Rabu, 29 Agustus 2012

....KTT GNB, Kesempatan Emas untuk Tingkatkan Kerjasama...>>...Iran akan menjadi tuan rumah pada pertemuan tingkat tinggi (KTT) GNB yang akan dihadiri oleh 30 pemimpin, termasuk dari India, Mesir dan Kuba, pada temu puncak Gerakan Nonblok (NAM) pada 30-31 Agustus, demikian disiarkan kantor berita Antara. "Lebih dari 100 negara sudah menyatakan siap hadir dan sekitar 30 negara akan diwakili presiden, perdana menteri atau wakil presiden, yang merupakan jumlah sangat baik," kata Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, kepada kantor berita ISNA...>> Negara-negara Gerakan Non Blok (GNB) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung peningkatan status Palestina di organisasi dunia, PBB. Negara GNB juga bakal mendorong pendirian negara Palestina yang merdeka pada tahun 2013 mendatang. Penegasan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa dalam keterangan tertulis pertemuan tingkat menteri jelang Konferensi Tingkat Tinggi GNB yang diterima VIVAnews, Selasa, 28 Agustus 2012. Konferensi itu akan digelar pada 30-31 Agustus 2012 di Teheran, Iran. ..>>

Presiden Iran: 

KTT GNB, Kesempatan Emas untuk Tingkatkan Kerjasama

 


Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, negara-negara independen harus menggunakann potensi Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok (GNB) Ke-16 untuk memperluas kerjasamasecara maksimal.

Pernyataan tersebut diungkapkan Ahmadinejad dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Namibia Utoni Nujoma pada Selasa(28/8)di sela-sela KTT GNB di Tehran, ibukota Iran.
 
Ia menambahkan, hegemoni dunia menentang setiap komunitas yang terdiri dari negara-negara independen yang mengantarkan mereka kepada persatuan dan kekuatan. Namun negara-negara pencari keadilandan kebebasan harus bekerja sama untuk membantu kemajuan masing-masing.

Lebih lanjut, Ahmadinejad menandaskan, Iran melihat tidak ada hambatan untuk memperluas hubungan dengan Namibia.
 
"Terdapat alasan yang baik untuk menjalin kerja sama antara kedua negara dan saya berharap hubungan dan kerjasama bilateral dengan cepat akan meningkat di berbagai sektor," imbuhnya.

Di bagian lain statemennya, Ahmadinejad menuturkan, Iran memuji sikap Namibia dalam mendukung hak-hak dasar bangsa dan yakin bahwa negara-negara merdeka harus memperluas kerjasama untuk memajukan agenda mereka dan menggagalkan upayapara arogan duniamenghalangi perkembangan mereka.


Sementara itu, Menlu Namibia mengatakan, negaranya mendukung kepimimpinan Iran dalam Gerakan Non-Blok  dan menambahkan bahwa GNB memberikan kesempatan yang baik bagi negara-negara anggotanya untuk melawan ekstremisme kekuatan global. (IRIB Indonesia/RA/RM)

Lebih dari 50 Pemimpin Dunia akan Tiba di Tehran


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast mengatakan, mayoritas pemimpin negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) hingga pertengahan malam ini akan tiba di Tehran untuk menghadairi KTT GNB.

Mehmanparast kepada wartawan IRNA, Rabu (29/8), menuturkan lebih dari 50 pemimpin negara anggota GNB akan hadir di Tehran untuk berpartisipasi dalam pertemuan puncak yang akan digelar mulai besok.
 
"Hari ini, sekitar 20 menteri dari negara-negara anggota GNB akan memasuki Tehran untuk mengikuti konferensi tersebut," tambahnya.
 
Mehmanparast lebih lanjut mengatakan bahwa para menlu baru berhasil mensahkan draft dokumen terkait komite Palestina. Ditambahkannya, komisi independen menyangkut masalah Suriah belum terbentuk dan hanya komite independen Palestina yang sudah berhasil disahkan.
 
Meski demikian, lanjutnya, menyangkut isu-isu regional, termasuk masalah Suriah sudah termuat dalam dokumen akhir KTT GNB.
 
Para menlu negara anggota GNB, kemarin memulai pertemuan tingkat menteri organisasi itu di Tehran dan akan mengakhirinya pada hari ini. Pertemuan tersebut untuk mempelajari draft dokumen yang dikeluarkan oleh pertemuan para pejabat senior. Dokumen akan ditinjau kembali pada pertemuan puncak. (IRIB Indonesia/RM/RA)

Agenda Iran dalam KTT GNB

Author: 
rizal husen
Wartawan: edwin,Internasional
http://indonesiarayanews.com/news/internasional/08-25-2012-16-18/agenda-iran-dalam-ktt-gnb
 
Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi

@IRNewscom | Teheran: IRAN berjuang menghadapi pengucilan dan berbagai sanksi yang dilakukan oleh AS dan negara barat. Sebagai ketua Gerakan Non-Blok Iran berupaya mencegah tujuan AS tersebut.

Iran akan menjadi tuan rumah pada pertemuan tingkat tinggi (KTT) GNB yang akan dihadiri oleh 30 pemimpin, termasuk dari India, Mesir dan Kuba, pada temu puncak Gerakan Nonblok (NAM) pada 30-31 Agustus, demikian disiarkan kantor berita Antara.

"Lebih dari 100 negara sudah menyatakan siap hadir dan sekitar 30 negara akan diwakili presiden, perdana menteri atau wakil presiden, yang merupakan jumlah sangat baik," kata Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, kepada kantor berita ISNA.

KTT Teheran itu menjadi temu puncak politik terbesar dalam sejarah Iran, demikian .juru bicara Kemlu Iran Ramin Mehmanparast.

Gerakan Non Blok (GNB) yang lahir pada KTT I di Beograd pada puncak Perang Dingin menyatukan negara-negara berkembang yang masih di bawah cengkeraman atau pengaruh kolonialis kini beranggotakan  119 negara, ditambah Palestina.

Bagi Iran, pertemuan dua hari itu kesempatan penting memerankan diri di kancah dunia, meskipun ada upaya terpadu Amerika Serikat dan Eropa Bersatu untuk mengucilkannya secara diplomatik dan ekonomi atas kegiatan nuklirnya, yang disengketakan.

Hingga 7.000 peserta, para wakil pemerintah dan organisasi internasional serta media  diperkirakan hadir di temu puncak itu, kata wakil presiden Iran, Ali Saeedlou, seperti dikutip dari kantor berita resmi ISNA.

Acara itu diharapkan akan mendatangkan keuntungan USD 50 juta dari aspek kegiatan pariwisata Iran, seperti dijelaskan oleh  kepala badan Pariwisata Iran, Manouchehr Jahanian, kepada media.  [edw/1]

KTT GNB, RI Dorong Palestina Merdeka 2013

Iran kali ini terpilih menjadi ketua Gerakan Non Blok 2012-2015

 Warga mengibarkan bendera Palestina 
Warga mengibarkan bendera Palestina (Reuters)
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/347038-ktt-gnb--ri-dorong-palestina-merdeka-2013?utm_source=Vivanews&utm_medium=twitter
VIVAnews - Negara-negara Gerakan Non Blok (GNB) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung peningkatan statis Palestina di organisasi dunia, PBB. Negara GNB juga bakal mendorong pendirian negara Palestina yang merdeka pada tahun 2013 mendatang.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa dalam keterangan tertulis pertemuan tingkat menteri jelang Konferensi Tingkat Tinggi GNB yang diterima VIVAnews, Selasa, 28 Agustus 2012. Konferensi itu akan digelar pada 30-31 Agustus 2012 di Teheran, Iran.

“Palestina masih dan akan terus menjadi agenda prioritas bagi Gerakan Non Blok,” tegas Marty.

Selain masalah Palestina, Indonesia juga bakal mengusung isu peran GNB dalam membangun infrastruktur global dalam mendorong demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).

Secara khusus, Marty menyatakan pentingnya peran GNB untuk membangun institusi demokrasi yang memungkinkan dibangunnya pembangunan politik yang sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat.

Dalam bidang ekonomi dan pembangunan, Indonesia kembali menegaskan peran GNB untuk berkontribusi dalam penyusunan agenda pembangunan global paska 2015 yang inklusif dan adil.

Untuk tujuan itu, Indonesia kembali menyampaikan platform agenda pembangunan paska 2015 sebagaimana telah diusulkan oleh Presiden RI yaitu “sustainable growth with equity”.

“Agenda pembangunan global harus adil, tidak boleh ada satu negara pun yang tertinggal. Kemakmuran harus menjadi milik semua negara dan masyarakat di seluruh penjuru dunia” ujar Marty.

Pada KTT kali ini, Iran terpilih menjadi Ketua Gerakan Non Blok untuk periode tahun 2012-2015 secara aklamasi menggantikan Mesir yang menjadi Ketua GNB sebelumnya.

Rencananya, Wakil Presiden Boediono dijadwalkan menyampaikan pernyataan nasional Indonesia pada KTT GNB tanggal 30-31 Agustus 2012 mendatang. (umi)


 

DUSTA BESAR...DAN FITNAH TERHADAP UMAT ISLAM....!!!!???..>>.....Kejadian WTC 911 ternyata bohong besar. ......PARA ILMUWAN DAN BANYAK ORANG DI DUNIA INI TELAH TAHU JIKA PELAKU WTC 9-11 BUKANLAH OSAMA BIN LADEN ATAU ISLAM (ISLAM YG MANAPUN ITU). CERITA WTC 9-11 TELAH DISYIARKAN MELALUI MASS MEDIA TENTANG KEBOHONGAN BESAR KEJADIAN WTC DAN TERBUKTI DUSTA MELALUI ILMU SAINS ARCHITECS...>>...Dewasa ini dunia menyaksikan kezhaliman dan permusuhan. Sabotase, pembajakan, teror, pembantaian dan berbagai tindak biadab tercermin dari sepak terjang Amerika yang mengaku sebagai polisi dunia. Amerika justru menggiring peradaban moral manusia menuju kemunduran. Mundur ke belakang menuju peradaban hewan, yang kuat memakan yang lemah dan yang pintar mengelabui yang bodoh. Keadaan ini justru bertolak belakang dengan kemuliaan manusia yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:...>>>


BUKTI Kejadian WTC 911 ternyata bohong besar.
http://www.rss.indah.web.id/2010/04/dunia-akhirnya-tahu-islam-bukan-pelaku.html

PARA ILMUWAN DAN BANYAK ORANG DI DUNIA INI TELAH TAHU JIKA PELAKU WTC 9-11 BUKANLAH OSAMA BIN LADEN ATAU ISLAM (ISLAM YG MANAPUN ITU).

CERITA WTC 9-11 TELAH DISYIARKAN MELALUI MASS MEDIA TENTANG KEBOHONGAN BESAR KEJADIAN WTC DAN TERBUKTI DUSTA MELALUI ILMU SAINS ARCHITECS.

BUKTI:
HIGH RISE STEELS CONTRUCTION MANAPUN TAK DAPAT LELEH, PATAH, APALAGI LEBUR MENJADI ABU HANYA OLEH API, APALAGI DALAM JANGKA WAKTU HANYA 1 JAM & RUBUH DALAM WAKTU KURANG DARI 10 DETIK SAJA.

New York City, Sydney, Perth, Paris, London, San Francisco, Canada, Denmark, Spanyol, Ottawa, Chicago, Great Britain, Auckland NZ, Melbourne, Amsterdam, Los Angeles, Philadelpia, Boston, Copenhagen, Cardiff, Oklahoma City, La Paz, Christchurch, Montreal, Berkeley, Rapid City, San Diego, Milwaukee, Brisbane, Zurich, Russia, Kitchener, Waterloo, Palo Alto, Stockholm, Santa Rosa, Santa Cruz, Boulder, Orlando, Jersey City, Dallas, Denver, Mineapolis, Edmonton, Toronto, and many others cities in the world got activities to get down on the street by date of 11th for every month till this times.

They know if 9-11 was an inside job
 
MEREKA TAHU JIKA 9-11 ADALAH PEKERJAAN ORANG DALAM PEMERINTAH AMERICA SENDIRI!!!

Bukan mustahil pula jika rumor 'terrorist' yg terjadi di banyak negara termasuk di Asia ini telah di dalangi oleh mereka. Sebelum WTC 9-11, tak ada istilah terrorist, dan tak ada serangan terrorist.

Ada 3 Kesimpulan pokok yang bisa diambil lewat kejadian tersebut:

1. Bukan hanya Islam yang dirugikan dengan kejadian WTC 911, tapi termasuk non muslim terutama yang 
    menjadi korban 911 dan keluarga tentara korban perang dsbnya.


2. Dunia telah menertawakan kejadian tipuan yang dibuat oleh pemerintah Amrik.

3. Dunia telah mengetahui bahwa istilah teroris yang ditujukan pada Islam adalah bohong besar dan salah 
    satu upaya untuk mendukung program-program jahat Amerika terhadap dunia.

Spoiler for DEMO UNGKAP FAKTA:






















Bukti:
Ada sebanyak 1183 orang architectural dan engineering professionals telah mendukung ini gans...
Kalo ahlinya yang sudah bicara...mau bilang apa lagi kite...

Negara Itu Akan Hancur


Oleh Muhammad Mahdi Akif
http://votreesprit.wordpress.com/2012/07/31/negara-itu-akan-hancur/

 

SEGALA puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Dewasa ini dunia menyaksikan kezhaliman dan permusuhan. Sabotase, pembajakan, teror, pembantaian dan berbagai tindak biadab tercermin dari sepak terjang Amerika yang mengaku sebagai polisi dunia. Amerika justru menggiring peradaban moral manusia menuju kemunduran. Mundur ke belakang menuju peradaban hewan, yang kuat memakan yang lemah dan yang pintar mengelabui yang bodoh. Keadaan ini justru bertolak belakang dengan kemuliaan manusia yang telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra’: 70)

Kenyataan buruk ini terlihat jelas sejak usai perang dunia II hingga sekarang. Kebiadaban Amerika dan konspirasi Zionis Israel telah mendorong tentara sekutu menyerang Jepang dengan menjatuhkan bom nuklir di kota Hiroshima dan Nagasaki. Perang yang telah mengorbankan ratusan ribu orang sipil tidak berdosa dan memusnahkan kehidupan di pulau itu. Sampai saat ini manusia masih melihat dampak senjata nuklir itu. Kemudian Amerika menggempur Vietnam. Manusia dan pepohonan terbakar dengan sangat mengerikan. Kejadian yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Bersama dengan Zionis Israel, Amerika merampas dan menjajah bumi Palestina. Menyediakan pemukiman Yahudi bagi orang-orang Yahudi dengan bantuan dan persetujuan Inggris serta negara-negara lainnya. Semuanya menjadi rajutan bencana kemanusiaan hingga sekarang, buah karya Amerika selama lebih kurang 50 tahun.

Di tahun 1967, Amerikalah yang membantu Zionis Israel dalam melancarkan permusuhan terhadap Mesir dengan memberikan bantuan senjata, bantuan keuangan dan dukungan politik yang transparan terhadap rencana dan strategi Zionis di bawah payung PBB. Amerika juga membantu Zionis Israel menyerang dan membantai anak-anak Mesir di Sekolah Bahrul Baqar. Bersama Zionis, Amerika menyerang tentara Mesir tahun 1973.
Amerika telah menciptakan beberapa pergolakan di dunia dengan menaburkan bencana di berbagai tempat, menebarkan kebencian di tengah-tengah masyarakat serta ikut dalam skenario aksi pembunuhan dan kudeta yang ditambah lagi dengan campur tangan kedutaannya terhadap urusan dalam negeri negara setempat untuk kepentingan dan kemaslahatan konspirasi Amerika. Keadaan menjadi bertambah parah dengan hancurnya Uni Soviet. Sekarang Amerika menjadi negara tunggal adidaya yang membuat skenario, konspirasi, permusuhan dan perang dengan negara manapun yang ia kehendaki.

“(Tidak), sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami)…”. (QS. Saba’: 33)

Kejadian-kejadian dan peristiwa telah membuka kedok Amerika. Pembicaraan dan gugatan dunia internasional akhir-akhir ini telah mengarah kepada satu kesimpulan. Perkara ini menjadi jelas dan masyarakat memandang bahwa Amerika yang brutal dan teroris itu ternyata adalah sekutu dan pendukung berat Zionis Israel. Keduanya berada dalam satu parit, satu garis melawan bangsa muslim Palestina yang tidak bersenjata. Amerika telah menggunakan hak veto lebih dari 80 kali untuk kepentingan Zionis Israel. Negara penjajah bersenjata melawan bangsa Palestina. Anak-anak, wanita dan orang tua lemah tidak bersenjata dihadapi dengan senjata yang disuplai Amerika. Roket-roket kiriman Amerika di Palestina telah meluluhlantakkan rumah, bangunan, tanaman dan manusia dengan sangat kejam. Menggunakan senjata mengerikan untuk memerangi dan membunuh para pemimpin perlawanan rakyat muslim Palestina. Betapa Amerika telah menjadi Tuhan di bumi Palestina yang diduduki Zionis Israel dengan segala tindak kebrutalannya yang di luar luar peri kemanusiaan.

Lihatlah sekarang Amerika sedang menjajah Irak, menghancurkan bangunannya, menebarkan kekacauan seperti yang pernah dilakukan di Afghanistan. Di balik semua itu ia menyebarkan propaganda bahwa kehadirannya di Irak adalah untuk membebaskan rakyat Irak dan mendukung demokrasi. Sungguh mengherankan, kebebasan apa itu?! Demokrasi macam apa yang dimaksud?!

Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (QS. Al-Kahfi: 5)

Mereka menyangka bahwa target serangan mereka adalah senjata pemusnah massal, dan itu tidak ditemukan. Mereka juga mengatakan bahwa mereka ingin membebaskan rakyat Irak dari kezhaliman diktator kejam yang menyiksa dan membunuh rakyat Irak. Sekarang saksikanlah apa yang sebenarnya ingin Amerika lakukan di Irak?!! Apa yang mereka lakukan di Guantanamo dan di penjara Abu Ghraib?!
Mereka adalah tentara Amerika yang melanggar kehormatan manusia dengan cara yang keji. Betapa besar tragedi kehidupan dan pelanggaran HAM jika manusia diam seribu bahasa. Ini adalah kezhaliman atas sesama manusia. Kebodohan apa ini?! Hewan jenis apa ini?!

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. (QS. Al-A’raf: 179)

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. Ibrahim: 42)

Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (QS. Al-Qamar: 46)

Apakah ini peradaban Amerika?!
Apakah seperti ini kewenangan manusia?!
Apakah ini yang namanya kebebasan dan kemerdekaan?!
Apakah seperti ini yang dimaksud dengan demokrasi?!
Sekali-kali ini hanyalah isapan jempol. Hanya kedustaan dan kebohongan.

Manusia pernah hidup di bawah peradaban Islam selama lebih dari seribu tahun. Selama sekian tahun itu tidak ditemukan kesewenang-wenangan dan kezhaliman. Yang mereka temukan justru keadilan dan kemuliaan martabat manusia serta perlakuan kepada non-muslim dengan adil dan baik. Mereka tidak dizhalimi dan hak-hak mereka dilindungi. Peradaban Islam melindungi non-muslim sama seperti Islam melindungi dan menjaga orang Islam. Tanyakan saja kepada sejarah, apa yang dilakukan Umar bin Khathab bersama Amru bin Ash, gubernur Mesir ketika seorang kristen Koptik mengadukan kasusnya? Tanyakan kepada sejarah sikap apa yang diambil Utsman bin Affan bersama orang yang membunuh amirul mukminin, Umar bin Khathab r.a.? Pembunuhnya adalah non-muslim. Tanyakan kepada sejarah bagaimana seorang Yahudi Spanyol berangkat dari Andalusia bersama kaum muslimin ke Afrika Utara, ke negara Islam Maghrib dan ke Turki untuk mencari keadilan, rahmat dan kebaikan bertetangga di bawah naungan khilafah islamiyah. Itulah rahasia keberadaan mereka di negeri itu hingga sekarang. Tanyakan kepada sejarah apa yang pernah dilakukan kaum muslimin dan masih terus berlangsung kepada kaum kristen Koptik Mesir. Tanyakan kepada sejarah apa yang dilakukan Umar bin Khathab r.a. di dalam gereja Palestina.

Itulah peradaban kita dan lihatlah peradaban mereka yang sekarang menguasai kita. Hati mereka telah terbakar dengan kebencian yang mereka tampakkan dalam propaganda mereka. Sementara yang ada di hati mereka justru lebih keji lagi permusuhannya kepada umat Islam. Kalau demikian apa yang dapat kita lakukan untuk keluar dari kondisi tersebut.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS. Al-Anfal: 36)

Kami tahu yang kami mau. Kami tahu yang akan kami lakukan untuk sesama kami dan yang kami lakukan bersama kalian. Mari kita lihat satu ungkapan yang dapat menyatukan persepsi kita sebelum kita diterpa angin topan dan akhirnya kalah.

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (QS. Al-Qamar: 45)

  • Wahai pemuda Amerika, kalian membayar mahal harga kebencian dunia terhadap kalian karena kecongkakan pemimpin kalian, apakah kalian rela dengan semua ini? Ubahlah jika kalian tidak ingin ini terjadi! Lawanlah mereka agar kebrutalan dan kezhalimannya bisa dicegah dan kami melihat kalian mampu melakukan itu. Kami juga yakin bahwa kalian tidak rela dan tidak senang dengan perilaku pemerintah kalian. Bergabunglah bersama kami. Kami harus mengatakan kepada kalian:

Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali-’Imran: 64)

Kalian lebih tahu caranya, maka lakukanlah sesuatu. Niat dan tujuan kami adalah baik.
  1. Wahai dunia yang berperadaban, wahai bangsa di bumi, wahai para pemimpin negara, kalian bertanggung jawab atas kebrutalan dan kecongkakan Amerika yang selalu ditunggangi Zionis Israel. Jika kalian mendiamkan, maka Amerika pasti akan menduduki kalian. Berbuatlah sesuatu untuk menghadang perilaku bodoh Amerika di bawah kendali Bush dan Zionis Israel sebelum pecah perang dunia ketiga secara menyeluruh dan lebih luas.
  2. Wahai bangsa Arab dan umat Islam. Kalian sekarang ini hidup pada era permusuhan yang penuh dengan makar, konspirasi, tekanan, ancaman dan pengrusakan terhadap generasi muda, kaum wanita dan anak-anak. Apa yang kalian tunggu? Kalian harus secepatnya mengambil sikap menentang pendudukan Zionis Israel dengan melawan Amerika dan kebijakannya. Dengan perlawanan rakyat Palestina dan Irak. Boikotlah Amerika secara politik dan ekonomi. Jangan konsumsi produk Amerika dan Israel serta negara-negara yang membantu Israel. Jangan mengunjungi dan jangan menerima kunjungan wisata dari Amerika dan Israel. Tolaklah propaganda peradaban mereka. Tuntutlah pemerintah kalian untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan mereka. Jangan menjalin hubungan perdagangan dengan mereka. Di manakah kalian, orang-orang yang merdeka? Di manakah generasi penerus pejuang Salahudin Al-Ayyubi, Muhammad Quthuz dan Al-Izz bin Abdus Salam. Bantulah saudara kalian yang berjuang dengan bantuan keuangan, dengan bantuan doa, dengan bantuan kesadaran dan dengan segala macam jenis bantuan. Jangan berdiam diri saja.
  3. Kami bertanya kepada penguasa Mesir, “Apa yang kalian lakukan terhadap kami? Sekarang apa yang kalian lakukan bersama musuh-musuh kalian dan musuh-musuh kita? Betapa mulia yang dilakukan oleh Al-Mu’tashim yang telah membela umat Islam, meski hanya satu orang wanita yang ditawan musuh Islam, ia mengirim satu pasukan untuk membebaskannya, waamu’tashamaah, waamu’tashamaah, waamu’tashamaah!! Kalian jangan lupa bahwa kalian nanti akan dihadapkan di hadapan Allah Taala untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Kalian akan ditanya, “Apa yang kalian lakukan terhadap rakyat kalian? Apa yang telah kalian lakukan terhadap orang-orang yang telah melecehkan kehormatan rakyat kalian? Siapkanlah jawaban pertanyaan tersebut nanti di akhirat. Apakah kalian akan mampu menjawab semua pertanyaan tersebut atau kalian hanya menyesal?!

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. (QS. Al-Furqan: 27)

Di depan kalian masih ada kesempatan dan kalian masih mempunyai waktu yang cukup untuk berbuat baik kepada rakyat kalian. Jika kalian mau tunjukkan di sidang-sidang kalian suatu kebijakan yang membuat kami siap bergabung dengan kalian menjadi tentara kebenaran. Apakah kalian sudah siap? Kami tidak menuntut kalian untuk mengumumkan perang atau menyerang musuh. Kami hanya meminta agar kalian menggunakan beragam sarana untuk memperjuangkan nasib rakyat Palestina, umat Islam. Putuskanlah hubungan diplomatik dengan Amerika dan Zionis Israel atau paling tidak bekukanlah untuk sementara waktu hubungan diplomatik dan hubungan perdagangan sampai waktu yang tidak terbatas hingga mereka menarik segala kebijakan permusuhan dengan Islam dan umat Islam. Katakan kepada Amerika, “Kami berpihak kepada rakyat bukan berpihak kepada kalian dan juga tidak kepada Zionis Israel.” Ingatlah bahwa kita semua menjadi korban ketika Palestina dan Irak dirampas.

Padahal izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. Al-Munaafiquun: 8)

  • Kepada rakyat Irak dan rakyat Palestina kami berpesan kepada kalian, “Bersabarlah kalian, bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama kalian dengan segala yang kita miliki. Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kalian bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Kami telah melihat kalian berdoa kepada Allah di atas tujuh lapis langit bahwa kalian terzhalimi, “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, “Bahwa aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah aku”. (QS. Al-Qamar: 10) Akan tetapi realitanya kalian adalah orang-orang yang benar dengan janji. Yang kami lihat adalah perlawanan kalian, keengganan untuk tunduk kepada musuh dan kalian juga telah melukai hati musuh dengan jihad yang tulus. Zionis Israel hidup dalam kegelisahan dan gejolak. Orang-orang Amerika dalam keadaan kehilangan kendali dan semangat hidup dari waktu ke waktu dan apa yang telah terjadi di Fallujah tidaklah jauh dari diri kita.

Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (QS. Al-Hasyr: 14)

Bersatulah, tolong-menolonglah, terjanglah musuh dan bersatulah di bawah satu pemimpin. Allah penolong dan pendukung kalian. Seandainya kalian dikucilkan oleh dunia, maka cukuplah Allah sebagai penolong.

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.  (QS. Al-Anfal: 73)

  • Kepada para dai yang mencari syahid sama semangatnya seperti orang kafir yang mencari hidup, kami tidak memuji mereka melebihi atau mendahului Allah. Kami berpesan, “Islam selalu dalam keadaan baik dan umat Islam insya Allah akan menang, tetapi mereka harus membayar mahal dengan kerja keras. Atas karunia Allah, Islam tetap hidup di hati para pemeluknya. Dengan kesabaran dan keteguhan kalian serulah manusia untuk kembali kepada ajaran Islam dengan cara yang bijak dan nasihat yang baik. Jadilah penebar kebaikan dan rahmat di tengah-tengah masyarakat di manapun kalian berada.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.  (QS. Al-Anbiyaa’: 107)

Inilah dakwah kita, dakwah Islam yang kita pahami. Islam yang benar dan komprehensif. Sebagaimana Rasulullah saw. Menerima Islam dan kemudian disampaikan kepada seluruh manusia dengan ketawadhuan dan izzah tanpa dilebihi dan dikurangi. Kita bantu saudara-saudara kita. Kita berbuat baik kepada tetangga dan kita bersemangat memberikan petunjuk kepada seluruh masyarakat.

Dan mereka berkata,  “Kapan itu (akan terjadi)” Katakanlah, “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”.  (QS. Al-Isra’: 51)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55)

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.  (QS. Yusuf: 21)

Washallahu ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.


Selasa, 28 Agustus 2012

..Barack Obama ...[Presiden AS]..Tak Berdaya dan Terhina..oleh Majikan Yahudi Israel..??>>...Anda mungkin tercengang tak percaya bagaimana Presiden Amerika Barack Obama tak berdaya ketika dihinakan di negeri sendiri. Siapa lagi pelakunya bila bukan rombongan Yahudi Israel ketika mengadakan rapat tahunan AIPAC. Selama 6 hari sejak tanggal 4-9 Maret 2014 rapat dihadiri 13000 supporter fanatik gerakan zionis. Anehnya di negeri sendiri Presiden Amerika dan jajaran pejabat penting tunduk kepala atas tuntutan Yahudi yang hanya mewakili 3% dari total penduduk Amerika Serikat....>>..1) Rapat AIPAC dibuka oleh Presiden Israel Shimon Peres dengan agenda utama seruan perang terhadap negeri berpenduduk 75jt yaitu Iran. Dengan alasan Iran adalah ancaman keamanan bagi Amerika dan Israel karena mengembangkan senjata nuklir. Jangan sampai HOLOCAUST kedua menimpa Israel bila Iran menyerang Israel...>>..3) Presiden Barack Obama menyambut permintaan Yahudi Israel untuk melakukan serangan militer kepada Iran dengan jadwal yang belum ditentukan. Obama sedang berhitung peluang menang pemilihan presiden November 2012 di mana dana kampanye dari Yahudi adalah mutlak perlu...>>..4) Tokoh anti perang Noam Chomsky selalu menyangkal bahwa kebijakan luar negeri Amerika ditentukan oleh Yahudi. Meskipun bukti bukti sangat nyata mengingat komunitas Yahudi mengusai 73% ekonomi Amerika dan 93% media massa dunia...>>..5) Yahudi Orthodox Rabbi Herring memberi semangat untuk melancarkan aksi militer kepada Iran yang belum “kelakon” dalam 10 tahun terakhir...>>.. 6) Kesepakatan untuk menyerang Iran dibarengi kegagalan mereka untuk menjelaskan kepada publik atas fakta fakta sbb: - tidak ada bukti Iran mengembangkan senjata Nuklir, dan tidak punya kemampuan menyerang dengan nuklir. Justru Israel sudah punya 200 kepala nuklir di bukit Dimona dan menolak diperiksa oleh Badan Atom Dunia. - dalam 200 tahun terakhir Iran tidak pernah menyerang negara lain. Yahudi tidak berhenti menggelar dan mendanai perang sejak Perang Dunia I. Termasuk mendalangi Serangan WTC 9/11 2001, beserta serangan berikutnya berkedok “war on terror”, di antaranya Bom Bali. - alasan utama menyerang Iran adalah karena Iran hendak berdagang minyak langsung dengan pembeli. Tidak mau lagi lewat pasar spekulasi minyak mentah yang dikuasai Yahudi dan Raja / Emir Arab. Hal ini berakibat menurunnya pendapatan spekulator minyak dan runtuhnya dollar Amerika. - Juga gagal menjelaskan bahwa Bank Sentral Iran belum dikuasai oleh banker Yahudi Rothschild. Sehingga penaklukan Iran adalah demi penguasaan minyak dan bank sentral, agar seperti bank sentral Amerika dan Eropa yang sudah 75 tahun dimiliki mereka. Bukan oleh negara. - Tragedi HOLOCAUST yang konon menelan 6jt yahudi tewas dulu tahun 40an ternyata Holohoax, karena diharamkan untuk diselidiki ulang, diperalat untuk pemerasan kepada Jerman, dan tidak sampai 1 juta yang tewas...>>... yang heran kenapa Saudi dan Qatar mendukung serangan ke Iran. Di permukaan pakai alasan permusuhan Syiah-Sunni. Disertai propaganda palsu bahwa Iran hendak memindahkan Kabah ke Teheran. Inilah tipu tipu Kerajaan Saudi, serupa ketika tahun 60an menyogok diplomat Mesir agar Ibnu Saud dibuatkan silsilah seakan Raja Saudi keturuanan Nabi Muhammad...>>.. Uskup Inggris Richard Williamson dipaksa minta maaf karena menolak Holocaust oleh Yahudi. Padahal penolakannya cukup ilmiyah. Bayangkan menurut Yahudi: “Sejumlah data mengungkapkan korban holocoust mencapai sembilan hingga 11 juta jiwa”. Angkanya saja tidak pasti 9-11 juta Yahudi katanya tewas akibat Holocaust sementara sumber yang lain menyebut 6 juta. Jadi angkanya disebut asal-asalan. Lantas jumlah Yahudi yang selamat berapa? Jumlah seluruh Yahudi di Eropa (terutama di Jerman) memang sampai lebih dari 11 juta? Lah jumlahnya di Israel saja tidak sampai 7 juta sementara di Jerman hanya 200 ribu, di Perancis cuma 600 ribu sementara di Inggris yang bebas NAZI hanya 300 ribu. Jadi 11 juta Yahudi tewas akibat Holocaust sulit dipercaya. Hanya orang bodoh atau yang benar2 pro Yahudi saja yang mau mempercayainya...>>


6 Hari Tak Berdaya dan Terhina Barack Obama oleh Majikan Yahudi Israel

OPINI | 23 March 2012 | 16:02
http://politik.kompasiana.com/2012/03/23/6-hari-tak-berdaya-dan-terhina-barack-obama-oleh-majikan-yahudi-israel/
Anda mungkin tercengang tak percaya bagaimana Presiden Amerika Barack Obama tak berdaya ketika dihinakan di negeri sendiri. Siapa lagi pelakunya bila bukan rombongan Yahudi Israel ketika mengadakan rapat tahunan AIPAC. Selama 6 hari sejak tanggal 4-9 Maret 2014 rapat dihadiri 13000 supporter fanatik gerakan zionis. Anehnya di negeri sendiri Presiden Amerika dan jajaran pejabat penting tunduk kepala atas tuntutan Yahudi yang hanya mewakili 3% dari total penduduk Amerika Serikat.

Demikianlah inti analisis di situs Veterans Today tanggal 17 Maret 2012 oleh Prof. James Petras bareng Robin Eastman Abaya. Mereka mengulas mengulas “serbuan” Yahudi ke Washington dalam rangka rapat tahunan AIPAC, organ lobby Yahudi di Amerika. Veterans Today (VT) adalah situs berita dan analisis politik dan keamanan. Senior Editor Gordon Duff mengklaim VT telah meraup 400ribu pembaca harian dan 22juta pembaca di seluruh dunia.

Belajar dari pengamatan mereka berdua dan artikel terkait, maka ditemukan beberapa catatan penting, sbb:

1) Rapat AIPAC dibuka oleh Presiden Israel Shimon Peres dengan agenda utama seruan perang terhadap negeri berpenduduk 75jt yaitu Iran. Dengan alasan Iran adalah ancaman keamanan bagi Amerika dan Israel karena mengembangkan senjata nuklir. Jangan sampai HOLOCAUST kedua menimpa Israel bila Iran menyerang Israel.

2) Pidato utama oleh PM Isrel Benjamin Netanyahu dengan agenda yang sama dengan Shimon Peres.

3) Presiden Barack Obama menyambut permintaan Yahudi Israel untuk melakukan serangan militer kepada Iran dengan jadwal yang belum ditentukan. Obama sedang berhitung peluang menang pemilihan presiden November 2012 di mana dana kampanye dari Yahudi adalah mutlak perlu.

4) Tokoh anti perang Noam Chomsky selalu menyangkal bahwa kebijakan luar negeri Amerika ditentukan oleh Yahudi. Meskipun bukti bukti sangat nyata mengingat komunitas Yahudi mengusai 73% ekonomi Amerika dan 93% media massa dunia.

5) Yahudi Orthodox Rabbi Herring memberi semangat untuk melancarkan aksi militer kepada Iran yang belum “kelakon” dalam 10 tahun terakhir.

6) Kesepakatan untuk menyerang Iran dibarengi kegagalan mereka untuk menjelaskan kepada publik atas fakta fakta sbb:
- tidak ada bukti Iran mengembangkan senjata Nuklir, dan tidak punya kemampuan menyerang dengan nuklir. Justru Israel sudah punya 200 kepala nuklir di bukit Dimona dan menolak diperiksa oleh Badan Atom Dunia.
- dalam 200 tahun terakhir Iran tidak pernah menyerang negara lain. Yahudi tidak berhenti menggelar dan mendanai perang sejak Perang Dunia I. Termasuk mendalangi Serangan WTC 9/11 2001, beserta serangan berikutnya berkedok “war on terror”, di antaranya Bom Bali.
- alasan utama menyerang Iran adalah karena Iran hendak berdagang minyak langsung dengan pembeli. Tidak mau lagi lewat pasar spekulasi minyak mentah yang dikuasai Yahudi dan Raja / Emir Arab. Hal ini berakibat menurunnya pendapatan spekulator minyak dan runtuhnya dollar Amerika.
- Juga gagal menjelaskan bahwa Bank Sentral Iran belum dikuasai oleh banker Yahudi Rothschild. Sehingga penaklukan Iran adalah demi penguasaan minyak dan bank sentral, agar seperti bank sentral Amerika dan Eropa yang sudah 75 tahun dimiliki mereka. Bukan oleh negara.
- Tragedi HOLOCAUST yang konon menelan 6jt yahudi tewas dulu tahun 40an ternyata Holohoax, karena diharamkan untuk diselidiki ulang, diperalat untuk pemerasan kepada Jerman, dan tidak sampai 1 juta yang tewas.

Di luar 6 poin di atas banyak yang heran kenapa Saudi dan Qatar mendukung serangan ke Iran. Di permukaan pakai alasan permusuhan Syiah-Sunni. Disertai propaganda palsu bahwa Iran hendak memindahkan Kabah ke Teheran. Inilah tipu tipu Kerajaan Saudi, serupa ketika tahun 60an menyogok diplomat Mesir agar Ibnu Saud dibuatkan silsilah seakan Raja Saudi keturuanan Nabi Muhammad.

Pada dasarnya dalam negeri Amerika mulai melek bahwa mereka dijajah Yahudi. Sekarang mulai menggeliat ketika ekonomi ambruk disertai lenyapnya $15 trilyun di tangan bankir Yahudi. Namun kurang terdengar suaranya di media utama. Karena dikuasai Yahudi yang pandai memanipulasi berita selama 100 tahun terakhir.

Apa boleh buat Presiden Obama cuma boneka Kenya, yang didudukkan di kursi empuk di Gedung Putih. Untuk menjadi komandan teror dan perang dengan dusta dan dusta. Dusta masa lalunya dan dusta janji janji politiknya pada masa kampanye dulu. Sebuah harga yang pantas untuk dihinakan oleh sang majikan.

*)sumber:
*Israeli’s Willing Executioners: AIPAC Invades Washington:
www.veteranstoday.com/2012/03/17/israels-willing-executioners-aipac-invades-washington193961/
*Dosa Dosa Yahudi Yang Sudah Diketahui Amerika:
www.wikispooks.com/wiki/zionist_denials
*Obama Anak Yahudi:
www.equalpartyusa.wordpress.com/2012/01/30/obama-is-a-jew/

Paus Benediktus Menyerah Ditekan Yahudi – Penolakan Holocaust oleh Uskup Inggris Richard Williamson


http://abdulloh-umar.blogspot.com/2012/04/paus-benediktus-menyerah-ditekan-yahudi.html
Kalau menghina Islam atau Nabi Muhammad di Eropa bebas dilakukan tanpa sanksi hukuman. Alasannya kebebasan berpendapat atau HAM. Sebagai contoh Salman Rushdie yang menghina Al Qur’an dengan Ayat-ayat Setan (Satanic Verses) dan hinaan lain justru dilindungi dan diberi berbagai penghargaan.
Namun jangan coba2 menghina Yahudi. Bisa dikenakan pasal AntiSemitisme. Jangankan menghina, menolak cerita Holocaust saja dianggap kejahatan.
Uskup Inggris Richard Williamson dipaksa minta maaf karena menolak Holocaust oleh Yahudi. Padahal penolakannya cukup ilmiyah.
Bayangkan menurut Yahudi: “Sejumlah data mengungkapkan korban holocoust mencapai sembilan hingga 11 juta jiwa”. Angkanya saja tidak pasti 9-11 juta Yahudi katanya tewas akibat Holocaust sementara sumber yang lain menyebut 6 juta. Jadi angkanya disebut asal-asalan.
Lantas jumlah Yahudi yang selamat berapa? Jumlah seluruh Yahudi di Eropa (terutama di Jerman) memang sampai lebih dari 11 juta?
Lah jumlahnya di Israel saja tidak sampai 7 juta sementara di Jerman hanya 200 ribu, di Perancis cuma 600 ribu sementara di Inggris yang bebas NAZI hanya 300 ribu. Jadi 11 juta Yahudi tewas akibat Holocaust sulit dipercaya. Hanya orang bodoh atau yang benar2 pro Yahudi saja yang mau mempercayainya.
Oleh karena itu wajar jika Uskup Inggris tsb meragukan Holocaust. Angkanya terlampau berlebihan dan tidak masuk akal. Dan harus diingat bahwa korban Perang Dunia II itu totalnya 54 juta jiwa (termasuk Indonesia 1 juta orang tewas saat penjajahan Belanda dan Jepang). Jadi tak bisa bangsa Yahudi dengan dalih korban Holocaust mendapat berbagai keistimewaan termasuk membantai bangsa Palestina dalam Holocaust baru yang terekam berbagai foto dan video.
Vatikan perintahkan Uskup Inggris tarik ucapannya.
Vatican memerintahkan kepada uskup Inggris Richard Williamson untuk menarik kembali pernyataannya mengenai Holocaust atau pembunuhan massal terhadap umat Yahudi pada perang selama perang dunia ke II.
Keputusan Paus terbaru ini mengakhiri keresahan akibat pernyataan yang dilontarkan oleh Uskup Richard Williamson yang kini dikucilkan.
Pada bulan November lalu, Uskup Williamson menyatakan tidak ada kamar gas selama perang dunia ke II dan ia menilai hanya sekitar 300 ribu umat Yahudi yang tewas dalam kamp konsentrasi Nazi yang diciptakan oleh Hitler. Sejumlah data mengungkapkan korban holocoust mencapai sembilan hingga 11 juta jiwa..
Dua puluh tahun yang lalu Uskup Williamson dikucilkan atas persoalan yang berbeda.
Dalam pernyataannya, Vatikan meminta agar Uskup Williamson tidak lagi bicara mengenai Holocoust bila ia ingin kembali mengabdikan diri kepada gereja Katolik Roma.
Vatikan juga mengatakan Paus tidak tahu mengenai pernyataan Uskup Williamson ketika Paus menghapus pengucilan Williamson bulan lalu.
Kuatnya Pengaruh Yahudi, 
Uskup Penyangkal Holocaust Didenda
Uskup Britania, Richard Williamson, yang menyangkal holocaust, akan didenda dan diberhentikan memimpin gereja. Begitulah tekanan Yahudi
Hidayatullah.com—Uskup Richard Williamson adalah orang yang menyangkal keberadaan kamar gas semasa Perang Dunia II, sebagaimana banyak digembar-gemborkan Yahudi. Pihak Kejaksaan Regensburg memulai penyidikan pendahuluan terhadapnya. Tapi diperkirakan ia hanya akan kena denda. Sementara kecil kemungkinan Williamson bisa kembali menjabat uskup.
Undang-undang Jerman dan Austria termasuk yang paling ketat di Eropa, kalau menyangkut penyangkalan holocaust. Karena itu, Günther Ruckdeschel, Kepala Kejaksaan Regensburg tidak punya pilihan lain. Ia memulai penyidikan pendahuluan terhadap Uskup Britania, Richard Williamson.
Sebelum ini, Williamson menyangkal keberadaan kamar gas di kamp konsentrasi Nazi. Menurutnya, bukan enam juta orang Yahudi dibunuh, melainkan 300 ribu saja. Williamson mengungkapkan pernyataan kontroversial ini kepada televisi Swedia, di biara Regensburg, Jerman.
Menurut undang-undang Jerman, ungkapan tersebut sudah cukup untuk mendakwa Richard Williamson melakukan penghasutan. Untuk itu, Williamson dapat dikenai hukuman penjara maksimal lima tahun.
Ungkapan Richard Williamson dianggap tidak seberat itu. Tapi dianggap cukup untuk menolak kehadirannya di Regensburg. Bahkan sesama pastor anggota Pius X, perkumpulan sangat konservatif yang Williamson juga anggotanya, mengambil jarak darinya. Mereka mengirimkan surat pemberitahuan padanya, ia tidak lagi diterima pada upacara pentahbisan Mei mendatang.
Eropa sangat ribut jika ada seseorang atau tokoh tertentu menaifkan dan mengecilkan arti holocaust. Yahudi bisa menekan pengadilan terhadap seseorang atau mengucilkannya dari tempat bekerja jika dianggap anti-Semit dan melawan keberadaan holocaust yang ditengarai hanya cerita rekaan. Namun di saat yang sama, Barat dan Eropa sering membiarkan jika ada kelompok bertindak rasis terhadap Islam, seperti menghinakan Nabi Muhammad dan melecehkan Islam.

Israel’s Willing Executioners: 

AIPAC Invades Washington

 

Decline results when a nation is betrayed by craven leaders, who crawl and humiliate themselves before a minority of thuggish mediocrities pledged to a foreign state without scruples or moral integrity.

http://www.veteranstoday.com/2012/03/17/israels-willing-executioners-aipac-invades-washington193961/


by James Petras and Robin Eastman Abaya


Introduction: A Week of National Humiliation:

From March 4th to March 9th, 2012, 13,000 militant Israel Firsters, took over “political Washington”[1] and imposed a foreign regime’s (Israel) political agenda to the rousing applause and appreciation of their captive vassal US legislators and executives who crowded the halls and platforms groveling for the imperious nods of their visiting Israeli overlords[2].
AIPAC A LAUNCH PAD FOR ISRAELI LEADERS


The annual meeting of the American (sic) Israel Public Affairs Committee (AIPAC) is the most outrageous public display of Zionist-Jewish power as it shapes US foreign policy. The sole purpose of AIPAC is to ensure Israel’s unchallenged military and political power over a huge region from North Africa to the Persian Gulf. Over three quarters of the US Congress members paraded themselves before the AIPAC, as well as President Obama and Vice President Biden and any high ranking Cabinet members in any way related to US foreign policy (Secretary of State Clinton, Secretary of Defense Panetta included). They all loudly parroted the political agenda and military priorities that the AIPAC has imposed on the United States[3].

AIPAC: A launch pad for Israeli Leaders


The AIPAC gathering is clearly not a meeting of “just another lobby”[4]: It is the launch pad used by Israel’s top political and military leaders to drag the US into another major war in the Middle East – this time against Iran[5]. Shimon Peres, Israel’s President opened the conference, setting the militarist tone and political framework for US President Obama who followed, slavishly echoing the language and substance of the Israeli leader[6].
The following day the Israeli Prime Minister Netanyahu, spoke, and forcefully laid out the line for a US war against Iran [7]with thousands of prominent and respectable Jewish Americans, Israel Firsters, leaping to their feet dozens of times in fanatic support for a US war – a war, in which few, if any, of them, their children, relatives or friends will suffer loss of life or limb[8]. This was the same Bibi Netanyahu who once opined that the 9-11 attack on the US benefited Israel because it linked the US closer to Israeli interests.

Not since the War of 1812, which saw the British occupation and burning of Washington, has the US capital been so utterly humiliated by a foreign power. Unlike the British crown, which then negotiated a peace settlement, allowing the US to regain its sovereignty and capital, the Israeli leaders and their rabid “fifth column” demand a military agreement, in which Israel dictates the terms under which the US goes to war with Iran.

Israeli leaders have not secured the submission of the US because of Israel’s military, economic or political superiority: They have a puny economy, a fraction of the US nuclear weapons and have few allies and even less public approval in the international community. But they do have at least a half million fanatical, unconditional Zionist militants in the United States, including thousands of loyal multi-millionaires and billionaires who fund the campaign of both Democrat and Republican parties[9]. AIPAC is the vanguard of Israel’s shock troops in the US. Highly disciplined and organized, AIPAC lobbyists invade the offices of every Congressperson armed with a legislative script carefully prepared by and for the State of Israel[10]. They have secured the full commitment of most members of Congress for Israel’s agenda waving both dollar signs and stars (of David). As past history has amply demonstrated, Congressional staff or legislators who dare hesitate or ask for time to reflect, rapidly find themselves on the receiving end of AIPAC’s political bullying and threats which usually secure acquiescence. Refusal to capitulate to AIPAC means the end of a political career in Washington.

The Israeli (and therefore AIPAC’s) agenda is to pursue an unprovoked war, either initiated by the US or as part of a US-backed Israeli sneak attack, against the sovereign Islamic Republic of Iran[11]. Iran is targeted today because the other opponents of Israel’s colonization of Palestine have been destroyed in previous Zionist-backed US wars, namely Iraq, Afghanistan and Libya and the ongoing proxy war against the Assad regime in Syria[12].

Today Israeli leaders insist that Iran should be violently denied what over 120 other nations practice freely: the legal enrichment of uranium for medical, commercial and scientific purposes. Past Israeli propaganda, echoed by the 52 Presidents of the Major American Jewish Organizations, falsely claimed Iran possessed nuclear weapons or … was in the process of manufacturing them and therefore posed an ‘existential’ threat to Israeli. Even the mere ‘capacity’ to enrich uranium for medical purposes (many times below the level needed for a weapon) is presented as a major threat to the Jewish State. Meanwhile, the 27 US intelligence agencies (in their yearly ‘findings’) and even the US-influenced International Atomic Energy Agency have found no such evidence of an ongoing weapons program – thus the need for bizarre terms like ‘existential threat’.

Israel’s high command has now come up with a new flimsy pretext for war. Iran’s potential (through its advanced scientific and technical manpower and research centers) for acquiring a ‘nuclear weapon capability may constitute a sufficient cause for war[13]. In other words, Israel has ordered its 13,000 AIPAC militants, to demand every US Congress person vote for a war resolution on the basis of Iran’s current uranium enrichment program geared to medical uses and on its sophisticated scientific and intellectual potential! Meanwhile, the Mossad has launched a not-so-secret program of terrorist assassinations of Iranian scientists – in their homes, offices and universities; with nary a protest from the ‘Zionized’ US press.

Israel’s Willing Executioners


Netanyahu’s newest criterion for war (Iranian capability) has the blind support of the major Jewish organizations in the US[14]. American Zionists are the willing executioners promoting an aggressive, unprovoked, military attack against the homeland (and homes) of 75 million Iranians. Let us be clear, there are naked genocidal impulses permeating some of the pronouncements of leading US Jewish religious leaders. The executive vice president of the Orthodox Rabbinical Council of America, Rabbi Herring, suggested that Israel should consider “the use of tactical nuclear weapons in areas that aren’t so populated or in the open desert …to show the Iranians that their lives are on the line, that Israel won’t go quietly”.[15] The rabbi did not specify whether population centers of a quarter of a million inhabitants or less qualify under his definition of “not so populated” and therefore are suitable targets for this educational display of thermo-nuclear destruction, “just to show the Iranians”…. Let us keep in mind that among the Zionist fundamentalists, “not a few organizational leaders … wanted to use tactical nuclear weapons right now[16].
When Netanyahu gave the command to the AIPAC delegates to invade the US Congress and secure a war commitment on the basis of Iran’s ‘capacity’ (for uranium enrichment), there was no debate and no dissention among the ‘shock troops’ – only blind unanimous approval among Jewish American citizens for their foreign master. These respectable Jewish-Americans marched lock-step in platoons right up to the Congress members on their lists, canned arguments in one hand and Israeli-ghost-written legislation in the other. They boast of having rounded up a substantial majority of elected US representatives – for war!
If Israel’s power in the US depends on AIPAC’s tight control over the US Congress, the lobby, for its part, depends on the power of the wider Zionist power configuration permeating strategic political and administrative offices, political party structures and the electoral process itself. This, in turn, depends on Zionist media influence linked back to economic and financial power. The democratic and representative process has been totally crushed under this narrow-focused juggernaut for war on behalf of Israel.

AIPAC’s Congressional 

and Executive Collaborators

While much has been made of the influence AIPAC exercises over the US Congress and Executive via ‘lobbying’, better termed intimidation and pressure tactics, a great part of its success is based on the larger Zionist matrix of power operating within the government, civil society and the economy. When AIPAC lobbyists approach Congress members with Israeli-dictated foreign policy priorities in hand, they coordinate and are given a major platform by the forty-plus elected Zionist legislators who, just happen, to occupy strategic positions, such as the chairpersons of Congressional committees dealing with foreign policy, especially policy related to the Middle East. In other words, AIPAC’s conquest of Congress is ‘by invitation’. The relation is ‘reciprocal’. AIPAC and the 52 Presidents of the Major American Jewish Organizations and various fundraisers mobilize money and activists to help elect the reliable Zionists to office. Once in place, they openly collaborate in writing pro-Israel legislation and ensuring that ‘majorities’ vote the ‘right way’[17].

Mark Dubowitz, executive director of “Foundation for Defense of Democracies” helped write the latest (Iran) sanctions bill … (Financial Times March 6, 2012, pg. 9). The “Foundation” is better known as an unconditional and unquestioning promoter of Israel’s agenda. Dubowitz is one of many un-electedlegislators’ who write and promote laws at Israel’s behest. The legislation to impose sanctions on Iran, authored by Dubowitz, is designed to brutalize and starve 75 million Iranian citizens into submission to further Israel’s goal of unquestioned supremacy in the Middle East.

AIPAC’s operations are not confined to Congress or to the electoral process. From the Reagan Administration to the Obama Administration, AIPAC has supplied committed Zionists to key positions in the Treasury, State Department, National Security Council and the President’s inner circle of advisors on the Middle East[18]. AIPAC pressure ensures the appointment of Zionists to the executive branch and has led to the creation of special administrative posts designed specifically to pursue Israel’s agenda. A good example of AIPAC’s success is the post of Undersecretary of Treasury for Terrorism and Intelligence. The position was first held by Stuart Levey, a Zionist zealot, whose whole purpose was to design and implement US (and later EU) sanctions against Iran. His replacement, David Cohen, a clone also from AIPAC, is the author of legislation pushing for punitive sanctions against Syria[19].

Dennis Ross, widely known as ‘Israel’s lawyer’ and a former AIPAC leader, was appointed senior adviser to Presidents Clinton, Bush and Obama, was the architect of US support for Israel’s starvation blockade and criminal bombing of Gaza (1999), the murderous invasion of Lebanon (2006). He has provided ‘cover’ for Netanyahu’s massive building of Jews only settlements on occupied Palestinian lands and his cynical ‘peace negotiations’ ploy[20].

Jeffrey Feltman, the current AIPAC front man in the State Department, is the key official in charge of Middle East affairs, especially Lebanon, Syria and Iran[21]. Obama’s own inner circle of advisers is dominated by unconditional Israel supporters, including David Axelrod as chief confidant and the former Presidential Chief of Staff, dual US-Israeli citizen and current Mayor of Chicago, Rahm Emanuel[22]. What is striking is the constant cycle from leadership and activity in Zionist (Israeli-front) organizations, entry into powerful government post, return to one or another pro-Israel think tank, ‘civic organizations’, electoral office or lucrative private practice – all promoting the interests of Tel Aviv.

AIPAC and the 52 Grassroots Organizations

The Conference of Presidents of Major American Jewish Organizations (CoP; often referred to as the Presidents' Conference) is a non-profit organization that describes itself as "a central address for key American, Israeli and other world leaders to consult on issues of critical concern to the Jewish community."
Comprising 51 national Jewish organizations, the conference meets relatively infrequently to make major statements or meet with important leaders. The Conference was founded to develop a consensus voice among various Jewish organizations when dealing with the executive branch, and to promote the State of Israel in the United States; those remain its primary task. The conference does not draft comprehensive policies, nor does it do conventional lobbying; these are done, respectively, by the Jewish Council for Public Affairs and by the American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).

Contents

History

The conference was created in 1956 in response to requests from President Dwight D. Eisenhower and his administration. The American Jewish community of the period was experiencing a large growth in its similar policy groups (such as the American Jewish Committee and American Jewish Congress) and the increasing influence of the Jewish denominations on politics (particularly from Orthodox and Conservative Jews). The Eisenhower administration wanted an easier method to gauge the opinion of the community, without having to wade into the internal politics of the community, and polling leaders of each organization. The conference established a unified voice for the community, one that government officials could consult on important matters.
For its first 30 years the conference was led by one man, Yehuda Hellman. After his death in 1986, Malcolm Hoenlein became Chairman; Hoenlein remains the conference's Executive Vice Chairman. Hoenlein took a much stronger role in shaping U.S. policy, especially within the executive branch.[1]
The Presidents' Conference and AIPAC work together closely, with all members of the conference sitting on AIPAC's executive committee, which is distinct from its board of directors. The two organizations follow a clear division of labor, however; the conference focuses on the executive branch of the U.S. government, while AIPAC concentrates its lobbying on Congress.[1]
The conference's chairperson is Richard Stone.[2]

Activities

The conference's website states that it engages in "consensus policy, collective action, and maximizing the resources of the American Jewish community," in particular, "when events in the U.S., Israel and elsewhere affect the American Jewish community."
The stated goals of the Conference include:
  • Strengthening and fostering the special U.S.-Israel relationship.
  • Ensuring that Israel's interests are heard and understood by policy makers, opinion molders and the American public.
  • Addressing critical foreign policy issues that impact the American Jewish community.
  • Representing the interests of organized American Jewry.
  • Protecting and enhancing the security and dignity of Jews around the world.[3]

International Leadership Award

In December 2008, the conference presented Canadian Prime Minister Stephen Harper, and his government as a whole, with its inaugural "International Leadership Award" for his support for Israel. Malcolm Hoenlein, the executive vice-chairman of the conference, stated that the award was given to express the group's appreciation for Canada's "courageous stands" to boycott the Durban II anti-racism conference. He also praised Canada's "support for Israel and [its] efforts at the U.N. against incitement and ... the delegitimization [of Israel], where they have taken a role in the forefront."[4]

Support for Jonathan Pollard

In December 2008, the conference asked President George W. Bush to pardon Jonathan Pollard, a former U.S. navy analyst who was sentenced to life in prison in 1987 for spying for Israel. Malcolm Hoenlein stated that Pollard should be pardoned on humanitarian grounds, adding that "It's time that he be released. He has expressed remorse."[5]

Meeting with Pope Benedict XVI

On February 12 2009, the conference's leaders met with Pope Benedict XVI in order to re-assert the importance of Jewish-Catholic relations in the wake of the controversy over negationist comments made by Society of St. Pius X bishop Richard Williamson. [6]

List of member organizations

As of 2008, member organizations included the following:
  1. Ameinu
  2. American Friends of Likud, a group supporting the right-wing Likud party that has been a leading force in Israeli politics since 1977.[7]
  3. American Gathering/Federation of Jewish Holocaust Survivors
  4. America-Israel Friendship League
  5. American Israel Public Affairs Committee (AIPAC)
  6. American Jewish Committee
  7. American Jewish Congress
  8. American Jewish Joint Distribution Committee
  9. American Sephardi Federation
  10. American Zionist Movement, a coalition of Zionist groups and individuals, and the American affiliate of the World Zionist Organization.[7]
  11. Americans for Peace Now
  12. AMIT
  13. Anti-Defamation League (ADL)
  14. Association of Reform Zionists of America/World Union North America, the Zionist arm of the Reform movement and an affiliate of the Union for Reform Judaism.[7]
  15. B'nai B'rith International
  16. Bnai Zion
  17. Central Conference of American Rabbis
  18. Committee for Accuracy in Middle East Reporting in America
  19. Development Corporation for Israel/State of Israel Bonds: Since 1951, Israel Bonds sales have helped Israel’s Finance Ministry support projects in key sectors. Bond sales have exceeded $25 billion.[7]
  20. Emunah of America: Chapters and divisions around the United States support Israel’s largest Religious Zionist educational and social welfare organizations.[7]
  21. Friends of Israel Defense Forces: Supports social, educational, and recreational programs and facilities for Israeli soldiers and supports bereaved relatives of fallen soldiers.[7]
  22. Hadassah, the Women's Zionist Organization of America
  23. Hebrew Immigrant Aid Society
  24. Jewish Community Centers Association
  25. Jewish Council for Public Affairs
  26. Jewish Institute for National Security Affairs
  27. Jewish Labor Committee
  28. Jewish National Fund
  29. Jewish Reconstructionist Federation
  30. Jewish War Veterans of the United States of America (JWV)
  31. Jewish Women International
  32. MERCAZ USA, Zionist Organization of the Conservative Movement
  33. NA'AMAT USA: This group has pursued its goal of supporting the women and children of Israel for the past 80 years.[7]
  34. NCSJ Advocates on behalf of Jews in Russia, Ukraine, the Baltic States & Eurasia
  35. National Council of Jewish Women
  36. National Council of Young Israel
  37. World ORT - ORT America branch
  38. Rabbinical Assembly (RA)
  39. Rabbinical Council of America (RCA)
  40. Religious Zionists of America (RZA or Mizrahi)
  41. Union for Reform Judaism (URJ)
  42. Union of Orthodox Jewish Congregations of America (Orthodox Union or OU)
  43. United Jewish Communities (UJC)
  44. United Synagogue of Conservative Judaism (USCJ)
  45. Women's International Zionist Organization (WIZO)
  46. Women's League for Conservative Judaism (WLCJ)
  47. Women of Reform Judaism (WRJ)
  48. Workmen's Circle (Arbeter Ring)
  49. World Zionist Executive, US
  50. Zionist Organization of America (ZOA)

AIPAC’s power in Washington depends on the activism of hundreds of thousands of American Zionists affiliated with organizations under the 52 Presidents of the Major American Jewish Organizations (MAJO).  


While there is considerable overlap of membership, MAJO leaders openly serve as a transmission belt for Israel: transmitting the political line from Tel Aviv to their membership, including activist doctors, dentists and stock brokers in New York, Miami, Kansas City, Los Angeles and San Francisco and all points north, south, east and west. When AIPAC has ‘trouble’ securing an elected representative’s sign-on to legislation for sanctions against whichever country is currently targeted by Israel, the reluctant legislator becomes a prime target for local Zionist notables and ‘fund raisers’, who pay them a ‘visit’ to persuade, if possible, threaten retaliation, if necessary. If a legislator still refuses to hew to Israel’s line, or considers service to a foreign power to be harmful to United States, he/she will soon find that AIPAC has raised millions of dollars to fund a campaign of slander and electoral defeat[23].

Along with these upper middle class ‘grass roots’ activists there are the numerous highly politicized Zionist mega-millionaires and billionaires, like Adelson, Saban and scores of others, who make no bones about being fanatical Israel Firsters and donate millions to Congresspeople willing to subordinate US interests to Israel’s quest for Middle East supremacy[24].

Besides this legal corruption of the political process, there is the issue of illegal espionage and thuggery on AIPAC’s part, most recently evidenced by the ongoing law-suit by one of two former top AIPAC officials, Steven Rosen caught spying for Israel (passing classified documents on US military policy towards Iran). Rosen, who was acquitted in a highly manipulated ‘trial’, maintains that AIPAC routinely encouraged its officials to secure confidential US government documents for Israel[25].

And then there are the prominent free-lance Zionists, who engage in vicious, highly publicized, political thuggery, physical assaults and blackmail against critics of Israel[26]. The most prominent defamers, like Abraham Foxman of the Anti (sic) Defamation League, Harvard Law Professor Alan Dershowitz, Daniel Pipes and David Horowitz, manipulate legions of respectable and wealthy thugs to pressure schools, universities and other employers to censor and fire critics of Israel. These Zionist organizations far exceed the reach and effective blacklisting of an earlier generation of witch hunters, like Senator Joseph McCarthy, who were rank amateurs in comparison. The recent antics of Israel-Firster Andrew Adler, editor of the Atlanta Jewish Times, whose call for the Israeli Mossad to assassinate President Obama[27] led merely to his resignation as editor after several weeks of nervous outrage (but no federal investigation or charges).

What is striking here is that while most respectable Zionists dissociate themselves from AIPAC spies and verbal assassins, the power of the Israel Firsters ensures that such goons and thugs are rarely charged for their crimes and have never gone to jail[28].

The wider impact of Zionist influence and thuggery is evident in the timorous self-censorship of the majority of Americans who privately express fear and loathing at the confrontational, strident and abusive Zionist-Americans pushing a foreign agenda.[29]

Israel, Zionism and the Mass Media

The mass media is a key political resource, which the pro-Israel power configuration exploits to the full. Not a single major print, television, film or radio outlet is willing to provide a balanced account of the Israel-Palestine conflict[30]

Israel’s dispossession of thousands of Arab families from their homes and the daily terrorist Zionist settler and military assaults against Palestinians protesting land seizures go unreported[31]. The hundreds of nuclear weapons in Israel’s arsenal are never mentioned while the Jewish State’s hysterical claims that non-nuclear Iran represents an existential threat are repeated and magnified, ad nauseam. The leaders of the 52 know their Goebbels: A lie repeated often enough becomes an accepted truth.

Zionism and Leveraging Power

What is crucial in understanding the Zionist Power Configuration’s stranglehold over our government is how it leverages power. For example, a tiny minority falsely claims to speak for all American Jews, who represent about 3% of the US population. However, based on this claim, they mobilize and raise funds to elect the committed Zionists who hold about 10% of the seats in the US Congress and Senate. These representatives, in turn, enjoy the support of a tiny cadre of super rich Zionists, whose promotion allows them to gain control over key committees dealing with Middle East policy and security.

Domestic security has been deeply influenced by the Zionist-Israeli agenda: Former US Attorney General, Michael Mukasey and Homeland Security Tzar, Michael Chertoff have been among the most prominent officials orienting US domestic security to focus on critics of Israel and the entrapment of Muslim citizens in bizarre webs of phony terrorist plots, while real domestic security has suffered and civil rights have been shredded. The over-representation of Zionists on the US Supreme Court (3 out of 9) and the careful selection of recent justices, like Justice Sotomayor, underscore the profound nature of the process as it extends to the judiciary.[32]

The Zionist Power Configuration controls the Mid-East policies of both Democratic and Republican Party and their Presidential nominees through their Congressional and political party power bases. The US President, in turn, is leveraged, in order to secure key policy appointments for Zionists in the State Department, Treasury and Pentagon. Their leverage in the foreign policy establishment allows Zionist officials to put pressure on allies and clients in the United Nation and European Union to support policies, such as Israel’s boycott and punishment of the elected Hamas government in Gaza and the wars in Iraq, Afghanistan and Libya.

Leverage is how Israel, an infinitely small and insignificant state with less than 1% of world GNP, exports and market shares and occupying .001% of the world’s territory, can play such a disproportionate role in the reconfiguration of power in the Middle East. Through its American-Zionist influentials, Israel has manipulated the US into a quagmire of wars in the Middle East, costing the world’s consumers of oil untold billions of dollars and pushing the world economy into recession.
Israel’s “Petroleum Tax”: War Threats and the Price of Gas

During the first 3 months of 2012, the price of oil rose 15% (over 30% since the summer 2011) largely due to Israel’s war mongering and threats to launch an offensive war against Iran. Israeli Prime Minister Netanyahu, President Peres and Foreign Minister Lieberman have all repeatedly demanded the US bomb Iran, or failing that, they warn, Israel would launch its own offensive war against the Iranian people and drag the US into another war.
Almost all oil experts and political analysts agree that the spike in oil prices is a result of Israel’s war mongering, as major international oil speculators bet that an Israeli assault on Iran will provoke a major disruption in production and transportation of petroleum in the Middle East and provoke a global shortfall[33].

The 52 Presidents of the Major American Jewish Organizations have added to the war hysteria by echoing and embellishing on Israel’s claims of an Iranian nuclear threat (or Iran’s “growing capacity” to threaten Israel in the future)[34].

During the first three months of this year alone, the increased price of gasoline – or more accurately Israel’s war tax on the American consumers and drivers costs an additional 60 cents a gallon, or $9 dollars more to fill a 15 gallon tank. This represents the tribute the Zionist power configuration has imposed on the American consumers in their push for a new war on Israel’s behalf. No US politician would dare discuss this issue, let alone speak up and tell the Zionist chattering classes and their “beloved leaders” to stop pimping for war or else risk the cutting off of Israel’s $3 billion dollar annual handout from the US taxpayers.

Leading economists have stated that the price hike in petroleum (caused by a bellicose Israel) is stunting growth and pushing the US and EU back into recession … costing millions more job losses[35]. If we add the consumer losses caused by high gas prices to the losses in world economic output, the mere war chants of Netanyahu, Lieberman, Peres and the AIPAC will cost the global economy hundreds of billions over the course of the year.

Any mention of Israel’s gas tax on the American family’s budget will elicit outraged accusations of anti-Semitism from respectable Zionists and ugly threats from their thug accomplices. When Obama performed his infamous annual belly crawl to pleasure the AIPAC delegates and their Israeli guests, in the midst of cheers over his re-affirmation of America’s unconditional loyalty to the state of Israel, he also quietly asked Israel to lower the war cries at least until after the November elections because of its effects on the price of gasoline on the American voter[36].

The high price of oil is damaging Obama’s chances for re-election. The American electorate may not understand the real cost of Obama’s submission to Israel and may not be aware of Israel’s gas tax, but they are holding their putative President responsible for their pain at the pump! There is only one thing that Obama cherishes more than Zionist support and that is the votes of an economically squeezed American electorate, who are turning against him in droves as the price of gasoline soars.

Conclusion
The week of March 4 to 11, 2012 will go down in history as a week of national humiliation; a time when legions of fanatical American Zionists took over Washington; when the entire Cabinet, led by President Obama, groveled before the officials of a foreign state – in the heart of Washington DC. When the President and Prime Minister of Israel directed their foreign legionaires to march on the US Congress and shove their flimsy pretexts for war with Iran into the faces of cringing legislators, the simplistic and idiotic message was: Bomb Iran because it may soon have … a nuclear ‘capacity’. If asked what constitutes capacity, they quote their beloved leaders in Tel Aviv, including the semi-literate (former nightclub bouncer) Foreign Minister Avi Lieberman, the morally corrupt Bibi Netanyahu and the quietly diabolic Shimon Peres that Iranians can ‘enrich uranium’ – a capacity long held by 125 other countries.

It is with supreme arrogance that the followers of AIPAC and the 52 Presidents penetrate the US government in order to serve a foreign government. None bother to hide their past, present or future affiliations with the state of Israel. They are backed by prestigious Zionist academics, whose tendentious justifications for war have already sent tens of thousands of US soldiers to an early grave or to the wards of military and veteran hospitals and clinics across the country: They have sold us the argument that by serving the interests of the State of Israel we serve the United States. From this, it only follows that to break the law and act as an unregistered agent for a foreign power, to transfer highly classified government documents to Mossad agents at the Israeli embassy and to threaten Americans who criticize or oppose Israel is a patriotic act[37]. Naval analyst Jonathan Pollard, the convicted US master-spy for Israel, is widely celebrated in Israel as an honorary Colonel in the IDF and a hero; the leaders of the major Zionist organizations are again pressuring Obama to release this traitor.

The documented performance of the leading Zionists in public office in the United States over the past two decades has been an unmitigated disaster. The self-proclaimed best and brightest have led the country into the worst economic and military catastrophes in a century. It was Alan Greenspan, as head of the Federal Reserve, who de-regulated the financial sector and optimized conditions for the mega-swindles and speculative frenzy bringing down the entire financial system. It was his replacement, Ben Bernacke, who pushed for trillions of US tax-payer dollars in bail-out funds to save his cronies on Wall Street and set them back on course, in the last 2 years, to repeat their speculative orgy – and allow such tribal compatriots as Stephen Schwartzman to reap $213 million in earnings in 2011[38].


It was Fred Kagan, Paul Wolfowitz, Doug Feith, Libby, Abrams and Ross, as well as their less prominent lieutenants, who pushed the US into wars on Israel’s behalf in Afghanistan and Iraq, all the while confidently predicting ‘low cost, quick victories’ (even slam-dunks). Never has such a cohort of Ivy League mediocrities collectively produced so many disastrous policies in such a brief historical time while never being held in any way, shape or form responsible or accountable for their performance. It is obvious that these policy disasters did not result from faulty intellect or lack of an elite education. Their apparent ignorance of historical, political, economic and military realities was a result of their blinding Zionist loyalties to the Israeli state whose real interests they embraced. This lack of accountability guarantees that this process will continue until the US, as a republic, is destroyed for the masses of its misled citizens.

In order to justify a war against Israel’s regional adversaries, these blind mediocrities have distorted the realities of Arab nationalism. It was with supreme tribal arrogance and racism that they assured themselves that Arabs could never sustain prolonged resistance to their imperial juggernaut. They believed precisely what their tribal religion/ideology told them: They were a chosen people (genetic studies aside). They were the most financially successful investors or speculators. They attended and taught at the most prestigious universities. When, on occasion, a leading Zionist philanthropist, like Bernard Madoff, fell afoul—and actually went to jail– it was because, like his fellow tribalists, Milken, Boesky and Pollard — he didn’t buy his one way ticket to Israel soon enough.

When a country, like the United States, is in decline, it is not because of external competition: Declining competitiveness is only a symptom. It is because of internal rot. Decline results when a nation is betrayed by craven leaders, who crawl and humiliate themselves before a minority of thuggish mediocrities pledged to a foreign state without scruples or moral integrity.

James Petras latest book is The Arab Revolt and the Imperialist Counterattacks

(Atlanta: Clarity Press 2011) 2nd edition.

[1] For full coverage of the daily activities and the uncritical reportage of the major media see the Daily Alert , the official mouthpiece of 52 Presidents of the Major American Jewish Organizations, especially March 4 – 6, 2012.
[2] See the AIPAC video reports and the list of speakers. http://www.aipac.org , 3/2/2012 and subsequent reports.
[3] White House press release of Obama’s declaration that US subordinate relation to Israel is “sacrosanct”, March 4,/20/12.
[4] The reference is to Noam Chomsky whose laughable effort to downplay the influence of the Zionist power configuration is widely rejected and is once again refuted by the most superficial observation of the proceedings, pledges and prostrations of all top US policy makers at the AIPAC meeting.
[5] Netanyahu’s public pronouncements and AIPAC speech were duly recorded, amplified and supported by the New York Times, Wall Street Journal, and especially the Washington Post (2/6/2012). He explicitly called on the US to militarily attack Iran on behalf of Israel, on the basis of Teheran’s ‘capacity’ to make a nuclear weapon. According to Netanyahu “we can’t afford to wait much longer …” Prime Minister’s Office 3/5/12.
[6] New York Times, 3/5/12.
[7] Prime Ministers Office as quoted in the Daily Alert, 3/6/12.
[8] AIPAC video daily reports, 3/6/12.
[9] For example, just one of the numerous Zionist billionaires, the casino tzar, Sheldon Adelson has already contributed “tens of millions of dollars” to influence the current Presidential elections. Haaretz, 2/29/12. Haim Saban, another Israel-Firster billionaire, bought the principle Spanish language TV outlet in the US, UNIVISION, and then proceeded to promote sensationalist Israeli propaganda about an Iranian-Islamist “takeover” of Latin America.
[10] AIPAC press releases, 3/7/12 – 3/10/12.
[11] A survey of the Daily Alert , from March 4 to March 9, reveals there is not one single article that discusses the alternative of a diplomatic settlement with Iran, while over a dozen articles feature calls for war.
[12] For documentation and details on the decisive role of Zionist policy makers in launching the US war against Iraq see my The Power of Israel in the United States (Atlanta: Clarity Press 2006).
[13] New York Times, 3/1/12
[14] The 52 Presidents of the Major Jewish Organizations repeatedly endorsed Netanyahu’s pretext for war. See Daily Alert, 3/6/2012
[15] Quoted in http://Mondoweiss.net, 3/2/12.
[16] Ibid.
[17] Key Zionist Congressional operatives include Representatives Berman, Cantor, Harman, Lieberman, Ros- Lehtinen, and Levin as well as their Christian side-kicks, like McConnell and Pelosi among others who appeared at the AIPAC war fest. AIPAC promotional flyer 3/2/12.
[18] See The Power of Israel in the United States (op cit.)
[19] See “On Bended Knees: Zionist Power in American Politics” in James Petras, War Crimes in Gaza and the Zionist Fifth Column (Clarity, Atlanta 2010.
[20] The Power of Israel in the United States, op cit.
[21] Though Ross has formally resigned, he is still a key Obama adviser on the Middle East. See Haaretz 1/27/12,
[22] One of the key Zionist operatives is Jeffrey Feltman, Assistant Secretary of State for Near Eastern Affairs. He played a crucial role in support of Israel ‘s bombing of Lebanon in 2006, during his term as Ambassador, calling Hezbollah a “terrorist organization”. He dictated policy to the US client ruler Fouad Siniora. Feltman twice served in Israel. He was stationed in Gaza where he collaborated with the occupying Israeli Defense Forces. He worked with uber-Zionist US Ambassador Martin Indyk backing Israel’s position in the phony “Peace Process” from 2000 to 2001. Other Zionists in key positions include Jack Lew, current Chief of Staff to President Obama; David Plouffe senior adviser, Dan Shapiro, Ambassador to Israel; Steven Simon, Head of Middle East/North Africa Desk at the National Security Council; and Eric Lynn, Middle East policy advisor. Jewish Virtual Library a Division of the American-Israeli Enterprise 2012.
[23] Prominent Zionists, who served in strategic positions in the foreign policy realm of the Obama regime, included Rahm Emanuel, Chief of Staff to the President, David Axelrod, Senior Advisor; James Steinberg Deputy Secretary of State; and Richard Holbrooke Special Envoy to Pakistan/Afghanistan (deceased).
[24] Several studies estimate that Jews make up about 25% of the Forbes 400 richest Americans; over half are contributors to Israel or Zionist organizations or causes. J.J. Goldberg in his book on Jewish power estimates that 45% of Democratic fundraising comes from pro-Israel Jews. (Jewish Power: Inside the Jewish Establishment, Reading: Addison-Wesley 1996)
[25] Steve Rosen, a top policy director of AIPAC, along with his colleague, Keith Weissman admitted to handing over confidential documents to the Israeli embassy. Rosen later filed suit against AIPAC for firing him and Weissman and refusing to pay their legal fees; he claimed that the Lobby frequently condoned its employees’ receipt and illegal transfer of classified US government information citing numerous AIPAC documents to back-up his case. The Jewish Daily Forward, 12/15/2010.
[26] The owner and publisher of the Atlanta Jewish Times, Andrew Adler, urged Netanyahu to order the Israeli secret spy service, the Mossad, to assassinate President Obama, Haaretz 1/21/12. Rabbi Michael Lerner, a moderate Zionist critic of Israel, has been subject to four attacks on his home in the past two years, while accused of being a ‘self-hating Jew’ by Zionist fanatics. Mainstream Zionist organizations dissociate themselves from physical violence, while slanderously labeling opponents and critics of Israel as “anti-semites”, which has created precisely the political climate that encourages the less balanced among their audience to violent activity. Leading Zionist ideologues have been extremely active in inducing colleges and universities to fire critics of Israel, as was the case in the failure of DePaul University to renew the contract of a widely published scholar like, Norman Finklestein. Professors Walt and Mearsheimer, authors of an erudite study of The Israel Lobby, were subject to vitriolic attacks by American Zionist leaders, including A. Foxman of the Anti (sic) Defamation League as well as a superficial critique by left-Zionist Noam Chomsky. The racist rantings of uber-Zionists like David Horowitz and Pamela Geller helped to detonate the Islamophobic and Zionophilic mass murderer, Anders Breivik, in Norway.
[27] See the Atlantic Jewish Times editorial 1/20/12.
[28] The editor of the Atlantic Jewish Times who called for Obama’s assassination was not charged with any federal security offense. The confessed Zionist spy, Colonel Ben-Ami Kadish, who stole secret US nuclear weapon plans for Israel, did not spend a single day in jail although he paid a $50,000 fine for handing over scores of documents to Israel. (See Grant Smith Foreign Agents, Institute for Research Middle East Policy (IRMEP) Washington 2008. On AIPAC spying see IRMEP 2/6/12.
[29] Not to be ignored, the rarified atmosphere in high level scientific research journals has been politicized – most outrageous is the censorship of a genetic-immunologic study (by a leading international team of scientists) showing the close genetic relationship, if not identity between Levantine Jews and Palestinians. University libraries around the world were advised to ‘tear-out’ (eyes closed) the offending study from the pages of the journal, Human Immunology, lest such data might undermine the racist ‘raison d’etre’ for an exclusively Jewish State. (see Journal axes gene research on Jews and Palestinians, Robin McKie, Guardian-Sunday Observer (London), November 25, 2001 and Hum. Immunol. 62 (9): 889–900.)
[30] A review of new reports and editorials of the New York Times, Washington Post and Wall Street Journal, published by the Daily Alert during the AIPAC conference, reveals a close alignment with the extremist militarist position of the Israeli regime and AIPAC leaders See Steve Lendman ‘New Times Promoting War on Iran’ 3/3/12.
[31] During the month of February 2012, the Israeli Army and armed paramilitary Jewish settlers carried out 145 attacks on Palestinians, killing and wounding dozens, demolishing homes, seizing thousands of acres of land and uprooting scores of families: The Wall and Settlements Information Center, Palestinian Authority 3/1/12. Neither the New York Times or the Wall Street Journal or the Washington Post reported on these Israeli crimes against Palestinian civilians.
[32] Among Chertoff’s current clients are the manufacturers of the intrusive and nationally detested ‘body scanners’ used at US airports. He was also instrumental in the release and repatriation of a dozen Israeli Mossad agents arrested in New York and New Jersey within 24 hours of the 9/11 terrorist attack. Three of the nine justices,Ginsberg, Breyer and Kagan, are Zionists unwilling to challenge the Executive usurpation of war powers and promotion of torture and rendition. The others are all affiliated with the Roman Catholic Church. Not a single Protestant-affiliated Justice (numerically the majority religion in the US) has been appointed to the Supreme Court since the 1990 appointment of respected constitutional scholar, David Souter (by George Bush the First), because of their ‘unreliability’ (code-word for upholding the Bill of Rights and Constitution). The recent appointment of Justice Elena Kagan, whose lackluster academic career did not deter uber-Zionist Laurence Summers from appointing her Dean of the Harvard Law School, uderscores the mediocre criteria used in the high judiciary. The most recent appointment of Sonya Sotomayor to replace the brilliant (and Zionistically ‘unreliable’) J.P. Stevens, was promoted heaviliy for the Supreme Court on the basis of her strong ties to Israel, starting with her first (of many) ‘leadership’ tours to Israel (see The Jewish Chronicle – Life story Israel trips tie Sotomayor to Jews, Ron Kampeas – May 26, 2009).
33] Financial Times3/6/12, p. 9.
[34] Howard Kohr AIPAC executive director, during his vitriolic war mongering speech at the conference exceeded even Netanyahu’s explicit call for an immediate military attack on Iran. See AIPAC daily report, 3/16/12.
[35] Most experts agree that the oil price increase has stymied ‘economic recovery’ and if it continues to rise will plunge the world back into deep recession.
[36] Obama’s speech to the AIPAC meeting pointedly called on the Israeli leaders to tone down on their military rhetoric, clearly linking rising oil prices to Israeli war mongering.
[37] See Grant Smith, ‘AIPAC Directors Use of Classified Missile Data, Harmed National Security – US State Department’, Business Wire 2/6/12.
[38] Financial Times 3/1/12, p. 17.
EDITING : Debbie Menon