digul adalah sebuah kamp tahanan di Papua (id.wikipedia.org)

[7] Kebijaksanaan reorganisasi dan rasionalisasi angkatan perang (Re-Ra) guna membersihkan anasir komunis dari tubuh angkatan perang.

[8] Pada 18 September diumumkan melalui radio bahwa suatu pemerintahan Front Nasional yang baru telah terbentuk. (Ricklefs, 2005)

[9] Semaun dan Tan Malaka menyayangkan pemberontakan karena beranggapan PKI masih lemah dan prematur. Sebaliknya Alimin, Darsono mendukung karena merasa massa(bangsa Indonesia) mendukung gerakan PKI (Sudiyo, 2003)

[10] Hal ini mengakhiri karirnya sebagai pemimpin PKI yang berlangsung hanya delapan puluh hari (Op cit)

[11] Kekuatan pemerintahan seakan-akan tebagi menjadi tiga kubu, yakni Sukarno, PKI, dan AD


[12] Telegram yang ditemukan dikantor keduataan Inggris yang diduga dikirim dari atasannya, didalam telegram terdapat kalimat yang menyatakan ada “orang dalam” yang mendukung Inggris, yang diterjemahkan oleh Aidit sebagai Angkatan Darat (SNRI, 1994)

6 komentar:

aldy pradana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
nanang mengatakan...
Coret-coret memang perlu, tapi untuk mencorat-coret sejarah PKI, musti jeli dan kritis gan..Kolonial dan PKI itu induknya sama lho yaitu filsafat materialisme, sehingga tidak benar jika peristiwa 1926, 1948 adalah penyerangan PKI terhadap kantor-kantor pemerintah..Menurut bukunya M. As'ad Ali, di masa itu PKI membuat agitasi/propaganda luar biasa untuk menebar ketakutan dengan menghancurkan surau, merampok, membunuh dll...
Refsa Nanda mengatakan...
bermanfaat sekali, silahkan juga kunjungi Kumpulan tugas dan materi kelas SMA atau upaya indonesia menghadapi pemberontakan yang mengancam disintegrasi bangsa indonesia dan juga tokoh pejuang indonesia
Refsa Nanda mengatakan...
bermanfaat sekali, silahkan juga kunjungi Kumpulan tugas dan materi kelas SMA atau upaya indonesia menghadapi pemberontakan yang mengancam disintegrasi bangsa indonesia dan juga tokoh pejuang indonesia
Kang David Blitar mengatakan...
Jika pemberontakan PKI 1948 dan 1965 berhasil , semua yang tidak sepaham akan dihabisi dari Indonesia. Sebagaimana korban pembantaian oleh PKI adalah mereka yang tidak sepaham dengan PKI , kemudian dibantai dan dibunuh oleh PKI. Bukti bukti ada di monumen yang ditemui di Madiun Dungus , Magetan dan tempat lain. Korbannya para Kyai , Ulama , Tokoh masyarakat , Pejabat , dsb. Kemungkinan ini yang mengakibatkan sebagian besar rakyat terdiri dari beberapa golongan memusuhi PKI sehingga pembantaian balik terjadi 1965. Lihat juga hasil penelitian Jawa Pos. Itu kejadian yang sudah terjadi. Lebih baik yang sudah , sudah selesai . Bentuk Negara sudah finish yaitu NKRI dg UUD 1945. Sekarang tinggal menjaga bagaimana hal itu jangan sampai terulang , kita bekerja untuk Indonesia. Jangan diungkit lagi akan timbul, gejolak luar biasa . Biarkan jadi sejarah perkembangan NKRI. Pemerintah atau Presiden sebaiknya tidak membahas lagi , hal itu adalah sebagai proses terjadinya NKRI , jadi tidak ada yang salah dan tidak ada dimaafkan dan meminta maaf. Dan kenyataan sebenarnya kita sekarang sudah tidak melihat turunan PKI atau bukan. Benar juga partai PKI dan ajaran dilarang di NKRI karena berlawanan dengan dasar negara Pancasila. Tapi kalau dipaksakan perbedaan akan muncul kembali. Apa boleh buat aku adalah pendukung NKRI dengan Pancasila - nya. Ayo bareng bareng membuat NKRI ayem , makmur , tentrem.
Hendra Hidayat mengatakan...
Salut untuk Kang David Blitar... Setubuh eh Setuju !!!

Poskan Komentar

Komentar sahabat blogger sangat berguna bagi perkembangan artikel (post) pada blog ini :)

Gunakan kotak komentar atas untuk pengguna Facebook dan Gunakan kotak komentar bawah untuk blogger

Minggu, 12 Juni 2016

http://cahyono-adi.blogspot.co.id/2016/06/mengapa-isyu-komunis-harus-disikapi.html#more


Mengapa Isyu Komunis Harus Disikapi Serius

Indonesian Free Press -- Mari kita bayangkan negara ini (Indonesia), dengan kondisi berikut: orang-orang keluarga eks PKI menduduki jabatan-jabatan penting di negara ini hingga menjadi selebritis terkenal. Sebaliknya Pak Soeharto, para ulama dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam penumpasan PKI, justru menjadi pesakitan, yaitu orang-orang yang dianggap bersalah dan dijauhi dalam pergaulan. Kemudian, suara-suara anti agama (Islam) dan pro-komunisme sangat mendominasi dunia informasi, sementara suara-suara dengan spirit agama (Islam) sangat jarang terlihat.

Bulan puasa Ramadhan tidak lagi terasa khusyuk, karena pemerintah justru mendorong rumah-rumah makan dan tempat-tempat maksiat untuk terus buka 24 jam. Sementara orang-orang yang berusaha menjaga kesucian Ramadhan dengan merazia tempat-tempat maksiat justru ditangkapi dan dipenjara dengan tuduhan 'hate crime' dan dicap sebagai orang-orang yang 'intoleran', 'hater', 'tidak demokratis', dll.

Pada tahap selanjutnya umat Islam menjadi tidak berdaya karena tersandera dengan cap-cap 'intoleran', 'hater', 'tidak demokratis' tersebut, sehingga ketika Israel membom Ka'bah pun umat Islam INdonesia tidak mampu untuk sekedar memprotesnya. Sama seperti orang-orang Kristen Eropa yang tidak berdaya dijajah oleh zionis yahudi.

Itulah kondisi yang hendak diciptakan di INdonesia oleh para zionis dan dan antek-anteknya di INdonesia yang kini telah menguasai segala aspek kehidupan di Indonesia, terutama di birokrasi sipil maupun militer, dunia usaha, media massa, dan civil society.

INi bukan bentuk ketakutan yang berlebihan, karena faktanya rakyat Eropa dan Amerika yang awalnya sangat religius Kristen, kini menjadi masyarakat tanpa daya, sehingga ketika Gereja Natifity di Jerussalem yang suci, dibom oleh Israel, tidak ada satupun suara protes yang keluar dari mulut orang-orang Kristen Eropa dan Amerika.

Terkait dengan isyu komunisme, hal ini identik dengan isyu anti-semit yang diluncurkan oleh para zionis di Eropa dan Amerika dan sukses menyandera rakyat Kristen Eropa dan Amerika. Bersamaan dengan kampanye liberalisme yang sangat massif, isyu anti-semit sukses melumpuhkan semangat keagamaan rakyat Eropa dan Amerika, mengubah mereka menjadi robot-robot komsumtif dan hedonis tanpa jiwa.

Maka isyu kebangkitan komunisme harus disikapi dengan serius, namun juga bijaksana. Karena kalau gegabah, justru bisa menjadi legitimasi untuk menyandera ummat Islam.

Isyu kebangkitan komunisme sebenarnya sengaja ditiupkan oleh agen-agen zionisme yang aktif di civil society, media massa, birokrasi, BUMN, untuk menguji sekuat apa respon anti-komunisme rakyat Indonesia. Ketika dianggap rakyat sudah tidak lagi peduli, maka agenda-agenda selanjutnya akan diterapkan yang tujuan akhirnya adalah melumpuhkan perlawanan ummat Islam terhadap liberalisme-zionisme yahudi.(ca)

Menkopolhukam : 

Pemerintah Tidak Akan Minta Maaf ke PKI


Menkopolhukam : Pemerintah Tidak Akan Minta Maaf ke PKI

radarkotanews, Jakarta – Didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Noermantyo dan Menteri Pendidikan Anis Basweda akhirnya Menkopolhukam Luhun Binsar Panjaitan (LBP) bertemu massa aksi anti PKI yang baru selesai mengelar Simposium di Balai Kartini.  Tampak beberapa punggawa Simposium Balai Kartini juga ikut dalam rombongan yang diterima Menkopolhukam seperti Letjend Purn Kiki Syaknari, Laksmana Purn Subianto, May Jend Purn Kivlan Zein, Habib Rizieq ( Ketua FPI), Alfian Tanjung, KH. M.Alkhathat, Mayjen (Purn) Budi Sudjana.

Imam Besar Front Pembela Islam Habib Riziq mengatakan PKI sudah melakukan opini yang salah dimana dikatakan sama orang PKI bahwa yang merupakan korban adalah mereka padahal yang dibantai PKI adalah umat islam. Jangan sampai opini PKI meluas dan meresahakan rakyat Indonesia terutama umat islam.

“Jangan sampai rekonsiliasi merugikan umat islam,” Ucap Imam Besar FPI saat pertemuan dengan Menkopolhukam, Jakarta (36/2016).



Menurut Riiq, umat islam banyak yang meninggal dibantai orang-orang PKI, jangan membuka luka lama yang bisa mengakibatkan bahaya buat bangsa. Negara diminta agar tidak melarang Polri dalam melakukan tindakan terhadap lambang atau simbul-simbol PKI.

“Revolusi mental itu cara-cara PKI maka harus dihilangkan,” tandasnya.

Menkopolhukam LBP dalam tanggapannya mengatakan pelanggaran HAM berat masa lalu sering menjadi sorotan dunia, seperti Peristiwa tahun 65/66, Petrus tahun 1982/1985, Talangsari Lampung tahun 1989, Kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Trisakti, Semanggi dll.

“Kami ingin menyelesaikan pelanggran Ham di Indonesia,” tuturnya.

LBP menjelaskan bahwa Pemerintah tdak akan minta maaf kepada PKI dimana peristiwa G.30 S PKI korbannya kebanyakan TNI. Pemerintah masih mengakui TAP MPRS No. XXV tahun 1966 dan saya sendiri tidak akan mengenai PKI tidak akan lari dari ketentuan dan aturan yang berlaku di Indonesia.

“Mengenai PKI pemerintah tetap berpegang kepada TAP MPRS No. XXV tahun 1966,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama Mendikbud Anis Baswedan menyampaikan bahwa pelurusan sejarah merupakan hal yang sangat penting, masalah budi pekerti, Pancasila dan UUD 1945 akan di masukan dalam kurikulum lagi dan menghapus masalah porno grafi. (EK)

Tragedi Trisakti Mei 1998

Penulis Toto Gutomo, pada 18 Mei 2011

http://iwaka91.blogspot.co.id/2011/05/tragedi-trisakti-mei-1998.html




Pengertian Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti merupakan  peristiwa penembakan mahasiswa pada saat demontrasi yang menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Perisiwa tersebut terjadi  pada tanggal 12 Mei 1998 dan menewaskan empat mahasiswa  Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka-luka. Mereka yang tewas tersebut adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, leher, dan dada. Mahasiswa menuntut pemerintah untuk secepatnya melaksanakan reformasi politik, ekonomi, dan hukum, serta menuntut dilaksanakannya Sidang Umum Istimewa MPR.

Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998 MPR saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan.

Demonstrasi digulirkan sejak sebelum Sidang Umum (SU) MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang serta saat diselenggarakan SU MPR 1998 demonstrasi mahasiswa semakin menjadi-jadi di banyak kota di Indonesia termasuk Jakarta, sampai akhirnya berlanjut terus hingga bulan Mei 1998. Insiden besar pertama kali adalah pada tanggal 2 Mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun Jakarta karena mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor karena mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB sehingga bentrok dengan aparat. Saat itu demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tingi di Jakarta merencanakan untuk secara serentak melakukan demonstrasi turun ke jalan di beberapa lokasi sekitar Jabotabek.Namun yang berhasil mencapai ke jalan hanya di Rawamangun dan di Bogor sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit.

Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa apalagi sejak mereka berani turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presinden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997.

Mahasiswa bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi. Dihadang oleh aparat kepolisian mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakan itu berlansung sepanjang sore hari dan mengakibatkan 4 mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat masuk rumah sakit karena terluka.

Sepanjang malam tanggal 12 Mei 1998 hingga pagi hari, masyarakat mengamuk dan melakukan perusakan di daerah Grogol dan terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta. Mereka kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa. Jakarta geger dan mencekam.



Proses Terjadinya Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti yang di identikkan dengan demontrasi yang menuntut turunnya Soeharto sebagai Presiden merupakan salah satu titik balik. Kematian yang terjadi dalam tragedy tersebut bersama dengan keruntuhan ekonomi, kebrutalan ABRI, korupsi rezim, dan kemustahilan akan adanya reformasi , telah memporak-porandakan benteng terakhir keabsahan rezim dan ketertiban sosial. Kerusuhan missal terjadi di berbagai tempat. Dan yang terparah adalah di Jakarta dan Surakarta. Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama  pembakaran dan penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan obyek serangan utama. Rumah Liem di Jakarta dijarah dan dibakar. Lebih dari seribu jiwa yang tewas di Jakarta.

Jika diamati, peristiwa Trisakti tersebut dilator belakangi oleh Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998, yang terpengaruh oleh krisis finansial Asia. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju gedung DPR/MPR pada pukul 12.30. Namun aksi mereka dihambat oleh blokade dari Polri--militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Akhirnya, pada pukul 17.15 para mahasiswa bergerak mundur, diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Para mahasiswa panik dan bercerai berai, sebagian besar berlindung di universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuhan, dan dilarikan ke RS Sumber Waras. Satuan pengamanan yang berada di lokasi pada saat itu adalah Brigade Mobil Kepolisian RI, Batalyon Kavaleri 9, Batalyon Infanteri 203, Artileri Pertahanan Udara Kostrad, Batalyon Infanteri 202, Pasukan Anti Huru Hara Kodam seta Pasukan Bermotor. Mereka dilengkapi dengan tameng, gas air mata, Styer, dan SS-1.

Pada pukul 20.00 dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam.

Pembabakan waktu terjadinya tragedy Trisakti bisa dilihat di bawah ini.

·         10.30 -10.45

o    Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di pelataran parkir depan gedung M (Gedung Syarif Thayeb) dimulai dengan pengumpulan segenap civitas Trisakti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang di depan mimbar.

·         10.45-11.00

o    Aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama oleh peserta mimbar bebas, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia sekarang ini.

·         11.00-12.25

o    Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.

·         12.25-12.30

o    Massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman.

·         12.30-12.40

o    Satgas mulai siaga penuh (berkonsentrasi dan melapis barisan depan pintu gerbang) dan mengatur massa untuk tertib dan berbaris serta memberikan himbauan untuk tetap tertib pada saat turun ke jalan.

·         12.40-12.50

o    Pintu gerbang dibuka dan massa mulai berjalan keluar secara perlahan menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Untar.

·         12.50-13.00

o    Long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.

·         13.00-13.20

o    Barisan satgas terdepan menahan massa, sementara beberapa wakil mahasiswa (Senat Mahasiswa Universitas Trisakti) melakukan negoisasi dengan pimpinan komando aparat (Dandim Jakarta Barat, Letkol (Inf) A Amril, dan Wakapolres Jakarta Barat). Sementara negoisasi berlangsung, massa terus berkeinginan untuk terus maju. Di lain pihak massa yang terus tertahan tak dapat dihadang oleh barisan satgas samping bergerak maju dari jalur sebelah kanan. Selain itu pula masyarakat mulai bergabung di samping long march.

·         13.20-13.30

o    Tim negoisasi kembali dan menjelaskan hasil negoisasi di mana long march tidak diperbolehkan dengan alasan oleh kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya tersebut merupakan aksi damai. Massa terus mendesak untuk maju. Dilain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dal-Mas) sejumlah 4 truk.

·         13.30-14.00

o    Massa duduk. Lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Aksi damai mahasiswa berlangsung di depan bekas kantor Wali Kota Jakbar. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan mahasiswa. Sementara rekan mahasiswi membagikan bunga mawar kepada barisan aparat. Sementara itu pula datang tambahan aparat dari Kodam Jaya dan satuan kepolisian lainnya.

·         14.00-16.45

o    Negoisasi terus dilanjutkan dengan komandan (Dandim dan Kapolres) dengan pula dicari terobosan untuk menghubungi MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan dengan diselingi pula teriakan yel-yel maupun nyanyian-nyanyian. Walaupun hujan turun massa tetap tak bergeming. Yang terjadi akhirnya hanya saling diam dan saling tunggu. Sedikit demi sedikit massa mulai berkurang dan menuju ke kampus.

o    Polisi memasang police line. Mahasiswa berjarak sekitar 15 meter dari garis tersebut.

·         16.45-16.55

o    Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negoisasi di mana hasil kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE dan Dekan FH Usakti, Adi Andojo SH, serta ketua SMUT massa mau bergerak mundur.

·         16.55-17.00

o    Diadakan pembicaraan dengan aparat yang mengusulkan mahasiswa agar kembali ke dalam kampus. Mahasiswa bergerak masuk kampus dengan tenang. Mahasiswa menuntut agar pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dahulu. Kapolres dan Dandim Jakbar memenuhi keinginan mahasiswa. Kapolres menyatakan rasa terima kasih karena mahasiswa sudah tertib. Mahasiswa kemudian membubarkan diri secara perlahan-lahan dan tertib ke kampus. Saat itu hujan turun dengan deras.

o    Mahasiswa bergerak mundur secara perlahan demikian pula aparat. Namun tiba-tiba seorang oknum yang bernama Mashud yang mengaku sebagai alumni (sebenarnya tidak tamat) berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor ke arah massa. Hal ini memancing massa untuk bergerak karena oknum tersebut dikira salah seorang anggota aparat yang menyamar.

·         17.00-17.05

o    Oknum tersebut dikejar massa dan lari menuju barisan aparat sehingga massa mengejar ke barisan aparat tersebut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara aparat dan massa mahasiswa. Pada saat petugas satgas, ketua SMUT serta Kepala kamtibpus Trisakti menahan massa dan meminta massa untuk mundur dan massa dapat dikendalikan untuk tenang. Kemudian Kepala Kamtibpus mengadakan negoisasi kembali dengan Dandim serta Kapolres agar masing-masing baik massa mahasiswa maupun aparat untuk sama-sama mundur.

·         17.05-18.30

o    Ketika massa bergerak untuk mundur kembali ke dalam kampus, di antara barisan aparat ada yang meledek dan mentertawakan serta mengucapkan kata-kata kotor pada mahasiswa sehingga sebagian massa mahasiswa kembali berbalik arah. Tiga orang mahasiswa sempat terpancing dan bermaksud menyerang aparat keamanan tetapi dapat diredam oleh satgas mahasiswa Usakti.

o    Pada saat yang bersamaan barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata sehingga massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Pada saat kepanikan tersebut terjadi, aparat melakukan penembakan yang membabi buta, pelemparan gas air mata dihampir setiap sisi jalan, pemukulan dengan pentungan dan popor, penendangan dan penginjakkan, serta pelecehan seksual terhadap para mahasiswi. Termasuk Ketua SMUT yang berada di antara aparat dan massa mahasiswa tertembak oleh dua peluru karet dipinggang sebelah kanan.

o    Kemudian datang pasukan bermotor dengan memakai perlengkapan rompi yang bertuliskan URC mengejar mahasiswa sampai ke pintu gerbang kampus dan sebagian naik ke jembatan layang Grogol. Sementara aparat yang lainnya sambil lari mengejar massa mahasiswa, juga menangkap dan menganiaya beberapa mahasiswa dan mahasiswi lalu membiarkan begitu saja mahasiswa dan mahasiswi tergeletak di tengah jalan. Aksi penyerbuan aparat terus dilakukan dengan melepaskan tembakkan yang terarah ke depan gerbang Trisakti. Sementara aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakannya ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus.

o    Lalu sebagian aparat yang ada di bawah menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan yang terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia. Yang meninggal dunia seketika di dalam kampus tiga orang dan satu orang lainnya di rumah sakit beberapa orang dalam kondisi kritis. Sementara korban luka-luka dan jatuh akibat tembakan ada lima belas orang. Yang luka tersebut memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

o    Aparat terus menembaki dari luar. Puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus.

·         18.30-19.00

o    Tembakan dari aparat mulai mereda, rekan-rekan mahasiswa mulai membantu mengevakuasi korban yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda-beda menuju RS.

·         19.00-19.30

o    Rekan mahasiswa kembali panik karena terlihat ada beberapa aparat berpakaian gelap di sekitar hutan (parkir utama) dan sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun. Mahasiswa berlarian kembali ke dalam ruang kuliah maupun ruang ormawa ataupun tempat-tempat yang dirasa aman seperti musholla dan dengan segera memadamkan lampu untuk sembunyi.

·         19.30-20.00

o    Setelah melihat keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar adari ruangan. Lalu terjadi dialog dengan Dekan FE untuk diminta kepastian pemulangan mereka ke rumah masing- masing. Terjadi negoisasi antara Dekan FE dengan Kol.Pol.Arthur Damanik, yang hasilnya bahwa mahasiswa dapat pulang dengan syarat pulang dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang). Mahasiswa dijamin akan pulang dengan aman.

·         20.00-23.25

o    Walau masih dalam keadaan ketakutan dan trauma melihat rekannya yang jatuh korban, mahasiswa berangsur-angsur pulang.

o    Yang luka-luka berat segera dilarikan ke RS Sumber Waras. Jumpa pers oleh pimpinan universitas. Anggota Komnas HAM datang ke lokasi

·         01.30 (13 Mei 1998)

o    Jumpa pers Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin di Mapolda Metro Jaya. Hadir dalam jumpa pers itu Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami Nata, Rektor Usakti Prof Dr Moedanton Moertedjo, dan dua anggota Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto.



Dampak Tragedi Trisakti Bagi Indonesia

Perjuangan para pejuang reformasi tidak sia-sia. Peristiwa tersebut juga menumbuhkan semangat tali persaudaraan dan menggiatkan upayan yang berkaitan dengan kebangkitan demokrasi dan HAM.

Selain itu, setelah tragedi tersebut, Trisakti mengadakan mata kuliah Kebangkitan, Demokrasi, dan HAM yang wajib diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa Trisakti. Dengan harapan akan segera dibentuk peradilan yang benar-benar adil untuk kasus-kasus HAM.

Tidak lama setelah kejadian tersebut, presiden Soeharto mengundurkan diri dan digantikan oleh wakilnya, yakni B.J Habibie. Sorak sorai mahasiswapun terdengar tanda revolusi telah datang.

Daftar Rujukan

·         M. C. Ricklefs, 2005, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004, Jakarta: Serambi

·         http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Trisakti

·         http://www.semanggipeduli.com/Sejarah/frame/trisakti.html

·         http://megapolitan.kompas.com/read/2009/05/12/09342471/11.tahun.tragedi.trisakti

·         http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Reformasi/Chronicle/Kompas/May13/enam01.htm

·         http://indoprotest.tripod.com/051606.htm

·         http://elsam.minihub.org/img/asasi/2002_0506/03.gif

·         http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Semanggi

·         http://elsam.minihub.org/kkr/Trisakti.html




Hasil Investigasi :

Jokowi Terbukti Kader PKI

Keberangkatan tim investigasi dalam rangka mencari jati diri Joko Widodo yang sebenarnya sengaja dirahasiakan demi alasan keamanan anggota tim dan mencegah antisipasi dari pihak – pihak yang berada di balik rekayasa pembentukan citra palsu tentang Joko Widodo atau Jokowi.
Hasil investigasi makin menunjukan kebenaran atas tudingan bahwa Jokowi adalah kader PKI, di mana ayah kandung sebenarnya bernama Widjiatno Mihardjo mantan Ketua Operasi Perlawanan Rakyat (OPR) PKI Boyolali.
Berikut ini hasil investigasinya.

image

Rekayasa pembentukan citra palsu terkait Jokowi sudah dilakukan secara intensif sejak Jokowi menjabat walikota Solo tahun 2005 lalu. Jokowi mendapat kompensasi besar dari pihak tertentu atas ‘bantuannya’ terhadap operasi pemberantasan ‘terorisme’ di Solo yang dilancarkan secara rahasia oleh intelejen AS dan oknum intelijen Indonesia.
Solo atau Surakarta dijadikan sebagai pusat medan perang pemberantasan terorisme oleh pihak intelijen AS semata – mata hanya berdasarkan kesaksian Hambali, tokoh terorisme yang ditahan AS di Guantanamo, saat dalam tekanan penyiksaan brutal pihak AS, menyebut Pesantren Ngruki di bawah pimpinan Ustad Abu Bakar Baasyir sebagai pusat terorisme Indonesia. Jokowi sebagai walikota Solo berperan membantu misi intelijen AS tersebut.
Pada tahun 2008, Jenderal Luhut Panjaitan sepakat ‘bermitra usaha’ dengan Jokowi melalui patungan pendirian PT Rakabu Sejahtera. Luhut selaku pemegang saham minoritas menyetor modal Rp. 15.5 miliar dan Gibran Rakabuming (anak tertua Jokowi, berusia 20 tahun pada 2008 lalu) menyetor Rp. 16.2 miliar. Luhut masuk sebagai pemegang saham di perusahaan milik Jokowi itu melalui PT. Toba Sejahtera, Induk grup usaha milik Luhut. Apa hidden agenda Luhut Panjaitan mendekati Jokowi sejak 6 tahun lalu itu ? Nanti kami sampaikan temuan – temuan tim investigasi.
Begitu tiba di bandara Adi Soemarno Solo, tim langsung memesan taksi menuju Bantaran Kali Pepe, Munggung, Manahan Solo yang selalu disebut – sebut dalam daftar riwayat hidup Joko Widodo sebagai rumah pertama keluarga Joko Widodo yang jadi korban penggusuran.
Perjalanan dari Bandara Adi Soemarno ke Bantaran Kali Pepe, Munggung Manahan Solo sekitar 38 menit. Setiba di di Bantaran Kali Pepe, tim langsung bertanya – tanya kepada warga setempat mengenai lokasi rumah pertama Joko Widodo yang selalu dicantumkan di riwayat hidup Joko Widodo menjadi korban penggusuran pertama oleh Pemda Surakarta. Dari belasan warga Bantaran Kali Pepe, tidak seorang pun warga yang mengetahui lokasi rumah pertama orang tua Joko Widodo. Bahkan semua warga di sana tidak yakin keluarga Joko Widodo pernah bertempat di Bantaran Kali Pepe, Manahan, Banjarsari, Surakarta.
Setelah hampir 1 jam bertanya – tanya, akhirnya tim investigasi disarankan menjumpai seorang warga Bantaran Kali Pepe yang merupakan teman kecil Iriana, istri Joko Widodo.
Yuli Susanto, itulah nama warga Bantaran Kali Pepe yang merupakan teman masa kecil Iriana. Rumahnya tidak jauh, sekitar 200 meter dari mulut gang jalan masuk menuju bantaran kali. Sampai rumah dimaksud, tim disambut hangat oleh Pak Yuli dan istrinya. Anak – anak mereka sedang berada di luar, mengikuti ibadah kebaktian Minggu.
Setelah memperkenalkan diri, tim langsung menanyakan kebenaran informasi rumah pertama orang tua Jokowi yang disebutkan beralamat di Bantaran Kali Pepe. Yuli Susanto, pria berusia hampir 50 tahun itu mengatakan tidak benar orang tua Joko Widodo pernah tinggal di sekitar Bantaran Kali Pepe. Yuli mengenal Joko Widodo selama puluhan tahun, sejak Jokowi bersekolah dasar di SD 111 Tirtoyoso, Manahan, Solo.
Berdasarkan keterangan Yuli Susanto, orang tua Joko Widodo bertempat tinggal di Jalan Ahmad Yani persis di depan Pool Bus Damri. Tetapi rumah itu sekarang tidak lagi ditempati oleh keluarga Joko Widodo. Yuli menambahkan, semasa kecil Joko Widodo selalu main di rumah paklek (adik bapaknya) yang bernama Miyono, seorang pengusaha mebel yang rumahnya juga berada persis di pinggir jalan Ahmad Yani. Miyono menjalankan perusahaan mebelnya bernama CV Roda Jati.
Mengenai siapa kedua orang tua Jokowi, Yuli Susanto mengaku tidak mengetahui persis. Tetapi dia mengaku kenal baik dengan keluarga istri Jokowi, karena Iriana atau Ana adalah teman sebaya dan sepermainan. Ayah kandung Iriana adalah seorang guru SMA. Iriana atau Ana memiliki 4 orang saudara, masing – masing bernama : Anik, Anto, Andi dan Anjas.
Mengenai kehidupan Joko Widodo semasa kecil, Yuli Susanto mengatakan Jokowi adalah anak orang berada karena ayah dan pakleknya adalah pengusaha mebel terkemuka di daerah itu. Jokowi sering datang bermain ke rumah pamannya itu dengan bersepeda. Pada masa itu sepeda untuk anak – anak adalah barang mewah dan hanya dimiliki oleh anak orang kaya saja.
Masa kecil Jokowi, memang jarang terlihat di sekitar rumahnya, dia lebih suka bermain di sekitar rumah pakleknya (pamannya) di pertigaan Jalan Ahmad Yani dan MT Haryono. Keengganan Jokowi kecil bergaul bersama anak sebaya di sekitar rumahnya, karena dia kurang suka pada teman – teman sebaya tetangganya yang selalu memanggilnya “Joko Klemer”.

image

Ejekan “Joko Klemer” diberikan teman – temannya karena penampilan Jokowi yang kayak perempuan atau kebanci – bancian. Perilaku ‘agak menyimpang’ dari Jokowi ini dapat dimaklumi karena semua adik Jokowi adalah perempuan. Masing – masing bernama Iit Sriyanti, Hidayati dan Titik Ritawati. Ketiga adik perempuannya ini menjadi teman seharian Jokowi semasa kecil hingga remaja di Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta.
Karena ejekan “Joko Klemer” dari teman sebaya dan tetangganya itu, Jokowi atau Mas Joko jarang sekali bergaul di lingkungan tempat tinggalnya RT 03/14 dan lebih sering bermain di rumah Miyono pamannya di Jalan Ahmad Yani persis simpang jalan MT Haryono, Surakarta (Solo).
Tim Investigasi mohon pamit pada Pak Yuli Susanto setelah berbincang – bincang seputar diri Jokowi dan istrinya Iriana. Pak Yuli menawarkan diri mengantar kami ke rumah Jokowi yang berjarak hanya ratusan meter dari rumah Pak Yuli yang di gang bantaran kali Pepe, Munggung itu. Tawaran itu ditolak halus oleh tim, keterangan dari Pak Yuli Susanto sudah cukup jelas sebagai pedoman untuk mencari rumah Pak Widjiatno, ayah kandung Joko Widodo. Pak Yuli sebelumnya juga sudah berbaik hati menggambar denah lokasi rumah Widjiatno. Coretan itu disimpan tim, sekedar berjaga – jaga untuk dipergunakan bilamana perlu.
Meski menolak tawaran Pak Yuli mengantar ke rumah asal muasal dan tempat Joko Widodo dibesarkan, tim tak kuasa menampik ketika Yuli turut mengantar tim menyusuri gang keluar dari pinggiran bantaran kali Pepe, berbelok ke kiri hingga sampai di mulut gang simpang jalan Ahmad Yani. Dari depan mulut gang bantaran kali Pepe itu, persis di seberang jalan itu tampak rumah kediamanan Miyono, pengusaha Meubel pemilik CV Roda Jati, paklek atau adik almarhum Widjiatno ayah kandung Joko Widodo.

image

Rumah Miyono terlihat menonjol dibandingkan rumah – rumah lain di sekitarnya. Rumah berwarna krim itu sangat besar dan tertutup tembok cukup tinggi yang menjadi penghalang pihak luar untuk melihat ke sisi dalam rumah. Tim investigasi menyeberangi jalan Ahmad Yani untuk mendekati rumah dan mengintip ke dalam halaman rumah yang cukup luas itu. Terlihat 4 (empat) mobil mewah berada di garasi mobil yang dibangun di sisi kanan halaman rumah.
Di sebelah kanan rumah itu, terdapat sebuah rumah yang dibatasi tembok tunggal dan pagar yang sama model bentuk dan warna catnya dengan rumah Miyono. Menurut pedagang warung kopi di seberang jalan depan rumah Wiyono, pemilik rumah yang berdempetan dengan rumah besar Miyono itu, juga adalah milik keluarga Miyono. Kemungkinan rumah itu milik anak Miyono yang sudah berkeluarga, mengingat bentuk rumah, pagar dan catnya semua sama dengan rumah Miyono. Rumah sebelah itu luasnya sekitar tiga perempat luas rumah Miyono dan di depan rumah terpampang plank 1 x 1/2 meter bertulisan “Menjual Berbagai Jenis Oleh – Oleh Dari Tanah Suci – Mekah”.
Tim investigasi mencoba menengok ke sisi dalam kedua rumah yang mirip bentuk, model dan warna catnya itu. Sepi. Tidak terlihat seorang pun di dalam ke dua rumah itu. Hanya jejeran mobil mewah parkir di garasi halaman rumah. Menurut, penjual warung kopi di seberang jalan rumah, sebulan terakhir ini penghuni rumah jarang terlihat di dalam rumah. Hanya petugas pengamanan berseragam yang sesekali terlihat berada di dalam pos penjagaan yang terletak di sisi kiri rumah utama, persis di bagian depan dalam pintu masuk rumah.
Rencana tim investigasi masuk ke dalam rumah Miyono yang terletak persis di pertigaan Jalan Ahmad Yani – MT Haryono itu kandas karena tak seorang pun dapat dimohonkan izinnya dan tak terlihat tanda – tanda penghuni bangunan besar yang cukup mewah itu ada di dalam rumah.
Dengan menumpang kembali taksi bandara yang masih setia menunggu, dari depan rumah Miyono, tim bergerak meluncur ke rumah Widjiatno di kawasan Tirtoyoso, Manahan. Sesuai petunjuk Pak Yuli, rumah itu berada di sebelah kiri jalan Ahmad Yani. Setelah melewati dua pertigaan kecil, tim investigas tiba di pertigaan jalan persis di depan Pool Bus Damri. Tim meminta supir berbelok ke kiri jalan yang menuju ke arah stadion Manahan Solo itu. Seratus meter dari pertigaan jalan masuk tadi, ada persimpang tiga lagi. Kami turun dari taksi dan berjalan kaki menelusuri satu per satu rumah di sekitar itu sembari mencari – cari warga yang dapat diminta informasinya mengenai rumah keluarga Widjiatno, ayah kandung mantan walikota Solo, Joko Widodo.
Sasaran atau target utama tim investigasi adalah warga Tirtoyoso yang berusia di atas 50 tahun, yang potensial merupakan bekas teman sepermainan Jokowi dan atau mengenal persis siapa dan bagaimana Jokowi sewaktu belia. Melalui penjaga warung kecil di depan salah satu rumah warga, kami mendapat informasi rumah lama keluarga Widjiatno persis di belakang salah satu rumah warga yang saat itu terlihat ramai karena sedang berlangsung acara ibadah kebaktian Minggu. Kami segera mendatangi rumah warga yang hanya berjarak 30 meter dari warung kecil itu.
Kebetulan acara ibadah Kebaktian Minggu sudah selesai dan suasana di dalam rumah terdengar riuh dengan suara tawa dan perbincangan jamamaah. Setelah mengucapkan salam dan menyapa sebagian tamu yang duduk di teras depan rumah itu, kami dipersilahkan masuk ke halaman rumah dan dipersilahkan dengan hangat duduk di teras oleh tuan rumah, seorang ibu lewat paruh baya yang berusia sekitar 50 tahun. Setelah berbasa basi sebentar, kami bertanya tentang lokasi rumah Pak Widjiatno, ayah kandung Gubernur DKI Jakarta, yang sekarang sedang mencalonkan diri jadi presiden Indonesia.
Dari keterangan Ibu Soenarso, tuan rumah acara kebaktian itu, kami mendapatkan informasi bahwa rumah keluarga Joko Widodo persis berada di belakang rumahnya. Sisi belakang rumah keluarga Sunarso itu berdempetan dengan sisi belakang rumah keluarga Widjiatno yang menghadap ke jalan besar atau jalan raya Ahmad Yani.
Menurut Bu Sunarso dan para tamu yang hadir di rumah itu, keluarga Widjiatno sudah cukup lama tidak menempati rumah miliknya karena sudah pindah ke daerah Sumber, yang berlokasi cukup jauh, sekitar 4 kilometer dari rumah pertama mereka. Rumah keluarga almarhum Widjiatno itu sekarang dihuni oleh orang lain yang diduga masih merupakan kerabat dan ditugaskan khusus untuk menjaga rumah itu.
Salah seorang tamu di rumah Keluarga Soenarso, yang bernama Pak Wiyono mengaku mengenal baik almarhum Widjiatno, ayah kandung Jokowi. Pak Wiyono yang berusia 78 tahun itu adalah tetangga dekat eyang atau kakek kandung Jokowi yang merupakan lurah di Kragan, Karanganyar, Surakarta.
Dari keterangan Wiyono, tim mendapat informasi bahwa kakek Jokowi dijuluki “Lurah Dongkol” karena menjabat sebagai lurah selama puluhan tahun dan tidak pernah diganti hingga meninggal dunia. Wiyono mengenal baik ayah kandung Jokowi hingga sekitar tahun 1980an. Dia jarang bertemu ayah kandung Jokowi itu sejak Widjiatno pindah dari rumah ayahnya di Kragan, ke rumah barunya di Tirtoyoso, Manahan Solo.
Tim investigasi sayangnya tidak bisa lama berbincang dengan Pak Wiyono karena terus didesak oleh Bu Soenarso untuk segera menjumpai Pak Margono, mantan ketua RT 03 yang sejak tahun 1990 hingga sekarang menjabat selaku ketua RW 14, Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta. Menurut Bu Soenarso, Pak Margono adalah orang yang paling tahu dan mengenal keluarga Widjiatno dan Jokowi karena sejak tahun 1977, Margono sudah menjadi warga RT 03 dan menjabat Ketua RT sejak tahun 1983.

image

Pak Margono, sesepuh warga Tirtoyoso, mantan ketua RT 03/14 dan sekarang menjabat ketua RW 14 Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta.
Setiba di depan rumah tinggal Pak Margono, tim mengucapkan salam dan menyerukan nama Pak Margono. Rumah berpagar besi cat hijau itu terlihat sepi. Pintu pagar tergembok, namun pintu dan jendela rumahnya terbuka, menandakan ada penghuni di dalamnya.
Sekitar dua menit menunggu, muncul keluar seorang tua dengan senyum ramah mempersilahkan masuk sembari bergegas membuka gembok pagar rumah. Kami pun kemudian masuk dan dipersilahkan duduk di kursi di teras rumah Ketua RW itu. Pak Margono menjelaskan rumahnya terlihat sepi karena anak – anaknya sudah berkeluarga dan pindah ke kota lain.
Setelah memperkenalkan diri, tim mulai bertanya dan mengorek informasi tentang keluarga almarhum Widjiatno dan fakta – fakta seputar kehidupan Joko Widodo alias Jokowi.
Pak Margono menjelaskan bahwa tim kami ini adalah tamu kedua yang mendatangi rumahnya dan bertanya – tanya tentang keluarga besar Jokowi. Sebelum kami, Pak Margono dikunjungi wartawan dari Solopos. Beliau menyatakan keheranannya kenapa informasi atau berita yang beredar tentang diri Jokowi dan keluarganya sama sekali berbeda dengan kenyataan sebenarnya.
Pak Margono adalah pensiunan guru PNS. Dia dan keluarga pindah, menjadi warga RT 03/RW 014 Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta (Solo) sejak tahun 1977. Dia mengenal baik hampir semua warganya, termasuk Jokowi yang terakhir datang ke rumahnya sekitar setahun lalu dalam rangka meminta surat pengantar Ketua RW untuk suatu keperluar Gibran Rakabuming, anak tertua Jokowi.
Tim investigasi memulai pertanyaan dengan meminta konfirmasi apakah benar rumah di Jalan Ahmad Yani, persis di depan pool bus Damri adalah rumah alm Widjiatno, ayah kandung Joko Widodo. Pak Margono membenarkan informasi itu dan menegaskan bahwa hingga sekarang ini, rumah itu tetap masih merupakan rumah milik keluarga besar Joko Widodo.
Ketua RW 14 Manahan Solo itu, membantah jika disebutkan rumah alm Widjiatno itu telan dijual. Menurutnya, jika rumah itu sudah dijual, tentu sebagai Ketua RW, pihaknya mengetahui secara pasti. Mengingat setiap transaksi jual beli rumah harus melampirkan surat keterangan dari Ketua RW setempat. Menurut beliau, rumah bekas kediaman keluarga Jokowi itu sekarang ditempati oleh orang lain, diduga masih merupakan kerabat keluarga Jokowi.
Pak Margono menegaskan bahwa Joko Widodo tidak pernah memiliki nama kecil Mulyono atau Mulyatno. Dari dulu nama Joko Widodo adalah Joko Widodo, biasa dipanggil Mas Joko.
Mengenai agama Joko Widodo dan keluarganya, sesuai catatan RT dan RW serta KTP yang diterbitkan kelurahan Manahan, kecamatan Banjarsari, Surakarta, agama Joko Widodo adalah Islam. Meski begitu, Pak Margono mengaku seumur hidupnya selama tinggal di Tirtoyoso, Manahan, Joko Widodo tidak pernah terlihatnya mengerjakan Shalat sebagaimana lazimnya umat islam.
Keterangan Margono dan tetangga Jokowi itu menjawab pertanyaan besar mengenai agama Jokowi selama ini. Jokowi beragama Islam tapi dipastikan baru akhir – akhir ini dia mengerjakan shalat. Terbukti dengan ketidakpahaman Jokowi mengenai tata cara bersuci (berwudhu) dan tata cara shalat berjamaah.
Ayah Jokowi bernama Widjiatno dan Ibunya bernama Sudjiatmi berasal berasal dari desa Giroroto, Boyolali, sekitar 12 kilometer dari Solo dan Klaten, yang dikenal dengan nama daerah segitiga Solo – Boyolali – Klaten. Sejarahwan menyebut daerah itu sebagai pusat atau basis gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di era 1960an. Apakah ini sebabnya Jokowi selalu rahasiakan asal usul kedua orang tuanya ?
Dari hasil investigasi ke Kragan, Karanganyar, diketahui Ayah Jokowi bernama Widjiatno Mihardjo, anak Wirjo Mihardjo Kepala Desa atau Lurah Kragan, Karanganyar, Jawa Tengah, adalah orang berada atau cukup kaya pada jamannya.
“Wiryo Miharjo orang terpandang di desa ini. Beliau Kepala Desa di tempat ini. Bahkan Wiryo itu bisa dikatakan Kepala Desa seumur hidup. Saya tahu pasti itu, karena saya dulunya bawahan Wiryo,” papar Marbi saat ditemui di kediamannya, di Dusun Kauman Desa Kragen, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Marbi mengatakan selain Wiji ayah dari Jokowi, Wiryo Miharjo memiliki lima orang anak yaitu Wahyono, Mulyono, JokO Sudarsono, Heru Purnomo. Dan ayah Jokowi sendiri, Wiji merupakan anak tertua dari lima bersaudara tersebut.
Menurut Marbi, meskipun memiliki lima orang anak, Wiryo Miharjo tak kesulitan dalam menafkahi. Pasalnya seluruh anak-anak Wiryo, termasuk ayah Jokowi semua diberi warisan.
Ayah Jokowi sendiri, Wiji, diberi selepan (penggilingan padi) sebelum akhirnya selepan itu dijual ke saya pada tahun 1977 seharga Rp 6 juta. Penggilingan padi itu dijual bukan karena kesulitan ekonomi, tapi karena Wiji pindah ke daerah Sumber di Solo, sekitar 30 tahun yang lalu,” paparnya.
Meskipun Wiji telah menjual penggilingan padi, namun Wiryo Miharjo tetap memberikan modal kepada Wiji. Hanya saja, Marbi tak mengetahui pasti usaha apa yang diberikan Wiryo kepada anak tertuanya itu.
Sepengetahuan Marbi, ayah Jokowi, Wiji selanjutnya pindah dari Karanganyar menuju tempat tinggalnya saat ini di sekitar Balaikambang hingga sekarang.
“Terus terang saya kaget waktu dengar kalau katannya Jokowi tiga kali digusur. Setahu saya, sejak pindah hingga saat ini, rumahnya tidak pernah pindah-pindah. Ya di situ terus. Kalau tidak salah di depannya sekarang ada garasi bus Damri,” katanya.
Hal senada diutarakan warga lainnya Kasurin (60) yang mengaku sangat akrab dengan Wiji, ayah Jokowi. Meskipun bukan teman seumuran dengan Wiji, karena Wiji anak kepala desa dimana dirinya tinggal, praktis sebagai warga biasa merasa bangga bisa berteman dengannya.
“Yen wong jowo bilang, keluargane Jokowi, si Wiji kui balung gajah. Ora bener yen ono sing ngomong keluargane Jokowi kui wong ora mampu. Bondone tanah okeh ning endi-endi. (Kalau orang jawa bilang, keluarganya Jokowi, si Wiji (ayah Jokowi) itu dari keluarga mampu. Tidak benar kalau ada yang bilang keluarganya Jokowi orang tidak mampu. Harta tanah banyak dan ada dimana-mana),” jelas Kasurin..
Kebohongan demi kebohongan dilakukan Jokowi tanpa diketahui motifnya. Beberapa hari lalu, terungkap kebohongan lain Jokowi yang sangat mengagetkan publik, yakni keberadaan Jokowi di makam tokoh komunis Rusia Boris Yeltsin. Dalam rangka apa Jokowi ke Rusia dan meziarahi makam tokoh komunis itu, masih tanda tanya.

image

Hasil penelusuran tim dari data yang ada, Jokowi memang pernah ke China dan Rusia pada tahun 2007-2008 lalu.

image
image
Ketika sedang kampanye pilkada DKI Jakarta tahun 2012 lalu, Jokowi sempat diberitakan berbagai media salah dalam melaksanakan wudhu ketika hendak shalat Jumat di sebuah mesjid kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, di mana setelah membasuh muka, Jokowi langsung membasuh kaki.
Demikian juga ketika Jokowi menjadi imam dalam shalat zuhur berjamaah, Jokowi menjaharkan (mengeraskan suara) ketika membaca surat al fatihah. Disangkanya, adab shalat zuhur sama dengan shalat Jumat.
Sebuah pernyataan menggelikan juga dilontarkan Jokowi ketika diminta untuk jadi imam shalat berjamaah bersama Jusuf Kalla minggu lalu. Jokowi yang diminta jadi imam oleh Jusuf Kalla, menjawab, ” Saya kira Pak JK tadi berwudhu”. Pernyataan Jokowi itu sempat membingungkan JK dan orang – orang yang mendengarnya. Terbukti juga Jokowi ketika menjadi shalat salah dalam membaca surat alfatihah. Jokowi memang diajar kilat untuk bisa mengerjakan shalat oleh seorang ustad. Kursus kilat shalat ini dilakukan Jokowi pertama kalinya saat mengikuti pilgud DKI Jakarta. Seusai pilgub, kursus berhenti dan baru dimulai lagi saat mengikuti pilpres. Belajar shalat hanya untuk kepentingan pencitraan dan untuk menyamar jadi seorang islam yang sebenarnya.
Menurut para tetangga, warga RT 03/14 Tirtoyoso, Jokowi atau Mas Joko juga sangat jarang bergaul dengan tetangga atau bermain dengan teman – teman sebayanya di sekitar rumah tinggalnya. Joko tidak pernah ikut terlibat dalam kegiatan remaja, Karang Taruna dan kegiatan – kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya di kawasan Tirtoyoso, Manahan.
Ketika ditanya pendapat beliau, kenapa atau apa kira – kira yang menjadi alasan Joko enggan bergaul dengan tetangga sekitarnya, Pak Margono menjawab dirinya tidak tahu persis.
“Saya tidak tahu persis kenapa. Setahu saya, Joko itu anak rumahan. Kegiatan masa remaja mas Joko hanya di rumah dan sekolah. Joko lebih sering terlihat bermain – main dengan adik – adinya yang semuanya wanita,” jelas Margono kepada tim investigasi pada hari Minggu 25 Mei 2014 lalu.
Mengenai tudingan bahwa Joko Widodo itu keturunan cina, dibantah oleh Pak Margono. “Itu tidak benar. Almarhum Widjiatno atau sekarang disebut orang sudah diganti dengan nama panggilan Noto Mihardjo adalah pribumi asli. Wong Jowo kok. Eyang Kakung (eyang laki – laki) Joko itu adalah Lurah Kragan, Karanganyar. Ga mungkin jadi lurah tempo dulu kalau beliau itu cina,” tegas Pak Margono. Dia heran tak habis pikir kok ada tudingan Jokowi dan keluarganya adalah keturunan cina.
Penelusuran tim investigasi membuktikan bahwa isu Jokowi adalah keturunan cina sengaja ditiupkan kubu Jokowi untuk mengalihkan isu mengenai siapa sebenarnya Jokowi, sekaligus untuk meraih simpati publik seolah – olah Jokowi dizalimi dengan fitnah keji.
Latar belakang Jokowi yang diberitakan miskin atau dari keluarga tidak mampu, juga dipertanyakan Pak Margono. Mantan guru ini tidak mengerti kenapa bisa muncul berita itu. Ayah Joko Widodo bernama Widjiatno termasuk pengusaha meubel yang sukses, meski pada saat itu belum sesukses Jokowi ketika mengambilalih dan mengelola usaha peninggalan ayahnya. Sedangkan ayahnya menekuni profesi tukang kayu berawal dari keluarga istrinya (ibu Jokowi) yang berprofesi tukang kayu di Giriroto Boyolali sebagai usaha keluarga turun temurun.
Dengan lancar dan yakin, Pak Margono menerangkan bahwa Widjiatno yang dikenalnya baik itu masih hidup atau belum meninggal dunia ketika Jokowi menikah dengan Iriana. Pak Margono bahkan menjelaskan dirinya sempat berfoto bareng bersama Pak Widjiatno ketika pesta perkawinan Joko Widodo – Iriana dilangsungkan. Sayangnya, ketika tim investigasi meminta diperlihatkan foto tersebut, Pak Margono yang sudah berusaha mencarinya, gagal menemukan foto itu. Ternyata, album foto – foto perkawinan Joko Widodo yang diselenggarakan secara cukup mewah pada jamannya itu, terbawa oleh putra Pak Margono yang sekarang tinggal di Tegal, Jawa Tengah. Beliau berjanji akan memintanya kembali agar dapat diperlihatkan ketika kami mampir lagi jika diperlukan.
Jokowi memang tidak pernah menjelaskan alasan kenapa dia memalsukan nama ayah kandungnya, aslinya Widjiatno, dipalsukan jadi Noto Mihardjo. Penjelasan/ bantahan Jokowi bhw ayahnya bukan Widjiatno tidak pernah dilakukannya. Jokowi belakangan malah mengakui, nama asli ayahnya Widjiatno Mihardjo.
Widjatno atau Widjiatno Bin Wirjo Mihardjo adalah tertua dari 5 bersaudara anak – anak mantan lurah Kragan, Karanganyar : Wirjo Mihardjo.
Widjiatno atau Widjiatno Bin Wirjo Mihardjo saat dewasa pindah ke Giriroto, Ngemplak Boyolali. Di Giriroto Widjiatno menikahi Sudjiatmi.
Masa kecil Widjiatno atau Widjiatno Bin Wirjo Mihardjo dihabiskan di Desa Kragan, Karang Anyar, namun saat dewasa Widjiatno pindah ke Giriroto, Ngemplak Boyolali. Di Giriroto, Widjiatno menikahi Sudjiatmi, dan sejak menikah pada tahun 1959, mereka tinggal di Giriroto Ngemplak Boyolali sampai tahun 1969.
Sesuai pengakuan Jokowi saat resmikan RS Katolik Brayat Minulyo Solo, Jokowi ngaku lahir di RS itu. Ibunya juga ngaku begitu. Padahal, sebelumnya Jokowi SELALU mengaku dia lahir di Bantaran Kali Pepe Munggung, Manahan, Banjarsari, Surakarta/Solo. Padahal, ibu Jokowi, Sudjiatmi thn 2010 mengaku Joko Widodo lahir di desa Giriroto, Ngemplak Boyolali. Kenapa terjadi perbedaan mengenai data ini? Wajar bilamana rakyat bertanya ingin tahu.
Merujuk pengakuan warga Giriroto dan sudjiatmi sendiri, mereka pindah ke Solo dari Boyolali thn 1969/ 1970. Pertanyaannya kenapa Jokowi yang lahir tahun 1961, mengaku dilahirkan di Solo?
Sampai hari ini, kebenaran atau fakta sesungguhnya tentang Jokowi masih MISTERIUS. Tanda tanya besar ??
Beda lagi pengakuan Rudyatmo Walikota Solo pengganti Joko Widodo. Ia mengaku tidak kenal Jokowi pada awalnya, tetapi Rudyatmo mengaku mengenal ayah Jokowi, yakni Widjiatno sebagai sesama kader PDI (belum PDIP).
Rudyatmo mengaku dikenalkan dengan Jokowi pada tahun 2004 saat akan pilkada walikota Solo oleh SENO KUSUMOHARJO, seorang seniman dan tokoh PDI Boyolali, yang juga adalah kakak Bupati Boyolali SENO SAMODRO
Rudyatmo mengaku mengenal baik ayah Jokowi yang bernama Widjiatno karena Widjiatno adalah Koordinator Satuan Tugas (Satgas) PDI Boyolali.
Boyolali adalah kabupaten basis PKI, dimana pada tahun 1955 PKI menang 21 dari 34 kursi DPRD. Boyolali dijuluki KABUPATEN MERAH karena statusnya sebagai Basis PKI. Boyolali juga merupakan Markas Komando TENTARA MERAH, yang adalah penjelmaan Batalion Pasoepati, yaitu batalion desertir TNI yang tidal bersedia atau menolak pembubaran diri rasionalisasi TNI.
Berdasarkan keterangan Wijono, teman Widjiatno, disebutkan bhw sebelum jadi Koordinator Satgas PDI Boyolali, Widjiatno Komandan OPR, yakni Operasi Pertahanan Rakyat. Ada juga yang menyebutnya Organisasi Pertahanan Rakyat, adalah salah satu sayap milisi PKI dari Pemuda Rakyat.
Apakah jokowi mampu membantah ayah kandungnya Widjiatno Mihardjo adalah seorang Komandan OPR PKI sebelum menjadi Koordinator Satgas PDI Boyolali ?
Berdasarkan keterangan Wijono, ayah Jokowi memang sempat “hilang” selama 4 – 5 tahun 1965 – 1969.
Apakah Widjiatno hilang karena ditangkap TNI atau lari sembunyi ke gunung merbabu, kemukus atau lainnya? Belum diketahui pasti
Apakah ayah Jokowi, Widjatno terlibat G30S PKI dlm pembantaian/pembunuhan puluhan umat islam di Giriroto pada 1 Oktober 1965? Belum diketahui.
Rasa penasaran terhadap latar belakang kehidupan Jokowi membawa langkah tim investigasi menuju lokasi pabrik PT. Rakabu Sejahtra yang didirikan Jokowi pada tahun 2009 bersama Jenderal Purn. Luhut Binsar Panjaitan.

image

Dari data yang ditemukan, Luhut dan Jokowi sepakat mendirikan perusahaan bersama di mana Jokowi menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 51% dengan setoran modal Rp 16,19 miliar atas nama anaknya Gibran Rakabuming yang saat itu baru berusia 20 tahun. Sedangkan Luhut tercatat sebagai pemegang saham minoritas sebesar 49% dengan setoran modal Rp 15,5 miliar pada PT Rakabu Sejahtra. Kemitraan usaha Jokowi dan Luhut Panjaitan ini selalu disembunyikan atau dirahasiakan mereka dari publik. Bahkan Luhut Panjaitan pada awalnya selalu menyembunyikan hubungan antara dirinya dengan Jokowi. Nama PT Rakabu Sejahtera merupakan gabungan nama PT Rakabu Furniture milik Jokowi dan PT Toba Sejahtra milik Luhut Panjaitan.
PT Rakabu Sejahtra memiliki pabrik yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah. PT. Toba Sejahtra memiliki saham minoritas dalam pabrik yang memproduksi berbagai furnitur olahan kayu dalam bentuk rangka pintu, lantai, dan lain-lainya ini. Produk-produk tersebut banyak dijual untuk pasar ekspor. Pabrik dan gudang PT Rakabu ini tercatat dua kali terbakar pada tahun 2012 lalu. Kebakaran pertama pada tanggap 26 Juli 2012 dengan kerugian sekitar Rp 400 juta dan kebakaran kedua pada tanggal 12 September 2012 dengan kerugian ditaksir Rp 80 juta. Masing – masing penyebab kebakaran tersebut hingga kini masih misterius. Namun, yang pasti kedua kebakaran itu terjadi saat putaran pertama dan putaran kedua pilgub DKI Jakarta 2012 lalu.

image

Tak pelak lagi, Luhut Panjaitan adalah tokoh yang selama ini menjadi mentor dan pembimbing Jokowi. Sesuai dengan tulisan yang pernah dipublikasikan majalah DETIK pada tahun 2012 lalu, Luhut adalah orang yang membujuk Jokowi agar bersedia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Berdasarkan informasi yang kami terima, sudah sejak lebih 3 tahun tahun lalu Jokowi dipersiapkan sejumlah jenderal yang bergabung di PT Toba Bara Sejahtera, perusahaan yang didirikan Luhut dan sejumlah pensiunan jenderal, untuk digadang – gadang menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Presiden RI.
Untuk memuluskan rencana itu, Luhut meminta anggota Tim Begawan, lembaga kajian bentukan Luhut, untuk melakukan survei terkait wacana pengusungan Jokowi sebagai cagub di Pilkada DKI Jakarta. Ternyata, Jokowi mendapat dukungan berarti dari responden.
Luhut diketahui sering mengundang Jokowi datang ke lantai 17 gedung Wisma Bakrie 2 Jalan HR Rasuna Said yang merupakan kantor PT Toba Bara Sejahtera, perusahaan yang didirikan Luhut bersama beberapa pensiunan jenderal TNI. Dalam setiang kesempatan datang ke kantor Luhut, mereka berdiskusi dengan para pensiunan jenderal kolega Luhut, antara lain Jend (Purn) Fachrul Razi mantan Wakil Panglima TNI , mantan Sekjen Dephan Jend (Purn) Jhoni Lumintang, mantan Kodiklat TNI Letjen TNI (Purn) Sumardi, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Mayjen TNI (Purn) Zaenal Abidin, mantan Ka BAIS Mayjen (Purn) Ansyori Tadjudin. Jadi sebenarnya, Jokowi ini sudah lama dipersiapkan menjadi ‘proxy’ sejumlah mantan jenderal yang ingin berkuasa melalui Jokowi.
Bagaimana keterlibatan James Riady, Edward dan Edwin Suryawidjaja, Hartono, Antony Salim, Tommy Winata dan hampir seluruh konglomerat tionghoa, serta peran strategis Stanley Berhard Greenberg sang ahli pollster dan konsultan politik nomor satu dunia dalam pemenangan Jokowi pada pilkada DKI Jakarta dan dukungan penuh mereka terhadap Jokowi sebagai capres pilpres 2014.
Benang merah keterlibatan Robert Budi Hartono (pemilik grup usaha Bank BCA dan Rokok Djarum, keluarga terkaya No. 1 di Indonesia versi majalah Forbes) dan keluarganya (Viktor, Martin dan Armand Hartono) dalam mendukung Joko Widodo menjadi capres boneka terlihat jelas pada kolusi antara Jokowi dengan salah satu perusahaan PT Loka Niaga Adipermata (salah satu perusahaan milik keluarga Hartono) di proyek pengadaan reklame Videotron Manahan, Solo, pada tahun 2008 lalu.

image



image
image

Surat dari PT Loka Niaga Adipermata (LNA) kepad Walikota Solo Joko Widod pada tanggal 15 Desember 2008 tentang permohonan kesediaan LNA mengikuti lelang proyek Reklame Videotron langsung diberi disposisi oleh Jokowi untuk segera dijawab dan diberi atensi khusus oleh Kadispenda Solo Budi Suharta. Dan pada tanggal 19 Desember 2008, Kadispenda Solo mengirim surat balasan kepada LNA perihal Rekomendasi Untuk LNA didaftarkan sebagai Peserta Lelang Terdaftar pada Pemerintah Kota Solo.
Kolusi Jokowi dan Hartono (LNA) itu menghasilkan keputusan LNA sebagai satu – satunya peserta lelang VIDEOTRON dan dinyatakan sebagai pemenang lelang, dengan melanggar semua aturan perundang – undangan yang berlaku.
Bukti kedua keterlibatan keluarga Hartono dalam penggalangan dukungan terhadap Jokowi sebagai presiden boneka, terlihat pada saat Pilkada gubernur DKI Jakarta di mana staf Hartono di Bank BCA yaitu Kevin Wu bersama Benny Chandra Ketua Persatuan Tionghoa Indonesia, Lia Angraeni utusan Antoni Salim (Indofood / Salim Grup), Jhonny Liem Ketua Asosiasi Pengusaha Elektronik Indonesia, Hermawi Taslim, Rudi Hartono dan sekitar 50 pengusaha cina Indonesia, pada 15 September 2012 berkumpul di Panini Cafe, Kuningan, Jakarta Selatan dalam rangka penggalangan dana tambahan untuk pemenangan Jokowi pada Pilkada Gubernur DKI Jakarta.
Pertemuan ini adalah pertemuan ketiga, setelah sebelumnya mereka juga berkumpul dan telah mengumpulkan uang ratusan miliar rupiah untuk membantu pemenangan Jokowi.

  1. Muchtar Riady, James Riady, John Riady (Keluarga besar Riady)
Keterlibatan keluarga besar Riady pendiri dan pemilik Grup Lippo dan Grup First Media pada rencana menjadikan Joko Widodo sebagai capres boneka berawal dari permintaan Luhut Panjaitan cs kepada James Riady untuk mempertimbangkan Jokowi sebagai calon presiden yang dapat didukung karena profil Jokowi sangat sempurna dalam memperjuangkan kepentingan mereka terkait pengembangan bisnis, politik dan agama (kristen) di Indonesia. Jokowi yang tidak memiliki nasionalisme dan patriotisme akan mudah dijadikan boneka bagi para konglomerat dan mafia cina.

image

Peran James Riady sangat penting karena status James Riady sebagai agen intelijen China (sama seperti Ayahnya : Muchtar Riady), dan sekaligus merupakan teman karib Bill Clinton (mantan presiden AS) serta anggota paguyuban elit Arkansas Connection, di mana Bill dan Hilary Clinton sebagai tokoh utamanya di samping beberapa elit politik AS, seperti John Kerry (Menlu AS), Rahm Emmanuel (Kepala Staf Gedung Putih) Stanley Berhard Greenberg (konsultan politik nomor 1 dunia) dan lain lain sebagai anggota Arkansas Connection.




image

Keberhasilan Luhut Panjaitan dan Hendropriono menarik James Riady menjadi pendukung utama Jokowi memberikan kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan tujuan mereka : Jokowi sebagai capres boneka.
Melalui James Riady, Stanley Bernhard Greenberg dapat dilibatkan menjadi konsultan politik Jokowi. Greenberg adalah konsultan politik, ahli strategi dan pollster nomor wahid dunia. Berkat polesan Greenberg, Jokowi dapat diorbitkan menjadi ‘tokoh hebat’ dengan merekayasa sejumlah pemberitaan tentang Jokowi di jaringan media internasional dan memanipulasi aneka ragam penghargaan – penghargaan fiktif untuk Jokowi.

image

Greenberg merancang dan mengatur skenario untuk menciptakan persepsi publik bahwa Jokowi adalah tokoh hebat luar biasa dalam waktu singkat. Pembuatan film berjudul Sukarno dan Jokowi juga dimaksudkan untuk membangun pencitraan hebat tentang diri Jokowi, dan sebaliknya menghancurkan citra Bung Karno. Di film Sukarno, digambarkan Bung Karno seperti seorang mata keranjang, play boy dan berjiwa lemah. Jokowi direkayasa agar muncul dan mencuat menjadi ikon politik baru menggantikan Bung Karno.

image

Mengenai biaya untuk pencitraan dan popularitas palsu Jokowi, para konglomerat cina Indonesia termasuk para konglomerat koruptor BLBI dan buronan Pemerintah RI. Konglomerat – konglomerat koruptor BLBI di Singapura telah menyumbang untuk pemenangan pilkada DKI sebesar US$ 50 juta (Rp 600 miliar) dalam dua tahap. Dilanjutkan pengumpulan dana besar – besaran untuk mendukung pemenangan Jokowi dalam pilpres 2014.

image

Luhut Panjaitan cs juga berhasil menarik keluarga Suryawidjaya (mantan orang terkaya nomor 2 di Indonesia) untuk bergabung bersama mereka mendukung capres boneka Jokowi. Keberhasilan ini sangat berarti karena ada jaminan logistik (uang, jaringan bisnis dan media.

image

Tidak kalah penting adalah bergabungnya Sang Taipan, Toako (Kakak Besar) para konglomerat cina Indonesia yakni Antoni Salim (putra Liem Sioe Liong, Salim Grup, mantan konglomerat terkaya Nomor 1 di Indonesia).
Sinergi hampir seluruh kekuatan politik dan bisnis komunitas cina Indonesia membuat Jokowi saat itu dijuluki “unstoppable man”. ini juga yang akhirnya, dengan bantuan James Riady agen intelijen China, mengantarkan PDIP bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC) melalui program studi banding ke China dalam rangka belajar dan merevitalisasi ideologi komunis dan persiapan pendirian sekolah partai di Indonesia. Puluhan elit PDIP belajar ke PKC China dalam tiga gelombang tahapan, sebelum akhirnya dihentikan karena terbongkar ke publik dan mendapat banyak kecaman dari rakyat Indonesia yang anti Komunis.
Kolaborasi komunitas cina Indonesia kemudian menjadi hampir sempurna ketika kelompok bisnis dan jaringan Tommy Winata juga bergabung dengan komunitas cina ini, mendukung rencana besar konspirasi global menjadikan Joko Widodo sebagai capres boneka mereka di Indonesia.
Unsur – unsur yang bersatu dalam konspirasi global untuk menguasai Indonesia, selain PKC China, arkansas connection, juga terdapat China Connection Dunia yang menyatakan mendukung rencana Jokowi jadi presiden boneka. Salah satunya, adalah Thaksin Shinawarta mantan PM Thailand yang juga konglomerat keturunan cina terkaya di Thailand yang menyatakan dukungan kepada Jokowi melalui mantan penasihat politiknya Liem Siok Lan atau Justani, mantan aktivis ITB dan istri mayjen purn Suarip Kadi yang juga diketahui terkoneksi dengan CIA.









image

Rencana pengambilalihan kedaulatan Indonesia (neoimperalism) komunitas cina Indonesia dibantu oleh para anteknya yakni faksi komunis, kristen dan katolik di PDIP serta sejumlah jenderal tua ambisius serakah terhadap NKRI melalui Presiden Boneka Jokowi ini nyata – nyata membahayakan dan sangat mengkhawatirkan masa depan dan keselamatan negara Indonesia.
Secara ringkas, dapat dituangkan skema rencana mereka seperti gambar di bawah ini :


image

Tak kurang dari Menlu AS John Kerry, Menlu Inggris William Hague, Ketua Hubungan Dagang Indonesia – AS David R Greenberg dan Duta Besar Israel untuk Singapura Yeal Rubenstein, menunjukan dukungannya kepada Jokowi. Sementara itu, Dubes AS untuk Indonesia terus menerus mengamati perkembangan politik dan memberikan laporan ke Washington DC terkait rencana besar konspirasi global menjadikan Jokowi sebagai capres boneka.
Bagaimana dengan Australia? Melalui Hendropriyono mantan Ka BIN yang diketahui terkoneksi sangat erat dengan badan intelijen Australia, rencana mewujudkan Jokowi sebagai presiden boneka mendapat dukungan Australia. Kepentingan mereka terkait Jokowi adalah dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai negara sekuler dan mengikis Islam sebagai agama mayoritas sekaligus indentitas diri. Jokowi yang abangan dan tidak jelas keislamannya, dinilai sebagai sosok presiden boneka yang ideal.
Joko Widodo terpilih sebagai tokoh yang akan diorbitkan konspirasi global untuk menjadi presiden boneka dikarenakan profil dan karakter Jokowi sempurna dijadikan boneka. Jokowi diyakini setia dan bersedia sepenuhnya menjalankan dan mengamankan kepentingan negara – negara asing, kelompok pendukungnya dan para sponsonya bilamana dia terpilih menjadi presiden Indonesia.
Profile dan karakter Joko Widodo berdasarkan penilaian pihak Asing, Aseng dan Antek (konspirasi global) sebagai berikut :
Jokowi tidak memiliki sikap nasionalisme dan patriotisme
Jokowi tidak mempunyai jiwa dan semangat setia dan bela negara
Jokowi tidak punya visi dan misi terkait posisi dan sebagai jabatannya selaku pejabat negara
Jokowi telah terbukti sebagai sosok yang patuh, loyal, penurut dan bersedia menjalankan apa pun yang diarahkan oleh para pembina / mentornya, sejak tahun 2008 lalu
Jokowi merupakan aset yang sempurna bagi para sponsornya karena tidak memiliki intelektual yang tinggi, tidak punya visi terhadap negara
Jokowi bersuku Jawa yang secara tidak resmi dianggap sebagai syarat utama sebagai calon presiden RI
Jokowi merupakan tokoh sempurna untuk menjalankan skenario yang telah disiapkan oleh Stanley Benhard Greenberg
Jokowi tidak punya agenda atau kepentingan pribadi tersembunyi yang berbeda atau berlawanan dengan kepentingan para sponsor, pendukung dan donaturnya.
Jokowi merupakan wayang sempurna di mata para dalangnya

Bagaimana dengan tudingan bahwa Jokowi terlibat korupsi proyek pengadaan bus Trans Jakarta dan bus reguler tahun anggaran 2013 bernilai total Rp 1.5 triliun? Mari kita ungkap fakta – fakta hukumnya.
Hasil investigasi membuktikan bahwa Jokowi telah berbohong kepada rakyat Indonesia bahwa dirinya tidak mengenal Michael Bimo Putranto, pelaku utama korupsi proyek bus trans jakarta.

image

Bimo Putranto adalah putra mantan Walikota Solo Slamet Suryanto yang digantikan Jokowi pada 2005 lalu. Bimo Putranto adalah orang yang ditugaskan ayahnya walikota Slamet Suryanto dan Ketua PDIP Solo FX Rudyatmo untuk mencari figur calon walikota Solo pada saat menjelang pilkada Walikota Solo tahun 2004.

Status Slamet Suryanto sebagai tersangka korupsi dan FX Rudyatmo yang pemeluk Katolik, menjadi penghalang bagi kedua orang itu untuk maju sebagai calon walikota Solo pada 2005. Bimo Putranto ditugaskan mereka untuk mencari sosok calon walikota yang akan dijadikan boneka oleh kedua tokoh itu. Bimo berhasil menemukan Jokowi dan membawanya kepada Slamet Suryanto dan Rudyatmo.

Kebohongan Jokowi kepada rakyat mengenai keterkaitan dan hubungan eratnya dengan Bimo Putranto membuktikan bobroknya moral dan integritas Jokowi.

Fakta – fakta lain dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Michael Bimo Putranto pemilik perusahaan yang ditunjuk sebagai pemenang dalam lelang proyek pengadaan bus TJ tersebut adalah pengusaha baru dikenal di lingkungan pemda DKI Jakarta. Sebelum tahun 2012 tidak ada pejabat DKI Jakarta mengenal Bimo Putranto, apalagi sampai menjadi rekanan dan ditunjuk sebagai pemenang lelang proyek pengadaan di Pemda DKI Jakarta.
  2. Berdasarkan kesaksian Udar Pristono mantan Kepala Dishub DKI Jakarta pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) disebutkan bahwa Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, pada tahun 2012 pernah memanggil Udar ke ruang kerja Gubernur. Setiba di ruang kerja Gubernur, Jokowi memperkenalkan Bimo Putranto kepada Udar. Selanjutnya, Udar diminta bantuannya oleh Jokowi untuk mengamankan kepentingan Bimo Putranto yang terkait dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
  3. Joko Widodo pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2013 mengunjungi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dalam rangka menyambut kedatangan 86 Bus Impor ex China, yang merupakan bagian dari total 657 unit Bus Impor dari China yang dipesan oleh Bimo Putranto, sahabat dekat dan timses Jokowi sejak di Solo dulu.
  4. Jokowi selaku Gubernur Jakarta pro aktif terlibat dalam permohonan pembebasan bea masuk dan penghapusan pajak penjualan barang mewah atas 656 bus (310 unit bus untuk Trans Jakarata dan 346 unit Bus Reguler) hingga nol persen, yang diajukan Jokowi secara resmi ke Menteri Keuangan.
  5. PT Ifani Dewi yang direkomendasikan Jokowi untuk ditunjuk sebagai pemenang lelang pengadaan bus TJ dan Reguler ternyata adalah perusahaan fiktif. menurut informasi yang diperoleh dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), PT Ifani Dewi tercatat memiliki alamat di Jalan Tebet Barat Dalam Raya Nomor 153 A, Jakarta Selatan. Saat dilakukan pencarian langsung ke lapangan, ternyata nomor 153 A tidak tercatat di wilayah Jalan Tebet Barat Dalam Raya. Ketika akhirnya ditemukan, kantor PT Ifani Dewi hanya berupa bangunan kecil dihuni dua orang pegawai.

Berdasarkan perkembangan pelaksanaan lelang, ada lima perusahaan yang menjadi pemenang, yakni :

  1. PT Korindo Motor dengan pabrikan China Yutong Bus, nilai kontrak Rp 113,856 miliar yang menggunakan nomor bus TJ 01-30.



  • PT Ifani Dewi dengan pabrikan China Ankai, nilai kontrak Rp 110,520 miliar dengan nomer TJ 31-60
  • PT Saptaguna Dayaprima dengan pabrikan China Ankai, nilai kontrak Rp 108,745 miliar Nomor bus TJ 61-90.
  • PT Mobilindo Armada dengan pabrikan China Zhongthong Bus, nilai kontrak Rp 110,265 miliar
  • PT Putriasi Utama Sari dengan pabrikan China BCIBus, nilai kontrak Rp 40,536 miliar.



Fakta Selanjutnya : Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, setiap proyek yang bernilai di atas Rp 100 miliar harus diketahui dan ditandatangani gubernur.

Sementara itu, Michael Bimo Putro diketahui sebagai importir Bus yang didatangkan dari China tersebut, dan merupakan salah satu dari perusahaan pemasok bus kepada lima perusahaan yang telah ditetapkan sebagai pemenang lelang di Dishub DKI Jakarta.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor Nainggolan mengatakan, Michael Bimo Putranto pernah mewakili Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menghadiri seminar tentang penerapan sistem bus rapid transit(BRT) di Guangzhou, China, 31 Oktober-3 November 2013.

Menurut Tigor, Bimo Putranto merupakan pria yang dekat dengan Jokowi. Ia merupakan makelar proyek pengadaan bus berkarat transjakarta. Berdasarkan pengakuan Bimo dan Udar Pristono, Bimo disebutkan sebagau utusan Gubernur Jokowi dan kenal dekat Pak Jokowi.

Sebelumnya, Bimo memang mengakui jika ia pernah berkunjung ke China menjelang akhir tahun lalu. Namun, kunjungan tersebut bukan dalam rangka berkunjung ke pabrik bus Ankai di Hefei. Ankai merupakan produsen bus transjakarta yang terletak di Hefei, Provinsi Anhui.

Bimo Putranto disebut – sebut telah memberikan mahar dan fee pada PDIP, tim sosial media pro Jokowi dan putra sulung Jokowi, total sebesar Rp 40 miliar.

Meski demikian, hingga saat ini baru empat pelaku korupsi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh kejaksaan agung. Joko Widodo, Bimo Putranto dan putra Jokowi, Gibran Rakabuming belum ditetapkan sebagai tersangka. Diduga karena terkait agenda pilpres pada bulan Juli 2014 mendatang.

Bimo Putranto juga adalah Ketua Pasoepati, sebuah ormas preman di Solo yang memiliki keterkaitan erat secara ideologis dengan Batalion Pasoepati, yang merupakan batolion desertir TNI pada paska rasionalisasi TNI tahun 1950an. Batolion Pasoepati lari dan bersembunyi ke pegunungan sekitar kawasan Boyolali, Jawa Tengah setelah gagal menyerang markas Kodam Diponegoro. Batalion ini kemudian menjelma menjadi Pasukan Tentara Merah yang menjadi kekuatan inti PKI dan pelatih militer kader – kader PKI, terutama di Klaten, Solo dan Boyolali atau kawasan segitigas basis PKI.

Keterkaitan Jokowi Dengan PKI

Benang merah hubungan Jokowi dengan partai terlarang PKI tidak semata – mata keterkaitan eratnya dengan Bimo Putranto Presiden Pasoepati, atau koneksi Jokowi dengan Hoo Hap, sebuah organisasi cina komunis Solo (secara resmi Hoo Hap menamakan dirinya dengan Orman PMS – Perkumpulan Masyarakat Surakarta), tetapi lebih dari itu.

Karakter dan perilaku Jokowi yang menghalalkan segala cara, berbohong, memalsukan jati diri dan buku nikahnya, memfitnah, menyamar, bahkan menjiplak tulisan orang lain, membuktikan Jokowi tidak peduli dengan moralitas dan integritas. Cara – cara Jokowi ini mirip dengan modus atau gaya para tokoh PKI dulu.

Jokowi patut diduga adalah anak tokoh PKI. Misteri menutup – nutupi siapa ayah kandung Jokowi sebenarnya dan pengamatan intensif terhadap Sudjiatmi, ibu Jokowi, menghasilkan kesimpulan bahwa Jokowi telah berbohong dan berusaha keras agar rakyat tidak mengetahui latar belakang dirinya dan orang tuanya.
Sudjiatmi, ibu Jokowi berasal dari dusun Gumukrejo, Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, yang dikenal sebagai daerah basis terkuat PKI era tahun 1955 – 1966. Karakter yang ditunjukan oleh ibu Jokowi, Sudjiatmi bukanlah karakter ibu rumah tangga miskin yang tidak tahu apa – apa, sebagaimana diakui Jokowi selama ini, melainkan karakter seorang wanita aktifis. Siapa sebenarnya Sudjiatmi ini?


Apakah mungkin seorang ibu rumah tangga biasa, mampu mengerahkan dan menggerakan 3000 massa rakyat Boyolali untuk pawai napak tilas Boyolali – Giriroto pada awal Juni 2014 lalu ?
Apa mungkin seorang ibu rumah tangga biasa, seorang janda berusia 70 tahun mampu lancar berpidato di hadapan ribuan massa dengan gaya berapi – api mengobarkan semangat massa seperti layaknya seorang orator ulung ?
Apa mungkin dari mulut wanita biasa muncul kalimat – kalimat tidak biasa seperti :
“Saya bertekad akan gerilya keliling Indonesia untuk memenangkan Jokowi pada pilpres 2014″
“Saya percaya Jokowi pasti menang terpilih jadi presiden karena Jokowi adalah wahyu tuhan”
“Saya dan keluarga saya berasal dari Giriroto, Ngemplak Boyolali. Dari sini semangat dan jiwa perjuangan untuk kemenangan Jokowi sebagai presiden digelorakan !”
Siapa kau sebenarnya Jokowi ?


imageimageimageimageimage
 




Revolusi Mental Jokowi itu adalah PKI


Revolusi Mental? Itu Cara PKI!

Istilah ‘Revolusi Mental’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Istilah ini sudah digunakan oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Dalam pengantar untuk edisi kedua dari bukunya bertajuk ‘The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’ yang terbit pada tahun 1869, Marx menulis: “…Outside France, this violent breach with the traditional popular belief, this tremendous mental revolution, has been little noticed and still less understood…” (Di luar Perancis, kekerasan ini melabrak kepercayaan umum yang tradisional, revolusi mental yang luar biasa ini, telah sedikit diketahui dan masih kurang dipahami). Begitu kesimpulan Marx dalam kalimat pengantar buku tersebut. Simpulan Marx itu tentu saja menunjukkan salah-satu inti ajaran Marx tentang kebutuhan akan pertarungan kelas.
Buku kondang Marx itu pertama kali terbit memang pada tahun 1852. Selain Marx, ada sohib karibnya, Frederick Engels, yang juga memberikan kata pengantar. Dibanding Marx, kata pengantar Engels tidak begitu menukik. Ia hanya mengurai saja, apa yang terjadi di Prancis pada masa itu. Justru kata pengantar Marx di edisi kedua (1869) yang secara terang-terangan menyebut perlunya ‘revolusi mental’, pendobrak keyakinan lama.
Bagi Marx, ‘revolusi mental’ merupakan keharusan untuk menata masyarakat, dari tatanan lama menuju ke tatanan baru yang komunistis. Marx dan para pendukungnya mendorong terjadinya ‘revolusi mental’, yang membenturkan kelompok satu ke yang lain. Batasnya, siapa yang ikut mentalnya direvolusi, dan siapa yang tidak.
Tak pelak, karya Marx menjadi sumber inspirasi bagi gerakan komunis internasional. Dimulai dari gerakan kelas pekerja pada 1864 kemudian 1889, lalu 1919, nyaris seluruh aktivis gerakan ini bersandar pada ‘revolusi mental’. Mereka memilah siapa kawan siapa lawan, lalu berusaha memengaruhi publik lewat agitasi propaganda. Masuk ke masyarakat, mempengaruhi komunitas buruh, menyelusup ke pasar dan pusat keramaian untuk memprovokasi warga. Ini bagian dari cara ‘revolusi mental’.
Walau tak harus tersurat, tetapi cara itu tersirat dalam hampir semua karya Marx pada kurun berikutnya. Karya-karya yang gampang dicari di berbagai situs internet dewasa ini. Sulit rasanya menepis anggapan, bahwa Marx tak mendorong ‘revolusi mental’ itu.
Khusus untuk mengubah cara berpikir, para konseptor aksi komunis pada periode berikutnya, juga meniru Marx. Dari 1864 sampai 1872, para pengikut Karl Marx, seperti Eugene Pottier (penyair Prancis) dan Wilhelm Liebknecht (revolusioner Jerman), mulai menata diri dalam ‘Internasional Pertama’ yang berbasis di London. Hubungan mereka sangat erat pada kaum pekerja di kota tersebut. Mereka juga menulis selebaran. Disebarkan secara luas, lalu dilihat reaksi masyarakat.
Intinya, para pelopor komunisme sudah terbiasa menyebarkan pandangan-pandangan yang mengadu-domba satu kelompok dengan kelompok lain demi sebuah ‘revolusi mental’. Seperti yang dilakukan Georgi Plekhanov di Rusia. Ia memanas-manasi para penggarap lahan agar bentrok dengan pemilik tanah. Sangat mirip kelak dengan aksi Nyoto tatkala menggerakkan pemuda rakyat di lapangan.
Jika Marx lebih banyak memotret dinamika di Eropa utara (Prancis, Jerman dan Spanyol), maka Vladimir Illich Lenin (VI Lenin) lebih fokus pada negerinya, Rusia. Seperti juga Marx, Lenin banyak menulis selebaran untuk dibagi ke khalayak. Tujuannya, menggerakkan masyarakat Rusia melawan Tsar Rusia kala itu.
Dalam karyanya berjudul ‘State and Revolution’ yang diterbitkan pertama kali pada 1918, Lenin secara tersirat menyebutkan perlunya aksi dramatis menyingkirkan kaum kapitalis dan birokrat. Dalam kitab itu, Lenin lebih tegas menekankan pentingnya ‘jiwa revolusioner’ dibersihkan dari kaum borjuis dan oportunis.
Lenin beranggapan gerakan Internasional Kedua (1889-1914), dikomandani Karl Kautsky, sudah jatuh bangkrut. Sebabnya, tulis Lenin, belum ada revolusi yang bisa menggerakkan kaum proletar (miskin) guna menggusur para kapitalis. Karenanya, Lenin menyodorkan cara menggerakkan massa melalui penjelasan-penjelasan provokatif, membenturkan satu bagian rakyat kepada bagian yang lain. Tak perlu diragukan, itulah cara ‘revolusi mental’ guna memulai benturan antar warga masyarakat.
Namun, harap jangan mencari istilah ‘revolusi mental’ itu ke dalam buku ‘Manifesto Komunis’ yang terbit pada 1848. Percuma. Sebab, istilah itu tak ada dalam buku ‘Manifesto Komunis’. Dalam manifesto, Marx lebih suka menggambarkan pertarungan kelas, contohnya kelas borjuis lawan kelas proletar. Walau terbit lebih awal, manifesto komunis sebenarnya hanya untuk kebutuhan praktis.
Kebangkitan Komunis Indonesia
Sejarah mencatat, kebangkitan kelompok komunis di Hindia Belanda (kini Indonesia) berkat campur tangan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau kondang dipanggil Henk Sneevliet. Pria yang sebelumnya sudah menjadi anggota komunis Belanda itu juga merupakan organisator Komintern (Komunis Internasional). Begitu menginjakkan kaki di Kota Surabaya sekitar tahun 1913, Sneevliet bergabung dengan redaksi koran ‘Soerabajaasch Handelsblad’.
Pada 9 Mei 1914, Sneevliet membentuk ‘Indische Sociaal Democratische Vereniging’ (ISDV, perkumpulan sosial-demokrat Hindia Belanda) di kota yang sama. Melalui perkumpulan ini, Sneevliet melancarkan kampanye hitam pada organisasi lain yang tidak sehaluan. Sebaliknya, ia juga mulai aktif merekrut orang Indonesia untuk menjadi juru penyebar kampanye hitam, seperti Semaun.
Sneevliet juga kemudian bersentuhan secara luas dengan para aktivis Sarekat Islam (SI) yang lain, semisal Alimin Prawirodirjo dan Darsono. Gagasan Sneevliet yang kuat dipengaruhi ajaran Marxisme mulai ditularkan ke para aktivis SI. Mereka terpengaruh, terutama pada ajaran Marxisme yang menyebutkan ‘Agama adalah Candu bagi Rakyat’. Akibatnya, mereka pun mulai membatasi diri dari pergaulan dengan sejawat dalam SI. Kedekatan dengan Sneevliet sudah mengubah diri mereka. Pengaruh gagasan ‘revolusi mental’ ala Marxisme mulai merasuki jiwa dan pikiran sejumlah aktivis SI. Berbagai bahan bacaan yang diperkenalkan Sneevliet dan dialog-dialog bersamanya telah mampu menggoyahkan keyakinan para aktivis SI ‘Merah’.
Dalam bukunya berjudul ‘The Rise of Indonesian Communism’ (1965), peneliti Ruth McVey juga melukiskan hubungan kerja Sneevliet dengan Adolf Baars. Pria yang juga disebut dalam sejarah sebagai salah-satu tokoh pendiri komunisme di Indonesia. Baars banyak menyurahkan waktunya membantu Sneevliet. Selama berbulan-bulan Sneevliet terus memengaruhi para anak-didiknya. Campur-tangan Sneevliet ke dalam aktivitas SI mengakibatkan organisasi yang berdiri tahun 1912 itu pecah. Semaun dan rekan-rekan sehaluan yang sudah tercuci otaknya, lebih memilih bergabung dengan Sneevliet. Mereka begitu terpesona dengan komentar-komentar Sneevliet.
Program cuci otak Sneevliet ternyata mujarab. Setelah membersihkan para aktivis itu dari pikiran-pikiran religius, lalu Sneevliet mengisinya dengan ajaran-ajaran Marxis yang anti-agama. Dalam testimoni tulisannya yang terbit pada tahun 1926 bertajuk ‘The class struggle element in the liberation struggle of the Indonesian people’, Sneevliet mengakui telah menyuntikkan gagasan revolusioner ke dalam SI.
Kata ‘revolusioner’ bagi komunis seperti Sneevliet, tentu saja, bermakna menyerabut seseorang dari lingkungan asal. Taktik serupa juga diungkapkan Lenin pada tahun 1918. Semaun, Alimin dan Darsono merupakan contoh bagaimana kepribadiannya sudah dicerabut dari SI.
Mental mereka telah direvolusi sedemikian rupa, sehingga mudah menjadi boneka komunis. Kelak di kemudian hari, usai Konferensi Batavia pada Januari 1926, para kader komunis yang sudah tercuci otaknya tersebut melakukan kesepakatan untuk aksi sepihak. Mereka tak mau memerhitungkan syarat-syarat keberhasilan suatu aksi. Sebab, bagi Alimin dan kawan-kawannya, yang terpening adalah beraksi frontal. Tak peduli akan jatuh korban banyak.
Komintern sudah sepenuhnya mengendalikan pikiran para petualang politik ini. Mereka tak lagi bebas menentukan sikap. ‘Revolusi mental’ yang digarap kalangan internal PKI dengan dukungan Sarekat Rakyat (SR) kian mendorong aksi pemberontakan Alimin dan pendukungnya di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat pada 1926-1927. Pemberontakan ini gagal. Akibatnya, mereka jadi buronan pemerintah Hindia Belanda.
PKI dan Revolusi Mental
Jika ulasan-ulasan DN Aidit atau MH Lukman dibaca, maka segera tersirat keinginan kuat para pentolan PKI itu untuk melakukan ‘revolusi mental’. Memang, secara tersurat sulit menemukan istilah ‘revolusi mental’ dalam karya-karya tulis para tokoh PKI tersebut. Namun, indikasi kuat segera tampak manakala membaca karya mereka.
Seperti penggambaran Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) pada tahap revolusi masyarakat Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1958 berjudul ‘ABC Politik Indonesia’, secara jelas tertulis desakan PKI agar dilakukan revolusi tanpa perlu menimbang akibat-akibat negatifnya. Brosur PKI yang disebar ke masyarakat itu berusaha menjelaskan alasan mengapa perlu suatu revolusi. Diantaranya, PKI beranggapan penciptaan masyarakat sosialis hanya bisa terwujud melalui revolusi komunis.
PKI menyembunyikan fakta betapa besar korban yang timbul akibat revolusi Rusia. Organisasi komunis ini secara sengaja tidak menyodorkan risiko-risiko akibat revolusi. Bagi para tokoh PKI, program cuci-otak masyarakat perlu dimulai dengan menyebarkan pamflet berisi ajakan revolusi. Memang, di dalam pamflet-pamflet PKI selalu disebut alasan di balik revolusi itu, hanya saja pamflet itu tidak pernah menuliskan dampak revolusi. Sehingga sadar atau tidak, siapapun yang tidak kritis membaca pamflet PKI, maka ia akan mudah tercuci-otaknya.
Pelan namun pasti, program-program cuci-otak ala PKI tersebut menyasar bukan saja ke kalangan kota, melainkan hingga ke desa-desa. Pamflet dan program disebarkan dengan bahasa sederhana, tapi bisa memengaruhi cara berpikir orang awam. Sejak akhir tahun 1958, para pengurus teras PKI membekali juru kampanyenya dengan trik-trik kotor mencuci otak warga. Seperti dengan membuat kampanye hitam pada lawan-lawan politik PKI.
Diantaranya menjuluki Masjumi dan PSI sebagai kepala batu. Dalam Kongres Nasional ke-VI PKI di Jakarta, Wakil Sekjen CC PKI Njoto pada pidato 9 September 1959 menuding parpol yang kritis sebagai ‘kepala batu’. Njoto pula yang aktif turun ke lapangan memengaruhi para kader-kader PKI agar rajin memprovokasi khalayak umum.
Revolusi Mental? Itu Cara PKI!

Istilah ‘Revolusi Mental’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Istilah ini sudah digunakan oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Dalam pengantar untuk edisi kedua dari bukunya bertajuk ‘The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’ yang terbit pada tahun 1869, Marx menulis: “…Outside France, this violent breach with the traditional popular belief, this tremendous mental revolution, has been little noticed and still less understood…” (Di luar Perancis, kekerasan ini melabrak kepercayaan umum yang tradisional, revolusi mental yang luar biasa ini, telah sedikit diketahui dan masih kurang dipahami). Begitu kesimpulan Marx dalam kalimat pengantar buku tersebut. Simpulan Marx itu tentu saja menunjukkan salah-satu inti ajaran Marx tentang kebutuhan akan pertarungan kelas.
Buku kondang Marx itu pertama kali terbit memang pada tahun 1852. Selain Marx, ada sohib karibnya, Frederick Engels, yang juga memberikan kata pengantar. Dibanding Marx, kata pengantar Engels tidak begitu menukik. Ia hanya mengurai saja, apa yang terjadi di Prancis pada masa itu. Justru kata pengantar Marx di edisi kedua (1869) yang secara terang-terangan menyebut perlunya ‘revolusi mental’, pendobrak keyakinan lama.
Bagi Marx, ‘revolusi mental’ merupakan keharusan untuk menata masyarakat, dari tatanan lama menuju ke tatanan baru yang komunistis. Marx dan para pendukungnya mendorong terjadinya ‘revolusi mental’, yang membenturkan kelompok satu ke yang lain. Batasnya, siapa yang ikut mentalnya direvolusi, dan siapa yang tidak.
Tak pelak, karya Marx menjadi sumber inspirasi bagi gerakan komunis internasional. Dimulai dari gerakan kelas pekerja pada 1864 kemudian 1889, lalu 1919, nyaris seluruh aktivis gerakan ini bersandar pada ‘revolusi mental’. Mereka memilah siapa kawan siapa lawan, lalu berusaha memengaruhi publik lewat agitasi propaganda. Masuk ke masyarakat, mempengaruhi komunitas buruh, menyelusup ke pasar dan pusat keramaian untuk memprovokasi warga. Ini bagian dari cara ‘revolusi mental’.
Walau tak harus tersurat, tetapi cara itu tersirat dalam hampir semua karya Marx pada kurun berikutnya. Karya-karya yang gampang dicari di berbagai situs internet dewasa ini. Sulit rasanya menepis anggapan, bahwa Marx tak mendorong ‘revolusi mental’ itu.
Khusus untuk mengubah cara berpikir, para konseptor aksi komunis pada periode berikutnya, juga meniru Marx. Dari 1864 sampai 1872, para pengikut Karl Marx, seperti Eugene Pottier (penyair Prancis) dan Wilhelm Liebknecht (revolusioner Jerman), mulai menata diri dalam ‘Internasional Pertama’ yang berbasis di London. Hubungan mereka sangat erat pada kaum pekerja di kota tersebut. Mereka juga menulis selebaran. Disebarkan secara luas, lalu dilihat reaksi masyarakat.
Intinya, para pelopor komunisme sudah terbiasa menyebarkan pandangan-pandangan yang mengadu-domba satu kelompok dengan kelompok lain demi sebuah ‘revolusi mental’. Seperti yang dilakukan Georgi Plekhanov di Rusia. Ia memanas-manasi para penggarap lahan agar bentrok dengan pemilik tanah. Sangat mirip kelak dengan aksi Nyoto tatkala menggerakkan pemuda rakyat di lapangan.
Jika Marx lebih banyak memotret dinamika di Eropa utara (Prancis, Jerman dan Spanyol), maka Vladimir Illich Lenin (VI Lenin) lebih fokus pada negerinya, Rusia. Seperti juga Marx, Lenin banyak menulis selebaran untuk dibagi ke khalayak. Tujuannya, menggerakkan masyarakat Rusia melawan Tsar Rusia kala itu.
Dalam karyanya berjudul ‘State and Revolution’ yang diterbitkan pertama kali pada 1918, Lenin secara tersirat menyebutkan perlunya aksi dramatis menyingkirkan kaum kapitalis dan birokrat. Dalam kitab itu, Lenin lebih tegas menekankan pentingnya ‘jiwa revolusioner’ dibersihkan dari kaum borjuis dan oportunis.
Lenin beranggapan gerakan Internasional Kedua (1889-1914), dikomandani Karl Kautsky, sudah jatuh bangkrut. Sebabnya, tulis Lenin, belum ada revolusi yang bisa menggerakkan kaum proletar (miskin) guna menggusur para kapitalis. Karenanya, Lenin menyodorkan cara menggerakkan massa melalui penjelasan-penjelasan provokatif, membenturkan satu bagian rakyat kepada bagian yang lain. Tak perlu diragukan, itulah cara ‘revolusi mental’ guna memulai benturan antar warga masyarakat.
Namun, harap jangan mencari istilah ‘revolusi mental’ itu ke dalam buku ‘Manifesto Komunis’ yang terbit pada 1848. Percuma. Sebab, istilah itu tak ada dalam buku ‘Manifesto Komunis’. Dalam manifesto, Marx lebih suka menggambarkan pertarungan kelas, contohnya kelas borjuis lawan kelas proletar. Walau terbit lebih awal, manifesto komunis sebenarnya hanya untuk kebutuhan praktis.


Kebangkitan Komunis Indonesia

 
Sejarah mencatat, kebangkitan kelompok komunis di Hindia Belanda (kini Indonesia) berkat campur tangan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau kondang dipanggil Henk Sneevliet. Pria yang sebelumnya sudah menjadi anggota komunis Belanda itu juga merupakan organisator Komintern (Komunis Internasional). Begitu menginjakkan kaki di Kota Surabaya sekitar tahun 1913, Sneevliet bergabung dengan redaksi koran ‘Soerabajaasch Handelsblad’.
Pada 9 Mei 1914, Sneevliet membentuk ‘Indische Sociaal Democratische Vereniging’ (ISDV, perkumpulan sosial-demokrat Hindia Belanda) di kota yang sama. Melalui perkumpulan ini, Sneevliet melancarkan kampanye hitam pada organisasi lain yang tidak sehaluan. Sebaliknya, ia juga mulai aktif merekrut orang Indonesia untuk menjadi juru penyebar kampanye hitam, seperti Semaun.
Sneevliet juga kemudian bersentuhan secara luas dengan para aktivis Sarekat Islam (SI) yang lain, semisal Alimin Prawirodirjo dan Darsono. Gagasan Sneevliet yang kuat dipengaruhi ajaran Marxisme mulai ditularkan ke para aktivis SI. Mereka terpengaruh, terutama pada ajaran Marxisme yang menyebutkan ‘Agama adalah Candu bagi Rakyat’. Akibatnya, mereka pun mulai membatasi diri dari pergaulan dengan sejawat dalam SI. Kedekatan dengan Sneevliet sudah mengubah diri mereka. Pengaruh gagasan ‘revolusi mental’ ala Marxisme mulai merasuki jiwa dan pikiran sejumlah aktivis SI. Berbagai bahan bacaan yang diperkenalkan Sneevliet dan dialog-dialog bersamanya telah mampu menggoyahkan keyakinan para aktivis SI ‘Merah’.


image

Dalam bukunya berjudul ‘The Rise of Indonesian Communism’ (1965), peneliti Ruth McVey juga melukiskan hubungan kerja Sneevliet dengan Adolf Baars. Pria yang juga disebut dalam sejarah sebagai salah-satu tokoh pendiri komunisme di Indonesia. Baars banyak menyurahkan waktunya membantu Sneevliet. Selama berbulan-bulan Sneevliet terus memengaruhi para anak-didiknya. Campur-tangan Sneevliet ke dalam aktivitas SI mengakibatkan organisasi yang berdiri tahun 1912 itu pecah. Semaun dan rekan-rekan sehaluan yang sudah tercuci otaknya, lebih memilih bergabung dengan Sneevliet. Mereka begitu terpesona dengan komentar-komentar Sneevliet.

Program cuci otak Sneevliet ternyata mujarab. Setelah membersihkan para aktivis itu dari pikiran-pikiran religius, lalu Sneevliet mengisinya dengan ajaran-ajaran Marxis yang anti-agama. Dalam testimoni tulisannya yang terbit pada tahun 1926 bertajuk ‘The class struggle element in the liberation struggle of the Indonesian people’, Sneevliet mengakui telah menyuntikkan gagasan revolusioner ke dalam SI.
Kata ‘revolusioner’ bagi komunis seperti Sneevliet, tentu saja, bermakna menyerabut seseorang dari lingkungan asal. Taktik serupa juga diungkapkan Lenin pada tahun 1918. Semaun, Alimin dan Darsono merupakan contoh bagaimana kepribadiannya sudah dicerabut dari SI.

Mental mereka telah direvolusi sedemikian rupa, sehingga mudah menjadi boneka komunis. Kelak di kemudian hari, usai Konferensi Batavia pada Januari 1926, para kader komunis yang sudah tercuci otaknya tersebut melakukan kesepakatan untuk aksi sepihak. Mereka tak mau memerhitungkan syarat-syarat keberhasilan suatu aksi. Sebab, bagi Alimin dan kawan-kawannya, yang terpening adalah beraksi frontal. Tak peduli akan jatuh korban banyak.
Komintern sudah sepenuhnya mengendalikan pikiran para petualang politik ini. Mereka tak lagi bebas menentukan sikap. ‘Revolusi mental’ yang digarap kalangan internal PKI dengan dukungan Sarekat Rakyat (SR) kian mendorong aksi pemberontakan Alimin dan pendukungnya di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat pada 1926-1927. Pemberontakan ini gagal. Akibatnya, mereka jadi buronan pemerintah Hindia Belanda.
PKI dan Revolusi Mental
Jika ulasan-ulasan DN Aidit atau MH Lukman dibaca, maka segera tersirat keinginan kuat para pentolan PKI itu untuk melakukan ‘revolusi mental’. Memang, secara tersurat sulit menemukan istilah ‘revolusi mental’ dalam karya-karya tulis para tokoh PKI tersebut. Namun, indikasi kuat segera tampak manakala membaca karya mereka.
Seperti penggambaran Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) pada tahap revolusi masyarakat Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1958 berjudul ‘ABC Politik Indonesia’, secara jelas tertulis desakan PKI agar dilakukan revolusi tanpa perlu menimbang akibat-akibat negatifnya. Brosur PKI yang disebar ke masyarakat itu berusaha menjelaskan alasan mengapa perlu suatu revolusi. Diantaranya, PKI beranggapan penciptaan masyarakat sosialis hanya bisa terwujud melalui revolusi komunis.
PKI menyembunyikan fakta betapa besar korban yang timbul akibat revolusi Rusia. Organisasi komunis ini secara sengaja tidak menyodorkan risiko-risiko akibat revolusi. Bagi para tokoh PKI, program cuci-otak masyarakat perlu dimulai dengan menyebarkan pamflet berisi ajakan revolusi. Memang, di dalam pamflet-pamflet PKI selalu disebut alasan di balik revolusi itu, hanya saja pamflet itu tidak pernah menuliskan dampak revolusi. Sehingga sadar atau tidak, siapapun yang tidak kritis membaca pamflet PKI, maka ia akan mudah tercuci-otaknya.
Pelan namun pasti, program-program cuci-otak ala PKI tersebut menyasar bukan saja ke kalangan kota, melainkan hingga ke desa-desa. Pamflet dan program disebarkan dengan bahasa sederhana, tapi bisa memengaruhi cara berpikir orang awam. Sejak akhir tahun 1958, para pengurus teras PKI membekali juru kampanyenya dengan trik-trik kotor mencuci otak warga. Seperti dengan membuat kampanye hitam pada lawan-lawan politik PKI.

Diantaranya menjuluki Masjumi dan PSI sebagai kepala batu. Dalam Kongres Nasional ke-VI PKI di Jakarta, Wakil Sekjen CC PKI Njoto pada pidato 9 September 1959 menuding parpol yang kritis sebagai ‘kepala batu’. Njoto pula yang aktif turun ke lapangan memengaruhi para kader-kader PKI agar rajin memprovokasi khalayak umum.

Aksi Njoto itu merupakan wujud dari langkah-langkah PKI untuk mencuci otak masyarakat. Semua fakta diputar-balik oleh Njoto, demi kepentingan program ‘revolusi mental’ di masyarakat. Langkah serupa juga dilakukan Aidit. Ia bukan saja gemar menjelaskan tahap-tahap pembentukan masyarakat Indonesia ke berbagai kalangan di dalam negeri, bahkan sampai ke luar negeri pun dilakukan Aidit.

Ketika berkunjung ke Sekolah Tinggi Partai Komunis Cina di Peking, RRT, pada 2 September 1963, DN Aidit begitu antusias menjelaskan tahap perkembangan masyarakat Indonesia. Tahap-tahap itu tentu sangat penting bagi PKI. Sebab, dari tahap-tahap inilah kemudian PKI bisa merancang aksi cuci-otak.

Boleh dikata, tahap-tahap perkembangan masyarakat Indonesia yang dibuat PKI itu sesungguhnya merupakan pemetaan terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Dari pemetaan tersebut, maka tentu saja mudah untuk membidik berbagai kalangan yang hendak direvolusi mentalnya. Jika bidikan ini berhasil, maka PKI kemudian akan mudah menggerakkan mereka. TIM





“PKI SDH KEMBALI !: FAKSI KOMUNIS TIMSES JOKWI ADUDOMBA PARA JEND. PURN.” By @Ronin1946







Mencermati Jurus Sunyi Sang Resi

GebrakNews  – Mencermati perkembangan dan situasi politik sekarang ini, utamanya proses penyelenggaraan pemilu pilpres 2014 dan sidang MK atas gugatan pasangan Prabowo Hatta, menarik dicermati hal-hal sebagai berikut:
1. Bahwa terlihat jelas arah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang akan diambli oleh majelis hakim, yang dipatut diantisipasi oleh capres Prabowo (tidak termasuk Hatta), yaitu : “MK kemungkinan besar akan memutuskan tindakan-tindakan KPU terkait dengan penyelenggaraan pilpres 2014 : Inkonstitusional”.
2. Putusan MK tersebut: mungkin seluruhnya atau pun sebagian. Jika seluruhnya, maka pilpres diulang untuk seluruh Indonesia. Jika sebagian, maka Pilpres ulang akan diselenggarakan di beberapa propinsi atau kabupaten/kota saja.

Dapat juga MK mempertimbangkan, penghitungan ulang di samping pemilihan ulang.
Namun, apapun yang diputuskan MK nanti, ada satu hal yang harus benar-benar diperhatikan oleh capres Prabowo, yaitu : hidden agenda Presiden SBY.


Kenali Karakter SBY

Presiden SBY, patut diduga memiliki hidden agenda (tujuan tersembunyipolitik tertentu, yang didasarkan pada asumsi dan /atau fakta sebagai berikut :
1. Fakta bahwa Presiden SBY, keluarga inti Cikeas dan kerabat dekat keluarga Cikeas, saat ini masih memiliki potensi kasus yang akan diusut oleh KPK. Diantaranya adalah kasus terkait korupsi Bail Out Bank Century (sudah diagendakan KPK untuk dimulai penyelidikan pada keluarga cikeas, tanggal 15 Januari 2015 mendatang).
Kasus – kasus korupsi itu terkait dengan Nazaruddin, Bunda Putri (Silvia Soleha), korupsi migas (Petral, Kernel Oil) dan lain-lain.
2. Fakta bahwa Sifat dan karakter SBY yang “Trust No Body“. Mustahil bagi SBY mau menggantungkan nasib diri dan keluarganya, terutama terkait dengan proses hukum yang mungkin terjadi kepada pihak lain, termasuk kepada Prabowo Subianto.
3. Dari point 1 dan 2 di atas, dapat disimpulkan SBY akan menempuh segala cara agar kasus hukum itu tidak menjerat diri dan keluarganya.
Satu-satunya solusi rasional adalah Presiden SBY harus dapat berkuasa kembali. Setidak-tidaknya hingga sampai komisioner KPK baru terbentuk, di mana SBY harus memastikan, baik semua atau sebagian dari 5 komisioner KPK periode mendatang adalah orang kepercayaannya atau masih terkait keluarga atau dengan dirinya.
Periodeisasi komisioner KPK jilid 3 akan berakhir, pertama adalah Busyro Muqqodas pada 17 Desember 2014, menyusul Komisioner KPK yang lain pada 17 Desember 2015.
4. Dapat diprediksi bahwa Presiden SBY akan mengejar target minimal point 3 di atas, yakni menggunakan segala cara agar tetap dapat berkuasa, setidaknya mengendalikan kekuasaan hingga tanggal 17 Desember 2015. Mungkin dapat lebih cepat, jika sudah ada kepastian mengenai calon komisioner KPK terpilih dari hasil fit and proper test (test kepatutan dan kelayakan) di DPR.
5. Fakta  bahwa pada tahun 2012 lalu, disebut-sebut ada usaha dari presiden SBY untuk menjajaki perubahaan UUD45 melalui lobi-lobi yang dilakukan oleh Jendral Endriantono Sutarto terhadap para anggota DPR dan DPR. Lobi itu diperkuat ketua DPD Irman Gusman. Hasilnya tidak memuaskan.
6. Fakta bahwa pada Desember 2013 lalu, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra mengajukan gugatan ke MK untuk permohonan pelaksanaan pemilu serentak dengan alasan sesuai amanat konstitusi UUD 1945.
Meski MK akhirnya menolak permohonan itu, langkah Yusril itu harus dipahami sebagai bagian rencana SBY untuk menunda pemilu legislatif dan pemilu presiden. Dengan demikian dimungkinkan bagi Presiden SBY untuk mendapat kesempatan memperpanjang mandat konstitusi hingga 1-2 tahun lagi.
7. Fakta bahwa Yusril sebelumnya telah menikmati banyak “konsesi politik” dari Presiden SBY (SP3 kasus sisminbakhum, kemenangan kader Yusril, Hamdan Zulva menjadi ketua MK, adik Yusril, Yusron IM jadi dubes RI di Jepang, partai Yusril, PBB diloloskan KPU, Barullah Akbar dimenangkan MK agar jadi tetap menjadi anggota BPK, dll).
Sementara itu, BELUM SATU PUN PRESTASI dihasilkan Yusril untuk membayar konsesi presiden itu. Kita dapat menganalisa kemana atau dalam bentuk apa PRESTASI Yusril yang akan diserahkan kepada SBY.
8. Yusril pernah kelepasan ucapan bahwa dia menolak tawaran presiden SBY untuk menjadi Ketua MK, dan sebaliknya Yusril secara ekspilisit mengatakan bahwa dirinya lebih baik berada di luar MK, karena akan lebih efektif dalam mendukung atau mewujudkan rencana besar SBY.
9. Terkait sosok capres – cawapres yang dimunculkan pada saat pilpres 2014, tidak dapat disangkal, bahwa terdapat peran besar Presiden SBY dalam pengondisiannya.

Indikasi-indikasi Peran SBY

Presiden SBY sebenarnya dapat setiap saat mendorong penetapan status tersangka terhadap Joko Widodo. Laporan tentang korupsi-korupsi Jokowi sewaktu menjabat walikota Solo, dapat dipastikan sampai ke meja SBY, namun tetap dibiarkan hingga Jokowi dapat mengikuti Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Demikian juga tentang korupsi Joko
Widodo selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta, mulai dari dugaan korupsi program KJS, KJP, Bus Trans Jakarta, hingga dugaan korupsi program bantuan perumahan (kampung deret). Bukti-bukti mengenai keterlibatan Jokowi dalam korupsi itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong Jokowi sebagai tersangka. Namun tidak terlihat upaya serius dari Presiden SBY.

Presiden SBY dimungkinkan untuk mengagalkan Jokowi – Ahok sebagai pemenang pilkada DKI Jakarta melalui berbagai kasus korupsi dan pidana lain (yang biasanya jadi modus SBY menghentikan langkah lawan politiknya), namun itu tidak dilakukannya.
Khusus untuk Cawagub Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Presiden dipastikan telah mengetahui dan mendapat laporan status hukum Ahok sebagai tersangka pada tindak pidana penyerobotan hutan lindung dan penambangan liar di Kawasan Hutan Lindung Gunung Nayo, Belitung.
Presiden SBY dikenal sifat dan karakternya sebagai pribadi perfectionist,  comprehensive dalam menilai dan menganalisa, sangat teliti dan hati-hati, mustahil mendadak mengabaikan  segala sesuatu terkait informasi latar belakang kehidupan Jokowi, yang sudah disebut-sebut sebagai capres terfavorit. Mustahil SBY tidak tahu siapa Jokowi sebenarnya, terutama keterkaitan jokowi dengan paham dan jaringan komunis.
SBY sudah terbukti piawai dalam memanfaatkan sumber daya dimiliki dan mengendalikan infrastruktur pemilu untuk mendapatkan hasil pemilu legislatif sesuai dengan keinginannya : mulai dari distribusi suara partai-partai, sampai dengan “seleksi” para kader PD yang diloloskan atau tidak diloloskan sebagai caleg terpilih.
Menjadi pertanyaan besar kenapa kemampuan SBY melakukan hal itu pada pemilu legislatif tidak digunakannya lagi pada pemilu pilpres.
Jika dicermati seksama dan direnungkan mendalam, batalnya SBY mengusung capres sendiri di detik-detik terakhir tenggat waktu penetapan capres oleh KPU, mengindikasikan SBY ingin berperan maksimal di belakang layar tanpa menyita perhatian publik. SBY punya agenda pribadi yang tersembunyi.
SBY secara sengaja dan mudah dibuktikan telah melakukan “pembiaran” terhadap hal-hal sebagai berikut :
1. Pencetakan lebih dari 200 juta eksemplar  KTP pada proyek pengadaan EKTP, dan membiarkan penuntasan kasus korupsi proyek EKTP berlarut-larut sampai hari ini.
2. Pembiaran terhadap penghapusan atau peniadaan Pusat Monitoring Tabulasi Suara Nasional KPU, yang pada pemilu/pilpres sebelumnya selalu ada, baik dalam bentuk Layar TV raksasa di Hotel Borobudur Jakarta, atau pun  media pendukung Pusat Tabulasi Suara Nasional.
Sarana penting ini pada pemilu sebelumnya selalu menjadi dasar rujukan atau pedoman utama bagi seluruh pihak untuk mengetahui hasil pemilu/pilpres dari detik ke detik, sejak dimulainya perhitungan suara di TPS hingga hasil rekap suara nasional secara resmi ditetapkan dan diumumkan KPU.
Kenapa Pusat Tabulasi Suara Nasional KPU pada pemilu pilpres 2014 ditiadakan?
3. Tidak adanya sosialisasi dan kampanye masif dan kontinue terkait pelaksaan pemilu dan pilpres 2014. Sangat berbeda dengan pemilu/pilpres sebelumnya yang gema dan suasananya sangat meriah dan menjadi pesta politik rakyat. Pemilu /pilpres 2014 seolah-seolah sengaja tidak melibatkan rakyat luas.
4. Presiden SBY patut diduga secara sengaja membentuk opini dan persepsi publik, seolah – olah SBY dan Partai Demokrat bersikap netral, untuk meredusir kecurigaan publik terhadap keterlibatan SBY sebagai aktor utama di balik terjadinya situasi dan kondisi seperti yang terjadi pada saat pilpres sampai sekarang ini.
5. Jika diperhatikan secara seksama, terlihat jelas bagaimana pihak – pihak yang sebelumnya diketahui berada dalam barisan SBY, tiba-tiba secara sistematis dan terlalu demonstratif mengubah label mereka menjadi anti Prabowo.
Pihak-pihak ini kemudian secara vulgar “melakukan banyak kesalahan” yang dengan mudah dipakai menjadi bagian dari bukti yang menjadi dasar pertimbangan majelis MK dalam menetapkan keputusannya. Contohnya : Saiful Mujani, Siti Musda Mulia dll.
6. Disengaja atau tidak sengaja, SBY patut diduga telah mendorong atau setidak-tidaknya telah membiarkan kecurangan-kecurangan yang begitu “brutal” oleh kubu Jokowi dan KPU. Semua dikondisikan SBY, diduga untuk memberi penguatan terhadap putusan  MK dalam sengketa pilpres.
7. Mudah bagi semua pihak menyimpulkan bahwa SBY dengan sengaja membiarkan bahkan mungkin mendorong media-media untuk terus menyiarkan berita-berita atau informasi bernuansa provokasi dan agitasi ke publik. Tujuannya, agar terbentuk potensi benturan, gesekan atau friksi antar massa pendukung dari masing-masing capres.
8. Terkait informasi mengenai minimnya logistik dan dana pembiayaan pemilu pilpres yang disalurkan tim sukses Prabowo- Hatta, jika info ini benar, kemungkinan besar dana pilpres yang semula sudah tersedia, dialihkan alokasi dananya untuk mengantisipasi terjadinya pemilu pilpres ulang yang mungkin akan diputuskan MK nantinya.
9. Fenomena lain yang tidak mungkin diabaikan adalah bahasa tubuh dan raut wajah SBY yang selalu terlihat ceria sumringah. Bahasa tubuh dan raut wajah  disimpulkan dengan penilaian bahwa Presiden SBY tampil dalam kondisi kebatinan yang sangat percaya diri, senang dan bahagia. Menggambarkan bahwa perkembangan politik sekarang ini sudah atau masih sesuai dengan harapan dan keinginan SBY. Singkatnya, semua berjalan sesuai rencana SBY.
Analisa terhadap hubungan SBY – Yusril dapat menghasilkan kesimpulan bahwa Yusril sebagai pakar hukum tata negara, mengemban tugas khusus untuk membantu SBY dan MK agar putusan MK atas sengketa pilpres dapat diselaraskan dengan maksud dan rencana SBY sebelumnya.
Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah :
1. Apakah Capres Prabowo mengetahui persis grand scenario Presiden SBY terhadap pilpres?
Bilamana Prabowo ternyata sama sekali tidak mengetahui adanya hidden agenda SBY tersebut, dapat dipastikan bahwa posisi politik Prabowo di mata SBY tidak lebih dari sekedar proxy atau tools, yang dimanfaatkan SBY untuk mewujudkan kepentingan pribadinya.
2. Tindakan apa yang sebaiknya harus dilakukan Prabowo jika benar dirinya telah dimanipulasi dan ditunggangi SBY ? Langkah terbaik adalah Prabowo harus segera menemui Presiden SBY, bicara empat mata, mendesak SBY agar terbuka dan jujur.  “Jangan sampai ada dusta SBY terhadap Prabowo”
3. Jika SBY tetap tidak bersedia terbuka dan jujur apa yang harus dilakukan Prabowo?
Untuk mencegah Prabowo menjadi korban pengelabuan SBY, capres Prabowo harus menyampaikan sikap tegasnya dan diikuti dengan rencananya memaparkan semua fakta yang ada kepada rakyat Indonesia. Agar rakyat sadar bahwa segala permasalahan, kebuntuan dan konflik terkait pilpres patut diduga adalah hasil dari perbuatan SBY.

Penutup

Jika Prabowo tidak mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan tersebut di atas, dapat dipastikan, sebagai berikut :
1. MK akan memutuskan sebagian atau seluruh proses penyelenggaran pemilu pilpres yang dilakukan KPU, dinyatakan inkonstitusional dan atau telah melanggar berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Berdasarkan point 1 tersebut di atas, maka KPU dinyatakan bersalah dan seluruh putusan dan produk hukum yang ditetapkan KPU terkait pilpres dinyatakan batal demi hukum. Pemilu pilpres dapat batal seluruhnya atau batal sebagian. Dan Pilpres dapat diputuskan diulang seluruhnya atau diulang sebagian (hanya pada kabupaten kota tertentu saja).





Rahasia Moerdani, Agum dan Megawati

GebrakNews – Saya pernah menempuh pendidikan di sekolah milik Cosmas Batubara, tokoh eksponen’66 yang menghadiri rapat di rumah Fahmi Idris yang juga dihadiri Sofyan Wanandi. Rapat mana untuk pertama kalinya Benny Moerdani mengungkap rencana menggulingkan Presiden Soeharto melalui kerusuhan rasial anti Tionghoa dan Kristen (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316).
Salah satu kegiatan wajib di sekolah milik Cosmas Batubara adalah melakukan retreat dan tahun ajaran 1992-1993, seluruh siswa kelas 5 SD retreat selama lima hari di sebuah wisma sekitar Klender yang lebih mirip asrama daripada tempat retreat.
Wisma lokasi retreat tersebut sudah sangat tua dan berdesain khas gedung tahun 1960an. Sejak awal menjejakan kaki di sana saya sudah merasakan aura  yang tidak enak dan ini sangat berbeda dari lokasi retreat lain seperti Maria Bunda Karmel di puncak.
Adapun kegiatan selama retreat lebih menekankan kepada kedisiplinan dan melatih mental sehingga setiap kamar tidak ada kipas angin atau AC, dan selama retreat kami dipaksa bangun jam 4 pagi ppadahal baru tidur rata-rata jam 11 malam, ada puasa sepanjang hari, berdoa semalam suntuk dan ada beberapa kegiatan yang tidak lazim seperti diminta mencium dan mengingat bau bumbu masakan atau bunga yang disimpan dalam beberapa botol kecil selanjutnya mata ditutup dan setiap anak akan disodori botol-botol tadi dan diminta menebak bau/wangi apa.
Puluhan tahun kemudian saya membaca bahwa pada tahun 1967 tempat pendidikan Kaderisasi Sebulan (Kasebul) milik Pater Beek dipindahkan ke Klender, Jakarta Timur yang memiliki tiga blok, 72 ruangan dan 114 kamar tidur. Apakah lokasi yang sama Kasebul dengan tempat retreat adalah tempat yang sama? Saya tidak tahu.
Puluhan tahun kemudian saya masih ingat pengalaman selama lima hari yang luar biasa melelahkan tersebut padahal saya tidak ingat pengalaman retreat saat di Maria Bunda Karmel, dan karena itu saya menjadi paham maksud Richard Tanter bahwa metode Kasebul yang melelahkan jiwa dan raga tersebut pada akhirnya akan menciptakan kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Pater Beek secara personal, menjadi orangnya Beek seumur hidup dan bersedia melakukan apapun bagi Pater Beek sekalipun  kader tersebut sudah pulang ke habitat asalnya.
Apakah Kasebul masih dilakukan hari ini mengingat kekuatan Katolik dan Paus di Roma sudah tidak sekuat puluhan tahun silam, namun saya yakin Kasebul masih ada setidaknya tahun 1992-1993 sebab  Suryasmoro Ispandrihari mengaku kepada Mujiburrahman bahwa tahun 1988 dia pernah ikut Kasebul dan diajarkan untuk anti Islam, pernyataan yang dibenarkan oleh Damai Pakpahan, peserta Kasebul tahun 1984. Oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan murid-murid pertama Pater Beek seperti Jusuf Wanandi, dan Sofyan Wanandi di CSIS bila mereka sampai hari ini tidak bisa melepas karakter Ultra Kanan untuk melawan Islam, bagaimanapun begitulah didikan Pater Beek, tapi tetap saja mereka tidak bisa dimaafkan karena mendalangi Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dan harus diproses secara hukum.
Upaya menggerakan massa untuk jatuhkan Presiden Soeharto bisa dianggap dimulai pada tanggal 8 Juni 1996, ketika Yopie Lasut selaku Ketua Yayasan Hidup Baru mengadakan pertemuan tertutup dengan 80 orang di Hotel Patra Jasa dengan tema “MENDORONG TERCIPTANYA PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM ORDE BARU DI DAERAH-DAERAH” yang dihadiri antara lain oleh aktivis mahasiswa radikal, tokoh LSM, mantan tapol, Sofyan Wanandi-Megawati Soekarnoputri-Benny Moerdani.
Tidak berapa lama kemudian, operasi Benny Moerdani untuk meradikalisasi rakyat dengan tujuan “mendorong” mereka bangkit melawan Presiden Soeharto dimulai ketika pada tanggal 22 Juni 1996, Dr. Soerjadi, orang yang pada tahun 1986 pernah diculik Benny Moerdani ke Denpasar dan akhirnya menjadi Ketua PDI periode 1986-1992 dengan diperbantukan Nico Daryanto dari CSIS dan bekerja di bank milik kelompok usaha Sofyan Wanandi yaitu Gemala Grup dan akhirnya menjadi Presiden Direktur PT Aica Indonesia, akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PDI menggeser boneka Benny Moerdani untuk menggantikan Presiden Soeharto yaitu Megawati Soekarnoputri dalam kongres yang juga dibiayai oleh Sofyan Wanandi.
Adapun menurut kesaksian Alex Widya Siregar, terpilihnya Megawati Soekarnoputri pada munas tahun 1993 adalah karena Direktur A Badan Intelijen ABRI waktu itu yaitu Agum Gumelar menggiring peserta munas ke Hotel Presiden sambil ditodong pistol dan mengatakan “Siapa tidak memilih Megawati akan berhadapan dengan saya.” Belakangan diketahui bahwa Agum Gumelar adalah salah satu anak didik yang setia kepada Benny Moerdani dan bersama Hendropriyono menerima perintah untuk seumur hidup menjaga Megawati Soekarnoputri.
Sebulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1996 terjadi penyerbuan ke kantor PDI oleh massa Dr. Soerjadi menghantam massa PDI Pro Mega yang sedang berorasi di depan kantor PDI, dan Megawati telah mengetahui dari Benny Moerdani bahwa penyerbuan akan terjadi namun dia mendiamkan sehingga berakibat matinya ratusan pendukung Megawati dan menelan korban harta dan jiwa dari rakyat sekitar. Pada hari bersamaan Persatuan Rakyat Demokratik yang didirikan oleh Daniel Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu, Sugeng Bahagio, Wibby Warouw dan Yamin mendeklarasikan perubahan nama menjadi Partai Rakyat Demokratik yang mengambil tempat di YLBHI, dan selanjutnya pasca Budiman Soejatmiko dkk ditangkap, pada Agustus 1997 PRD deklarasikan perlawanan bersenjata.


Hasil karya CSIS-Benny Moerdani-Megawati dalam Kudatuli antara lain: berbagai gedung sepanjang ruas jalan Salemba Raya seperti Gedung Pertanian, Showroom Auto 2000, Showroom Honda, Bank Mayapada, Dept. Pertanian, Mess KOWAD, Bus Patas 20 jurusan Lebak Bulus – Pulo Gadung, bus AJA dibakar massa. Sepanjang Jl. Cikini Raya beberapa gedung perkantoran seperti Bank Harapan Sentosa dan tiga mobil sedan tidak luput dari amukan massa dll.


Selanjutnya pada hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan di kamar 510, Blok V, Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang sesaat setelah jam berbuka puasa yang membuat ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut hancur berantakan. Langit-langit yang bercat putih porak-poranda, atap ambrol, dinding retak, salah satu sudut jebol dan di sana sini ada bercak darah. Menurut keterangan Mukhlis, Ketua RT 10 Tanah Tinggi bahwa Agus Priyono salah satu pelaku yang tertangkap saat melarikan diri, ditangkap dalam kondisi belepotan darah dan luka di bagian kepala dan tangannya, sementara dua lainnya berhasil kabur. Setelah melakukan pemeriksaan, polisi menemukan: 10 bom yang siap diledakan, obeng, stang, kabel, botol berisi belerang, dokumen notulen rapat, paspor dan KTP atas nama Daniel Indrakusuma, disket, buku tabungan, detonator, amunisi, laptop berisi email dan lain sebagainya. Dari dokumen tersebut ditemukan fakta bahwa Hendardi, Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, Surya Paloh, Benny Moerdani, Megawati terlibat dalam sebuah konspirasi jahat untuk melancarkan kerusuhan di Indonesia demi gulingkan Presiden Soeharto.
Temuan tersebut ditanggapi Baskortanasda Jaya dengan memanggil Benny Moerdani (dibatalkan), Surya Paloh dan kakak beradik Wanandi dengan hasil:

1. Surya Paloh membantah terlibat dengan PRD namun tidak bisa mengelak ketika ditanya perihal pemecatan wartawati Media Indonesia yang menulis berita mengenai kasus bom rakitan di Tanah Tinggi tersebut.
2. Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi membantah terlibat pendanaan PRD ketika menemui Bakorstanas tanggal 26 Januari 1998, namun keesokan harinya pada tanggal 27 Januari 1998 mereka mengadakan pertemuan mendadak di Simprug yang diduga rumah Jacob Soetoyo bersama Benny Moerdani, A. Pranowo, Zen Maulani dan seorang staf senior kementerian BJ Habibie dan kemudian tanggal 28 Januari 1998, Sofyan Wanandi kabur ke Australia yang sempat membuat aparat berang dan murka. Sofyan Wanandi baru kembali pada bulan Februari 1998.

Bersamaan dengan temuan dokumen penghianatan CSIS dan Benny Moerdani tersebut, dan fakta bahwa Sofyan Wanandi menolak gerakan “Aku Cinta Rupiah” padahal negara sedang krisis membuat banyak rakyat Indonesia marah dan segera melakukan demo besar guna menuntut pembubaran CSIS namun Wiranto melakukan intervensi dengan melarang demonstrasi. Mengapa Wiranto membantu CSIS? Karena dia adalah orangnya Benny Moerdani dan bersama Try Soetrisno sempat digadang-gadang oleh CSIS untuk menjadi cawapres Presiden Soeharto karena CSIS tidak menyukai BJ Habibie dengan ICMI dan CIDESnya.

Kepanikan CSIS atas semua kejadian ini terlihat jelas dalam betapa tegangnya rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma Samedi, Klender, Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh Harry Tjan, Cosmas Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi, Hadi Susastro, Clara Juwono, Danial Dhakidae dan Fikri Jufri.

Ketegangan terutama terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi sebab Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti Soeharto tapi CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai gerakan makar. Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan menggelapkan dana. Tuduhan ini dijawab dengan beberkan penggunaan dana terutama kepada aktivis “kiri” di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar dll. Kristiadi juga menunjukan berkali-kali sukses menggalang massa anti Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) yang setahun terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di akhir rapat disepakati bahwa Kristiadi akan menerima dana tambahan Rp. 5 miliar.

Karena kondisi sudah mendesak bagi Benny Moerdani, kakak beradik Wanandi dan CSIS sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan kejatuhan Presiden Soeharto memakai rencana yang pernah didiskusikan di rumah Fahmi Idris pada akhir tahun 1980an yaitu kerusuhan rasial. Adapun metode kerusuhan akan meniru Malari yang dilakukan oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani dengan diperbantukan Sofyan Wanandi yang mendanai GUPPI, yaitu massa yang menunggangi demo mahasiswa UI demi menggulingkan Jenderal Soemitro.

Sekedar mengingatkan Malari yang terjadi pada tanggal 15 – 16 Januari 1976 adalah kerusuhan dengan menunggangi aksi anti investasi asing oleh mahasiswa UI atas hasutan Hariman Siregar, orangnya Ali Moertopo. Kerusuhan mana kemudian membakar Glodok, Sudirman, Matraman, Cempaka Putih, Roxy, Jakarta-By-Pass, 11 mati, 17 luka parah, 200 luka ringan, 807 mobil hancur atau terbakar, 187 motor hancur atau terbakar, 144 toko hancur dan 700 kios di Pasar Senen dibakar habis. Ini semua buah tangan Wanandi bersaudara, Ali Moertopo dan CSISnya.

Masalah yang harus dipecahkan untuk membuktikan bahwa CSIS adalah dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah:
1. Siapa yang membuat rencana dan mendanai (think);
2. Identitas massa perusuh (tank); dan
3. Siapa yang bisa menahan semua pasukan keamanan dan menghalangi perusuh?

 
Ad. 1. Pembuat rencana sudah dapat dipastikan muridnya Ali Moertopo, dalang Malari, yaitu Benny Moerdani dan Jusuf Wanandi. Sedangkan dana juga sudah dapat dipastikan berasal Sofyan Wanandi yang meneruskan peran almarhum Soedjono Hoemardani sebagai donatur semua operasi intelijen CSIS dan Ali Moertopo.

Benny Moerdani mengendalikan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dari Hotel Ria Diani, Cibogo, Puncak, Bogor. Adapun SiaR milik Goenawan Mohamad yang tidak lain sekutu Benny Moerdani bertugas membuat alibi bagi CSIS, antara lain dengan menyalahkan umat muslim sebagai dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dengan menulis bahwa terdapat pertemuan tujuh tokoh sipil dan militer pada awal Mei 1998 antara lain Anton Medan, Adi Sasono, Zainuddin MZ, di mana konon Adi Sasono menegaskan perlu kerusuhan anti-Cina untuk menghabiskan penguasaan jalur distribusi yang selama ini dikuasai penguasa keturunan Tionghoa.
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/07/14/0014.html

Ad. 2. Sampai sekarang massa perusuh tidak diketahui identitasnya namun dalam sejarah kerusuhan CSIS, penggunaan preman bukan hal baru. Dalam kasus Malari, CSIS membina dan mengerahkan GUPPI, tukang becak, dan tukang ojek untuk tujuan menunggangi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus penyerbuan ke Timor Leste, CSIS dan Ali Moertopo mengirim orang untuk bekerja sama dengan orang lokal melawan Fretilin sehingga Timor Leste menjadi kisruh yang kemudian menjadi dalih bagi Benny Moerdani menyerbu Timor-Timur. Begitu juga dalam kasus Kudatuli, CSIS menggunakan preman dan buruh bongkar muat dari daerah Pasar Induk Kramat Jati, 200 orang yang terlatih bela diri dari Tangerang, dan lain sebagainya.

Bahkan setelah reformasi, terbukti Sofyan Wanandi mendalangi demonstrasi yang menamakan diri Front Pembela Amar Maruf Nahi Mungkar yang menuntut Kwik Kian Gie mundur karena memiliki saham di PT Dusit Thani yang bergerak dalam usaha panti pijat ketika pemerintah dan DPR berniat menuntaskan kredit macet milik kelompok usaha Sofyan Wanandi sebagaimana diungkap Aberson Marle Sihaloho dan Didik Supriyanto, keduanya anggota fraksi PDIP. Adapun kredit macet dimaksud adalah hutang PT Gemala Container milik Sofyan Wanandi kepada BNI sebesar Rp. 92miliar yang dibayar melalui mekanisme cicilan sebesar Rp. 500juta/bulan atau baru lunas 184 tahun kemudian, dan tanpa bunga.

Ad. 3. Adalah fakta tidak terbantahkan bahwa tidak ada tentara selama kerusuhan tanggal 13 dan 14 Mei 1998, dan bilapun ada, mereka hanya menyaksikan para perusuh menjarah dan membakar padahal bila saja dari awal para tentara tersebut bertindak tegas maka dapat dipastikan akan meminimalisir korban materi dan jiwa. Pertanyaannya apakah hilangnya negara pada kerusuhan Mei disengaja atau tidak?

Fakta lain yang tidak terbantahkan adalah Kepala BIA yaitu Zacky Anwar Makarim memberi pengakuan kepada TGPF bahwa ABRI telah memperoleh informasi akan terjadi kerusuhan Mei. Namun ketika ditanya bila sudah tahu mengapa kerusuhan masih terjadi, Zacky menjawab tugas selanjutnya bukan tanggung jawab BIA. Jadi siapa “user” BIA? Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Wiranto yang berperilaku aneh sebab Jakarta rusuh pada tanggal 13 Mei 1998 dan pada tanggal 14 Mei 1998 dia membawa KSAD, Danjen Kopassus, Pangkostrad, KSAU, KSAL ke Malang untuk mengikuti upacara serah terima jabatan sampai jam 1.30 di mana sekembalinya ke Jakarta, kota ini sudah kembali terbakar hebat.

Keanehan Wiranto juga tampak ketika malam tanggal 12 Mei 1998 dia menolak usul jam malam dari Syamsul Djalal dan dalam rapat garnisun tanggal 13 Mei 1998 malam dengan agenda situasi terakhir ketika dia membenarkan keputusan Kasum Letjend Fahrul Razi menolak penambahan pasukan untuk Kodam Jaya dengan alasan sudah cukup. Selain itu Wirantomenolak permintaan Prabowo untuk mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang dengan cara tidak mau memberi bantuan pesawat hercules sehingga Prabowo harus mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala. Bukan itu saja, tapi KSAL Arief Kusharyadi sampai harus berinisiatif mendatangkan marinir dari Surabaya karena tidak ada marinir di markas mereka di Cilandak KKO dan atas jasanya ini, Wiranto mencopot Arief Kusharyadi tidak lama setelah kerusuhan mereda.

Mengapa Wiranto membiarkan kerusuhan terjadi? Tentu saja karena dia adalah orangnya Benny Moerdani, dan setelah Soeharto lengser, Wiranto bekerja sama dengan Benny Moerdani antara lain dengan melakukan reposisi terhadap 100 perwira ABRI yang dipandang sebagai “ABRI Hijau” dan diganti dengan perwira-perwira yang dipandang sebagai “ABRI Merah Putih.”

Setelah Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Wiranto bergerak menekan informasi mengenai terjadinya pemerkosaan massal terhadap wanita etnis Tionghoa termasuk marah karena pengumuman dari TGPF bahwa terjadi pemerkosaan selama kerusuhan. Tidak berapa lama, Ita Marthadinata, relawan yang membantu TGPF dan berumur 17 tahun mati dibunuh di kamarnya sendiri dengan luka mematikan di leher sedangkan sampai hari ini latar belakang pembunuhnya yaitu Otong tidak diketahui dan dicurigai dia adalah binaan intelijen. Kecurigaan semakin menguat sebab beberapa hari sebelum kejadian, Ita dan keluarganya membuat rencana akan memberikan kesaksian di Kongres Amerika mengenai temuan mereka terkait korban Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
(AM Panjaitan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar