Kamis, 18 Februari 2016

Inilah Cara Kerja Teknologi Canggih Pesawat Siluman yang Mematikan

Discussion in 'Iptek' started by dedibro, Yesterday at 1:48 PM
http://forum.viva.co.id/indeks/threads/inilah-cara-kerja-teknologi-canggih-pesawat-siluman-yang-mematikan.1968720/
 
  1. dedibro

    dedibro Member

    [​IMG]
    ‘Stealth’ adalah kata kunci ketika kita berbicara tentang senjata tempur modern seperti, bomber, kapal perang atau kapal selam. Atas nama “stealth”, militer dis eluruh dunia menghabiskan miliaran dollar dalam usaha mengembangkan atau ‘memperoleh’ teknologi siluman.

    Tapi seperti halnya dengan ilmu pengetahuan, kata ‘stealth disalahpahami oleh masyarakat umum. Hal ini dilihat seolah sebagai seperti sihir yang membuat berbagai hal tidak terlihat dan tak terkalahkan. Pada artikel ini, akan kita jelaskan dari sisi prinsip-prinsip rekayasa fisika di balik teknologi siluman dan akan mencoba yang terbaik untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang bagaimana teknologi yang kompleks ini bekerja.

    Prinsip Radar
    [​IMG]
    Untuk memahami teknologi siluman, kita perlu tahu tentang prinsip kerja dasar dari radar. Sebuah radar mengirimkan gelombang elektromagnetik, yang memantul ketika menabrak sebuah objek. Sinyal ini diproses untuk menentukan posisi yang tepat, ukuran dan arah sasaran. Radar akhirnya merusak unsur kejutan yang sangat menentukan dalam peperangan.

    Hal ini terlihat jelas pada Perang Dunia II ketika radar Inggris menggagalkan serangan kejutan yang direncanakn oleh Luftwaffe dengan mendeteksi bomber beberapa menit sebelum tiba dan dan mengarahkan para jet tempur untuk mencegat mereka. Radar juga memainkan bagian besar dalam perang dingin dengan pengembangan radar baru baik di Barat maupun Timur. Kedua belah pihak bekerja pada teknologi siluman, tapi Amerika yang kemudian membawanya ke tingkat berikutnya dan membuatnya operasional.

    Radar Cross Section (RCS)

    Konsep Radar Cross Section (RCS) memainkan peran besar di sini. RCS adalah ukuran seberapa besar sebuah objek muncul di layar radar. Lebih besar RCS dari suatu objek, semakin besar muncul di layar radar dan sebaliknya. B-2 dan F-22 memiliki RCS lebih rendah dari 0,0001 m2. Ini berarti bahwa mereka terlalu kecil untuk muncul di layar radar besar yang sedang digunakan. Gambar di bawah memberikan gambaran umum tentang RCS dari benda-benda umum dan pesawat militer berteknologi tinggi.


    [​IMG]
    [​IMG]

    Prinsip Teknologi Stealth

    Anda melihat kupu-kupu terbang 10 meter dari Anda, Anda tidak akan kesulitan melihat atau melacak gerakannya menggunakan mata Anda. Sekarang jika ada lalat pada jarak itu, tidak mungkin secara visual mendeteksinya karena mata manusia tidak dapat menangkap benda kecil sebaik ketika dia melihat barang besar. Ini rumus paling sederhana kan?

    Sekarang jika lalat ada 1 m dari Anda, Anda dapat mendeteksi secara visual tetapi Anda masih akan memiliki kesulitan melacak dan mendapatkan kunci visual pada lalat itu karena sangat kecil. Membunuh lalat itu akan sangat sulit karena ukurannya yang kecil. Jadi kita menggunakan telinga kita untuk mendeteksi suara mendengung yang dibuat oleh lalat untuk menentukan perkiraan lokasi dan kemudian visual isyarat di dalamnya. Tapi kemungkinan lalat akan menghilang pada saat kita mendeteksi lokasi yang tepat. Nah begitulah teknologi siluman bekerja.

    Mari masukkan teori sederhana itu ke teknologi pesawat. Kupu-kupu pada jarak 10 m dapat dibandingkan dengan pesawat konvensional yang muncul sebagai titik besar pada layar radar. Sementara lalat adalah pesawat siluman yang sulit dideteksi apalagi ditargetkan untuk dibunuh.

    Pada saat beberapa radar, sensor IR, sensor optik digabungkan untuk mendapatkan kunci pada target, pesawat siluman telah akan menyelesaikan misinya dan telah terbang pulang. Dari hal ini ini kita bisa belajar bahwa teknologi siluman bukan berarti membuat sebuah pesawat tak terlihat untuk radar tetapi sebatas melakuakn penundaan deteksi pesawat musuh akhirnya terlambat untuk bereaksi. Jadi sebenarnya istilah yang paling tepat untuk pesawat siluman adalah pesawat ‘low-observable’ atau sulit diamati.

    Teknologi siluman bekerja pada prinsip menghilangkan refleksi radar. Hal ini dapat dilakukan dengan baik dengan:

    • Absorbing radio waves (RAM coatings) atau menyerap gelombang radar
    • Deflecting radio waves (Shaping of the surfaces) atau membelokkan gelombang radar
    [​IMG]
    Gelombang radio adalah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi bervariasi. Metode pembelokan dan penyerapan gelombang EM saling melengkapi dalam rangka menciptakan pesawat / kapal siluman. Penting untuk dicatat bahwa metode ini mengurangi RCS objek sedemikian rupa hingga tidak tampil di kebanyakan layar radar. Mereka bukannya tidak terlihat, tapi sangat sulit untuk dideteksi dan umumnya terdeteksi pada jarak 10-20 km dengan radar ultra-modern. Bayangkan saja untuk pesawat konvensional mereka bisa terdeteksi pada jarak 150-300 km. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan unsur kejutan yang sangat menentukan dalam konflik. Jarak 20 km bagi sebuah pesawat tempur adalah sangat pendek dan singkat. Tidak ada yang akan siap secepat itu untuk melakukan penanggulangan.

    Menyerap Gelombang Radio

    Radar Absorbent Material (RAM) memerlukan bahan pelapis radar yang dapat menyerap gelombang elektromagnetik pada objek. Amerika telah menjadi pelopor dalam teknologi ini pada 40 tahun terakhir. Bahan khusus ini dirancang dari bahan dielektrik, komposit yang menyerap gelombang radio yang menimpa mereka. Komposisi materinya tentu masih menjadi sangat rahasia yang dijaga ketat oleh Angkatan Udara AS dan mulai digunakan pada pelapisan di SR-71 di tahun 1970-an.

    [​IMG]

    Meskipun lapisan RAM merupakan teknologi lama yang telah muncul 45 tahun tetapi belum semua bisa mendapatkannya. Dengan lapisan ini gelombang radio yang menerpa cat akan diserap melalui beberapa diffusions. Penyerapan ini disebabkan oleh konversi energi radar menjadi panas yang hilang dari permukaan pesawat. Ini adalah salah satu cara rahasia tentang bagaimana bahan-bahan ini bekerja.

    [​IMG]

    Untuk memaksimalkan penyerapan gelombang radio, cat memiliki struktur piramida mikroskopis dalam beberapa kasus. Bentuk piramida dipotong pada sudut yang memaksimalkan jumlah bounce gelombang membuat dalam struktur. Dengan setiap bouncing, gelombang radio kehilangan energi karena menerpa bahan busa dan dengan demikian keluar dengan kekuatan sinyal yang lebih rendah. peredam busa lainnya tersedia dalam lembaran datar, menggunakan gradien peningkatan beban karbon di lapisan yang berbeda.

    Membelokkan Gelombang Radio
    [​IMG]
    Untuk bisa melakukan ini maka objek dirancang sedemikian rupa sehingga gelombang tadi bukannya dipantulkan kembali di jalan jalan yang sama saat dia datang tetapi dibelokkan dan tersebar di arah yang berbeda. Kita harus ingat rumus gelombang yang menyebutkan sudut datang sama dengan sudut pantul. Dan hukum ini yang dilabrak untuk menghindari deteksi radar. Gelombang yang datang dipantulkan ke arah yang jauh dari arah radar yang memancarkan gelombang tersebut. Karena harus diingat, radar bekerja dari gelombang yang dipantulkan objek yang dia deteksi.

    [​IMG]

    Permukaan miring ekstrem pada pesawat seperti F-117 dan kapal perang siluman. Mereka memiliki permukaan miring yang dikombinasikan dengan permukaan melengkung yang terlihat pada pesawat seperti B-2, F-22 dan pesawat lain. Hal ini membantu untuk mencapai observability rendah tingkat tinggi.

    Untuk mendapatkan siluman yang mendekati sempurna, menggunakan bahan penyerap logam dan desain yang mampu membelokkan gelombang menjadi kunci penting. Dan ini tidak mudah. Bahkan harus melalui penelitian dan pengembangan yang lama, mahal dan tidak jarang gagal.
     
  2. dedibro

    dedibro Member

    Kapal Siluman
    [​IMG]
    Kesalahpahaman juga menyebar kapal perang siluman yang juga menggangap kapal laut tidak tidak terlihat radar dan siluman seperti halnya pesawat siluman. Kapal siluman sebenarnya sangat terlihat di radar. Tetapi perbedaannya adalah bahwa jika dalam kondisi normal kapal perang dengan bobot 5.000 ton akan memiliki RCS 1000 m² akan terdeteksi pada pada 100 km. Bandingkan dengan desain kapal perang siluman dengan bobot yang sama memiliki 200 RCS m² dan akan terdeteksi pada jarak yang sama, tetapi akan muncul dengan blip jauh lebih kecil di radar. Mereka akan mirip dengan kapal 1000 ton yang membingungkan musuh dalam kekacauan radar yang mendeteksi ratusan kapal di layar.

    Sebuah kapal 1.000 ton 100 RCS m² dengan fitur siluman bisa muncul seperti sebuah kapal dagang seberat 250 ton di radar dan musuh tidak akan tahu perbedaan antara kapal perang tersebut dan kapal dagang kecil. Kapal siluman dibangun terutama untuk terlihat lebih kecil dan berbaur dengan kapal dan perahu lain.

    Sebuah 10.000 ton perusak 2000 RCS m² akan menjadi target utama untuk musuh dalam konflik jika berlayar di antara armada kapal perang yang secara signifikan lebih kecil. Tetapi jika 10.000 ton kapal ini menggunakan desain siluman seperti Zumwalt, dapat muncul sebagai besar sebagai 5000 ton kapal perang dari radar musuh dan mereka tidak akan dapat memilih target yang berharga. Korvet kelas Visby dari angkatan laut Swedia adalah operasional pertama kapal perang siluman di dunia. Ini adalah kapal 640 ton tetapi akan muncul sebagai kecil sebagai kecil 20 ton perahu di radar musuh. Hal ini memungkinkan untuk bersembunyi di antara perahu nelayan dan menyelinap untuk meluncurkan serangan diam-diam.

    Kelemahan

    Saat ini, setiap teknologi memiliki kontra-tech memiliki. Sekarang pesawat siluman terlihat hanya muncul pada jarak tertentu dari frekuensi radar.

    Sistem radar modern menggunakan L-Band yang dikatakan mampu mendeteksi pesawat siluman. Pesawat siluman harus menyembunyikan diri dari deteksi inframerah dan bukan hanya radar mereka untuk mencegah deteksi dari musuh.

    Sistem modern seperti Infrared Search & Track akan dapat mendeteksi pesawat siluman dari jauh dengan mendeteksi tanda IR mereka. Jadi hanya dengan menggunakan cat penyerap gelombang, Anda tidak dapat menyembunyikan sebuah pesawat dari langit.
    [​IMG]
    Pesawat siluman terlihat ketika mereka membuka pintu senjata teluk mereka untuk melepaskan senjata mereka. Saat membuka pintu senjata teluk akan sangat meningkatkan RCS. Salah satu kelemahan terbesar adalah biaya produksi, operasional dan pemeliharaannya sangat tinggi. Selain bahan penyerap radar sangat rapuh dan perlu diganti setelah operasi intensitas tinggi atau cuaca yang keras.


    http://itats.ac.id/mengenal-cara-kerja-teknologi-canggih-pesawat-siluman/

    02 Aug

    • By arwan
    • In Tekno
    • Comments Off
    Kemajuan zaman membuat teknologi dirgantara semakin pesat perkembangannya, pada saat ini ada tiga kubu kuat di dunia dengan teknologi pesawatnya yang sangat maju.


    Yang pertama tentunya Amerika serikat, kedua adalah Eropa dan yang terakhir adalah Russia. Ketiganya berlomba membuat pesawat tempur dengan teknologi yang lebih maju dari yang lainnya.
    Untuk urusan stealth yang memimpin tetap Amerika serikat, sedangkan Russia tak bisa diangap enteng dengan kelebihan-kelebihan manuvernya.
    Meskipun Amerika juga telah mengembangkan teknologi manuver yang tak kalah gesitnya dengan Russia seperti penerapan Thrust Vectoring, yang mana “knalpot” pesawat bisa berbelok-belok ke segala arah.tapi diantara semua teknologi tersebut yang akan dibahas disini adalah mengenai bagaimana pesawat mendapat julukan Stealth (indonesia: Siluman, bisa menghilang).
    Pesawat Siluman Buatan Rusia
    Ada beberapa pesawat mutakhir milik Amerika yang masuk kategori ini, yaitu pesawat F-117, F-22, JSF F-35, dan B-2.
    Untuk urusan Stealth sendiri bisa di akali pihak pabrikan dengan membuat design pesawat yang minus lekukan yang fungsinya adalah memperkecil sudut-sudut tajam yang bisa ditangkap oleh radar dan muncul pada RCS (radar cross section).
    Selain itu ada pula pesawat-pesawat yang sudah agak uzur seperti F/A-18 Hornet (walaupun tidak benar-benar uzur karena telah mengalami upgrade lebih dari 30 persen) yang melapisi beberapa bagian pada pesawat nya dengan lapisan anti radar seperti pada ujung-ujung sayap utama dan bagian ruder nya.
    Cara Kerja Pesawat yang Menggunakan Sistem Stealth (siluman)


    Pada gambar diatas Sebuah pesawat F-117 dapat menghindari radar karena pada desain pesawat tersebut memiliki minus lekukan sehingga radar yang datang dari musuh akan di pantulkan sehingga yang muncul pada monitor RCS musuh hanyalah dot-dot (titik-titik) yang sangat kecil yang bisa dianggap sebagai gerombolan burung dan bukanlah pesawat yang sedang menyelinap.

     Mirip cara kerja Burung Walet
    Pesawat tanpa sistem stealth (siluman)

    Gambar kedua ini adalah sebuah F-15 Eagle yang dalam desainnya banyak memiliki lekukan-lekukan tajam pada body nya sehingga dapat di tangkap oleh radar dengan baik dan muncul dalam monitor RCS sebagai dot-dot pesawat tempur yang menyusup.
    Mungkin seperti itulah gambaran mudahnya mengapa sebuah pesawat bisa lolos dari monitor pengawas musuh, namun begitu, pesawat F-117 ternyata memiliki kelemahan juga, pada saat konflik Yugoslavia, pesawat ini tertangkap radar dan tertembak jatuh oleh misil SA-3 SAM buatan Russia.
    Ternyata jatuhnya pesawat itu pada saat bom bay nya (pintu bom) dalam keadaan terbuka sehingga mungkin sudut-sudut tajam itulah yang tertangkap oleh radar kemudian di seranglah dengan misil darat ke udara tersebut (surface to air missile).
    Kesimpulannya, akan perlu penyempurnaan pada setiap generasi pesawat tempur, dengan penyempurnaan tersebutlah pihak suatu negara memperkecil jumlah korban jiwa yang berjatuhan.
    Pesawat Siluman Buatan Amerika



    Untuk mencapai ‘stealth’ ada 3 metode yang saat ini dikenal :
    1. Rekayasa bentuk (shape) seperti bentuk pada F117.
    2. Rekayasa material (Radar Absorbant Material) seperti pada U2 (generasi awal).
    3. Rekayasa teknologi lainnya : plasma stealth, efek pertama kali muncul di satelit sputnik Rusia, namun untuk pesawat sepertinya masih dirahasiakan.
    Namun, ultimate goal nya stealth yang ingin dicapai selain tak tampak di radar, juga kasat mata (seperti bunglon) dan saat ini juga sedang dalam penelitian.
    Kalau tidak salah pernah muncul di acara TV National Geographic tentang hal ini, menggunakan teknologi laser dan rekayasa material untuk membelokkan cahaya yang seharusnya dipantulkan sehingga objek dibelakang benda menjadi tidak tampak (benda jadi transparan).
    Seiring dengan waktu, teknologi radar pun berkembang untuk dapat mendeteksi pesawat stealth, antara lain radar ‘radio’, akustik, radar infra merah, radar thermal (panas), radar cuaca (setidaknya bisa mendeteksi tubulensi udara ketika pesawat melintas).

    Benarkah Su-27 Rusia Lampaui Pesawat Siluman Terbaru AS?

    http://indonesia.rbth.com/technology/2015/09/14/pakar-amerika-akui-su-27-rusia-bukan-tandingan-pesawat-siluman-terbaru-as_396731

    Lembaga National Security Network (NSN) yang berbasis di AS merilis laporan yang mengonfirmasi bahwa pesawat tempur siluman F-35 bukan tandingan pesawat Rusia seri Su-27, atau bahkan seri yang lebih lama, MiG-29.
    Saat ini Indonesia memiliki 16 pesawat tempur Su-27SK/SKM dan Su-30 MK/MK2. Hingga 2024, akan ada delapan skuadron yang berisi 16 unit pesawat tipe “Su” per skuadronnya. Kemungkinan skuadron tersebut akan diisi oleh pesawat unggulan saat ini, yakni Su-35. Foto: Sukhoi.org
     
    Saat ini Indonesia memiliki 16 pesawat tempur Su-27SK/SKM dan Su-30 MK/MK2. Hingga 2024, akan ada delapan skuadron yang berisi 16 unit pesawat tipe “Su” per skuadronnya. Kemungkinan skuadron tersebut akan diisi oleh pesawat unggulan saat ini, yakni Su-35. Sumber: Sukhoi.org
    Pesawat siluman Amerika F-35 Lightning II mungkin hanya akan menjadi sasaran empuk pesawat Sukhoi Rusia, demikian disampaikan laporan yang diliris Agustus lalu oleh National Security Network (NSN) yang berbasis di AS.
    Dalam laporan ‘Thunder without Lightning: The High Costs and Limited Benefits of the F-35 Program’ (Guntur Tanpa Petir: Biaya Mahal dan dan Keuntungan Terbatas Program F-35), analis kebijakan Bill French dan peneliti Daniel Edgren menyebutkan F-35 sepertinya akan dengan mudah ‘dikalahkan’ dan ‘ditaklukan’ oleh ‘teman sebayanya’ seperti jet tempur Rusia seri Su-27 Flanker.
    Laporan tersebut mendukung pernyataan sejumlah pakar aviasi independen yang menyebutkan bahwa F-35 adalah pesawat yang benar-benar tak berguna, yang akan menjadi sasaran empuk pesawat musuh dalam pertempuran udara.
    “Karakteristik kinerja F-35 sungguh buruk dibanding pesawat tempur generasi keempat dari negara lain seperti pesawat Rusia MiG-29 Fulcrum dan Su-27 Flanker misalnya,” terang laporan tersebut.
    “Kedua pesawat itu merupakan musuh potensial F-35 dalam pertempuran udara. Dibanding Su-27 dan MiG-29, F-35 sangat inferior dalam beberapa hal, termasuk percepatan transonik. F-35 juga sangat lambat, hanya bisa mencapai kecepatan maksimum Mach 1,6 cukup jauh dibanding Su-27 (Mach 2,2) dan MiG-29 (Mach 2,3).
    Simulasi pertempuran udara telah menunjukan hal tersebut. “Pada 2009, Angkatan Udara AS dan analis Lockheed Martin mengindikasikan bahwa kemampuan F-35 dalam mengalahkan musuh seperti MiG-29 yang sudah tua dan Su-27 ialah tiga banding satu.”
    Hasil simulasi bahkan jauh lebih buruk. “Dalam satu simulasi yang dilakukan oleh RAND Corporation, F-35 memiliki rasio kekalahan 2,4 banding 1 berhadapan dengan pesawat AU Tiongkok SU-35s. Ini berarti, setiap Su-35 dapat mengalahkan lebih dari dua pesawat F-35.”
    "Meski simulasi ini memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk asumsi lokasi pertempuran, mereka tetap menggarisbawahi bahwa kemampuan udara-ke-udara F-35 perlu disikapi dengan skeptis."

    Pertempuran Udara Jarak Jauh atau Dekat?
    Laporan tersebut sesuai dengan filosofi pertempuran udara Rusia: pilot lebih suka melakukan pertempuran jarak dekat dibanding bergantung pada kemampuan jangkauan visual jarak jauh (beyond visual range/BVR) misil udara-ke-udara. “Untuk sukses dalam pertempuran udara, F-35 harus bisa mengalahkan musuh yang berada di jarak pandang (within-visual-range/WVR) seperti pertempuran udara jarak dekat,” kata laporan tersebut. Namun, F-35 tak terlalu andal melawan pesawat musuh dalam pertempuran jarak dekat, karena pertempuran tersebut membutuhkan kelincahan dan manuver.
    Uji coba telah menunjukan buruknya kemampuan manuver pesawat tempur ini dibanding pesawat tempur generasi keempat milik Amerika yang akan ia gantikan, seprti F-16, F-15, dan F-18. “Data yang tersedia mengindikasikan kemampuan manuver F-35 jauh lebih rendah dibanding pesawat tempur asing. F-35 didesain untuk bertempur jarak jauh, sehingga kemampuan manuvernya seharusnya tak terlalu signifikan, namun sejarah menunjukan pertempuran udara selalu berlangsung di jarak dekat. Di luar preferensi perancang F-35 untuk pertempuran jarak jauh, menghindari pertempuran jarak dekat terbukti sulit.”
    Militer India menyimpulkan hal tersebut setelah menjalankan latihan tempur udara dengan pilot AU Inggris di Waddington pada 2007.
    Pilot Barat yang tak mengasah kemampuan tempur mereka akan mendapat kejutan tak menyenangkan saat berhadapan dengan pilot andal dari AU Rusia, India, atau Tiongkok.

    Misil yang Hilang
    Menurut French dan Edgren, rencana Amerika untuk menggunakan F-35 sebagai platform tempur jarak jauh – yang dilengkapi misil BVR – bukan rencana yang baik, karena misil udara-ke-udara AS tak punya catatan baik dalam berperang. “Di masa Perang Dingin, persentase keberhasilan rudal jejalah memusnahkan musuh pada pertempuran jarak jauh ialah 6,6%. Persentase tertinggi diraih oleh Israel pada 1982 dalam Perang Lebanon, kesuksesan mereka mencapai 20%. Di era pasca-Perang Dingin, efektivitas misil BVR mengalami peningkatan. Sepanjang 2008, efektivitas rudal jelajah AS meningkat menjadi 46%, dengan menggunakan AIM-120AMRAAM (markas misil BVR AS). Namun, angka ini didapat dari sampel yang kecil, yakni hanya enam pertempuran”.
    Laporan tersebut mengingatkan, AS tak bisa berharap angka tersebut akan meningkat saat menghadapi konflik melawan ‘kompetitor sebaya’ yang diperkirakan termasuk Rusia, Tiongkok, dan India, serta negara-negara yang memiliki pesawat tempur canggih Rusia. “Menurut analisis RAND, jejak rekam AIM-120 AS menunjukan mereka tak pernah berhasil menaklukan musuh yang memiliki rudal BVR yang sama; pilot yang jatuh tidak bisa melakukan perlawanan, dalam beberapa kasus mereka harus melarikan diri, tanpa manuver, atau dalam kondisi tak punya radar."
    Kondisi tersebut menunjukan AS tak bisa berharap mereka bisa lebih mudah menang melawan musuh yang tangguh dalam pertempuran jarak jauh. "Serangan elektronik jelas merupakan ancaman, menurunkan potensi pesawat AS menghancurkan musuh seperti pesawat tempur Rusia dan Tiongkok, yang saat ini memiliki teknik serangan elektronik balasan menggunakan gangguan memori frekuensi radio digital (digital radio frequency memory/DRFM). Serangan tersebut yang dikabarkan benar-benar menghambat efektivitas rudal jelajah.
    “Kami, AS, belum memiliki metode yang cukup untuk melawan serangan elektronik selama bertahun-tahun,” demikian disampaikan pejabat senior di AU AS yang berpengalaman mengendalikan F-22 (pesawat tempur siluman AS yang paling mahal), pada The Daily Beast“Jadi, meski kita memiliki kemampuan siluman, kita masih kesulitan mencari cara untuk melakukan serangan elektronik terhadap target seperti Rusia dan misil kami kesulitan mengalahkan mereka.”
    Gangguan DRFM yang dimiliki pesawat Rusia dan Tiongkok dilaporkan ‘efektif mengingat sinyal radar yang masuk dan mengulangnya ke pengirim, menghambat kinerja radar secara serius. Lebih buruk lagi, gangguan tersebut bisa membutakan radar kecil yang dimiliki misil udara-ke-udara seperti Raytheon AIM-120 AMRAAM, yang merupakan senjata jarak jauh utama untuk semua pesawat tempur AS dan sebagian besar sekutu.’

    Akhir Permainan
    Laporan itu menyimpulkan, “Meski rencana F-35 menggantikan sebagian besar pesawat tempur dan serang Amerika, platform ini terlalu mahal untuk melawan militer asing yang setara dengannya. Pesawat ini memiliki kekurangan dalam kemampuan manuver, besar muatan, kemampuan melakukan serangan mendadak, serta jangkauan untuk berkompetisi secara efektif dengan kompetitornya, padahal biaya operasional yang harus dikeluarkan sepanjang hidupnya mencapai 1,4 triliun dolar AS. 

    “Kemampuan bertahan pesawat sangat bergantung pada karakteristik siluman, namun hal itu berisiko karena dalam 50 tahun mendatang musuh akan meningkatkan sistem radar dan deteksi infra merah mereka, dan F-35 akan menjadi pesawat usang. Melihat faktor-faktor kegagalan yang sangat mendasar pada program F-35, dan mengingat harganya sangat mahal, pesawat ini merupakan sebuah investasi yang buruk. Realisasi program pembelian sekitar 2.500 unit pesawat – atau skala besar yang mendekati jumlah tersebut – harus dihindari.”
     
    Penemuan lembaga tersebut meramalkan implikasi serius bagi pertahanan Amerika.  

    “Dengan tetap mempertahankan program F35, Amerika menginvestasikan sumber dayanya untuk pesawat yang salah, di saat yang salah, untuk alasan yang salah,” terang laporan tersebut.

    Jika AS tetap melanjutkan produksi skala penuh, yang dijadwalkan pada 2019, F-35 akan menjadi penemuan besar paling tak berguna dalam sejarah militer, membuat AS dan sekutu harus menghadapi berbagai risiko dan posisi berbahaya.
     
    Spetsnaz: Pasukan Khusus Rusia
     
     

    Mampu Produksi Pesawat Generasi Terbaru, Mengapa Tiongkok Membeli Su-35?

    Mampu Produksi Pesawat Generasi Terbaru, Mengapa Tiongkok Membeli Su-35?

    17 Februari 2016 Vasiliy Kashin
     http://indonesia.rbth.com/technology/2016/02/17/mampu-produksi-pesawat-generasi-terbaru-mengapa-tiongkok-membeli-su-35_568655
    Pembelian 24 unit pesawat tempur Su-35 milik Rusia oleh Tiongkok bernilai sekitar dua miliar dolar AS. Jumlah ini merupakan transaksi terbesar kedua dalam penjualan senjata Rusia ke Tiongkok setelah krisis terjadi.
    Su-35
    Bagi Rusia, penandatanganan kontrak ini adalah suatu pencapaian besar. Sumber: Zuma/TASS
    Tahun lalu, kontrak pemasokan empat divisi sistem rudal antipesawat S-400 telah ditandatangani dengan jumlah tidak kurang dari 1,9 miliar dolar AS. Sementara, tak ada satu pun dari kontrak tersebut yang dianggap sebagai akibat dari krisis Ukraina. Negosiasi ini telah dimulai pada 2010 – 2011, dan pada 2014 lalu, banyak isu yang telah diselesaikan.
    Pengiriman peralatan militer dapat dimulai pada tahun 2016, sedangkan transfer utama tampaknya akan dilaksanakan pada 2017 – 2018. Sebelum penandatanganan kontrak pesawat tempur Su-35, tingkat kerja sama teknis militer antara Rusia dan Tiongkok kurang berkembang pesat — volume transaksi antara keduanya hanya bernilai sebesar 1,5 – 2 miliar dolar AS. Saat ini, kedua pihak berharap kerja sama Rusia-Tiongkok akan kembali seperti pada zaman keemasan di akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, pada 2002, transaksi tahunan antara Rusia dan Tiongkok mencapai 2,7 miliar dolar AS.

    Kepentingan Rusia

    Bagi Rusia, penandatanganan kontrak ini adalah suatu pencapaian besar. Pertama, dapat dikatakan bahwa Tiongkok merupakan pembeli produk militer dan teknologi milik Rusia yang sangat penting.
    Kedua, setelah mengalami dua kali devaluasi rubel pada akhir 2014, ekspor senjata yang hampir seluruhnya dibuat menggunakan komponen dan bahan dari Rusia, menjadi jauh lebih menguntungkan. Jika dibandingkan dengan 98 unit pesawat tempur Su-35 yang dipesan oleh Angkatan Udara Rusia sebagai bagian dari dua kontrak di tahun 2009 dan 2015, pesanan Tiongkok yang sebanyak 24 unit pesawat memang tidak terlihat begitu besar. Namun demikian, hal tersebut secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan finansial perusahaan aviasi gabungan dan perusahaan pembuat Komsomolsk-na-Amure Aircraft Production Association (KNAAPO).
    Dengan begitu, keberhasilan pengiriman pesawat untuk pembeli seperti Tiongkok akan meningkatkan peluang pesawat buatan Rusia di pasar luar negeri. Indonesia diharapkan akan menjadi pembeli Su-35 berikutnya.
    Selain itu, atas pembelian 24 unit Su-35, Rusia dapat menawarkan kontrak unit atau komponen untuk pesawat tempur Tiongkok yang baru, serta transfer teknologi dan mengadakan penelitian dan pengembangan untuk Tiongkok.

    Kepentingan Tiongkok

    Kepentingan Tiongkok dalam pasokan kali ini memang tidak terlihat jelas. Tiongkok telah membuktikan kemampuannya untuk mandiri dengan mengembangkan dan memproduksi sendiri pesawat generasi 4++, dan saat ini Negeri Tirai Bambu tersebut pun sedang mengembangkan dua jenis pesawat tempur generasi kelima, J-20 dan J-31.
    Pemasokan pesawat tempur dari luar negeri menyebabkan reaksi para nasionalis dari kalangan masyarakat Tiongkok. Bersamaan dengan pemasokan Su-35, Rusia tidak melakukan transfer teknologi yang esensial kepada Tiongkok. Dua puluh empat unit pesawat tempur adalah jumlah yang cukup hanya untuk pasukan di dalam satu resimen. Apa pun kemampuan tempur Tiongkok, pesawat ini tidak berpengaruh secara serius pada potensi keseluruhan dari Angkatan Udara Tiongkok.
    Pembelian pesawat dengan tujuan meniru merupakan penjelasan populer yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Perbedaan utama antara Su-35 dari jenis pesawat Su kelas berat pendahulunya, yaitu terkait dengan mesin dan avioniknya, termasuk radar stasiun “Irbis”. Sistem ini tidak dapat ditiru dalam waktu singkat dengan mengambil contoh siap pakai.
    Kasus produksi Su-27SK tanpa lisensi oleh Tiongkok di tahun 2000-an juga tidak akan terulang. Saat itu, Tiongkok melakukan pekerjaan mereka berdasarkan teknologi yang pernah dikirim oleh Rusia dalam rangka perjanjian lisensi pada 1996. Sementara, berbagai dokumen lainnya yang kurang dapat dengan mudah diperoleh dengan membelinya dari perusahaan perbaikan pesawat Ukraina yang memperbaiki Su-27 pada era Soviet.
    Meskipun jumlahnya tak besar, Su-35 milik Tiongkok dapat memiliki beberapa efek pada keseimbangan kekuasaan di beberapa titik panas yang potensial, seperti Taiwan. Radar “Irbis” memiliki kemampuan mendeteksi target udara jarak jauh hingga 400 kilometer. Hal ini memungkinkan Beijing untuk dapat melihat semua wilayah udara di Taiwan dari daerah patroli di atas daratan Tiongkok.
    Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Carnegie.

     

    17 Februari 2016 Vasiliy Kashin
    http://indonesia.rbth.com/technology/2016/02/17/mampu-produksi-pesawat-generasi-terbaru-mengapa-tiongkok-membeli-su-35_568655 
    Pembelian 24 unit pesawat tempur Su-35 milik Rusia oleh Tiongkok bernilai sekitar dua miliar dolar AS. Jumlah ini merupakan transaksi terbesar kedua dalam penjualan senjata Rusia ke Tiongkok setelah krisis terjadi.
    Su-35
     
    Bagi Rusia, penandatanganan kontrak ini adalah suatu pencapaian besar. Sumber: Zuma/TASS
    Tahun lalu, kontrak pemasokan empat divisi sistem rudal antipesawat S-400 telah ditandatangani dengan jumlah tidak kurang dari 1,9 miliar dolar AS. Sementara, tak ada satu pun dari kontrak tersebut yang dianggap sebagai akibat dari krisis Ukraina. Negosiasi ini telah dimulai pada 2010 – 2011, dan pada 2014 lalu, banyak isu yang telah diselesaikan.
    Pengiriman peralatan militer dapat dimulai pada tahun 2016, sedangkan transfer utama tampaknya akan dilaksanakan pada 2017 – 2018. Sebelum penandatanganan kontrak pesawat tempur Su-35, tingkat kerja sama teknis militer antara Rusia dan Tiongkok kurang berkembang pesat — volume transaksi antara keduanya hanya bernilai sebesar 1,5 – 2 miliar dolar AS. Saat ini, kedua pihak berharap kerja sama Rusia-Tiongkok akan kembali seperti pada zaman keemasan di akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Saat itu, pada 2002, transaksi tahunan antara Rusia dan Tiongkok mencapai 2,7 miliar dolar AS.

    Kepentingan Rusia

    Bagi Rusia, penandatanganan kontrak ini adalah suatu pencapaian besar. Pertama, dapat dikatakan bahwa Tiongkok merupakan pembeli produk militer dan teknologi milik Rusia yang sangat penting.
    Kedua, setelah mengalami dua kali devaluasi rubel pada akhir 2014, ekspor senjata yang hampir seluruhnya dibuat menggunakan komponen dan bahan dari Rusia, menjadi jauh lebih menguntungkan. Jika dibandingkan dengan 98 unit pesawat tempur Su-35 yang dipesan oleh Angkatan Udara Rusia sebagai bagian dari dua kontrak di tahun 2009 dan 2015, pesanan Tiongkok yang sebanyak 24 unit pesawat memang tidak terlihat begitu besar. Namun demikian, hal tersebut secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan finansial perusahaan aviasi gabungan dan perusahaan pembuat Komsomolsk-na-Amure Aircraft Production Association (KNAAPO).

    Dengan begitu, keberhasilan pengiriman pesawat untuk pembeli seperti Tiongkok akan meningkatkan peluang pesawat buatan Rusia di pasar luar negeri. Indonesia diharapkan akan menjadi pembeli Su-35 berikutnya.
    Selain itu, atas pembelian 24 unit Su-35, Rusia dapat menawarkan kontrak unit atau komponen untuk pesawat tempur Tiongkok yang baru, serta transfer teknologi dan mengadakan penelitian dan pengembangan untuk Tiongkok.

    Kepentingan Tiongkok

    Kepentingan Tiongkok dalam pasokan kali ini memang tidak terlihat jelas. Tiongkok telah membuktikan kemampuannya untuk mandiri dengan mengembangkan dan memproduksi sendiri pesawat generasi 4++, dan saat ini Negeri Tirai Bambu tersebut pun sedang mengembangkan dua jenis pesawat tempur generasi kelima, J-20 dan J-31.
    Pemasokan pesawat tempur dari luar negeri menyebabkan reaksi para nasionalis dari kalangan masyarakat Tiongkok. Bersamaan dengan pemasokan Su-35, Rusia tidak melakukan transfer teknologi yang esensial kepada Tiongkok. Dua puluh empat unit pesawat tempur adalah jumlah yang cukup hanya untuk pasukan di dalam satu resimen. Apa pun kemampuan tempur Tiongkok, pesawat ini tidak berpengaruh secara serius pada potensi keseluruhan dari Angkatan Udara Tiongkok.
    Pembelian pesawat dengan tujuan meniru merupakan penjelasan populer yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Perbedaan utama antara Su-35 dari jenis pesawat Su kelas berat pendahulunya, yaitu terkait dengan mesin dan avioniknya, termasuk radar stasiun “Irbis”. Sistem ini tidak dapat ditiru dalam waktu singkat dengan mengambil contoh siap pakai. 

    Kasus produksi Su-27SK tanpa lisensi oleh Tiongkok di tahun 2000-an juga tidak akan terulang. Saat itu, Tiongkok melakukan pekerjaan mereka berdasarkan teknologi yang pernah dikirim oleh Rusia dalam rangka perjanjian lisensi pada 1996. Sementara, berbagai dokumen lainnya yang kurang dapat dengan mudah diperoleh dengan membelinya dari perusahaan perbaikan pesawat Ukraina yang memperbaiki Su-27 pada era Soviet.
    Meskipun jumlahnya tak besar, Su-35 milik Tiongkok dapat memiliki beberapa efek pada keseimbangan kekuasaan di beberapa titik panas yang potensial, seperti Taiwan. Radar “Irbis” memiliki kemampuan mendeteksi target udara jarak jauh hingga 400 kilometer. Hal ini memungkinkan Beijing untuk dapat melihat semua wilayah udara di Taiwan dari daerah patroli di atas daratan Tiongkok.
    Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Carnegie.

     
 

1 komentar:

  1. Bahan material pesawat dan struktur kristalnya direkayasa sehingga memantulkan gelombang ke arah lain

    BalasHapus