Rabu, 11 Februari 2015

Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah .... konon apa bedanya..? Dan keduanya shahih...menurut Amman Message..??

Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?

http://www.albayyinat.net/jwb5tc.html


Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.
Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.
Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.
Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.
Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.
Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.
Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur'an mereka juga berbeda dengan Al-Qur'an kita (Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur'annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.
Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1.      Ahlussunnah         : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a)      Syahadatain
b)      As-Sholah
c)      As-Shoum
d)      Az-Zakah
e)      Al-Haj
Syiah                     : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a)      As-Sholah
b)      As-Shoum
c)      Az-Zakah
d)      Al-Haj
e)      Al wilayah
 
2.      Ahlussunnah         : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a)      Iman kepada Allah
b)      Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c)      Iman kepada Kitab-kitab Nya
d)      Iman kepada Rasul Nya
e)      Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f)       Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah                     : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
a)      At-Tauhid
b)      An Nubuwwah
c)      Al Imamah
d)      Al Adlu
e)      Al Ma’ad

3.      Ahlussunnah         : Dua kalimat syahadat
Syiah                     : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4.      Ahlussunnah         : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah                     :  Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5.      Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a)      Abu Bakar
b)      Umar
c)      Utsman
d)      Ali Radhiallahu anhum
Syiah                     : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai'at dan mengakui kekhalifahan mereka). 
6.      Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.
Syiah                     : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma'’hum, seperti para Nabi.

7.      Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.
Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai'at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8.      Ahlussunnah         :  Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.
Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9.      Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :
a)      Bukhari
b)      Muslim
c)      Abu Daud
d)      Turmudzi
e)      Ibnu Majah
f)       An Nasa’i
(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Syiah                     : Kitab-kitab Syiah ada empat :
a)      Al Kaafi
b)      Al Istibshor
c)      Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih
d)      Att Tahdziib
(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah). 

10.  Ahlussunnah         : Al-Qur'an tetap orisinil
Syiah                     : Al-Qur'an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11.  Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12.  Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.
Setelah mereka semuanya bai'at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13.  Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.
Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14.  Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.
Syiah                     : Khamer/ arak suci.

15.  Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.
Syiah                     : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16.  Ahlussunnah         :  Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.
Syiah                     : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.
(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17.  Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.
Syiah                     : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.
(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18.  Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.
Syiah                     : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19.  Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.
Syiah                     : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.
(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).
 
Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil 

seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.
Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).
Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).
Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.
Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

Telaah Perbedaan Sunni dan Syiah(I).

Telaah Perbedaan Sunni dan Syiah.
Tulisan ini adalah tanggapan sederhana atas tulisan di situs ini yang berjudul Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?. Untuk memenuhi permintaan saudara Gura dalam tulisan saya yang lalu. Tulisan yang bercetak miring adalah tulisan di situs tersebut. Sebelumnya perlu diingatkan bahwa apa yang penulis(saya) sampaikan adalah bersumber dari apa yang penulis baca dari sumber-sumber Syiah sendiri.
Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.
Penulis(saya) menjawab benar perbedaan Sunni dan Syiah memang tidak sebatas Furu’iyah tetapi juga berkaitan dengan masalah Ushulli. Tetapi tetap saja Syiah adalah Islam(lihat tulisan ini). Kita akan lihat nanti. Tidak ada masalah dengan pendekatan Sunni dan Syiah karena tidak semuanya berbeda, terdapat cukup banyak persamaan antara Sunni dan Syiah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya
Jawaban saya, kata-kata ini juga bisa ditujukan pada penulis itu sendiri, minimnya pengetahuan dia tentang Syiah kecuali yang di dapat dari Syaikh-syaikhnya. Kemudian berbicara seperti orang yang sok tahu segalanya. Dan berkomentar sebelum memahami persoalan sebenarnya.
Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.
Bukankah baik kalau mengenal sesuatu dari sumbernya sendiri yaitu Ulama Syiah. Kalau si penulis itu menganggap Ulama Syiah Cuma berpura-pura lalu kenapa dia tidak menganggap Syaikh-Syaikh mereka itu yang sengaja mendistorsi tentang Syiah. Subjektivitas sangat berperan, anda tentu tidak akan mendengar hal yang baik tentang Syiah dari Ulama yang membenci dan mengkafirkan Syiah. Pengetahuan yang berimbang diperlukan jika ingin bersikap objektif. Sekali lagi perbedaan itu benar tidak sebatas Furu’iyah.
Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita(Ahlussunnah). Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Kata-kata yang begitu kurang tepat, yang benar adalah Syiah meyakini Rukun Iman dan Rukun Islam yang dimiliki Sunni tetapi mereka merumuskannya dengan cara yang berbeda dan memang terdapat perbedaan tertentu pada Syiah yang tidak diyakini Sunni.
Kitab Hadis Syiah benar berbeda dengan Kitab Hadis Sunni karena Syiah menerima hadis dari Ahlul Bait as(hal ini ada dasarnya bahkan dalam kitab hadis Sunni lihat hadis Tsaqalain) sedangkan Sunni sebagian besar hadisnya dari Sahabat Nabi ra.
sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita. Ini adalah kebohongan, yang benar Ulama-Ulama Syiah menyatakan bahwa Al Quran mereka sama dengan Al Quran Sunni. Yang mengatakan bahwa Al Quran Syiah berbeda dengan Al Quran Sunni adalah kaum Syiah Akhbariyah yang bahkan ditentang oleh Ulama-Ulama Syiah. Kaum Akhbariyah ini yang dicap oleh penulis itu sebagai Ulama Syiah. Sudah keliru generalisasi pula. Penafsiran Al Quran yang berlainan bukan masalah, dalam Sunni sendiri perbedaan tersebut banyak terjadi.
Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.
Yang berkata seperti ini adalah Ulama-ulama Salafi, karena terdapat Ulama Ahlussunah yang mengatakan Syiah itu Islam seperti Syaikh Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali, Syaikh Yusuf Qardhawi, dan lain-lain. Sebenarnya yang populer di kalangan Sunni adalah Syiah itu Islam tetapi golongan pembid’ah. Cuma Salafi yang dengan ekstremnya menyebut Syiah agama tersendiri.
Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).
Saya akan menanggapi satu persatu pernyataan penulis ini
1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima) a) Syahadatain b) As-Sholah c) As-Shoum d) Az-Zakah e) Al-Haj Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda: a) As-Sholah b) As-Shoum c) Az-Zakah d) Al-Haj e) Al wilayah
Jawaban: Saya tidak tahu apa sumber penukilan penulis ini, yang jelas Syiah juga meyakini Islam dimulai dengan Syahadat. Jadi sebenarnya Syiah meyakini semua rukun Islam Sunni hanya saja mereka menambahkan Al Wilayah. Yang ini yang tidak diakui Sunni, tentu perbedaan ini ada dasarnya.
2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) : a) Iman kepada Allah b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya c) Iman kepada Kitab-kitab Nya d) Iman kepada Rasul Nya e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah. Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)* a) At-Tauhid b) An Nubuwwah c) Al Imamah d) Al Adlu e) Al Ma’ad
Syiah jelas meyakini atau mengimani semua yang disebutkan dalam rukun iman Sunni, hanya saja mereka ,merumuskannya dengan cara berbeda seperti yang penulis itu sampaikan. Rukun iman Syiah selain Imamah mengandung semua rukun iman Sunni. Perbedaannya Syiah meyakini Imamah dan Sunni tidak, sekali lagi perbedaan ini ada dasarnya.
3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka
Ini tidak benar karena syahadat dalam Sunni dan Syiah adalah sama Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Tidak mungkinnya pernyataan penulis itu adalah bagaimana dengan mereka orang Islam pada zaman Rasulullah SAW, zaman Imam Ali, zaman Imam Hasan dan zaman Imam Husain. Bukankah jelas pada saat itu belum terdapat 12 imam.
4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka
Imam Sunni tidak terbatas karena setiap ulama bisa saja disebut Imam oleh orang Sunni. Bagi Syiah tidak seperti itu, 12 imam mereka ada dasarnya sendiri dalam sumber mereka, dan terdapat juga dalam Sumber Sunni tentang 12 khalifah dan Imam dari Quraisy. Intinya Syiah dan Sunni berbeda pandangan tentang apa yang disebut Imam. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan. Pernyataan ini hanya sekedar persepsi, tidak dibenarkan berdasarkan apa, jelas sekali penulis ini tidak memahami pengertian Imam dalam Syiah.
Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka. Saya tidak tahu apa dasar penulis itu, yang saya tahu Ulama Syiah selalu menyebut Sunni sebagai Islam dan saudara mereka. Anda dapat melihat dalam Al Fushul Al Muhimmah Fi Ta’lif Al Ummah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi(terjemahannya Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah dan Syiah hal 33 yang membuat bab khusus yang berjudul Keterangan Para Imam Ahlul Bait Tentang Sahnya Keislaman Ahlussunnah) Atau anda dapat merujuk Al ’Adl Al Ilahy karya Murtadha Muthahhari( terjemahannya Keadilan Ilahi hal 271-275).
5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah : a) Abu Bakar b) Umar c) Utsman d) Ali Radhiallahu anhum Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).
Pembahasan masalah ini adalah cukup pelik, oleh karenanya saya akan memaparkan garis besarnya saja. Benar sekali khulafaurrosyidin yang diakui Sunni adalah seperti yang penulis itu sebutkan. Syiah tidak mengakui 3 khalifah pertama karena berdasarkan dalil-dalil di sisi mereka Imam Ali ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Pernyataan (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka), disini lagi-lagi terjadi perbedaan. Sunni berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan sukarela. Tetapi Syiah berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan terpaksa. Hal yang patut diperhitungkan adalah Syiah juga memakai sumber Sunni untuk membuktikan anggapan ini, diantaranya hadis dan sirah yang menyatakan keterlambatan baiat Imam Ali kepada khalifah Abu Bakar yaitu setelah 6 bulan. Sekali lagi perbedaan ini memiliki dasar masing-masing di kedua belah pihak baik Sunni dan Syiah, jika ingin bersikap objektif tentu harus membahasnya secara berimbang dan tidak berat sebelah. Perbedaan masalah khalifah ini juga tidak perlu dikaitkan dengan Islam atau tidak, bukankah masalah khalifah ini jelas tidak termasuk dalam rukun iman dan rukun islam Sunni yang disebutkan oleh penulis itu. Oleh karenanya jika Syiah berbeda dalam hal ini maka itu tidak menunjukkan Syiah keluar dari Islam.

Sebelum mengakhiri bagian pertama ini, ada yang perlu diperjelas. Syiah meyakini rukun iman dan rukun islam Sunni hanya saja Syiah berbeda merumuskannya. Oleh karenanya dalam pandangan Sunni, Syiah itu Islam. Syiah meyakini Imamah yang merupakan masalah Ushulli dalam rukun Iman Syiah. Sunni tidak meyakini hal ini. Dalam pandangan Syiah, Sunni tetap sah keislamannya berdasarkan keterangan dari para Imam Ahlul Bait . Anda dapat merujuk ke sumber yang saya sebutkan. Bersambung , Salam damai


Allah Swt. Menjayakan Islam Dengan Umar ibn al Khtahthab

Allah Swt. Menjayakan Islam Dengan Umar ibn al Khtahthab

Di antara hadis palsu yang sering dibanggakan kaum Bakriyah (sekelompok kaum Sunni yang fatanik terhadap Abu Bakar dan Umar dan anti Imam Ali as.) adalah bahwa Nabi saw. memohon kepada Allah SWT dalam doanya agar Allah menjayakan agama Islam dengan Umar ibn al Khaththab. Riwayat palsu itu selalu mereka banggakan sebagai keutamaan Umar, dan dapat kita jumpai dalam banyak buku mereka dan dalam banyak kesempatan!
At Turmudzi memulai Bab Manâqib Umar dalam Sunan-nya dengan meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad sebagai berikut:

Muhammad ibn Basysyâr dan Muhammad bin Râfi’ menyampaikan hadis kepada kami, mereka berkata, ‘Abu ‘Âmir al ‘Aqadi mengabarkan kepada kami, ia berkata, Khârijah ibn Abdulah al- Anshari mengabarkan kepada kami, dari Nâfi’ dari Ibnu Umar bawa Rasulullah saw. bersabda:

أللَّهُمَّ أَعِزَّ الإسلامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إليكَ ؛ بِأبي جهلٍ أَوْ بِعُمَرَ بنِ الخطاب.

Ya Allah jayakan Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Kau cintai ini; Abu Jahal atau Umar ibn al Khaththab.
.
Ibnu Umar berkata, “Dan yang lebih dicintai Allah adalah Umar.”
Ini adalah hadis hasan gharîb dari hadis Ibnu Umar. [1]
Hadis palsu ini telah mereka riwayatkan dengan mengatasnamakan sebelas sahabat Nabi saw., di antara mereka Ibnu Umar dan Umar sendiri. Hadis palsu ini sejak awal peluncurannya telah ditolak dan dibohongkan oleh:

1. Ikrimah

Ikrimah -sahaya Ibnu Abbas ra., seorang tokoh tabi’în yang sangat diandalkan sebagai sumber ajaran agama oleh para ulama Ahlusunnah- telah menolaknya dan menggolongkannya sebagai kebohongan yang menghinakan agama Islam itu sendiri.

Jalaluddin as-Suyûthi -tokoh besar Ahlusunnah- meriwayatkan dalam kitab ad-Durar al-Muntatsirah:19 bahwa Ikrimah ditanya tentang hadis itu, ia berkata:
.

.
معاذَ اللهِ! الإسلامُ أَعَزُّ مِنْ ذلِكَ، و لكنه قال: أللهمَّ أَعِزَّ عُمر بالدين أَو أبا جهلٍ.

Aku berlindung kepada Allah (dari mengatakan demikian), Islam jauh lebi kuat dari itu, tetapi beliau bersabda, “Ya Allah jayakan Umar atau Abu Jahal dengan agama.” [2]

Dari sini dapat difahami bahwa meyakini omongan seperti itu dan apalagi menisbatkannya dengan kepalsuan kepada baginda Rasulullah saw. adalah kebohongan yang keji, tidak berani memalsunya kecuali kaum munafik yang tidak mempedulikan akibat dari kepalsuan yang dibuatnya. Dalam pandangan Ikrimah, omongan itu adalah pelecehan atas Islam, agama Allah yang maha mulia dan kokoh, karenanya ia berlindung kepada Allah dari ucapan dan keyakinan sesat seperti itu.

Penolakan Ikrimah semestinya sudah cukup membungkam mulut-mulut kaum Bakriyah dan Salafiyah yang bernafsu membela pandangan-pandangan mereka walaupun dengan kapalsuan dan melecehkan agama!

2. Ummul Mukminin Aisyah

Selain Ikrmah, Aisyah juga membohongkan kepalsuan itu, dan sesungguhnya kaum bakriyah memutar balikkan sabda suci Nabi saw. demi kesesatan mereka.

Burhânuddin al-Halabi asy-Syafi’i dalam as-Sirah al-Jalabiyah-nya setelah menyebutkan riwayat tentang masalah ini, ia menukil pernyataan Aisyah sebagai berikut, “Dan telah diriwayatkan dari Aisyah ra., ia berkata, ‘Sebenarnya nabi saw. bersabda, ‘Ya Allah, jayakan Umar dengan Islam.’ Sebab, Islam akan selalu jaya dan tidak perlu dijayakan dengan orang.” [3]

Al Halabi berkata bahwa ucapan Aisyah itu muncul dari ijtihadnya sendiri, sebagai buktinya bahwa beliau menyebutkan alasannya bahwa jauhlah anggapan bahwa Islam akan dibuat jaya oleh orang

Ibnu Jakfari berkata:
Andai benar arahan dan pembelaan al-Halabi, pastilah kita berhak bertanya, bolehkan seorang menolak hadis yang telah disabdakan Nabi Muhammad saw. -yang tidak bertutur kata dari hawa nafsu, melainkan dari wahyu- dengan alasan ijtihad?! Apa hukumnya seorang yang menolak mentah-mentah hadis Nabi saw.? Bukankah kata-kata al-Halabi itu berbahaya bagi Ummul-Mukminin Aisyah?!

Selain itu makna Ya Allah jayakan Islam seperti diterangkan al-Mubârakfuri dalam at-Tuhfah-nya adalah, “Kuatkan, belahla dan jadikan ia menang di atas kekafiran.” Di sini anda terhak bertanya, ‘adakah bukti yang dapat diajukan oleh Bakriyah bahwa Umar berandil besar dalam kejayaan Islam di masa Nabi saw.?!

Coba anda teliti data-data sejarah peperang Nabi saw., pernahkan Umar berperang ekstra dalam membela Islam dan Nabi saw.?

Saya berharap kaum Bakriyah menyebutkan lima saja orang kafir yang pernah dibunuh Umar dalam peperangan sepanjang sejarah Islam! Dan untuk itu saya angkat topi sebagai rasa hormat saya

Dapatkan jasa Umar terhadap Islam dapat dibandingkan dengan jasda-jasa besar dan pembelaan nyata Imam Ali as. dalam berbagai pertempuran antara pihak Islam dengan pihak kafir?!

Tanyakan kepada “Badar” siapa pejuang sejati yang gigih membela Islam!
Tanyakan kepada “Uhud”, siapakah yang tetap teguh di sisi Nabi di kala para sahabat lari berhamburan meninggalkan Nabi sendirian?

Tanyakan kepada sejarah, siapakah yang lari meninggalkan Nabi saw di saat-saat genting seperti di pertempuran Uhud, Hunain dll.?

Apa arti kejayaan Islam dengan Umar kalau ternyata Imam Ali as, yang paling berjasa untuk agama Rasulullah saw.?!

Saya berharap kita tidak perlu mempertahankan sebuah doqma yang tidak mampu ditegakkan di atas bukti-bukti nyata dan data-data akurat sejarah!!

Meyakini Ali as. lebih unggul dan lebih utama jauh lebih mencerminkan keimanan dan kepatuhan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, ketimbang membuat-buat atau mengimani kepalsuan!
Andai kaum Bakriyah mau memposisikan sahabat-sahabat kebanggaan mereka pada posisi mereka sebenarnya, niscaya itu lebih utama dan lebih ilmiah dan lebih membawa keselamatan dunia dan akhirat dari pada memalsu atas nama suci nabi Muhammad saw

Ancaman atas yang memalsu Hadis

Sebelum saya akhiri makalah ini, saya tertarik menyebutkan beberapa fatwa ulama Ahlusunnah tentang bahaya memalsu kebohongan atas nama Nabi saw. dan bagaimana hukumnya. Abu al-Mudzaffar as-Sam’ani berkata, “Barang siapa berbohong sekali saja atas nama Rasulullah saw. maka seluruh riwayat darinya yang terdahulu harus digugurkan”. [4]

Imam Ahmad ibn Hanbal, Abu Bakar al-Humaidi dan Abu Bakar ash-Shairafi berkata, “Tidak dapat diterima riwayat seorang yang pernah berbohong atas nama Rasulullah saw. walaupun setelahnya ia bertaubat dari berbohong (atas nama Nabi)”. [5]

Ibnu Hajar berkomentar, “Para ulama sepakat bersikap keras atas orang yang berbohong atas nama Rasulullah saw., sebab ia tergolong dosa besar, kabâair, sampai-sampai Syeikh Abu Muhammad al-Juwaini menetapkan hukum kafir atas yang melakukannya. Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi cenderung mendukung pendapat itu…”. [6]

Dan bagi yang telah mengetahui kepalsuan sebuah hadis maka haram atasnya untuk  meriwayatkannya.

Ibnu Shalâh berkata, “Dan tidak halal bagi yang mengetahui keadaannya (hadis palsu itu) untuk meriwayatkannya kepada seorang pun dalam masalah apapaun kecuali jika disertai dengan menerangkan kepalsuannya.” [7]

Maka dengan demikian adalah kewajiban atas setiap muslim untuk tidak ceroboh dalam meriwayatkan hadis-hadis palsu tentang keutamaan sebagian sahabat. Dan bagi yang telah menegtahuinya maka haram atasnya meriwayatkan dan menyebarkan riwayat-riwayat seperti itu. Dengannya ia tergolong sebagai pemalsu atas nama Nabi saw.
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis yang ia sifati dengan al-atsar al-masyhûr, berita yang masyhur/tersohor:

.
مَنْ حدَّثَ عَنِّيْ بِحديثٍ يرَى أنهُ كذِبٌ فَهو أحد الكاذِبَيْنِ.

Barang siapa menyampaikan hadis dariku sementara ia mengetahui bahwa ia adalah palsu maka ia seorang dari dua pembohong.[8]
____________________________
[1] Sunan at Turmudzi(dengan syarah al Mubârakfûri),10/167-168 hadis 3764.
[2] ad Durar al Muntatsirah:19. cet. Mushthafa Al Halabi, Mesir.
[3] As Sirah al Halabiyah,1/330.
[4] Taqrîb  dengan syarah as Suyuthi, Tadrîb ar Râwi,1/230.
[5] Taqrîb dan Ikhtishar ‘Ulûm al Hadîst:111.
[6] Fathu al-Bari.6,389. (baca Adhwa’ ‘Ala as Sunnah al Muhammdiyah:70)
[7] At Taqyîd wa al Îdhâh, Syarh Muaddimah Ibn ash Shalâh:131.
[8] Muslm (dengan syarah An Nawawi),1/62 dan Al Maudhû’at; Ibnu al Jauzi,1/62.

@ Hana
ya tugas kita hanyalah berusaha semampunya untuk belajar dengan baik
tentang apa hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT
salam :D
[…] bahwa Sunni adalah sah keislamannya. Ini adalah pendapat yang muktabar di sisi Syiah seperti dalam tulisan saya. Tidak hanya Muhammad Husain Kasyif Al-Githa yang menyatakan seperti itu, Sayyid Abdul Husain […]

 secondprince, on November 1, 2007 at 8:39 pm said:
@ aditya
wah panjang
ya terserah Mas kalau merasa begitu
kita kan sama-sama belajar :D
@ almirza
ah ini malah lebih panjang
Mas, tahan betul nulisnya :D
@ aditya
riwayat mana yg mengatakan Bunda Suci Fathimah Azzahra ra ngotot minta warisan?, riwayat itu adalah riwayat syiah berhati busuk, mereka kira putri Rasul saw sama dengan mereka yg serakah atas harta dunia dan berebutan warisan?
Riwayat Shahih Bukhari Bab Khumus, Sayyidah Fathimah datang ke Abu Bakar dan meminta warisannya dari tanah Fadak tetapi Abu Bakar menolak dengan mengatakan hadis “apa yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah” dan menolak memberikan warisan kepada sayyidah Fathimah. Mendengar itu Sayyidah Fathimah marah selama 6 bulan dan ketika meninggal beliau tidak mengizinkan Abu Bakar menshalatkan jenazahnya
Kalau tidak salah itu garis besar bunyi hadisnya, sebaiknya cek sendiri. Masalah ini tidak perlu selalu dikaitkan dengan Syiah dan Sunni
Mas sayyidah Fathimah meminta warisan karena itu haknya, dalam Al Quran jelas kalau yang mempunyai hubungan darah berhak waris mewarisi.
Yang jadi masalah adalah
Hadis Abu Bakar yang dikemukakannya itu tidak diketahui oleh ahli waris Nabi SAW yaitu Sayyidah Fathimah sendiri dan Istri-istri Beliau SAW kecuali Aisyah(lihat Al Muwatta, Istri-istri nabi SAW mengutus Usman untuk meminta bagian warisan)
Padahal ahli waris Nabi SAW jelas yang lebih berhak mengetahui hadis tersebut karena mereka yang berkepentingan
Kemudian kalau memang begitu kenapa Sayyidah Fathimah mesti marah selama 6 bulan kepada Abu Bakar
Dalam hadis Shahih Bukhari terdapat sabda Rasulullah SAW
Fathimah adalah bagian dariku dan barang siapa yang membuat dia marah berarti membuatKu marah
Masalah kedua adalah harta warisan Nabi tidak cuma Fadak, rumah-rumah buat istri-istri Nabi SAW juga harta Nabi SAW tetapi menjadi milik Istri Beliau SAW
kemudian hadis tsaqalain menjelaskan kalau Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan manusia harus berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait. Dan Sayyidah Fathimah adalah Ahlul Bait sesuai dengan hadis Kisa’. Lihat tulisan saya soal hadis Tsaqalain dan Ahlul Bait
Dan maaf anda tidak perlu mengumbar kata-kata seperti riwayat Syiah berhati busuk.
Di sini digunakan hadis-hadis Sunni Mas :D
Dan maaf sebaiknya anda menjaga lisan anda dari kata-kata ,Putri Rasul serakah masalah harta, jangan berlebihan
menuntut hak adalah wajar bukan serakah jadi harap berhati-hati Mas
Bukankah kita sama-sama mencintai Ahlul Bait
Hadis yang anda bawa menarik
sabda Rasulullah saw : “Tiadalah datang hari kiamat kecuali beradunya dua kelompok besar, dan keduanya membela hal yg sama” (Shahih Bukhari),
Mas berhujjah dengan penjelasan Ibnu Hajar
Pertanyaannya, hadis itu tidak menjelaskan siapa golongannya
dan apa buktinya kalau hadis itu merujuk ke Ali ra dan Muawiyah ra
Bisa saja kan hadis itu merujuk ke peristiwa di akhir zaman nanti
Yang jelas penunjukkan dalil itu tidak jelas
Mari kita lihat hadis yang lebih jelas
bahwa Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa taat kepadaKu, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangKu berarti ia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti ia taat kepadaKu dan siapa yang menentang Ali berarti ia menentangKu.”
Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. Al Hakim dalam Al Mustadrak berkata hadis ini shahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi juga mengakui kalau hadis ini shahih dalam Talkhis Al Mustadrak.
dan ada hadis shahih Bukhari yang menjelaskan kalau Ammar bin Yasir akan mati di tangan kelompok yang baghy(pemberontak)
Coba cari di kitab Sirah, Ammar bin Yasir meninggal saat perang Shiffin dan beliau berada di pihak Imam Ali. Ammar bin Yasir mati di tangan kelompok Muawiyah
Dalil di atas sangat jelas bahwa Imam Ali di posisi yang benar dan Muawiyah di sisi yang salah
Maaf saya heran, anda berdalil dengan Nahjul balaghah padahal kitab itu populer dikalangan Syiah. Dan anda sebelumnya mengatakan ,riwayat Syiah berhati busuk. Antagonis menurut saya
Lagipula kalau anda benar-benar membaca Nahjul Balaghah tentang peristiwa Shiffin ini anda akan tahu kalau Imam Ali justru menyatakan kalau Muawiyah di posisi yang salah
silakan baca sendiri Nahjul Balaghah surat Imam Ali kepada Muawiyah
Kan memang tidak perlu menghina cukup yang benar katakan benar dan kalau salah ya katakan salah
Ceritakan apa adanya
begitulah yang dikatakan Imam Ali
nah loooo ketahuan deh bo’ongnya
Ini ditujukan buat siapa sih, saya ya
Perasaan saya gak bohong
Atau buat Mas Mirza?
Gak ada yang bohong kok disini
Yang penting memaparkan dalil dan hujjah masing-masing
Diskusikan bersama dan kalau memang masih tetap berbeda ya sudah
serahkan saja pada Allah SWT,kita cuma belajar
Wah capek juga nih, ah mungkin lebih enak kalau dibuat postingan khusus
Mas Aditya kenapa tidak buat tulisan saja, biar bisa bagi-bagi ilmunya :D
Salam
secondprince, on November 8, 2007 at 1:18 pm said:
@Aditya
Maaf Mas mari kita bahas satu-persatu
Hadis tentang Sayyidina Fathimah riwayat Shahih Bukhari, memang ada riwayat yang mengkaitkan hadis itu dengan putri Abu Jahal.
tetapi ada juga hadis yang tidak mengaitkan dengan peristiwa tersebut. Tentu saja baik jika mengetahui asbabul wurud hadis tersebut, nah seandainya kita menggabungkan kedua riwayat tersebut. Maka arti yang tepat adalah Apa saja yang membuat Sayyidina Fathimah marah maka itu membuat Nabi SAW marah.
Apakah dengan melihat sebabnya, anda akan langsung berkata bahwa hadis itu hanya terbatas peristiwa itu saja dan tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa lain. Pernyataan ini jelas tidak benar karena dua alasan
1. Adalah prinsip dalam pengambilan dalil berlandaskan dengan keumuman lafal bukan kekhusususan sebab.
2. Banyak hadis tersebut yang matannya tidak sedikitpun mengandung peristiwa yang berkaitan dengan putri Abu Jahal itu. Jadi hadis ini bermakna umum, tidak dikhususkan.
Masalah hadis Kitab Allah dan AhlulBaitku, anda kurang lengkap menyebutkan. Hadis itu tidak hanya diriwayatkan Tirmidzi tetapi juga diriwayatkan oleh Ahmad,Thabrani, Thahawi, Al Hakim, Al Haitsami ,As Suyuthi, Ibnu Khuzaimah dll.
Kemudian anda hanya mengutip pernyataan Tirmidzi hasan gharib padahal dalam Shahih Sunan Tirmidzi Takhrij Syaikh Al Albani, beliau menyatakan hadis itu shahih. hadis ini juga dishahihkan oleh Al Hakim, Al haitsami, As Suyuthi dan Adz Dzahabi. Sepertinya anda belum membaca tulisan saya tentang hadis Tsaqalain.https://secondprince.wordpress.com/2007/07/21/hadis-tsaqalain/. Jadi hadis ini banyak sanadnya dan shahih.
Kemudian hadis Kitab Allah dan Sunahku, anda menyebutkan dalam Sunan Baihaqi dan Sunan Daruquthni. Apa benar anda sudah memeriksa sanadnya. Lihat pembahasan saya tentang hadis ini, hadis ini maaf sanadnya dhaif Mas. https://secondprince.wordpress.com/2007/07/27/19/. Jadi justru hadis Kitab Allah dan Ahlul Baitku yang shahih sanadnya.
Artinya sekali lagi cukup jelas kita harus berpegang kepada Al quran dan AhlulBait supaya tidak sesat. Itu berarti AhlulBait sudah jelas yang paling paham tentang Sunah Rasulullah SAW. Jangan membalikkan persoalan dengan berkata menilai AhlulBait harus mengikuti Sunnah, karena mereka pasti mengikuti Sunnah
hadis Tsaqalain menyatakan kalau AhlulBait akan bersama dengan Al Quran dan mereka yang paling paham Sunah Rasulullah SAW.
Anda termasuk mereka yang mendistorsi arti hadis Tsaqalain dengan berkata
maksudnya bergandengan dg mereka, jangan berpisah dan memusuhi mereka, menjaga mereka, mencintai mereka, dan menaungi mereka, termasuk diantaranya menegur mereka bila mereka salah, membimbing mereka jika mereka dalam kesilapan, itu adalah salah satu permintaan Nabi saw kepada ummatnya
Memang sebagian yang anda sebutkan itu memang harus kita lakukan tetapi hadis Tsaqalain memiliki makna yang jelas bahwa kita harus berpegang teguh kepada Al Quran dan AhlulBait. Tunjukkan Mas adakah dalam hadis Tsaqalain teks yang menyebutkan kalau yang dimaksud itu adalah mencintai mereka, menaungi mereka, menghormati mereka. bahkan yang lucu anda bilang menegur mereka kalau mereka salah. Lihat saja teks hadis tsaqalain manusialah yang harus berpegang teguh kepada Ahlul Bait bukan sok menilai dan menegur segala. Baca Tulisan saya yang ini https://secondprince.wordpress.com/2007/10/30/kritik-terhadap-distorsi-hadis-tsaqalain/
Atau tulisan saya yang ini https://secondprince.wordpress.com/2007/10/30/kekeliruan-hafiz-firdaus-dalam-memahami-hadis-tsaqalain/.
Kata-kata anda
sekarang begini loh, kalau memang 3 sahabat itu menurut kamu gak pantas disebut dengan sahabat
Lho siapa yang bilang begini, saya gak pernah bilang begitu. Mereka memang shahabat Nabi tetapi saya tidak pernah mengkultuskan.
Kalau mereka salah, saya cuma menunjukkan apa yang mereka lakukan
Soal hadis Fadak,la khan anda yang terlebih dahulu menyatakan kalau itu cuma riwayat syiah. terbukti toh anda salah.
Anda berkata
masak sopan mengatakan bunda fatimah, ngambek selama 6 bulan sampai sampai tidak mau diziarahi oleh sahabat abu bakar. klo memang itu ada hadistnya, knapa Nabi tidak pernah memprediksikannya sebelumnya
Kata-kata itu lebih baik tujukan pada Imam Bukhari, dia memasukkan hadis itu dalam Shahihnya. Tidak perlu berkelit. Bukti nyata hadis itu ada dan sanadnya shahih dan teksnya memang jelas menyatakan Sayyidah Fathimah marah dan tidak berbicara kepada Abu bakar ra selama 6 bulan.
Anda mengaku mencintai Ahlul Bait, tetapi anda entah benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu riwayat ini. Aneh sekali.
Tidak ada saya menghina shahabat. Saya cuma berkata dalam masalah Fadak saya jelas memihak kepada Sayyidah Fathimah karena beliaulah yang benar menurut saya(tentu pendapat saya ada dasarnya). Kalau bagi anda itu berarti menghina shahabat, ya terserah anda.
Kemudian kata-kata anda
kenapa Nabi tidak menerangkannya bahwa kelak sahabat sahabatnya akan terpecah belah ???? ( tanda Tanya BESAR ) entar jangan – jangan kalian juga berprasangka buruk
Kata-kata anda menunjukkan ketidaktahuan anda terhadap hadisnya.
Contohnya hadis Shahih Bukhari juz 8 hal 150 diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang di hadapanKu kelak sekelompok shahabatKu tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya ”wahai TuhanKu mereka adalah shahabat-shahabatKu”. Lalu dikatakan ”Engkau Tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling.”.
Itu cuma salah satu Mas, dan banyak kok yang lain. yang penting saya tidak mencaci atau menghina siapapun saya cuma menyatakan kalau menyakiti AhlulBait adalah sebuah kesalahan.
Masalah Ahlul Bait yang memaafkan mereka yang menyakitinya. Itu referensinya dari mana, tentu saya ingin tahu.
Kemudian apakah dengan itu kita tidak bisa mengatakan kalau menyakiti Ahlul bait itu salah.
Meracuni Imam Hasan jelas kesalahan besar, membunuh imam Husain jelas kesalahan besar kan.
Masalah hukum memang Allah yang menentukan, tetapi adalah wajar kalau kita ingin mengetahui yang mana yang benar. Tidak ada yang berniat mengadili, kalau bagi anda semua itu tidak ada masalah, ya itu terserah anda. Mungkin memang begitu cara anda mencintai Ahlul Bait.
Kata-kata anda
maka telah sepakat para Ulama dan Imam Ahlulbait dan Imam lainnya untuk beradab kepada Nabi saw dengan memuliakan seluruh sahabat beliau saw,
mana buktinya, dari mana referensinya, siapa sahabat yang dimaksud?
Sahabat Nabi memang mulia, itu benar tetapi mereka tidak bebas dari kesalahan. Justru mereka sahabat Nabi mendapat wasiat hadis Tsaqalain dari Nabi SAW agar berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Bagi saya pribadi dalil-dalil yang jelas menunjukkan Ahlul Bait adalah pribadi yang mulia setelah Rasul dan mereka selalu bersama kebenaran. Siapapun yang menyelisihi mereka termasuk Shahabat adalah tidak benar. Sekali lagi saya tidak menghina.
Kemudian kata-kata anda
lalu kalau itu perbuatan pada sesama muslim maka bagaimana kalau yg dicaci adalah mertua Rasulullah saw..?
Tidak perlu mencaci, cukup yang benar katakan benar dan salah katakan salah(tentu berdasarkan dalil)
Lagipula kata-kata anda itu bisa dibalik untuk anda sendiri. Bagaimana dengan orang yang membuat marah Sayyidah Fathimah selama 6 bulan, dan yang dibuat marah itu Putri tercinta Rasulullah SAW
Renungkan dengan baik. Kecintaan dan pengkultusan kepada Shahabat jangan sampai mengurangi keutamaan Ahlul Bait dan membuat tidak ambil pusing dengan perkara yang menyakiti Ahlul bait.
Soal hadis Tsaqalain, sekali lagi itu shahih dan artinya jelas. Saya heran dengan mereka yang mengaku mencintai Ahlul Bait tetapi meragukan sanad hadis ini atau mendistorsi makna yang sebenarnya.

 secondprince, on November 11, 2007 at 5:07 pm said:
@almirza
Mungkin saudara Aditya mencintai Ahlul Bait dengan caranya sendiri Mas :D
KENAPA SIH BUNDA FATIMAH TERUS MENJADI OBYEK MASALAH FADAK, KAN YANG NUNTUT FADAK BUKAN HANYA BUNDA FATIMAH, ADA PAMAN NABI , ISTRI ISTRI NABI ( KATANYA PECINTA AHLUL BAYT ) , SELALU BUNDA FATIMAH YANG DIMAJUKAN SELALU IMAM ALI YANG DITABRAKKAN , SUDAH BACA BLOM HADIST BUKHORI DENGAN BETUL, KLO UDAH PASTI AKAN FAHAM DENGAN PENJELASAN SAYID ABUBAKAR ( MERTUA NABI SAW ), TRUS KLO MEMANG TANAH FADAK ITU MILIK AHLUL BAYT, DAN KEPUTUSAN SAYID ABUBAKAR SALAH, KENAPA PADA SAAT IMAM ALI MENJADI KHALIFAH TIDAK DIAMBIL HAKNYA ITU, IMAM HASAN MENJADI KHALIFAH JUGA GAK MINTA KOK, HI HI HI , MERENUNG …………… MERENUNG …………….. MERENUNG.
OH IYA UNTUK SAHABAT ALMIRZAN , MEMANG SAHABAT ITU MANUSIA BIASA YANG BISA SALAH, MAKA DARI ITU TIDAK ADA YANG MA’SUM KECUALI NABI, KALAU ADA PENDAPAT YANG MENGATAKAN SESEORANG BUKAN NABI MEMPUNYAI DERAJAT MA’SUM WAH ITU NAMANYA YANG KEBABLASAN. MUAWIYAH BERSALAH BIAR ADA HUKUMANNYA, KHADID BIN WALID SALAH BIAR NANTI KAN ADA MIZAN, MAKANYA NABI BERSABDAH “Jangan kalian mencaci sahabatku, jika kalian berinfak Emas sebesar Gunung Uhud, belum menyamai satu genggaman mereka atau setengahnya” (Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan banyak lagi). trus klo kalid bin walid sadr dan tobat, bagaimana dengan kita yang jauhhhhh pangkatnya dengan khalid bin walid yang terus berujar sahabat ini salah, sahabat itu salah, sahabat anu gak benar, wah wah kita nantinya jadi umat penghujat ( dalihnya yang benar katakan benar, yang salah katakan salah ) tapi ingat mas @limra, eeee @lmirzan (maaf ) yang saya sebut kan adalah
” mengenai penghinaan dan fitnah pd para sahabat adalah penghinaan atas Nabi saw, menghina salah satu dari Khulafa’urrasyidin hukumnya kufur,,
SEKALI LAGI MENGHINA SAHABAT NABI ADALAH PENGHINAAN TERHADAP NABI.
YANG KEDUA MENGHINA SALAH SATU DARI Khulafa’urrasyidin HUKUMNYA KUFUR,
DALIL BANYAK, JANGAN AMBIL REFERENSI SENDIRI AJA YANG DICARI, CARI REFERENSI YANG LAINNYA,
MAAF MAS secondprince, SEBENARNYA saya mau tanya aja kok, lah yang muncul kok orang lain, ok kita lanjutkan lagi masalah fadak
ini hadis dari buchori nomor. 1264, Dari abu huraira ra
Nabi bersabdah ” ahli warisku tiada mempusakai dinar dan dirham, ada yang aku tinggalkan, selai dari belanja istriku dan keperluan pembantuku, adalah sedekah (harta umum )
hadist di atas diperkuat nomor. 1793, dari aisyah ra
Bahwa fatimah, dan abbas keduanya datang kepada abu bakar, a
bu bakar mengatakan kepada keduanya bahwa saya mendengar Nabi bersabdah ( seperti diatas ), maka demi Allah saya tidak akan melebihkan apa yang Nabi perintahkan,
ingat disini bukan hanya bunda fatimah yang meminta, tetapi ada paman Nabi, dalam riwayat lain istri istri nabi, tuhh trus kenapa masalah fadak kok cuma mumcul nama bunda fatimah, ( kan gak adil dong ), maaf mas biar gak setres jadi saya sedikit bercanda, tapi jangan marah loh, karena ahlul byt itu orangnya tidak gampang pemarah. ( loh apa hubungannya ……….. maaf , maaf maaf )
tolong ini dulu yang di jelaskan, Insya Allah kita lanjutkan lagi lainnya ( karena masih banyak pembahasannya, mumpung saya baru beli suatu kitab bagus ) dan belum semua saya kupas . boleh kan, kan mas bilang sendiri disini kita sama sama belajar. untuk nas @lmirzan, maaf ya klo ada kata kata saya yang menghujat, saya berharap sampean tidak seperti syiah yang sering saya lihat ( terutama di web syiah ) amin

@ Almirza
Eh maaf soal yang kemarin
Ya saya lagi sibuk
Wah anehnya malah u yang rajin kesini :D
@ Aditya
Buat Mas Aditya, maaf bahasa anda itu agak runyam kayaknya
kalau anda lagi diskusi dengan seseorang
dan ingin menjawabnya, maka lebih baik pakai tanda untuk siapa komen itu ditujukan
jujur saja waktu baca komen terkahir Mas dengan nama bara ini, saya jadi bingung. Itu komentar buat Mas Mirza kan sebenarnya
Ya saya lihat diskusi anda dan saudara Mirza, cukup menarik. Walaupun bahasanya patut disayangkan.
Tidak perlu emosi Mas, kan disini memaparkan pandangan masing-masing jadi tidak perlu saling menghina, cukup biasa saja.
Ah ya ini juga buat Mas Mirza tentunya
Melihat komentar anda berdua, memang benar anda berdua termasuk saya berbeda pandangan tentang Ahlul Bait. Saya sendiri sebelum membahas masalah fadak dan yang lainnya sudah memahami terlebih dahulu hadis Tsaqalain. Dan saya lihat anda rasanya tidak sedikitpun membahas hadis Tsaqalain. Jadi menurut saya lebih baik kalau kita bahas tuntas dahulu hadis Tsaqalain ini biar jelas masalahnya.
Saya akan paparkan kekeliruan komentar anda yang terakhir
Kekeliruan anda yang pertama, anda menilai orang lain tapi tidak menilai diri sendiri, Anda mengkritik orang lain soal referensi misalnya referensi dari internet. Padahal anda tahu dari mana kalau referensi lawan bicara anda itu dari internet. Terus kalau dari internet apa langsung jadi salah. Ini maaf cuma prakonsepsi anda dan sebenarnya tidak perlu diungkapkan saat berargumen. Orang yang kritis tahu jelas kekeliruan prakonsepsi ini. Karena intinya cuma tuduhan.
Yang lain, misalnya ketika anda ditanya kedudukan hadis yang anda bawa dalam berargumen. Anda bukannya menjawab bagaimana kedudukan hadisnya, tapi malah berdalih dengan yang lain.
Kemudian anda kadang mengatakan orang lain tukang comot atau tukang nukil. Padahal jaman sekarang mana ada yang bukan tukang nukil bahkan termasuk anda sendiri. Jadi arah pernyataan anda itu tidak jelas mau kemana. Saya sih mempersepsi bahwa komentar anda itu lebih banyak luapan emosinya ketimbang kualitas argumennya.
Anda kadang mengaku seolah punya dan membaca sendiri kitab yang anda jadikan argumen. Tapi ternyata saya lihat argumen anda soal Nahjul Balaghah bahwa imam Ali memuji sahabat itu tidak begitu mengena. Artinya beda kok. Dan dalam hal ini saya sependapat dengan Mas Mirza artinya tidak seperti yang anda katakan.
Jadi yang seperti ini membuat ragu apa benar anda membaca sendiri atau menukil. Pernyataan seperti yang anda katakan itu pernah saya baca dalam Gen Syiah Ustad Mamduh dan maaf beliau cuma menukil separuh dari khotbah yang dimaksud, jadi artinya berbeda.
Anda sering mengatakan referensi orang lain tidak benar, cuma terjemahan banyak salahnya dll. Padahal argumen anda sendiri tidak lebih baik dari itu
Seharusnya kalau anda membuat tuduhan harus dengan bukti, jadi tampilkan mana yang benar menurut anda, terjemahan mana yang salah dan benarkan, begitu lebih baik.
Bahkan maaf kalau soal rujukan atau kutipan, anda sendiri tidak memahami dengan baik. Contoh nyata adalah ketika saya merujuk Shahih Bukhari dan menyebutkan Kitab dan Babnya, eh anda malah tanya no hadisnya dengan alasan susah mencari karena hadis itu banyak. Padahal yang begitu tidak perlu, Shahih Bukhari bisa dirujuk dari babnya atau no hadisnya. Salah satu saja sudah cukup.
Satu hal lagi tidak perlu meributkan soal label yang diajak bicara, kita memperhatikan argumennya bukan siapa dia. Jadi kalau anda menjawab komentar orang lain tidak perlu mengaitkan dengan persepsi anda sendiri. Misalnya Anda menganggap saya atau Mas Mirza sebagai Syiah(padahal belum tentu benar). Oleh karena itu bagi anda kami ini jelas bukan orang yang benar untuk diperhatikan kata-katanya. Yang seperti ini tidak perlu menurut saya. Apalagi dalam komentar anda, anda terkesan menyudutkan syiah padahal awalnya cuma bicara masalah Fadak.
Yang perlu diperhatikan semua yang anda pahami tentang Syiah juga belum tentu benar. Lebih baik anda berhati-hati kalau bicara bagaimana keyakinan Syiah jika anda sendiri cuma menukil.
Sekarang daripada pembicaraan kita meluas entah kemana. Maka terlebih dahulu saya ingin mengajak anda untuk membahas hadis Tsaqalain, ya cukup hadis itu dulu. Baru yang lain. Setelah tuntas baru bicara yang lain, biar jelas semuanya. Saya harap anda dapat membuktikan kalau anda memang punya niat baik dan ingin berdiskusi bukan mau menang sendiri. Sekali lagi kita bahas Hadis Tsaqalain itu dulu. Anda bisa membahasnya langsung dalam tulisan saya tentang Hadis Tsaqalain, ada banyak kan.
Oh iya kalau anda mau membalas komentar, lebih baik tampilkan untuk siapa komentar itu dituju, Biar jelas dan tidak salah paham. Yang seperti ini saya rasa anda bisa.
Salam
  1. @ Al Mirza & Aditya
    Maaf kalau mau diskusi sebaiknya jangan saling menghinalah
    Yang penting kan cuma memaparkan pandangan masing-masing
    Gak setuju ya sudah :D
  2. @Aditya
    Ah saya lihat ada yang menarik dalam salah satu komentar anda itu, anda berkata
    Ada riwayat bahwa suatu saat Nabi sholat 2 rakaat, yang mestinya 4, rakaat., trus sahabat dibelakang beliau menanyakan apa sholat diringkas atau dirubah, trus Nabi menanyakan kepada halayak ramai, maka sahabat menjawab iya, maka Nabi berdiri turus menabah kekurangan sholat yang dimanakan sujud sahwi
    TRUS APA KITA AKAN MENGATAKAN BAGINDA SAW LUPA, NAUDZUBILLAH, SEMOGA ALLAH MEMAAFKAN SAYA, HAIIII ORANG YANG KATANYA BERAKAL
    APA TRUS KITA MAU MENGATAKAN ………………. TERUSKAN SENDIRI DEH
    Jadi kalau menurut Mas sendiri bagaimana arti hadis itu sebenarnya
    Mas gak stuju kalau Nabi SAW lupa
    jadi kenapa shlat 2 rakaat yang seharusnya 4 rakaat
    Kalau sengaja kenapa pula Rasulullah SAW mesti bertanya
    begini saja coba lihat hadisnya yang benar
    “Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam shalat Dhuhur atau Ashar bersama para sahabat. Beliau salam setelah shalat dua rakaat, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjid berkata, ‘Shalat telah diqashar (dikurangi)?’ Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau memang shalat telah diqashar?.’ Nabi berkata, ‘Aku tidak lupa dan shalat pun tidak diqashar.’ Laki-laki itu kembali berkata, ‘Kalau begitu Anda memang lupa wahai Rasulullah.’ Nabi shallallaahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, ‘Benarkah apa yang dikatakannya?’. Mereka pun menga-takan, ‘Benar.’ Maka majulah Nabi shallallaahu alaihi wasallam, selanjutnya beliau shalat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali, dan salam lagi.” (Muttafaq ‘alaih)
    Nah siapa yang mengatakan kalau Rasulullah SAW lupa, kalau berdasarkan riwayat di atas maka sahabatlah yang bilang
    Atau saya salah tafsir ya
    Kalau begitu lihat hadis ini
    hadits Abdullah bin Mas‘ud ra. Bahwa Rasulullah SAW shalat bersama kami lima rakaat. Lalu kami bertanya, ”Apakah ada perubahan (tambahan) dalam shalat?” Beliau bertanya, ”Memangnya kenapa?”. ”Anda shalat lima rakaat wahai Rasulullah”, jawab kami. “Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian, jadi aku mengingat seperti kalian mengingat dan lupa seperti kalian lupa.”. Lalu beliau sujud dua kali.” (HR. Muslim)
    Sekarang saya yang jadi bingung dengan anda
    Lebih baik kalau diskusi jangan suka melebarkan masalah, kan jadi lebih aneh apalagi memasukkan prasangka anda sendiri
    Saya ingin dengar jawaban anda Mas
    Salam
  3. @Ali
    Gapapa kok
    Ya sebenarnya ada niat juga sih nulis tema itu
    doakan saja
    semoga sempat
    @Anjar
    nggak ribut
    cuma memaparkan pandangan masing-masing
    Sayangnya kata-kata memang sulit untuk dikontrol :D
    @Yati
    saya juga pernah baca
    ntarlah saya cari lagi
    @Rafi
    hmm begitu ya
    tapi saudara Bara memang sudut pandangnya dari awal sudah lain

 

Studi Kritis Imam Ali Menamakan Putranya Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Studi Kritis Imam Ali Menamakan Putranya Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Tulisan ini tidak memiliki tujuan khusus kecuali hanya untuk memberikan deskripsi yang jelas dan analisis terhadap masalah yang sering diributkan oleh para Salafiyun. Salafiyun mengangkat masalah ini untuk menyerang mahzab Syiah, dimana jika Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman maka itu berarti Imam Ali mengagumi dan berhubungan baik dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya tidak membela siapa-siapa disini, tugas saya hanya memaparkan data yang jelas dan mengoreksi kekeliruan asumsi-asumsi yang ada. Mengenai pandangan saya sendiri terhadap ketiga khalifah maka bagi saya “tidak ada masalah”.
Benarkah Imam Ali menamakan putranya dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman?. Tentu untuk menjawab masalah ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dengan studi literatur. Untuk memudahkan pembahasan maka akan dibahas satu persatu.
.
.
Putra Imam Ali Yang Bernama Abu Bakar
 
Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khuraasy salah seorang Ulama Salafy  yang mengecam Syiah dalam kitabnya As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 7 mengatakan dengan pasti bahwa Imam Ali menamakan anak-anaknya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman yaitu nama ketiga khalifah. Ia berkata

علي رضي الله عنه كما في المصادر الشيعية يسمِّي أحد أبنائه من زوجته ليلى بنت مسعود الحنظلية  باسم أبي بكر، وعلي رضي الله عنه أول من سمَّى ابنه  بأبي بكر في بني هاشم

Ali radiallahuanhu yang menjadi rujukan Syiah menamakan salah satu dari anak-anaknya dari istrinya Laila binti Mas’ud dengan nama Abu Bakar, dan Ali radiallahuanhu adalah yang pertama dari Bani Hasyim yang menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar.
Jika melihat catatan kaki dalam kitab tersebut maka dapat dilihat bahwa Syaikh Sulaiman mengutip dari Kitab Al Irsyad Syaikh Mufid, Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani dan Tarikh Al Yaqubi. Saya merujuk pada kitab-kitab yang disebutkan oleh Syaikh dan ternyata terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh Syaikh Sulaiman.
.
Dalam kitab Al Irsyad Syaikh Mufid hal 354 memang disebutkan nama anak-anak Imam Ali dan pada bagian anak Laila binti Mas’ud disebutkan

ومحمّدُ الأصغر المكًنّى أبا بكرٍ وعًبَيْدُاللهِ الشّهيدانِ معَ أخيهما الحسينِ عليهِ السّلامُ بالطّفِّ ، أُمُّهما ليلى بنتُ مسعود الدّارميّةُ

Muhammad Al Asghar dengan kunniyah Abu Bakar dan Ubaidillah yang syahid bersama saudaranya Al Husain Alaihissalam, Ibu mereka adalah Laila binti Mas’ud Ad Darimiyah.
Jadi Abu Bakar itu bukanlah nama sebenarnya tetapi hanyalah nama panggilan atau kunniyah sedangkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebenarnya adalah Muhammad Al Asghar. Hal ini berarti Imam Ali tidaklah menamakan putranya dengan nama Abu Bakar melainkan Muhammad.
.
Dalam Kitab Maqatil Ath Thalibiyyin Abu Faraj Al Asbahani hal 56, beliau mengatakan pada bagian “Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib”

لم يعرف اسمه ، وامه ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك بن ربعي بن سلم بن جندل بن نهشل بن دارم بن مالك بن حنظلة بن زيد مناة بن تميم

Tidak diketahui namanya, dan ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik bin Rabi’ bin Aslam bin Jandal bin Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Zaid Manat bin Tamim.
Abu Faraj Al Asbahani mengaku tidak mengetahui nama asli Abu Bakar bin Ali, dalam hal ini ia menganggap bahwa Abu Bakar adalah nama panggilan atau kunniyah. Memang dalam kitab Tarikh Al Yaqubi 1/193 tidak disebutkan siapa namanya hanya menyebutkan Abu Bakar, hanya saja jika memang Syaikh Sulaiman bin Shalih merujuk pada kitab-kitab yang ia sebutkan maka sangat jelas bahwa nama Abu Bakar itu adalah kunniyah bukannya nama asli. Oleh karena itu menyatakan bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar adalah keliru. Di sisi ulama syiah sendiri, Abu Bakar bin Ali dikenal dengan nama Muhammad Al Asghar dan ada pula yang menyatakan namanya Abdullah.
Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dalam Kitabnya Ansharu Husain hal 135 memasukkan nama Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu dari mereka yang syahid di Karbala, beliau berkata

قال الاصفهاني : لم يعرف إسمه ( في الخوارزمي : إسمه عبد الله ) . أمه : ليلى بنت مسعود بن خالد بن مالك

Al Asfahani berkata “tidak diketahui namanya” (Al Khawarizmi berkata : namanya Abdullah). Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid bin Malik.
.
Sayyid Jawad Syubbar dalam kitabnya Adab Al Thaff 1/57 berkata

ابو بكر بن علي بن أبي طالب واسمه محمد الأصغر أو عبد الله وأمه ليلى بنت مسعود بن خالد

Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, namanya Muhammad Al Asghar atau Abdullah dan Ibunya adalah Laila binti Mas’ud bin Khalid.
Jadi disisi Ulama syiah maka Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib adalah nama panggilan yang masyhur sedangkan nama aslinya ada yang mengatakan Muhammad Al Asghar dan ada yang menyatakan Abdullah. Oleh karena itu bagi Ulama Syiah “Imam Ali tidak menamakan anaknya dengan nama Abu Bakar”.
Kalau melihat dari literatur Sunni maka saya pribadi belum menemukan adanya keterangan siapakah nama sebenarnya Abu Bakar, Ibnu Sa’ad dalam At Thabaqat Kubra 3/19 hanya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah putra dari Ali bin Abi Thalib dari istrinya Laila binti Mas’ud, tetapi keterangan Abul Faraj Al Asbahani dalam Maqatil Ath Thalibiyyin di atas sudah cukup untuk menyatakan bahwa Abu Bakar itu adalah nama panggilan atau kunniyah. Abu Faraj Al Asbahani memang dikatakan oleh Adz Dzahabi sebagai Syiah tetapi menurut beliau Abu Faraj seorang yang jujur.
Adz Dzahabi berkata tentang Abul Faraj Al Asbahani dalam kitabnya Mizan Al Itidal 3/123 no 5825

والظاهر أنه صدوق

Yang  jelas, dia seorang yang jujur.
Dalam Siyar A’lam An Nubala 16/201, Adz Dzahabi berkata kalau Abul Faraj Al Asbahani adalah seorang pakar sejarah, lautan ilmu, tahu tentang nasab, hari-hari bangsa arab dan menguasai syair. Adz Dzahabi juga menegaskan bahwa salah satu tulisannya adalah Maqatil Ath Thalibiyyin, kemudian pada akhirnya Adz Dzahabi berkata “la ba’sa bihi” atau tidak ada masalah dengan dirinya.
Dalam Lisan Al Mizan jilid 4 no 584, Ibnu Hajar juga mengatakan hal yang sama dengan Adz Dzahabi bahwa Abul Faraj seorang yang jujur. Ibnu Hajar juga berkata

وقد روى الدارقطني في غرائب مالك عدة أحاديث عن أبي الفرج الأصبهاني ولم يتعرض

Ad Daruquthni meriwayatkan sejumlah hadis dari Abul Faraj Al Asbahani dalam Ghara’ib Malik tanpa membantah atau menolak riwayatnya.
Semua keterangan di atas menyimpulkan baik di sisi Sunni maupun Syiah nama Abu Bakar putra Imam Ali adalah nama panggilan yang masyhur untuknya, sehingga dapat disimpulkan bahwa Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar. Selain itu Abu Bakar adalah panggilan yang masyhur dan tidak hanya dimiliki oleh Abu Bakar khalifah pertama yang nama aslinya sendiri adalah Abdullah bin Utsman.
Dalam Kitab Al Ishabah Ibnu Hajar 4/26 no 4570 disebutkan salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Abu Bakar bin Rabi’ah, di kitab Al Ishabah 4/90 no 4685 disebutkan bahwa Abdullah bin Zubair salah seorang sahabat Nabi juga memiliki kunniyah Abu Bakar dan dalam Al Ishabah 7/44 no 9625 terdapat salah seorang sahabat yang dipanggil dengan Abu Bakar Al Laitsiy yang nama aslinya adalah Syadad bin Al Aswad. Keterangan ini menunjukkan bahwa kunniyah Abu Bakar tidak mutlak milik khalifah pertama dan bisa disematkan pada siapa saja.
.
.
Putra Imam Ali Yang Bernama Umar
Syaikh Sulaiman bin Shalih juga menyebutkan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 5

رقية بنت علي بن أبي طالب، عمر بن علي بن أبي طالب ـ الذي توفي في الخامسة والثلاثين من عمره

وأمهما هي: أم حبيب بنت ربيعة

Ruqayyah binti Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada usia 35 tahun. Ibu mereka adalah Ummu Hubaib binti Rabi’ah.
Dalam hal ini memang benar nama putra Imam Ali tersebut adalah Umar, tetapi tidak benar jika dikatakan Imam Ali menamakan putranya Umar karena yang menamakan Umar adalah Khalifah Umar bin Khattab. Adz Dzahabi menyebutkan dalam As Siyar A’lam An Nubala 4/134 biografi Umar bin Ali bin Abi Thalib

ومولده في أيام عمر فعمر سماه باسمه ونحله غلاما اسمه مورق

Beliau lahir pada masa khalifah Umar dan Umar menamakan dengan namanya, kemudian memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.
Al Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf hal 192 juga mengatakan hal yang sama

وكان عمر بن الخطاب سمى عمر بن علي باسمه ووهب له غلاما سمي مورقا

Umar bin Khattab menamakan Umar bin Ali dengan namanya dan memberikan kepadanya budak yang bernama Mawraq.
Jadi pernyataan Syaikh Sulaiman Al Khuraasy bahwa Imam Ali menamakan anaknya dengan nama Umar adalah keliru, yang benar Umarlah yang menamakan anak Imam Ali dengan nama Umar.
Sebagian pengikut salafy yang mengetahui fakta ini tetap saja berdalih dan terus mengecam syiah, mereka mengatakan kalau memang Imam Ali membenci dan melaknat Umar maka tidak mungkin beliau mau anaknya dinamakan oleh Khalifah Umar dengan namanya. Cara berpikir seperti ini keliru. Keputusan Imam Ali yang membiarkan anaknya dengan nama Umar bukan berarti beliau mengagumi Umar bin Khattab dan bukan berarti pula saya mengatakan Imam Ali membenci dan melaknat Umar. Dalam hal ini nama Umar adalah nama yang umum sehingga tidak ada masalah bagi Imam Ali untuk menerimanya. Bahkan nama Umar adalah nama salah satu dari anak tiri Nabi yaitu Umar bin Abi Salamah yang dalam sejarah hidupnya pernah diangkat sebagai gubernur Bahrain oleh Imam Ali dan beliau sahabat yang tetap setia kepada Imam Ali dalam Perang Jamal. Oleh karena itu nama Umar bagi Imam Ali bukanlah nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya.
.
Dalam Al Ishabah Ibnu Hajar 4/588-597 didapatkan banyak sahabat yang bernama Umar diantaranya
  • Umar bin Hakim Al Bahz (Al Ishabah no 5739)
  • Umar bin Khattab (Al Ishabah no 5740)
  • Umar bin Sa’ad Al Anmari (Al Ishabah no 5741)
  • Umar bin Sa’id bin Malik (Al Ishabah no 5742)
  • Umar bin Sufyan bin Abad (Al Ishabah no 5743)
  • Umar bin Abi Salamah (Al Ishabah no 5744)
  • Umar bin Ikrimah bin Abi Jahal (Al Ishabah no 5745)
  • Umar bin Amr Al Laitsi (Al Ishabah no 5746)
  • Umar bin Umair Al Anshari (Al Ishabah no 5747)
  • Umar bin Auf An Nakha’i (Al Ishabah no 5748)
  • Umar bin La Haq (Al Ishabah no 5749)
  • Umar bin Malik (Al Ishabah no 5750)
  • Umar bin Malik bin Utbah (Al Ishabah no 5751)
  • Umar bin Muawiyah (Al Ishabah no 5753)
  • Umar bin Wahab Ats Tsaqafi (Al Ishabah no 5754)
  • Umar bin Yazid (Al Ishabah no 5755)
Jadi nama Umar adalah nama yang umum di kalangan sahabat dan tidak selalu mesti merujuk pada Khalifah Umar. Intinya Imam Ali tidak menganggap nama Umar sebagai nama yang jelek sehingga beliau harus menolaknya. Khalifah Umar boleh saja menganggap nama Umar bin Ali itu berasal dari namanya tetapi tidak bisa dikatakan kalau bagi Imam Ali nama Umar mesti merujuk pada Umar bin Khattab karena bisa saja dikatakan bahwa nama Umar itu adalah nama yang umum sehingga Imam Ali tidak keberatan untuk menerimanya atau nama Umar itu bagi Imam Ali mengingatkannya pada Umar bin Abi Salamah anak tiri Nabi dan salah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.
.
.
Putra Imam Ali yang bernama Utsman
Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Khurasy mengatakan dalam As’ilat Qadat Syabab Asy Syiah Ila Al Haq hal 4

عباس بن علي بن أبي طالب، عبدالله بن علي بن أبي طالب، جعفر بن علي ابن أبي طالب، عثمان بن علي بن أبي طالب أمهم هي: أم البنين بنت حزام بن دارم

Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Ibu mereka adalah Ummul Banin binti Hizam bin Darim.
Saya katakan memang benar Imam Ali memiliki satu putra yang bernama Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Tetapi lagi-lagi keliru kalau dikatakan nama Utsman mesti merujuk pada Khalifah Utsman. Nama Utsman adalah nama yang umum pada masa Jahiliyah dan masa Nabi. Ayah Abu bakar khalifah pertama bernama Utsman bin Amir. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/169 disebutkan bahwa nama sebenarnya Ayah Abu Bakar yang bergelar Abu Quhafah adalah Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah. Bukankah ini berarti nama Utsman sudah ada pada masa jahiliyah.
.
Pada masa sahabat cukup banyak sahabat yang bernama Utsman. Saya menemukan lebih dari 20 orang  sahabat yang bernama Utsman seperti yang tertera dalam Al Ishabah 4/447 no 5436  sampai 4/463 no 5461 diantaranya (hanya disebutkan sebagian)
  • Utsman bin Hakim (no 5437)
  • Utsman bin Hamid bin Zuhayr (no 5438)
  • Utsman bin Hunaif Al Anshari, Imam Tirmidzi mengatakan kalau beliau ikut perang Badar (no 5439)
  • Utsman bin Said Al Anshari (no 5442)
  • Utsman bin Amir, Abu Quhafah (no 5446)
  • Utsman bin Utsman Ats Tsaqafi (no 5451)
  • Utsman bin Affan (no 5452)
  • Utsman bin Mazh’un (no 5457)
Jadi nama Utsman itu adalah nama yang umum dan tidak bisa langsung dikatakan begitu saja merujuk pada Utsman bin Affan. Lagipula Abul Faraj Al Asbahani menyebutkan bahwa nama Utsman putra Ali dinamakan oleh Imam Ali dengan merujuk pada Utsman bin Mazh’un. Hal ini disebutkan dalam Maqatil Ath Thalibiyyin hal 55 ketika menerangkan tentang “Utsman bin Ali bin Abi Thalib”.

روى عن علي أنه قال . إنما سميته باسم أخي عثمان ابن مظعون

Diriwayatkan dari Ali yang berkata “Sesungguhnya aku menamakannya dengan nama saudaraku Utsman bin Mazh’un”.
Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang sahabat Nabi yang cukup dikenal keutamaannya. Beliau wafat di masa Nabi SAW setelah perang Badar. Terkenal ucapan Nabi SAW atas beliau ketika salah satu putri Nabi SAW meninggal, beliau SAW berkata

الحقي بسلفنا الصالح الخير عثمان بن مظعون

Susullah pendahulu kita yang shalih lagi baik Utsman bin Mazh’un
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad Ahmad no 2127 dan dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Imam Ali memang menamakan putranya dengan nama Utsman yang merujuk pada Utsman bin Mazh’un.
.
.
.
Kesimpulan
Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan ini
  1. Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Abu Bakar karena Abu Bakar adalah nama panggilan
  2. Imam Ali tidak menamakan putranya dengan nama Umar tetapi Khalifah Umar yang memberi nama Umar dan Imam Ali menerima nama tersebut karena nama Umar mengingatkan Beliau akan nama Umar bin Abi Salamah seorang sahabat yang setia kepada Imam Ali.
  3. Imam Ali menamakan putranya dengan nama Utsman yang diambil dari nama Utsman bin Mazh’un

Salam Damai
.
.
Catatan :
  • Mohon maaf  jika tulisan yang muncul tidak sesuai dengan yang diharapkan :)
  • Tulisan ini cuma bahan lama yang didaur-ulang :mrgreen:


     



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar