Minggu, 02 Mei 2021

PERANG DUNIA II DEKLARASI BALFOUR N PRSEKONGKOLAN JAHAT INGGRIS N U.S.A N KELOMPOK YAHUDI ZIONIS MENNGARONG PALESTINA ....>>> Mayoritas bangsa Jerman tahu, bahwa angkatan bersenjatanya belum kalah perang. Jerman belum menyerah, bahkan bisa dikatakan lebih mendekati kemenangan. Jerman lah yang melakukan penyerbuan dari segala penjuru tahun 1918, yaitu pada akhir Perang Dunia I. Dengan kata lain, Jerman pada masa akhir perang itu masih tetap merupakan pihak yang mengambil prakarsa. Akan tetapi, Jerman ditikam dari belakang oleh kelompok Yahudi, yang membuat onar dan kekacauan dalam jajaran angkatan bersenjata Jerman, dan bergabungnya Amerika ke dalam barisan sekutu dari faktor luar. .......>>> Perjanjian Versailles muncul pada saat kondisi psikologis, politik dan sosial dalam keadaan tidak menentu, penuh dengan dendam kesumat yang dieksploitasi oleh para pemilik modal internasional, yang akhirnya semua itu dapat terungkap. Semangat anti Yahudi tumbuh subur mewarnai aspirasi nasional bangsa Jerman secara menyeluruh. .......>>>> ...Mereka menyadari adanya jurang yang membuat Jerman terperosok kedalamnya, setelah para pemilik modal internasional menguasai perekonomian negara itu, sehingga Jerman secara ekonomi menggantungkan diri kepada kredit luar negeri, yang ada hubungannya secara langsung dengan lembaga keuangan internasional lewat bank negara-negara besar. ......>>>> Muncullah Hitler dengan Nazismenya yang menyerukan kebangkitan Jerman dalam segala aspek kehidupan termasuk membebaskan diri dari ikatan pihak asing, dan mencetak mata uang sendiri, tanpa bergantung pada kredit. Ia segera mendapat dukungan penuh dari bangsa Jerman. ...........>>>> .....Langkah pertama yang dilakukan adalah mengatur income nasional, sumber daya alam Jerman, industri, pertanian dan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa, demi terwujudnya self-reliance atau berdikari. .....>>>> Hitler telah keluar sebagai kekuatan yang membuat bulu Roma negara-negara besar berdiri. Sementara itu, para pemilik modal Yahudi internasional terus membukakan peluang bagi Hitler, dan mengeluarkan dana besar-besaran secara terselubung, serta merancang pembunuhan terhadap sejumlah besar putra-putra Yahudi dengan meminjam tangan Hitler sebagai kambing tebusan (scape goat). ....>>>> . Baru kemudian Hitler membangun angkatan bersenjatanya yang bisa diandalkan. Ia terpaksa membuka hubungan dengan golongan aristokrat militer Jerman golongan Arya', yang dikenal oleh dunia dengan sebutan Junkers. .......>>>> Tindakan Hitler yang sangat berani adalah menutup The Grand Eastern Lodge di Jerman, yang merupakan sarang Free Masonry, mirip dengan The Grand Eastern Lodge yang terdapat di kota besar Eropa lainnya yang dikuasai oleh para pemilik modal internasional. >>>> bapak pembangunan Jerman. Bagi kelompok ekstrem, Hitler adalah seorang Fuhrer bagi Jerman, dan seorang pimpinan bangsa Arya. Sedang Hitler sendiri berusaha menjauhkan diri dari pelukan golongan aristokrat militer Aryan, yang bagi Hitler sendiri tidak dibutuhkan, karena ia mampu membangun militer Jerman tanpa harus minta bantuan mereka. Hitler yakin, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian, dan memberikan pukulan mematikan kepada para pemilik modal Yahudi internasional itu adalah mengadakan persekutuan dengan negara super power di Eropa pada saat itu, yaitu Inggris. ...>>>> Hitler kurang jeli, bahwa usaha untuk mencapai keinginan seperti itu terhalang oleh dua kendala besar, yaitu : 1) Para pemilik modal internasional tahu, bahwa dukungan bagi kebangkitan dan militerisasi Jerman yang digalakan oleh Hitler akan membuka jalan bagi pecahnya perang yang mereka rancang sebelumnya >>>> 2) Golongan aristokrat militer Aryan di Jerman, yang dari para sejarawan mendapat julukan "Para Pialang Perang Nazi" ....>>>> Setelah mengadakan kajian dan analisa mendalam selama beberapa tahun, akhirnya kami sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwa dokumen Niloss, atau yang dikenal dengan Protocols of learned elderly of Zion tidak lain adalah ucapan asli yang disampaikan dalam Kongres yang diadakan oleh Amschel Rothschild tahun 1773 di Frankfurt, yang telah kami kutipkan selengkapnya pada bab terdahulu. Perlu kami tambahkan di sini, bahwa kekuatan setan itu sejak lama telah membentuk organisasi yang memiliki jaringan internasional, dengan tujuan menghancurkan masyarakat dunia. >>> Organisasi ini tidak lain adalah faham Zionisme dan Komunisme sebagai kedok yang membungkus gurita busuk. Para pemilik modal internasional tidak bisa memukul Marsedan secara terbuka. Banyak kawan Marsedan justru akan membuka rahasia lebih luas lagi. Marsedan tetap bekerja pada harian The Morning Post sampai tahun 1927. Saat itu, golongan yang berpengaruh di Inggris yang menyadari bahaya Yahudi internasional bisa membujuk pemerintah Inggris untuk mengangkat Marsedan sebagai orang kepercayaan putra mahkota Inggris, Duke of Wales >>>> Marsedan diminta untuk mendampingi sang pangeran. Sepulang dari lawatan itu, sang pangeran tidak lagi bergaya hidup mewah dan boros, tapi berubah menjadi orang yang berpandangan jauh. Selama dalam perjalanan, Marsedan sengaja menunjukkan semua dokumen dan bukti yang ada padanya tentang seluk-beluk Konspirasi internasional, dan peran yang dimainkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional dari balik layar. Setelah beberapa saat pulang dari lawatannya berkeliling bersama sang pangeran, Marsedan meninggal dunia secara mengejutkan. Ini jelas bukan peristiwa kebetulan. >>>> Sang pangeran telah meninggalkan adat kebiasaan turun temurun, yang melarang seorang pangeran campur tangan dalam masalah umum. Ia menentang setiap langkah politik yang telah ia ketahui berasal dari prakarsa para pemilik modal Yahudi. Jelaslah kiranya, pangeran telah masuk ke dalam pertikaian melawan kekuatan terselubung yang sedang memerintah Inggris. Hal ini benar-benar terjadi ketika ia menaiki tahta kerajaan Inggris bulan Mei 1936 dengan gelar Raja Edward VIII. >>>>> Admiral Dumvell dan Ramsey keduanya merupakan orang terdepan dalam barisan pasukan yang mengetahui hakikat bahaya yang datang dan para tokoh Yahudi internasional, yang bergabung pada kelompok pemilik modal internasional. Masalah ini menjadi perhatian khusus bagi mereka berdua sejak tahun 1938. >>>> Setelah mempelajari catatan Dumvell dan Ramsey yang berhubungan dengan masalah Yahudi sejak tahun 1939 sampai tahun 1950, kami meyakini semua itu, khususnya tentang kenyataan yang mengerikan, dan hakikat apa yang disebut dengan penindasan terhadap Yahudi. Semua itu memberikan image secara jelas mengenai propaganda beracun yang menelanjangi mereka sendiri dari sifat kemanusiaan. Setiap orang Yahudi dan para korban propaganda Komunisme dan atheisme wajib menelaah ulasan berikut dengan pikiran jernih, agar selamat dan marabahaya. >>>> Sejarah telah berbicara sendiri, bahwa Jerman pada masa Nazi memang memusuhi Yahudi, atau anti semitisme menurut istilah orang Yahudi. Akan tetapi, permusuhan itu belum sampai di luar batas Jerman. Memang benar mereka diperlakukan kejam oleh Hitler dan para tokoh Nazi. Akan tetapi, orang Yahudi di luar perbatasan Jerman tidak mendapat perlakuan keji dari Nazi. Bahkan orang Yahudi di Eropa masih tetap bisa hidup dengan aman. Hanya sebagian kecil orang Yahudi yang melarikan diri dari Jerman. Serbuan Hitler bersama pasukan Nazinya ke wilayah Polandia terjadi pada bulan September 1939, disusul dengan pecahnya Perang Dunia II. Keadaan orang-orang Yahudi berbalik sama sekali. Perang tersebut membuat seluruh Eropa dalam cengkeraman Jerman Hitler. Kebencian bangsa Jerman ditumpahkan kepada orang Yahudi di Polandia, Belgia, Perancis, Belanda dan negara Eropa lainnya, yang sebelum pecah perang mereka hidup aman. Perang itu sendiri direncanakan oleh para tokoh Yahudi sejak berakhirnya Perang Dunia I. Sikap anti Yahudi bangsa Jerman sebelum pecah Perang Dunia II sudah tampak dan terungkap dalam bentuk kebencian, pemenjaraan dan pembuangan pada saat-saat tertentu. >>>

 YAHUDI MENGGENGGAM DUNIA

(BAGIAN IV)

WILLIAM G. CARR 


VIII. HITLER DAN PERISTIWA YANG

MENYEBABKAN PECAHNYA PERANG 

DUNIA II


Kita sampai pada tahap baru dalam sejarah umat manusia yang punya anti

tersendiri bagi generasi sekarang. Tahap ini merupakan lembaran dunia baru

dari akibat yang langsung kita rasakan. Yaitu tahapan yang dimulai sejak pra

Perang Dunia I sampai Perang Dunia II.

Pada bab terdahulu sudah kita bicarakan tentang kondisi dunia dan tentang sisi

gelap politik Eropa. Telah diketengahkan, bagaimana para pemilik modal

internasional mengembalikan kekuatan militer dan industri Jerman, tanpa ada

reaksi dari Stalin dan dunia Barat di tengah-tengah bahaya yang terus

meningkat. Kita jelaskan pula sebab dan latar belakang yang membuat Stalin

mengambil kebijakan untuk melatih dan mempersenjatai para perwira

angkatan bersenjata Jerman mendatang. Data-data itu telah lama diketahui oleh

agen-agen rahasia di seluruh dunia. Juga kegiatan lembaga keuangan besar di

Eropa dan Amerika yang telah memberikan kredit besar-besaran kepada

industri Jerman yang Sedang bangkit itu, untuk membuka jalan bagi lahirnya

militerisme Jerman di bawah pimpinan Hitler. Namun kita harus tahu, bahwa

faktor yang sebenarnya menaikkan bintang Hitler dan suhu kondisi Eropa

adalah sisi gelap dari kondisi politik yang ada antara tahun 1924-1934.

Bangsa Jerman keluar dari perang penuh dengan kepahitan, dan perjanjian

Versailles menjerat Jerman dengan rantai berupa kewajiban negara yang kalah

perang dan kekacauan sosial melanda negara itu, serta sistem pemerintahannya

runtuh berkeping-keping, betapa pun bangsa Jerman dikenal sebagai bangsa

yang ulet dan rajin bekerja. Kepedihan itu makin bertambah dengan

meningkatnya kekacauan dan penghinaan yang dilontarkan oleh negara-

negara sekutu yang Jerman tidak mampu membalasnya. Marah dan dendam

terus ditahan, sambil melihat dengan berat kenyataan yang ada di hadapannya.

Mayoritas bangsa Jerman tahu, bahwa angkatan bersenjatanya belum kalah

perang. Jerman belum menyerah, bahkan bisa dikatakan lebih mendekati

kemenangan. Jerman lah yang melakukan penyerbuan dari segala penjuru

tahun 1918, yaitu pada akhir Perang Dunia I. Dengan kata lain, Jerman pada

masa akhir perang itu masih tetap merupakan pihak yang mengambil prakarsa.

Akan tetapi, Jerman ditikam dari belakang oleh kelompok Yahudi, yang

membuat onar dan kekacauan dalam jajaran angkatan bersenjata Jerman, dan

bergabungnya Amerika ke dalam barisan sekutu dari faktor luar.

Kepemimpinan Roza Luxemburg beserta para pendukung Yahudinya dari

partai Komunis Jerman, peran kaum Komunis yang membuat kekacauan di

Jerman, disusul dengan pemberontakan Komunis, semua itu merupakan

kenangan abadi yang pahit bagi Jerman, bahwa orang Yahudi di mata mereka

adalah sekutu musuh Jerman.


109


Perjanjian Versailles muncul pada saat kondisi psikologis, politik dan sosial

dalam keadaan tidak menentu, penuh dengan dendam kesumat yang

dieksploitasi oleh para pemilik modal internasional, yang akhirnya semua itu

dapat terungkap. Semangat anti Yahudi tumbuh subur mewarnai aspirasi

nasional bangsa Jerman secara menyeluruh.

A. Faktor Ekonomi

Bukan hanya rakyat jelata Jerman yang mengalami perasaan seperti itu. Para

cendekiawan khususnya di kalangan pemerintahan, dan para ahli ekonomi itu

juga merasakan hal itu. Akan tetapi, perhatian mereka dicurahkan ke masalah

vital lainnya, yaitu masalah ekonomi. Mereka menyadari adanya jurang yang

membuat Jerman terperosok kedalamnya, setelah para pemilik modal

internasional menguasai perekonomian negara itu, sehingga Jerman secara

ekonomi menggantungkan diri kepada kredit luar negeri, yang ada

hubungannya secara langsung dengan lembaga keuangan internasional lewat

bank negara-negara besar. Para cendekiawan dan politisi Jerman bukan tidak

tahu adanya bahaya hutang-piutang semacam itu yang mencekik leher, ibarat

tangan ikan gurita yang melilit mangsanya sedikit demi sedikit yang akhirnya

bisa mematikan itu. Bunga kredit itu, dan bunga dari bunganya senantiasa

bertambah terus menerus, yang akhirnya berkembang menjadi berlipat ganda

dari kredit semula. Untuk membayar kredit itu pemerintah terpaksa menaikkan

pajak yang dikenakan pada rakyatnya dari hasil pertanian, industri,

perdagangan dan income nasional. Dengan kata lain, arti kredit itu tidak lain

adalah perbudakan nasional bagi seluruh rakyat.

Melihat kenyataan seperti itu, para cendekiawan dan politisi Jerman menyadari

bahaya cekikan perekonomian negara. Mereka segera mengadakan

kesepakatan untuk mencari jalan keluar, yang bisa menyelamatkan Jerman dari

ancaman bahaya di atas. Dengan demikian, iklim pembebasan krisis ekonomi

telah lahir untuk menyambut setiap langkah yang bisa menyelamatkan Jerman

bersama rakyatnya. Muncullah Hitler dengan Nazismenya yang menyerukan

kebangkitan Jerman dalam segala aspek kehidupan termasuk membebaskan

diri dari ikatan pihak asing, dan mencetak mata uang sendiri, tanpa bergantung

pada kredit. Ia segera mendapat dukungan penuh dari bangsa Jerman. Langkah

pertama yang dilakukan adalah mengatur income nasional, sumber daya alam

Jerman, industri, pertanian dan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa,

demi terwujudnya self-reliance atau berdikari.

Langkah ini pada dasarnya merupakan ungkapan nyata yang mewakili aspirasi

bangsa Jerman, dan tuntutan mereka. Oleh sebab itu, sambutan mereka ibarat

api yang menyambut bensin. Nazisme naik pada tingkat kekuatan politik

paling atas yang terorganisir dengan baik. Pendukungnya terdiri dari unsur

pemuda, para tokoh intelektual dan para politisi, yang secara serentak

menghendaki Jerman muncul kembali sebagai kekuatan dunia yang harus

diperhitungkan. Kehadiran Adolf Hitler di atas pentas percaturan politik


110


Jerman merupakan tokoh penuh dinamika, yang mampu merebut simpati

segenap lapisan masyarakat Jerman. Ditambah dengan keberhasilan Mussolini

dan Fasismenya di Italia yang terus berjaya menunjukkan kekuatannya, dan

munculnya beberapa tokoh diktator di Eropa merupakan faktor yang

mendorong Hitler dan Nazismenya bangkit dan menguasai Eropa.

Melihat perkembangan di Jerman, para pemilik modal internasional mengatur

siasat setan. Meskipun sasaran Hitler ditujukan kepada orang Yahudi, namun

para pemilik modal internasional justru mendorong seruan nasionalisme

ekstrem Nazi dan pembangunan ekonomi, yang digalakan oleh Hitler. Dan

lagi, setelah Hitler naik daun, para pemilik modal internasional bersedia

menarik beban kredit yang memberatkan Jerman, dan merelakan hutang

pampasan perang yang ditolak oleh Hitler. Bahkan mereka memberikan

pinjaman lunak kepada Hitler untuk proyek industri dan perdagangan Jerman.

Mereka kemudian mendesak Stalin dan dunia Barat untuk tutup mulut atas

kebangkitan militer Jerman secara besar-besaran dari waktu ke waktu. Dalam

masalah ini, banyak pengamat sejarah dunia belum menemukan jawaban,

mengapa Stalin dan dunia Barat tinggal diam di hadapan Fuhrer Adolf Hitler,

yang pada awal perjalanannya masih sangat lemah, yang bisa di hancurkan

cukup hanya dengan kekuatan militer Perancis atau Inggris sendiri.

Kegelapan politik saat itu, kenapa para analis, para sejarawan dan para penulis

tidak mempersoalkan perjalanan sejarah, yang membuat Eropa tidak

mengambil tindakan terhadap langkah agresif Hitler, mulai dari pembatalan

perjanjian Versailles, penolakan untuk membayar pampasan perang,

membangun kembali militer Jerman, pendudukan atas wilayah Ruhr untuk

dijadikan kawasan industri persenjataan Jerman, pendudukan Swedia,

penyerbuan terhadap Czekoslovakia, aneksasi Austria ke dalam wilayah

Jerman, dan seterusnya? Keberanian Hitler telah menaikkan namanya dan

Nazisme, baik di dalam maupun di luar Jerman. Hitler telah keluar sebagai

kekuatan yang membuat bulu Roma negara-negara besar berdiri. Sementara

itu, para pemilik modal Yahudi internasional terus membukakan peluang bagi

Hitler, dan mengeluarkan dana besar-besaran secara terselubung, serta

merancang pembunuhan terhadap sejumlah besar putra-putra Yahudi dengan

meminjam tangan Hitler sebagai kambing tebusan (scape goat). Peristiwa ini

kelak dijadikan propaganda untuk menuntut ganti rugi atas kematian mereka.

Ini adalah bagian dari program jangka panjang, untuk membuka jalan bagi

pecahnya Perang Dunia II.

Hitler mendapat kenangan gemilang pada saat Jerman sebenarnya masih

dalam keadaan lemah, belum memiliki kekuatan militer yang memadai. Baru

kemudian Hitler membangun angkatan bersenjatanya yang bisa diandalkan. Ia

terpaksa membuka hubungan dengan golongan aristokrat militer Jerman

golongan Arya', yang dikenal oleh dunia dengan sebutan Junkers. Mereka

inilah golongan yang memegang kendali kekuatan militer Jerman sejak

beberapa generasi yang lalu. Maka timbullah Perselisihan intern di kalangan


111


Nazi sendiri, antara golongan moderat yang ingin membangun Jerman dengan

memperkuat sendi-sendinya, dan golongan ekstrim yang punya hubungan

dengan golongan aristokrat militer, penganut faham Karl Reiter yang ingin

mendirikan negara Jerman Tulen yang berdasarkan faham supremasi ras Arya,

untuk menguasai seluruh Eropa dengan kekuatan tangan besi.

Banyak analis sejarah yang membahas masalah pertikaian intern dalam tubuh

Nazi. Begitu pula media massa dan pergerakan politik sering

membicarakannya, namun mereka tidak menyinggung sebab-sebab mendasar

yang melatarbelakangi pertikaian ini. Hitler sendiri sebenarnya tidak memihak

kepada golongan ekstrim, seperti sering disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap

bersikap netral tanpa memihak kepada golongan ekstrem, seperti sering

disebut oleh beberapa penulis. Ia tetap bersikap netral tanpa memihak kepada

salah satu pihak yang berselisih sampai tahun 1936, ketika peristiwa demi

peristiwa yang terjadi akhirnya menempatkan Hitler menganut garis moderat.

Ini terlihat jelas dari usaha yang dilakukan untuk mencoba mengadakan

persahabatan dengan Inggris, dan berusaha menjauhi benturan dengan pihak

gereja dan para penganut Kristen secara umum. Tindakan Hitler yang sangat

berani adalah menutup The Grand Eastern Lodge di Jerman, yang merupakan

sarang Free Masonry, mirip dengan The Grand Eastern Lodge yang terdapat di

kota besar Eropa lainnya yang dikuasai oleh para pemilik modal internasional.

Meskipun perkumpulan The Grand Eastern Lodge di Jerman melarang orang

Yahudi menjadi anggotanya, namun faham atheisme yang terdapat dalam

perkumpulan itu bukan tidak lebih berbahaya daripada prinsip para pemilik

modal Yahudi internasional. Nazisme merupakan salah satu bentuk atheisme

yang mentuhankan negara Jerman. Seluruh dunia harus tunduk kepada Jerman

dengan kekuatan, dan membangun kebudayaan supremasi ras Arya Jerman.

Di tengah-tengah perselisihan antar-kelompok dalam Nazi, pribadi Hitler bagi

kelompok moderat merupakan sosok pimpinan baru dan bapak pembangunan

Jerman. Bagi kelompok ekstrem, Hitler adalah seorang Fuhrer bagi Jerman, dan

seorang pimpinan bangsa Arya. Sedang Hitler sendiri berusaha menjauhkan

diri dari pelukan golongan aristokrat militer Aryan, yang bagi Hitler sendiri

tidak dibutuhkan, karena ia mampu membangun militer Jerman tanpa harus

minta bantuan mereka. Hitler yakin, bahwa satu-satunya jalan untuk

mewujudkan perdamaian, dan memberikan pukulan mematikan kepada para

pemilik modal Yahudi internasional itu adalah mengadakan persekutuan

dengan negara super power di Eropa pada saat itu, yaitu Inggris. Maka, arah

politik Hitler ditujukan kepada persekutuan sejenis itu. Antara tahun 1933-1936

Hitler selalu berusaha mengadakan hubungan dengan Inggris, agar bisa

membentuk persekutuan bersama. la mempunyai tekad seperti itu sejak masih

dalam bukunya yang diberi judul Perjuanganku. Katanya, "Seandainya aku

diminta untuk membela kerajaan Inggris dengan kekuatan, pastilah permintaan

itu akan kukabulkan dengan senang hati". Hitler kurang jeli, bahwa usaha

untuk mencapai keinginan seperti itu terhalang oleh dua kendala besar, yaitu :


112


1) Para pemilik modal internasional tahu, bahwa dukungan bagi

kebangkitan dan militerisasi Jerman yang digalakan oleh Hitler akan

membuka jalan bagi pecahnya perang yang mereka rancang

sebelumnya. Di lain pihak, Hitler punya beberapa sasaran utama yang

akan dituju dalam persekutuannya dengan Inggris, di antaranya

mengenyahkan orang-orang Yahudi sampai ke akar-akarnya.

2) Golongan aristokrat militer Aryan di Jerman, yang dari para sejarawan

mendapat julukan "Para Pialang Perang Nazi", tidak mau berkompromi,

kecuali demi kekuasaan Jerman atas seluruh Eropa, dan membangun

kebudayaan yang berpijak pada supremasi bangsa Arya Jerman.

Dengan demikian, kedua kekuatan itu telah sepakat dalam satu hal, yaitu

mencegah Hitler untuk mengadakan perjanjian persekutuan dengan Inggris,

dan mencegah Jerman dari setiap upaya untuk tidak terlibat dalam perang

yang akan datang. Oleh karena itu, usaha Hitler untuk mengadakan hubungan

dengan Inggris berkali-kali mengalami kegagalan. Pihak golongan Nazi

ekstrem menjadi jengkel melihat Hitler selalu berusaha berjalan melawan arus

yang ditempuh oleh golongan aristokrat militer Jerman. Akhirnya sebuah

persekongkolan berusaha untuk membunuh Hitler, tetapi gagal. Usaha

pembunuhan kedua terjadi tahun 1936, karena Hitler berusaha lagi

mengadakan perjanjian persekutuan dengan Inggris. Tujuannya untuk

menghadapi kekuatan para pemilik modal Yahudi internasional, bahaya

Komunisme di Eropa dan untuk menghindari perang yang sudah terasa segera

akan pecah. Usaha Hitler untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan

Inggris yang terakhir dilakukan bulan Januari 1936 di Berlin, ibukota Jerman.

Inggris diwakili oleh Lord Lowend, sedang Jerman oleh Hitler sendiri dan

tangan kanannya Goering dan menteri luar negerinya Von Reintrop. Kita perlu

mengetahui masalah ini lebih luas, karena ini merupakan titik perubahan sikap

Hitler yang menyentuh perkembangan kondisi Jerman secara keseluruhan.

Untuk itu, kita perlu menelaah buku karya Lord Lowend yang diberi judul Kita

dan Jerman (We are and Germany), dan menengok kembali artikel yang dimuat

oleh harian The Evening Standard berbahasa Inggris edisi 23 April 1936.

Hitler membeberkan kepada Lord Lowend tentang sikap Jerman terhadap

masalah internasional yang dihadapi oleh dunia, khususnya tentang bahaya

Komunisme dan bahaya organisasi para pemilik kapital besar. Hitler

menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap kerasnya terhadap

kelompok Yahudi internasional, dan keprihatinan Jerman atas penyusupan

organisasi Zionisme yang masuk ke Eropa dan Amerika Serikat. Hitler

berpendapat, bahwa untuk menghindari bahaya itu harus lebih dulu

menyingkirkan kelompok pemilik modal Yahudi internasional sampai ke akar-

akarnya, dengan mengingatkan kembali apa yang diucapkan oleh Disraeli,

perdana menteri Inggris kenamaan berdarah Yahudi akhir abad ke 19 dalam

catatan diarynya, "Sesungguhnya yang memerintah dunia adalah segelintir orang

yang jauh berbeda dari apa yang dibayangkan oleh orang yang tidak mengerti apa yang


113


sebenarnya terjadi di balik layar". Reintrop menandaskan kata-kata Hitler. Lord

Lowend kemudian menyebutkan laporan komite kerajaan Inggris yang diberi

tugas menyelidiki skandal percukaian Kanada di bawah pimpinan Mr. Stevens

pada tahun 1927-1928. Von Reintrop sendiri saat itu berada di Kanada. Dalam

laporan itu dijelaskan, bahwa sindikat penyelundupan yang punya hubungan

dengan para pemilik modal Yahudi internasional bisa mengeruk uang setiap

tahunnya lebih dari 100 juta dolar Amerika. Jumlah itu sangat besar waktu itu,

yang diperoleh lewat sogokan, pemerasan dan sebagainya, sehingga timbul-

goncangan kehidupan sosial dan politik di Kanada. Untuk memperkuat

laporan pemerintah Inggris itu, Von Reintrop menambahkan, bahwa

kebobrokan seperti itu, lebih dulu harus disingkirkan sumbernya, yaitu

kelompok pemilik modal internasional. Pembicaraan itu berakhir setelah Von

Reintrop dan Goering memaparkan pemikiran dan pandangan profesor Karl

Reiter dan para ideolog Nazi kepada Lord Lowend. Hitler menutup pertemuan

itu dengan meminta, agar menteri Inggris itu menyampaikan kepada

pemerintahnya tentang sikap dan pandangan Hitler, dan menawarkan untuk

mempertimbangkan kemungkinan terbentuknya persekutuan bersama antara

Jerman dan Inggris. Setelah tiba di Inggris, Lord Lowend menyampaikan

gagasan dan pandangan Hitler kepada pemerintah Inggris, tetapi ditolak

mentah-mentah. Lord Lowend diberi tugas kembali untuk menjelaskan

penolakan tersebut. Pada tanggal 21 Februari 1936 Lord Lowend kirim surat

kepada Von Reintrop yang berisi penolakan pemerintah Inggris atas gagasan

dan tawaran Hitler, dan menerangkan faktor-faktor penyebabnya. Hitler

kemudian sepenuhnya berpaling kepada golongan aristokrat militer Jerman,

dengan mengambil prinsip dan rancangan mereka. Sejak itu Hitler

berkeyakinan, bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa

Jerman dan membinasakan musuh-musuhnya adalah perang.

Sejak tahun 1936 tahap kedua masa pemerintahan Hitler dimulai. Prinsip

Nazisme berhaluan keras telah mewarnai sepak-terjangnya untuk

mempersiapkan diri menghadapi perang. Sementara itu, apa yang terjadi di

Italia mirip dengan apa yang terjadi di Jerman. Akibatnya yang wajar, Hitler

tertarik untuk mendekati Mussolini, yang akhirnya keduanya membentuk

poros Berlin-Roma. Spanyol merupakan medan percobaan bagi kekuatan yang

bertikai di Eropa, yaitu Hitler dan Mussolini berpihak kepada kaum nasionalis.

Perang saudara tersebut berakhir pada bulan Juli 1936 dengan kemenangan di

pihak jenderal Franco kemudian tampil sebagai pemimpin baru di Spanyol.

B. Pertikaian antara Nazisme dan Kristen

Kaum nasionalis di Spanyol yang didukung oleh Hitler dan golongan Kristen

tidak bisa mengelakkan permusuhan antara Hitler dan gereja Katolik, sejak

Hitler memihak dan bergandengan tangan dengan golongan aristokrasi militer

Jerman. Kasta ini berpegang pada faham atheisme dalam sepak terjangnya,

yaitu menjadikan negara Jerman dan prinsip supremasi ras Arya sebagai

Tuhan. Para tokoh Protestan bergabung dengan gereja Katolik untuk


114


menghadapi langkah-langkah Hitler. Gabungan ini terjadi karena terpanggil

untuk menentang faham atheisme yang dijadikan pegangan oleh golongan

Nazi ekstrem itu. Pertentangan antara Hitler dan gereja makin tampak jelas

menjelang akhir tahun 1936, dan mencapai puncaknya ketika Paus Pius XI

menulis surat kepausannya kepada gereja di seluruh dunia tanggal 14 Maret

1937. Isinya, Sri Paus menyerang Nazisme secara terbuka, khususnya

sehubungan dengan prinsip ketuhanan nasional bagi suatu bangsa dengan

menjelaskan, bahwa Allah adalah Tuhan bagi semesta alam, bukan hanya bagi

makhluk atau ras tertentu.

Tanggal 19 Agustus 1938 para tokoh gereja Protestan Jerman mengedarkan

surat berisi kecaman keras terhadap prinsip atheisme yang dianut oleh Nazi.

Disebutkan tentang sikap para tokoh Nazi di Jerman terhadap agama Kristen

secara terbuka, disertai dengan pernyataan fuehrer tentang nasionalisme Aryan

Jerman yang di-Tuhan-kan itu. Gereja Protestan bersama Katolik mengambil

sikap melawan dan menentang Hitler dan Nazismenya. Berikut ini adalah

cuplikan isi surat tersebut :

"Tujuan para tokoh Nazi bukan saja menghancurkan gereja Katolik atau gereja

Protestan, melainkan juga ingin menghancurkan ajaran Kristen yang berlandaskan

Tuhan semesta alam, untuk diganti secara praktis dengan Tuhan Ras Jerman. Apakah

yang dimaksud dengan Tuhan Ras Jerman itu ? Apakah ada bedanya dari Tuhan

bangsa lain? Kalau demikian, setiap bangsa punya Tuhan sendiri, yang berarti tidak

ada Tuhan' sama sekali".

Para tokoh Nazi menanggapi sikap gereja itu dengan sikap keras. Suhu politik

di Jerman hampir mirip dengan situasi perang sipil yang disebabkan oleh

pertikaian kepercayaan agama. Untuk menghadapi perkembangan situasi

dalam negeri, Hitler mengeluarkan undang-undang tegas dengan sangsi

hukuman yang berat bagi setiap ancaman terhadap kekuasaan politik mutlak

negara Nazi. Sejak itu situasi tegang yang terjadi di Jerman tampak mereda.

Akan tetapi, pertengkaran mendasar antara Nazi dan gereja tetap tidak bisa

berkurang.

Perkembangan situasi di Italia tidak jauh berbeda secara umum dari situasi di

Jerman. Akan tetapi, pertikaian yang ada di Italia berasal dari persengketaan

tentang perebutan tanah jajahan antara Italia di satu pihak serta Inggris dan

Perancis di pihak lain. Kesamaan Mussolini di Italia dengan Hitler di Jerman

merupakan sekutu alami dalam menghadapi setiap tantangan musuh.

Persekutuan poros Nazi-Fasisme terungkap dengan jelas ketika Italia dan

Jerman terlibat dalam perang saudara di Spanyol, yang keduanya memihak

jenderal Franco, yang akhirnya Francolah yang menang. Demikianlah awal

wajah poros Berlin-Roma. Pada mulanya Hitler dan Mussolini mengira, bahwa

jenderal Franco segera akan bergabung ke dalam persekutuan mereka setelah

menang perang itu. Namun pandangan politik Franco yang lebih banyak

dipengaruhi oleh keyakinan ajaran agama Kristen yang dianutnya, telah

menjadi penghalang untuk bergabung bersama. Franco tetap bersikap seperti


115


ini, meskipun berkali-kali mendapat tekanan dari Hitler dan Mussolini. Dengan

demikian, kepercayaan yang dipegang teguh telah menjauhkan negerinya dari

kancah perang yang menghancurkan.

Kemudian poros Berlin-Roma mengalihkan perhatiannya ke Timur Jauh. Di

sini mereka mendapatkan sekutu ketika tanpa kesulitan, karena perang

ekonomi yang telah mencapai puncaknya antara Jepang dan Dunia Barat.

Barang-barang produksi Jepang sudah dikenal oleh seluruh dunia dengan

ragam dan modelnya serta harganya yang murah. Hal ini merupakan ancaman

bagi barang-barang produksi Eropa. Pihak Barat mengumumkan perang

terhadap perdagangan dan industri Jepang yang akan menghancurkan

perekonomiannya. Maka wajarlah kalau Jepang mencari kawan yang bisa

dijadikan sekutu, dan menyambut baik pendekatan yang dilakukan oleh poros

Berlin-Roma, yang juga memusuhi Dunia Barat. Dengan demikian,

terbentuklah poros Berlin-Roma-Tokyo. terbukalah sekarang jalan bagi

program para pemilik modal Yahudi internasional. Mereka mengantar dunia

menuju perang yang tidak bisa di hindarkan lagi. Mereka segera bersiap siap

untuk menyambut kedatangan perang itu.

Tokoh yang dipersiapkan untuk memimpin perang dari Inggris adalah

Winston Churchill. Dari Amerika tampil Franklin Roosevelt, yang punya

hubungan dekat dengan Baruch, seorang kapitalis kelas dunia. Lebih

berbahaya lagi, karena ia adalah salah seorang tokoh yang menggerakan

organisasi Zionisme internasional dan Kongres Yahudi internasional selama

hampir setengah abad. Selama hidupnya ia melakukan pengkhianatan

terhadap bangsa Amerika Serikat. Hubungan gelapnya dengan Churchill

bukan merupakan rahasia lagi. Keduanya sering mengadakan pertemuan dan

kunjungan secara teratur sejak beberapa tahun lamanya. Dan yang paling

menonjol adalah, kunjungan Churchill kepada Baruch pada tahun 1954, ketika

Churchill menyampaikan terus terang hubungannya dengan organisasi

Zionisme, yang telah terjalin sejak lama. Namun ini tidak berarti, bahwa para

pemilik modal Yahudi internasional menemukan jalan mulus untuk mencapai

cita-citanya di Inggris, meskipun Churchill telah membantu proyek yang

dicanangkan.

Di Inggris sendiri terdapat benturan keras dengan sebuah tantangan

terorganisasi yang digerakkan oleh kalangan intelektual kelas atas. Kalangan

ini telah lama menyadari bahaya yang mengancam Inggris yang datang dari

Kongres Yahudi dan para pemilik modal Yahudi internasional.

Orang yang mengingatkan kalangan intelektual tentang bahaya yang

mengancam inggris dari balik layar adalah seorang wartawan bernama Victor

Marsedan , yang bertugas di Rusia untuk harian The Morning Past berbahasa

Inggris yang terbit di London. la menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi

di Rusia ketika itu. Ia juga mendapatkan satu eksemplar buku yang ditulis oleh

Sergay Niloss berjudul "Bahaya Yahudi" yang terbit tahun 1905. Dalam buku

itu profesor Niloss memuat dokumen rahasia yang ia peroleh dari seorang


116


wanita kaya di Paris yang berhasil mencuri dari kekasihnya, seorang kapitalis

Yahudi terkemuka pada saat itu, yang baru saja kembali dari pertemuan

rahasia yang diadakan oleh para tokoh The Grand Eastern Lodge Perancis.

Setelah mengkaji dan menganalisa buku profesor Niloss itu, Victor Marsedan

segera berniat mengingatkan bangsanya tentang bahaya yang sedang

mengancam negerinya. Sebenarnya ia sudah berniat segera kembali ke London,

tapi situasi dan peristiwa besar yang terjadi di Rusia memaksa ia untuk

menangguhkan kepulangannya hingga tahun 1921. Setelah tiba di Inggris,

Marsedan segera menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Inggris, dan

mengedarkannya dengan judul The Protocols of Learned Elderly of Zion.

Marsedan menyadari, bahwa dengan menerjemahkan dan mengedarkan buku

itu berarti is meletakkan diri dalam posisi berbahaya. Namun ia tetap tidak

mau mundur dari tekadnya. Setelah buku itu beredar, terjadilah goncangan

besar di Inggris, yang kemudian menjalar ke seluruh dunia. Para pemilik modal

Yahudi segera melangkah mengadakan propaganda besar-besaran dengan

melemparkan tuduhan klasik, seperti biasa mereka lakukan, bahwa dokumen

yang terdapat dalam buku Niloss itu palsu, yang bertujuan hendak meniupkan

gelombang anti semitik.

Kami (penulis) menjadikan buku Niloss ini sebagai rujukan utama. Setelah

mengadakan kajian dan analisa mendalam selama beberapa tahun, akhirnya

kami sampai pada kesimpulan yang meyakinkan, bahwa dokumen Niloss, atau

yang dikenal dengan Protocols of learned elderly of Zion tidak lain adalah

ucapan asli yang disampaikan dalam Kongres yang diadakan oleh Amschel

Rothschild tahun 1773 di Frankfurt, yang telah kami kutipkan selengkapnya

pada bab terdahulu. Perlu kami tambahkan di sini, bahwa kekuatan setan itu

sejak lama telah membentuk organisasi yang memiliki jaringan internasional,

dengan tujuan menghancurkan masyarakat dunia. Organisasi ini tidak lain

adalah faham Zionisme dan Komunisme sebagai kedok yang membungkus

gurita busuk. Para pemilik modal internasional tidak bisa memukul Marsedan

secara terbuka. Banyak kawan Marsedan justru akan membuka rahasia lebih

luas lagi. Marsedan tetap bekerja pada harian The Morning Post sampai tahun

1927. Saat itu, golongan yang berpengaruh di Inggris yang menyadari bahaya

Yahudi internasional bisa membujuk pemerintah Inggris untuk mengangkat

Marsedan sebagai orang kepercayaan putra mahkota Inggris, Duke of Wales.

Waktu putra mahkota akan mengadakan lawatan panjang keliling wilayah

kerajaan Inggris, Marsedan diminta untuk mendampingi sang pangeran.

Sepulang dari lawatan itu, sang pangeran tidak lagi bergaya hidup mewah dan

boros, tapi berubah menjadi orang yang berpandangan jauh. Selama dalam

perjalanan, Marsedan sengaja menunjukkan semua dokumen dan bukti yang

ada padanya tentang seluk-beluk Konspirasi internasional, dan peran yang

dimainkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional dari balik layar.

Setelah beberapa saat pulang dari lawatannya berkeliling bersama sang

pangeran, Marsedan meninggal dunia secara mengejutkan. Ini jelas bukan

peristiwa kebetulan.


117


Di sisi lain, Setelah kembali dari perjalanannya, sang pangeran mengalihkan

pola hidupnya dari hidup pesta-pora dan bersenang-senang kepada hidup

serius untuk memanfaatkan peluang baik dalam memikirkan politik dan

ekonomi. Ia suka membaur dengan berbagai kalangan rakyat. Sang pangeran

telah meninggalkan adat kebiasaan turun temurun, yang melarang seorang

pangeran campur tangan dalam masalah umum. Ia menentang setiap langkah

politik yang telah ia ketahui berasal dari prakarsa para pemilik modal Yahudi.

Jelaslah kiranya, pangeran telah masuk ke dalam pertikaian melawan kekuatan

terselubung yang sedang memerintah Inggris. Hal ini benar-benar terjadi ketika

ia menaiki tahta kerajaan Inggris bulan Mei 1936 dengan gelar Raja Edward

VIII.

Para pemilik modal Yahudi internasional segera tahu, bahwa pertikaiannya

melawan raja baru Inggris itu adalah perang yang menentukan. Mereka tidak

mau membuang-buang kesempatan dalam penyerangannya kepada Raja

Edward VIII, sejak raja naik tahta. Mereka amat berpengalaman sejak berabad-

abad lamanya dalam menghadapi masalah seperti ini, dan banyak belajar

untuk mempersiapkan segalanya dalam rangka operasinya. Mereka mulai

menyerbu dengan propaganda gosip yang terkenal itu. Ini ternyata tidak

mudah. Sebab, Raja Edward diketahui hidup bersih sejak ia kembali dari

lawatannya itu. Namun mereka tidak kehilangan akal. Mereka segera

menemukan sasaran yang dicari pada diri wanita terkenal bernama Willy

Simpson. Ia adalah seorang janda jelita berkebangsaan Amerika, yang hendak

dikawin oleh Edward. Segeralah mesin propaganda besar-besaran diarahkan

kepada masalah ini untuk membentuk opini umum di Inggris menentang

wanita itu. Masalah ini menjadi isu paling hangat di Inggris, dan memaksa

Edward memilih salah satu alternatif, turun tahta atau kawin dengan Willy

Simpson. Edward diperingatkan oleh perdana menteri Inggris Mr. Boldwin

agar menentukan sikap. Akhirnya Edward memilih turun tahta, dan

melanjutkan pernikahannya dengan Willy Simpson.

Inggris mengalami masa peralihan baru sejak Edward VIII turun tahta.

Pertikaian terjadi antara para pemilik modal Yahudi internasional melawan

para pendukung mantan Raja Edward yang masih bertahan merintangi gerak-

gerik mereka. Para pemilik modal Yahudi internasional bertekad akan

mengalahkan para pendukung Edward, berapa pun harga yang harus dibayar,

demi menaikkan seorang pendukung Zionisme kawakan Winston Churchill ke

tampuk kekuasaan sebagai perdana menteri.

Kami pribadi (penulis) bertanya-tanya tentang sebab munculnya dokumen ini,

yaitu The Protocols of Learned Elderly of Zion, ketika ditemukan oleh profesor

Niloss setelah berapa di alam rahasia sejak tahun 1773, yaitu lebih dari satu

seperempat abad lamanya. Jawaban ini kemudian terungkap dalam analisa

kami mengenai periode itu yang punya arti lebih penting daripada yang

pernah mereka alami dalam sejarah mereka. Dunia telah dipersiapkan untuk

menerjuni Perang Dunia I, setelah semua jalan yang menuju perang itu terbuka


118


lebar. Mereka dituntut mengadakan pertemuan penting dalam rangka

menjajaki masalah perang itu dan rancangannya. Bukan hanya ini saja

keistimewaan periode tersebut. Di sana terdapat peristiwa demi peristiwa

berbahaya yang telah dipersiapkan oleh pihak Konspirasi secara serentak

terhadap umat manusia. Peristiwa itu belum pernah disaksikan dalam sejarah

dunia, yang menyebabkan para tokoh Konspirasi sendiri terpaksa berbondong-

bondong membanjiri kota London pada tahun 1893 dengan membawa serta

dokumen-dokumen, berbagai program dan hasil kajian penting mereka.

Berbagai pertemuan rahasia yang mereka adakan terus berlangsung di London

saat itu. Sebagian dokumen rahasia itu disimpan oleh para tokoh Konspirasi

yang berdiam di London, sampai mereka meninggal dunia dan setelah itu.

Pada waktu para tokoh The Grand Eastern Lodge mengadakan pertemuan di

Paris tahun 1901, salah seorang peserta kapitalis Yahudi membawa dokumen

itu ke London, langsung setelah pertemuan itu usai. Pada saat ia menginap di

rumah seorang wanita kaya kekasihnya, dokumen itu lenyap.

Peristiwa yang membuat kekuatan Konspirasi terpaksa mengadakan berbagai

pertemuan dimulai tahun 1896, ketika terjadi perang Boer yang berkobar di

Afrika Selatan. Para pemilik modal internasional berhasil menguasai tambang

emas di sana. Lalu disusul dengan sejumlah peristiwa pembunuhan terkenal

yang telah kita bicarakan terlebih dahulu. Di samping itu, di belahan bumi lain

terjadi pula perang antara Spanyol dan Amerika tahun 1896. Ada indikasi kuat,

bahwa Winston Churchill muncul pertama kali ketika terjadi perang Boer itu.

Saat itu ia bekerja sebagai koresponden perang di Afrika Selatan. Hubungannya

dengan Zionisme telah terjalin sejak masa mudanya, seperti diakuinya sendiri

pada tahun 1954. Churchill sangat bangga sebagai tokoh Zionis, dan bekerja

sesuai dengan program terselubung berjangka panjang, yang diawasi oleh

Zionisme internasional, yang bertujuan menguasai dunia.


119


IX. RAHASIA DI BALIK PERANG DUNIA II


(Sebuah Tinjauan Analitis Sejarah)

Setiap peristiwa yang terjadi di Inggris meninggalkan tanda tanya besar bagi

sekelompok kalangan dalam masyarakat Inggris, karena telah lama menyadari

bahaya yang mengancam negeri itu sesuai Perang Dunia I. Media massa yang

kebanyakan dikuasai oleh para pemilik modal internasional mampu menguasai

pendapat umum, dan jalan pemikiran, serta perasaan kelas menengah dan

bawah di Inggris. Lain halnya dengan kalangan intelektual dan golongan atas

lainnya. Mereka ini tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media massa.

Para pemuka Inggris yang berpikiran jernih makin merasakan adanya kekuatan

terselubung. Mereka ini mengatur dan mengendalikan peristiwa dari balik

layar, menciptakan tokoh-tokoh yang bisa dijadikan kaki-tangan, sesuai dengan

program teratur dan terarah, dan berjangka panjang. Peristiwa turunnya

Edward dari singgasana kerajaan Inggris, dan peristiwa yang melatarbelakangi

punya akibat tertentu, sesuai dengan rancangan yang telah digariskan. Para

tokoh terkemuka Inggris menyadari bahaya itu, dan tahu pula dari mana

datangnya bahaya itu. Mereka tahu secara pasti, bahwa para pemilik modal

Yahudi internasional adalah pihak yang membentuk kekuatan terselubung itu,

atau setidaknya yang mewakilinya. Jadi, merekalah yang bertanggungjawab

atas perjalanan sejarah yang terjadi di Eropa, atau bahkan di dunia pada

umumnya. Diyakini pula, bahwa Zionisme bukanlah sebuah organisasi politik

yang punya tujuan dan sasaran biasa. Zionisme adalah organisasi utama yang

melaksanakan program Konspirasi internasional secara umum.

Tokoh Inggris yang mengetahui hakikat dan seluk-beluk Konspirasi adalah

admiral Sir Barry Dumvell, seorang perwira yang pernah memegang jabatan

tinggi berkali-kali pada angkatan laut kerajaan Inggris selama 40 tahun

berturut-turut. la dikenal dengan kedahsyatannya dalam pasukan meriam

angkatan laut Inggris pada Perang Dunia I, dan juga seorang direktur Akademi

Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy Academy). Kemudian ia menjabat

sebagai kepala badan inteligen angkatan laut selama beberapa tahun. Tidak

diragukan lagi, data-data berbahaya yang ia peroleh selama melaksanakan

tugas inteligen itulah yang membuat ia mengetahui secara detail tentang apa

yang terjadi di balik layar. Apalagi ia sering mewakili pemerintahnya dalam

berbagai kesempatan, terutama dalam konferensi yang ada hubungannya

dengan keamanan laut. Adapun kolonel Ramsey adalah tokoh kedua yang

mengetahui seluk-beluk Konspirasi, setelah Sir Barry Dumvell. Ia seorang

alumnus Akademi Militer Saint Horse (Saint Horse Military Academy), dan

pernah mengabdi sebagai pasukan pengawal kerajaan Inggris (The Royal

British Guard) selama masa Perang Dunia I. Kemudian ia berpindah tugas

sebagai komandan angkatan laut kerajaan Inggris. Setelah terjun ke dunia

politik, ia terpilih sebagai anggota Majelis Umum (House of Common) pada


120


tahun 1931. Ia duduk dalam parlemen itu sampai tahun 1940, ketika ia

meninggalkan kehidupan politik.

Admiral Dumvell dan Ramsey keduanya merupakan orang terdepan dalam

barisan pasukan yang mengetahui hakikat bahaya yang datang dan para tokoh

Yahudi internasional, yang bergabung pada kelompok pemilik modal

internasional. Masalah ini menjadi perhatian khusus bagi mereka berdua sejak

tahun 1938. Mereka berdua menyampaikan peringatan kepada pemerintah

Inggris tentang hakikat bahaya itu. Keduanya mengetahui tujuan langsung

yang dijadikan sasaran pada waktu itu, yaitu menyalakan api perang yang

akan menyeret bangsa lain untuk saling menghantam. Seusai perang pasti akan

muncul kondisi baru yang penuh kecemasan dan kelelahan, yang

memungkinkan Konspirasi melangkah ke tahap berikutnya, yaitu mendirikan

negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Dari tempat inilah kegiatan

Konspirasi selanjutnya akan diatur untuk mengejar mimpi-mimpi gila mereka.

Kami pribadi (penulis) sampai tahun 1937-1938 belum merasa yakin tentang

tujuan akhir Konspirasi dan sejauh mana pengaruh mereka yang menyelusup

masuk ke dalam bangsa-bangsa di dunia. Setelah mempelajari catatan Dumvell

dan Ramsey yang berhubungan dengan masalah Yahudi sejak tahun 1939

sampai tahun 1950, kami meyakini semua itu, khususnya tentang kenyataan

yang mengerikan, dan hakikat apa yang disebut dengan penindasan terhadap

Yahudi. Semua itu memberikan image secara jelas mengenai propaganda

beracun yang menelanjangi mereka sendiri dari sifat kemanusiaan. Setiap

orang Yahudi dan para korban propaganda Komunisme dan atheisme wajib

menelaah ulasan berikut dengan pikiran jernih, agar selamat dan marabahaya.

Stalin mengadakan langkah pembersihan umum secara besar-besaran pada

tahun 1939 terhadap unsur-unsur Yahudi yang didalangi oleh jaringan

revolusioner terselubung. Setelah beberapa waktu berlalu diketahui, bahwa

mereka itu ternyata hanya menjadi kuda tunggangan belaka. Para tokoh

Konspirasi Yahudi internasional tidak memperdulikan untuk menjerumuskan

saudara-saudaranya sebangsa Yahudi sebagai tumbal. Bahkan mereka

memberikan bantuan besar-besaran kepada Stalin selama dalam perang. Dan

kami (penulis) adalah salah seorang yang memimpin pengawasan pengiriman

bantuan itu dari Eropa dan Amerika ke Rusia melewati teluk Arab. Mengenai

perang itu sendiri, para pemilik modal Yahudi internasional adalah pihak yang

mendalangi dan membiayainya. Para tokoh Yahudi mengklaim, bahwa mereka

meniupkan api perang itu untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari

kekejaman Nazisme. Demikian pula yang diklaim oleh sekutu mereka dalam

perang tersebut, termasuk di dalamnya Winston Churchill dan Roosevelt, serta

tokoh-tokoh dunia lainnya. Dengan demikian, pendapat yang beredar dan

yang terus diungkit-ungkit hingga kini adalah, bahwa Jerman di bawah Hitler

telah bertekad untuk memusnahkan orang Yahudi. Dan Perang Dunia II telah

menyelamatkan nasib mereka dari penderitaan yang mereka alami selama ini.

Akibatnya, orang Yahudi yang pada umumnya menganut faham Zionisme


121


bekerja untuk mencari dukungan dari bangsa Eropa dan Amerika terhadap

penindasan Hitler di masa lalu.

Siapakah gerangan orang-orang Yahudi yang tertindas itu?

Apa sebenarnya hakikat penindasan Hitler itu?

Dan apa hakikat Zionisme itu?

Kita perlu berhenti sejenak untuk meninjau secara analitis, sehingga kita akan

sampai pada titik yang bisa memberikan gambaran jelas. Sejarah telah berbicara

sendiri, bahwa Jerman pada masa Nazi memang memusuhi Yahudi, atau anti

semitisme menurut istilah orang Yahudi. Akan tetapi, permusuhan itu belum

sampai di luar batas Jerman. Memang benar mereka diperlakukan kejam oleh

Hitler dan para tokoh Nazi. Akan tetapi, orang Yahudi di luar perbatasan

Jerman tidak mendapat perlakuan keji dari Nazi. Bahkan orang Yahudi di

Eropa masih tetap bisa hidup dengan aman. Hanya sebagian kecil orang

Yahudi yang melarikan diri dari Jerman. Serbuan Hitler bersama pasukan

Nazinya ke wilayah Polandia terjadi pada bulan September 1939, disusul

dengan pecahnya Perang Dunia II. Keadaan orang-orang Yahudi berbalik sama

sekali. Perang tersebut membuat seluruh Eropa dalam cengkeraman Jerman

Hitler. Kebencian bangsa Jerman ditumpahkan kepada orang Yahudi di

Polandia, Belgia, Perancis, Belanda dan negara Eropa lainnya, yang sebelum

pecah perang mereka hidup aman. Perang itu sendiri direncanakan oleh para

tokoh Yahudi sejak berakhirnya Perang Dunia I. Sikap anti Yahudi bangsa

Jerman sebelum pecah Perang Dunia II sudah tampak dan terungkap dalam

bentuk kebencian, pemenjaraan dan pembuangan pada saat-saat tertentu.

Setelah pecah perang, sikap orang Yahudi di seluruh dunia menentang Jerman,

sedang kebencian bangsa Jerman terhadap Yahudi berubah menjadi tindakan

kejam. Jerman menganggap orang Yahudi sudah memihak kepada sekutu

musuh Jerman. Wajarlah kalau Jerman juga memerangi Yahudi, sehingga

tumbal perang bertambah banyak.

Bagi kita masalahnya bertambah jelas, bahwa para tokoh Yahudi internasional

lah yang mengatur kondisi buruk seperti itu. Contoh yang jelas adalah kondisi

di Polandia, yang karena perjanjian Versailles telah menimbulkan perselisihan

tajam antara Jerman dan Polandia tentang pemisahan Prusia Timur sebagai

wilayah Jerman yang dipersengketakan oleh Polandia. Prusia Timur dengan

Jerman dibatasi oleh terusan yang memanjang sampai di kota Danzig, sesuai

dengan perjanjian Versailles sebagai kota internasional. Propaganda yang

dilancarkan oleh para pemilik modal Yahudi internasional menghujani berita

palsu yang membentuk opini umum, bahwa Hitler telah bertekad

menyelesaikan kota Danzig dan terusan Polandia dengan jalan kekerasan.

Padahal masalahnya tidaklah demikian. Nota Hitler yang dikirim kepada

pemerintah Polandia bulan Maret 1939 menjelaskan, agar masalah itu bisa

diselesaikan dengan jalan damai. Usaha damai ini sudah berulang kali

ditempuh, namun tidak membawa hasil. Nota Hitler yang terakhir itu tidak

mendapat jawaban selama berbulan-bulan. Pemerintah Polandia berlagak tidak


122


tahu-menahu, yang membuat Hitler kehabisan kesabaran. Propaganda Yahudi

sendirilah yang mengipas-kipas untuk mendorong Hitler mengambil tindakan

militer terhadap Polandia. Dan terjadilah serbuan Nazi ke Polandia, September

1939.

Masalah yang menyebabkan Polandia bersikap tidak tahu-menahu tentang

nota Hitler itu ialah, karena adanya jaminan dari Inggris untuk membela

Polandia bila diserang oleh Jerman. Untuk ini, Polandia menandatangani

sebuah perjanjian dengan Inggris. Jaminan Inggris ini disahkan oleh

pemerintah Inggris atas desakan dan prakarsa para pemilik modal Yahudi

internasional dan kakitangannya. Mungkin ada anggapan, bahwa Inggris

sudah melaksanakan janjinya itu, ketika Inggris mengumumkan perang

terhadap Jerman, setelah Jerman menyerbu Polandia. Akan tetapi,

kenyataannya Inggris sendiri sangat lemah. Pemerintah Inggris sendiri

menyadari ketidakmampuannya untuk mengulurkan bantuan, baik dari laut,

udara atau pun darat. Jaminan Inggris kepada Polandia menyulitkan posisi

pemerintah Inggris sendiri. Di sisi lain, para pemilik modal Yahudi

internasional telah mengetahui lika-liku sebelumnya tentang apa yang akan

terjadi, dan mendesak Inggris untuk mengeluarkan jaminan, dan sekaligus juga

mendesak Polandia untuk memegang jaminan itu. Mereka juga mendorong

orang-orang Yahudi Polandia untuk mengadakan perlawanan sengit kepada

pasukan Jerman. Ketika Polandia dikejutkan oleh serbuan Nazi, dan ternyata

Inggris tidak mengulurkan bantuan apa pun, rakyat Polandia mengalami nasib

buruk. Jelaslah bagi kita akibat dari semua peristiwa itu. Para tokoh Yahudi

internasional telah merancang dan menyebabkan nasib bangsa mereka sendiri

di Polandia kepada pasukan Nazi. Mereka sebelumnya berhasil memaksa

Hitler membanting haluan untuk berpihak kepada Nazi ekstrem. Dan

kebencian Nazi ekstrem yang telah mendarah daging terhadap bangsa Yahudi

justru menambah keruh suasana di Jerman setelah Perang Dunia I. Ini satu

bukti lagi, bahwa para tokoh Yahudi internasional adalah dalang setiap

kejahatan internasional dengan program setan, yang bertujuan menguasai

dunia demi kepentingan mereka sendiri. Setiap orang Yahudi patut menyadari,

bahwa para tokoh mereka adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas

setiap peristiwa yang menimpa mereka dan bangsa lain di dunia. Para tokoh

Yahudi atau para sesepuh Zion (The Learned Elderly of Zion) atau kaum Nurani

tidak pernah menganut ajaran suatu agama mana pun, sampai kini. Mereka

tidak punya aqidah tertentu, kecuali 'aqidah' tamak dan gila turun-menurun,

yang selalu membuat onar dan bencana dalam mewujudkan impiannya.

Seandainya mereka benar-benar hendak membela orang Yahudi Polandia

seperti yang mereka klaim, niscaya mereka tidak akan menjerumuskan negara

itu ke dalam perang. Perang itu berarti orang Yahudi sendiri yang mendapat

perlakuan kejam dari pasukan Nazi.

Mengapa orang Yahudi yang konon tertindas, lewat organisasi Zionisme dan

jaringan-jaringannya berhasil masuk ke Amerika, Eropa dan Palestina? Orang

Yahudi kelas bawah sebenarnya hanya melaksanakan perintah dan program


123


para tokoh mereka sendiri. Mereka terkejut oleh perang yang berkecamuk,

karena mereka sebelumnya tidak menyangka. Para tokoh Yahudi, para agen

mereka, dan kaki-tangan mereka adalah orang-orang yang mengatur jaringan

Konspirasi di mana-mana dan mempersiapkan perang. Mereka inilah yang

sebenarnya menyelusup ke Eropa, Amerika dan Palestina. Mereka ini pula

yang datang kepada bangsa Barat dengan mengenakan 'pakaian hamil' dengan

mengaku menjadi mangsa perkosaan Hitler dan Nazismenya. Padahal, mereka

sendirilah yang sengaja merancang dan mengatur perkosaan itu. Mereka

datang atas nama Zionisme untuk membela apa yang dinamakan dengan

bangsa Yahudi. Kalau bangsa di dunia hendak membela orang Yahudi,

mestinya para sesepuh Yahudilah yang harus dibinasakan, untuk

menyelamatkan mereka dari kejahatan setan.


124


X. SISI GELAP POLITIK PERANG DUNIA II


Sudah kita bahas terdahulu, bahwa sekelompok tokoh terkemuka Inggris,

terutama Dumvell dan kolonel Ramsey menyampaikan peringatan kepada

pemerintah Inggris tentang bahaya Yahudi internasional. Ketika Chamberlain

menjadi perdana menteri Inggris, Dumvell dan Ramsey menjelaskan adanya

bahaya Yahudi, dan bahwa para pemilik modal Yahudi internasional adalah

pihak yang akan menyalakan api perang antara Inggris dan Jerman. Tujuan

yang hendak dicapai di balik perang itu juga dijelaskan. Mereka berdua

mencari bukti-bukti yang kuat untuk mendesak, agar Chamberlain mengambil

langkah yang tepat. Chamberlain akhirnya yakin akan adanya bahaya itu.

Pemerintahnya segera mengambil langkah dan sikap hati-hati dan waspada

dalam masalah internasional, dengan mengabaikan isyarat yang digerakkan

oleh para pemilik modal Yahudi internasional. Chamberlain tahu tentang

kebusukan perjanjian Versailles yang menjerat leher Jerman. Maka, ia akan

menyelesaikan masalah internasional yang timbul oleh adanya perjanjian

tersebut. Akibatnya, pihak kelompok pemilik modal internasional mulai

memandang Chamberlain dengan mata permusuhan dari hari ke hari. Mereka

bertekad untuk menyingkirkan Chamberlain dari kedudukannya.

Waktu krisis Swedia mencapai puncaknya karena invasi pasukan Nazi ke

negeri itu, yang sebelumnya Swedia telah digabungkan dengan Czekoslovakia

sesuai dengan perjanjian Versailles, Chamberlain enggan mengumumkan

perang terhadap Jerman. la lebih mengutamakan langkah damai dengan

mengusulkan diadakannya konferensi untuk membicarakan penyelesaian

damai mengenai krisis tersebut. Lebih-lebih setelah Dumvell dan Ramsey

membeberkan seluk-beluk kekuatan terselubung itu, ia lebih waspada

menghadapi para tokoh Yahudi. pihak Jerman sendiri setelah melihat isyarat

baik dari Inggris, Hitler melihat secercah harapan untuk menjalin hubungan

persahabatan dengan Inggris. Hitler masih tetap menuntut, agar semua beban

ketidakadilan perjanjian Versailles terhadap Jerman segera dicabut. Seluruh

akibat yang ditimbulkan oleh isi perjanjian itu harus diganti rugi. Pertemuan

yang diprakarsai Chamberlain ini diadakan di kota Munich (Munchen) Jerman.

Kemudian Chamberlain kembali ke Inggris dengan membawa berita besar

tentang perdamaian. Para pemilik modal Yahudi internasional melihat gelagat

yang tidak menyenangkan, yang akan menghalangi mereka disebabkan oleh

sikap Chamberlain. Mereka tidak akan berhasil menyalakan api Perang Dunia

II, kecuali apabila mereka bisa menyingkirkan jalan yang menuju perang itu.

Mereka juga menyadari, bahwa Chamberlain sedikit demi sedikit berbalik

memusuhi mereka. Untuk menghadapi Chamberlain, para pemilik modal

Yahudi internasional mengandalkan taktik efektif, seperti yang biasanya

mereka pakai dalam memukul musuhnya. Mereka memakai senjata media

massa dan propaganda besar-besaran yang mereka kuasai, termasuk surat

kabar, majalah dan siaran. Semuanya itu memusatkan serangan terhadap


125


Chamberlain, dengan melemparkan tuduhan sebagai antek dan kaki tangan

Hitler. Bahkan Chamberlain sempat dituduh sebagai agen Fasisme. Tuduhan

itu disebarluaskan sampai ke seluruh Eropa. Nama Chamberlain menjadi

identik dengan Fasisme. Sampai sekarang literatur internasional yang

membahas pembicaraan Chamberlain dan Hitler di Munich melukiskannya

sebagai tidak membawa hasil positif. Padahal, pertemuan itulah yang

mencegah pecahnya perang, dan menjaga perdamaian internasional.

Dalam rangka mengumpulkan bukti-bukti, Dumvell dan Ramsey menemukan

seorang yang bisa memberikan bantuan dalam melakukan usaha menghindari

perang, yaitu Tailor Kant, seorang perwira dari Amerika yang bertugas

menerima dan mengirim teleks kepada jaringan badan inteligen di kedutaan

Amerika di London. Tailor Kant dibantu oleh seorang wanita bernama Anna

Woofkov. Keduanya telah lama mengetahui data-data berbahaya yang terdapat

dalam dokumen rahasia yang sampai kepada kedutaan besar Amerika itu.

Mereka pun tahu, bahwa perang sudah sampai di ambang pintu, tanpa ada

yang menyadari. Akhirnya lubuk hati kedua orang itu berontak, ketika

mengetahui bahwa di belakang perang itu terdapat perancang dan pengatur

yang akan mendapat keuntungan sendiri. Mereka merupakan komplotan

internasional terselubung yang punya hubungan langsung dengan kalangan

pemilik modal Yahudi internasional. Mereka berdua mulai berpikir dalam-

dalam untuk menemukan cara yang bisa mencegah terjadinya perang itu.

Mereka mempelajari isi dokumen pertukaran informasi lewat antara Churchill

dan Presiden Roosevelt, yang jelas-jelas membuka kedok para tokoh Yahudi

internasional yang sebenarnya memegang kendali pemerintah Inggris dan

Amerika dari punggung Churchill dan Roosevelt sendiri.

Tailor Kant tahu, bahwa admiral Dumvell dan kolonel Ramsey sedang

berusaha memerangi tokoh-tokoh Yahudi internasional, serta menghindari

pecahnya perang. Akhirnya Taylor menemui kolonel Ramsey di rumahnya di

Gloster Square 47 London, dan minta agar Ramsey sudi menunjukkan

dokumen asli kepadanya. Setelah diperlihatkan, Taylor terkejut sekaligus lebih

yakin dan bisa lebih banyak membantu usaha pencegahan perang dengan

memperlihatkan dokumen itu kepada Chamberlain.

Sementara itu, di Jerman terjadi pertikaian intern antara Hitler dan para tokoh

Nazi berhaluan ekstrem, yang mewakili kalangan elit Jerman. Meskipun Hitler

telah berganti haluan dan memihak mereka sejak tahun 1936, namun dalam

benak Hitler masih terdapat keyakinan mengenai keharusan adanya

persahabatan dan perdamaian dengan Inggris dan Eropa. Hitler berharap agar

tuntutan Jerman berkenaan dengan perjanjian Versailles bisa dipenuhi,

khususnya pencabutan konsekuensi tersebut. Sedang para tokoh Nazi

berhaluan keras bertekad untuk mewujudkan supremasi ras Jerman dengan

menguasai Eropa dan dunia pada umumnya dengan kekuatan militer. Di sisi

lain, Hitler telah merasa puas setelah bertemu Chamberlain. Sebab perdana

menteri Inggris ini tahu benar seluk-beluk bahaya laten Yahudi internasional,


126


dan bertekad untuk tidak tunduk pada ketamakan para pemilik modal Yahudi

internasional. Itulah sebabnya, Hitler berusaha menghindari benturan dengan

Inggris, namun ternyata tidak mampu mencegah pecahnya perang. Ketegangan

politik terus meningkat oleh propaganda dan desas-desus santer yang tersebar

luas di Eropa, yaitu suatu taktik untuk membakar suasana. Di samping itu,

tekanan kelompok Nazi berhaluan keras di Jerman terhadap Hitler

menyebabkan meletusnya perang pada awal September 1939, ketika Jerman

menyerbu Polandia.

Hitler adalah tipe orang yang punya sifat tidak mundur dari pendiriannya,

kalau hal itu telah terlanjur diucapkan. Ketika mengumumkan perang kepada

Inggris dan sekutu, ia memandang bahwa satu-satunya penyelesaian adalah

dengan perang, meskipun ia masih ingin berdamai dengan Inggris. Namun ia

ingin mengenyahkan para pemilik modal internasional dengan satu pukulan

yang mematikan. Para tokoh Yahudi internasional menyadari, bahwa mereka

sedang mempertaruhkan nasib dalam sebuah permainan konspirasi terbesar

yang pernah mereka lakukan sepanjang sejarah. Untuk itu, mereka bertekad

menyalakan api perang lebih besar lagi, dengan menjadikan Nazisme sebagai

kekuatan yang mampu membakar api perang global, yang dalam perang itu

pasukan Nazi muncul sebagai salah satu super power. Sementara itu, mereka

mendapatkan Chamberlain sebagai batu penghalang di tengah jalan yang

mengganggu, sampai perang berkobar. Chamberlain diketahui punya niat

untuk secepatnya mengakhiri perang, dan mengadakan perdamaian, atau

menerima syarat yang diajukan oleh Hitler sebelumnya.

Pasukan Jerman menyerbu bagaikan angin topan dan menduduki Polandia,

lalu melalap Perancis dan Eropa Barat. Pasukan lapis baja Jerman yang

dilengkapi dengan tank jenis panser yang terkenal itu, mampu menumbangkan

pasukan Inggris, atau memaksa mereka menyerah dalam sekejap mata. Namun

saat itu tiba-tiba Hitler mengeluarkan perintah tertanggal 22 Mei 1940, agar

pasukannya berhenti menyerang. Perintah yang ditujukan kepada komandan

pasukan lapis baja Jerman, jenderal Von Klaist itu berbunyi sebagai berikut,

"Seluruh divisi lapis baja supaya menghentikan operasinya dengan mengambil

jarak yang cukup dari battery meriam kota Dankert, yang memungkinkan bisa

melakukan gerakan defensif atau berjaga-jaga". Sudah tentu, jenderal Von

Klaist sangat terkejut adanya perintah itu. Sebab, pasukannya ketika itu

mampu menghancurkan pasukan Inggris sama sekali kalau dikehendaki. Ia

lebih terkejut lagi ketika mendapat perintah yang kedua yang lebih

membingungkan lagi. Hitler memberi instruksi untuk menarik mundur

pasukannya ke belakang garis front pertempuran di dekat kota itu, setelah

pasukan lapis baja Jerman berhasil menyeberang masuk melewati garis

tersebut. Pasukan Jerman itu terpaksa berhenti selama tiga hari dalam keadaan

tidak menentu.


127


Dalam bukunya berjudul "Ujung Lembah yang Lain" (Another End of the Plain),

seorang kapten dalam pasukan Von Klaist bernama Liddle Hart menulis,

bahwa dua perwira tinggi jenderal Ronchidt dan Von Klaist menghadap Hitler

untuk menyampaikan protes atas instruksi Hitler yang membingungkan.

Namun kedua perwira itu lebih terkejut lagi setelah mendengar jawaban sang

Fuhrer yang menjelaskan, bahwa perintahnya itu bermaksud memberikan

kesempatan pasukan Inggris untuk menarik mundur pasukannya, tanpa

memerlukan jatuhnya korban, dan untuk menjaga wibawa angkatan bersenjata

Inggris yang telah dikenal oleh dunia itu. Hitler punya keyakinan, bahwa

kelestarian kerajaan Inggris masih sangat diperlukan. Di samping itu, Hitler

mengharapkan agar terbuka kesempatan untuk mengadakan pembicaraan

damai dengan Inggris, yang berarti akan mengakhiri perang melawan Inggris,

dengan syarat Inggris harus memenuhi tuntutan Jerman.

Ada bukti lain, bahwa angkatan udara Jerman menolak untuk melakukan

serangan udara selama bulan-bulan pertama perang itu, yaitu selama

Chamberlain masih menduduki tampuk kepemimpinan pemerintah Inggris.

Pasukan Inggris jugs menolak untuk menyerang kota-kota Jerman yang akan

membawa korban penduduk sipil. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang

dikeluarkan oleh Chamberlain tanggal 2 September 1939, tepatnya pada hari

pecahnya perang. Chamberlain berkata, bahwa pasukannya hanya akan

menyerang sasaran militer. Perang itu berlangsung hingga pasukan Inggris

ditarik mundur dalam kondisi lebih mirip damai daripada perang yang

sebenarnya, dari kota Dankert. Pasukan Jerman tidak mengadakan serbuan

lebih jauh masuk ke wilayah Inggris, kecuali melakukan manuver militer kecil-

kecilan. Situasi ini ditentang keras oleh tokoh-tokoh Nazi di Jerman, dan para

pemilik modal Yahudi internasional di Inggris. Setelah itu, seperti biasanya

media massa di Inggris menyerang Chamberlain dengan gencar, dibarengi

dengan tekanan berat terhadap pemerintahnya. Chamberlain terpaksa

meletakkan jabatan dalam kondisi seperti dialami oleh Asquith dan

pemerintahnya dalam Perang Dunia I. Kemudian digantikan oleh wajah yang

sama pernah menggantikan Lord Asquith sendiri, yaitu Winston Churchill

menduduki kursi perdana menteri tanggal 11 Mei 1940, langsung ia

mengeluarkan perintah kepada angkatan udara Inggris untuk mengadakan

serangan udara terhadap sasaran di kota-kota Jerman untuk pertama kalinya.

Inilah awal pengeboman atas kota-kota penduduk sipil di seluruh dunia.

Perkembangan seperti itulah yang ditunggu-tunggu oleh para tokoh Nazi

berhaluan keras. Ini berarti, mereka telah melihat saat yang tepat untuk

mengadakan penyerbuan besar-besaran ke arah Timur dan Barat. Lebih-lebih

setelah diketahui ternyata pasukan Nazi dengan mudah bisa merebut beberapa

kemenangan sebelumnya. Mereka segera mengadakan pertemuan puncak yang

dihadiri oleh eselon satu tokoh-tokoh Nazi untuk membahas perkembangan

yang terjadi. Mereka sepakat memanfaatkan politik Hitler yang condong

kepada Inggris untuk membentengi jalannya perang. Dengan segera mereka

mengutus orang kepercayaannya yang mewakili mereka ke Inggris untuk


128


mendesak, agar Inggris bersedia mengadakan perjanjian damai dengan Jerman.

Dengan demikian, kekuatan pasukan Jerman bisa difokuskan ke Uni Sovyet

dan menghancurkan Komunisme, kalau Inggris bersikap netral. Utusan yang

dikirim itu adalah Rudolf Heiss, yang saat itu dipandang sebagai tangan kanan

Hitler. Seluruh dunia dikejutkan oleh berita tentang pembelotan Rudolf Heiss

yang melarikan diri, dan minta suaka politik di Inggris. la melarikan diri

dengan pesawat tempur terbang ke London. Di antara orang yang paling

terkejut adalah Hitler sendiri. Ia tidak habis berfikir, kenapa orang

kepercayaannya sampai melarikan diri. Di Inggris, Rudolf Heiss mengadakan

pembicaraan penting dengan Churchill dan Lord Hamilton. Heiss

membeberkan gagasan dari sejumlah perwira tinggi Jerman yang ingin

mengadakan perdamaian dengan Inggris. Setelah itu, Hitler akan memutuskan

perhatian militernya untuk memerangi komunisme di Uni Sovyet. Churchill

ternyata menolak. Gejala ini juga menunjukkan, bahwa Hitler dan Heiss

sebenarnya menentang kelompok Nazi yang berhaluan keras. Dan benar juga,

kelompok Nazi berhaluan keras mendesak Hitler untuk segera menyerbu

Rusia, tanpa memperhitungkan terbukanya wilayah Jerman dari perlindungan

militer, apabila pasukan Jerman dikerahkan ke arah Rusia. Tidak ada jalan lain

bagi Hitler selain menyerah kepada kehendak mereka. Tepat tanggal 22 Juni

1941 pasukan Jerman menyerbu Rusia secara besar-besaran.

Perang global menjadi kenyataan setelah Presiden Amerika Roosevelt

mengumumkan perang kepada Jerman. Churchill muncul menjadi tokoh

sekutu terkemuka dan pemimpin kuat di Inggris. Langkah pertamanya ialah

mengadakan penangkapan terhadap semua lawan politiknya, dan

menjebloskan mereka ke penjara sampai batas yang tidak ditentukan tanpa

diadili. Sebagian tetap meringkuk dalam penjara, meskipun perang telah

selesai. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan yang dikenal dalam sejarah

Inggris. Bagi Churchill, orang yang memusuhi Yahudi internasional atau

Zionisme, dan orang yang mencoba menghalangi berlanjutnya perang adalah

musuhnya. Di antara orang yang ditahan adalah Dumvell dan kolonel Ramsey

beserta istri mereka, serta kawan-kawan dan para pendukung mereka. Faktor

yang menyebabkan bangsa Inggris tutup mulut adalah propaganda yang

tersebar luas, yang dikuasai oleh para pemilik modal Yahudi internasional.

Berita ini mengatakan, bahwa di Inggris terdapat perkumpulan terbesar kelima

yang berkolaborasi dengan Hitler, yang para anggotanya harus segera

diamankan. Kebohongan propaganda itu dibuktikan oleh hasil penyelidikan

mahkamah dan agen rahasia Inggris, bahwa tuduhan yang dilontarkan kepada

para tahanan mengenai kolaborasi mereka dengan Hitler adalah tidak benar.

Kekuatan terselubung juga mencoba melontarkan tuduhan yang sama kepada

Lady Nicholson, istri admiral Nicholson. Namun pengadilan Inggris kemudian

membebaskannya, setelah terbukti ia tidak bersalah. Churchill mengambil

tindakan lain dengan menahannya tanpa diajukan ke pengadilan, hanya karena

ia pernah menentang keterlibatan Inggris dalam perang. Semua perintah

penangkapan itu dikeluarkan oleh menteri dalam negeri pemerintah Churchill,


129


Herbert Morrison. Morrison ini tampil kembali dengan wajah aslinya pada

tahun 1954 di Kanada, ketika ia melakukan kegiatan pengumpulan dana

bantuan untuk gerakan Zionisme internasional. Dengan demikian, hubungan

Churchill dengan kelompok Yahudi internasional tampak makin jelas.

Ternyata, penjara bukanlah penghalang bagi suara lantang admiral Dumvell. Ia

terus tetap berusaha membeberkan seluk-beluk kekuatan terselubung itu.

Beberapa saat setelah keluar dari penjara, karya tulisnya segera beredar dengan

judul From Admiral to Young Marine (Dari Admiral menjadi Marinir Muda).

Dalam buku itu ia membuka rahasia peristiwa yang menyebabkan timbulnya

Perang Dunia II, dan mengingatkan bangsa Inggris akan adanya ancaman

bahaya Zionisme. Kolonel Ramsey juga tidak ketinggalan. la menulis buku

berjudul War without Name (Perang tanpa Nama). Anehnya kedua buku itu

segera lenyap dari peredaran. Diduga keras, kedua buku itu diborong oleh

kelompok Yahudi untuk dimusnahkan. Namun demikian, mata sebagian

bangsa Inggris dan Eropa sempat pula terbuka tentang hal-ikhwal rahasia

Zionisme.

Sedang mantan perdana menteri Inggris Chamberlain sangat terenyuh melihat

negerinya diseret ke pembantaian global, demi membela kepentingan

kelompok pemilik modal Yahudi internasional. Kepedihan Chamberlain

bertambah pahit oleh adanya propaganda yang memusatkan sasarannya

kepada dirinya, sampai akhir hayatnya. Bahkan dalam buku sejarah hingga kini

masih tertulis, bahwa Chamberlain adalah kaki tangan Hitler. Sementara itu,

Churchill ditulis sebagai pahlawan terbesar penuh dengan jasa bagi

kemanusiaan dan bintang kehormatan. Ia dianggap berjasa, karena telah

menghindarkan umat manusia dari malapetaka Nazisme. Sejarah telah menjadi

kumpulan kebohongan yang dibukukan.


130

Xl. DUNIA MASA KINI


Kita telah melemparkan jejak langkah Konspirasi internasional dalam sejarah

berabad-abad lamanya, sampai periode Perang Dunia II, yang lebih ganas

daripada Perang Dunia I. Kita masih bisa menyaksikan reruntuhan puing-

puing peninggalan perang tersebut. Atau minimal kita masih ingat kekacauan

dan kehancuran yang ditimbulkan. Saksi hidup masih banyak jumlahnya.

Perang itu selayaknya menjadi pelajaran bagi umat manusia. Segala

kemampuan perlu dihimpun untuk menghindari malapetaka yang timbul dari

perang yang tidak perlu terulang lagi. Jalan terbaik adalah bersikap waspada

terhadap setiap kekuatan setan, yang suka menimbulkan gejala kekacauan

dunia dari balik layar. Setiap krisis perekonomian dan kekacauan yang timbul

perlu diwaspadai siapa biang keladinya. Terulangnya sejarah pahit perlu

dicegah.

Sukar orang mengetahui ke mana dunia kita ini sedang berjalan. Kita hanya

bisa membandingkan antara masa lalu dengan fenomena masa kini, dengan

berpijak pada apa yang telah kita ketahui mengenai program-program besar

yang dicanangkan oleh konferensi Malta tahun 1943, dan 1946 oleh tiga tokoh

berpengaruh dunia, yaitu Churchill, Roosevelt dan Stalin. Peran Roosevelt

kemudian digantikan oleh Truman. Tidak banyak pihak yang tahu tentang

hakikat yang berhubungan dengan kesepakatan tinggi tokoh tersebut, kecuali

beberapa orang dalam kalangan atas saja, pihak umum sukar hendak

mengetahui, kecuali hanya melihat indikatornya lewat peristiwa yang terjadi

kemudian. Mereka merancang perjalanan yang sedang kita alami sekarang ini,

sebagaimana pengakuan Stalin dan Truman atas berdirinya negara Zionis di

tanah Palestina, sebelum negara lain mana pun memberikan pengakuannya.

Ketiga tokoh di atas sebenarnya bukan merupakan satu kesatuan. Stalin sendiri

telah berbalik kepada pihak pemilik modal internasional sejak sebelum perang,

dan memperkokoh kedudukan dengan langkah pembersihan terhadap lawan

politiknya, terutama para tokoh Komunis senior. Berbaliknya Stalin karena ada

tekanan berat dari para pemilik modal internasional, untuk bersama-sama

menghadapi musuh, yaitu Nazisme golongan aristokrat militer rasialis Jerman.


131


XII. SISI GELAP JATUHNYA BOM ATOM DI

HIROSHIMA DAN NAGASAKI


Para pemilik modal Yahudi internasional melihat tanda-tanda akan

berakhirnya Perang Dunia II. Negara yang terlibat di dalamnya telah lumpuh,

dan Stalin bertekad untuk mengadakan serbuan besar-besaran ke Eropa Barat

sendiri, dan akan menyerbu Amerika untuk menghancurkan musuh dan

memperluas sayap pengaruh Komunisme ke seluruh dunia. Para tokoh militer

dan sipil Amerika dan Eropa menyadari ancaman bahaya ini. Mereka

memandang, bahwa untuk menghalangi jejak langkah Stalin, pertama-tama

perang dengan Jepang harus di akhiri. Hal ini harus dibicarakan secara terbuka

dengan Stalin. Akan tetapi, penyelesaian seperti itu dikhawatirkan akan

merugikan pihak Konspirasi internasional. Akhirnya kekuatan terselubung ini

mengambil jalan pintas, untuk menunjukkan kekuatan Barat yang mengerikan

kepada Stalin, agar Stalin tidak berani mengadakan serbuan kepada Dunia

Barat. Pilihan mereka jatuh pada Jepang untuk dijadikan kambing tebusan atau

medan percobaan, tanpa memperhitungkan akibat dari senjata membinasakan

yang baru pertama kali akan muncul saat itu, yaitu bom atom.

Protes beberapa perwira tinggi Amerika tentang penyelesaian masalah dengan

cara barbar seperti itu untuk mencegah malapetaka tidak mendapat perhatian

sama sekali. Bernard Baruch dan para pemilik modal Yahudi internasional

telah berhasil menekan Presiden Roosevelt untuk menggunakan bom atom,

meskipun jenderal Mac Arthur dan para tokoh nasional lainnya menentang

penggunaan senjata itu. Maka tidak bisa dihindari lagi senjata jahanam itu

jatuh yang pertama kali di kota Hiroshima, dan bom kedua jatuh di kota

Nagasaki. Jepang segera menyerah kepada sekutu beberapa hari setelah

jatuhnya bom atom itu. Setelah itu, propaganda besar-besaran segera beredar

untuk memberikan justifikasi atas peristiwa biadab tersebut. Kekalahan Jepang

sebenarnya sudah tercium sebelum bom atom itu dijatuhkan Ini dikemukakan

oleh jenderal Mac Arthur sendiri, sebagai panglima tertinggi pasukan Amerika

Serikat di Timur Jauh. Hal yang sama juga diucapkan oleh para perwira tinggi

Amerika lainnya. Sumber inteligen yang lain menunjukkan adanya gejala,

bahwa Jepang sudah mencoba berkali-kali untuk menyerah, dan bersedia

memasuki meja perundingan damai, tetapi ditolak oleh pihak yang berniat

menjatuhkan bom atom tersebut.

Jatuhnya bom atom telah mengakhiri Perang Dunia II. Dunia terbelah menjadi

dua blok, yaitu Stalin dan dunia Barat, sesuai dengan perjanjian Teheran, Malta

dan Potsdam. Dalam perjanjian itu, dunia dibagi menjadi wilayah pengaruh

yang saling berhadapan, seperti yang terjadi akibat dari perjanjian Versailles.

Namun masalahnya tidak hanya berhenti di sini. Di samping itu ada

pembicaraan rahasia antara para wakil pemilik modal internasional dan Stalin

untuk mengungkapkan kondisi masing-masing pihak. Stalin saat itu sedang

berada pada akhir masa kekuasaannya. Kekuatan atheisme yang diwakili oleh


132


Komunisme belum tentu akan bisa terus berperan sebagai alat, setelah Stalin

meninggal dunia. Di sisi lain, sendi-sendi yang telah dimasuki oleh agen-agen

kekuatan terselubung bisa menjadi jalan mudah untuk menguasai negara itu

beserta satelit-satelitnya. Ada pun bahaya yang mungkin datang dari Stalin

sendiri terbatas pada masa usia Stalin yang telah lanjut tersebut. Maka harus

dihindari jangan sampai Stalin melangkah ke kebinasaannya sendiri, sekaligus

membinasakan harapan para pemilik modal internasional, di samping

kehancuran global.

Stalin menganggap Komunisme Cina yang dipimpin oleh Mao Tse Tung

sebagai sahabat alaminya, yang bisa membantu untuk mewujudkan ketamakan

hegemoni internasionalnya. Apa lagi Cina punya potensi sangat besar dengan

memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia. Demikianlah kepentingan kedua

belah pihak antara Stalin dan para pemilik modal internasional telah

bersekongkol terhadap musuh bersama mereka, yaitu pemerintahan nasional

Chiang Kai Sek yang berusaha membangun kembali negeri Cina, dan

membendung musuh yang datang dari dalam dan luar. Dengan terompet

propaganda internasional yang ditiup oleh Konspirasi terhadap pemerintah

Chiang Kai Sek, disertai dengan penyusupan kaki tangan asing ke dalam

jaringan politik, pemerintah berhasil menyingkirkan tokoh nasional tersebut.

Presiden Amerika sendiri, Truman telah bersikap membiarkan Cina jatuh ke

tangan Komunis. Pada saat yang sama Stalin memberikan dukungan dan dana

besar-besaran untuk kemenangan revolusi Komunis Cina.

Masalahnya berbeda dari situasi di mana-mana sebelumnya. Kesadaran

bangsa-bangsa tentang bahaya kekuatan terselubung makin meningkat di

berbagai negeri. Para tokoh internasional mulai memikirkan dan menyusun

barisan untuk membendung laju tipu daya Konspirasi internasional. Dengan

demikian, Konspirasi internasional akan mendapatkan kesulitan untuk

melakukan langkah provokatif dan agitatif seperti terhadap bangsa, lalu, yang

tidak berdaya menghadapinya. Maka berdirilah Perserikatan Bangsa-Bangsa

(United Nations) sebagai lembaga internasional untuk menyelesaikan masalah

yang dihadapi oleh dunia secara damai, dengan prinsip moral yang bisa

diterima. Sayangnya, kekuatan terselubung juga bisa menyelusup ke dalamnya,

sebagaimana yang biasa dilakukan di masa-masa sebelumnya. Sejak berdirinya,

PBB sering mengecewakan. Ini bisa dilihat dengan jelas tentang resolusi yang

dikeluarkan, yang justru sering mendapat tantangan dari negara anggotanya

sendiri, atau sering tidak mampu melaksanakan resolusi yang telah diputuskan

secara adil.

Masyarakat internasional seharusnya menyadari apa yang sedang berjalan di

PBB, dan segera berusaha menghentikan ulah kekuatan terselubung itu.

Sulitnya ialah, bahwa PBB itu bukanlah segalanya bagi Konspirasi

internasional. Timur Tengah, Timur Jauh, Amerika Latin dan negara-negara

blok Barat dan Timur telah menjadi kancah pertikaian regional, dan

dihadapkan kepada berbagai krisis yang tak terpecahkan. Untuk itu,


133


propaganda yang serba menyesatkan diarahkan kepada mereka, agar pola pikir

mereka dilayani oleh informasi yang keliru. Dunia kita saat ini sedang

menyaksikan perkembangan mendasar dan menyeluruh di seluruh dunia, yang

belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Gelombang kedzaliman dan

atheisme telah meluas sampai ke negara kecil mana pun di belahan bumi ini.

Kekuatan Konspirasi terus bermain dalam usahanya mengeksploitasi

kemiskinan dan pengalaman bangsa-bangsa kecil itu, yang akhirnya akan di

kuasai, baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Perubahan mendasar secara mencolok telah terjadi di Rusia sejak wafatnya

Stalin. Negara-negara bagian berusaha keras untuk melepaskan diri dari

cengkeraman Komunisme, setelah rahasia politik dan taktik kotor yang dipakai

Stalin terungkap oleh bangsa Rusia sendiri. Di Amerika pun terjadi

perkembangan untuk memahami masalah yang dihadapi oleh bangsa sedunia,

yaitu menghindari perang, memperbaiki kondisi politik Amerika, mencari jalan

penyelesaian tentang diskriminasi rasial, dan meningkatkan kewaspadaan

umum tentang bahaya Konspirasi internasional. Perkembangan itu masih terus

berlanjut dalam kehidupan bangsa Amerika.

Tidak diragukan lagi, dunia tengah bertanya-tanpa mengenai peran Konspirasi

dalam perkembangan yang bakal terjadi di masa mendatang. Kita pun yakin,

bahwa nasib hari esok bukanlah berada di tangan makhluk tertentu, melainkan

milik Tuhan sendiri. Kita perlu membandingkan masa lalu dan sekarang, lalu

menarik kesimpulan umum berdasarkan studi sejarah. Mungkin pada tahun-

tahun mendatang akan terungkap hakikat Konspirasi lewat berbagai peristiwa

yang terjadi. Kemungkinan besar berbagai peristiwa itu akan bisa mengalihkan

orientasi dunia yang sekarang sedang kita hadapi, dan hakikat Konspirasi tidak

lagi merupakan realitas asing bagi setiap orang, dan akan menunjukkan

sebagai kekuatan yang punya tujuan menghancurkan bangsa-bangsa, baik dari

dalam maupun dari luar. Kita harus berusaha menguasai mereka sedikit demi

sedikit secara ideologis, sosial dan ekonomis. Saat itu kekuatan Konspirasi akan

terang-terangan menghantam keyakinan agama samawi, di samping

menghancurkan para tokoh agama dan pembela moral yang berdiri tegak

menghadang jejak langkah Konspirasi.

Mudah-mudahan sajian buku ini menjadi peringatan tentang bahaya

Konspirasi Zionisme internasional yang tanpa henti melakukan

persekongkolan terhadap umat manusia di balik kedok yang bermacam-

macam. Informasi dan bukti-bukti yang disajikan buku ini telah membuka

rahasia tentang propaganda atheisme materialis atau faham yang sejalan

dengannya, di samping juga membeberkan para tokoh dan kaki tangan yang

dipakai untuk mengeruhkan situasi, dan merusak serta memerangi ajaran

agama samawi. Dunia harus menyadari, bahwa kekuatan terselubung sedang

mempersiapkan diri untuk menyalakan api Perang Dunia III. Perang ini

seandainya benar-benar terjadi akan merupakan malapetaka yang paling

dahsyat bagi umat manusia sepanjang sejarah, dan merupakan akhir tujuan


134


Konspirasi. Maka tidak ada kekuatan lagi yang berani melawannya, kecuali

kekuatan yang berlandaskan aqidah yang membaja.

Bangsa sedunia wajib memusatkan perhatian kepada bahaya yang mengancam.

Kita harus mewaspadai setiap gejala yang bisa menyeret dunia menuju

meletusnya Perang Dunia III. Kita harus punya sikap konsisten untuk

menentang siapa saja yang menimbulkan perang dan pergolakan.

Penyebarluasan propaganda atheisme harus dicegah dan ditangkal secara

frontal. Umat manusia harus ingat, bahwa kehancuran dan malapetaka adalah

akibat benturan-benturan yang menyulut perang dan pergolakan. Sedang

sejarah telah berbicara, bahwa satu-satunya pihak yang bertanggung jawab

adalah para pialang perang atau dengan kata lain, para tokoh Yahudi

internasional.

Penyunting

Khairullah Al-Thalfah

Sabtu, 01 Mei 2021

......... Perang Dunia I meletus pada tahun 1914. Selama 4 tahun dunia banjir darah oleh tumbal peperangan. Peristiwa ini belum pernah terjadi dalam sejarah panjang ummat manusia, meskipun akan disusul dengan pertumpahan darah yang lebih mengerikan, yaitu terjadinya Perang Dunia II tahun 1945. Apakah akan menyusul perang dunia III, yang pasti akan lebih mengerikan? Wallahu a'lam.>>>> .......... Sekuensi peristiwa demi peristiwa sejarah sendiri telah menjadi jawaban jelas, yang sebelumnya merupakan teka-teki besar yang terjadi awal abad ini, hingga pecah perang Dunia I. Secara ringkas peristiwa itu telah mengakibatkan hal-hal berikut : 1) Menghilangnya sejumlah pemimpin besar yang berkepribadian reformis dari arena percaturan politik Eropa. 2) Dampak kuat yang mewarnai opini umum di Eropa, sehingga menjalar ke seluruh dunia. Adapun peristiwa-peristiwa di atas adalah 1) Terbunuhnya Raja Austria tahun 1899. 2) Pembunuhan Omirito, Raja Italia tahun 1900. 3) Pembunuhan William McKinley, Presiden Amerika yang ke 25 tahun 1901, yang kemudian diganti oleh Theodore Roosevelt dengan bergelar Roosevelt I. 4) Pembunuhan Prince Sergey, paman Czar sendiri tahun. 1905. 5) Pembunuhan Raja Portugal dan putra mahkotanya tahun 1908. 6) Peristiwa demi peristiwa itu disusul kemudian dengan pembunuhan putra mahkota kerajaan Austria bersama permaisurinya di kota Sarajevo Yugoslavia tahun 1914. ........ >>>> Perdana Menteri Inggris pada saat meletusnya Perang Dunia I adalah Herbert Henry Asquith. Ia adalah seorang politikus Inggris moderat yang disegani, lantaran kebijakan politiknya yang ditujukan untuk kepentingan nasional kerajaan Inggris. Ia terkenal sebagai Perdana Menteri Inggris yang sangat memusuhi gerakan Zionisme. >>> ..... Oleh sebab itu, Konspirasi bertekad untuk menumbangkannya, dan menggantinya dengan pasangan tiga serangkai, terdiri dari tokoh-tokoh loyal kepada organisasi Zionisme. Mereka adalah David Lloyd George, Arthur Balfour dan Winston Churchill. ..... >>> Kemudian Asquith digantikan oleh pemerintahan tiga serangkai, yaitu Lloyd George sebagai perdana menteri, Balfour sebagai menteri luar negeri, dan Churchill sebagai menteri pertahanan. Data seperti di atas juga dialami oleh penulis buku ini (Admiral William Guy Karr), yang ia sendiri adalah salah satu agen rahasia Inggris berpangkat admiral yang memiliki pengalaman khusus dalam dunia rahasia. Ia mengatakan : "Aku pernah bertugas dalam berbagai operasi sebagai perwira agen rahasia selama perang Dunia I. Aku merasa berkewajiban untuk mengatakan hakikat yang sebenarnya tentang ekor peristiwa menyedihkan yang menimpa ketiga perwira angkatan bersenjata Inggris tadi. Aku sangat terkejut dan hampir tidak percaya, ketika aku mendapat sebuah laporan mengenai klub itu dan keterlibatan ketiga perwira tersebut dalam sebuah pertikaian tajam. Mereka bertiga telah dicantumkan dalam catatan militer Inggris, bahwa mereka bertiga telah terbunuh dalam sebuah operasi militer, sedang wanita Australia tadi bersama sopirnya ditangkap dan ditahan selama masa perang. Ia dikeluarkan setelah perang usai tanpa diajukan ke pengadilan, dengan dalih berdasarkan undang- undang darurat perang kerajaan. ..... >>> Anggota parlemen yang telah membeberkan rahasia skandal itu tiba-tiba menghilang dari arena politik tanpa meninggalkan alasan sedikit pun. Datanglah giliranku pribadi, setelah aku bisa mengetahui secara mendalam tentang rahasia itu. Aku ditugaskan oleh pemerintah Lloyd George dalam operasi militer di kapal selam. Dengan kata lain, aku dimutasikan dari dinas inteligen ke bidang persenjataan kapal selam pada jajaran angkatan laut Inggris. Selama operasi, kami kehilangan 33% perwira yang bertugas. Aku termasuk salah satu orang yang selamat, berkat keajaiban belaka." >>>>> Zionisme mencekik Inggris 1. Rahasia di balik masalah Palestina Setelah Asquith dan pemerintahannya jatuh, Konspirasi bisa menempatkan Tiga Serangkai Lloyd George, Balfour dan Churchill untuk memerintah Inggris. Berubahlah perimbangan kekuatan dunia. Amerika tiba-tiba melibatkan diri dan memihak Inggris dalam perang melawan Jerman pada pertengahan tahun 1917, tiga tahun setelah perang pecah selama masa itu masing-masing pihak dalam keadaan seimbang. Amerika sebenarnya tidak punya kepentingan apa- apa dalam perang ini, meskipun negara itu harus mengorbankan ribuan putra terbaiknya, dan mengeluarkan jutaan dolar. Publik opini Amerika menunjukkan, bahwa mayoritas penduduknya menolak keterlibatan negaranya dalam perang itu. ......>>> Sebenarnya bangsa Amerika masih memandang bangsa Eropa, khususnya Inggris, dengan mata kebencian dan kewaspadaan. Mereka belum bisa melupakan perang melawan penjajah Inggris itu. Akan tetapi, di sana ada faktor baru, yaitu gerakan Zionisme yang sepenuhnya mengendalikan pemerintah Inggris, dan juga pengaruhnya yang sangat kuat di Amerika. ........ >>>>>>> Deklarasi Balfour Kita kembali kepada masalah hubungan pertama antara Rothschild dan Balfour. Tanggal 18 Juli 1917 Lord Rothschild yang mewakili cabang Rothschild and Brothers menulis surat kepada Balfour yang isinya : "Sesuai dengan pernyataan yang anda minta, kami menulis surat ini kepada Anda. Kalau Anda sudah mendapat wewenang tertulis dari pemerintah baginda Raja yang berisi pemberitahuan tentang pernyataan yang kami maksudkan kepada pemerintah, dan Anda sendiri menyambut baik tentang pernyataan itu, kami akan menyampaikannya kepada persatuan Gerakan Zionisme dalam sebuah pertemuan yang akan diadakan khusus untuk membicarakan masalah itu." Ttd. Lord Rothschild Adapun bunyi teks pernyataan yang diminta oleh Lord Rothschild, yang telah disetujui oleh pemerintah kerajaan Inggris adalah yang kelak menjadi deklarasi Balfour, yang isinya : 1) Pemerintah kerajaan Inggris menyetujui prinsip mengenai berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di bumi Palestina. 2) Pemerintah kerajaan Inggris akan mengupayakan dengan segala kepastian yang dimilikinya untuk mendukung tercapainya tujuan ini. Pemerintah kerajaan Inggris juga akan membicarakan cara dan sarana yang dibutuhkan oleh organisasi Zionisme untuk mewujudkan tujuan tersebut. >>>>>> Demikianlah sikap pemerintah kerajaan Inggris di bawah Perdana Menteri Lloyd George, yang diwakili oleh menteri luar negerinya Arthur George Balfour, yang bertekuk lutut tanpa syarat kepada arsiteknya. Bahkan pemerintah Inggris tidak menawar sama sekali persyaratan yang diajukan oleh Lord Rothschild dan kawan-kawannya dari organisasi Zionis. Bukti lain yang menunjukkan adanya hubungan pemerintah Lloyd George dengan tokoh-tokoh Zionis adalah disetujuinya tuntutan mereka yang lain. Yaitu tuntutan untuk memilih Lord Reading sebagai kepala perutusan ekonomi Inggris di Amerika Serikat. Padahal, Lord Reading itu tidak lain adalah seorang Yahudi yang menyamar. Nama aslinya adalah Sir Roefoss Isac, yaitu orang yang tersangkut skandal Marcony yang terkenal itu, sebelum mendapat gelar Lord ...... >>> ........ Di bawah ini adalah kutipan beberapa kalimat dari sebuah surat yang dikirim oleh Yacob Sheiff, seorang tokoh Yahudi yang mewakili perusahaan Cohen-Lobe di New York kepada salah seorang pimpinan organisasi Zionisme bernama Freedman pada bulan September 1917 sebagai berikut : "Saya benar-benar yakin sekarang, bahwa jaminan yang diberikan oleh Inggris, Amerika dan Perancis kepada kita telah memungkinkan dimulainya imigrasi besar-besaran bagi bangsa kita ke tanah Palestina. Jalan akan terbuka kelak untuk menempatkan jaminan dari negara-negara besar mengenai kemerdekaan bangsa kita, yaitu ketika bangsa kita di sana telah mencapai jumlah yang cukup untuk bisa dijadikan alasan bagi tuntutan seperti itu." ..... >>>>>> ......... Pada tanggal 28 Januari 1915 Perdana Menteri Asquith menulis dalam buku hariannya beberapa baris catatan berikut : "Saya menerima catatan khusus dari Herbert Samuel dengan judul Masa Depan Palestina. Dia menyangka, bahwa kami mampu menempatkan sebanyak 3 sampai 4 juta bangsa Yahudi Eropa di bumi Palestina. Gagasan semacam ini bagi kami seperti kumpulan cerita mengenai perang salib baru. Saya menunjukkan kebencianku terus perang terhadap program dan gagasan yang akan menambah beban tanggungjawab kami ..... dan seterusnya." Catatan tersebut menunjukkan bukti kuat mengenai sikap Asquith terhadap Zionisme dan Konspirasi internasional. .....>>>

 

YAHUDI MENGGENGGAM DUNIA

(BAGIAN III)

WILLIAM G. CARR 

VI. RAHASIA DI BALIK PERANG DUNIA I


A. Persiapan Perang

Perang Dunia I meletus pada tahun 1914. Selama 4 tahun dunia banjir darah

oleh tumbal peperangan. Peristiwa ini belum pernah terjadi dalam sejarah

panjang ummat manusia, meskipun akan disusul dengan pertumpahan darah

yang lebih mengerikan, yaitu terjadinya Perang Dunia II tahun 1945. Apakah

akan menyusul perang dunia III, yang pasti akan lebih mengerikan? Wallahu

a'lam.

Tidak ada salahnya untuk menyinggung kembali peristiwa yang telah sama-

sama kita maklumi, yang akan mengawali terjadinya Perang Dunia I. Di sana

terjadi perlombaan senjata yang belum pernah disaksikan oleh dunia

sebelumnya. Senjata mematikan telah membanjiri negara di seluruh dunia.

Kegiatan ini tentu mendatangkan uang besar-besaran bagi para pialang perang.

Dunia terbelah menjadi berbagai persekutuan, yang saling menghadapkan

senjata yang mereka miliki satu sama lain. Siapa yang merancang? Tidak lain

mereka itu adalah para sesepuh Yahudi, atau jerat-jerat maut dari balik layar.

Kenyataannya mereka bisa menentukan suhu situasi dunia pada saat itu. Dari

uraian terdahulu kita bisa menyimak, bagaimana para sesepuh Yahudi

mempersiapkan diri untuk menyambut abad ke 20. Mereka telah

mempersiapkan pemerintah negara-negara Erpoa, aliran politik yang

dianutnya, dan angkatan bersenjatanya telah dipersiapkan untuk menimbulkan

terjadinya perang, atau minimal untuk menerima pemikiran tentang perang itu.

Setelah itu, di satu sisi para sesepuh Yahudi membentuk opini umum Eropa

dan dunia pada umumnya. Lalu di sisi lain, mereka menindas pemimpin yang

berani menghadang jalan yang sedang ditempuh oleh Konspirasi. Para tokoh

itu adalah para pembaharu yang berpegang pada undang-undang yang sah di

negaranya, dan memiliki wibawa yang memungkinkan mereka menghalangi

program yang telah dirancang oleh Konspirasi. Apalagi jika tokoh-tokoh itu

secara terbuka menyatakan perang terhadap mereka, dan tidak bisa

digoyahkan dengan propaganda yang menyesatkan. Tokoh-tokoh seperti itulah

yang merupakan ancaman bagi Konspirasi.

Kita akan menyajikan krisis politik yang besar, dan pertikaian sekitar wilayah

jajahan pada awal abad ini, yang membuat kita bingung. Dengan adanya krisis

tersebut, dunia terbelah menjadi berbagai kelompok persekutuan dan blok-blok

yang memporak-porandakan Eropa. Masing-masing pihak siap menyerang

lawannya, seperti yang telah ditulis secara rinci oleh sejarah umum, atau yang

diajarkan di sekolah. Di sini, kita akan mengungkap dari sisi lain, yaitu dari sisi

analitis.

Sekuensi peristiwa demi peristiwa sejarah sendiri telah menjadi jawaban jelas,

yang sebelumnya merupakan teka-teki besar yang terjadi awal abad ini, hingga


80


pecah perang Dunia I. Secara ringkas peristiwa itu telah mengakibatkan hal-hal

berikut :

1) Menghilangnya sejumlah pemimpin besar yang berkepribadian reformis

dari arena percaturan politik Eropa.

2) Dampak kuat yang mewarnai opini umum di Eropa, sehingga menjalar ke

seluruh dunia.

Adapun peristiwa-peristiwa di atas adalah

1) Terbunuhnya Raja Austria tahun 1899.

2) Pembunuhan Omirito, Raja Italia tahun 1900.

3) Pembunuhan William McKinley, Presiden Amerika yang ke 25 tahun 1901,

yang kemudian diganti oleh Theodore Roosevelt dengan bergelar Roosevelt

I.

4) Pembunuhan Prince Sergey, paman Czar sendiri tahun. 1905.

5) Pembunuhan Raja Portugal dan putra mahkotanya tahun 1908.

6) Peristiwa demi peristiwa itu disusul kemudian dengan pembunuhan putra

mahkota kerajaan Austria bersama permaisurinya di kota Sarajevo

Yugoslavia tahun 1914.

Rentetan peristiwa itu sebenarnya mengungkapkan hakikat peristiwa itu

sendiri. Di sini kita bisa menganalisa sepintas tentang peristiwa itu, dan

sekuensi waktu kejadiannya, yang jelas tercium berbau rancangan terselubung,

serta perbedaan lokasi kejadian peristiwa itu secara geografis. Kita tidak akan

ragu lagi, bahwa peristiwa itu bukan terjadi hanya karena faktor kebetulan. Di

sana terdapat ulah tangan-tangan dari balik layar, yang bisa dirasakan dengan

jelas di berbagai tempat.

B. Perang dan Layar Politik

Perdana Menteri Inggris pada saat meletusnya Perang Dunia I adalah Herbert

Henry Asquith. Ia adalah seorang politikus Inggris moderat yang disegani,

lantaran kebijakan politiknya yang ditujukan untuk kepentingan nasional

kerajaan Inggris. Ia terkenal sebagai Perdana Menteri Inggris yang sangat

memusuhi gerakan Zionisme. Oleh sebab itu, Konspirasi bertekad untuk

menumbangkannya, dan menggantinya dengan pasangan tiga serangkai,

terdiri dari tokoh-tokoh loyal kepada organisasi Zionisme. Mereka adalah

David Lloyd George, Arthur Balfour dan Winston Churchill. Namun untuk

menumbangkan pemerintahan Asquith ternyata tidak mudah. Inggris masih

berada dalam keadaan perang, sehingga tidak ada kesempatan yang tepat

untuk mengadakan manuver politik secara wajar. Di samping itu, mengganti

kabinet di saat perang akan menimbulkan benturan keras, dan mencemarkan

opini umum Inggris yang punya semboyan "Do not change your horse during the

war" (jangan mengganti kudamu di saat perang). pihak Konspirasi tidak hanya

bertujuan mengganti Asquith beserta pemerintahannya, melainkan mengganti

badan-badan terpenting dalam struktur negara secara menyeluruh. Ini berarti

menghancurkan struktur lama dan menggantinya dengan struktur baru.


81


Roda Konspirasi berputar pelan penuh kewaspadaan. Gerakan di bawah tanah

diberitahu untuk menghancurkan struktur pemerintahan dan sosial yang ada,

sesuai dengan program yang diinstruksikan oleh Kekuatan Terselubung.

Mereka merintis jalan untuk mengantar Churchill, Balfour dan Lloyd George

menduduki tampuk kekuasaan. Senjata yang mereka pakai adalah sama,

seperti yang dipakai dalam rancangan revolusi Perancis dan Rusia, yaitu

serangan propaganda yang luas, dan skandal gosip serta demoralisasi besar-

besaran. Rencana ini dilaksanakan dengan sangat hati-hati, sesaat setelah

pecahnya perang, agar tidak mengundang perhatian. Seorang agen Konspirasi

yang merupakan salah seorang milyuner Inggris menyewa gedung besar di

suatu daerah pinggiran London. Gedung ini dengan biaya besar diubah

menjadi sebuah klub mewah dan megah yang menimbulkan kesan aristokratik.

Penanggungjawab klub tersebut bisa meyakinkan para pejabat kerajaan, bahwa

klub itu didirikan dengan tujuan mengungkapkan salah satu bentuk

patriotisme, dan sebagai penghargaan yang dipersembahkan kepada para

perwira angkatan bersenjata dari medan tempur, ketika mereka datang ke

London untuk berlibur dan beristirahat. Pemerintah tidak segan lagi memberi

dukungan dan fasilitas atas usaha 'mulia' seperti itu. Akan tetapi, dibalik itu

semua, yang semula dikatakan bahwa anggota klub hanyalah para perwira

tinggi, berkembang menjadi terbatas pada orang-orang penting dengan lebih

dulu disumpah dan diketahui identitas pribadinya, sebagai syarat untuk

menjadi anggota.

Adapun kehidupan yang beredar dalam klub berkisar pada masalah minuman

keras, wanita dan perjudian dengan segala bentuk kemaksiatan bagi kalangan

atas masyarakat Inggris. Para pengelola klub berhasil menjaring sejumlah besar

wanita dan gadis-gadis kelas atas ke dalam klub dengan berbagai cara. Pada

suatu senja di bulan November 1916 terjadi suatu peristiwa yang unik. Seorang

menteri pemerintah Inggris mendapat surat yang isinya memohon, agar ia

berkenan menghadiri sebuah acara yang akan diadakan oleh klub itu. Sang

menteri memenuhi undangan itu dengan mobil khusus. Sopirnya disuruh

menunggu di luar. Seorang penyambut mengantarnya masuk ke dalam, dan

tibalah ia di sebuah ruangan remang-remang. Ia ditinggal sendirian oleh

penyambutnya. Sesaat kemudian datanglah seorang wanita muda dengan

busana sangat minim yang segera menggandeng sang menteri. Betapa terkejut

wanita itu setelah tahu, bahwa yang digandeng itu adalah suaminya sendiri.

Sementara itu, sang menteri juga sangat terkejut dan marah bukan kepalang.

Seorang pengawas klub segera mendatangi sang menteri dan memperlihatkan

daftar hitam mengenai istrinya, bahwa istrinya telah lama bergabung dalam

klub itu. Sang istri pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berusaha menutupi

aib keluarganya dengan meninggalkan tempat itu dengan penuh kecewa. Sang

menteri baru menyadari, bahwa klub itu tidak lain adalah perangkap yang

sengaja dipasang oleh kekuatan terselubung. Daftar hitam itu adalah kumpulan

data milik klub dari anggota pria maupun wanita, usaha terselubung dari

Konspirasi. Tidak jarang hal-hal semacam itu sengaja diangkat dalam media


82


massa, disertai komentar provokatif, sehingga opini umum segera menyebar

luas mengenai kebobrokan kalangan atas di pemerintahan. Sementara itu

Inggris masih terlibat dalam perang besar yang mengorbankan ribuan putra-

putranya.

Pada bulan November 1916 seorang anggota parlemen mengucapkan pidato

dengan mengecam keras dan terbuka masalah klub ini. Ia menuntut agar

pemerintah segera mengambil langkah penyelidikan secara tuntas. Ia mendapat

informasi lengkap tentang kegiatan klub itu dari tiga orang perwira angkatan

darat Inggris, yang sebelumnya pernah mendukung berdirinya klub itu, setelah

mempertimbangkan tujuan baik yang tercantum dalam proposal. Ketiga

perwira tergiur dan akhirnya terperangkap di dalamnya tanpa sadar. Data-data

mengenai belang mereka telah tercatat oleh para pengawas klub. pihak klub

juga berusaha menggali informasi tentang rahasia militer dari ketiga perwira

dengan cara pemerasan. Namun mereka bertiga tetap tidak menyerah setelah

yakin, bahwa klub itu merupakan sarang mata-mata musuh. Selain itu, ketiga

perwira tersebut juga memberitahukan kepada anggota parlemen itu, bahwa di

sana terdapat seorang wanita terkenal dari Australia yang tidak disebutkan

namanya, beserta seorang sopir dari London, sejumlah istri dan gadis-gadis

anak beberapa tokoh politik dan pemerintah, yang terlibat sebagai anggota

klub. pihak pemerintah tidak segera bisa menjernihkan masalah, karena negara

dalam keadaan perang. Apalagi beberapa catatan hitam telah sempat bocor ke

dalam parlemen, dan beberapa surat kabar telah memuat berita hangat tentang

skandal yang melibatkan beberapa tokoh politik, sehingga membentuk opini

umum yang luas. Tidak lama kemudian media massa yang dikuasai oleh

Konspirasi mulai menyerang pemerintah Asquith dan berbagai

kementeriannya, dengan memuat nama mereka yang dilingkari dengan tanda

tanya besar mengarah kepada tuduhan. Pribadi Asquith pun tidak luput dari

serangan tuduhan. Ia dituduh punya hubungan lama dengan beberapa

penguasa Jerman, pada masa sebelum perang, di samping memberi dukungan

kepada Kaisar Jerman Guillaume. Sementara itu, gerakan bawah tanah

menyebar data-data dan dokumen dari daftar hitam tentang kebejatan moral

para tokoh politik dan pemerintahan Asquith yang telah terjaring dalam klub.

Tujuannya tentu saja untuk membentuk opini umum, persis seperti yang terjadi

menjelang revolusi Perancis. Posisi Asquith dan pemerintahannya makin

terjepit. Tak ada jalan lain baginya, kecuali mengundurkan diri bersama

pemerintahan kabinetnya hanya sebulan berselang, setelah berita skandal

moral diangkat ke atas permukaan, tepatnya pada bulan Desember 1916.

Kemudian Asquith digantikan oleh pemerintahan tiga serangkai, yaitu Lloyd

George sebagai perdana menteri, Balfour sebagai menteri luar negeri, dan

Churchill sebagai menteri pertahanan.

Data seperti di atas juga dialami oleh penulis buku ini (Admiral William Guy

Karr), yang ia sendiri adalah salah satu agen rahasia Inggris berpangkat

admiral yang memiliki pengalaman khusus dalam dunia rahasia. Ia

mengatakan :


83


"Aku pernah bertugas dalam berbagai operasi sebagai perwira agen rahasia

selama perang Dunia I. Aku merasa berkewajiban untuk mengatakan hakikat

yang sebenarnya tentang ekor peristiwa menyedihkan yang menimpa ketiga

perwira angkatan bersenjata Inggris tadi. Aku sangat terkejut dan hampir tidak

percaya, ketika aku mendapat sebuah laporan mengenai klub itu dan keterlibatan

ketiga perwira tersebut dalam sebuah pertikaian tajam. Mereka bertiga telah

dicantumkan dalam catatan militer Inggris, bahwa mereka bertiga telah

terbunuh dalam sebuah operasi militer, sedang wanita Australia tadi bersama

sopirnya ditangkap dan ditahan selama masa perang. Ia dikeluarkan setelah

perang usai tanpa diajukan ke pengadilan, dengan dalih berdasarkan undang-

undang darurat perang kerajaan. Anggota parlemen yang telah membeberkan

rahasia skandal itu tiba-tiba menghilang dari arena politik tanpa meninggalkan

alasan sedikit pun. Datanglah giliranku pribadi, setelah aku bisa mengetahui

secara mendalam tentang rahasia itu. Aku ditugaskan oleh pemerintah Lloyd

George dalam operasi militer di kapal selam. Dengan kata lain, aku dimutasikan

dari dinas inteligen ke bidang persenjataan kapal selam pada jajaran angkatan

laut Inggris. Selama operasi, kami kehilangan 33% perwira yang bertugas. Aku

termasuk salah satu orang yang selamat, berkat keajaiban belaka."

Dari pengalaman penulis buku ini sendiri tampak jelas, bagaimana kebijakan

yang ditempuh oleh pemerintahan tiga serangkai di Inggris waktu itu, dalam

usahanya membunuh orang-orang yang dianggap membahayakan kepentingan

kekuasaan terselubung. Sedang kaki-tangan mereka diselamatkan dengan cara

seolah-olah dipenjarakan, untuk mengelabui masyarakat umum, seperti nasib

wanita Australia dan sopirnya itu. Ada dalang yang memainkan wayang tiga

serangkai dari balik layar.

C. Zionisme mencekik Inggris

1. Rahasia di balik masalah Palestina

Setelah Asquith dan pemerintahannya jatuh, Konspirasi bisa menempatkan

Tiga Serangkai Lloyd George, Balfour dan Churchill untuk memerintah Inggris.

Berubahlah perimbangan kekuatan dunia. Amerika tiba-tiba melibatkan diri

dan memihak Inggris dalam perang melawan Jerman pada pertengahan tahun

1917, tiga tahun setelah perang pecah selama masa itu masing-masing pihak

dalam keadaan seimbang. Amerika sebenarnya tidak punya kepentingan apa-

apa dalam perang ini, meskipun negara itu harus mengorbankan ribuan putra

terbaiknya, dan mengeluarkan jutaan dolar. Publik opini Amerika

menunjukkan, bahwa mayoritas penduduknya menolak keterlibatan negaranya

dalam perang itu. Sebenarnya bangsa Amerika masih memandang bangsa

Eropa, khususnya Inggris, dengan mata kebencian dan kewaspadaan. Mereka

belum bisa melupakan perang melawan penjajah Inggris itu. Akan tetapi, di

sana ada faktor baru, yaitu gerakan Zionisme yang sepenuhnya mengendalikan

pemerintah Inggris, dan juga pengaruhnya yang sangat kuat di Amerika. Maka

opini publik Amerika bukanlah satu-satunya pertimbangan yang menentukan


84


kebijakan pemerintahnya. Faktor baru itu didukung oleh adanya berbagai

bentuk hubungan yang dilakukan dari balik layar. Dan yang paling menonjol

adalah hubungan Rothschild dengan menteri luar negeri Inggris Arthur

George Balfour, dan hubungan Balfour bersama Lord Reading dari satu sisi dan

dari sisi lain dengan perusahaan Cohen-Lobe di New York, yang mewakili

kelompok pemilik modal internasional di Amerika. Hubungan terakhir

dilakukan secara resmi, ketika pemerintah Inggris mengutus menteri luar

negerinya Balfour pada 5 April 1917, untuk mengadakan pertemuan dengan

kelompok Cohen-Lobe beserta para wakil perusahaan monopoli yang

tergabung dalam Cohen-Lobe itu. Balfour menyampaikan secara resmi atas

nama pemerintahnya, bahwa pemerintah Inggris akan mendukung proyek

yang mengacu pada terwujudnya Zionisme politik, sebagai imbalan atas

kesediaan mereka mendukung keterlibatan Amerika ke dalam perang memihak

Inggris. Demikianlah kedua belah pihak telah sepakat dan kemudian benar-

benar melaksanakan. Tepat pada tanggal 7 Juni 1917 pasukan Amerika pertama

tiba di Eropa. Sedang Inggris sesuai dengan perjanjian tersebut melaksanakan

langkah bagi terwujudnya Zionisme politik.

2. Deklarasi Balfour

Kita kembali kepada masalah hubungan pertama antara Rothschild dan

Balfour. Tanggal 18 Juli 1917 Lord Rothschild yang mewakili cabang

Rothschild and Brothers menulis surat kepada Balfour yang isinya :

"Sesuai dengan pernyataan yang anda minta, kami menulis surat ini kepada

Anda. Kalau Anda sudah mendapat wewenang tertulis dari pemerintah

baginda Raja yang berisi pemberitahuan tentang pernyataan yang kami

maksudkan kepada pemerintah, dan Anda sendiri menyambut baik tentang

pernyataan itu, kami akan menyampaikannya kepada persatuan Gerakan

Zionisme dalam sebuah pertemuan yang akan diadakan khusus untuk

membicarakan masalah itu."

Ttd.

Lord Rothschild

Adapun bunyi teks pernyataan yang diminta oleh Lord Rothschild, yang telah

disetujui oleh pemerintah kerajaan Inggris adalah yang kelak menjadi deklarasi

Balfour, yang isinya :

1) Pemerintah kerajaan Inggris menyetujui prinsip mengenai berdirinya

sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di bumi Palestina.

2) Pemerintah kerajaan Inggris akan mengupayakan dengan segala

kepastian yang dimilikinya untuk mendukung tercapainya tujuan ini.

Pemerintah kerajaan Inggris juga akan membicarakan cara dan sarana

yang dibutuhkan oleh organisasi Zionisme untuk mewujudkan tujuan

tersebut.


85


Demikianlah sikap pemerintah kerajaan Inggris di bawah Perdana Menteri

Lloyd George, yang diwakili oleh menteri luar negerinya Arthur George

Balfour, yang bertekuk lutut tanpa syarat kepada arsiteknya. Bahkan

pemerintah Inggris tidak menawar sama sekali persyaratan yang diajukan oleh

Lord Rothschild dan kawan-kawannya dari organisasi Zionis. Bukti lain yang

menunjukkan adanya hubungan pemerintah Lloyd George dengan tokoh-tokoh

Zionis adalah disetujuinya tuntutan mereka yang lain. Yaitu tuntutan untuk

memilih Lord Reading sebagai kepala perutusan ekonomi Inggris di Amerika

Serikat. Padahal, Lord Reading itu tidak lain adalah seorang Yahudi yang

menyamar. Nama aslinya adalah Sir Roefoss Isac, yaitu orang yang tersangkut

skandal Marcony yang terkenal itu, sebelum mendapat gelar Lord. Pemerintah

Inggris memberi gelar itu kepadanya dengan maksud, agar skandal yang telah

menjatuhkan namanya itu akan terkubur dalam ingatan orang. Dan pemerintah

Inggris terpaksa memilihnya untuk menduduki posisi rawan itu, karena

desakan dari Lord Rothschild dan kawannya seperti Sir Herbert Samuel, yang

kelak menjadi komisioner tertinggi Inggris di Palestina, dan Sir Alfred Mond,

yang kelak juga mendapat gelar Lord.

Sementara itu, Lord Reading telah mengadakan pembicaraan rahasia dengan

pemerintah Amerika Serikat mengenai masalah keuangan, yang tidak seorang

pun bisa mengungkap. Hasil dari pembicaraan itu baru bisa dilihat dari

tinjauan kembali tentang struktur Bank Inggris, berdasarkan sistem baru

setelah tahun 1919, yang kemudian muncul hubungan keuangan besar-besaran

antara kedua negara. Di bawah ini adalah kutipan beberapa kalimat dari

sebuah surat yang dikirim oleh Yacob Sheiff, seorang tokoh Yahudi yang

mewakili perusahaan Cohen-Lobe di New York kepada salah seorang

pimpinan organisasi Zionisme bernama Freedman pada bulan September 1917

sebagai berikut :

"Saya benar-benar yakin sekarang, bahwa jaminan yang diberikan oleh Inggris,

Amerika dan Perancis kepada kita telah memungkinkan dimulainya imigrasi

besar-besaran bagi bangsa kita ke tanah Palestina. Jalan akan terbuka kelak

untuk menempatkan jaminan dari negara-negara besar mengenai kemerdekaan

bangsa kita, yaitu ketika bangsa kita di sana telah mencapai jumlah yang cukup

untuk bisa dijadikan alasan bagi tuntutan seperti itu."

Bukti-bukti seperti itu rasanya cukup jelas untuk membuka tirai yang

menutupi, siapa sebenarnya Kekuatan Terselubung yang menguasai perjalanan

sejarah bangsa-bangsa dari balik layar. Itu memperjelas, bahwa Zionisme

bukanlah suatu gerakan yang lahir dari 'rahim kebetulan.' Ia merupakan anak

dari sebuah program jangka panjang, yang dibentuk oleh perkumpulan pemilik

modal internasional dengan tujuan menguasai seluruh dunia dengan

kekayaannya. Berikut ini diketengahkan beberapa data lain yang bisa

melengkapi bukti-bukti yang lalu, yang bisa dijadikan bahan tambahan untuk

meneropong beberapa sisi misterius dari pengaruh Kekuatan Terselubung dan

Zionisme di Inggris.


86


Pada tanggal 28 Januari 1915 Perdana Menteri Asquith menulis dalam buku

hariannya beberapa baris catatan berikut :

"Saya menerima catatan khusus dari Herbert Samuel dengan judul Masa Depan

Palestina. Dia menyangka, bahwa kami mampu menempatkan sebanyak 3

sampai 4 juta bangsa Yahudi Eropa di bumi Palestina. Gagasan semacam ini

bagi kami seperti kumpulan cerita mengenai perang salib baru. Saya

menunjukkan kebencianku terus perang terhadap program dan gagasan yang

akan menambah beban tanggungjawab kami ..... dan seterusnya."

Catatan tersebut menunjukkan bukti kuat mengenai sikap Asquith terhadap

Zionisme dan Konspirasi internasional. Tidak bisa diragukan lagi, bahwa sikap

benci Asquith dan pemerintahannya menyebabkan pihak Konspirasi

mengambil langkah-langkah baru untuk menumbangkan Asquith. Bahkan juga

akan mendongkel sistem pemerintahan Inggris yang ada pada saat itu.

Memang benar, bahwa para pemilik modal sejak lama telah menguasai

beberapa pabrik senjata di Inggris. Pada saat para perancang program

Konspirasi mengumumkan perang terhadap Asquith yang menentang

Zionisme, Inggris tiba-tiba dihadapkan pada krisis dahsyat di bidang produksi

kimia sebagai bahan dasar bagi industri senjata perang dan amunisi. Direktur

produksi bahan kimia di Inggris ketika itu adalah seorang Yahudi bernama Sir

Frederick Nathan. Ia memberikan tender bahan-bahan kimia kepada

perusahaan Browner-Mond dengan kredit besar dari pemerintah sebagai

bantuan. Sedang pemilik perusahaan itu tidak lain adalah dua orang

pengusaha Yahudi terkenal, yaitu Browner dan Mond itu sendiri yang diambil

sebagai nama perusahaannya. Kemudian perusahaan itu membangun pabrik

kimia raksasa di kota Silvertown dengan biaya dari bantuan kredit pemerintah

itu. Ketika pabrik ini mulai memproduksi bahan-bahan kimia, kebutuhan

bahan kimia pemerintah segera bisa diatasi. Pada saat itu media massa yang

kebanyakan telah dikuasai oleh Konspirasi segera menyanjung keberhasilan

Browner dan Mond sebagai patriot yang dibanggakan Inggris. Pada saat negara

sedang dikepung oleh ancaman krisis persenjataan, mereka tampil sebagai juru

selamat. Sedang kecaman pedas dibebankan kepada pemerintah. Tidak lama

kemudian, setelah proyek Silvertown beroperasi, terjadi ledakan dahsyat yang

menghancurkan pabrik tersebut beserta 800 rumah di sekitarnya. Akibatnya,

produksi bahan kimia macet dan kembali pula krisis mengancam pemerintahan

Asquith. Sedang para pahlawan palsu beserta para perancangnya telah selamat

dari kecaman, dan mendapat sanjungan serta pujian.

Sebagai penutup perlu kita ingatkan, bahwa Mond yang bergelar Sir Alfred

Mond itu, yang kemudian menjabat pengawas produksi bahan kimia Inggris,

di samping sebagai wakil pemerintah dalam produksi persenjataan di kerajaan

itu adalah kelak menjadi kepala perwakilan Yahudi di Palestina.

Telah kita ketengahkan peristiwa yang terjadi berturut-turut, hingga jatuhnya

pemerintahan Asquith, yang kemudian digantikan oleh pemerintahan tiga

serangkai, yaitu Lloyd George, Balfour dan Churchill. Kemudian menyusul


87


berbaliknya perimbangan kekuatan dalam Perang Dunia I, setelah Balfour

mengadakan kunjungan ke New York untuk menghubungi para pemilik modal

internasional. Mungkin timbul pertanyaan di benak kita mengenai sebab yang

memaksa menteri luar negeri Inggris harus pergi ke New York untuk

menghubungi mereka. Padahal, kelompok Rothschild punya pusat kegiatan di

London, sebagaimana beberapa kali telah kita singgung. Untuk menjawab

pertanyaan seperti itu, kita bisa melihat Encyclopedia Yahudi mengenai

gerakan Zionisme sebagai berikut :

"Perang Dunia I telah memaksa pusat organisasi Zionisme di Berlin berpindah

ke New York. Seluruh kekuasaan dan wewenang diserahkan kepada Komite

Darurat Zionisme di bawah pimpinan seorang jaksa agung Amerika L.B.

Brandes." Dalam kaitan ini, seorang penulis berkebangsaan Inggris mengatakan

dalam bukunya berjudul Waters Flowing to the East halaman 51 :

"Sejak itu, yaitu perpindahan pusat Zionisme dari Berlin ke Amerika,

pengaruhnya tampak makin bertambah besar dalam kehidupan politik di

Amerika dan Eropa. Perwakilan imigrasi Yahudi telah berubah menjadi

kekuatan yang mampu mengirimkan dana dan informasi penting kepada

kelompok sabotase di setiap negeri di dunia." Kemudian seorang pengamat

Amerika dalam bidang peperangan M. Harrisburger menambahkan dalam

bukunya My Experiences in the First World War halaman 145-146 :

"Perusahaan milik orang Yahudi, Eliyans telah mentransfer uang sebesar

700.000 Franc Perancis pada 16 Maret 1916 kepada The Grand Eastern Lodge

di Paris, dan kepada The Grand Eastern Lodge di Roma sebesar 1 juta Lira Italia

pada tanggal 18 Maret tahun yang sama. Hal ini telah tercatat dalam dokumen

perkumpulan itu. Tidaklah keliru, kalau kita meragukan, bahwa uang sebesar

itu hanya untuk dibagikan kepada orang-orang Yahudi miskin. Jumlah itu

sangat besar waktu itu. Di sana pasti ada tujuan lain."

Kita kembali lagi meneropong peristiwa keji yang mengakibatkan Konspirasi

Zionisme berhasil menguasai Inggris sepenuhnya. Dalam periode ini

digambarkan oleh seorang penulis Inggris A.N. Field dalam bukunya That's all

Things halaman 4 sebagai berikut :

"Demikianlah pengaruh Yahudi tampak jelas setelah Lloyd George memegang

kendali pemerintahan."

Pertemuan pertama yang diadakan oleh komite politik organisasi Zionisme,

setelah Lloyd George memegang kendali kekuasaan dilaksanakan 7 Februari

1917 di kota London. L. Fray dalam bukunya Waters Flowing to the East

halaman 55 mengatakan :

"Pertemuan pertama yang diadakan oleh Komite politik organisasi Zionisme

adalah tanggal 7 Februari 1917 di rumah kediaman Moshe Gaster di London,

dihadiri oleh :

1) Lord Rothschild, kepala Rothschild and Brothers cabang London, dan

James Rothschild putra Edmond De Rothschild, kepala cabang Perancis


88


untuk kelompok Rothschild and Brothers, dan kepala Dewan Pemukiman

Yahudi yang mewakili Rothschild di Palestina.

2) Sir Mark Sykes, yang rumah tinggalnya terletak di distrik Ballingham

Guinness London, yang merupakan pusat gerakan Zionisme di Inggris,

3) Sir Herbert Samuel, yang kelak menjadi komisioner Tinggi Inggris pertama

di Palestina dan koordinator imigrasi Yahudi di wilayah itu.

4) Herbert Pantowich, yang kelak menjadi gubernur jenderal di Palestina.

Dialah orang yang bertanggung jawab dalam bidang hukum dan undang-

undang serta pelaksanaannya di Palestina.

5) Harry Sasheer

6) Joseph Cowen

7) Haim Weisman, seorang ketua Zionisme politik terbesar.

8) Nachom Sokolov, penanggungjawab dalam bidang propaganda yang kelak

menulis buku The History of Zionisme.

Topik utama yang dibahas dalam pertemuan itu adalah strategi yang akan

dipakai sebagai landasan pijak dalam perundingan resmi, yang akan

menentukan perjalanan nasib Palestina, Armenia dan Irak. Seorang politikus

Amerika Jeffrey menambah informasi mengenai pertemuan itu dalam sebuah

komentarnya yang ia sajikan kepada pihak organisasi Zionis di Amerika Serikat

sebagai berikut :

"Saya menyampaikan rincian hasil pertemuan ini kepada organisasi Zionisme di

Amerika. Kemudian sejak itu, mereka mencampuri urusan dalam negeri Inggris,

dan mengarahkan pemerintahan Lloyd George dalam masalah penting yang

menjadi bidangnya."

Selanjutnya kita perlu mengukur, sejauh mana penyusupan Zionisme ke dalam

pemerintahan Inggris pada saat itu diatur. Berikut ini beberapa pengakuan

seorang tokoh Yahudi Samuel Landman yang dibeberkan sendiri kelak dalam

bukunya Yahudi Internasional, diterbitkan di London tahun 1926 sebagai

berikut :

"Setelah persetujuan ditandatangani oleh Sir Mark Sykes dan Haim Weizman serta

Sokolov, mereka sepakat untuk mengirim sepucuk surat kepada jaksa agung Amerika

Serikat L.D. Brandes, yang sekaligus juga kepala Komite Organisasi Zionisme di New

York, untuk memberitahukan, bahwa pemerintah Inggris telah menyetujui untuk

membantu orang-orang Yahudi dalam merebut Palestina dari tangan bangsa Arab.

Imbalannya, persatuan Yahudi internasional bersedia bersekutu dengan Inggris, dan

Zionisme di Amerika bersedia mendesak pemerintah Amerika untuk bergabung dengan

sekutu. Pada saat itu, Amerika belum melibatkan diri dalam perang. Kemudian gerakan

Zionisme di Amerika meniupkan arus kuat untuk mendukung dan menekan

pemerintah Amerika agar terlibat dalam perang memihak Inggris. Ini membuat

kekuatan Inggris menjadi unggul seketika."

"Kami mengirimkan surat serupa kepada jenderal Mac. Donaff, komandan angkatan

darat Inggris. Dr Weizman sejak itu telah menjadi orang yang punya pengaruh besar,

sehingga memungkinkan ia mengadakan hubungan langsung dengan jenderal Mac.


89


Donaff, dan bisa mencampuri urusan militer. Ia berhasil memperoleh hak pembebasan 6

orang pemuda Yahudi dari dinas wajib militer. Padahal, negara masih dalam keadaan

perang. Dr Weizman berhasil memperoleh pembebasan mereka dari dinas wajib militer,

karena alasan yang ada hubungannya dengan kepentingan utama bagi negara."

"Adapun kepentingan utama yang dimaksud tidak lain adalah mendirikan kantor

khusus untuk gerakan Zionisme, langsung di bawah pimpinan Weizman. Sedang ke 6

pemuda itu adalah saya sendiri dan 5 kawan lainnya, di antaranya Harry Sasheer,

seorang anggota Komite politik organisasi Zionisme. Pemerintah baru di bawah

pimpinan Lloyd George, Balfour dan Churchill menganggap organisasi Zionisme

sebagai kawan dan sekutunya. Kantor-kantor perwakilan kita mendapat perlakuan

istimewa dalam pelayanan urusan paspor untuk beberapa orang tertentu, transportasi

dan pendanaan. Sebagai contoh, kami sendiri bisa menguruskan dokumen-dokumen

perjalanan untuk seorang Yahudi berkebangsaan Turki Utsmani, karena ia adalah

kawan kami sendiri. Kementerian dalam negeri Kerajaan Inggris dengan mudah

memberikan berbagai fasilitas, meskipun kerajaan Turki pada saat itu sedang berperang

melawan Inggris. Setiap warga Turki Utsmani dianggap musuh."

Demikianlah sebagai penutup bab ini, kita bertambah yakin, bahwa langkah

pertama dan paling utama yang ditempuh oleh pemerintah tiga serangkai

adalah, bahwa politik negaranya (Inggris) akan mendukung program

Rothschild untuk mendirikan sebuah negara bagi bangsa Yahudi di bumi

Palestina.


90


VII. DI BALIK PANGGUNG PERJANJIAN

VERSAILLES


Dalam sejarah sering terjadi kesalahan besar, adanya perjanjian dan pertemuan

yang sering menimbulkan akibat buruk yang tidak diharapkan oleh berbagai

negara. Sejarah belum pernah menyaksikan akibat yang lebih buruk daripada

yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I, yaitu perjanjian Versailles, yang

buntutnya masih dirasakan oleh ummat manusia sampai kini. Perjanjian

Versailles yang menandai berakhirnya Perang Dunia I sebenarnya merupakan

bibit timbulnya Perang Dunia II. Perjanjian ini telah mencoreng wajah dunia

secara keseluruhan. Dunia terkelompok menjadi wilayah jajahan, yang

diistilahkan dengan kawasan-kawasan pengaruh. Perjanjian Versailles juga

melahirkan penjajahan baru dengan istilah yang menyesatkan, seperti

pemerintah perwakilan, perlindungan, pendudukan, pembinaan, kawasan

pengaruh, dan seterusnya. Timbullah berbagai pertikaian, pemberontakan,

krisis macam-macam, yang diakibatkan oleh pengelompokan bangsa dan

negara menjadi berbagai sekutu, yang pada akhirnya menumbuhkan bibit

kekacauan di mana-mana, dan kecemburuan politik tak terhindarkan lagi.

Sebagai akibat dari semua itu, situasi dunia makin buruk, setelah perjanjian

Versailles dilaksanakan. Opini dunia mulai menyadari keburukan isi perjanjian

Versailles itu sedikit demi sedikit. Tokoh politisi dunia dibantu oleh para ahli

strategi terus mengamati perkembangan yang terjadi. Akhirnya mereka

meletakkan tanda tanya besar di seputar perjanjian itu. Oleh sebab itu, kita

akan mencoba mengungkap tabir yang menutupi hakikat yang

melatarbelakangi perjanjian itu, agar kita bisa melihat hal-hal yang selama ini

merupakan teka-teki.

A. Kebencian Muncul di Jerman

Para analis netral memberi komentar tentang perjanjian Versailles, bahwa para

wakil dunia berbudaya sebenarnya tidak menandatangani isi perjanjian yang

berisi penindasan, sebanyak penindasan yang diderita oleh bangsa Jerman,

setelah perjanjian itu diberlakukan. Kebenaran ini terlihat dari sikap bangsa

Jerman terhadap perlakuan yang mereka terima akibat diberlakukannya

perjanjian itu beberapa hari setelah ditandatangani. Akibatnya, bangsa Jerman

naik darah dan dendam, yang kelak berkembang menjadi bahan dasar

pemikiran faham nasionalisme Aryan Jerman. Fenomena kebencian bangsa

Jerman ini kelak melahirkan Hitler dan Nazisme, yang kemudian menyebabkan

pecahnya Perang Dunia II. Kita perlu melihat kembali kerancuan bagaimana

Perang Dunia I berakhir, agar kondisi yang mengelilingi penandatanganan

perjanjian Versailles tanggal 11 November 1918 menjadi jelas.


91


Permintaan untuk mengadakan gencatan senjata oleh komandan tertinggi

angkatan bersenjata Jerman bukan berarti menyerah kalah. Peristiwa ini

menimbulkan perbedaan pendapat yang sangat besar. Pasukan Jerman masih

tetap kuat dan masih maju menghadapi musuh. Permintaan komandan

tertinggi Jerman itu semata-mata disebabkan oleh adanya bahaya yang

mengancam dari dalam negeri Jerman sendiri, yaitu bahaya pemberontakan

Komunis yang timbul di bawah pimpinan seorang wanita Yahudi, Roza

Luxemburg.

Ketika pimpinan pasukan Jerman sedang membicarakan masalah gencatan

senjata dengan sekutu, ada peristiwa besar yang terjadi, yang perlu dicatat.

Gerakan pemberontakan Komunis di bawah pimpinan Roza Luxemburg

berhasil menyusup ke dalam tubuh angkatan bersenjata Jerman, khususnya ke

dalam jajaran angkatan laut, yang selama itu menjadi incaran mereka. Pada

awal tahun 1918 tiba-tiba tersiar desas-desus di kalangan angkatan laut Jerman,

bahwa panglima tertinggi angkatan bersenjata akan mengadakan serbuan

bunuh diri dengan kapal perangnya secara besar-besaran terhadap armada

angkatan laut Amerika, Inggris dan Perancis. Tujuannya ialah untuk

melumpuhkan kapal-kapal sekutu, meskipun untuk itu Jerman akan

kehilangan sebagian besar kapal perangnya. Setelah itu, Jerman akan

mengadakan serangan udara di pantai-pantai Inggris yang tidak terlindung

oleh armada sekutu. Para penyebar kabar burung itu terus melakukan agitasi

kasak-kusuk, dan mengadakan api pembangkangan dengan dalih, bahwa

rencana serbuan gila seperti itu sama saja dengan bunuh diri secara konyol, dan

akan mengakibatkan kehancuran fatal. Desas-desus itu terutama difokuskan

pada bayangan yang mengerikan yang akan terjadi, apabila saat itu pesawat

sekutu menjatuhkan bom-bom kimia paling modern terhadap pasukan Jerman.

Maka nasib pasukan Jerman sudah bisa dibayangkan.

Desas-desus itu mencapai puncaknya, ketika para agitator mengumumkan

secara terbuka dari atas kapal Jerman, tentang satu-satunya jalan untuk

menyelamatkan diri dari nasib yang bakal menimpa, apabila panglima

angkatan bersenjata meneruskan rencana serbuan itu. Pada tanggal 3

November angkatan laut Jerman benar-benar mengeluarkan pernyataan

pembangkangan terhadap panglima tertinggi angkatan bersenjata. Kemudian

disusul oleh pembangkangan unit armada kapal selam pada tanggal 7

November, yang sedang berada dalam perjalanan menuju arah front Barat.

Tiba-tiba tersiar desas-desus yang lain, bahwa mereka sedang berjalan pergi

untuk melarikan diri dari misi serbuan bunuh diri yang didesas-desuskan itu.

Pada saat yang sama di Jerman terjadi kekacauan besar di berbagai pabrik

amunisi dan senjata, yang menyebabkan macetnya produksi. Sejumlah orang

keluar untuk menyebarluaskan tuntutan, agar Jerman menyerah kepada

sekutu. Perkembangan selanjutnya makin bertambah kacau dan keruh,

sehingga Kaisar Jerman terpaksa turun tahta pada tanggal 9 November 1918.


92


Kemudian segera berdiri sebuah pemerintahan Republik Sosialis. Langkah

pertama yang dilakukan adalah menandatangani gencatan senjata, hanya

beberapa hari berselang kemudian, yaitu pada tanggal 11 November 1918.

Akan tetapi, kerusuhan itu tidak juga kunjung reda. Bahkan kali ini banyak

orang bertambah sengit menentang tokoh-tokoh Republik Sosialis. Roza

Luxemburg telah memainkan kartu pentingnya, ketika ia mengajukan

persyaratan kepada pemerintahan Republik Sosialis, untuk melepas angkatan

bersenjata dan menggantikan panglimanya, sebagai imbalan untuk meredakan

kerusuhan. Namun ketika Jerman tidak lagi mengandalkan pasukan regulernya

yang mampu menumpas kerusuhan dan kekacauan, Roza Luxemburg beserta

kelompoknya kembali memihak kaum republik sosialis dan bergabung

kedalamnya. Kemudian mereka mengeluarkan pengumuman tentang revolusi

di kota Berlin pada bulan Januari 1919, dan berhasil merebut kekuasaan

bersama para pendukungnya, yang mayoritas adalah orang Yahudi. Namun

revolusi ini sempat menimbulkan dampak ke luar yang tidak disangka-sangka.

Di Moskow terjadi perpecahan tajam antara dua tokoh revolusi Komunis Rusia,

yaitu Lenin dan Trotsky. Lenin menolak mentah-mentah membantu Roza

Luxemburg, sedang Trotsky bersedia membantu dengan segala kekuatan yang

dimiliki Uni Sovyet Rusia. Penolakan Lenin itu menjadi faktor penentu bagi

perkembangan selanjutnya. Roza dan kawan-kawan Yahudinya menjadi

terisolir. Sementara kaum nasionalis Jerman bangkit untuk menyerang Roza

dan para pendukungnya. Mereka dikejar-kejar, dan terjadilah pembantaian

besar-besaran atas orang Yahudi. Seorang kolonel muda dari angkatan

bersenjata Jerman berhasil menangkap Roza beserta pembantu utamanya Karl

Lickenht. Kemudian mereka berdua ditembak mati. Kebencian terhadap unsur

semitik terus memuncak, karena mereka merupakan biang kerok yang telah

merugikan Jerman dalam perang, dan timbulnya kerusuhan besar setelah itu.

Rumah-rumah yang dihuni oleh orang Yahudi dibakar, dan ratusan ribu orang

Yahudi menemui ajal mereka, akibat dendam mendalam bangsa Jerman

terhadap mereka.

Sejak itu situasi di Jerman membuka pintu bagi fanatisme ras, dan

menghidupkan kembali teori superioritas Aryanisme, atau dengan kata lain

memunculkan Hitler dan Nazismenya. Inilah akibat peran buruk yang

dimainkan oleh pemilik modal Yahudi internasional bagi bangsa Jerman, mulai

dari angkatan lautnya, pabrik senjatanya dan perjanjian Versailles yang sangat

memberatkan Jerman. Lenin sendiri pernah mengatakan, bahwa Roza

Luxemburg adalah orang Yahudi yang bertanggungjawab atas gelombang anti

semitik yang melanda Jerman. Konspirasi sebenarnya menemukan kondisi

yang sesuai untuk menyulut api Perang Dunia II, setelah mereka lebih dulu

merancang dan menciptakan situasi itu. Ini sesuai dengan pernyataan di atas,

bahwa yang bertanggungjawab atas gelombang anti semitik di Eropa, dan

perkembangan situasi yang terus memuncak menuju pertikaian senjata secara

global adalah hasil ulah tangan kotor persekongkolan para pemilik modal

Yahudi internasional sendiri.


93


B. Masalah Palestina

Setelah Konspirasi berhasil mencapai tujuannya di Jerman, sasaran berikutnya

ditujukan kepada bumi Palestina. Mereka mengincar Palestina sebagai impian

lama yang kini hampir tiba di ambang pintu. Sebagaimana telah kita singgung

terdahulu, bumi Palestina akan dijadikan poros bagi program dan titik

pemusatan kegiatan internasional bagi Konspirasi. Hal ini bisa dimaklumi,

karena Palestina adalah pusat terpenting wilayah Timur Tengah dan Timur

Dekat. Secara geografis, Palestina merupakan jalur penghubung antara tiga

benua, yaitu Afrika, Eropa dan Asia. Di samping itu, kekayaan emas hitam

yang terdapat di wilayah itu merupakan kebutuhan dunia dalam jumlah

melimpah. Dengan demikian, politik Zionisme telah meletakkan dua sasaran

yang hendak dicapai untuk menuju ke Palestina, yaitu :

1) Memaksa negara di dunia untuk mengakui negara nasional bagi bangsa

Yahudi di Palestina, yang kemudian akan dijadikan pusat kegiatan

Konspirasi untuk meletakkan memprakarsai Perang Dunia III.

2) Menguasai seluruh sumber kekayaan alam yang terdapat di wilayah itu.

Berikut ini diketengahkan tahapan program kerja yang akan dijadikan landasan

bagi pelaksanaannya. Langkah pertama, mereka mengeluarkan deklarasi

Balfour tahun 1917 yang telah mengikat Inggris, Perancis dan Amerika Serikat

untuk mendukung berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di

bumi Palestina. Untuk melaksanakan hal itu, jenderal Allenby langsung diberi

instruksi untuk memukul mundur pasukan Turki Utsmani keluar dari wilayah

Timur Tengah dan menduduki Yerusalem. Penguasa Inggris sengaja

merahasiakan deklarasi Balfour selama masa operasi militernya, dengan

dukungan pasukan Arab nasional, pengkhianat ummat di bawah bendera

Syarif Hussein, Amir Makkah. Sedang para pemilik modal internasional pada

saat operasi militer Inggris di wilayah Palestina masih berlangsung, telah

mendesak pemerintah Inggris untuk menentukan perwakilan Organisasi

Zionisme di Palestina, dan menentukan anggota politisi Zionis untuk menjadi

anggota perwakilan itu. Tuntutan itu diajukan kepada penguasa militer Inggris

di Palestina, jenderal Crayton, dan segera dikabulkan pada bulan Maret 1915.

Politisi yang menjadi anggota perwakilan itu adalah :

 Kolonel Orampsey Rigor, yang kelak menjadi direktur Bank Standard di

Afrika Selatan, yaitu sebuah bank yang menguasai pertambangan emas

dan logam mulia lainnya di Afrika Selatan. Dan dia pula yang

mendukung dana kepada sistem politik Apartheid.

 Haim Weizman yang kelak menjadi perdana menteri Israel pertama.

Komite perwakilan Zionisme ini telah berada di Palestina sebelum diadakan

perundingan damai, bahkan sebelum Perang Dunia I usai. Hal ini

dimaksudkan untuk menciptakan momen yang tepat sebelum masalah

Palestina dibicarakan di forum mendatang, yaitu perjanjian Versailles.

Kemudian perundingan damai dimulai, dan para pemilik modal internasional


94


membuka kedok. Tampak jelaslah pengaruh mereka. Kita tidak perlu

memperjelas lagi, tapi cukup dengan menyebutkan beberapa analisa singkat.

Dalam perundingan ini, ketua utusan Amerika adalah Paul Warburg, yang

sebelumnya telah kita sebutkan sebagai wakil pemilik modal internasional di

Amerika Serikat. Ketua utusan Jerman adalah saudara kandung Paul sendiri,

Mark Warburg. Jangan lupa, Mark mewakili negara musuh sekutu yang kalah

perang. Sementara itu, Paul mewakili negara yang menang perang.

Perundingan damai seperti itu lalu menjadi perundingan pemerasan, yang

seluruh keputusan yang berbuntut jahat dan mengakibatkan timbulnya bahaya

itu bisa disetujui. Pada masalah yang berhubungan dengan Palestina, sejumlah

tokoh Zionis Inggris dalam perundingan itu meletakkan rancangan

pemerintahan perwakilan Inggris di wilayah itu, di antaranya adalah :

 Profesor Philex Frankfurner, yang kelak menjadi penasihat presiden di

Gedung Putih pada masa pemerintahan Franklin Roosevelt.

 Sir Herbert Samuel, komisioner tinggi pertama di Palestina setelah

pendudukan pasukan Inggris.

 Lushian Wolf, seorang penasihat pribadi perdana menteri Inggris Lloyd

George.

Ketika perundingan pendahuluan dimulai, penasihat khusus bagi perdana

menteri Perancis Monscour Clemenceau adalah Madell. Nama ini adalah nama

samaran. Nama yang sebenarnya adalah Rothschild, yaitu salah satu anggota

keluarga besar Rothschild. Sedang salah satu penasihat presiden Amerika

Serikat yang menjadi delegasi dalam perundingan itu adalah Mr. Morganthow,

yang putranya kelak memegang kementerian keuangan pada masa

pemerintahan Roosevelt. Telah kita sebutkan, bahwa para pemilik modal

internasional tidak segan-segan mencampakkan topeng mereka. Untuk

membuktikan hal ini, berikut ini dikutipkan beberapa kalimat yang ditulis oleh

Lushian Wolf dalam bukunya yang berjudul Steadies on The Jewish History

halaman 408 :

"Sejumlah nama politisi muncul pada perundingan perdamaian, dan yang

menandatangani perjanjian itu atas nama negara-negara Italia, Perancis dan

India adalah tokoh-tokoh Yahudi yang mewakili negara masing-masing.

Mereka adalah Baron Somito mewakili Italia, Louis Cloudes mewakili Perancis,

dan Edvin Montagio mewakili India. Mereka semua adalah orang Yahudi.

Sebaiknya baik pula untuk kita simak kata-kata beberapa penulis yang tidak

perlu kita beri komentar. Seorang sejarawan Inggris terkenal Harold Nicolon

dalam bukunya "Menciptakan Perdamaian" 1919-1944 (Making Peace 1919-1944)

halaman 44 mengatakan, bahwa Lushian Wolf minta secara pribadi kepadanya,

agar ia mau menunjukkan pendapatnya tentang orang-orang Yahudi yang

harus diberi perlindungan internasional. Dalam waktu yang sama mereka juga

harus diberi hak seperti layaknya warga negara lain, di mana pun mereka

berada.


95


Seorang penulis Perancis George Pateau dalam bukunya yang diberi judul

"Masalah Yahudi" (The Problem of the Jews) halaman 38 mengatakan :

"Tanggungjawab diberikan kepada orang Yahudi yang telah mengelilingi

presiden Amerika Serikat Wilson, perdana menteri Perancis Clemenceau dan

perdana menteri Inggris Lloyd George, dalam menyulap perundingan damai

menjadi perundingan Yahudi." Selanjutnya perlu juga disinggung mengenai

peristiwa yang terjadi pada saat perundingan berlangsung di Paris tahun 1919,

saat presiden Wilson pada mulanya mengajukan pendapatnya yang sangat jitu.

Akan tetapi sayang, tiba-tiba ia mendapat telegram tertanggal 28 Maret 1919

terdiri dari 2000 kata, yang dikirim kepadanya secara pribadi oleh Yacob Sheiff,

wakil pemilik modal internasional di Amerika, yang telah kita sebutkan

berulang kali. Telegram itu berisi gagasan pihak yang diwakili Yacob Sheiff

mengenai 5 masalah internasional, yaitu masalah Palestina, pampasan perang

yang harus dibayar oleh Jerman, masalah Sisilia, Terusan Danring dan wilayah

Sarre (Jerman). Telegram ini telah mempengaruhi pendirian presiden Wilson,

dan membuatnya berubah pendirian, sehingga jalan perundingan dibuatnya

berputar haluan. Duta besar Perancis untuk Inggris, pada waktu itu De San

O'clear melukiskan peristiwa itu dalam bukunya mengenai politik yang kelak

ia tulis, berjudul "Jenewa menuju Perdamaian" (Jeneve Towards Peace)

menyebutkan, bahwa isi teks yang terkandung dalam perjanjian Versailles

berkenaan dengan 5 masalah itu adalah hasil rancangan Yacob Sheiff dan

orang-orang sedarahnya.

Masalah Palestina merupakan agenda pembicaraan yang paling banyak

difokuskan oleh para peserta. Sebelum gerakan Yahudi terselubung selesai

menentukan pemerintahan perwakilan Inggris di Palestina dalam perundingan

damai itu, mereka telah mengalihkan program mengenai point yang lain, yaitu

persiapan untuk merancang pecahnya Perang Dunia II. Maka isi rumusan

perundingan damai yang dibebankan kepada Jerman sangat tidak adil dan

memberatkan. Hal ini merupakan bibit-bibit ketidakpuasan di kalangan bangsa

Jerman yang kelak menimbulkan dendam nasional. Begitulah kenyataan yang

terjadi dalam peristiwa berikutnya.

Konspirasi tidak lupa untuk menoleh kepada usul mengenai pembentukan

Liga Bangsa-Bangsa (Nations League) Yang telah disahkan dalam perjanjian

Versailles. Maka tidak mengherankan kalau forum internasional ini kelak

menjadi ladang subur bagi penanaman berbagai rancangan yang dibuat oleh

Konspirasi, sekaligus menjadi kuda tunggangan bagi para pemilik modal

internasional. Oleh sebab itu, kelak tokoh Zionis kenamaan Nachom Sokolov,

kepala Komite Eksekutif Konferensi Zionisme menjadi berbangga diri dalam

badan internasional ini. Pada tanggal 25 Agustus 1952 ia mengatakan, bahwa

Liga Bangsa-Bangsa adalah hasil buah pikiran orang-orang Yahudi. Pernyataan

ini dikutip secara harfiah oleh kolonel M.H. Seen dari Amerika, dalam bukunya

"Tangan Kotor" (The Filty Hand), yang sengaja ia tulis untuk memperingatkan

bangsa Amerika mengenai bahaya Zionisme. Juga perlu kita perhatikan

pernyataan Weekham Syde, seorang pakar dalam masalah internasional dan


96


pimpinan redaksi harian besar berbahasa Inggris The Tunes. la berkali-kali

menyinggung adanya pengaruh terselubung yang dilakukan oleh para pemilik

modal Yahudi internasional. la menulis buku besar dengan judul "Selama 30

Tahun" (In the past 30 Years). Dalam halaman 301-302 ia mengatakan :

Ketika Winston Churchill mengadakan kunjungan ke tanah Palestina tahun

1921, delegasi Arab datang untuk menyambutnya. Mereka menjelaskan

kepadanya tentang ketidakadilan dan kekejaman langkah-langkah kebijakan

yang ditempuh pemerintah Inggris untuk memenuhi cita-cita Zionisme, yaitu

menguasai bumi Palestina. Mereka mengemukakan, bahwa bangsa Arab telah

mendiami bumi itu sejak ribuan tahun yang silam. Mereka minta agar

Churchill sudi mengusahakan adanya penyelesaian mengenai ketidakadilan

ini. Akan tetapi Churchill menjawab:

"Masalah itu di luar wewenang kekuasaanku, di samping aku sendiri juga tidak

setuju. Bahkan kami yakin, bahwa yang telah digariskan dalam deklarasi Balfour

ini akan lebih baik bagi kemaslahatan dunia, bagi kerajaan Inggris dan bagi

bangsa Arab sendiri. Kami akan tetap mewujudkan rencana itu."

Tidak seorang pun bisa membayangkan, bagaimana perasaan delegasi Arab

yang mendengar jawaban Churchill itu, yang terus terang menunjukkan

keterlibatan Churchill dengan program terselubung Zionisme. Bahkan kami

pribadi (penulis) baru tahu masalah ini setelah tahun 1954, pada saat Churchill

mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat dalam suatu pertemuan dengan

Bernard Baruch, seorang Yahudi yang memainkan pecan penting dalam politik

Amerika Serikat dari balik layar selama bertahun-tahun, pada masa

pemerintahan Roosevelt yang menjabat sebagai kepala penasihat presiden di

Gedung Putih. Pada pertemuan itu Churchill menyatakan, bahwa dia adalah

seorang Zionis, dan akan tetap sebagai orang Zionis. Mungkin ketika menjawab

delegasi Arab, Churchill masih teringat ancaman terbuka kepada Inggris, yang

dikeluarkan oleh tokoh Zionis terbesar, Haim Weizman yang dimuat dalam

majalah Gudesha edisi ke 4 tahun 1920, yang bunyinya secara harfiah sebagai

berikut :

"Kami akan tetap hidup berdiam di tanah Palestina, baik Anda mau atau tidak.

Maka langkah yang paling baik untuk Anda lakukan sekarang adalah

mempercepat proses imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina atau memperlambat

sedikit. Namun yang paling baik bagi Anda adalah membantu kami supaya

kekuatan kami tidak berbalik menentang Anda. Kami sekarang berada dalam

barisan bersama Anda. Dan Anda semua tahu, bahwa kami punya kekuatan di

setiap penjuru dunia."

Ancaman seperti itu bukan satu-satunya. Dalam konferensi Zionisme yang

diadakan di kota Budapest ibukota Hunggaria tahun 1919, para tokoh Zionis

peserta konferensi mengeluarkan ancaman terbuka kepada dunia. Pernyataan

yang bernada mengancam seperti itu juga datang dari Hain Weizman sendiri.

Ia mengatakan :


97


"Organisasi Zionisme kita akan memainkan perannya dalam mengatur dunia

baru pada masa pasca perang. Kitalah yang menciptakan Liga Bangsa-Bangsa,

dan kita akan berjalan di belakang program yang telah kita buat. Tujuan dan

kepentingan yang kita inginkan telah kita tentukan sebelumnya."

Kami (penulis) menyelesaikan penulisan bab ini tahun 1944, setelah

mempelajari dokumen dan data-data yang sebelumnya kami kumpulkan. Akan

tetapi, setelah 8 tahun kemudian sesuai dengan jabatan kami dalam pemerintah

sebagai perwira inteligen rahasia, kami mendapatkan sebuah dokumen rahasia

berbahaya. Kami merasa wajib untuk menyertakan beberapa bagian dari

dokumen itu dalam bab ini, mengingat masalah ini punya arti tersendiri, yaitu

yang berhubungan dengan konferensi puncak Sidang Darurat Para Pendeta

Yahudi se-Eropa, yang diadakan di Budapest tanggal 22 Januari 1952. Berikut

ini adalah ringkasan dari dokumen tersebut yang mengandung beberapa

paragraf harfiah, yang memungkinkan kami memuatnya, yaitu :

'Laporan dari Eropa tentang konferensi puncak Sidang Darurat Pendeta Yahudi

se-Eropa, pidato rahasia yang disampaikan oleh pendeta tertinggi Yahudi

Emanuel Robinovich tertanggal 12 Januari 1952.

Selamat berbahagia putra-putraku . . .

Kalian telah terpanggil untuk mengadakan pertemuan istimewa ini untuk

mengkaji masalah dan rancangan pokok bagi program kita yang baru, yaitu

program yang berkaitan dengan perang yang akan datang, sebagaimana yang

kalian telah ketahui. Rancangan kita semula membutuhkan tenggang waktu 20

tahun, sehingga kita mendapatkan seluruh keuntungan yang dihasilkan dari

Perang Dunia II. Akan tetapi, beberapa pertimbangan baru mengharuskan

adanya pengurangan jangka waktu 5 tahun lebih dini. Langkah-langkah yang

masih kita lakukan demi tujuan kita, sejak 3000 tahun yang lalu sekarang telah

berada dalam jangkauan tangan kita. Sebentar lagi kita pasti akan bisa memetik

buahnya, dengan syarat kita harus melipat gandakan usaha keras dengan

menggunakan pikiran dan pengalaman apa saja yang kita miliki. Kami bisa

meyakinkan Anda sekalian, bahwa beberapa tahun lagi bangsa kita akan bisa

mengembalikan posisinya di tempat paling atas di dunia. Ini merupakan hak

alami yang telah dirampas semenjak kurun waktu yang sangat panjang. Dan

hal ini akan kembali kepada kita seperti semula, sehingga setiap orang Yahudi

akan menjadi tuan, dan setiap gentile atau non-Yahudi akan menjadi budak ...

(aplaus besar).

Sekarang ini, kami akan menawarkan pemikiran tentang perang mendatang.

Kalian tentu ingat keberhasilan besar mengenai program yang kita laksanakan

sejak tahun 1930. Propaganda besar-besaran yang kita sebarluaskan telah

berhasil meniupkan api kebencian di Jerman terhadap dunia Barat dan

terhadap unsur semitik. Kemudian kita juga meniupkan rasa kebencian bangsa

Barat terhadap bangsa Jerman, yang disebabkan oleh sikap permusuhan

Jerman terhadap unsur semitik. Inilah program pokok yang sekarang sedang

kita laksanakan untuk meniupkan rasa kebencian Timur terhadap Barat, dan di


98


Barat terhadap Timur. Kita akan memerangi bangsa-bangsa yang bersikap

netral untuk memaksa mereka bergabung dengan blok ini atau blok itu. Kita

tidak akan membiarkan seseorang menghalangi jalan yang kita tempuh. Untuk

mencapai tujuan awal dari program ini, kita akan menanamkan orientasi

militerisme dan naluri perang di Amerika. Akan tetapi, rancangan undang-

undang yang kita ajukan kepada kongres Amerika dengan dukungan dari jaksa

agung mengenai wajib militer bagi setiap warga Amerika ternyata ditolak. Kita

mengalami kegagalan sementara. Kita akan mulai usaha baru lagi dengan

bekerja keras, untuk melemparkan tuduhan kepada pihak Uni Sovyet, bahwa

negara itu melakukan kebijakan anti semitik, meskipun terdapat hubungan erat

antara kita dan Komunisme. Kita akan mendukung dengan dana dan pengaruh

bagi organisasi yang membela unsur semitik, khususnya di Amerika. Tujuan

terakhir program ini adalah menciptakan Perang Dunia III, yang akan

mengakibatkan kehancuran total, dan pengaruh yang jauh lebih besar dari

pada seluruh peperangan yang pernah terjadi. Kita akan membuat Israel tetap

netral dalam perang ini, sehingga terhindar dari kehancuran. Setelah itu, Israel

akan menjadi tempat sidang-sidang perundingan, pengawasan dan lain-lain,

yang saat itu akan diserahi tugas untuk mengawasi bangsa-bangsa yang tersisa.

Perang inilah yang akan merupakan pertikaian terakhir dalam sejarah melawan

kaum gentiles. Kita kelak akan membuka kedok yang menutupi wajah identitas

kita yang sebenarnya di hadapan mata dunia.

Ada sebuah pertanyaan diajukan oleh salah seorang pendeta Yahudi. Saya

mohon yang mulia pendeta Robinovich menjawab pertanyaan berikut ini,

'Bagaimanakah nasib agama-agama setelah Perang Dunia III berakhir?' Robinovich

menjawab,

"Di sana tidak akan ada lagi agama setelah Perang Dunia III, dan tidak ada pula tokoh-

tokoh agama. Keberadaan agama dan tokohnya merupakan ancaman bagi kita, karena

agamalah yang mampu membuat ancaman bagi kita untuk menguasai dunia. Kekuatan

jiwa yang ditimbulkan dari iman pemeluk agama akan melahirkan sikap berani untuk

menghadapi kekuatan kita. Akan tetapi, kita akan tetap memelihara sebagian dari ajaran

agama yang bersifat lahiriah saja. Sedang agama Yahudi akan tetap merupakan

pegangan bagi setiap bangsa Yahudi, dengan satu tujuan untuk menjaga tali pengikat

antar-bangsa kita, dan sekaligus sebagai tameng untuk menghalangi orang non-Yahudi

tidak masuk ke dalam barisan kita melalui perkawinan atau lainnya.”

Untuk mencapai tujuan akhir, bisa saja kita memerlukan cara yang menyedihkan,

seperti pernah kita lakukan pada masa Hitler, yaitu kita sendiri yang mengatur

terjadinya peristiwa penindasan terhadap sebagian bangsa kita sendiri. Dengan kata

lain, kita akan menumbalkan sebagian putra bangsa kita sendiri pada suatu peristiwa

yang akan kita atur dari belakang layar. Kita bisa mendapatkan alasan yang cukup

untuk menarik simpati dan dukungan bangsa Eropa dan Amerika, serta dunia pada

umumnya dari satu sisi. Sedang dari sisi lain, para tokoh militer yang terlibat perang,

seperti pernah kita lakukan dalam pengadilan Nurenburg (Jerman) setelah Perang

Dunia II. Tumbal itu mungkin mencapai ribuan nyawa bangsa kita, dan kita sendiri

yang akan melakukan pembunuhan terhadap mereka, agar kita bisa melemparkan


99


tuduhan terhadap pihak lain. Meskipun tumbal itu besar, namun kita tidak perlu

mengukur besar-kecilnya tumbal demi tujuan kita yang terakhir, yaitu menguasai

dunia. Anda sekalian sekarang melihat kemenangan terakhir dengan jelas, seperti

melihat gajah di pelupuk mata. Kalian akan kembali ke negara masing-masing setelah

konferensi ini untuk mengajak bangsa kita bekerja keras, sehingga akhirnya akan

sampai pada suatu saat, di mana Israel akan membuka hakikat diri yang sebenarnya

kepada dunia, sebagai tempat memancarnya cahaya yang akan menerangi seluruh

jagad."

Sampai di sini Robinovich mengakhiri pidatonya. Komentar tidak diperlukan

lagi. Satu hal yang perlu kita singgung adalah, bahwa kongres itu menguatkan

hasil analisa kita sebelumnya, sehubungan dengan masalah anti semitik dan

Nazisme dan seterusnya, yang bisa meyakinkan kita, bahwa kekuatan di balik

layar yang diatur oleh Zionisme pada hakikatnya adalah kekuatan yang

mengeksploitasi gerakan anti semitik dengan memperalat Hitler dan

Nazismenya. Kekuatan itu pula yang sedang merancang dan mendalangi

untuk menjerumuskan dunia ke dalam Perang Dunia III. Hitler dan Nazisme

bagi orang awam belum banyak dikenal.

Banyak yang tidak memperhatikan adanya tangan-tangan terselubung di balik

peristiwa yang terjadi di Jerman, yaitu ketika para pemilik modal Yahudi

internasional mempersenjatai Nazisme, dan membangun perindustrian Jerman

setelah perjanjian Versailles. Pada saat itu Hitler menggalakkan anti Yahudi. Di

sini timbul pertanyaan, mengapa Stalin dan dunia Barat tutup mulut, ketika

melihat Jerman bangkit dan membangun militernya kembali secara besar-

besaran, yang bisa mengancam dunia Barat dan Rusia? Menurut pengamatan

yang cermat, justru Stalin sendiri telah mengadakan perjanjian kerja-sama

rahasia dengan penguasa militer di Jerman, bahkan sebelum militer berkuasa

untuk melatih dan mempersenjatai angkatan perang Jerman. Dan lagi,

beberapa lembaga keuangan Barat menyalurkan dana-dananya untuk

membiayai pembangunan industri persenjataan Jerman. Tokoh-tokoh Barat

bukan tidak tahu apa yang terjadi di balik layar di Jerman pada waktu itu, dan

kebangkitan kekuatan militernya. Kami (penulis) secara pribadi tahu akan hal

itu dengan yakin, ketika kami menghadiri konferensi perlucutan senjata yang

diadakan di London tahun 1930. Hasil studi analitis mengenai periode 1920-

1938 dalam sejarah modern yang kami lakukan menunjukkan, bahwa pemilik

modal Yahudi internasional telah memusatkan kegiatannya dalam periode ini

untuk meraih tujuan-tujuan sebagai berikut :

1) Menyalakan api Perang Dunia II, sesuai dengan program asli semenjak

dulu. Mereka berhasil.

2) Memerangi pemerintahan dan pergerakan yang memusuhi mereka di

Eropa dengan segala cara dan sarana. Dalam hal ini, mereka juga telah

berhasil dengan gemilang, seperti penyingkiran pemerintahan Asquith

di Inggris pada masa Perang Dunia I.


100


3) Memaksa Inggris, Perancis, kemudian Amerika Serikat untuk

menyetujui berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di

Palestina. Pada masa Perang Dunia I Inggris telah menjanjikan para

pemilik modal Yahudi internasional untuk mendesak Amerika Serikat

lewat organisasi Yahudi di Amerika, agar negara itu terlibat dalam

perang bersama sekutu dengan imbalan, bahwa Inggris akan membela

cita-cita Zionisme. Data-data inteligen angkatan laut menunjukkan,

bahwa peristiwa penyerbuan Jerman terhadap kapal perang Amerika,

Lusiana, kemudian tenggelam adalah sebuah peristiwa yang sengaja

dirancang sebelumnya sebagai preteks agar Amerika Serikat melibatkan

dirinya dalam Perang itu, persis penyerbuan Pearl Harbour oleh

angkatan udara Jepang tahun 1941, sehingga Amerika-Serikat ketika itu

bisa terjun dalam kancah Perang Dunia II.

Adapun naskah asli dalam perjanjian Versailles tentang nasib tanah Palestina di

bawah kekuasaan pendudukan Inggris disebutkan dalam rumusan berikut ...

yaitu untuk mengubah tanah Palestina menjadi sebuah negara nasional bagi

bangsa Yahudi. 'mengubah" menjadi "mendirikan", dengan maksud menutupi

niat buruk bangsa Yahudi sebenarnya di seluruh wilayah itu. Maka rumusan

menjadi sebagai berikut21 :

"His Majesty's government view with favor the establishment in Palestine of a national

home for the Jewish people, and will use their best endeavors to facilitate the

achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which

might prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in

Palestine, of the right and political status enjoyed by Jews in any other country."

(Pemerintah baginda raja melihat dengan tatapan belas kasih mengenai

berdirinya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan akan

mengusahakan dengan segala kemampuan pemerintah kerajaan Baginda untuk

mewujudkan cita-cita ini. Sebagaimana sama-sama dimaklumi, tidak ada

langkah yang akan diambil yang kira-kira bisa menyinggung hak sipil atau

agama bagi masyarakat non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status

politik yang dimiliki oleh Yahudi di negara lain manapun).

Dalam ulasan terdahulu telah kita bicarakan, bagaimana kekuatan Konspirasi

bisa menaklukkan arah politik seluruh negara Eropa pada masa antara Perang

Dunia I dan Perang Dunia II, yaitu politik yang ditandai dengan ketamakan

imperialisme dunia Barat dan pemerasan kekayaan terhadap bangsa lainnya di

Dunia. Begitu pula periode itu ditandai oleh adanya perpecahan blok militer

yang saling berhadapan, hingga pecahnya Perang Dunia II. Oleh karena itu,

kita tidak perlu heran, bahwa tujuan paling utama Konspirasi dari Perang

Dunia itu adalah mendirikan negara yang akan menjadi pusat kegiatan

konspirasi Yahudi terhadap bangsa lain di dunia.


21 Compton Pictured Encyclopedia, Compton & Company Chicago tahun 1959 halaman 80


101


"Kami telah berkali-kali mengatakan, bahwa yang menguasai wajah perjalanan

dunia adalah para pemilik modal Yahudi Internasional. Dan yang

menggerakan khususnya perundingan damai itu adalah Yacob Sheiff dan

kelompok Warburg serta para pemilik modal Yahudi internasional lainnya.

Satu-satunya tujuan yang hendak mereka capai adalah menguasai Eropa,

khususnya Jerman."

C. Stalin dan Yahudi

Stalin dilahirkan di desa Gory, wilayah Georgia Rusia. Ibunya seorang pemeluk

agama Kristen Ortodoks bernama E. Catherina Gelades, dan kakeknya seorang

petani kecil. Ayahnya mula-mula bekerja di ladang, dan kemudian berpindah

profesi sebagai tukang sepatu di kota kecil Adilchanov. Meskipun ibunya

pemeluk agama yang taat, tapi ayahnya peminum minuman keras. Ibunya

terpaksa bekerja keras sebagai pencuci pakaian, agar ia bisa membiayai

anaknya mengenyam pendidikan dan menjadi pendeta. Stalin sendiri adalah

anak yang cerdas di kelas, dan akhirnya ia mendapat bea siswa dari sebuah

seminary di kota Tiflis. Namun Stalin terpaksa tidak bisa meneruskan studinya

karena sering terjadi perdebatan sengit dengan guru-gurunya. Akhirnya ia

diusir dari sekolahnya, setelah 4 tahun belajar di sana. Kemudian ia bergabung

dengan sebuah kelompok yang kala itu telah tersebar luas di seluruh Rusia.

Stalin menikah dengan Catherine Shnaindes dan mendapat seorang putra yang

diberi nama Yasha. Kelak Yasha hidup sebagai seorang mekanik listrik sampai

masa kejayaan ayahnya berakhir. Selain itu, Stalin juga punya seorang istri lain

bernama Nadia Baliova, dikaruniai seorang putra bernama Fasili dan seorang

putri lagi bernama Sevitlana. Fasili kelak menjadi marsekal udara dalam jajaran

angkatan bersenjata Rusia pada masa kejayaan Stalin. Namun sepeninggal

Stalin, Fasili termasuk orang yang disingkirkan dari arena politik oleh Nikiti

Khrouchtchev. Kemudian Fasili menghilang tanpa jejak.

Perkawinan Stalin dengan istri keduanya tidak berumur lama. Sebab, Stalin

jatuh cinta kepada seorang wanita Yahudi jelita bernama Roza Kaganovich,

yang kemudian hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan. Nasib Nadia

(istri pertama) berakhir dengan bunuh diri. Tindakannya yang nekad ini bukan

karena skandal asmara suaminya dengan wanita Yahudi itu, melakukan ia

menderita karena melihat suaminya melakukan kekejaman terhadap musuh

politiknya, yang sebagian besar merupakan saudara seagama Nadia, yaitu

Kristen Ortodoks, yang berbeda dari agama yang dianut oleh wanita Yahudi,

pacar gelap Stalin itu. Adapun Roza Kaganovich tidak lain adalah saudara

kandung Lazar Kaganovich, seorang tokoh Komunis terkemuka pada masa

pemerintahan Stalin, yang menjadi anggota politbiro partai Komunis Rusia, di

samping menjadi kepala pengawas industri berat. Lazer adalah orang yang

paling dekat dengan Stalin, sampai Stalin mati. Setelah Stalin mati,

pemerintahan Khrouchtchev mengadakan pembersihan besar-besaran untuk

mencampakkan sisa-sisa popularitas Stalin dan para pendukungnya dari arena

politik Rusia dengan cara kejam, seperti pernah dilakukan oleh pendahulunya,


102


Stalin terhadap lawan politiknya. Lazer Kaganovich juga berhasil

mengawinkan putranya Mikhail dengan putri Stalin Sevitlana pada tanggal 15

Juli 1951. Padahal, Sevitlana ketika itu masih berstatus istri dari salah seorang

yang konon telah menghilang beberapa hari berselang, tanpa diketahui ke

mana ia pergi. Sedang Stalin sendiri kemudian mengawini Roza, setelah

istrinya mati bunuh diri. Dengan demikian, Stalin telah hidup dalam

lingkungan keluarga Yahudi. Sebab, istrinya adalah Yahudi, menantu laki-

lakinya adalah Yahudi, dan saudara kandung istrinya yang sekaligus sahabat

karib Stalin adalah juga Yahudi. Bukan hanya sampai di sini. Wakil perdana

menteri dalam pemerintahan Stalin yang merangkap menteri luar negeri, yaitu

Molotov juga beristrikan wanita Yahudi. Istri Molotov ini adalah adik kandung

pemilik modal Yahudi internasional di Amerika Sam Carb, yang mewakili

perusahaan impor-ekspor, berpusat di negara bagian Connecticut. Sedang putri

Molotov adalah tunangan putra Stalin sendiri, Fasili.

Demikianlah yang kita lihat. Politbiro akhirnya dipegang oleh tangan-tangan

satu keluarga. Ini merupakan akibat wajar dari filsafat atheisme dalam bentuk

komunisme, yang pada dasarnya merupakan anak yang lahir dari kandungan

kehidupan lingkungan ghetto Yahudi di Eropa Timur. Oleh karena itu, tidaklah

mengherankan kalau kenyataan ini merupakan sisi gelap dari perkembangan

mendasar yang terjadi di Rusia, dan dunia komunisme umumnya, sampai

Stalin meninggal dunia. Perkembangan ini ditandai dengan publikasi tentang

kejahatan Stalin, dan pembantaian kaum tani yang dilakukannya. Mesin

propaganda Komunis sebelumnya telah berusaha menggambarkan, bahwa

kaum tani adalah pendukung terkuat sistem Komunisme. Dan faham

Komunisme masih akan terus berubah dan berkembang di seluruh dunia.

Pada mulanya Stalin adalah sosok yang dilahirkan oleh situasi. la muncul

menjelang pecah revolusi Oktober 1917, pada saat tokoh-tokoh senior masih

terkungkung dalam sel-sel penjara Czar. Pada masa pemerintahan Lenin, Stalin

belum memainkan peran berarti dalam partai Komunis Rusia, kecuali hanya

beberapa saat ketika Lenin dalam keadaan sakit. Stalin maju ke barisan

terdepan setelah terjadi perselisihan tajam antara dia dan Trotsky. Maka sejak

Trotsky bisa disingkirkan, Stalin terus berkuasa sebagai diktator Rusia tanpa

tertandingi sampai matinya. Tahap kenaikan bintang Stalin dalam

kepemimpinan Komunis Rusia dimulai ketika Lenin jatuh sakit bulan Mei 1922,

yaitu ketika sebuah dewan yang terdiri dari Stalin, Zenoviev, Kaminiev,

Trotsky dan Bochorin meneruskan kepemimpinan Komunis Rusia. Kemudian

penyakit Lenin tidak bisa disembuhkan, yang akhirnya menyebabkan

kematiannya. Zenoviev dan Kaminiev merupakan tangan kanan Lenin sejak

awal kekuasaan Lenin, sehingga mereka berdua memandang dirinya sebagai

pewaris yang paling layak untuk meneruskan kepemimpinan Lenin. Trotsky

dalam bukunya yang berjudul Lenin pada halaman 37 dan 48 menyebutkan,

bahwa Zenoviev diperlakukan oleh Stalin seperti budak, sedang Kaminiev

sering dihina. Trotsky memandang Zenoviev dan Kaminiev sebagai saingan

yang mengancam kedudukannya, setelah Lenin meninggal dunia. Sementara


103


itu, Stalin memandang Trotsky dengan pandangan curiga, karena sikapnya

yang meragukan terhadap Stalin.

Zenoviev bagi kalangan atas partai Komunis Rusia dipandang sebagai calon

kuat untuk menggantikan Lenin. Pada kongres partai Komunis ke 12 ia diminta

menyampaikan pidato pembukaan menggantikan Lenin yang sedang sakit.

Lenin sendiri sudah menyatakan tidak mampu menyampaikan pidato

sambutan seperti biasanya. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Stalin dan

bukan Zenoviev yang menggantikan Lenin. Setelah sidang ditutup, Stalin

meraih kekuasaan dan kedudukan tinggi atas partai Komunis bersama kawan-

kawannya, hingga pada saat Lenin meninggal dunia tahun 1924. Pada bulan

April 1925 Stalin berhasil menyingkirkan Trotsky dari jabatannya sebagai

komisioner rakyat dalam urusan penahanan atau kementerian penahanan.

Setelah itu, Zenoviev disingkirkan pula dan digantikan oleh Bovadin, Rikov

dan Tomsky. Sedang Zenoviev dan Kaminiev ketika itu bergabung dengan

Trotsky untuk membentuk gerakan oposisi menentang Stalin. Akan tetapi,

langkah ini datangnya terlambat, sehingga mereka mendapat pukulan balik

dari Stalin. Pada bulan Februari 1926 Stalin berhasil menyingkirkan Zenoviev

dari politbiro, kemudian dari kepemimpinan Rusia di Leningrad, dan terakhir

dari kepemimpinan rakyat. Lalu datanglah giliran bagi Kaminiev dan Trotsky

pada bulan Oktober 1926. Mereka berdua disingkirkan dari politbiro oleh

Stalin. Pada tahun berikutnya Stalin benar-benar telah menyingkirkan lawan-

lawan politiknya dari komite sentral partai Komunis Rusia. Tahun 1927 Trotsky

berusaha mengadakan pembangkangan yang terakhir kalinya dengan

melemparkan tuduhan, bahwa Stalin telah menyalahi garis ideologi Marxisme

yang benar, dan menciptakan diktatorisme keluarga di Rusia. Stalin membalas

tuduhan itu dengan tindakan sangat kejam, dengan mengadakan pembersihan

besar-besaran yang menumbalkan ratusan ribu orang mati, dan ribuan lainnya

dibuang ke Siberia. Ini diungkapkan oleh Khrouchtchev di kemudian hari.

Stalin telah melakukan pembersihan terhadap para tokoh Komunis senior

Yahudi dan para tokoh proletar generasi pertama yang mencetuskan revolusi

Komunis. Di antara mereka yang terkenal tindakan Stalin itu yang berupa

penahanan, pembuangan dan hukuman mati adalah Trotsky, Zenoviev,

Kaminiev, Martinov, Zalolich, Martov dan lain-lain. Dengan demikian, secara

langsung Stalin telah bebas dari lingkungan orang-orang Yahudi senior pada

akhir hayatnya, kecuali istrinya Roza Kaganovich dan kakak iparnya Lazar

Kaganovich. Hasil studi analitis menunjukkan, bahwa dalam pembersihan

yang dilakukan Stalin pada akhir masa hidupnya terdapat adanya hubungan

rahasia dengan kekuatan terselubung, yang di dalamnya terdapat para tokoh

senior Yahudi Komunis Rusia. Ini menunjukkan, bahwa kekuatan terselubung

itu tidak mempertimbangkan adanya tumbal orang Yahudi atau bukan, selama

semua itu akan mendatangkan keuntungan materi bagi mereka. Peristiwa demi

peristiwa itu sebenarnya merupakan rancangan untuk membuka jalan

timbulnya perang ekonomi global, dengan menjadikan dunia sebagai arena

pertarungan pada masa sebelum Perang Dunia II. Perang ekonomi itu


104


memberikan bukti nyata, yang menunjukkan adanya hubungan konspirasi

antara Stalin dengan kekuatan terselubung. Tujuan yang hendak dicapai oleh

kekuatan terselubung sejak Perang Dunia I usai adalah :

1) Mempersiapkan pecahnya Perang Dunia II, seperti telah kita bahas.

2) Menguasai sumber kekayaan bangsa-bangsa gentiles, yang merupakan

tujuan mereka sejak dulu.

Jelaslah kiranya, bahwa untuk menopang tujuan pertama, Konspirasi dituntut

untuk mencapai dua faktor utama. Pertama adalah faktor psikologis dengan

membawa dunia dan Eropa kepada perang, dan meniupkan rasa permusuhan

dan kebencian antar-bangsa, seperti telah kita bicarakan terdahulu. Faktor

kedua adalah menciptakan perimbangan antara blok militer yang saling

berhadapan dalam perang. Ini merupakan jalan pokok menuju pecahnya

perang, karena negara sekutu yang keluar sebagai pemenang dalam Perang

Dunia I, yaitu Amerika, Perancis dan Inggris jauh lebih kuat dibanding dengan

Jerman yang kalah perang, dan menderita luka parah luar-dalam. Maka sebagai

pijakan logis untuk mewujudkan perimbangan kekuatan yang ada, lebih dulu

harus mempersenjatai dan membangun Jerman kembali beserta negara yang

akan dijadikan sekutu oleh para pemilik modal Yahudi internasional. Pada saat

yang sama, negara sekutu yang lebih kuat lebih dulu harus dilemahkan pada

tingkat yang diperlukan. Di samping itu, para pemilik modal Yahudi

internasional mencurahkan dananya dalam bidang industri persenjataan, agar

bisa mengalihkan potensi ekonomi negara yang bersangkutan kepada produksi

senjata, sampai pada masa yang diperlukan. Tidak mengherankan kalau setelah

Perang Dunia I, negara Barat yang tergabung dalam sekutu bersama Stalin

menutup mulut atas kebangkitan militer Jerman dan pembangunan kembali

negara itu, sehingga melahirkan Hitler dan Nazismenya. Sebagai kekuatan

besar dan makin kuat, Jerman mampu menaklukkan dan menduduki Swedia

dan Austria, serta beberapa negara Eropa lainnya. Sementara itu, Konspirasi

terus mencurahkan perhatiannya untuk mengeruk keuntungan dari bangsa-

bangsa yang bertikai, sebagai pelaksana dari perang ekonomi global yang

dirancang oleh Konspirasi.

Perang ekonomi global ini dimulai dari tahap percobaan antara tahun 1922

sampai 1925 dengan taktik tradisional. Para pemilik modal Yahudi

internasional membanjiri pasar modal negara-negara yang menang perang dan

negara-negara netral dengan saham, kredit dan investasi secara besar-besaran,

sehingga menimbulkan kenaikan harga barang dan meningkatkan produksi

serta kegiatan bisnis. Setelah itu, dana, saham dan investasi yang ada dalam

bursa internasional tiba-tiba ditarik kembali, sehingga menimbulkan krisis

ekonomi drastis dan dahsyat pada tahun 1925. Nilai mata uang merosot

seketika, Selanjutnya saham yang telah ditarik itu dilempar kembali ke pasar

modal dalam bentuk pinjaman dan transaksi, dan nilai mata uang kembali

normal. Dan para pemilik modal Yahudi internasional meraih keuntungan

besar. Para pemilik modal Yahudi Internasional merasa yakin akan


105


keberhasilan percobaan perang ekonomi tersebut di atas. Dengan berpijak pada

percobaan itu, mereka mengambil langkah penting dalam perang ekonomi

besar tahun 1930, yang mengakibatkan krisis ekonomi yang melanda hampir

seluruh dunia, yang dikenal dalam sejarah dengan sebutan Krisis Ekonomi

Dunia. Perang ekonomi ini bisa terlaksana berkat bantuan Stalin, sesuai dengan

kesepakatan rahasia. Maka jelaslah bukti yang menunjukkan adanya

persekongkolan antara Stalin dengan para pemilik modal Yahudi internasional.

Operasi perang ekonomi ini dimulai dengan penolakan para pemilik modal

memberikan dana kepada perusahaan perkapalan dan pelayaran Amerika dan

Eropa Barat pada umumnya. Sedang perusahaan perkapalan dan pelayaran

Jerman, Jepang dan Italia mendapat dana besar-besaran dan fasilitas dari

mereka. Di tiga negara itu tumbuh industri perkapalan, dan banyak orang

memonopoli dan merajai pelayaran Taut di seluruh dunia. Dan yang menjadi

perhatian khusus bagi para pemilik modal Yahudi internasional adalah kapal-

kapal barang pengangkut peti daging yang dieskan, dan biji-bijian Amerika

dan Eropa Barat menjadi terbengkalai tanpa bisa dioperasikan. Sementara itu,

kapal Jepang, Jerman dan Italia berlayar dengan leluasa mengangkat berbagai

jenis muatan.

Operasi berikutnya adalah lembaga keuangan dan bank-bank besar beserta

cabang-cabangnya menolak untuk memberikan kredit dan pinjaman bagi

pemasaran biji-bijian dan daging yang telah dieskan atau kalengan dan

asuransi produksinya di Amerika dan Eropa pada umumnya. Barang-barang

tersebut menumpuk dalam gudang tanpa bisa dipasarkan. Pada saat yang

sama, di negara yang dibanjiri barang-barang itu oleh para pemilik modal

internasional, harga barang turun drastis. Daging-daging itu berasal dari

Australia dan Argentina, sedang biji-bijian Rusia dijual kepada para pemilik

modal internasional dengan harga sangat murah, sehingga para petani Rusia

dengan sistem kolektif mengalami beban berat, khususnya para petani

Republik Ukraina di Uni Sovyet. Hal inilah yang menimbulkan kerusuhan

berdarah dan bahaya kelaparan yang melanda seluruh wilayah Republik

Ukraina.

Kenyataan di atas merupakan bukti yang kelak secara terbuka diakui sendiri

oleh Nikita Khrouchtchev dalam konferensi umum partai Komunis Rusia,

dimana Nikita dengan sengit menyerang politik Stalin, dan membeberkan

kebijakannya atas penjualan hasil biji-bijian Rusia kepada lembaga keuangan

internasional dengan harga sangat rendah, sehingga para petani Rusia

mengalami kerugian besar dan dilanda kelaparan. Kecuali itu, Nikita juga

berbicara tentang pembantaian yang dilakukan oleh Stalin pada masa

pemerintahannya. Akibatnya, perekonomian Amerika dan Eropa ambruk,

khususnya dibidang produksi pertanian dan peternakan. Barangkali Stalin

mengharapkan pecahnya revolusi Komunis di Eropa Barat yang ditimbulkan

oleh krisis ekonomi perubahan sosial dan gejolak politik. Namun peristiwa

berikutnya menunjukkan kesalahan dan keluguan perhitungan Stalin,

sebagaimana dilukiskan oleh Nikita. Sedang para pemilik modal internasional


106


adalah pihak yang berhasil mencapai tujuannya, yaitu menciptakan krisis

ekonomi global di Amerika, Eropa dan dunia penghasil biji-bijian dan daging.

Dengan demikian, krisis ekonomi, sosial dan politik berkembang mewarnai

kehidupan dunia secara umum. Kredit bank, sertifikat tanah, nota bank dan

lain-lain yang dijadikan jaminan pada lembaga keuangan segera berpindah

tangan kepada para pemilik modal internasional. Semua itu berkat kebijakan

yang ditempuh Stalin dalam konspirasinya bersama mereka.

Selanjutnya kondisi mencekam seperti itu menyebabkan lembaga keuangan

kecil terpaksa gulung tikar, di samping mengakibatkan timbulnya kerusuhan

dan dekadensi moral di mana-mana. Masalah ini tidak menjadi pertimbangan

bagi para pemilik modal selama mereka mendapat keuntungan besar. Stalin

telah berspekulasi dengan permainan berbahaya, dan menghancurkan nilai-

nilai manusiawi di kalangan rakyatnya sendiri.

Untuk mengetahui lebih jelas lagi tentang langkah-langkah setan yang

merancang krisis ekonomi dunia, kita perlu menengok kembali peristiwa

menjelang meledaknya krisis besar ini pada tahun 1929 sampai 1930. Amerika,

Eropa dan negara lain penghasil biji-bijian dan ternak mengalami kelesuan

ekonomi yang sangat parah. Barang hasil produksinya terpaksa tertimbun

dalam gudang, atau terbengkalai dalam kapal, tanpa bisa dikirim ke luar negeri

untuk dipasarkan. Pada saat yang sama bahaya kelaparan melanda berbagai

negara, termasuk negara penghasil biji-bijian dan daging itu sendiri. Sedangkan

Jerman, Jepang dan Italia telah mendapat kesempatan emas untuk mengeruk

keuntungan besar dari krisis ekonomi itu. Kapal mereka bisa leluasa

mengangkut ke pasaran bebas. Orang bisa bebas membeli dan menjual barang-

barang Jepang dengan harga yang bersaing. Dalam waktu relatif singkat ketiga

negara tersebut telah kembali berotot dan bisa membusungkan dadanya di

hadapan bangsa lain di dunia.

Akibat dari krisis besar dunia ini macam-macam. Franklin Roosevelt di

Amerika muncul dengan politiknya yang terkenal itu, yaitu beranjak dari

pengalihan investasi modal nasional Amerika ke dalam bidang industri, dan

membiarkan sebagian tanah pertanian tidak digarap dengan imbalan ganti rugi

yang diberikan kepada para pemiliknya. Roosevelt berhasil dengan rencana

politiknya itu, sehingga ia memenangkan pemilihan umum di Amerika. Krisis

ekonomi yang melanda Amerika bisa diakhiri dari satu sisi. Dari sisi lain,

investasi modal nasional Amerika bisa dialihkan ke dalam industri yang segera

berubah lagi menjadi industri persenjataan perang sejak meletusnya Perang

Dunia II.

Sebagaimana kita lihat, tujuan pokok para pemilik modal internasional adalah,

pertama mewujudkan perimbangan ekonomi antara Eropa dan Amerika di satu

pihak, dan Jerman, Italia dan Jepang di pihak lain. Masing-masing pihak dipacu

untuk mengalihkan industrinya ke bidang produksi persenjataan, untuk

mempersiapkan perang yang benar-benar akan menjadi kenyataan. Sedang


107


tujuan kedua adalah untuk sedapat mungkin menguasai kekayaan lain bangsa.

Hal ini sudah mereka capai.

Krisis besar ini tampak mereda antara tahun 1931-1932, dan muncul lagi tahun

1933. Hal ini terjadi, karena para pemilik modal internasional melemparkan

modalnya secara besar-besaran ke pasaran internasional yang memungkinkan

lahirnya transaksi baru. Pemasaran dan barter barang diborong oleh para

pemilik modal itu dengan harga sangat rendah. Adapun Stalin, ia telah gagal

menyalakan api revolusi Komunis di Eropa Barat. Stalin sendiri akhirnya

mengakui, bahwa ia adalah pihak yang dirugikan dalam persekutuan

rahasianya dengan para pemilik modal internasional. Mungkin inilah yang

menyebabkan timbulnya perselisihan terselubung antara keduanya, yang

tanda-tandanya tampak jelas pada tahun 1936. Dunia saat itu belum menyadari,

bahwa krisis ekonomi besar itu pada hakikatnya adalah awal dari rancangan

menuju Perang Dunia II. Juga tidak banyak orang menyadari, bahwa semua itu

terjadi karena ulah Konspirasi Internasional dengan jerat-jerat perangkap yang

sengaja dipasang.