Senin, 29 Oktober 2012

....Benarkah Tabut (the Ark Of Covenant) Masih Ada ??!! >>....MISTERI TABUT NABI MUSA...??!!>>....“Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan daripada Tuhanmu dan sisa daripada peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman.” (al-Baqarah: 248)...>>....Berdasarkan dokumen-dokumen kuno Yahudi, diperkirakan bahwa Tabut ini disembunyikan di Gunung Nebo di tepi sungai Yordan sebelah timur. Wilayah ini merupakan negara Yordania sekarang, tetapi tanpa petunjuk tentang keberadaan Tabut ini...>>....Pandangan yang mendapat sedikit perhatian sampai dekade yang lalu, sekarang ini dipopulerkan oleh buku The Sign and The Seal: The Quest for The Lost Ark of Convenant, oleh jurnalis Inggris Graham Hancock. Menurut buku ini diperkirakan bahwa Tabut ini dibawa keluar dari Yerusalem kuno pada azaman Raja. Banyak versi dari cerita ini, tapi diperkirakan yang melakukan hal ini adalah putra Sulaiman dari Ratu Sheba. Sekalipun hubungan ini tak disebutkan dalam Alkitab sekalipun disebutkan adanya pertemuan oleh dua Monarki ini (I Raja-Raja 10) dalam tradisi diketahui bahwa Ethiopia diperkirakan menjadi lokasi kuno kerajaan Sheba...>>...Bangsa Israel sebenarnya sudah mengetahui hal ini bahkan pernah di muat di majalah B’nai B’rith Messenger, bahkan Anda bisa membaca di Encyclopedia Britannica satu artikel: It (Aksum-Aduwa) contains the ancient church where according to tradition, the Tabot, or Ark of the Convenant brought from Jerusalem by the son of Salomon and the Queen of Sheba, was deposited and is still supposed to rest. Bahkan sudah tercantum di dalam Alkitab bahwa pada suatu saat Tabut Allah akan dibawa kembali dari negara Etiopia ke Yerusalem (Yesaya 18,1,7)..>>...Pada saat pesta perpisahan Pangeran Menelik I membunuh para imam penjaga Tabut Suci dengan minuman anggur yang sudah dicampur dengan racun. Dan ia membawa Tabut Suci yang asli ke Aksum (Etiopia) beserta para imam yang benar-benar taat kepada Tuhan Allah, karena ia melihat para istri dari Raja Salomo semuanya sudah tidak percaya kepada Tuhan Allah lagi, mereka semuanya sudah menjadi murtad dan berdosa terhadap Tuhan Allah, oleh sebab itulah Tabut Suci nya dicuri dan dibawa oleh dia kenegaranya. Sedangkan copy dari Tabut Suci yang seyogianya untuk dia, ditinggal olehnya di dalam bait suci. Para imam di dalam bait suci tidak bisa membedakan antara yang asli dan dan copy-annya. Pangeran Menelik I berangkat membawa Tabut Suci tersebut dengan catatan akan dikembalikan kembali ke Yerusalem pada saat bangsa Yahudi sudah tidak murtad lagi terhadap Tuhan Allah, ternyata sampai dengan 3000 tahun kemudian hal ini belum terjadi..>>..."Hai saudara-saudara, kalian tidak menyukai mati syahid yang menjadi tujuan kita berangkat ke medan perang ini! Kita berperang tidak mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan, tetapi semata-mata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah kepada kita. Karena itu marilah kita maju! Tidak ada pilihan lagi kecuali salah satu dari dua kebajikan : Menang atau mati syahid."..>>


Benarkah Tabut (the Ark Of Covenant) Masih Ada Sekarang ?

http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/benarkah-tabut-the-ark-of-covenant-masih-ada-sekarang.htm#.UI4y-a532Sp

Assalamualaikum, eramuslim.nama saya Prayogo.saya ingin bertanya tentang tabut nabi musa as. apakah tabut itu masih ada saat ini?dan sebenarnya seperti apa tabut itu? terimakasih…wassalamualaikum

Alaykumsalam,. wr.wb. Jazakallah atas pertanyaannya saudaraku, Bondan, semoga Allah senantiasa merahmati saudara di bulan suci ramadhan ini. Amin

Tabut Perjanjian (The Ark of Covenant) dianggap oleh beberapa pihak sebagai misteri terbesar dari semua harta yang tersembunyi. Sampai saat ini benda bersejarah sekaligus benda misterius ini tetap menjadi tujuan dari setiap arkeolog modern dalam petualangannya. Tabut Perjanjian ini berisi sepuluh perintah yang ditulis di atas lempengan batu oleh Tuhan kepada Musa di Gunung Sinai.

Sepuluh Perintah Allah merupakan dasar perjanjian Allah dengan anak-anak Israel, yang terukir pada dua loh batu yang mengandung titah Tuhan bagi bani Israel. Menurut literatu Ibrani, Tabut sendiri adala sebuah peti yang dibuat oleh pengrajin dari Bezalel. Bentuknya terbuat dari kayu akasia dan dilapisi oleh emas. Memiliki panjang 1,5 meter, lebar 0,7 meter dan tinggi juga 0,7 meter.

Visualisasi Tabut Perjanjian

Bangsa Israel menurut kisah mereka selalu membawa Tabut sepanjang mereka mengembara di padang gurun. Tabut ini mereka yakini memiliki kekuatan misterius terhadap musuh-musuh Israel. Menurut Alkitab, tembok-tembok Yerikho pun runtuh Ketika orang-orang Yahudi berjalan berkeliling dengan lembaran yang ada dalam Tabut perjanjian.

Setelah Kuil Pertama dibangun, Raja Salomo menempatkan Tabut Perjanjian di Bait Allah. Tabut Perjanjian itu disimpan di ruang khusus dalam Bait Suci yang disebut Kodesh Kodashim.

Tidak seorang pun diizinkan memasukinya kecuali Imam-imam tinggi Yahudi. Mereka pun hanya diperbolehkan masuk sekali dalam setahun yakni dalam momen Yom Kippur, yakni hari yang dianggap paling suci dalam agama Yahudi. Perayaan ini jatuh pada tanggal 10 Tisyri dalam kalender Yahudi.

Namun dalam catatan sejarah, tahun 586 SM Kerajaan Yehuda diserbu oleh Kekaisaran Babilonia dibawah Nebukadnezard, dan kuil pun dihancurkan termasuk di dalamnya Tabut Perjanjian.

Hingga kini, beribu tahu pasca kejadian itu, Zionis Israel pun berusaha keras untuk mencari Tabut Perjanjian yang hilang. Konon menurut mereka, Tabut tersebut dipercaya memiliki kekuatan ghaib yang akan memberikan sentuhan sihir yang luar biasa kepada siapa pun yang menguasainya. Mereka pun juga digerakkan oleh faktor teologis dimana mereka meyakini bahwa Tabut adalah Mukjizat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Yahudi. Sedangkan menurut Kitab Injil, Tabut merupakan sumber kekuatan tuhan yang bersemayam di dalamnya. Kekuatan tersebut antara lain:

• Membakar semua duri, membunuh ular dan kalajengking, serta mengeringkan air sungai dan meluapkanya kembali (Kitab Yosua 3: 15-17, 4: 10, dan 11: 18)
• Dapat menenangkan peperangan (Yosua 6:1-20).
• Memberi kemalangan kepada musuh yang menguasai Tabut, Digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Palestina (Kitab Samuel 6:5)

Namun sebagai umat muslim tentunya kita memiliki patokan sendiri dalam menjelaskan tabut. Kitab injil yang sudah diselewengkan oleh kaum Yahudi tidak bisa lagi dijadikan sandaran dalam menjelaskan mengenai Tabut ini. Penjelasan Injil sudah penuh dengan nuansa paganistik yang dipengaruhi oleh akar Kabbalah. Oleh karenanya sebagai umat Nabi Muhammad SAW sudah seharusnya kita berlepas diri dari anggapan bahwa Tabut memiliki kekuatan mistis bagi orang yang menemukannya, karena sejatinya kekuatan itu hanyalah milik Allah.

Dalam Al Qur’an, penjelasan mengenai Tabut terangkum dalam surah Al Baqarah ayat 248, dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.”

Kisah Al Baqarah ayat 248 hanyalah satu buah epik dari rangkaian cerita perperangan Bani Israel. Kisah ini bercerita tentang pasukan Thalut yang melawan Jalut dimana pada akhirnya Daud memenangkan duel melawan Jalut.

Menurut Ath Thobari makna dari bunyi ayat "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu adalah tanda-tanda Thalut akan menjadi raja.

Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang raja kepada kalian walaupun bukan dari keturunan raja—adalah “dikembalikannya tabut yang didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu.” Ia adalah tabut yang selalu dibawa oleh Bani Israil saat bertemu dengan musuh, bergerak bersamanya sehingga musuh tidak mampu menghadapi mereka dan tidak bisa mengalahkan mereka. Namun kemudian mereka mengabaikan perintah Allah swt, banyak berselisih dengan para nabi mereka, sehingga Allah swt melepaskan tabut itu dari tangan mereka kemudian dikembalikan lagi dan dirampas lagi pada waktu yang lain dan tidak dikembalikan lagi bahkan tidak akan sekali-kali dikembalikan kepada mereka selana-lamanya.

Namun dalam versi lainnya, Tabut sendiri konon sudah dihancurkan oleh Nabi Musa as sesaat ia turun dari gunung Sinai untuk menerima 10 perintah Tuhan bersamaan dengan Loh Batu. Kaum Bani Israel yang sedianya berjanji untuk beribadah kepada Allah kembali berbuat kufur dengan menyembah patung sapi emas saat ditinggal Nabi Musa as ke Gunung Sinai. Kekesalan Nabi Musa as membuatnya membanting dan menghancurkan Tabut bersamaan dengan Loh Batu. Tapi lagi-lagi ini masih menjadi perdebatan, ada yang mengatakan Nabi Musa as hanya menghancurkan Loh Batu yang berisi 10 perintah Tuhan tidak beserta dengan Tabut. Tapi yang jelas kisah ini terekam dengan baik di dalam Al Qur’an, sebagai pelajaran bagi kita semua.

“Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al Baqarah: ayat 51-53)

Dalam melihat Tabut yang diyakini masih ada dan terus dicari oleh Yahudi, kita bisa menganalisa tiga hal dibalik itu semua. Pertama, Teologi Kebencian. Keberadaan Tabut di Masjid Al Quds adalah rekayasa mereka untuk menguasai Yerusalem. Dengan meyakini bahwa Tabut tersimpan dalam fondasi Al Quds, mereka bergerak mencari Tabut hingga mengeruk fondasi dasar mesjid yang pernah menjadi kiblat umat muslim ini. Kehancuran Mesjid Al Quds akan menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka yang memang menaruh kebencian kepada kaum muslimin.

Selanjutnya, faktor kedua adalah motivasi paganistik-kabbalah yang mempercayai kesaktian Tabut. Mereka yang menemukan Tabut dipercaya akan mengalami transferisasi kekuatan mistik ke dalam tubuh dan jiwa mereka.

Masjidil Aqsha, sasaran penghancuran Yahudi

Ketiga, faktor teologis-politis. Selama ini kaum zionis, masih menganggap bahwa Tabut adalah karunia atau mu’jizat yang diberikan Tuhan kepada orang-orang Yahudi. Mereka meyakini apabila tabut itu berhasil ditemukan maka keagungan dan kejayaan mereka akan kembali dan dapat menguasai dunia lagi.

Namun, sekalipun Tabut masih ada dan Yahudi berhasil menemukannya, dengan akal sehat saja kita bisa mencerna: mana mungkin Allah memberikan rahmat dan mukjizat kepada bangsa yang terus membunuh nabi-nabiNya dan ingkar terhadap ajaranNya.

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS.Al Ma’idah : 82)
"Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina." (QS Al-Baqarah: 65). Allahua’lam. (Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi)

MISTERI TABUT NABI MUSA

http://johneox.wordpress.com/rahsia-tabut-nabi-musa/

baqarah
Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan daripada Tuhanmu dan sisa daripada peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman.”
(al-Baqarah: 248)
TABUT sebagaimana yang diceritakan dalam al-Quran adalah satu anugerah Allah kepada Bani Israel. Di dalamnya terdapat sebuah kitab suci. Ia berukuran tiga hasta panjang dan dua hasta lebar. Ia mempunyai berbagai-bagai keistimewaan. Tabut tersebut boleh memberikan ketenangan dan semangat kepada sesiapa sahaja yang melihatnya. Ia mampu mengalahkan pihak lawan dalam peperangan. Sekiranya Tabut itu dibawa ketika berperang, sudah pasti pihak musuh akan berasa gentar dan tewas.

Malangnya, Bani Israel tidak tahu mensyukuri anugerah yang diberikan itu. Mereka mengingkari segala perintah Allah s.w.t.. Mereka banyak memalsukan kitab suci mereka. Mereka juga ingkar dengan ajaran Nabi Samuel. Pada zaman tersebut, Nabi Samuel diutuskan oleh Allah untuk menyeru mereka ke jalan kebenaran. Semasa kecil Nabi Samuel telah dididik dan dibesarkan oleh orang yang alim. Baginda kemudiannya diajar dengan ajaran Nabi Musa dan juga kitab sucinya iaitu Taurat. Setelah dewasa dan menjadi utusan Allah, Nabi Samuel mula berdakwah kepada Bani Israel supaya menyembah Allah tetapi mereka ingkar. Malah, mereka tidak percaya akan kenabian Nabi Samuel. Mereka menuduhnya sebagai pendusta. Bani Israel telah mencabarnya agar menunjukkan bukti kenabiannya. Lalu Allah menarik balik keistimewaan yang diberikan kepada Bani Israel itu. Dia menukarkannya dengan memberi kekuatan dan keberanian kepada orang-orang Palestin. Ketika Palestin berperang dengan Bani Israel, mereka berjaya mengalahkan Bani Israel dengan mudahnya. Bani Israel telah diusir dari Jerusalem. Tabut yang menjadi azimat mereka selama ini telah dirampas.

Replika Tabut Nabi Musa Alaihisalam

Gambar di atas merupakan gambaran replika benda yang paling ditakuti pada masa Perjanjian Lama. Setidaknya begitulah gambarannya. keberadaanya dulu begitu kuat dan sangat berpengaruh terhadap bangsa Israel semenjak peristiwa exodus keluar dari Tanah Mesir. Namun, benda itu kini telah hilang ditelan masa, lenyap dari sejarah, dan tak ada yang tahu dimana letaknya sekarang. Postinganku kali ini akan mencoba mengisahkan sejarah dari benda tersebut. Dimulai dari Yerusalem, Kota yang mungkin terlalu suci bagi banyak orang. Di tengahnya terletak sebuah bukit bernama Gunung Moria, yang kini menjadi situs Dome of the Rock / Qubbah As-Sakhrah yang luar biasa. 

Selain Dome of the Rock, dikompleks tersebut (Al-Haram ash-Sharif) terdapat Masjidil Aqsha. Dari sini, Muhammad s.a.w dinaikan ke langit (Sidratul Muntaha) dalam peristiwa Mi’raj. Jauh Sebelum itu nabi Isa a.s menyembuhkan orang buta dan sakit di sini, sehingga kaum Kristiani juga menyebutnya tanah suci. 1000 tahun sebelumnya, nabi Sulaiman a.s membangun bait aslinya di gunung ini untuk menyimpan benda misterius yang disebut the Ark of the Covenant / Tabut perjanjian.

Di masa itu, tempat ini adalah pusat dari agama Yahudi. Bagaimana tabut itu sampai disini dan bagaimana bisa lenyap dari sini? itulah teka-teki yang mengundang obsesi. Apa yang terjadi pada benda terpenting di perjanjian lama ini sehingga bisa lenyap begitu saja? Kisah Tabut itu berawal lebih dari 3000 tahun yang lalu. Seseorang memimpin 2 juta orang ke Gurun Sinai. 

Orang itu adalah Moses/Musa a.s yang memimpin kaumnya keluar dari perbudakan di Mesir. Tiga bulan mengembara setelah mukjizat terbelahnya laut merah, Ia membawa orang Israel ke Gunung Sinai. Tuhan akan melimpahkan hadiah yang belum pernah ada bagi umat manusia. Dari ratusan hukum yang ada di dalam Perjanjian Lama semuanya seolah diturunkan dari suatu tempat. Tapi tidak dengan 10 hukum besar yang dibawa Musa turun dari Gunung Sinai ini. Ada sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai, dan perintah-perintah itu tertulis pada dua loh batu. 

Musa juga membuat tempat/ wadah yang digunakan untuk menyimpan sepuluh perintah Allah yang disampaikan kepadanya di Gunung Sinai ,yaitu apa yang kita sebut sebagai Tabut Perjanjian. Tabut itu dibuat sangat spesifik, berwujud peti kayu dengan panjang 1,2 meter, lebar 61 cm, dan tinggi 61 cm. Terbuat dari kayu keras yang disebut akasia, bagian luar dan dalamnya disepuh dengan emas murni. Di sudut-sudut tabut harus ada 4 cincin emas, dimana kayu pengusung yang juga disepuh dengan emas dapat dimasukkan untuk membawa Tabut tersebut. Tutupnya yang juga disebut sebagai “tumpuan kaki tuhan” harus juga terbuat dari emas murni, dimana Patung Mailakat bersayap emas (kerubim) juga diletakkan di ujung-ujung atasnya dan saling berhadapan.

Ilustrasi mengenai turunnya 10 Perintah Allah di Gunung Sinai yang disampaikan kepada Musa

Tabut itu berfungsi sebagai sambungan langsung bagi Musa pada Tuhan. Akan muncul awan cerah diatas tutup emas di antara kerubim itu saat Tuhan ingin menyampaikan sesuatu pada hamba-Nya. Tuhan memerintahkan hanya pendeta dari suku Lewi yang bisa membawanya. Berat tabut itu mungkin beberapa ratus pon, tapi menurut legenda ia bisa terangkat sendiri walaupun tidak ada seorangpun yang mengangkatnya. Tidak ada seorangpun, bahkan pendeta Lewi yang boleh menatapnya. Jadi, mereka selalu menutupinya dengan kain biru dan kulit binatang. Sejak awal, tabut itu sudah menampakkan sisi berbahaya. Beberapa hari kemudian, dua keponakan Musa mencoba memberikan persembahan kepada Tabut itu dan keduanya langsung mati terbakar. Menurut legenda, kerubim itu memercik tanpa henti, menghanguskan orang dan benda yang menyentuhnya.

Tabut itu mendampingi Kaum Israel 40 tahun lama-nya selama mereka mengembara dan berperang. Bersama tabut itu, orang Israel mampu menaklukkan tanah yang dijanjikan. Benda ini mengandung kekuatan dan kepentingan yang tak terbayangkan. Menurut cerita dalam Alkitab Yahudi, tabut itu dibawa di depan pasukan dalam setiap pertempuran, tiap pertempuran selama penaklukkan orang Israel akan tanah Kanaan. Ia terus menerus dibawa dalam perang agar musuh dapat terkalahkan dan Tabut itu akan selalu berada di garis depan. Ada catatan luar biasa bahwa tabut itu terangkat dari tanah dan terbang menuju kearah musuh sambil mengeluarkan suara-suara erangan. Satu orang malang bernama Uza, hanya berniat menstabilkan Tabut tersebut saat tampak goyah sewaktu diangkat oleh para pendeta Lewi, dan ia langsung mati terbakar. sesudahnya, Musa memerintahkan agar dibuatkan kemah/tenda untuk meletakkan Tabut itu. Bukan untuk melindunginya dari orang, tapi justru sebaliknya.

Kemenangan militer pertama dan paling terkenal dari tabut itu yaitu runtuhnya tembok kota Yerikho/Jericho. Pendeta Lewi yang bertugas membawa Tabut, mengangkutnya mengitari kota bertembok itu sekali sehari selama 6 hari. Di hari ke-7, mereka berkeliling 7 kali dan menyuruh meniup sengkala. Seketika itu juga tembok kota itu pun runtuh. Route of the Exodus 300 tahun kemudian, Tabut itu meninggalkan orang Israel dan dampaknya sangat buruk bagi mereka. Saat pendeta tinggi mengabaikan kewajiban kurban mereka, Tabut itu tak melindungi mereka dalam perang melawan orang Filistin. 30 ribu orang tewas dan orang Filistin mengambil tabut itu. Namun, tujuh bulan kemudian orang Filistin mengembalikannya. Wabah borok dan tikus merebak akibat Tabut itu. Akhirnya, di bawah King David ( Daud a.s ), orang Israel bisa mengalahkan orang Filistin, lalu memenangkan pertahanan terakhir dari pihak lawan. Kemudian, Kota Yerusalem yang dijadikan ibukota. Tuhan menyuruh Daud mendirikan Bait Suci untuk menempatkan tabut tersebut, tapi puteranya Salomo/ Sulaiman a.s yang mebangunnya. Karena kasus itu, Gunung Moria menjadi “titik tertinggi” di dalam kota tersebut. Visi Salomo untuk Bait itu tak seperti yang pernah dilihat orang.

Gereja Zion of Mary di Axum Utopia adalah dipercayaai tempat dimana Tabut tersebut disembunyikan

Hanya kayu cedar dan batu terbaik yang dipakai untuk membuatnya, dan titik tertingginya menjulang hingga 20 lantai. Salomo berhutang besar untuk membangunnya, karenanya ia harus memberikan 20 desa terdepan untuk kerajaan tetangga. Setelah memeriksa masih berisi dua buah batu sepuluh perintah Allah yang tersimpan didalam Tabut, Salomo lalu menempatkannya di tengah-tengah Bait Suci Mahakudus. Hanya pendeta tinggi saja yang bisa mendekati dan memasuki ruang penyimpanan tersebut, itupun mereka harus masuk dengan menggunakan pakaian khusus sambil membakar dupa. Lalu, bagaimana benda penting yang berisi kehadiran Allah bisa lenyap begitu saja? Sekarang, di manakah tabut itu berada? itulah teka-teki terbesarnya . Banyak orang masih mencari tabut tersebut hingga saat ini, dan itu dimulai dari Bait Suci yang dibangun Salomo sebagai tempat untuk menyimpan Tabut. 

Tapi kini, tak ada satupun artifak atau batu yang menunjukkan mana tepatnya tabut itu berdiri di Bukit Bait Suci Yerusalem. Tembok ratapan yang terkenal, mungkin sekarang merupakan situs suci Yahudi yang berharga. Tembok ini adalah merupakan sisa-sisa Bait Suci kedua yang dibangun berabad-abad setelah tabut itu lenyap. Sebagian penyembah di sini menunggu saatnya penghuni Bukit Bait Suci Dome of the Rock milik Islam hancur. Dan Bait Suci Yahudi ke-3 akan didirikan di tempat tersebut. Inilah salah satu faktor yang menimbulkan perselisihan hebat tanpa henti antara Israel dan Palestina hingga sekarang. Menurut Perjanijian Lama, Tabut itu ditempatkan disana sekitar 955 SM. Tapi, sekitar tahun 620 SM rujukan tentang artifak terpenting dalam agama Yahudi ini berhenti. Lenyap begitu saja dari sejarah. Hanya satu hal saja yang jelas, krisis sebesar bencara internal maupun eksternal yang bisa mengeluarkan Tabut itu dari Bait Suci. Krisis pertama yang sesuai dengan hal ini adalah serangan Fir’aun Mesir bernama Shishak, beberapa puluh tahun setelah Bait itu dibangun. Sekenario Shishak inilah yang mengilhami petualangan Indiana Jones di Mesir dalam film Indiana Jones : Raiders of the Lost Ark.


Ada sesetengah pihak mengatakan bahawa tabut tersebut pernah diangkut ke Yerusalem , ternyata tabut suci tersebut ada di Axum – kota bagian utara dari Etiopiatabut tersebut sudah disimpan disana sejak sekitar 3.000 th yang lampau, sejak kerajaan Salomo (Nabi Allah Sulaiman). Disimpan di dalam satu tempat rahasia, di dalam gua dibawah tanah dari gereja “Zion of Mary”. Gua tersebut dijaga dengan ketat oleh para imam dari keturunan raja Israel.

Tabut tersebut di simpan di dalam ruangan yang di kelilingi oleh tujuh tembok. Hanya ruangan dari tembok pertama sampai dengan ke empat bisa digunakan untuk berdoa oleh para imam disana. Dan untuk ruangan ke lima maupun ke enam hanya boleh dimasuki oleh para tetua imam saja. Sedangkan yg boleh masuk keruangan paling dalam atau ruangan ketujuh dimana tabut tersebut disimpan, hanya seorang imam pilihan saja, yakni yang menjadi penjaga dari tabut suci tersebut.
Imam penjaga tabut, tidak diperkenankan keluar dari gua tersebut, bahkan ia hanya diperbolehkan keluar sampai dengan keruangan ke enam saja, untuk mengambil makanan/minuman yg dibawakan oleh imam tetua lainnya. Ia harus tinggal diruangan tersebut selama hidupnya, bahkan ia harus puasa dan berdoa selama 225 hari dalam setahun. Apabila ia mati maka ia akan digantikan oleh imam pilihan lainnya. Kebanyakan penjaga di situ dipercayai akan mengalami buta dan menemuai ajal dalam keadaan tubuh mereka terbakar atau keracunan kesan dari radiasi dari tabut tersebut yang dikatakan mengandungi kesan radioaktif yang luar biasa sehinggakan sesiapa sahaja yang menyentuhnya juga akan menemui ajal.
Waallahualam,

MISTERI TABUT NABI MUSA BHG II

 http://johneox.wordpress.com/misteri-tabut-nabi-musa-bhg-ii/


Artinya : “dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al Baqoroh : 248)

Al Qurthubi mengatakan bahwa tabut diturunkan Allah swt kepada Adam as dan ia terus bersamanya hingga sampai kepada Ya’qub as. Dan pada masa itu Bani Israil berhasil mengalahkan orang-orang yang memerangi mereka yang kemudian bermaksiat hingga dikalahkan oleh Jalut dan pasukannya dan tabut tersebut dirampas oleh musuh mereka.

An Nahas mengatakan bahwa ketika mereka mulai melihat tanda-tanda kebinasaan kaum, para laki-lakinya banyak yang pergi, sebagian mereka menyendiri. Hal demikian terus menjadi buah bibir sehingga para pemimpin kaum mengumpulkan mereka dan mengatakan kepada Nabi mereka pada saat itu,”Utuslah kepada kami seorang raja.’ Dan ketika Nabi itu mengatakan kepada mereka,’Raja kalian adalah Thalut.’.. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an juz III hal 210)

Ath Thobari mengatakan makna “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu” adalah sesungguhnya tanda-tanda Thalut menjadi raja—yang kalian minta kepadaku adalah bukti akan kebenaran perkataanku.

Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang raja kepada kalian walaupun bukan dari keturunan raja—adalah “dikembalikannya tabut yang didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu.”. ia adalah tabut yang selalu dibawa oleh Bani israil saat bertemu dengan musuh, bergerak bersamanya sehingga musuh tidak mampu menghadapi mereka dan tidak bisa mengalahkan mereka. Namun kemudian mereka mengabaikan perintah Allah swt, banyak berselisih dengan para nabi mereka, sehingga Allah swt melepaskan tabut itu dari tangan mereka kemudian dikembalikan lagi dan dirampas lagi pada waktu yang lain dan tidak dikembalikan lagi bahkan tidak akan sekali-kali dikembalikan kepada mereka selana-lamanya.

Para ahli ta’wil berbeda pendapat tentang sebab kembalinya tabut yang Allah jadikan sebagai tanda kebenaran nabi mereka Samuel dengan perkataannya,

”Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja.” Apakah Bani Israil merampasnya sebelum itu yang kemudian dikembalikan Allah kepada mereka dan pengembaliannya dijadikan sebagai tanda ataukah mereka tidak pernah merampasnya sebelum itu akan tetapi Allah yang memulainya ?
Sebagian mereka mengatakan bahwa tabut itu adalah warisan sejak masa Musa, Harun sehingga dirampas oleh para raja dari kaum kafir kemudian Allah mengembalikannya kepada mereka sebagai tanda Thalut menjadi raja.

Ath Thobari juga menyebutkan riwayat dari Wahab bin Munbih berkata,”Samuel berkata kepada Bani Israil ketika mereka berkata kepadanya,’Bagaimana dia memerintahkan kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberikan kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata,’Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Dan “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja” ialah kembalinya tabut kepadamu’ yang didalamnya terdapat ketenangan dan sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun. Tabut itulah yang menjadikan kalian dikalahkan musuh dan kalian dimenangkan atasnya. Mereka mengatakan,’Apabila tabut itu datang kepada kami maka kami rela dan menerimanya !

Musuh yang memegang tabut saat itu tinggal dibawah bukit Ilya. Mereka adalah para penyembah berhala, orang-orang kuat yang bengis, kasar dalam berperang yang sudah dikenal masyarakat. Tabut ketika dipegang mereka pernah disimpan disuatu kampung Palestina yang bernama ‘Azdud” mereka menyimpan tabut di suatu gereja yang didalamnya penuh dengan berhala mereka…. Diantara janji kepada Bani Israil bahwa tabut itu akan kembali kepada mereka—tabut itu menjadikan berhala-berhala mereka di gereja itu terjungkil balik kepala-kepalanya. Allah mengirimkan pula kepada penduduk kampung itu tikus-tikus yang membunuh kaum laki-laki dimalam hari dan memakan perut mereka yang diawali dengan memakan duburnya.

Mereka mengatakan,”Tahukah kalian demi Allah, sesungguhnya musibah yang menimpa kalian ini belum pernah menimpa umat-umat sebelum kalian. Kita tidak mengetahui apa yang menimpa kecuali sejak adanya tabut ini ditengah-tengah kita !! kalian telah melihat berhala-berhala kalian terjungkil-balik. Tak ada sesuatu pun yang melakukannya kecuali tabut ini! kemudian mereka mengeluarkan tabut itu.

Al Qurthubi juga menyebutkan pendapat yang mengatakan bahwa mereka meletakkan tabut itu di suatu tempat peribadatan mereka yang didalamnya terdapat berhala-berhala dan ternyata berhala-berhala itu menjadi terbalik semua. Ada yang mengatakan bahwa mereka meletakkannya di suatu rumah berhala-berhala, dibawah suatu berhala yang besar namun tiba-tiba didapati tabut itu berpindah diatas kepala berhala tersebut. Lalu mereka mengambil dan mengikatnya di kedua kaki berhala lagi-lagi mereka mendapati kedua tangan dan kaki berhala itu putus dan berada dibawah tabut. Lalu mereka mengambil tabut itu dan menyimpannya di suatu kampung dan seluruh penduduk kampung itu terserang penyakit di leher-leher mereka.

Ada yang mengatakan bahwa mereka meletakkannya di tempat buang air besar kaum namun tiba-tiba mereka ditimpa musibah dengan penyakit wasir dan ketika musibah ini semakin berat maka mereka mengatakan,”ini tidak akan terjadi kecuali dikarenakan tabut ini!”

Ath Thobari mengatakan bahwa mereka mengambil gerobak untuk diletakkan tabut itu diatasnya kemudian mereka membawanya. Mereka mengikatkan gerobak itu kepada dua ekor sapi dan memukul bagian sisi tubuhnya. Kemudian datang malaikat yang menggiring kedua sapi itu. Dan tidaklah satu tempat di bumi yang dilintasi kedua sapi itu kecuali tempat itu akan suci. Kedua sapi yang membawa gerobak berisi tabut itu pun berhenti dihadapan orang-orang Bani Israil, mereka pun bertakbir dan memuji Allah dan bersemangat untuk memerangi musuh dan meminta agar Thalut menuntun mereka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Juraih berkata,” Ibnu Abbas berkata,’Ketika Nabi mereka mengatakan kepada mereka,’Tahukah akan kembali kepadamu tabut yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat !!—dan Musa ketika melempar luh-luh (kepingan dari kayu yang tertulis padanya isi taurat, pen—maka luh-luh itupun pecah kemudian Musa mengambilnya lagi menyatukan apa-apa yang tersisa darinya dan meletakkannya di dalam tabut.

Ibnu Juraih berkata,”Ya’la bin Muslim telah mengabarkan kepadaku dari Said bin Jubeir dari Ibnu Abbas bahwasanya tidaklah yang tersisa dari luh-luh itu kecuali hanya seperenamnya. Al Amaliqah yang merampas tabut itu—al amaliqah adalah suatu kelompok yang memusuhi mereka dan berada di Ariha—kemudian malaikat membawa tabut itu antara langit dan bumi dan mereka melihat kearahnya sehingga tabut itu diletakkan dihadapan Thalut. Ketika mereka menyaksikan hal itu maka berkata,”Ya” Mereka pun menerima Thalut dan menjadikannya raja. Ibnu Abbas mengatakan,”Nabi-nabi dahulu ketika berperang maka membawa tabut ke hadapan mereka.”.. dan ada riwayat yang sampai kepadaku bahwa tabut serta tongkat Musa berada di danau Thobariyah, dan keduanya akan dikeluarkan sebelum hari kiamat.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa tabut itu berada di daratan. Musa as memberikannya kepada Yusa’ yang kemudian dibawa malaikat dan diletakkannya di rumah Thalut.

Abu Ja’far mengatakan bahwa pendapat pertamalah yang benar, yaitu yang dikatakan Ibnu Abbas dan Wabah bin Munbih bahwa tabut itu berada di tangan musuh Bani Israil yang telah merampasnya. Yang demikian itu adalah sebagaimana disebutkan Allah swt ketika menginformasikannya kepada nabi-Nya pada waktu itu dengan perkataanya kepada kaumnya : “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu” Alif dan Laam, keduanya tidaklah ada pada kata benda kecuali ia adalah yang telah dikenal oleh orang-orang yang menjadi lawan bicaranya. Artinya Yang menginformasikan dan yang mendapat informasi sudah sama-sama mengenalnya (benda itu). Dan telah diketahui bahwa arti perkataan “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu” adalah tabut yang sudah kalian kenal, yang kalian meminta pertolongan dengannya, yang didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian.

Adapun bentuk tabut itu adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Askar dan al Husein bin Yahya, keduanya berkata,”Abdur razaq telah menginformasikan kepada kami dengan berkata,’ Bakar bin Abdullah telah menginformasikan kami dan berkata,’Kami telah bertanya kepada Wahab bin Munbih tentang tabut Musa : sebesar apa? Dia menjawab,’Kira-kira 3 X 2 hasta.”

Abu Ja’far mengatakan—setelah memaparkan beberapa pendapat—tentang makna “ketenangan” bahwa ia adalah seperti yang dikatakan Atho bin Abi Rabah, yaitu sesuatu yang menenangkan jiwa berupa ayat-ayat yang kalian ketahui dan kata “as sakinah” adalah perkataan orang arab seperti “al faiilah”, dari perkataan seorang yang mengatakan,’Sakana fulan ilaa kadza wa kadza’—ia merasa tenang dengannya dan jiwanya merasa tentram disisinya. (Tafsir Ath Thobari juz V hal 316 – 336)

Sulaiman bin Daud—di masa pemerintahannya—memulai pembangunan Baitul Maqdis. Dia mengatakan,”Sesungguhnya Allah swt telah memerintahkan ayahku, Daud agar membangun sebuah rumah (masjid) namun Daud terlalu disibukkan oleh berbagai peperangan. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya,”Agar anakmu Sulaiman yang membangun rumah dengan nama-Ku.”

Kemudian Sulaiman mengirim kayu dari pohon cemara dan cypress dan membangun Baitul Maqdis dengan batu dan mengokohkannya. Bagian interiornya menggunakan kayu yang diukir dan membuat haikal (altar) dari emas dengan berbagai peralatan didalamnya juga dari emas. Setelah itu Sulaiman menaikkan tabut yang berisi ketenangan itu dan meletakkannya di dalam haikal. (Tarikhul Ya’qubi hal 21)

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa tabut itu diletakkan di haikal hingga waktu yang hanya Allah saja yang mengetahuinya kemudian Baitul Maqdis dihancurkan oleh Bukhtanshar setelah 300 tahun pembangunannya. Dia membakar taurat dan tongkat Musa serta meruntuhkan haikal serta menghamburkan batu-batunya.

Dan tatkala Raja-raja Parsia mengembalikan mereka lalu Uzair—seorang Nabi Bani Israil—membangunnya kembali pada masanya dengan dibantu oleh Bahman, raja Parsia, seorang kelahiran Bani Israil dari keturunan Bukhtanshar. (Muqoddimah Ibnu Khaldun, juz I hal 197)

Setelah haikal dihancurkan oleh Bukhtanshar, raja Babilonia, Iraq maka hingga sekarang tabut tersebut tidak ditemukan. Orang-orang Yahudi sekarang tengah mencari tabut ini yang mereka anggap sebagai mu’jizat orang-orang Yahudi dan kiblat mereka yang hilang. Mereka meyakini apabila tabut itu berhasil ditemukan maka keagungan dan kejayaan mereka akan kembali dan dapat menguasai dunia lagi.
Wallahu A’lam

APAKAH TABUT PERJANJIAN YANG HILANG TELAH DITEMUKAN

15 10 2010
http://den4ghel.wordpress.com/2010/10/15/apakah-tabut-perjanjian-yang-hilang-telah-ditemukan
APAKAH TABUT PERJANJIAN YANG HILANG TELAH DITEMUKAN
Sesuatu yang lama telah menjadi penyelidikan komunitas ahli Kitab Suci tentang keberadaan Tabut Perjanjian, kini dunia mulai menaruh perhatian setelah filem berjudul Raiders of the Lost Ark beredar dengan sukses. Sekarang ini terdapat beberapa kemungkinan letak keberadaannya

Berdasarkan dokumen-dokumen kuno Yahudi, diperkirakan bahwa Tabut ini disembunyikan di Gunung Nebo di tepi sungai Yordan sebelah timur. Wilayah ini merupakan negara Yordania sekarang, tetapi tanpa petunjuk tentang keberadaan Tabut ini.

Ada yang memperkirakan bahwa Tabut ini disembunyikan di sekitar Laut Mati di sebelah barat sungai Yordan. Lokasi ini menjadi perhatian karena dekat dengan situs kuno Qumran tempat dimana Gukungan Laut Mati ditemukan. Di tempat ini dipercaya bahwa Tabut dan artefak lainnya dikubur di salah satu gua suci seperti halnya Gulungan Laut Mati.

Pandangan lain juga mengatakan bahwa Tabut ini berada dibawah Yerusalem, dalam terowongan gua. Ada juga yang memperkirakan lokasinya di situs penyaliban, Gordon Kalvari. The Temple Institute yang berada di kota Yerusalem tua, suatu organisasi Ultra Ortodox Yahudi yang mengabdikan diri untuk merancang dan membangun kembali Kuil Yahudi, mengatakan bahwa Tabut tersebut berada di bawah puncak Kuil, dan mereka percaya bahwa Tabut ini akan timbul saat Kuil Yahudi tersebut dibangun.

Cukup menarik, dalam tesis Raiders of The Lost Ark dikatakan bahwa Tabut ini dibawa dari Kuil oleh Firaun Sisak, tapi pandangan ini tidak populer. Pandangan ini mungkin berasal dari tradisi bahwa Tabut ini terletak di mulut sungai Nil, didataran rendah Mesir.

Pandangan yang mendapat sedikit perhatian sampai dekade yang lalu, sekarang ini dipopulerkan oleh buku The Sign and The Seal: The Quest for The Lost Ark of Convenant, oleh jurnalis Inggris Graham Hancock. Menurut buku ini diperkirakan bahwa Tabut ini dibawa keluar dari Yerusalem kuno pada azaman Raja. Banyak versi dari cerita ini, tapi diperkirakan yang melakukan hal ini adalah putra Sulaiman dari Ratu Sheba. Sekalipun hubungan ini tak disebutkan dalam Alkitab sekalipun disebutkan adanya pertemuan oleh dua Monarki ini (I Raja-Raja 10) dalam tradisi diketahui bahwa Ethiopia diperkirakan menjadi lokasi kuno kerajaan Sheba.

Putra Ratu Sheba diperkirakan bernama Menelik, dikatakan bahwa ia telah membawa Tabut ini ke sana untuk menjaga keamanannya, hal ini menurut kronologi kerajaan Ethiopia. Cerita ini juga berkembang di kalangan Yahudi Hitam Ethiopia atau yang lebih dikenal dengan Falasha. Yahudi hitam ini, yang mempraktekkan Yudaisme, menjadi perhatian duani tatkala pemerinta Israel menerbangkan mereka untuk pembebasan dari penganiayaan politis di tahun 1976.

Asosiasi Riset Alkitab (Associates for Biblical Research) tidak terlibat dalam usaha pencarian Tabut ini. Dapat dikatakan bahwa Tabut ini akan merupakan penemuan terbesar sepanjang masa. Tapi arkeologi bukanlah perburuan harta dan Alkitab tak membutuhkan penemuan Tabut ini untuk membuktikan kebenarannya.
Kabarnya tabut perjanjian sekarang SUDAH berada di negara Israel, pada tahun 1991 secara mengejutkan pemerintah Israel mencairkan dana sekitar 100 juta US$ untuk mengangkut sekitar 10.000 orang Yahudi Ethiopia atau biasa disebut black jews. Kenapa saya sebut-sebut Yahudi Ethiopia, ada apa dengan Ethiopia. Apakah tabut perjanjian YHWH ada disana ? bagaimana bisa ? bukankah pada Bait suci salomo sudah dihancurkan dan bangsa Israel di buang ke Babel. Dan banyak penelitian kalau sudah tidak ada lagi yang bisa ditemukan dari reruntuhan bait suci tersebut.

Nah ini dia kepingan puzzle yang perlu kita lihat dan selaraskan.
-Keturunan Ham
-Ratu Syeba
-Raja Salomo
-Raja Menelik I
Ham, adalah keturunan Nuh. Sem adalah si sulung, kemudian Yafet dan kemudian Ham sebagai si bungsu. Sem adalah Bapak dari mayoritas orang-orang kulit kuning (asia). Yafet kulit putih(eropa) dan Ham kulit hitam (afrika). Negara Afrika adalah negara budak pada masa imperialisme dan kolonialisme. Bisa jadi ini karena kutuk Nuh kepada Ham, karena Ham melihat Nuh telanjang dan mulutnya langsung”ember”.(baca kejadian 9)

Syeba, adalah suatu negri. Dikatakan dalam kitab I Raja-Raja kalau Salomo didatangi oleh Ratu negri Syeba. Bangsa Syeba ini adalah keturunan langsung dari Raema yang merupakan keturunan dari Ham (baca kejadian 10). Salomo memiliki 700 istri dan 300 gundik, pernahkah anda tahu nama salah satu istrinya?? tidak. Hanya Ratu Syeba yang pernah secara jelas dinyatakan sebagai istri dari seorang Raja Salomo.

Menelik I, siapakah Menelik ? Menelik adalah Pangeran negri Syeba pengganti dari Ratu Syeba. Menelik adalah buah hati Ratu Syeba dan Raja Salomo. Pengikut dan keutrunan dari Menelik inilah yang disebut sebagai orang Etiopia Yahudi. Orang Yahudi hitam keling pemuja YHWH. Menelik tumbuh besar dengan didikan ala Salomo, sebelum Salomo jatuh dalam penyembahan berhala. Karena Ratu Syeba meninggal, maka Menelik menjadi pewaris tahta dari Ratu Syeba.

Berdasarkan kitab sejarah resmi dari negara Etiopia yang lebih dikenal dengan nama “Glory of Kings” (Kebra-Nagast) disitu tercantum apa yg telah terjadi dengan tabut perjanjian tersebut. Ketika Ratu dari Syeba meninggal dunia Pangeran Menelik I pada saat itu sudah berusia 19 th. Ia berhasrat meninggalkan Yerusalem untuk kembali kenegara Ibunya untuk diangkat menjadi raja disana.

Sebelum ia berangkat, Raja Salomo telah memerintahkan para tukangnya untuk membuatkan duplikat dari Tabut Suci yang akan dihadiahkan kepada Pangeran Menelik I, sebab ia adalah putera dari istri kesayangannya – Ratu dari Syeba. Maklumlah Pangeran Menelik I telah dididik oleh Raja Salomo untuk percaya dan taat kepada Tuhan Allah.

Pada saat pesta perpisahan Pangeran Menelik I membunuh para imam penjaga Tabut Suci dengan minuman anggur yang sudah dicampur dengan racun. Dan ia membawa Tabut Suci yang asli ke Aksum (Etiopia) beserta para imam yang benar-benar taat kepada Tuhan Allah, karena ia melihat para istri dari Raja Salomo semuanya sudah tidak percaya kepada Tuhan Allah lagi, mereka semuanya sudah menjadi murtad dan berdosa terhadap Tuhan Allah, oleh sebab itulah Tabut Suci nya dicuri dan dibawa oleh dia kenegaranya. Sedangkan copy dari Tabut Suci yang seyogianya untuk dia, ditinggal olehnya di dalam bait suci. 

Para imam di dalam bait suci tidak bisa membedakan antara yang asli dan dan copy-annya. Pangeran Menelik I berangkat membawa Tabut Suci tersebut dengan catatan akan dikembalikan kembali ke Yerusalem pada saat bangsa Yahudi sudah tidak murtad lagi terhadap Tuhan Allah, ternyata sampai dengan 3000 tahun kemudian hal ini belum terjadi.

Para Imam Israel dan Pangeran Menelik I menamakan dirinya sebagai “Betha Israel” dan sekarang mereka lebih dikenal sebagai suku Falasha. Keturunan dari Pangeran Menelik I memerintah negara Etiophia sehingga wafatnya Kaiser Heila Selassie di th 1975.

Mungkin anda tidak percaya bahwa sudah dari dahulu banyak sekali penganut agama Yahudi di negara Etiopia, bahkan ini tercantum di Alkitab Perjanjian Baru (Kis 8: 27) Pada waktu itu ada seorang pegawai istana Etiopia yang sedang dalam perjalanan pulang ke negerinya. Orang itu seorang pegawai tinggi yang bertanggung jawab atas semua kekayaan Kandake, ratu negeri Etiopia. Orang itu telah pergi ke Yerusalem untuk berbakti kepada Allah dan sekarang sedang kembali dengan keretanya. Sementara duduk di dalam kendaraannya itu ia membaca Buku Nabi Yesaya.

Bangsa Israel sebenarnya sudah mengetahui hal ini bahkan pernah di muat di majalah B’nai B’rith Messenger, bahkan Anda bisa membaca di Encyclopedia Britannica satu artikel: It (Aksum-Aduwa) contains the ancient church where according to tradition, the Tabot, or Ark of the Convenant brought from Jerusalem by the son of Salomon and the Queen of Sheba, was deposited and is still supposed to rest.

Bahkan sudah tercantum di dalam Alkitab bahwa pada suatu saat Tabut Allah akan dibawa kembali dari negara Etiopia ke Yerusalem (Yesaya 18,1,7)

Sebelum diangkut ke Yerusalem tahun, ternyata tabut suci tersebut ada di Aksum – kota bagian utara dari Etiopia. Tabut tersebut sudah disimpan disana sejak sekitar 3.000 th yang lampau, sejak kerajaan Salomo. Disimpan di dalam satu tempat rahasia, di dalam gua dibawah tanah dari gereja “Zion of Mary”. Gua tersebut dijaga dengan ketat oleh para imam dari keturunan raja Israel.

Tabut tersebut di simpan di dalam ruangan yang di kelilingi oleh tujuh tembok. Hanya ruangan dari tembok pertama sampai dengan ke empat bisa digunakan untuk berdoa oleh para imam disana. Dan untuk ruangan ke lima maupun ke enam hanya boleh dimasuki oleh para tetua imam saja. Sedangkan yg boleh masuk keruangan paling dalam atau ruangan ketujuh dimana tabut tersebut disimpan, hanya seorang imam pilihan saja, yakni yang menjadi penjaga dari tabut suci tersebut.

Imam penjaga tabut, tidak diperkenankan keluar dari gua tersebut, bahkan ia hanya diperbolehkan keluar sampai dengan keruangan ke enam saja, untuk mengambil makanan/minuman yg dibawakan oleh imam tetua lainnya. Ia harus tinggal diruangan tersebut selama hidupnya, bahkan ia harus puasa dan berdoa selama 225 hari dalam setahun. Apabila ia mati maka ia akan digantikan oleh imam pilihan lainnya.
Daftar Pustaka:
Graham Hancook “explosively controversial international bestseller”.
http://www.in-christ.net/artikel/misi/tabut_perjanjian_israelsudah_kembali
http://www.christiananswers.net/indonesian/q-abr/abr-a002-in.html
Fisher, Milton C. 1995. “The Ark of the Covenant: Alive and Well in Ethiopia?” Bible and Spade 8/3, pp. 65-72.

Hancock, Graham. 1992. The Sign and the Seal: The Quest for the Lost Ark of the Covenant. New York: Crown Books.

Awal Mula Agama Kristen

http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/awal-mula-agama-kristen.htm

Assaalammualaikum

Saya merupakan muallaf, yang ingin saya tanyakan adalah sejak kapan ajaran nasrani nabi Isa a.s berubah menjadi ajaran kristen seperti sekarang ini.siapa penggagasnya sehingga menyesatkan banyak orang.dan pada saat ini masih adakah injil yang asli? kalo ada dimana? apakah pada saat zaman Rasullulah agama kristen telah ada? jika telah ada apakah pada saat itu Rasullulah pernah memeranginya atau berusaha mengembalikan umat kristen ke jalan yang lurus untuk bersyahadat.atas jawabannya saya ucapkan terima kasih untuk dijadikan pencerahan bagi saya.

Alaykumsalam wr.wb. 

Alhamdulillah jika saudara Ferdinando telah menemukan cahaya Islam dan menyadari atas kekeliruan agama sebelumnya yang pernah dianut. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahanNya atas pilihan saudara dalam memeluk Islam. Semoga jua tetap istiqomah di jalan Dienul Haqq ini. Allahuma amin.

Saudaraku, Yesus alias Nabi Isa as. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut. Allah SWT masih menyayangi kaum Musa as. ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa as. mengaku jika dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia.

Di dalam Injil sendiri ada peristiwa di mana Yesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan, Yesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24). Yesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’. Penegasan itu juga nampak dari pesan Yesus kepada para muridnya yang mewanti-wanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." (Matius 10:5-6)

Telah jelas bahwa Yesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Yesus.

Ajaran Paulus inilah, -ditulis pada 49 M (Galatia-, yang mempengaruhi Injil-injil yang ditulis sesudahnya yakni injil Markus (55 M), Injil Matius (60-an M), Injil Yohanes (80 M), dan Injil Lukas (60 M)

Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai seorang murid yang banyak tidak patuh pada Yesus, bahkan Yesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.

Paulus inilah yang kemudian mengubah ajaran Nabi Isa as. yang berhaluan paganisme Yahudi. Namun hal ini terjadi tidak terlepas dari kondisi sosial budaya bangsa Yahudi sebelum masa Nabi Isa. Turun. Minimal ada tiga kondisi yang bisa kita telaah. Pertama, Aqidah orang-orang Yahudi telah terkontaminasi kepercayaan Paganisme Babilonia.

Sekitar 50 tahun (586-535 SM) bangsa Yahudi berada di pengasingan di Babilonia yang masyarakatnya menyembah berhala. Kedua, pada tahun 334 SM, Alexander raja Yunani menguasai bangsa Yahudi dan menyebarkan faham Filsafat yang kemudian mempengaruhi pemikiran orang-orang Yahudi. Ketiga, bangsa-bangsa yang menaklukan orang-orang Yahudi adalah penganut politeisme. Ini pun berpengaruh kepada aqidah bangsa Yahudi.

Ketika Nabi Isa as, menyampaikan ajaran Allah SWT, pengaruh kepercayaan paganisme memang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, maka terjadilah penyimpangan pemahaman oleh Paulus terhadap ajaran yang dibawa Nabi Isa as. Paulus pun mengklaim bahwa telah bertemu Yesus (Isa) dan diangkat sebagai rasulnya. Ia kemudian mengajarkan ajaran Isa yang telah dicampur adukkan dengan filsafat Yunani dan Paganisme.

Allah SWT sudah mengingatkan hal ini dalam Surah Al Baqarah ayat 87,
“..Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”

Tiga abad setelah peristiwa penyaliban, pengikut ajaran Nabi Isa as. berkembang dengan beragam corak pemahamannya. Terjadi bentrokan diantara mereka antara kalangan yang pro ajaran Tauhid dari Nabi Isa as. dengan yang kontra. Mereka yang kontra notabene adalah kelompok pro ajaran Paulus yang paganis. Peperangan ini sampai mengancam keutuhan kerajaan Roma.

Karenanya, atas usulan Konstantin diadakanlah Muktamar di Nicea pada tahun 325 M yang dihadiri sekitar 2048 orang dengan pendiriannya masing-masing. Terjadi perdebatan yang sengit dan tak ada titik temu. Akhirnya Konstantin yang cenderung pada paganis memanggil 318 orang yang berfaham Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu muktamar dilanjutkan, sementara itu peserta lainnya melakukan walk out. Di dalam muktamar ini banyak dipilih doktrin-doktrin dan syiar–syiar ibadah secara voting (tanggal paskah, peranan uskup, dan tentu saja tentang ketuhanan Yesus). Setelah itu diadakanlah revisi terhadap Injil. Sementara injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan. Dan orang yang berani membaca injil terlarang itu akan dicap sebagai heretis (berlaku bid’ah).

Perihal apakah injil yang asli masih adakah sampai saat ini? Allahua’lam. Namun hemat saya, permasalahannya bukan pada masih ada yang aseli atau tidak, namun injil hanya berlaku bagi kaum Nabi Isa as. saja, sedangkan sekarang kita sebagai umat muslim telah memiliki kitab Suci Al Qur’an sebagai kitab yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT hingga akhir zaman.

Kristen Pada Masa Rasulullah SAW
Tentu pada zaman Rasulullah SAW ada golongan yang beragama Nashrani. Menurut Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, dalam Hidayatu Al-Hayara fi Ajwibati Al-Yahud wa An-Nashara, umat Nasrani pada masa Rasulullah sudah tersebar di sebagian belahan dunia. Di Syam, (hampir) semua penduduknya adalah Nasrani. Adapun di Maghrib, Mesir, Habasyah, Naubah, Jazirah, Maushil, Najran, dan lain-lain, meski tidak semuanya, namun mayoritas penduduknya adalah Nasrani.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW senantiasa melakukan Dakwah, seperti yang pernah beliau lakukan kepada Raja Najasyi, seorang Raja Nashrani yang tinggal di Ethiopia. Rasulullah SAW pun mengirimi surat kepada Najasyi untuk bertauhid kepada Allah SWT. Berikut adalah pesan surat tersebut,

"Dari Muhammad utusan Islam untuk An-Najasyi, penguasa Abyssinia (Ethiopia). Salam bagimu, sesungguhnya aku bersyukur kepada Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, dan aku bersaksi bahwa Isa putra Maryam adalah ruh dari Allah yang diciptakan dengan kalimat Nya yang disampaikan Nya kepada Maryam yang terpilih, baik dan terpelihara. Maka ia hamil kemudian diciptakan Isa dengan tiupan ruh dari-Nya sebagaimana diciptakan Adam dari tanah dengan tangan Nya. Sesungguhnya aku mengajakmu ke jalan Allah. Dan aku telah sampaikan dan menasihatimu maka terimalah nasihatku. Dan salam bagi yang mengikuti petunjuk."

Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada Raja Najasyi untuk menjadi seorang muslim, maka Raja Najasyi mengambil surat itu, beliau lalu meletakkan ke wajahnya dan turun dari singgasana. Beliaupun masuk Islam melalui Ja’far bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu.

Namun Rasulullah SAW juga pernah melakukan perperangan terhadap kaum Nashrani. Hal ini bermula ketika salah satu surat beliau telah dibawa oleh Harits bin Umair ra. yang akan diberikan kepada Raja Bushra yang Nashrani. Ketika sampai di Mu’tah, maka Syarahbil Ghassani yang ketika itu menjadi salah seorang hakim kaisar telah membunuh utusan Rasulullah SAW. Membunuh utusan, menurut aturan siapa saja, adalah suatu kesalahan besar. Rasulullah SAW sangat marah atas kejadian itu.

Maka Rasulullah SAW menyiapkan pasukan sebanyak tiga ribu orang. Zaid bin Haritsah ra. telah dipilih menjadi pemimpin pasukan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Jika ia mati syahid dalam peperangan, maka Ja’far bin Abi Thalib ra. menggantinya sebagai pemimpin pasukan. Jika ia juga mati syahid, maka penlimpin pasukan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah ra. Jika ia juga mati syahid, maka terserah kaum muslim untuk memilih siapa pemimpinnya". Allahua’lam. (Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi)

Category:Other   http://daffodilmuslimah.multiply.com/reviews/item/135
[Disalin dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press]

Perang Mu‘tah

Peperangan ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ke-8 Hijrih. Mu‘tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa ini sekarang bernama Kirk.

Yang menjadi sebab terjadinya peperangan ini ialah terbunuhnya Al-Harits bin Umair al Azdi, utusan Rasulullah saw kepada raja Basrah. Setelah Rasulullah saw menyerukan kaum Muslimin agar berangkat menuju Syam, dengan serta merta berkumpullah sebanyak 3000 tentara kaum Muslimin yang siap berangkat ke Mu‘tah.

Rasulullah saw tidak ikut serta bersama mereka. Dengan demikian anda tahu bahwa ini bukan ghazwah, tetapi hanyalah sariyah, namun hampir semua ulama sirah menamakannya ghazwah karena banyaknya jumlah kaum Muslimin yang berangkat dan arti penting yang dikandungnya. Rasulullah saw berpesan kepada mereka: "Yang bertindak sebagai Amir (panglima perang) adalah Zaid bin Haritsa. Jika Zaid gugur, Ja‘far bin Abu Thaalib penggantinya, bila Ja‘far gugur, Abdullah bin Rawahah penggantinya. Dan jika Abdullah bin Rawahah gugur maka hendaklah kaum Muslimin memilih penggantinya.“ Selanjutnya Nabi saw mewasiatkan kepada mereka agar sesampainya di sana mereka mengajak kepada Islam dan jika mereka menolak langsung menyerang dengan meminta pertolongan Allah.

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah saw bersama beberapa sahabatnya mengucapkan selamat jalan kepada semua pasukan dan para komandan mereka ketika keluar dari Madinah. Pada saat itu Abdullah bin Rawahah menangis tersedu-sedu. Orang-orang kemudian bertanya: “Apa yang menyebabkan anda menangis?“ Ia menjawab: “Demi Allah, bukan karena saya cinta dunia juga bukan karena perpisahan dengan kalian, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah saw membaca salah satu ayat al-Quran yang menyebutkan neraka: “Dan tidak ada seorang pun di antaramu, melainkan mendatangi nereka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian ynag sudah ditetapkan.“ (QS Maryam 71 )

Aku tidak tahu apakah akan kembali setelah mendatanginya.
Keitka pasukan itu berangkat, kaum Muslimin mengucapkan do‘a: “Semoga Allah menyertai kalian, melindungi kalian, dan mengembalikan kalian pulang dalam keadaan baik-baik.“
Kemudian Abdullah bin Rawahah mengatakan :
Tetapi aku memohon ampunan kepada ar-Rahman dan tebasan pedang yang mengakhiri kehidupan atau lemparan tombak ke arah dada menembus lambung dan jantung agar orang yang menziarahi pusaraku berdo‘a Semoga Allah melimpahkan petunjuk dan karunia-Nya kepada orang yang telah berperang.

Setelah kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah, musuhpun mendengar keberangkatan mereka, kemudian mempersiapkan pasukan besar guna menghadapi kekuatan kaum Muslimin. Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin Amer mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘.

Mendengar berita ini, kaum Muslimin kemudian berhenti selama dua malam di daerah bernama Muan guna merundingkan apa yang seharusnya dilakukan. Beberapa orang diantaranya berpendapat: "Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah saw melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi, atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan. Tetapi Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapan berapi-api :

"Hai saudara-saudara, kalian tidak menyukai mati syahid yang menjadi tujuan kita berangkat ke medan perang ini! Kita berperang tidak mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan, tetapi semata-mata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah kepada kita. Karena itu marilah kita maju! Tidak ada pilihan lagi kecuali salah satu dari dua kebajikan : Menang atau mati syahid."

Pasukan kedua belah pihak bertemu di Kirk. Dari segi jumlah personil dan senjata, kekuatan musuh jauh lebih besar dari kekuatan kaum Muslimin. Zaid bin Haritsah bersama kaum Muslimin bertempur menghadapi musuh hingga ia gugur di ujung tombak musuh, kemudian Ja‘far mengambil alih panji peperangan dan maju menerjang musuh dengna berani. Di tengah sengitnya pertempuran ia turun dari kudangnya lalu membunuh, melesat menerjang pasukan Romawi seraya bersyair:
Alangkah dekatnya surga
Harumnya semerbak dan segar minumannya
Kita hujamkan siksa ke atas orang-orang Romawi yang kafir nun jauh nasabnya
Pastilah aku yang memeranginya

Ia terus bertempur sampai tertebas oleh pedang orang Romawi yang memotong tubuhnya menjadi dua. Di tubuhnya terdapat lima puluh tusukan, semuanya di bagian depan. Kemudian panji peperangan diambil alih oleh Abdullah Rawahah. Ia maju memimpin pertempuran seraya bermadah :

Wahai jiwa, engkau harus terjun dengan suka atau terpaksa
Musuh-musuh telah maju ke medan laga
Tidakkah engkau rindukan surga
Telah lama engkau hidup tenang
Engkau hanya setetes air yang hina

Ia terus bertempur sampai gugur menjadi syahid.  
 
Kemudian kaum Muslimin menyepakati Khalid bin Walib sebagai panglima perang. Ia kemudian menggempur musuh hingga berhasil memukul mundur. Pada saat itulah Khalid mengambil langkah strategis menarik tentaranya ke Madinah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas ra bahwa sebelum kaum Muslimin mendengar berita tewasnya tiga panglima perang mereka, Rasulullah saw menyampaikan berita gugurnya Zaid, Ja‘far dan Ibnu Rawahah kepada mereka kemudian bersabda: “Zaid memegang panji kemudian gugur. Panji itu diambil oleh Ja‘far dan iapun gugur, Panji itu diambil oleh ibnu Rawahah ia pun gugur pula …“ Saat itu beliau meneteskan air mata seraya melanjutkan sabdanya: “..akhirnya panji itu diambil oleh "pedang Allah“ (Khalid bin Walid) dan akhirnya Allah mengaruniainya kemenangan kepada mereka (kaum Muslimin)“

Hadits ini sebagaimana anda ketahui menunjukkan bahwa pada akhirnya Allah memberikan dukungan kemenangan kepada kaum Muslimin, tidak sebagaimana dikatakan sebagian perawi sirah bahwa kaum Muslimin terpukul mundur dan kucar-kacir sehingga setelah itu kembali ke Madinah. Barangkali maksud orang-orang yang mengatakan hal ini ialah bahwa kaum Muslimin tidak mengejar tentara-tentara Romawi dan para pendukungnya pada saat mereka mundur dari posisi-posisi mereka, karena khawatir terhadap kaum Muslimin, kemudian kembali ke Madinah. Tak pelak lagi ini merupakan strategi bijaksana yang diambil oleh Khalid bin Walid ra.

Ibnu Hajar berkata: Di dalam al-Maghazinya buku sirah yang sangat terpercaya Musa bin Uqbah menyebutkan: Kemudian panji itu diambil oleh Abdullah bin Rawahah, dan ia pun gugur. Kemudian kaum Muslimin mengangkat Khalid bin Walid (sebagai panglima perang) dan akhirnya Allah mengalahkan musuh dan memenangkan kaum Muslimin. Imad bin Katsir berkata : Dapat disimpulkan bahwa Khalib bin Walid mengatur strategi dengan membawa mundur kaum Muslimin dan bertahan. Kemudian keesokkan harinya ia mulai mengubah posisi pasukan, yang tadinya di sayap kanan dipindahkan ke sayap kiri dan sebaliknya, untuk memberikan kesan kepada musuh kaum Muslimin mendapat bala bantuan. Kemudian Khalid menyerang merkea dan berhasil memukul mundur, tetapi Khalid tidak mengejar mereka dan melihat kembalinya kaum Muslimin (ke Madinah) merupakan pampasan yang sangat besar“.

Menjelang masuk kota Madinah, mereka disambut oleh Rasulullah saw dan anak-anak yang berhamburan menjemput mereka. Rasulullah saw bersabda : Ambillah anak-anak dan gendonglah mereka. Berikanlah kepadaku anak Ja‘far. Kemudian dibawalah Abdullah bin Ja‘far dan digendong oleh Nabi saw. Orang-orang meneriaki dengan ucapan :
"Wahai orang-orang yang lari ! Kalian lari di jalan Allah“
Tetapi Rasulullah saw membantah: "Mereka tidak lari (dari medan perang) tetapi mundur untuk menyerang kembali insya Allah“.

Beberapa Ibrah :

Diantara hal yang menimbulkan decak kekaguman dalam peperangan ini ialah perbedaan besar antara jumlah pasukan kaum Muslimin dan jumlah pasukan Romawi yang didukung oleh orang-orang Musyrikin itu mencapai 200.000 personil, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Sa‘ad dan kebanyakan penulis Sirah. Sedangkan jumlah pasukan Muslimin tidak mencapai tiga ribu. Ini berarti jumlah pasukan Musyrikin dan Romawi tidak kurang dari 50 kali lipat jumlah pasukan Muslimin.
Perbandingan jumlah yang sangat tidak seimbang ini jika anda renungkan menjadikan pasukan Muslimin berada di hadapan mobilisasi pasukan secara besar-besaran dari Romawi dan sekutunya (Musyrikin Arab), laksana parit kecil menghadapi lautan bear yang bergelombang. Dari segi peralatan jauh lebih besar dan canggih, sementara kaum Muslimin justru tengah menghadapi kekurangan dan paceklik.

Anehnya semua ini padahal mereka berangkat tanpa Nabi saw dalam sebuah sariyah tidak menggetarkan kaum Muslimin bahkan semua kekuatan tersebut sama sekali tidak dijadikan masalah berat. Padahal kalau melihat mereka melihat pasukan yang mengepungnya niscaya mereka akan seperti sebuah batu kecil di tengah padang pasir.

Kekaguman kita akan semakin bertambah besar manakala kita melihat kaum Muslimin dengan tegar dan berani menghadapi peperangan yang tidak seimbang ini. Amir (Panglima) perang mereka yang pertama, kedua dan ketiga gugur tetapi mereka tetap menerjang pintu Syahadah, sehingga Allah swt memasukkan rasa takut ke dalam hati pasukan Musyrikin tanpa adanya sebab yang terlihat dan akhirnya pasukan Muslimin berhasil memukul mundur pasukan Musyrikin dan membunuh sejumlah besar tentara mereka.

Tetapi semua kekaguman dan keheranan ini akan segera sirna manakala kita mengingat apa yang dapat dilakukan oleh keimanan kepada Allah, sikap tawakal semata-mata kepada-Nya dan yakin akan janji-Nya.

Bahkan hal yang mengherankan bagi kaum Muslimin jika mereka benar-benar Muslim kalau mereka tidak seperti itu. Benar-benar suatu keanehan jika kaum Muslimin menjadikan soal jumlah personil dan kecanggihan disamping janji kemenangan dan dukungan dari Allah atau surga kenikmatan yang abadi, kaum Muslimin seperti dikatakan oleh Abdullah bin Rawahah tidak berperang mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan, tetapi semata-mata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Selain itu, peperangan ini mengandung sejumlah pelajaran yang penting, diantaranya :
Pertama,
Tausiyah (pesan) Nabi saw tersebut menunjukkan bahwa seorang Khalifah atau pemimpin kaum Muslimin boleh mengangkat seorang Amir dengan sesuatu syarat atau beberapa Amir bagi kaum Muslimin secara berturutan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam pengangkatan Zaid kemudian Ja‘far dan Abdullah bin Rawahah. Para Ulama berkata: yang benar, apabila seorang khalifah telah melakukan pengangkatan beberapa Amir maka pengangkatan semuanyanya dinyatakan sah dalam waktu yang sama sekali secara serentak, tetapi tidak dilaksanakan kecuali sesuatu urutan.

Kedua,
Tausiyah Rasulullah saw juga menunjukkan disyariatkan ijtihad kaum Muslimin dalam memilih Amir mereka, apabila Amir mereka tidak ada (meninggal). Atau seorang Khalifah menyerahkan pemilihannya kepada mereka. Berkata Ath Thahawi: Ini adalah dasar yang menegaskan bahwa kaum Muslimin wajib mengajukan seorang Imam guna menggantikan Imam ynag tidak ada sampai ia datang.

Sebagaimana tausiyah ini juga menunjukkan disyariatkan beberpa ijtihad bagi kaum Muslimin di masa hidup Rasulullah saw.

Ketiga,
Seperti anda ketahui bahwa Nabi saw menyampaikan berita gugurnya, Zaid, Ja‘far dna Ibnu Rawahah kepada para sahabatnya seraya kedua matanya meneteskan air mata, padahal jarak antara Nabi saw dan pasukan kaum Muslimin sangat jauh.

Ini menunjukkan bahwa Allah telah melipat bumi untuk Nabi-Nya, sehingga beliau bisa melihat keadaan kaum Muslimin yang sedang berperang di perbatasan Syam dan peristiwa-peristiwa yang dialami para sahabatnya. Ini termasuk perkara luar biasa yang banyak dikaruniakan Allah kepada kekasih-Nya.

Hadits itu sendiri menunjukkan betapa kasih sayang Nabi saw kepada sahabatnya. Bukan hal kecil seorang Nabi menangis di hadapan para sahabatnya saat menyampaikan berita para syuhada tersebut. Anda tentunya memahami bahwa menangisnya Rasulullah saw atas kematian mereka ini tidak bertentangan dengan sikap ridha terhadap qadha dan qadar Allah. Karena sebagaimana dikatkaan Nabi saw, mata ini bisa meneteskan air mata dan hati pun bisa bersedih. Itu adalah kelembutan alamiyah dan ramat yang difitrahkan Allah kepada mereka.

Keempat,
Hadits penyampaian Nabi saw tentang berita ketiga orang Syuhada tersebut mencatat keutamaan khusus bagi Khalid bin Walid ra. Rasulullah saw di akhir sabdanya menegaskan kepada mereka: “Sehingga panji itu diambil oleh pedang Allah dan akhirnya mengalahkan mereka. Peristiwa ini merupakan peperangan pertama kali diikuti oleh Khalid bin Walid dalam barisan kaum Muslimin, sebab belum lama ia menyatakan dirinya masuk Islam. Dari sini anda tahu bahwa Nabi sawlah yang memberikan panggilan "Pedang Allah“ kepada Khalid bin Walid.

Di dalam peperangan ini Khalid ra telah menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhri meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia berkata: “Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman“. Ibnu Hajar berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka.

Adapun tentang sebab ucapan kaum Muslimin kepada pasukan mereka ketika kembali ke Madinah .“Wahai orang-orang ynag lari! Kalian lari di jalan Allah“, adalah karena mereka tidak mengejar terus orang-orang Romawi yang sudah kalah itu dan meninggalkan daerah yang telah direbut melalui peperangan, sebab hal semacam ini tidak lumrah di kalangan mereka dalam peperangan-peperangan yang lain. Khalid menilai cukup sampai sebatas itu saja kemudian kembali ke Madinah. Namun seperti anda ketahui tindakan tersebut merupakan langkah bijaksana yang diambil oleh Khalid ra demi menjaga pasukan Musliin dan kesan kehebatan mereka (tentara Muslimin) di hati orang-orang Romawi itu. Oleh sebab itu, Rasulullah saw membantah mereka dengan sabda beliau: “Mereka tidak lari (dari medan perang) tetapi mereka mundur untuk menyerang balik insya Allah“.
Prev: Umrah Qadha
Next: Penaklukan Kota Mekkah (Fathu Makkah) (1/4)
Perang Mu’tah; Heroik, 3.000 VS 200.000 
Dikirim: [02/06/2010] 
 
 http://www.madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=2&var=detail&id=287
 
PERTEMPURAN paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, Pasukan Romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000. Pasukan super besar tersebut merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab sekitar dataran Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mu’tah –sehingga sejarawan menyebutnya perang Mu’tah- (sekitar yordania sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.



Latar Belakang

Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-‘Azdi yang akan dikirim ke penguasa Bashra. Di tengah perjalanan, utusan itu ditangkap Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal. Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat beliau marah.

Mendengar utusan damainya dibunuh, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sangat sedih. Setelah sebelumnya berunding dengan para Sahabat, lalu diutuslah pasukan muslimin untuk berangkat ke daerah Syam. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sadar melawan penguasa Bushra berarti juga melawan pasukan Romawi yang notabene adalah pasukan terbesar dan terkuat di muka bumi ketika itu. Namun ini harus dilakukan karena bisa saja suatu saat pasukan lawan akan menyerang Madinah. Kelak pertempuran ini adalah awal dari pertempuran Arab - Bizantium.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata “Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Jakfar bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan Akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)



Peperangan yang Sengit

Kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Musuh pun mendengar keberangkatan mereka. Dipersiapkanlah pasukan super besar guna menghadapi kekuatan kaum Muslimin. Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin ‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘. Kedua pasukan bergabung.

Mendengar kekuatan musuh yang begitu besar, kaum Muslimin berhenti selama dua malam di daerah bernama Mu’an guna merundingkan apa langkah yang akan diambil. Beberapa orang berpendapat, “Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi, atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan.” Tetapi Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapan berapi-api:

“Demi Allah Subhânahu wata‘âlâ, sesungguhnya apa yang kalian tidak sukai ini adalah sesuatu yang kalian keluar mencarinya, yaitu syahid (gugur di medan perang). Kita tidak berperang karena jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita berjuang semata-mata untuk agama ini yang Allah Subhânahu wata‘âlâ telah memuliakan kita dengannya. Majulah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan; menang atau gugur (syahid) di medan perang.” Lalu mereka mengatakan, “ Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”

Terjadilah perang di daerah Mu’tah (sekitar Yordania sekarang). Perang dimulai. Komandan pasukan, Zaid bin Haritsah bertempur heroik, membabat pedangnya kesana kemari, menghabisi pasukan Romawi. Perlawanannya harus terhenti setelah ia tersungkur dari kudanya karena kudanya berhasil di ditombak. Zaid gugur setelah ditebas pedang lawan.

Lalu komandan perang dipegang Jakfar bin Abu Thalib. Jakfar bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Tiba-tiba tangan kirinya putus tertebas pedang musuh. Lalu bendera dipegang tangan kanannya. Namun tangan kanannya pun ditebas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, ia tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.

Selanjutnya komando pasukan diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Namun nasibnya pun sama, gugur sebagai syuhada. Tsabit bin Arqam Radhiyallâhu ‘anhu mengambil bendera yang tidak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu yang terkenal sebagai seorang yang punya strategi perang yang handal. Ini adalah peperangan pertamanya, karena belum lama dia masuk Islam.

Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.

Khalid bin Walid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yg datang dengan membuat debu-debu berterbangan. Pasukan musuh yg menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa kemarin dengan 3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan. Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari medan pertempuran. Pasukan Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, karena dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.



Menang atau Imbang

Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pertempuran ini berakhir imbang. Hal karena kedua belah pasukan sama-sama menarik mundur pasukannya yang lebih dahulu dilakukan oleh Romawi. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dalam pertempuran ini kemenangan berada di tangan Muslim.

Sebenarnya tanpa ada justifikasi kemenanganpun akan diketahui ada dipihak siapa. Keberanian pasukan yang hanya berjumlah 3.000 dengan gagah berani menghadapi dan dapat mengimbangi pasukan yang sangat besar dan bersenjata lebih canggih dan lengkap cukup menjadi bukti. Bahkan jika menghitung jumlah korban dalam perang itu siapapun akan langsung mengatakan bahwa umat islam menang. Mengingat korban dari pihak muslim hanya 12 orang, (Menurut riwayat Ibnu Ishaq 8 orang, sedang dalam kitab as-Sîrah ash-Shahîhah (hal.468) 13 orang) sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20.000 orang.

Perang ini adalah perang yang sangat sengit meski jumlah korban hanya sedikit dari pihak muslim. Di dalam peperangan ini Khalid Radhiyallâhu ‘anhu telah menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia berkata: “Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” Ibnu Hajar mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka. ** www.sidogiri.net


Referensi: Muhammad bin Ishaq, as-Sîrah an-Nabawiyyah li-bni Ishaq Ad-Dimisyqiy, Abu al-Fida’ al-Hafidz Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa Nihayah, dan as-Sîrah an-Nabawiyyah li Ibni Katsir.

Rabu, 24 Oktober 2012

Councils on Foreign Relation-Time to Test Iran...??!!...>>> The precise terms would have to be determined, but Iran would have to give up all of the uranium that it has enriched to 20% and stop enriching to that level. It would also have to accept a ceiling on how much uranium it could possess or enrich at lower levels. Limits on the number of centrifuges and where they could be housed might also be necessary. Inspections would need to be frequent and intrusive to reassure the outside world of what Iran is doing – or, perhaps more to the point, what it is not doing. In return, Iran would receive substantial relief from the removal of those sanctions imposed in response to its nuclear program. ...>>



Time to Test Iran

Richard N. Haass

Richard N. Haass, President of the Council on Foreign Relations since 2003, previously served as Director of Policy Planning for the US State Department (2001-2003), and was President George W. Bush’s special envoy to Northern Ireland and Pakistan, before resigning from the Bush administration in protest against the Iraq war. He was also Special Assistant to the President and Senior Director for Near East and South Asian Affairs on the National Security Council under President George H.W. Bush.

17 October 2012
http://www.project-syndicate.org/print/can-iran-compromise-on-its-nuclear-program-by-richard-n--haass

NEW YORK – Most of the debate about how to address Iran’s efforts to develop nuclear-weapons capacity focuses on two options. The first is to rely on deterrence and live with an Iran that has a small nuclear arsenal or the ability to assemble one with little advance notice. The second is to launch a preventive military strike aimed at destroying critical parts of the Iranian program and setting back its progress by an estimated two or more years.

But now a third option has emerged: negotiating a ceiling on the nuclear program that would not be too low for Iran’s government and not too high for the United States, Israel, and the rest of the world.

In fact, such an option has been around for years – and in several rounds of negotiations. What has changed, however, is the context. And changes in context can be critical; indeed, what happens away from the negotiating table almost always determines the outcome of face-to-face talks.

The single most important change in context is the rapidly deteriorating state of Iran’s economy. The many financial and oil-related sanctions that have been implemented in recent months and years are starting to bite. They were designed not to impede Iran’s nuclear program directly, but rather to increase the price that Iran’s leaders must pay for pursuing their nuclear ambitions. The thinking (or, more accurately, the hope) was that Iran’s leadership, if forced to choose between regime survival and nuclear weapons, would choose the former.

This hypothesis may soon get a real-world test. Iran’s currency, the rial, has fallen roughly 40% in recent weeks, sharply increasing Iran’s inflation rate and what Iranians must pay for imports and many staples. The result is the first signs of serious public discontent with the regime since the violent repression of the Green Movement in 2009. Iran’s merchant class, one of the pillars of the clerical establishment that has ruled the country since the 1979 revolution, is grumbling as well.

Other factors also could give negotiations a real chance. Upheavals in the Arab world suggest that no regime in the Middle East is entrenched; Iran’s leaders would have to be blind not to have taken note. In his speech at the United Nations in late September, Israeli Prime Minister Binyamin Netanyahu signaled a willingness to give sanctions more time, until at least the summer of 2013. And there are signs that, regardless of who wins November’s presidential election, the US might well undertake an armed strike, with potential destruction much greater than if Israel were to act alone. Again, the Iranians might see compromise as the lesser of the threats that it faces.

Until now, negotiations have been desultory at best. The compromise that Iranian officials are suggesting is nowhere near what they would have to accept to avert military action and gain an easing of sanctions. But now is the time to present to Iran a comprehensive package – what it must do and what the reward would be if it agreed. It would also be essential to set a deadline for Iran to accept such an accord, lest it use further negotiations to buy time to improve its nuclear capabilities.

The precise terms would have to be determined, but Iran would have to give up all of the uranium that it has enriched to 20% and stop enriching to that level. It would also have to accept a ceiling on how much uranium it could possess or enrich at lower levels. Limits on the number of centrifuges and where they could be housed might also be necessary. Inspections would need to be frequent and intrusive to reassure the outside world of what Iran is doing – or, perhaps more to the point, what it is not doing. In return, Iran would receive substantial relief from the removal of those sanctions imposed in response to its nuclear program.

Moreover, the offer’s essential elements should be made public. That way, if the regime balked, it would have to explain to its own people why it was not prepared to abandon its nuclear-weapons program, despite a reasonable US proposal that was not designed to humiliate Iran, and that, if accepted, promised a major improvement in Iranian living standards.

It is possible that the new economic and political context will lead Iran’s rulers to accept what they have rebuffed until now. If, on the other hand, the regime remains determined to pursue its nuclear goals, regardless of cost, then we will know that there is no alternative to the first two options: attacking Iranian facilities or living with a nuclear-armed Iran. Both outcomes are potentially risky and costly, but the US public, in particular, should be made aware that it was Iran that rejected a reasonable alternative to war before one began.

And, if push came to shove, it would be good for other governments to know that the US and/or Israel decided to attack only after offering Iran a face-saving way out. That would make it less difficult to keep economic pressure on Iran in the aftermath of any strike.

Going public makes sense for another reason: Iran’s people ought to know that any attack on the country was one that it had largely brought on itself. This realization might mute any “rally around the flag” reaction and thus not rule out regime change down the road.

We tend to think of diplomacy as something carried out in secret; sometimes, however, it is better to hide in plain sight. This is such a moment. But time is of the essence; diplomacy needs to move faster if it is not to be overtaken by Iran’s march to a nuclear weapon – and, with it, the march to conflict.

About CFR

 http://www.cfr.org/about/
The Council on Foreign Relations (CFR) is an independent, nonpartisan membership organization, think tank, and publisher. CFR members, including Brian Williams, Fareed Zakaria, Angelina Jolie, Chuck Hagel, and Erin Burnett, explain why the Council on Foreign Relations is an indispensable resource in a complex world.

Membership

CFR's current membership of nearly 4,700 is divided among those living in New York, Washington, DC, and across the country and abroad.
For those between the ages of thirty and thirty-six there is the Stephen M. Kellen Term Member Program.
The Corporate Program serves an international membership of about two hundred leading global corporations.

The Think Tank

The David Rockefeller Studies Program—CFR's think tank—is composed of more than eighty full-time and adjunct fellows who cover the major regions and significant issues shaping today's international agenda. The program also includes recipients of several one-year fellowships.
The Studies Program is organized into more than a dozen program areas and centers that focus on major geographical areas of the world or significant foreign policy issues, including the Maurice R. Greenberg Center for Geoeconomic Studies, the Center for Preventive Action, the International Institutions and Global Governance program, the Civil Society, Markets, and Democracy initiative, and the Renewing America initiative.

Informing the Public Debate

Access to CFR's high-level discussions—with world leaders, U.S. government officials, CEOs, policy analysts, and others—is available through select videos, audio recordings, and unedited transcripts.
Outreach initiatives target constituencies increasingly important to the national foreign policy debate: educators and students; religious and congregational leaders; state and local officials; and nonprofit, civic, and community leaders.
The Washington Program actively engages decision-makers in Congress, the executive branch, and the diplomatic community.
The bimonthly Foreign Affairs is widely considered to be the most influential magazine for the analysis and debate of foreign policy and economics. Its website, ForeignAffairs.com, publishes original daily features and hosts the complete archives going back to 1922.
Independent Task Forces work to reach consensus on how to deal with critical foreign policy challenges.
CFR's website is a trusted, nonpartisan source of timely analysis and context on international events and trends. CFR.org publishes backgrounders, interviews, "first-take" analysis, expert blogs, and a variety of multimedia offerings that include videos, podcasts, interactive timelines, and the Emmy-winning Crisis Guide series. The site also presents the work of CFR's Think Tank, including books, reports, congressional testimony, and op-eds, as well as audio, video, and transcripts of CFR events. Each weekday morning, the Daily News Brief delivers subscribers an authoritative digest of global news and analysis compiled by CFR.org's editors.


The Council on Foreign Relations (CFR) and The New World Order


- By W.E.B. 
http://www.conspiracyarchive.com/NWO/Council_Foreign_Relations.htm
For those who may be confused by the controversies surrounding the "New World Order", a One-World-Government, and American concern over giving the UN more power; those unaware of the issues involved; and those wishing more background, I offer the following.
Originally presented for an Honors Class, "Dilemmas of War and Peace," at New Mexico State University, the paper was ridiculed and characterized by Dr. Yosef Lapid, (an acknowledged and locally quoted "expert" on Terrorism and Middle Eastern affairs) as "paranoid... possibly a symptom of mental illness." You may judge for yourself.
Citing source data is the "scientific method," but does not seem to apply to "Conspiracy Theories." A thousand sources may be quoted, yet will not convince the "skeptics," the "realists." It seems to me the "symptoms of mental illness" are on their side, if they refuse to look at evidence ("There are none so blind as those who WILL not see"); or perhaps something more sinister is at work, such as a knowledge of the truth, that does not want YOU to know.
To be paranoid means to believe in delusions of danger and persecution. If the danger is real, and the evidence credible, then it cannot be delusional. To ignore the evidence, and hope that it CANNOT be true, is more an evidence of mental illness.
The issue involves much more than a difference of philosophy, or political viewpoint. Growing up in the midst of the "Cold War," our generation were taught that those who attempted to abolish our national sovereignty and overthrow our Constitutional government were committing acts of treason. Please judge for yourself if the group discussed is guilty of such.
If one group is effectively in control of national governments and multinational corporations; promotes world government through control of media, foundation grants, and education; and controls and guides the issues of the day; then they control most options available. The Council on Foreign Relations (CFR), and the financial powers behind it, have done all these things, and promote the "New World Order", as they have for over seventy years.
The CFR is the promotional arm of the Ruling Elite in the United States of America. Most influential politicians, academics and media personalities are members, and it uses its influence to infiltrate the New World Order into American life. Its' "experts" write scholarly pieces to be used in decision making, the academics expound on the wisdom of a united world, and the media members disseminate the message.
To understand how the most influential people in America came to be members of an organization working purposefully for the overthrow of the Constitution and American sovereignty, we have to go back at least to the early 1900's, though the story begins much earlier (depending on your viewpoint and beliefs).
That a ruling power elite does indeed control the U.S. government behind the scenes has been attested to by many americans in a position to know. Felix Frankfurter, Justice of the Supreme Court (1939-1962), said: "The real rulers in Washington are invisible and exercise power from behind the scenes." In a letter to an associate dated November 21, 1933, President Franklin Roosevelt wrote, "The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government ever since the days of Andrew Jackson."
February 23, 1954, Senator William Jenner warned in a speech: "Outwardly we have a Constitutional government. We have operating within our government and political system, another body representing another form of government, a bureaucratic elite which believes our Constitution is outmoded."
Baron M.A. Rothschild wrote, "Give me control over a nation's currency and I care not who makes its laws."
All that is needed to effectively control a government is to have control over the nation's money: a central bank with a monopoly over the supply of money and credit. This had been done in Western Europe, with the creation of privately owned central banks such as the Bank of England.
Georgetown professor Dr. Carroll Quigley (Bill Clinton's mentor while at Georgetown) wrote about the goals of the investment bankers who control central banks: "... nothing less than to create a world system of financial control in private hands able to dominate the political system of each country and the economy of the world as a whole... controlled in a feudalist fashion by the central banks of the world acting in concert, by secret agreements arrived at in frequent private meetings and conferences."
The Bank of the United States (1816-36), an early attempt at an American central bank, was abolished by President Andrew Jackson, who believed that it threatened the nation. He wrote: "The bold effort the present bank had made to control the government, the distress it had wantonly produced...are but premonitions of the fate that awaits the American people should they be deluded into a perpetuation of this institution or the establishment of another like it."
Thomas Jefferson wrote: "The Central Bank is an institution of the most deadly hostility existing against the principles and form of our Constitution...if the American people allow private banks to control the issuance of their currency, first by inflation and then by deflation, the banks and corporations that will grow up around them will deprive the people of all their property until their children will wake up homeless on the continent their fathers conquered."
Does that not describe the situation in America today?
The U.S. managed to do without a central bank until early in this century, when, according to Congressman Charles Lindbergh, Sr., "The Money Trust caused the 1907 panic, and thereby forced Congress to create a National Monetary Commission." Headed by Senator Nelson Aldrich, father-in-law of John D. Rockefeller, Jr., the Commission recommended creation of a central bank.
Though unconstitutional, as only "The Congress shall have Power...To coin Money, regulate the Value thereof..." (Article I, Section 8, U.S. Constitution) the Federal Reserve Act was passed in December 1913; ostensibly to stabilize the economy and prevent further panics, but as Lindberg warned Congress: "This act establishes the most gigantic trust on earth...the invisible government by the money power, proven to exist by the Money Trust investigation, will be legalized." The Great Depression and numerous recessions later, it is obvious the Federal Reserve produces inflation and federal debt whenever it desires, but not stability.
Congressman Louis McFadden, House Committee on Banking and Currency Chairman (1920-31), stated: "When the Federal Reserve Act was passed, the people of these United States did not perceive that a world banking system was being set up here. A super-state controlled by international bankers and industrialists...acting together to enslave the world...Every effort has been made by the Fed to conceal its powers but the truth is--the Fed has usurped the government."
Although called "Federal," the Federal Reserve system is privately owned by member banks, makes its own policies, and is not subject to oversight by Congress or the President. As the overseer and supplier of reserves, the Fed gave banks access to public funds, which enhanced their lending capacity.
Peter Kershaw, in "Economic Solutions" lists the ten major shareholders of the Federal Reserve Bank System as: Rothschild: London and Berlin; Lazard Bros: Paris; Israel Seiff: Italy; Kuhn- Loeb Company: Germany; Warburg: Hamburg and Amsterdam; Lehman Bros: New York; Goldman and Sachs: New York; Rockefeller: New York. (That most, if not all of these families just happen to be Jewish, you may judge the significance of yourself). The balance of stock is owned by major commercial member banks.
According to Devvy Kidd, "Why A Bankrupt America?" The Federal Reserve pays the Bureau of Engraving & Printing approximately $23 for each 1,000 notes printed. 10,000 $100 notes (one million dollars) would thus cost the Federal Reserve $230. They then secure a pledge of collateral equal to the face value from the U.S. government. The collateral is our land, labor, and assets... collected by their agents, the IRS. By authorizing the Fed to regulate and create money (and thus inflation), Congress gave private banks power to create profits at will.
As Lindberg put it: "The new law will create inflation whenever the trusts want inflation...they can unload the stocks on the people at high prices during the excitement and then bring on a panic and buy them back at low prices...the day of reckoning is only a few years removed." That day came in 1929, with the Stock Market crash and Great Depression.
One of the most important powers given to the Fed was the right to buy and sell government securities, and provide loans to member banks so they might also purchase them. This provided another built-in mechanism for profit to the banks, if government debt was increased. All that was needed was a method to pay off the debt. This was accomplished through the passage of the income tax in 1913.
A national income tax was declared unconstitutional in 1895 by the Supreme Court, so a constitutional amendment was proposed in Congress by none other than ...Senator Nelson Aldrich. As presented to the American people it seemed reasonable enough: income tax on only one percent of income under $20,000, with the assurance that it would never increase.
Since it was graduated, the tax would "soak the rich", ...but the rich had other plans, already devising a method of protecting wealth. As described by Gary Allen in his 1976 book "The Rockefeller File," "By the time the (16th) Amendment had been approved by the states, the Rockefeller Foundation was in full operation...about the same time that Judge Kenesaw Landis was ordering the breakup of the Standard Oil monopoly...John D...not only avoided taxes by creating four great tax-exempt foundations; he used them as repositories for his 'divested' interests...made his assets non-taxable so that they might be passed down through generations without...estate and gift taxes...Each year the Rockefellers can dump up to half their incomes into their pet foundations and deduct the "donations" from their income tax."
Exchanging ownership for control of wealth, foundations are also a handy means for promoting interests that benefit the wealthy. Millions of foundation dollars have been "donated" to causes such as promoting the use of drugs, while degrading preventive medicine. Since many drugs are made from coal tar derivatives, both oil companies and drug manufacturing concerns (many Rockefeller owned or controlled) are the main beneficiaries.
With the means to loan enormous sums to the government (the Federal Reserve), a method to repay the debt (income tax), and an escape from taxation for the wealthy, (foundations), all that remained was an excuse to borrow money. By some happy "coincidence," in 1914 World War I began, and after American participation national debt rose from $1 billion to $25 billion.
Woodrow Wilson was elected President in 1913, beating incumbent William Howard Taft, who had vowed to veto legislation establishing a central bank. To divide the Republican vote and elect the relatively unknown Wilson, J.P. Morgan and Co. poured money into the candidacy of Teddy Roosevelt and his Progressive Party.
According to an eyewitness, Wilson was brought to Democratic Party headquarters in 1912 by Bernard Baruch, a wealthy banker. He received an "indoctrination course" from those he met, and in return agreed, if elected: to support the projected Federal Reserve and the income tax, and "listen" to advice in case of war in Europe and on the composition of his cabinet.
Wilson's top advisor during his two terms was a man named Colonel Edward M. House. House's biographer, Charles Seymour, called him the "unseen guardian angel" of the Federal Reserve Act, helping to guide it through Congress. Another biographer wrote that House believed: "...the Constitution, product of eighteenth-century minds...was thoroughly outdated; that the country would be better off if the Constitution could be scrapped and rewritten..." House wrote a book entitled "Philip Dru: Administrator," published anonymously in 1912. The hero, Philip Dru, rules America and introduces radical changes, such as a graduated income tax, a central bank, and a "league of nations."
World War I produced both a large national debt, and huge profits for those who had backed Wilson. Baruch was appointed head of the War Industries Board, where he exercised dictatorial power over the national economy. He and the Rockefellers were reported to have earned over $200 million during the war. Wilson backer Cleveland Dodge sold munitions to the allies, while J.P. Morgan loaned them hundreds of millions, with the protection of U.S. entry into the war.
While profit was certainly a motive, the war was also useful to justify the notion of world government. William Hoar reveals in "Architects of Conspiracy" that during the 1950s, government investigators examining the records of the Carnegie Endowment for International Peace, a long- time promoter of globalism, found that several years before the outbreak of World War I, the Carnegie trustees were planning to involve the U.S. in a general war, to set the stage for world government.
The main obstacle was that Americans did not want any involvement in European wars. Some kind of incident, such as the explosion of the battleship Main, which provoked the Spanish - American war, would have to be provided as provocation. This occurred when the Lusitania, carrying 128 Americans on board, was sunk by a German submarine, and anti-German sentiment was aroused. When war was declared, U.S. propaganda portrayed all Germans as Huns and fanged serpents, and all Americans opposing the war as traitors.
What was not revealed at the time, however, was that the Lusitania was transporting war munitions to England, making it a legitimate target for the Germans. Even so, they had taken out large ads in the New York papers, asking that Americans not take passage on the ship.
The evidence seems to point to a deliberate plan to have the ship sunk by the Germans. Colin Simpson, author of "The Lusitania," wrote that Winston Churchill, head of the British Admiralty during the war, had ordered a report to predict the political impact if a passenger ship carrying Americans was sunk. German naval codes had been broken by the British, who knew approximately where all U-boats near the British Isles were located.
According to Simpson, Commander Joseph Kenworthy, of British Naval Intelligence, stated: "The Lusitania was deliberately sent at considerably reduced speed into an area where a U-boat was known to be waiting...escorts withdrawn." Thus, even though Wilson had been reelected in 1916 with the slogan "He kept us out of war," America soon found itself fighting a European war. Actually, Colonel House had already negotiated a secret agreement with England, committing the U.S. to the conflict. It seems the American public had little say in the matter.
With the end of the war and the Versailles Treaty, which required severe war reparations from Germany, the way was paved for a leader in Germany such as Hitler. Wilson brought to the Paris Peace Conference his famous "fourteen points," with point fourteen being a proposal for a "general association of nations," which was to be the first step towards the goal of One World Government-the League of Nations.
Wilson's official biographer, Ray Stannard Baker, revealed that the League was not Wilson's idea. "...not a single idea--in the Covenant of the League was original with the President." Colonel House was the author of the Covenant, and Wilson had merely rewritten it to conform to his own phraseology.
The League of Nations was established, but it, and the plan for world government eventually failed because the U.S. Senate would not ratify the Versailles Treaty.
Pat Robertson, in "The New World Order," states that Colonel House, along with other internationalists, realized that America would not join any scheme for world government without a change in public opinion.
After a series of meetings, it was decided that an "Institute of International Affairs", with two branches, in the United States and England, would be formed.
The British branch became known as the Royal Institute of International Affairs, with leadership provided by members of the Round Table. Begun in the late 1800's by Cecil Rhodes, the Round Table aimed to federate the English speaking peoples of the world, and bring it under their rule.
The Council on Foreign Relations was incorporated as the American branch in New York on July 29, 1921. Founding members included Colonel House, and "...such potentates of international banking as J.P. Morgan, John D. Rockefeller, Paul Warburg, Otto Kahn, and Jacob Schiff...the same clique which had engineered the establishment of the Federal Reserve System," according to Gary Allen in the October 1972 issue of "AMERICAN OPINION."
The founding president of the CFR was John W. Davis, J.P. Morgan's personal attorney, while the vice-president was Paul Cravath, also representing the Morgan interests. Professor Carroll Quigley characterized the CFR as "...a front group for J.P. Morgan and Company in association with the very small American Round Table Group." Over time Morgan influence was lost to the Rockefellers, who found that one world government fit their philosophy of business well. As John D. Rockefeller, Sr. had said: "Competition is a sin," and global monopoly fit their needs as they grew internationally.
Antony Sutton, a research fellow for the Hoover Institution for War, Revolution, and Peace at Stanford University, wrote of this philosophy: "While monopoly control of industries was once the objective of J.P. Morgan and J.D. Rockefeller, by the late nineteenth century the inner sanctums of Wall Street understood the most efficient way to gain an unchallenged monopoly was to 'go political' and make society go to work for the monopolists-- under the name of the public good and the public interest."
Frederick C. Howe revealed the strategy of using government in a 1906 book, "Confessions of a Monopolist": "These are the rules of big business...Get a monopoly; let society work for you; and remember that the best of all business is politics..."
As corporations went international, national monopolies could no longer protect their interests. What was needed was a one world system of government controlled from behind the scenes. This had been the plan since the time of Colonel House, and to implement it, it was necessary to weaken the U.S. politically and economically.
During the 1920's, America enjoyed a decade of prosperity, fueled by the easy availability of credit. Between 1923 and 1929 the Federal Reserve expanded the money supply by sixty-two percent. When the stock market crashed, many small investors were ruined, but not "insiders." In March of 1929 Paul Warburg issued a tip the Crash was coming, and the largest investors got out of the market, according to Allen and Abraham in "None Dare Call it Conspiracy."
With their fortunes intact, they were able to buy companies for a fraction of their worth. Shares that had sold for a dollar might now cost a nickel, and the buying power, and wealth, of the rich increased enormously.
Louis McFadden, Chairman of the House Banking Committee declared: "It was not accidental. It was a carefully contrived occurrence...The international bankers sought to bring about a condition of despair here so that they might emerge as rulers of us all."
Curtis Dall, son-in-law of FDR and a syndicate manager for Lehman Brothers, an investment firm, was on the N.Y. Stock Exchange floor the day of the crash. In "FDR: My Exploited Father-In-Law," he states: "...it was the calculated 'shearing' of the public by the World-Money powers triggered by the planned sudden shortage of call money in the New York Market."
The Crash paved the way for the man Wall Street had groomed for the presidency, FDR. Portrayed as a "man of the little people", the reality was that Roosevelt's family had been involved in New York banking since the eighteenth century.
Frederic Delano, FDR's uncle, served on the original Federal Reserve Board. FDR attended Groton and Harvard, and in the 1920's worked on Wall Street, sitting on the board of directors of eleven different corporations.
Dall wrote of his father-in-law: "...Most of his thoughts, his political 'ammunition,'...were carefully manufactured for him in advance by the CFR-One World Money group. Brilliantly... he exploded that prepared 'ammunition' in the middle of an unsuspecting target, the American people--and thus paid off and retained his internationalist political support."
Taking America off the gold standard in 1934, FDR opened the way to unrestrained money supply expansion, decades of inflation--and credit revenues for banks. Raising gold prices from $20 an ounce to $35, FDR and Treasury Secretary Henry Morgenthau, Jr. (son of a founding CFR member), gave international bankers huge profits.
FDR's most remembered program, the New Deal, could only be financed through heavy borrowing. In effect, those who had caused the Depression loaned America the money to recover from it. Then, through the National Recovery Administration, proposed by Bernard Baruch in 1930, they were put in charge of regulating the economy. FDR appointed Baruch disciple Hugh Johnson to run the NRA, assisted by CFR member Gerard Swope. With broad powers to regulate wages, prices, and working conditions, it was, as Herbert Hoover wrote in his memoirs: "...pure fascism;...merely a remaking of Mussolini's 'corporate state'..." The Supreme Court eventually ruled the NRA unconstitutional.
During the FDR years, the Council on Foreign Relations captured the political life of the U.S. Besides Treasury Secretary Morgenthau, other CFR members included Secretary of State Edward Stettinus, War Secretary Henry Stimson, and Assistant Secretary of State Sumner Welles.
Since 1934 almost every United States Secretary of State has been a CFR member; and ALL Secretaries of War or Defense, from Henry L. Stimson through Richard Cheney.
The CIA has been under CFR control almost continuously since its creation, starting with Allen Dulles, founding member of the CFR and brother of Secretary of State under President Eisenhower, John Foster Dulles. Allen Dulles had been at the Paris Peace Conference, joined the CFR in 1926, and later became its president.
John Foster Dulles had been one of Woodrow Wilson's young proteges at the Paris Peace Conference. A founding member of the CFR...he was an in-law of the Rockefellers, Chairman of the Board of the Rockefeller Foundation, and Board Chairman of the Carnegie Endowment for International Peace.
In 1940 FDR defeated internationalist Wendell Willkie, who wrote a book entitled "One World," and later became a CFR member. Congressman Usher Burdick protested at the time on the floor of the House that Willkie was being financed by J.P. Morgan and the New York utility bankers. Polls showed few Republicans favored him, yet the media portrayed him as THE Republican candidate.
Since that time nearly ALL presidential candidates have been CFR members. President Truman, who was not a member, was advised by a group of "wise men," all six of whom were CFR members, according to Gary Allen. In 1952 and 1956, CFR Adlai Stevenson challenged CFR Eisenhower.
In 1960, CFR Kennedy (who was probably killed because he had the courage NOT to go along with all their plans) CFR Nixon. In 1964 the GOP stunned the Establishment by nominating its candidate over Nelson Rockefeller.
Rockefeller and the CFR wing proceeded to picture Barry Goldwater as a dangerous radical. In 1968 CFR Nixon ran against CFR Humphrey. The 1972 "contest" featured CFR Nixon vs. CFR McGovern.
CFR candidates for president include George McGovern, Walter Mondale, Edmund Muskie, John Anderson, and Lloyd Bentsen. In 1976 we had Jimmy Carter, who is a member of the Trilateral Commission, created by David Rockefeller and CFR member Zbigniew Brzezinski with the goal of economic linkage between Japan, Europe, and the United States, and: "...managing the world economy...a smooth and peaceful evolution of the global system." We have also had (though his name strangely disappears from the membership list in 1979) CFR director (1977-79) George Bush, and last but not least, CFR member Bill Clinton.
They have all promoted the "New World Order," controlled by the United Nations. The problem is that "...the present United Nations organization is actually the creation of the CFR and is housed on land in Manhattan donated to it by the family of current CFR chairman David Rockefeller," as Pat Robertson describes it.
The original concept for the UN was the outcome of the Informal Agenda Group, formed in 1943 by Secretary of State Cordell Hull. All except Hull were CFR members, and Isaiah Bowman, a founding member of the CFR, originated the idea.
The American delegation to the San Francisco meeting that drafted the charter of the United Nations in 1949 included CFR members Nelson Rockefeller, John Foster Dulles, John McCloy, and CFR members who were communist agents--Harry Dexter White, Owen Lattimore, and the Secretary-General of the conference, Alger Hiss. In all, the Council sent forty-seven of its members in the United States delegation, effectively controlling the outcome.
Since that time the CFR and its friends in the mass media (largely controlled by CFR members such as Katherine Graham of the "Washington Post" and Henry Luce of" Time, Life"), foundations, and political groups have lobbied consistently to grant the United Nations more authority and power. Bush and the Gulf War were but one of the latest calls for a "New World Order."
Admiral Chester Ward, a member of the CFR for over a decade, became one of its harshest critics, revealing its inner workings in a 1975 book, "Kissinger ON THE COUCH." In it he states "The most powerful cliques in these elitist groups have one objective in common: they want to bring about the surrender of the sovereignty and national independence of the United States."
Most members are one-world-government ideologists whose long- term goals were officially summed up in September 1961 State Department Document 7277, adopted by the Nixon Administration: "...elimination of all armed forces and armaments except those needed to maintain internal order within states and to furnish the United Nations with peace forces...by the time it (UN global government) would be so strong no nation could challenge it."
Within the CFR there exists a "much smaller group but more powerful...made up of Wall Street international bankers and their key agents. Primarily, they want the world banking monopoly from whatever power ends up in control of the global government ...This CFR faction is headed by the Rockefeller brothers," according to Ward.
What must be remembered is that this is not some lunatic- fringe group...these are members of one of the most powerful private organizations in the world: the people who determine and control American economic, social, political, and military policy. Members' influence and control extends to "leaders in academia, public service, business, and the media," according to the CFR 1993 "Annual Report."
Their founding they describe as: "American Participants in the Paris Peace Conference decided that it was time for more private Americans to become familiar with the increasing responsibilities and obligations of the United States...there was a need for an organization able to provide for the continuous study of U.S. foreign police for the BENEFIT OF ITS MEMBERS (emphasis mine) and a wider audience of interested Americans."
They sponsor hundreds of programs, where members "exchange views with American and foreign officials and policy experts... discuss foreign policy issues...consider international issues of concern to the business community" (Corporate business), and "...affiliated groups of community leaders throughout the United states...meet with decision makers."
The CFR states that it is "host to many views, advocate of none," and it "has no affiliation with the U.S. government." No, no affiliation at all, if you don't count: "A Council member was elected president of the United States...Dozens of other Council colleagues were called to serve in cabinet and sub-cabinet positions," as they describe it in "Foreign Affairs," along with many members of Congress, the Supreme Court, the Joint Chiefs, the Federal Reserve, and many other Federal bureaucrats.
They are not AFFILIATED with government, they ARE the government, in effect.
One re-occurring view was stated in the 50th anniversary issue of "Foreign Affairs," the official publication of the CFR. In an article by Kingman Brewster, Jr. entitled "Reflections on Our National Purpose." Our purpose should be, according to him, to do away with our nationality, to "take some risks in order to invite others to pool their sovereignty with ours..."
These "risks" include disarming to the point where we would be helpless against the "peace-keeping" forces of a global UN government. We should happily surrender our sovereignty to the world government in the interests of the "world community."
Today we have the spectacle of Spc. 4 Michael New, a U.S. soldier in Germany who refuses to wear the uniform of the UN, facing an "administrative discharge." He states rightly that he swore an oath to defend the U.S. Constitution, not the United Nations. Many other Americans have taken that same oath, such as myself, and believe it is our sworn duty still to defend the Constitution, since an oath sworn before God must be fulfilled. (Why else do we swear to tell the truth in our courts, or when taking public office?) Is it a crime these days to actually BELIEVE in God and the oath that was taken?
Meanwhile, others who attempt to destroy the Constitution and our sovereignty are given honors and position...At least they are not hypocrites...only supremely arrogant.
"In short, the 'house of world order' will have to be built from the bottom up rather than from the top down...An end run around national sovereignty, eroding it piece by piece, will accomplish much more than the old fashioned assault..." in the opinion of Richard N. Gardner, former deputy assistant Secretary of State in "Foreign Affairs," April 1974.
James Warburg, son of CFR founder Paul Warburg, and a member of FDR's "brain trust," testified before the Senate Foreign Relations Committee on February 17, 1950, "We shall have world government whether or not you like it--by conquest or consent."
Is this an AMERICAN speaking, or a dangerous lunatic? Who is this "We" who threatens to CONQUER us?
They are a group that actually has the power to do it, and is doing it every day, bit by bit.
CFR Members in the mass media, education, and entertainment push their propaganda of "humanism" and world brotherhood. We should all live in peace under a world government, and forget about such selfish things as nationalities and patriotism. We can solve our own problems. We don't need God, or morals, or values: it's all relative, anyway, right?...Because if we actually had some moral character and values, we might be able to discern that these people are actually EVIL.
The Bible says that the LOVE of money is the root of all evil (1 Tim. 6:10). These people are evil because they love money and power, and greed drives them to do anything to achieve their goals. They have lost all morality and conscience, and believe such concepts, as well as our Constitution, "outdated".
THAT is insanity--to have more wealth than can be spent, and still it is never enough. They have to control governments, start wars, conspire to rule the world; least the "common people" wake up to how they have gained their wealth, take it away from them, and demand that they pay the price for their crimes.
That is why they constantly pit us one against the other, with "Diversity," Affirmative Action, and other programs,...black against white, men against women, rural against urban, ranchers against environmentalists, and on and on...least we look in their direction.
We The People are held to a much higher standard. If we threaten the President or a public official, we are charged with a crime...yet the One-World-Gang can threaten the Constitution and the liberties of We The People, the sovereign rulers of this nation, and nothing is said or done.
Perhaps they do not fear what Man can do to them... they believe they have arranged everything, and their power and wealth will prevail in this world. However, those among them who have sworn an oath before God to uphold and defend the Constitution: the President, members of Congress, and the military; may find one day that they do indeed have something to fear. 

List of CFR Members
Colonel House, the fallen angel, still has relatives controlling the CFR. Karen Elliot House is Chairman of the Membership Committee, and a member of the Nominating Committee, along with Jeane Kirkpatrick. David Rockefeller is now "Honorary Chairman of the Board", after serving as Chairman 1970-1985; and "Director Emeritus," after serving as a Director 1949-1985. Peter G. Peterson is Chairman, Admiral B. R. Inman is Vice Chairman, while Thomas Foley and Jeane Kirkpatrick are Directors serving on the Executive Committee.
These "private citizens" have access to government officials and policy makers as often as they wish, yet the results of their meetings can only be given to other government officials, corporate officers, or law partners. Participants are forbidden to transmit an attributed statement to any public medium, such as newspapers or TV, where there is "risk that it will promptly be widely circulated or published," as the "Annual Report" puts it.
Should not OUR public officials be forbidden to meet in secret with private groups? Public officials should only be allowed to discuss public business and policy in a public forum. The Public...remember US?
There is much more to say about this group and their plans for America. Gary Allen, in "The Rockefeller File," states that they are behind the many regional government plans, which would abolish city, county, and state lines, leaving us at the mercy of federal bureaucrats; and behind the push for "land use" controls. They want "federal control of everything. Since they intend to control the federal government..."
There are also the many allegations of involvement in gun running, drug smuggling, prostitution and sex slaves; and the many mysterious assassinations and "suicides" of witnesses and others who get too close to the truth...but that is another story.

References

This document may be freely distributed or quoted in any medium.