Jumat, 03 Oktober 2014

WUQUF DI ARAFAH ADALAH ACUAN...... UNTUK SELURUH DUNIA YANG MEMLIKI MALAM DAN SIANG DIHARI YANG SAMA...?? >> RENTANG WAKTU MAKKAH DENGAN INDONESIA ... +/- MINUS 4 JAM.. ATAU INDONESIA SEKITAR PLUS 4 JAM ATAU LEBIH DAHULU 4 JAM DARIPADA MAKKAH..?? .. RENTANG WAKTU +4 JAM.. SEBENARNYA MASIH PADA HARI YANG SAMA DENGAN MAKKAH.. JADI SEHARUSNYA TIDAK ADA PERBEDAAN HILAL DI MAKKAH DENGAN DI INDONESIA.. >>> BAHKAN HINGGA JEPANG PUN .. RENTANG WAKTU MASIH SEKITAR PLUS 6 JAM.. TETAP MASIH PADA HARI YANG SAMA...>> MAKA SEY6OGIANYA.. WAKTU ARAFAH DAN HARI IDUL ADHA.. PADA HARI YANG SAMA DENGAN YANG DILAKUKAN DI SAUDI ARABIA.. >> ... “Sebab ini berkaitan dengan ibadah lainnya. Jumat (3/10) adalah Hari Arafah, di mana jutaan jamaah haji berkumpul di padang Arafah, maka umat Muslim lainnya yang tidak haji disunahkan puasa Arafah,” ujar Mufti Hussein...>> ...Demikian pula, Sabtu di Mekkah dan tempat-tempat lainnya di seluruh dunia sama-sama melaksanakan Hari Raya Idul Adha 1435....>> ... Mahkamah Agung Saudi Arabia meminta kaum Muslimin di seluruh dunia agar mengacu pada putusan Saudi Arabia sebagai kiblat yang memimpin jutaan umat Islam di seluruh dunia yang berhaji ke Tanah Suci. “Berbeda dengan Idul Fitri yang memungkinkan perbedaan, tetapi ini Idul Adha, acuannya adalah jamaah haji di tanah suci Mekkah al-Mukarramah, umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Adha pada saat yang sama dengan Arab Saudi,” bunyi pernyataan...>>>



WUQUF DI ARAFAH ADALAH ACUAN.
 
Mufti Agung Al-Quds, Palestina, Syaikh Mohammed Hussein mengingatkan kaum Muslimin di seluruh dunia, bahwa Arab Saudi melalui kesaksian hilal, hendaknya diikuti negeri-negeri lainnya. Sebab kiblat dan pusat jamaah haji ada di tanah suci Mekkah al-Mukarramah.

“Sebab ini berkaitan dengan ibadah lainnya. Jumat (3/10) adalah Hari Arafah, di mana jutaan jamaah haji berkumpul di padang Arafah, maka umat Muslim lainnya yang tidak haji disunahkan puasa Arafah,” ujar Mufti Hussein.

Demikian pula, Sabtu di Mekkah dan tempat-tempat lainnya di seluruh dunia sama-sama melaksanakan Hari Raya Idul Adha 1435.

Mahkamah Agung Saudi Arabia meminta kaum Muslimin di seluruh dunia agar mengacu pada putusan Saudi Arabia sebagai kiblat yang memimpin jutaan umat Islam di seluruh dunia yang berhaji ke Tanah Suci.

“Berbeda dengan Idul Fitri yang memungkinkan perbedaan, tetapi ini Idul Adha, acuannya adalah jamaah haji di tanah suci Mekkah al-Mukarramah, umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Adha pada saat yang sama dengan Arab Saudi,” bunyi pernyataan.

Jika kemudian Pemerintah RI melalui Kementerian Agama, yang dibacakan oleh Wamenag Nasaruddin Umar, menetapkan Idul Adha adalah Ahad (5/10), lalu mereka puasa Arafah berarti Sabtu (4/10). Yang menjadi tanda tanya sangat besar adalah puasa Arafah mengikuti Arafah yang mana? Padahal pula, Sabtu (4/10) itu kaum Muslimin di Mekkah al-Mukarramah dan di seluruh dunia, sedang melaksanakan shalat Idul Adha. Ini berarti, keputusan pemerintah tentang hari puasa Arafah yang jatuh pada Hari Raya adalah haram hukumnya. Kalau ini diikuti pula oleh jutaan umat Islam, maka berdosalah pemerintah dan umat Islam bila melaksanakan putusan itu.

Lalu, apakah keputusan sepenting itu dan menyangkut umat Islam mayoritas Indonesia tersebut, ditetapkan oleh Wakil Menag. Padahal Menteri Agama sebagai Amirul Haj Indonesia sedang berada di tanah suci Mekkah, mendengar sendiri dan menyaksikan sendiri ibadah haji disana


Kamis, 25 September 2014 , 15:28:00

Iduladha Beda, Pemerintah 5 Oktober, Muhammadiyah 4 Oktober. JPNN.com
Iduladha Beda, Pemerintah 5 Oktober, Muhammadiyah 4 Oktober. JPNN.com
BERITA TERKAIT


JAKARTA – 
http://www.jpnn.com/read/2014/09/25/260025/Iduladha-Beda,-Pemerintah-5-Oktober,-Muhammadiyah-4-Oktober- 
Pemerintah memutuskan Hari Raya Iduladha (10 Zulhijah) 1435 H jatuh pada Minggu, 5 Oktober. Keputusan tersebut diambil setelah digelar sidang isbat yang mengumpulkan hasil rukyatulhilal (pemantauan bulan) di 70 titik seluruh Indonesia. Hasil pemantauan menyatakan hilaltidak terlihat.


Dengan keluarnya keputusan versi pemerintah tersebut, Iduladha tahun ini berlangsung tidak serentak. Sebelumnya Muhammadiyah mengeluarkan maklumat penetapan hari-hari besar Islam. Ormas Islam tersebut menetapkan Iduladha pada Sabtu, 4 Oktober.


Sidang isbat tadi malam (24/9) berlangsung cukup lama. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengakui bahwa sidang isbat penetapan 1 Zulhijah semalam berlangsung lebih lama daripada sidang isbat penetapan 1 Ramadan atau 1 Syawal lalu.


Dia menuturkan, ada dua alasan sidang isbat tadi malam berlangsung lama. ’’Bukan terkait karena ada perbedaan,’’ tandas Nasaruddin. Sidang isbat semalam berlangsung lama –lebih dari sejam– karena hasilnya tidak terlalu ditunggu-tunggu masyarakat. Berbeda dengan sidang isbat penetapan 1 Ramadan (sebagai acuan salat Tarawih) atau penetapan 1 Syawal (sebagai acuan malam takbiran).


’’Sidang isbat malam ini memang untuk acuan Iduladha. Tetapi, Iduladha berlangsung nanti, 5 Oktober,’’ jelasnya.


Alasan kedua adalah adanya kesempatan pertemuan banyak ormas. Nasaruddin menuturkan, sayang jika forum yang baik seperti sidang isbat itu disia-siakan begitu saja. Dia menuturkan, dalam sidang isbat tersebut terjadi dialog untuk mencari titik temu kriteria penetapan hari-hari besar agama Islam ke depan.


Terkait dengan perbedaan penetapan Iduladha, Nasaruddin menjelaskan, implikasinya tidak sebesar atau serumit ketika ada perbedaan awal Ramadan atau Idul Fitri. Meski begitu, Nasaruddin mengakui, masyarakat muslim Indonesia mengidamkan kekompakan. Termasuk ketika ada penetapan hari-hari besar agama Islam.


Namun, Nasaruddin bersyukur, meski menginginkan kekompakan, masyarakat sudah mulai menerima perbedaan seperti penetapan Iduladha tersebut. Kemenag berharap masyarakat tidak saling mengolok-olok atas perbedaan itu. Menurut Nasaruddin, penetapan hari-hari besar dilandasi pada keyakinan masing-masing umat Islam.


Nasaruddin menjelaskan, dampak perbedaan penetapan Iduladha yang berpotensi menimbulkan polemik adalah penetapan yaumul Arafahatau hari jamaah haji wukuf di Padang Arafah. Pemerintah Arab Saudi sudah menetapkan bahwa yaumul Arafahjatuh pada Jumat, 3 Oktober. Saat itu umat Islam yang tidak berhaji disunahkan melaksanakan puasa Arafah.


Ketika Iduladha masyarakat Indonesia merujuk pada ketetapan pemerintah, yakni 5 Oktober, puasa Arafah jatuh pada Sabtu, 4 Oktober. Saat disambungkan dengan kondisi di Arab Saudi, jamaah haji di sana pada 4 Oktober sudah menjalankan Iduladha. Dengan demikian, puasa Arafah yang umumnya dilaksanakan ketika jamaah haji menjalankan wukuf tidak lagi cocok.


Soal itu, Nasaruddin menuturkan, kondisi Saudi dan Indonesia tentu tidak bisa disamakan dalam penetapan sidang isbat. Dia menjelaskan, Indonesia sudah tergabung dalam komunitas Majelis Agama Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia (MABIM).


Dalam komunitas itu, disepakati bahwa penetapan bulan baru dalam kalender Islam merujuk pada sistem imkanur rukyah. Dalam sistem tersebut, bulan dikatakan sudah berganti jika posisi hilal minimal 2 derajat di atas ufuk. Sementara itu, kondisi tadi malam, posisi hilal masih sekitar 0,63 derajat di atas ufuk.


Karena saat pengamatan kemarin, 24 September, posisi hilal tidak sampai 2 derajat di atas ufuk, diambil kebijakan istikmal. Yaitu, menggenapkan jumlah hari dalam bulan Zulkaidah menjadi 30. Dengan demikian, 1 Zulhijah baru jatuh pada Jumat, 26 September. Artinya, Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada 5 Oktober.


Ketua PP Muhammadiyah Yanuhar Ilyas mengatakan, pemerintah bersama ormas lain sepakat akan mencari titik temu untuk menyamakan kriteria penetapan hari-hari besar Islam. ’’Sekarang memang masih ada perbedaan kriterianya,’’ ujar dia.


Muhammadiyah dalam menentukan hari-hari besar Islam merujuk pada sistem wujudul hilal. Sistem itu dilakukan dengan hisab. Intinya, bulan dalam kalender Islam sudah berganti ketika hilal sudah di atas ufuk, berapa pun derajatnya. ”Misalnya, hari ini (kemarin, Red) hilal sudah ada di atas ufuk meski 0,63 derajat,” jelas dia. Sebaliknya, pemerintah menggunakan sistem imkanur rukyah. (wan/c10/end)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar