Jumat, 20 Maret 2020

PERANG BHARATAYUDHA...??? DI KHURUSETRA..?? AKHIR PERANG ..??? .... APA SMW ITU ..??

Akhir Dendam Draupadi di Penutup Perang Bharatayudha


Akhir Dendam Draupadi di Penutup Perang Bharatayudha
1378067859673363152i Il
Ilustrasi Draupadi ikut Pandawa naik ke Meru mempersiapkan kematian sumber www otago ac nz
Setia terhadap Pandawa
“Perkawinan adalah perjalanan dari ‘aku’ menuju ‘kita’. Bila milik-mu tetap milik-mu dan milik-ku tetap milik-ku, tujuan perkawinan itu sendiri tidak terecapai. Dianggap gagal atau tidak oleh masyarakat, berakhir dengan perceraian atau tidak, perkawinan semacam itu sesungguhnya sudah berakhir.” (Krishna, Anand. (2006). Saptapadi, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
Draupadi sudah meleburkan dirinya ke dalam suaminya, kepentingan suaminya adalah kepentingan bersama. Draupadi sang putri raja bersedia mengikuti pengembaraan Pandawa, suaminya selama 13 tahun masa pengasingan dan bersedia ikut menyamar sebagai pelayan istana di Kerajaan Virata pada tahun terakhir pengembaraannya. Saat menyamar sebagai penata rambut di Kerajaan Wirata, adalah seorang Panglima yang bernama Kichaka ingin mempersuntingnya. Draupadi tidak bisa membuka penyamaran Pandawa dan kemudian mengatakan bahwa dia telah menjadi istri para Gandharva. Ketika Kichaka tidak mempercayainya, Draupadi memintanya bertemu sendirian dengannya di tengah malam dan kemudian Kichaka dibunuh oleh Bhima.
Kala dalam pengembaraan di hutan, saat sendirian dia juga pernah dilamar oleh Jayadhrata, putra adik perempuan Duryudana. Draupadi menolak dan ketika dipaksa naik kereta dia bertahan sampai Pandawa datang dan Jayadhrata lari terbirit-birit.

Dendam Draupadi
Nampaknya Draupadi sangat dendam pada Kaurawa, akan tetapi sebenarnya yang terjadi tidak demikian. Draupadi paham bahwa dharma harus ditegakkan dengan jalan memusnahkan Korawa. Berdamai dengan Korawa tidak akan memberikan ketenangan, Korawa akan selalu berkhianat menghalalkan segala cara.
Setelah 13 tahun masa pengasingan, Sri Krishna diminta sebagai duta perdamaian agar Pandawa diberikan sebagian kerajaan Hastina. Draupadi menyempatkan diri menemui Krishna, dan berkata bahwa bila terjadi perdamaian dengan Korawa, dan Pandawa melupakan penghinaan Korawa terhadap dirinya, dia tetap masih punya 5 putra untuk membalaskan dendamnya.
Sri Krishna berkata dengan bijak, “Siapa yang menanam benih akan memetik buahnya. Apabila Korawa yang melecehkan kamu belum menerima akibat perbuatannya, itu adalah karena buah karma mereka belum masak. Walaupun kamu telah bisa memaafkan mereka, tetap ada orang lain yang membalas perbuatannya, tidak perlu kamu sendiri yang membalasnya. Aku akan datang ke Korawa sebagai Duta, sebagai pembawa peringatan agar mereka sadar dan mengembalikan hak Pandawa. Apabila peringatan sudah datang dan mereka mengabaikannya, Alam akan menyelesaikannya dengan caranya.”
“Perasaan Sri Krishna lain, karena baginya perang itu bukanlah antara dua belah pihak berseteru. Perang itu bukanlah antara Pandava dan Kaurava. Perang itu antara Dharma dan Adharma, antara Kebijakan dan Kebatilan. Dan, perang antara Kebajikan dan Kebatilan tidak pernah selesai. Perang ini adalah perang sepanjang jaman, sepanjang masa. Tidak pernah berakhir. Terjadi di medan perang dan terjadi pula dalam diri manusia, dalam diri setiap manusia. Perang Bharatayudha masih terjadi. Perang Bharatayudha masih berlangsung. Di dalam dirimu dan di dalam diriku. Kaurava dan Pandava ada di dalam diri kita semua. Kesadaran kita akan memenangkan pihak yang mana, sepenuhnya tergantung pada diri kita. Sepenuhnya kembali kepada diri kita.” (Krishna, Anand. (2006).Surat Cinta Bagi Anak Bangsa. One Earth Media)

Lima Putranya dibunuh oleh Asvattama
Perang Bharatayudha telah mengubah Draupadi menjadi lebih bijaksana. Dia mulai memahami permainan Hyang Widhi. Perang Bharatayudha selesai dan saat pesta kemenangan Asvathama mengendap-endap masuk tenda putra-putranya dan membunuh semua putranya. Kesedihan yang mendalam membawa dia masuk ke dalam kamar, mengheningkan cipta.
Darupadi ingat bahwa saat Bhisma menjelang kematiannya, dia pernah protes dengan menangis terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma kepada Yudhistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu hamba dipermalukan oleh Dursasana, Kakek diam seribu bahasa?” Bhisma yang dalam keadaan terluka parah dengan puluhan anak panah yang menancap di tubuhnya serta sedang menunggu hari yang baik untuk meninggalkan jasadnya berucap pelan.....  “Cucuku Draupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan hatimu. Pada waktu itu aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh makanan membuat aku tak berdaya. Itu adalah bagian dari Skenario Sang Sutradara Alam agar Perang Bharatayudha terjadi. Maafkan aku Draupadi”. Draupadi merasakan kebenaran kata kakek Bhisma, apa yang kita makan akan menjadi darah, tubuh dan otak kita. Makanan yang diperoleh dengan menyakiti makhluk lain akan membuat kita sulit mengendalikan diri. Ibarat kita mau ngerem kendaraan akan tetapi remnya blong.
Draupadi menjadi malu sendiri. Dalam perang Bharatayuda, Kakek Bhisma tidak mau membunuh Pandawa, para suaminya. Kakek Bhisma juga tidak mau melawan wanita, akan tetapi Srikandi, adiknya justru memanahnya, sehingga dia terluka dan kemudian beliau bisa dipanah oleh Arjuna. Draupadi menjadi semakin malu, sang kakek tidak protes kepadanya, bahkan menjawabnya dengan tulus. Darupadi merenung dalam. Pandita Drona merasa dipermalukan oleh Prabu Drupada, ayahnya. Kemudian Pandita Drona ganti mempermalukan ayahnya dan mengambil separuh wilayah kerajaannya. Pandita Drona kalah bertempur karena ditipu Yudistira yang mengatakan Asvattama mati dan dalam keadaan shock dibunuh oleh Drestadyumna, adiknya. Kini Aswattama membunuh Drestadyumna dan semua putranya. Para Korawa yang diam saja saat dia dipermalukan sudah mati semua. Duryudana dan Dursasana yang mempermalukan dirinya pun sudah terbunuh. Kini semua anak-anaknya terbunuh.

Pelajaran dari Mahabharata
“Membaca cerita Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, namun panggungnya tetap sama. Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada. Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari. Para Kaurawa takut akan popularitas Pandava. Pandava harus diasingkan. Para Kaurava beranggapan bahwa masa pengasingan selama belasan tahun akan membuat para Pandava terlupakan oleh rakyat. Cara-cara klasik ini sampai saat kini pun masih digunakan. Kita selalu takut akan persaingan, karena kita tidak percaya pada diri sendiri. Untuk menghilangkan persaingan, kita akan melakukan apa saja; kita akan menghalalkan apa saja.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)


Memaafkan Asvattama
Setelah Asvattama tertangkap, Drupadi berubah pikiran, “Arjuna, semuanya terjadi karena Kehendak Hyang Widhi. Aku dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya meninggal. Bunda Gendari telah kehilangan seluruh putranya, Bunda Kunti telah kehilangan putranya, Karna. Para ibu banyak yang telah kehilangan putra-putranya dalam perang Bharatayuda ini termasuk diriku. Aku tidak mau menambah kesedihan Ibu Asvattama. Lepaskanlah Asvattama!”.
Pandawa menunggu keputusan Sri Krishna kala mendengar permintaan Drupadi. Sri Krishna mengangguk. Dan, batu permata di dahi Asvattama dilepas dan dia diusir ke derah padang pasir Arvashtan. Bagi Asvattama ini adalah penghinaan yang sangat berat, dia merasa lebih baik dibunuh daripada diperlakukan demikian. Tetapi demikianlah Kehendak Hyang Widhi.

Kematian Draupadi
Setelah mendengar dari Arjuna bahwa Sri Krishna telah meninggal, maka Yudhistira segera menobatkan Parikesit sebagai Raja Hastina. Kemudia kelima Pandawa beserta Draupadi dan seekor anjing melakukan perjalanan ke Himalaya mempersiapkan kematian mereka. Draupadi adalah yang pertama kali jatuh dan meninggal, dilanjutkan dengan saudara-saudara Yudistira. Dan Terakhir Yudisthira meninggal.
Saat Yudhistira dibawa ke surga dia melihat Draupadi yang cantik jelita duduk di singgasana mengenakan karangan bunga teratai. Dewa Indra berkata bahwa wanita itu adalah “Shree” yang berkenan mewujud sebagai Putri Draupada. Dialah yang merencanakan semua drama di dunia.



Raden Puntadewa memiliki watak sadu (suci, ambeg brahmana), suka mengalah, tenang, sabar, cinta perdamaian, tidak suka marah meskipun hargadirinya diinjak-injak dan disakiti hatinya. Oleh para dalang ia digolongkan dalam tokoh berdarah putih dalam pewayangan bersama Begawan Bagaspati, Antasena dan Resi Subali sebagai perlambang kesucian hati dan dapat membunuh nafsu-nafsu buruknya.

Konon, Puntadewa dilahirkan melelui ubun-ubun Dewi Kunti. Sejak kecil para putra putra Pandu selalu ada dalam kesulitan. Mereka selalu bermusuhan dengan saudara sepupu mereka, Kurawa, yang didalangi oleh paman dari para Kurawa yang juga merupakan patih dari Kerajaan Astinapura, Patih Harya Sengkuni. Meskipun Pandawa memiliki hak atas kerajaan Astinapura, namun karena saat Prabu Pandu meninggal usia pandawa masih sangat muda maka kerajaan dititipkan pada kakaknya, Adipati Destarastra dengan disaksikan oleh tetua-tetua kerajaan seperti, Dang Hyang Dorna, Patih Sengkuni, Resi Bisma, Begawan Abiyasa, dan Yamawidura dengan perjanjian tertulis agar kerajaan Astina diserahkan kepada Pandawa setelah dewasa, dan Destarastra mendapatkan separuh dari wilayah Astina. Namun atas hasutan Patih Sengkuni maka kemudian Kurawalah yang menduduki takhta kerajaan. Segala cara dihalalkan untuk menyingkirkan pandawa, dimulai dengan Pandawa Timbang (lih. Bima), Bale Sigala-gala, Pandawa Dadu sampai pada perang besar Baratayuda Jayabinangun. Meskipun Puntadewa adalah manusia berbudi luhur namun ia memiliki kebiasaan buruk yaitu suka berjudi.


Kelak kebiasaan buruk dari Puntadewa ini menyebabkan para Pandawa berada dalam kesulitan besar. Hal tersebut dikisahkan sebagai berikut: Saat terjadi konflik antara Pandawa dan Kurawa tentang perebutan kekuasaan Kerajaan Astinapura, Kurawa yang didalangi oleh Sengkuni menantang Pandawa untuk main judi dadu. Pada permainan tersebut, para Pandawa mulanya hanya bertaruh uang, namun lama kelamaan, Puntadewa mempertaruhkan kerajaan, istri, dan pada akhirnya pandawa sendiri sudah menjadi hak milik kurawa (Sebelumnya Puntadewa bersama adik-adiknya berhasil mendirikan kerajaan yang berasal dari Hutan Mertani, sebuah hutan angker yang ditempati oleh raja jin yang bernama Prabu Yudistira dan adik-adiknya).

Saat Pandawa beranjak dewasa, mereka selalu dimusuhi oleh para Kurawa, akibatnya para tetua Astinapura turun tangan dan memberi solusi dengan menghadiahi Pandawa sebuah hutan angker bernama Wanamarta untuk mengindari perang saudara memperebutkan takhta Astinapura. Setelah itu, hutan yang tadinya terkenal angker, berubah menjadi kerajaan yang megah, dan Prabu Yudistira serta putrinya, Dewi Ratri atau para dalang juga sering menyebutnya Dewi Kuntulwilanten menyatu di dalam tubuh Puntadewa yang berdarah putih. Sejak saat itu pulalah Puntadewa bernama Yudistira.
Sebelumnya, setelah Pandawa berhasil lolos dari peristiwa Bale Sigala-gala, dimana mereka dijebak disuatu purocana (semacam istana dari kayu) dengan alasan Kurawa akan menyerahkan setengah dari Astina, namun ternyata hal tersebut hanyalah tipu muslihat kurawa yang membuat para Pandawa mabuk dan tertidur, sehingga pada malamnya mereka dapat leluasa membakar pesanggrahan Pandawa. Bima yang menyadari hal itu dengan cepat membawa saudara-saudara dan ibunya lari menuju terowngan yang diiringi oleh garangan putih sampai pada Kayangan Saptapertala, tempat Sang Hyang Antaboga, dari sana Pandawa lalu melanjutkan perjalanan ke Pancala, dimana sedang diadakan sayembara adu jago memperebutkan Dewi Drupadi. Barang siapa berhasil mengalahkan Gandamana, akan berhak atas Dewi Drupadi, dan yang berhasil dalam sayembara tersebut adalah Bima. Bima lalu menyerahkan Dewi Drupadi untuk diperisri kakaknya. Sumber yang lain menyebutkan bahwa setelah mengalahkan Gandamana Pandawa masih harus membunuh naga yang tinggal di bawah pohon beringin. Kemudian Arjunalah yang dengan panahnya berhasil membunuh naga tersebut. Dari Dewi Drupadi Puntadewa memilki seorang putra yang diberi nama Pancawala.



Dalam masa buangan tersebut ada sebuah kisah yang menggambarkan kebijaksanaan dari Raden Puntadewa. Pada suatu hari Puntadewa memerintahkan Sadewa untuk mengambil air di sungai. Setelah menunggu lama, Sadewa tidak kunjung datang, lalu diutuslah Nakula, hal yang sama kembali terjadi, Nakula pun tak kembali. Lalu Arjuna dan akhirnya Bima. Semuanya tak ada yang kembali. Akhirnya menyusulah Puntadewa. Sesampainya di telaga ia melihat ada raksasa besar dan juga adik-adiknya yang mati di tepi telaga. Sang Raksasa kemudian berkata pada Puntadewa bahwa barang siapa mau meminum air dari telaga tersebut harus sanggup menjawab teka-tekinya. Pertanyaannya adalah apakah yang saat kecil berkaki empat dewasa berkaki dua dan setelah tua berkaki tiga? Punta dewa menjawab, itu adalah manusia, saat kecil manusia belum sanggup berjalan, maka merangkaklah manusia (bayi), setelah dewasa manusia sanggup berjalan dengan kedua kakinya dan setelah tua manusia yang mulai bungkuk membutuhkan tongkat untuk penyangga tubuhnya.

Sang raksasa lalu menanyakan pada Puntadewa, jika ia dapat menghidupkan satu dari keempat saudaranya yang manakah yang akan di minta untuk dihidupkan? Puntadewa menjawab, Nakula lah yang ia minta untuk dihidupkan karena jika keempatnya meninggal maka yang tersisa adalah seorang putra dari Dewi Kunti, maka sebagai putra sulung dari Dewi Kunti ia meminta Nakula, putra sulung dari Dewi Madrim. Dengan demikian keturuanan Pandu dari Dewi Madrim dan Dewi Kunti tetap ada. Sang Raksasa sangat puas dengan jawaban tersebut lalu menghidupkan keempat pandawa dan lalu berubah menjadi Batara Darma. Puntadewa bisa saja meminta Arjuna atau Bima untuk dihidupkan sebagai saudara kandung namun secara bijaksana ia memilih Nakula. Suatu ajaran yang baik diterapkan dalam kehidupan yaitu keadilan dan tidak pilih kasih.


Akibat kalah bermain dadu, Pandawa harus menerima hukuman menjadi buangan selama 13 tahun. Dan sebelumnya Drupadi pun sempat dilecehkan oleh Dursasana yang berusaha menelanjanginya sampai sampai terucaplah sumpah Dewi Drupadi yang tidak akan mengeramas rambutnya sebelum dicuci oleh darah Dursasana, untunglah Batara Darma menolong Drupadi sehingga ia tidak dapat ditelanjangi. Pada tahun terakhir sebagai buangan, Pandawa menyamar sebagai rakyat biasa di suatu kerajaan bernama Wirata. Disana Puntadewa lalu menjadi ahli politik dan bekerja sebagai penasehat tak resmi raja yang bernama Lurah Dwijakangka.

Puntadewa memiliki jimat peninggalan dari Prabu Pandu berupa Payung Kyai Tunggulnaga dan Tombak Kyai Karawelang, Keris Kyai Kopek, dari Prabu Yudistira berupa Sumping prabangayun, dan Sangsangan robyong yang berupa kalung. Jika puntadewa marah dan tangannya menyentuh kalung ini makan seketika itu pulalah, ia dapat berubah menjadi raksasa bernama Brahala atau Dewa Mambang sebesar gunung anakan dan yang dapat meredakannya hanyalah titisan Batara Wisnu yang juga dapat merubah diri menjadi Dewa Amral. Selain itu Puntadewa juga memiliki pusaka bernama Serat Jamus Kalimasada.
Kemudian atas bantuan dari Werkudara, adiknya, akhirnya Puntadewa menjadi raja besar setelah mengadakan Sesaji Raja Suya yang dihadiri oleh 100 raja dari mancanegara. Dengan demikian Puntadewa menjadi seorang raja besar yang akan menjadi anutan bagi raja-raja di dunia.



Pada Perang besar Baratayuda Jayabinangun, Puntadewa menjadi senapati perang pihak pandawa menghadapi raja dari kerajaan Mandraka, Prabu Salya. Puntadewa pun akhirnya behasil membunuh Salya meskipun sebenaranya ia maju kemedan perang dengan berat hati. Saat perang Baratayuda terjadi pun, Puntadewa pernah melakukan tindakan tercela yang mengakibatkan senapati perang Kurawa yang juga gurunya, Dang Hyang Dorna terbunuh. Dikisahkan sebagai berikut, saat para pandawa berhasil membunuh gajah Estitama, seekor gajah milik Astina. Drona yang samar-samar mendengar “….tama mati!” menjadi bigung, mungkin saja Aswatama, putranya telah mati, dan lari menuju pesanggrahan Pandawa, Drona tahu benar siapa yang harus ditanyai, Puntadewa, seorang raja yang selama hidupnya tak pernah berbohong. Saat itu Puntadewa atas anjuran Kresna menyebutkan bahwa Hesti (dengan nada lemah) dan tama (dikeraskan) memang telah mati, Drona yang mendengar hal itu menjadi tambah panik karena menurut pendengarannya yang telah kabur, putra tunggalnya telah tewas. Drona pun kemudian tewas oleh Drestajumena yang mamanggal lehernya saat Drona dalam keaadaan ling-lung. Dalam hal ini dapat di petik sebuah pelajaran bahwa dalam hidup ini sebuah kejujuran pun tidak dapat dilakukan secara setengah-setengah, memang Puntadewa tidak pernah berbohong, namun sikap setengah-setengah tersebut pulalah yang mangakibatkan kematian guru besar Astina tersebut.

Setelah selesai Baratayuda, Puntadewa menjadi raja di Astina sebentar dengan gelar Prabu Kalimataya. Lalu di gantikan oleh cucu dari Arjuna yang bernama Parikesit dengan gelar Prabu Kresnadwipayana. Setelah tua, Puntadewa lalu memimpin adik-adiknya untuk naik ke Puncak Himalaya untuk mencapai nirwana. Disana satu persatu istri dan adik-adiknya meninggal, lalu hanya ia dan anjingnya lah yang sampai di pintu nirwana, di sana Batara Indra menolak membawa masuk anjing tersebut, namun puntadewa bersikeras membawanya masuk. Lalu setelah perdebatan panjang anjing tersebut berubah menjadi Batara Darma dan ikut ke nirwana bersama Puntadewa.

Kisah Pandawa Mencapai Moksa


Perjalanan suci yang dilakukan oleh para Pandawa diceritakan dalam kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa
Dikisahkan Setelah perang Bharatayuddha berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untukmemuliakan mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja Hastinapura sekaligus rajaIndraprastha. Yudistira dengan sabar menerima Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura.
Yudistira kemudian menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu upacara pengorbanan untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh dunia.
Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan wafatnya Kresna, , Yudhistira meletakan jabatannya dan memberinya kepada Parikesit cucu Arjuna, satu2nya pewaris tahta yang tersisa . Yudistira memutuskan meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifatketerikatan untuk melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi Bharatawarsha lalu menuju puncak Himalaya.Keempat adiknya Bima, Arjuna , Nakula dan Sahadewa memutuskan ikut bertapa dengannya.Drupadi juga memutuskan untuk ikut bertapa.Akhirnya Panca  Pandawa bersama Drupadi bersama sama mendaki Gunung Himalaya.
Dalam Perjalanan sucinya , Dikaki gunung, seekor anjing mengikuti Yudhistira. Kemana Yudhistira berjalan si anjing mengikuti. Awalnya anjing itu hendak diusir oleh adik – adik Yudhistira, tetapi karena melihat anjing hitam itu, kurus tetapi kuat Yudhistira mencegahnya dan membiarkan anjing itu ikut bersama mereka mendaki gunung.Kemudian para Pandawa dihadang oleh api yang sangat besar, yaitu Agni.
Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habisdikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayugater sebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Baruna.Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa melanjutkan perjalanannya.

 Dalam Perjalanan Tak berapa lama Drupadi terjatuh, badannya lemah sekali. Hawa gunung himalaya yang dingin dan sulitnya jalur pendakian membuat Drupadi kehabisan tenaga. Drupadi meninggal dipangkuan Yudhistira. Yudhistira menahan rasa sedihnya dan meninggalkan jenasah istri tercintanya melanjutkan perjalanan.
Kemudian Setelah Drupadi meninggal kini Sahadewa jatuh tersungkur kelelahan. Yudhistira hanya menghela napas melihat adiknya meninggal. Ketika Sadewa meninggal, Bima bertanya kepada Yudistira, “Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut. Ia juga sangat rendah hati.Mengapa ia meninggal sampai di sini?”. Yudistira yang bijaksana menjawab, “Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Sahadewa sangat membanggakan kepintarannya yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. . Setelah Sadewa meninggal kemudian disusul oleh Nakula. Lalu Bima bertanya kepada Yudistira, Ini saudara kami yang diperlengkapi dengan kebenaran  dan yang selalu taat, Nakula yang tak tertandingi untuk ketampanan, telah wafat.” Lalu Yudistira berkata dengan Ia adalah seorang degnan jiwa yang penuh kebenaran dan kepintaran. Namun dengan ketampanannya ia beranggapan tak satupu yang bisa menandingi ketampanannnya karena ketamakannya itu dia meninggal.

Masih dalam kesedihan yang mendalam Arjuna berjalan sempoyongan dan berkata kepada kakak2nya untuk melanjutkan perjalanan tanpanya. Arjuna Kemudian meninggal. Dan Bimabertanya pada Yudistira, “Aku tidak ingat apapun ketidakbenaran yang diucapkan oleh Arjuna. Bahkandalam bercanda dia mengatakan semua tanpa kepalsuan. Apa kemudian yang menyebabkan ia sampaidisini? Yudhistira berkata, “Arjuna telah mengatakan bahwa ia akan mengalahkan semua musuh kami dalam satu hari. Ia terlalu bangga akan kepahlawanan itu. Oleh karena itulah ia wafat.

Kini Tinggal Yudhistira, Bhima dan anjing yang melanjutkan perjalanan. Dan Bima pun mencapai ajalnya. Sebelum ia meninggal ia bertanya padaYudistira, Wahai kakakku, jika kau tau kenapa aku berakhir disini, katakanlah yang kau ketahui.Lalu Yudistira berkata,Engkau pemakan besar, dan kamu pernah membanggakan kekuatanmu itu.” Bagaimana dengan Yudhistira? orang yang selama ini dianggap lemah dan bodoh masih mendaki gunung himalaya dengan tekad kuat. Yudhistira kini hanya dengan anjingnya melihat jenasah adik2nya di lereng gunung. Kemudian dia melihat keatas, tampak puncak himalaya yang disinari matahari. Segera ia mempercepat langkahnya, dan tak terasa sampailah Yudhistira dipuncak gunung Himalaya.
Seketika itu, langit terbelah dan Dewa Indra turun dari langit menaiki kereta kencana, dia mengajak Yudhistira menuju Surga. Yudhistira ingin anjingnya ikut ke surga . namun Anjing tidak diperbolehkan masuk surga kata Indra. Maka aku tidak akan pergi. Istri dan adik2ku telah pergi meninggalkan aku sendirian, tetapi anjing ini dengan setia mengikutiku kemana aku pergi kata Yudhistira . Apabila aku pergi kesurga meninggalkan anjing ini sendirian, manusia macam apa aku ini? Indra yang takjub mendengar kata2 Yudhistira beranjak menghormat kepada Yudhistira. Tiba2 si anjing telah berubah menjadi Yama, sang dewa Dharma, avatar Yudhistira. Dia memuji Yudhistira dan mengajaknya naik kesurga.
Sesampainya disurga, Yudhistira melihat para Kurawa dan Sengkuni sedang berpesta pora. Indra berkata bahwa para Kurawa masuk surga karena mereka membela tanah air mereka, sehingga mendapat karma untuk tinggal disurga. Kemudian Yudhistira bertanya, kemana istri dan adik2nya? oleh Indra Yudhistira diajak keneraka dimana Drupadi, adik2nya dan Karna disiksa dineraka karena dosa2 mereka. Yudhistira berkata kepada Indra, biarlah aku tinggal disini bersama istri, kakak dan adik2ku. Apalah arti sebuah surga apabila saudara2mu dan orang2 yang kamu cintai tidak bersamamu?
Indra yang melihat ketulusan hati Yudhistira sekali lagi menghormat kepada Yudhistira. Seketika itu juga suasana berubah total semua menjadi berbalik keadaan Neraka berubah menjadi surga dan surga menjadi neraka. Para kurawa dan Sangkuni kini tersiksa dineraka. Yudhistira, Drupadi, Bhima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan karna telah menebus dosa mereka, kini mereka telah moksa tinggal disurga.
Hubungannya dengan moksa yang kita pelajari adalah
Moksa adalah salah satu Srada dalam ajaran Agama Hindu, yang merupakan tujuan tertinggi dari Umat Hindu. Kebahagiaan yang sejati akan tercapai oleh seseorang apabila ia telah dapat menyatukan jiwanya dengan Tuhan. Di dalam usaha untuk mencapai moksa sudah tentu ada hal-hal yang menghambat untuk mencapai tujuan tersebut. Seperti ujian-ujian yang dihadapi oleh para Panca Pandawa khususnya yang dialami oleh Yudhistira. Selain itu unsure awidya atau kegelapan jiwa akan memuncculkan perilaku yang bertentangan denagn ajaran dharma. Untuk menghindari diri dari jurang kesengsaraan atau kegelapan kita hendaknya selalu dapat introspeksi diri dengan menjalankan /melaksanakan ajaran Astangga Yoga. Sama halnya dengan perjalanan Panca Pandawa untuk mencapai Surga yang penuh dengan ujian, mereka lewati satu demi satu sampai akhirnya meninggal di dalam perjalanan, disebabkan oleh karma tidak baik yang mereka perbuatan semasa hidupnya. Hanya Yudhistira yang dapat melanjutkan perjalanan untuk mencapai Surga karena semasa hidupnya selalu mengamalkan ajaran Dharma. Namun karena karma baik mereka akhirnya dapat mencapai Surga. Jadi hanya dengan karma baik dan dengan melaksanakan ajaran Dharmalah seseorang dapat mencapai kebahagiaan yang abadi



Situs artikel terkait

Pandawa Mengakhiri Hidupnya di Istana Alam

 


https://wayang.wordpress.com/2010/07/22/pandawa-mengakhiri-hidupnya-di-istana-alam/
Tiga puluh enam tahun telah berlalu sejak pecah perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa yang dimenangkan oleh pandawa. Sejak itu kerajaan Astina di bawah pimpinan prabu Yudhistira berhasil mewujudkan suatu negara yang subur makmur gemah ripah loh jinawi kerta tur raharja. Jauh daris engketa politik tidak seperti ketika negara amsih dikuasi kaum Kurawa, dimana Pandawa harus mengalami hidp sengsara merana di hutan belantaa 13 tahun lamanya.

Akan tetapi perjalanan hidup tidak selalu langgeng, situasi dan kondisi turut menentukan, terutama setelah meninggalnya para pini sepuh seperti Destarata, Gendari, Kunti dan kresna, Pandawa seperti kehilangan pegangan. Kelezatan dan kemewahan tak mampu menjamin ketenangan batin. Resah gelisah dan serba salah akhirnya menimbulkan rasa jenuh, seolah mereka sudah tidak betah lagi tinggal di dalam istina. Untuk menetralisir keadaan, Yudhistira bersama saudara-saudaranya sepakat akan minta nasehat Begawan Abiyasa di pertapaan Ukir Retawu.
Bersabdalah sang Begawan: “Cucuku, segala sesuatu yang diciptakan tidak ada yang sempurna. Begitu pula hidup di dunia tidak ada yang langgeng, cepat atau lambat kita akan kembali menghadap Yang Maha Kuasa. Karena itu aku menasehatkan agar kalian segera berpindah dari istana kerajaan dengan segala kelezatan dan kemewahannya, pindah ke istana alam dengan segala keasliannya untuk mencapai kemuliaan akherat sambil menunggu kedatangan Hyang Kala,” ujarnya.

Wejangan Abiyasa itu memberi tanda lampu kuning, agar Pandawa meninggalkan kelezatan duniawi beralih mencari kemuliaan akhirat, mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu dipanggil menghadap Tuhan Maha Kuasa. Atas wejangan itu Pandawa sepakat akan meninggalkan kerajaan membuang diri menjelajah alam terbuka bertapa mendekatkan diri dengan Hyang Maha Tungal. Sedang untuk meneruskan tahta kerajaan telah diangkat Parikesit sebagai raja Astinapura.
Demikianlah pada hari yang telah ditetapkan, para Ksatria Pandawa bersama Drupadi meningalkan istana dengan perasaan pilu diiringi isak tangis keluarga dan rakyatnya. Tidak sepotong pun harta dunia yang dibawa, bahkan pakaian pun terbuat dari kulit. Ketika mereka keluar dari istana seekor anjing mengikuti dari belakang. Mereka berjalan ke arah timur masuk hutan keluar hutan, kemudian berbelok ke selatan dan akhirnya sampai di pegunungan Himawan (Himalaya) yang di situ terbentang alam terbuka gurun pasir yang terhampas luas sejauh mata memandang. Gurun itulah yang akan mereka tempuh. Setelah bersemadi beberapa saat, mulailah mereka memasuki istana alam di bawah teriknya sinar matahari menyengat sekujur badan.
Tiba-tiba Drupadi mengaduh dan jatuh terkulai serta tak lama kemudian menemui ajal, Bima sedih melihatnya dan bertanya: “Kakangku, Drupadi telah mati, apakah ia membawa dosa?”
Yudhistira: “Adikku Bima, setiap kematian membawa dosa. Semasa hidupnya Drupadi bertindak pilih kasih. Ia lebih mencintai Arjuna daripada kita. Dosa itulah yang akan ia bawa,” jelasnya.

Tidak lama kemudian Sadewa pun terjatuh dan ajal seketika. Bima bertanya: “Kakang lihat, Sadewa pun mati, apa pendapatmu?”
Yudhistira: “Adikku, Tuhan tidak menyukai orang yang sombong. Ketika masih hidup Sadewa suka menyombongkan diri, bahwa dialah yang paling pintar tak ada yang mengungguli. Padahal setiap manusia mempunyai keterbatasan. Itulah dosanya.”

Perjalanan diteruskan dan semakin jauh menyelusuri gurun pasir dan kelelahan pun semakin terasa. Tiba-tiba nakula pun tejratuh dan menghembuskan nafas yang terakhir. Bima kembali bertanya: “Kakang Yudhis, Nakula pun menyusul, bagaimana pendapatmu?”
“Jika seseorang merasa dirinya lebih dari yang lain, maka orang itu takabur. Begitupun Nakula. Ia merasa dirinya yang paling tampan tiada duanya. Itu pertanda hatinya tak setampan lahirnya. Karena itu ia tak dapat mengikuti kita,” jelasnya. Belum kering mulut Yudhistira berkata, giliran Arjuna jatuh terkulai mengalami nasib yang sama. Padahal kesaktiannya seperti Hyang Indra “Apakah dosanya Kang?”

Yudhistira: “Arjuna pun terkena penyakit takabur. Ketika anaknya mati, ia telah sesumbar sanggup mengalahkan musuh dalam satu hari sebelum matahari terbenam. Padahal kesanggupannya hanya terdorong oleh nafsu semata, sehingga janjinya tak dapat dibuktikan. Itulah dosanya.”
Tak berapa lama tiba-tiba Bima mengerang: “Oh, kakang tolong aku, badanku gemetar aku tak mampu berjalan, tolong aku kang…: “Adikku Bima, engkau makan sangat gembul tanpa mengindahkan orang lain yang juga butuh makanan. Kata-katamu kasar tak perduli dengan siapa engkau berbicara. Selain itu engkau selalu menyombongkan kekuatanmu. Karena itu terimalah apa yang telah engkau lakukan,” dan sang Bima pun menemui ajalnya. Tinggallah Yudhistira seorang diri hanya ditemani angjingnya yang sangat setia. Hatinya sedih tak terperikan lalu ia berdoa: “Duh Maha Agung, terimalah adik-adik hamba menghadap -Mu. Meski mati membawa dosa, tetapi mereka pun banyak berbuat amal kebaikan semasa hidupnya. Karena itu ampunilah dosanya, berilah mereka tempat yang layak sesuai dengan amal perbuatannya.”

Kemudian ia berkata kepada anjingnya: “Anjingku yang setia, engkau telah menjadi saksi atas kepergian adik-adikku. Tak lama lagi mungkin giliranku. Tapi aku sangat sedih karena kau harus menyendiri. Padahal selama ini engkau begitu setia menyertaiku.” Baru saja Yudhistira hendak beranjak, tiba-tiba di angkasa terdengar suara mengguruh ternyata Hyang Indra datang dengan kereta kencana tiba di hadapan Yudhsitra seraya bersabda: “Ya Yudhistira, janganlah engkau bersedih atas kematian adik-adik dan istrimu. Mati telah menjadi bagian setiap manusia. Sekarang naiklah ke atas kereta, engkau akan kubawa ke swarga tanpa harus meninggalkan jasadmu sebagai penghargaan atas keutamaanmu.
Yudhistira : “Ya sang Pikulun, hamba sangat bersykur mendapat anugerah yang tak terhingga besarnya. Hanya ada satu permintaan sebelum paduka membawa hamba.” “katakan apa yang kau minta?” tanya Indra. “Hamba mohon supaya anjing ini diperkenankan turut serta naik ke swarga,” pintanya.

Indra : “Yudhistira, ketahuilah bahwa engkau akan kubawa ke alam yang teramat suci tanpa noda sedikit pun. Seedang anjing adalah hewan yang sangat kotor. Karena itu jangalah engkau memikirkannya, walaupun ia setia padamu.”
Yudhistira : “Kalau demikian lebih baik hamba tinggal di sini bersamanya. Hamba tidak tega meninggalkan dia sendirian di tengah hamparan pasir yang luas sejauh mata memandang. Dia telah merasakan kelelahan yang amat sangat menempuh perjalanan yang amat jauh bersama hamba,” jawab Yudhistira bertahan.
Indra : “Kalau begitu engkau tidak menghargai kesetiaan saudara-saudaramu yang telah pergi lebih dahulu. Selama hidupnya mereka begitu setia kepadamu hingga akhir hayatnya. Lalu mana kesetiaanmu kepada mereka?” sergahnya.
Yudhistira : “Tidak dapat dikatakan hamba tak akan setia kepada mereka, karena mereka telah ajal lebih dahulu. Kecuali jika mereka masih hidup kemudian hamba meninggalkan mereka, barulah itu dikatakan bahwa hamba tidak setia kepada mereka. Dan kini seekor anjing walaupun hewan kotor, karena dia sangat setia kepada hamba dan adik-adik hamba, apakah hamba harus tega meninggalkannya sendirian di alam terbuka tanpa ada yang menemani. Bukankah anjing juga makhluk Tuhan? Oh, tidak sang Pikulun, lebih baik hamba tak ke swarga daripada harus meninggalkan dia,” kilahnya.
Tiba-tiba anjing itu menghilang dan Dewa Darma telah berada di hadapan yudhistira merangkul dan bersabda: “Anakku Yudhistira, telah dua kali aku menguji keutamaanmu. Pertama ketika saudara-saudaramu mati di tepi hutan karena minum air kolam. Ketika kau minta supaya Nakula yang dihidupkan bukan Arjuna saudara sekandungmu, karena engkau lebih mengutamakan keadilan daripada kasih sayang. Dan sekarang engkau lebih baik tak jadi ke swarga daripada harus meninggalkan seekor anjing yang setia kepadamu. Mengingat keutamaanmu, engkau diperkenankan naik ke swarga bersama jasadmu.”
Ringkas cerita Yudhistira telah naik ke alam akhirat. Setibanya di sana ia melihat-lihat apakah saudara-saudaranya berada di situ. Ternyata taks eorang pun ia lihat. Bahkan ia kaget ketika melihat Duryudana sedang duudk di singgasana disanjung dan dimuliakan. Ia berkata dalam hatinya: “Ah, ini tidak sesuai dengan karyanya di dunia. Walaupun ia raja tapi ia berwatak angkara. Justru dialah yang menyulut api perang Baratayudha. Tapi mengapa ia justru ditempatkan di swarga?” Batara Narada yang menyertai terusik rasa tahu apa kata hati si anak Pandu itu lalu berkata: “Wahai Yudhistira, janganlah engkau heran. Matinya Duryudana di medan perang sebagai seorang perwira. Maka sudah sepantasnya Maha Kuasa mengganjar dengan kemulian.”

“Hamba tak berhak mencampuri urusan akhirat, silahkan bila Duryudana diberi ganjaran kemuliaan. Tetapi kalau tempat ini pantas untuk Duryudana, lalu di manakah tempat berkumpulnya saudara hamba?” tanya Yudhistira.
Narada lalu menitahkan seorang ahli swarga mengantar Yudhistira ke tempat saudaranya berkumpul. Ternyata jalannya penuh kerikil dan batu-batuan. Ribuan nyamuk berterbangan, di sepanjang jalan darah berceceran, daging terkeping-keping serta tulang-tulang berserakan ditambah bau amis sangat menyengat. Tak lama terlihat sebuah kancah dengan godongan minyak yang sangat panas sedang menggodog manusia-manusia yang sedang disiksa. Yudhistira tak sampai hati dan ingin berlalu. Tetapi tiba-tiba ada suara menghimbau: “Oh, jangan pergi dulu sang Prabu, karena air minyak yang sangat panas ini, begitu tuand atang mendadak menjadi sangat dingin bagai hawa di pegunungan.”

Ternyata yang berbicaa bukan hanya seorang, tetapi beberapa orang yang sedang mendapat siksaan. Yudhistira kaget, karena ia mengenal satu-satunya suara itu. Lalu ia bertanya siapa tadi yang bertanya. Maka mereka menjawab: “Aku Karna, Aku Bima.” Lalu lainnya: “Saya Arjuna,” demikian seterusnya sampai nama Nakula Sadewa dan Drupadi. Setelah jelas bahwa mereka yang sedang mendapat siksaan itu adalah saudara-saudaranya, Yudhistira minta kepada pengiringnya agar meninggalkan tempat itu. Biarlah dia ingin menyertai mereka, agar godongan minyak itu tetap dingin.
Tetapi tak lama kemudian berdatanganlah para Dewa ke tempat siksaan dan.. seketika tempat yang semula berupa kancah godongan berubah menjadi suatu tempat yang amat indah tiada tara, sejuk nyaman dengan semilir angin yang menyejukkan ditambah tercium harum yang mewangi di sekitarnya. Hyang Indra kemudian bersabda:
“Yudhistira, jangan engkau masygul, sebab ini adalah suatu rahasia. Setiap manusia tak dipilih-pilih harus ke neraka. Hanya ada aturan tertentu, siapa yang ke swarga dahulu, selanjutnya harus ke nereka. . Dan siapa yang ke neraka dahulu, akhirnya akan ke swarga. Artinya apabila di dunia hidupnya berbuat jahat, maka di akhiratnya akan diganjar swarga dahulu, kemudian dimasukkan ke nereka. Sedang tuan harus melihat, sebab tuan pernah berbohong menipu Dorna ketika perang tuan mengatakan bahwa Aswatama telah mati. Demikian pula saudara-saudara tuan masuk kenera karena ada dosanya. Tetapi sejak hari ini, hukumannya telah ditutup dan mereka akan masuk swarga. Nah, biarkan mereka lebih dahulu memasuki gerbang Nirwana.”
Setelah itu sukma Yudhistira medal dari raga badannya dan dengan diiringi para Dewa masuk ke swarga bertemu dengan saudara-saudara serta para kerabat dan sahabatnya mendapat sejatining kemuliaan.