Senin, 28 Juli 2014

PERANG GAZA 2014- BERTEPATAN DENGAN BULAN RAMADHAN.... ??? ADA PERILAKU YANG ANEH DARI REGIME MESIR-SAUDI ARABIA.... DAN ISRAEL..YANG DIDUKUNG AMERIKA SERIKAT DAN INGGRIS...?? ... SECARA BERKOMPLOT.. MENYERANG GAZA-PALESTINA... YANG KONON ADALAH PUSAT HAMAS.. YANG NOTA BENE PENDUDUK TERPADAT DENGAN MAYORITAS UMMAT ISLAM ... DI PALESTINA.. .YANG BERPUSAT DI GAZA...??? KOTA.. DENGAN LUAS KONON 10 KM X 35 KM...SAJA...??? >> ADA APA REGIM PENGUASA SAUDI-MESIR DAN ISRAEL... SERTA DUKUNGAN MASIF DARI AS-INGGRIS... YANG DIMOTORI... OLEH... OBAMA-KERRY-DAN PARA DEDENGKOT NEOKONS DAN NEOLIBS SERTA PARA EMBAH BUYUT RAJA2 PENJAJAH DUNIA.. DI EROPA..??>> .... PERANG GAZA YANG ANEH... NEGERI LILIPUT..YANG RELAIF SANGAT MISKIN... DAN DALAM BLOKADE... . YANG DIHUNI MAYORITAS UMMAT ISLAM PALESTINA ITU DIGEMPUR OLEH ISRAEL DENGAN KEKUATAN PENUH -UDARA-LAUT DAN DARAT..SERTA DRONE... SELAMA ... BULAN RAMADHAN DAN BAHKAN SEBELUMNYA TELAH DITEROR..DAN DITEKAN.. OLEH ISRAEL- AS- MESIR DAN SAUDI CS... YANG MELIBATKAN BERBAGAI CARA2 JAHAT.. DAN INTELIGEN2...BAYARAN UNTUK KEPENTINGAN RAJA SAUDIA.DAN TUAN2NYA... YAKNI.. DENGAN PURA2 MEMBERI BANTUAN.. KEPADA GAZA..OLEH.. ROMBONGAN DARI.... KUWAIT-QATAR.. DAN GCC -TELUK YANG TERKENAL SANGAT KAYA RAYA... ???.....>>> KITA BERSYUKUR.. PERLAWANAN RAKYAT DAN PEJUANG GAZA.. SUNGGUH MENTAKJUBKAN... DAN SANGAT DAHSYAT.. >> MEMBUAT ISRAEL DAN MATA DUNIA TERBELALAK...!!!... >>> SUNGGUH GAZA .. BERHASIL SEBAGAI BANGSA YANG DISEGANI.. DAN MENJADIKAN LAWAN2.. SEMAKIN GENTAR...!!! >> ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR...!!! BERKAT PERTOLONGAN DAN RAHMAT ALLAH MAHA KUASA.. GAZA... TAK PERNAH ... KALAH...>>> BAHKAN KINI SEMAKIN NYATA KUAT DAN PERKASA...!!! >> MAKA MESIR-ARAB SAUDI-ISRAEL-AS-INGGRIS..DKK... SEMAKIN KECEWA.. DAN MENJADIKAN MEREKA.. KAUM YANG TERHINAKAN... DAN TER CEMOOHKAN.. KARENA KEBENGISAN DAN KEZHALIMAN SERTA KESERAKAHAN MEREKA.. !!! WALAUPUN TERHADAP BANGSA YANG TERJAJAH DAN TERTINDAS.. SEPERTI PALESTINA.. DAN GAZA SEBAGAI PUSAT PERLAWANAN... BANGSA PALESTINA...AL MUBARAK AL KARIEM...!!! >>> LONG LIFE AND GLORIOUS GAZA AND WHOLE PALESTINE -FREE COUNTRY....>> AND GO TO HELL ISRAEL-USA-UK. AND THE REGIME OF EGYPT AND SAUDIA..CS...!! .. Perang di Gaza jauh lebih sulit dari perang di Lebanon ataupun operasi pertahanan di Tepi Barat. Para prajurit cadangan penjajah Israel “Yoav” mengatakan bahwa mereka pernah ikut perang di Lebanon Selatan dan Tepi Barat, namun masuk ke Gaza jauh lebih berat. Karena para tentara pejuang hari ini berbeda dari hari kemarin...>>> ...Para tentara penjajah itu mengatakan bahwa mereka sangat takut dengan para pejuang yang keluar dari dalam tanah dan melakukan penangkapan terhadap tentara penjajah...>> ...Seorang prajurit berinisial “S” mengatakan bahwa dia mencoba untuk menenangkan dirinya ketika malam tiba karena suara-suara ledakan yang didengarnya tidak sama dengan suara ledakan dari misil tank mereka, melainkan suara misil anti tank...>>...... Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.....>>> ....Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab...>> ....Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka......>> ..Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam. Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir....>> ...Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel. Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina....>>> kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya....>>>

Sikap Dingin Raja Saudi atas Perlawanan Hamas


By on 4:22 PM 
http://muslimina.blogspot.com/2014/07/sikap-dingin-raja-saudi-atas-perlawanan.html# 



Tanyakan kepada pejabat Palestina mengapa Presiden Mahmoud Abbas tidak pernah bertemu Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi?

Anda pasti akan mendapat jawaban singkat; "Dingin." Lainnya menjawab seraya tertawa; "Pastinya dingin politik."
 
Jika tidak Mahmoud Abbas yang enggan bertemu, Raja Abdullah menggunakan alasan kesehatan untuk membatalkan pertemuan. Padahal, Raja Abdullah sangat menderita dengan beredarnya spekulasi, setiap kali terjadi pembatalan pertemuan.
 
Riyadh menutup pintu bagi Hamas, karena tidak ingin penguasa Jalur Gaza itu menjadi cabang Ikhwanul Muslimin. Lebih dari itu, Arab Saudi berniat melucuti kelompok perlawanan Palestina berapa pun biayanya.
 
Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
 
Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina.
 
Hamas relatif hanya bergantung pada Turki dan Qatar. Di level diplomatik, Turki rela mengorbankan hubungannya dengan Mesir. Sedangkan Qatar menyediakan kebutuhan finansial bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza.
 
Informasi terakhir, menurut situs Al-akhbar, Riyadh menyusun proposi baru dengan maksud melucuti Hamas dan Jihad Islam. Perlucutan dilakukan dengan cara mengirim tentara ke Rafah, dengan iming-iming uang. Semua itu dibungkus dengan semangat rekonsiliasi.
 
Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam.
 
Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir.
 
Qatar juga melihat niat terselubung Riyadh. Saat berkunjung ke Arab Saudi, 23 Juli lalu, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani mempersingkat pembicaraannya dengan Raja Abdullah, dan segera kembali ke Doha.
 
Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka.
 
Bagi Qatar, tidak sulit mencari bukti semua ini. Pernyataan Shaul Mofaz -- menteri pertahanan Israel -- pada 20 Juli adalah salah satunya.
 
Saat itu, kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya.
 
Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.
 
Sumber-sumber Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza membenarkan adanya tawaran murah hati dari negara-negara Teluk untuk Abbas, sebagai imbalan perlucutan senjata, mencabut blokade ekonomi, rencana pembangunan komprehensif Jalur Gaza dan Tepi Barat.
 
Satu hal yang tidak dilihat Riyadh, Kairo, dan negara-negara Teluk lainnya, adalah Jihad Islam, Hamas, dan faksi-faksi perlawanan, kini semakin kuat dan mampu bertahan dari gempuran Israel dan melakukan perlawanan dalam perang darat.
 
Menlu AS John Kerry yang justru melihat semua itu. Dalam wawancara dengan CNN, Kerry secara terbuka mengatakan Hamas bukan lagi pejuang amatiran.
 
Di medan tempur, setelah kehilangan 12 serdadunya dalam pertempuran darat Minggu lalu, juru bicara militer Israel Letkol Peter Lerner mengatakan; Hamas saat ini adalah pasukan yang menjalankan latihan ekstensif, suplai senjata yang baik, dan mampu bertempur dengan motivasi dan disiplin tinggi."
 
Kepada pers internasional yang dikutip situs Alalam.ir, Lerner juga mengatakan, "Kami tengah menghadapi lawan tangguh di medan perang."
 
Ketika Hamas dan Jihad Islam menolak semua usulan gencatan senjata, Israel terus membunuh dan membunuh. Namun, negeri Yahudi tersebut bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kekejian itu. Tangan pemimpin Arab Saudi, Mesir, AS, dan UEA, juga berlumur darah bocah-bocah Palestina. (atjehcyber)

Busuknya Pemerintah Arab Saudi, Mereka Malah Lebih Memusuhi Hamas Daripada Zionis Israel

http://www.suaranews.com/2014/07/busuknya-pemerintah-arab-saudi-mereka.html 

 

Pengkhianatan AS-UK-dan Kerajaan Arab Saudi Cs terhadap bangsa dan rakyat Palestina sejak pre 1946-2014. 

Tanyakan kepada pejabat Palestina mengapa Presiden Mahmoud Abbas tidak pernah bertemu Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi?
Anda pasti akan mendapat jawaban singkat; "Dingin." Lainnya menjawab seraya tertawa; "Pastinya dingin politik."
Jika tidak Mahmoud Abbas yang enggan bertemu, Raja Abdullah menggunakan alasan kesehatan untuk membatalkan pertemuan. Padahal, Raja Abdullah sangat menderita dengan beredarnya spekulasi, setiap kali terjadi pembatalan pertemuan.
Riyadh menutup pintu bagi Hamas, karena tidak ingin penguasa Jalur Gaza itu menjadi cabang Ikhwanul Muslimin. Lebih dari itu, Arab Saudi berniat melucuti kelompok perlawanan Palestina berapa pun biayanya.
Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina.
Hamas relatif hanya bergantung pada Turki dan Qatar. Di level diplomatik, Turki rela mengorbankan hubungannya dengan Mesir. Sedangkan Qatar menyediakan kebutuhan finansial bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Informasi terakhir, menurut situs Al-akhbar, Riyadh menyusun proposi baru dengan maksud melucuti Hamas dan Jihad Islam. Perlucutan dilakukan dengan cara mengirim tentara ke Rafah, dengan iming-iming uang. Semua itu dibungkus dengan semangat rekonsiliasi.
Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam.
Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir.
Qatar juga melihat niat terselubung Riyadh. Saat berkunjung ke Arab Saudi, 23 Juli lalu, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani mempersingkat pembicaraannya dengan Raja Abdullah, dan segera kembali ke Doha.
Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti

Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka.
Bagi Qatar, tidak sulit mencari bukti semua ini. Pernyataan Shaul Mofaz -- menteri pertahanan Israel -- pada 20 Juli adalah salah satunya.

Saat itu, kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya.

Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.

Sumber-sumber Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza membenarkan adanya tawaran murah hati dari negara-negara Teluk untuk Abbas, sebagai imbalan perlucutan senjata, mencabut blokade ekonomi, rencana pembangunan komprehensif Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Satu hal yang tidak dilihat Riyadh, Kairo, dan negara-negara Teluk lainnya, adalah Jihad Islam, Hamas, dan faksi-faksi perlawanan, kini semakin kuat dan mampu bertahan dari gempuran Israel dan melakukan perlawanan dalam perang darat.

Menlu AS John Kerry yang justru melihat semua itu. Dalam wawancara dengan CNN, Kerry secara terbuka mengatakan Hamas bukan lagi pejuang amatiran.

Di medan tempur, setelah kehilangan 12 serdadunya dalam pertempuran darat Minggu lalu, juru bicara militer Israel Letkol Peter Lerner mengatakan; Hamas saat ini adalah pasukan yang menjalankan latihan ekstensif, suplai senjata yang baik, dan mampu bertempur dengan motivasi dan disiplin tinggi."

Kepada pers internasional yang dikutip situs Alalam.ir, Lerner juga mengatakan, "Kami tengah menghadapi lawan tangguh di medan perang."

Ketika Hamas dan Jihad Islam menolak semua usulan gencatan senjata, Israel terus membunuh dan membunuh. Namun, negeri Yahudi tersebut bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kekejian itu. Tangan pemimpin Arab Saudi, Mesir, AS, dan UEA, juga berlumur darah bocah-bocah Palestina.

Inilah Kesaksian Tentara Israel Tentang Tentara Hamas Yang Menakutkan


By on 2:59 PM 
http://muslimina.blogspot.com/2014/07/inilah-kesaksian-tentara-israel-tentang.html# 



GAZA -- Sebuah kesaksian disampaikan oleh tentara penjajah Israel di media Israel 'Haaretz' yang menceritakan pengalaman mereka dalam perang di Jalur Gaza.

Para tentara penjajah itu mengatakan bahwa mereka sangat takut dengan para pejuang yang keluar dari dalam tanah dan melakukan penangkapan terhadap tentara penjajah.

Seorang prajurit berinisial “S” mengatakan bahwa dia mencoba untuk menenangkan dirinya ketika malam tiba karena suara-suara ledakan yang didengarnya tidak sama dengan suara ledakan dari misil tank mereka, melainkan suara misil anti tank.


“Apa yang paling kami takuti pada perang di Gaza adalah kami tidak dapat melihat apapun pada malam hari namun hanya mendengar ledakan-ledakan di semua tempat,'' ujar prajurit tersebut.

Perang di Gaza jauh lebih sulit dari perang di Lebanon ataupun operasi pertahanan di Tepi Barat. Para prajurit cadangan penjajah Israel “Yoav” mengatakan bahwa mereka pernah ikut perang di Lebanon Selatan dan Tepi Barat, namun masuk ke Gaza jauh lebih berat. Karena para tentara pejuang hari ini berbeda dari hari kemarin.

Sementara media Israel lainnya, Yediot Ahronot, mengatakan bahwa untuk pertama kalinya para perwira militer ditempatkan di barisan terdepan dengan maksud semula untuk mengangkat semangat para prajurit, namun justru banyak diantara perwira tersebut terbunuh.

“Kita harus mengakui bahwa kita menghadapi pejuang bersenjata lengkap dengan senjata yang canggih dan presisi termasuk senjata berat dan mortir,'' salah seorang sumber Zionis mengatakan kepada Guardian.

“Ini adalah pertempuran yang sangat sulit dan sangat mengejutkan, karena para pejuang sudah menunggu kami,” ujar sumber tersebut menambahkan tentara Israel telah mengalami hari-hari paling buruk.(republika)


Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan

Selasa,  29 Juli 2014  −  14:35 WIB http://international.sindonews.com/read/887024/45/mengintip-terowongan-hamas-yang-membuat-israel-ketakutan
Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan
Salah satu terowongan di Gaza yang menembus wilayah Israel. | (European Pressphoto Agency / Jim Hollander)
GAZA - Dalam sebuah perang darat, seorang perwira militer Israel, Letnan Kolonel Oshik Azulai, kaget sekaligus takut. Dia melihat terowongan gelap gulit di perbatasan Jalur Gaza Palestina. Dalamnya, sekitar 46 meter.

Ponsel, katanya, tidak bisa aktif di dalam terowongan itu. Kolonel Azulai, yang menjabat sebagai Wakil Komandan Divisi Gaza Selatan Militer Israel itu, menceritakan terowongan yang dia jumpai membentang ke wilayah Israel. Bentuknya mirip seperti bentuk semangka.

Melalui salah satu terowongan itulah, banyak militan Gaza menyusup ke Israel dan membunuh sejumlah tentara Zionis. Sejumlah terowongan itu pula yang membuat warga dan pejabat Israel ketakutan, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

”Kami tidak akan menyelesaikan operasi tanpa menetralkan terowongan, satu-satunya tujuan yang merupakan penghancuran warga sipil dan pembunuhan anak-anak kita,” kata Netanyahu dalam sebuah pidato di televisi. (Baca: Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tetara Zionis)

”Tidak mungkin bahwa warga negara Israel akan hidup di bawah ancaman mematikan (dari) rudal dan penyusupan (militan) melalui terowongan. Kematian (datang) dari atas dan dari bawah,” lanjut dia, seperti dikutip New York Times.

Terowongan di Gaza, semula menjadi imajinasi para pejabat Israel sejak tahun 2006, ketika militan Hamas menculik seorang tentara Israel. Tapi, kini terowongan itu bukan lagi imajinasi, tapi menjadi ancaman yang menakutkan bagi para pejabat Israel.

Banyak ahli di Israel semula meragukan perjuangan para militan di Gaza dengan mengandalkan terowongan. Tapi, mereka kini mulai pikir-pikir untuk meremehkan militan Gaza melalui terowongan itu.

”Ini membawa kita sedikit ke masa kecil, seperti dongeng dari setan,” kata Eyal Brandeis, 50, seorang ilmuwan politik yang tinggal di Kibbutz Sufa, satu mil dari tempat 13 militan yang muncul dari terowongan saat fajar pada 17 Juli 2014 lalu.

“Ini adalah sangat lingkungan pastoral tempat saya tinggal, kondisinya tenang, dengan rumput hijau, dan pohon-pohon. Ini bukan pikiran yang menyenangkan bahwa Anda duduk pada suat hari di teras, minum kopi dengan istri dan sekelompok teroris akan muncul dari tanah,” ujarnya yang menyebut para militan sebagai teroris.

Pihak militer Israel mengatakan, setidaknya sudah lebih dari 70 terowongan ditemukan. Salah satu terowongan yang dianggap menakutkan adalah terowongan Ein Hashlosha. Di mana, melalui terowongan itu terdapat air, kerupuk; sekaligus granat roket dan senapan otomatis.
  
Ada juga kamar kecil untuk tidur atau bersembunyi. Selain itu terdapat pula borgol plastik, seragam tentara Israel.”Itu alah satu terowongan yang sangat baik,” kata Kolonel Azulai. ”Ini seperti kereta bawah tanah, di bawah tanah Gaza.”


Ada Kecanggihan

Ahli Israel mengatakan untuk membantun setiap terowongan akan memakan waktu hingga satu tahun dan biaya hingga USD2 juta. Bahkan untuk membuatnya butuh puluhan penggali yang bekerja dengan tangan dan dengan alat-alat listrik kecil.

Militer Israel, kata Azulai, telah mengetahui tentang cerita terowongan itu sejak 2003. Tapi, para tentara Israel baru kaget setelah mengetahui ada kecanggihan yang mereka temukan.

Perwira intelijen pernah melacak sejumlah terowongan di Gaza Mereka bahkan mengandalkan peralatan komunikasi yang digunakan di bawah tanah.

”Sebagian besar alat, tepatnya alat fisik, tidak bekerja di bawah tanah. Itu sangat terbatas,” kata Brigjen. Jenderal Shimon Daniel, yang memimpin korps zeni tempur Israel 2003-2007. ”Ini adalah paradoks. Ini bukan hal mudah. Ini lebih sulit (dari yang dibayangkan).”

Senin petang kemarin (28/7/2014), kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel. Mereka menyusup ke wilayah Israel melalui terowongan, menyamar dan kemudian menghabisi 10 tentara Zionis Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.
(mas)

Jakartatheraphy Theraphy's photo.
Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan
Salah satu terowongan di Gaza yang menembus wilayah Israel. | (European Pressphoto Agency / Jim Hollander)

D*alam sebuah perang darat, seorang perwira militer Israel, Letnan Kolonel Oshik Azulai, kaget sekaligus takut. Dia melihat terowongan gelap gulita di perbatasan Jalur Gaza Palestina. Dalamnya, sekitar 46 meter.

Ponsel, katanya, tidak bisa aktif di dalam terowongan itu. Kolonel Azulai, yang menjabat sebagai Wakil Komandan Divisi Gaza Selatan Militer Israel itu, menceritakan terowongan yang dia jumpai membentang ke wilayah Israel. Bentuknya mirip seperti bentuk semangka.

Melalui salah satu terowongan itulah, banyak militan Gaza menyusup ke Israel dan membunuh sejumlah tentara Zionis. Sejumlah terowongan itu pula yang membuat warga dan pejabat Israel ketakutan, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

”Kami tidak akan menyelesaikan operasi tanpa menetralkan terowongan, satu-satunya tujuan yang merupakan penghancuran warga sipil dan pembunuhan anak-anak kita,” kata Netanyahu dalam sebuah pidato di televisi.

”Tidak mungkin bahwa warga negara Israel akan hidup di bawah ancaman mematikan (dari) rudal dan penyusupan (militan) melalui terowongan. Kematian (datang) dari atas dan dari bawah,” lanjut dia, seperti dikutip New York Times.

Terowongan di Gaza, semula menjadi imajinasi para pejabat Israel sejak tahun 2006, ketika militan Hamas menculik seorang tentara Israel. Tapi, kini terowongan itu bukan lagi imajinasi, tapi menjadi ancaman yang menakutkan bagi para pejabat Israel.

Banyak ahli di Israel semula meragukan perjuangan para militan di Gaza dengan mengandalkan terowongan. Tapi, mereka kini mulai pikir-pikir untuk meremehkan militan Gaza melalui terowongan itu.

”Ini membawa kita sedikit ke masa kecil, seperti dongeng dari setan,” kata Eyal Brandeis, 50, seorang ilmuwan politik yang tinggal di Kibbutz Sufa, satu mil dari tempat 13 militan yang muncul dari terowongan saat fajar pada 17 Juli 2014 lalu.

“Ini adalah sangat lingkungan pastoral tempat saya tinggal, kondisinya tenang, dengan rumput hijau, dan pohon-pohon. Ini bukan pikiran yang menyenangkan bahwa Anda duduk pada suat hari di teras, minum kopi dengan istri dan sekelompok teroris akan muncul dari tanah,” ujarnya yang menyebut para militan sebagai teroris.

Pihak militer Israel mengatakan, setidaknya sudah lebih dari 70 terowongan ditemukan. Salah satu terowongan yang dianggap menakutkan adalah terowongan Ein Hashlosha. Di mana, melalui terowongan itu terdapat air, kerupuk; sekaligus granat roket dan senapan otomatis.
Ada juga kamar kecil untuk tidur atau bersembunyi. Selain itu terdapat pula borgol plastik, seragam tentara Israel.

”Itu salah satu terowongan yang sangat baik,” kata Kolonel Azulai. ”Ini seperti kereta bawah tanah, di bawah tanah Gaza.”

*Ada Kecanggihan*

Ahli Israel mengatakan untuk membangun setiap terowongan akan memakan waktu hingga satu tahun dan biaya hingga USD 2 juta. Bahkan untuk membuatnya butuh puluhan penggali yang bekerja dengan tangan dan dengan alat-alat listrik kecil.

Militer Israel, kata Azulai, telah mengetahui tentang cerita terowongan itu sejak 2003. Tapi, para tentara Israel baru kaget setelah mengetahui ada kecanggihan yang mereka temukan.

Perwira intelijen pernah melacak sejumlah terowongan di Gaza Mereka bahkan mengandalkan peralatan komunikasi yang digunakan di bawah tanah.

”Sebagian besar alat, tepatnya alat fisik, tidak bekerja di bawah tanah. Itu sangat terbatas,” kata Brigjen. Jenderal Shimon Daniel, yang memimpin korps zeni tempur Israel 2003-2007. ”Ini adalah paradoks. Ini bukan hal mudah. Ini lebih sulit (dari yang dibayangkan).”

Senin petang kemarin (28/7/2014), kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel. Mereka menyusup ke wilayah Israel melalui terowongan, menyamar dan kemudian menghabisi 10 tentara Zionis Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.

*Mortir Gaza Hantam Eshkol, 4 Tentara Israel Tewas*

Empat tentara Israel tewas setelah serangan mortir dari Gaza menghantam sebuah situs militer di Eshkol, Israel selatan, semalam (28/7/2014).

Media Israel semula melaporkan, korban tewas adalah warga sipil. Namun, tidak berselang lama, militer Israel mengkonfirmasi bahwa empat korban tewas adalah tentara Israel.

Militer Israel juga menyampaikan informasi terbaru, bahwa total korban tewas dari kubu militer Israel hingga hari ini (29/7/2014) sudah mencapai 48 jiwa. Selain itu, tiga warga Israel juga tewas selama perang di Gaza berlangsung.

Yang menjadi pukulan telak bagi militer Israel adalah aksi militan Brigade al-Qassam yang menyusup ke wilayah Israel. Para militan itu menyamar dan membunuh 10 tentara Israel.

*Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis*

Kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel, Senin petang kemarin. Mereka berhasil menewaskan 10 tentara Israel setelah militan al-Qassam menyamar dan menyusup di barisan militer Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.
Setelah membunuh 10 tentara Israel, para militant al-Qassam itu berhasil pulang dengan selamat ke pangkalan mereka di Gaza.

Sementara itu, Militer Israel mengakui ada penyusupan dari militan Jalur Gaza melalui terowongan yang menembus wilayah Israel.

“Militan melepaskan tembakan terhadap pasukan Israel dan kami pencarian sedang dilakukan untuk menemukan mereka,” bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip kantor berita Ma’an, Selasa (29/7/2014).

Sedangkan media Israel, Chanel 10 melaporkan, telah terjadi baku tembak di dekat Nahal Oz, sebelah timur Gaza. Militer Israel mengklaim telah membunuh empat militan Gaza.

Perintah Militer Zionis Israel Agar Tentaranya Bunuh Diri Daripada Ditawan Hamas

http://www.suaranews.com/search/label/top/ 


Militer rezim Zionis Israel dalam salah satu perintah rahasia untuk pasukannya mengumumkan, "Sebelum kalian tertawan, bunuh diri."
Situs berita Al Sharq Al Awsat (29/7) mengutip sebuah sumber Israel melaporkan, staf komando Angkatan Bersenjata Israel memerintahkan pasukannya untuk tidak sampai menjadi tawanan pejuang Palestina.
Militer Israel menyarankan kepada pasukannya untuk bunuh diri agar tidak menjadi sandera, bahkan di beberapa kasus militer Israel sendiri yang membunuh pasukannya.
Pasca tertangkapnya seorang tentara Israel oleh Brigade Ezzeddin AlQassam, di perbatasan Gaza, tank-tank Israel membombardir wilayah ini sehingga tentara-tentaranya tewas dan tidak menjadi tawanan.
Militer Israel juga memperingatkan pasukannya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan Gilad Shalit, tentara Israel yang kebebasannya harus ditebus oleh lebih dari 1000 tahanan Palestina.

Is the West Bank witnessing a resurgence of Fatah’s al-Aqsa Martyr Brigades?

A Palestinian protester holding his national flag stands amid smoke after tear gas was fired by Israeli security forces during clashes in the West Bank village of Bilin, on July 28, 2014, following a demonstration in support of Palestinians from the Gaza Strip. (Photo: AFP-Abbas Momani)
http://english.al-akhbar.com/content/west-bank-witnessing-resurgence-fatah%E2%80%99s-al-aqsa-martyr-brigades
Published Monday, July 28, 2014

While Fatah may have made an about-face with its attitudes regarding the war on Gaza, it will not be able to easily reactivate its armed wing, al-Aqsa Martyrs Brigades, owing to its long political journey that has broken the back of its military leaders.

Hebron – “Al-Aqsa Martyrs Brigades, the armed wing of the Fatah Movement, claims responsibility for firing at the occupation forces stationed at the Qalandia checkpoint in Ramallah…and confirms there were casualties among them on Saturday June 26, 2014.” 

This was not a random statement or just another military statement coming from the Resistance in Gaza during the war. No, this was from the West Bank. 








Those who do not know what it means for Fatah’s al-Aqsa Martyrs Brigades to claim responsibility for armed clashes in a West Bank city are invited to pay attention to the fact that Operation Defensive Shield in 2012, coupled with the subsequent policy of security collaboration between the Palestinian Authority and Israel, were the most important factors in putting down the Resistance there, especially since most martyrdom operations in the occupied territories that once haunted Israel had originated from the West Bank. 
 Since then, Fatah sought to distance itself from armed struggle, on the grounds that the liberation phase of the cause had ended. Fatah focused instead on “state-building,” and accordingly, amnesty with Israeli consent was given to activists from al-Aqsa Martyrs Brigades, including those involved in killing Israeli soldiers. These activists were reintegrated into educational and rehabilitation programs, and then into jobs in Palestinian Authority institutions, and were given salaries and promotions. 

Nevertheless, al-Aqsa Martyrs Brigades and similar organizations continued to be designated as “terrorist groups.” The logo of Fatah’s military wing, details about its members and operations and so on, continue to be found on the websites of several international “counter-insurgency” organizations.

As clashes recently erupted in many parts of the West Bank, the question that has emerged is this: Will al-Aqsa Martyrs Brigades make a comeback – recall that Fatah established the organization at the beginning of the second intifada – to lead events again and the Palestinian street toward a third intifada? For one thing, stone throwing has lost its practical effectiveness compared to armed struggle since the first intifada, even though it remains a symbol that haunts the occupation. 








Before attempting to answer this question, it should be pointed out that al-Aqsa Martyrs Brigades’ vision is to end Israeli occupation in the territories occupied in 1967 to establish a Palestinian state, that is, its vision is consistent with that of the political wing of the Fatah movement. However, this did not prevent al-Aqsa Martyrs Brigades from carrying out commando operations during the second intifada outside the West Bank, hitting targets as far as Tel Aviv. 
 Al-Aqsa Martyrs Brigades’ cells expanded into Gaza, but its growth in the Strip was stunted with the assassination of its founder there, Jihad Amarin, after which al-Aqsa Martyrs Brigades scattered into small combat groups. Al-Aqsa Martyrs Brigades’ role in Gaza gradually disappeared as Mahmoud Abbas’ faction took over the Palestinian Authority, and today, its presence there is limited to groups supported by Hamas (Ayman Jaoudeh’s groups), by the Palestinian Islamic Jihad (al-Mujahidin and Abu Sharia), and by Hezbollah (Imad Mughniyeh).

The dismantling of the Brigades

As part of the social engineering process in the West Bank following the end of the second intifada, and as part of the Palestinian state-building process on the basis of peace, democracy, and coexistence with the occupation, the Palestinian Authority and Israel agreed in October 2008 to grant amnesty to al-Aqsa Martyrs Brigades activists who agreed to lay down their arms and sign documents pledging not to participate in any operations against Israel. 

The total number of individuals who received amnesty was 329, out of a long list prepared by the Israelis of all fugitives in the West Bank from all factions. The list was handed over to the Palestinian Authority, who formed the so-called Fugitives Committee to hold dialogue with them before granting them amnesty in return for their arms and other conditions.

Under the agreement, the Israeli authorities stopped trying to apprehend the fugitives, provided the latter were kept in the custody of the security services for three months. At the end of the three-month period, the Israeli authorities were notified of which individuals received full or partial pardons, and who was taken off – or kept on – the list of fugitives, including al-Aqsa Martyrs Brigades activists who had completely renounce resistance. 

Some of those included in the deal were allowed to move only in Area A (the areas under Palestinian control), while others who were refused amnesty in the past were placed under probation pending a final decision in their cases. Individuals who received partial amnesty were allowed to leave at 7 am, but had to go back to sleep the night at Palestinian Authority detention centers. Yet all this humiliation did not stop the Israelis from assassinating or detaining individuals who had been granted amnesty. 

The detailed background above is meant to clarify how an armed resistance organization that had external support was dismantled, while another organization seized its weapons in return for amnesty and a normal life if the activists pledged to renounce “violence.” 

Subsequently, armed individuals in Palestinian cities, villages and some refugee camps began to disappear, and after 2008 any armed individual who refused to lay down his or her arms was dealt with harshly. 








There were some who were able to keep their weapons and dodge the trap of conditional amnesty and the efforts to dismantle the Resistance in the West Bank. These rejectionists, including former detainees, had to acquire weapons at double the price in order to have a safety net in light of the profound transformations affecting the Palestinian political landscape. This faction remained on the ground, stationing itself in camps like Jenin, Balata, Qalandia, and other areas designated by the Palestinian Authority and Israel as hotspots.

An imminent comeback?

The current situation is marked by Fatah’s retreat from armed struggle, in parallel with the detention or even assassination of the former leaders of armed resistance. In addition, the current Palestinian leadership in the West Bank favors so-called peaceful resistance, such as protests (a majority of which are prohibited from going to areas of direct contact with the occupation). 

On the other hand, recent shooting incidents indicate that a green light was given to some armed individuals who must coordinate with one another and with some in the leadership – because no one can move this quickly to carry out armed attacks except with protection from the eyes of the security services. 

Apart from the theory that Mohammed Dahlan, expelled Fatah leader, is trying to ignite the West Bank based on the fact that he has a long track record in security coordination, it is possible to interpret the incidents in another way: While it is very unlikely that Fatah cadres or all of Fatah could be drawn into a full confrontation, it seems that some armed cells have taken it upon themselves to initiate some individual efforts. However, it is important to note that these efforts are difficult to transform into a systematic phenomenon as a result of complicated circumstances on the ground and the lack of funding – an important issue especially with the extremely high prices of weapons in the West Bank.

Since the Israeli attacks on Gaza over 20 days ago, clashes in the West Bank and the occupied territories are growing in frequency and number. There have been more than 36 spots where clashes occurred with the occupation forces, with a corresponding number of press reports about al-Aqsa Martyrs Brigades’ involvement in a number of attacks on Israeli targets. 

So does this mean that the armed organization has returned? Will sleeper cells be activated to confront Israeli forces, especially in light of reports that Hezbollah is directly funding the Brigades in the West Bank? It is also possible to raise other questions about purported decisions by some Palestinian Authority leaders to take advantage of al-Aqsa Martyrs Brigades’ return to win the sympathy of the masses, who are disillusioned with the political failure of their leadership. 

In this context, it should be noted that security collaboration is still the biggest threat to armed struggle in the West Bank, specifically in the refugee camps, which the Palestinian Authority could not re-engineer and demilitarize. The Palestinian Authority continues its attempts to nip any seeds of Resistance in the bud, even when those seeds are affiliated to Fatah. At any rate, it is very possible that we will see solitary cells engaged in guerilla warfare and attacks using small arms, and those who know the West Bank will know that such cells could indeed hurt the enemy and haunt the settlers and soldiers deployed on the streets and along the checkpoints.

This article is an edited translation from the Arabic Edition.

Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis

Selasa,  29 Juli 2014  −  10:38 WIB
http://international.sindonews.com/read/886991/43/menyamar-di-israel-militan-al-qassam-habisi-10-tentara-zionis
Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis
Para militan Brigade al-Qassam siaga dengan senjatanya. | (Maan)
GAZA - Kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel, Senin petang kemarin. Mereka berhasil menewaskan 10 tentara Israel setelah militan al-Qassam menyamar dan menyusup di barisan militer Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.

Setelah membunuh 10 tentara Israel, para militant al-Qassam itu berhasil pulang dengan selamat ke pangkalan mereka di Gaza.

Sementara itu, Militer Israel mengakui ada penyusupan dari militan Jalur Gaza melalui terowongan yang menembus wilayah Israel.

“Militan melepaskan tembakan terhadap pasukan Israel dan kami pencarian sedang dilakukan untuk menemukan mereka,” bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip kantor berita Ma’an, Selasa (29/7/2014).

Sedangkan media Israel, Chanel 10 melaporkan, telah terjadi baku tembak di dekat Nahal Oz, sebelah timur Gaza. Militer Israel mengklaim telah membunuh empat militan Gaza.

Empat Serdadu Israel Tewas Terkena Roket Pejuang Palestina





Serangan rudal dan roket para pejuang Palestina ke posisi-posisi militer rezim Zionis Israel telah menewaskan empat tentara Zionis.
 
Para pejuang Palestina pada Senin (28/7) menembakkan sejumlah rudal ke posisi-posisi Zionis di wilayah Eshkol sebagai balasan atas kejahatan-kejahatan militer Israel. Demikian dilaporkan FNA.
 
Serangan balasan tersebut telah menewaskan empat tentara Israel dan melukai tujuh lainnya.
 
Kanal 10 televisi rezim Zionis telah mengkonfirmasi tewasnya empat tentara Israel dan terlukanya beberapa dari mereka dalam serangan rudal ke Eshkol.
 
Sumber-sumber Zionis hingga kini hanya mengkonfirmasi bahwa 41 tentaranya telah tewas sejak digelar perang di Jalur Gaza. Padahal Brigade Izzudin al-Qassam dalam statemen terbarunya mengatakan bahwa 91 tentara Zionis telah tewas sejak serangan Israel ke Gaza. (IRIB Indonesia/RA)

Wakil Panglima Pasdaran: Perang Gaza Awal Keruntuhan Israel




Wakil Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, Pasdaran mengatakan, perang Gaza adalah awal dan pendahuluan keruntuhan rezim Zionis Israel.

Mehr News (28/7) melaporkan, Jenderal Hossein Salami, Ahad (27/7) malam, terkait serangan-serangan yang dilakukan Israel ke Gaza menekankan urgensi pembelaan atas negara-negara Islam dari serangan musuh.

 
Menurutnya syuhada adalah bukti bernilai, harga diri dan kemuliaan bangsa Iran yang menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Iran secara total akan melindungi tanah airnya.

Salami menegaskan, bangsa Iran di puncak ketidakadilan politik, ekonomi dan militer, mampu membela diri dalam perang yang dipaksakan selama delapan tahun. Mereka sama sekali tidak membiarkan sejengkal tanahnya direbut musuh dan ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.
(IRIB Indonesia/HS)

Kiat Hamas Jaga Semangat Juang Lawan Zionis Israel

Senin, 21 Juli 2014, 06:00 WIB
Republika/Daan 
Ikhwanul Kiram Mashuri
Ikhwanul Kiram Mashuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Sungguh memprihatinkan! Ketika para pejuang Palestina di Jalur Gaza sedang menghadapi serangan membabibuta Zionis Israel, ada beberapa pengamat Timur Tengah, pemimpin Arab, dan pihak-pihak lain yang justeru menyalahkan sikap para pemimpin Pergerakan Hamas.

Pertama, mereka mempertanyakan mengapa pejuang Hamas tetap saja meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel, padahal senjata tersebut tidak membahayakan keamanan negara Zionis itu. Bahkan sebagian besar roket itu telah hancur di udara dilumpuhkan oleh sistem pertahanan canggih anti-rudal Israel yang disebut Iron Dome.

Kedua, dengan kengototan pejuang Hamas meluncurkan roket ke wilayah Israel berarti ada alasan sah Negara Yahudi itu untuk terus menyerang Jalur Gaza. Serangan yang hingga pada hari Sabtu saja, dua hari lalu, telah menewaskan 40 syahid Palestina. Dengan demikian, serangan udara dan darat tentara Zionis Israel yang berlangsung sejak beberapa hari lalu telah memakan korban sejumlah 340 syahid dan lebih dari 3.400 orang luka-luka berat dan ringan. Belum lagi ratusan rumah dan fasilitas umum yang hancur rata dengan tanah. Kalau saja Hamas tak meluncurkan roketnya, kata mereka, mungkin Israel Israel tidak akan menyerang Gaza.  

Pertanyaannya, adakah para pejuang Hamas harus memberhentikan serangan roket-roketnya ke wilayah Zionis Israel dan kemudian menerima tawaran Pemerintah Mesir untuk gencatan senjata?


Selasa pekan lalu (15/7) Mesir menawarkan solusi gencatan senjata yang dikatakannya akan menguntungkan kedua belah pihak. Dengan solusi ini, kata Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukri,  kedua pihak berkesempatan untuk saling menghentikan perang, mencegah pertumpahan darah warga Palestina, membebaskan blokade terhadap Gaza, dan memberi kesempatan kedua belah pihak untuk berunding.

Namun, tawaran itu ditolak Hamas. Mereka menilai, solusi yang ditawarkan Mesir bukan win-win solution, tapi justeru lebih menguntungkan pihak Israel. Misalnya, dalam solusi versi Mesir itu tidak disebutkan bahwa Israel adalah pihak agresor dan penjajah, apalagi sebagai penjahat perang. Di sana, Israel juga tidak dipersalahkan menyerang Gaza dan telah menewaskan ratusan warga dan menghancurkan rumah-rumah dan falitas umum lainnya.  

Menurut kolomnis Timur Tengah Tohir Al ‘Udwan di media Aljazira.net, semua solusi yang tidak menyalahkan Israel berarti memaksa bangsa Palestina menerima semua kejahatan yang dilakukan penjajah Zionis Israel sejak 1967. Dengan demikian, katanya, bangsa Palestina  sepertinya disuruh memili dua pilihan yang sama-sama pahit.

Pertama, mereka dipaksa menerima fakta pendudukan Israel, menjadikan wilayah Palestina sebagai daerah Yahudi, blokade, penangkapan, dan pengusiran orang-orang Palestina dari tanah airnya. Dengan kata lain, tuntutan bangsa Palestina untuk membebaskan tanah airnya, mendirikan negara merdeka, dan memulangkan para pengungsi adalah ilegal.

Kedua, bangsa Palestina dipaksa tunduk dan menerima tindakan Israel selama ini, baik yang terkait dengan perundingan berat sebelah atau pembunuhan dengan berbagai senjata canggih yang bisa didapat dan dikembangkan oleh Zionis Israel. Sungguh, lanjut Al ‘Udwan, sangat aneh bila berbagai serangan dan pembunuhan yang dilakukan Zionis Israel selama ini yang justeru dipersalahkan adalah para pejuang Palestina, hanya lantaran  meluncurkan roket-roke Al Qosam ke wilayah Israel.

Sementara itu, proses perundingan yang sudah dimulai sejak 25 tahun lalu justeru  telah memberi keleluasaan kepada Zionis Israel untuk membangun ribuan pemukiman Yahudi di daerah pendudukan serta mengyahudikan identitas Masjidil Aqsa dan sekitarnya. Juga  menangkap para pejuang dan mengusir orang-orang Palestina dari rumahnya, serta menghancurkan rumah-rumah warga Palestina.

Karena itu, perlawanan bangsa Palestina -- meskipun dengan roket-roket sederhana dan mungkin ketinggalan zaman dibandingkan dengan persenjataan canggih Israel -- harus dibaca sebagai simbol perjuangan melawan kezaliman. Kezaliman dari musuh yang tidak memberi pilihan lain kecuali kematian cepat dengan serangan persenjataan canggih atau kematian pelan-pelan dengan blokade darat, udara, dan laut.

Ya, perlawanan bangsa Palestina, termasuk dengan roket-roket sederhana, harus dimaknai sebagai simbol kehendak bangsa yang ingin merdeka. Simbol sebuah bangsa yang ingin menjaga semangat juang terhadap kesewenang-wenangan. Ya, inilah kiat dan cara bangsa Palestina selama ini untuk menjaga semangat juang melawan kezaliman Zionis Israel.

Belajar dari sejarah bangsa-bangsa, ternyata senjata bukan segalanya untuk memperoleh kemerdekaan. Yang diperlukan adalah semangat juang untuk menuntut kebebasan dan kemerdekaan. Yang dibutuhkan adalah menegakkan harga diri dan kehormatan yang telah diinjak-injak oleh penjajah. Ya, kemerdekaan dan kebebasan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan bukan sebuah pemberian atau belas kasihan.

Indonesia mempunyai pengalaman panjang bagaimana merebut kemerdekaan meskipun dengan persenjataan yang sangat sederhana. Tidak ada senjata api, bambu runcing pun jadi untuk membuat keder musuh yang bersenjatakan modern. Bangsa Palestina juga sudah berpengalaman dengan intifadah 1 dan intifadah 2. Intifadah adalah perang rakyat semesta dengan bersenjatakan apa adanya: ketepel, lemparan batu, pisau dapur, dan apapun yang kejangkau oleh tangan. Gerakan intifadah pernah membuat penjajah Israel tunggang langgang meninggalkan gelanggang perang.

Kini yang dibutuhkan oleh bangsa Palestina adalah solidaritas dari dunia internasional, terutama bangsa-bangsa yang suka kebebasan dan kemerdekaan. Bangsa-bangsa yang membenci penjajahan, kezaliman, dan eksploitasi sebuah bangsa atas bangsa lain. Ya,  penjajahan seperti dilakukan Zionis Israel pada bangsa Palestina adalah musuh bersama seluruh bangsa yang menjunjung tinggi dan mencintai kebebasan dan kemerdekaan.
 


KALAU BENAR ADA KESEPAKATAN BATU TULIS.. ANTARA ... IBU MEGA DAN PAK PRABOWO...??? MENGAPA IBU MEGA INKAR JANJI..??? >>> ADAKAH SUATU YANG PRINSIP...?? ATAUKAH... IBU MEGA SUDAH LUPA... DENGAN JANJI-KESEPAKATAN ITU... KARENA ASYIK MAIN POLITIK....??? >>>> KONON PK SABAM SIRAIT.. MALAH MEMBANTAH ADANYA PERJANJIAN BATU TULIS.. ANTARA PK PRABOWO DAN IBU MEGA.. ?? >>> INILAH PERMAINAN POLITIK..YANG KONON.. TIDAK LEPAS DARI DUSTA2...??>> SIAPAKAH YANG BERDUSTA.. PAK PRABOWO.. ATAU IBU MEGA...?? ATAU MALAHAN PDIP.. YANG SARAT.. DENGAN.. PENCITRAAN YANG KONON.. SANGAT MASIF DIKOORDINIR.. PARA AHLI INTELIGEN.. HASIL PENDIDIKAN MAESTRO INTELIGEN DAN POLITIK... BPK BENY MURDANI DAN BPK.. ALI MURTOPO CS...??>> MALAH LEBIH RUMIT LAGI.. DIMANA FREEPORT CS.... BERMAIN DIBELAKANG LAYAR ATAU SECARA LANGSUNG...??? >> KALAU CAMPUR TANGAN ASING.. DAN PARA MAFIA KONGLOMERAT IKUT BERMAIN... MAKA KEJAHATAN TERSELUBUNG SUDAH BISA DIPASTIKAN... MENGOTORI.. ALUR POLITIK.. YANG KONON SANGAT MUDAH DISUSUPI... KARENA SELALU HAUS AKAN DANA DAN AMBISI KEKUASAAN.... DAN LEZATNYA UANG... WALAUPUN DENGAN CARA2 JAHAT DAN CULAS...??>> WASPADALAH...!!! ... >>>...... sulit membayangkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan kelompoknya demi secuil kekuasaan terpaksa harus melacuri diri di jalan kejahatan berdemokrasi. Sebuah bentuk prilaku busuk yang dihasilkan oleh gelora politik yang menjijikan dan tanpa rasa malu.....>>> ...Prestasi puncak dari tabiat ironi Megawati kian menjadi-jadi di perhelatan pilpres 2014. Yakni, berawal dari skandal pengingkaran "perjanjian Batu Tulis" terhadap Prabowo Subianto yang berujung pada tukar guling kepentingan politik pragmatis berupa pemberian mandat PDIP kepada Jokowi sebagai capres bonekanya....>>> ...Megawati selaku dalang di balik kisah politik Jokowi karbitan yang serba instan tersebut sangat larut menikmati semua bentuk kebohongan yang dilakukan. Tak heran, saat KPU memaksakan keputusan untuk memenangkan Jokowi melalui pemilu curang, Megawati dan komplotan pengusung capres boneka membalas dengan senyum, sembari meneteskan air mata di hadapan publik...>> ....Kita sudah tahu-sama-tahu bahwa lembaga-lembaga survei yang menjamur itu bukanlah lembaga yang murni akademis, tetapi lembaga profesial yang komersial. Tidak saya pungkiri bahwa dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya tidak dapat diabaikan pula....>> ....berbagai kesempatan Megawati berpidato dengan mulut berbusa-busa menegaskan bahwa pihaknya sangat menentang berbagai bentuk korupsi dan praktek politik kotor. Bahkan Mega mengkritik proses pemilu yang tengah berlangsung sarat dengan kecurangan, politik uang, manipulasi data IT dan dituding telah ditunggangi oleh kepentingan asing dan pemilik modal besar....>> ...Biasanya laporan hasil riset ada 2 macam. Satu yang benar, hanya untuk kepentingan internal; dan yang tidak benar, untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk memengaruhi opini publik. Hasil survei yang disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survei yang disulap itu bisa dijadikan sebagai bagian dari upaya kecurangan pemilu secara sistemik. Melalui pengumuman hasil survei yang meluas itu, pelan-pelan opini publik akan terbentuk, mana partai atau tokoh yang unggul, mana yang memble....>> .... Freeport berencana akan PHK 50 persen pekerja tambang lapangannya. Selama ini rencana PHK selalu dikait-kaitkan karena Freeport tidak mau membangun smelter. Freeport sendiri memang sama sekali tidak berencana dan berkeinginan membangun smelter karena menurut mereka kewajiban tersebut sudah dipenuhi tahun 1995 ketika Smelter Gresik beroperasi, dimana 75% nya diurus Mitsubishi dan 25% Freeport McMoran...>> ...Tidak mau berurusan dengan arbitrase dan urusan lain-lain dengan pemerintah, Freeport secara terpaksa belakangan mau membangun smelter lagi...>> ..Smelter akan bangun di Gresik, Jawa Timur. Daerah Gresik dipilih karena faktor bisnis dimana di sana tersedia energi gas. Pertimbangan lainnya karena faktor lingkungan dimana produk buangan smelter berupa H2SO4 atau asam sulfat pekat yang sangat beracun dapat dikelola langsung oleh Pupuk Gresik sebagai salah satu bahan utama pembuatan pupuk...>> ..."Kalau bangun di Papua sama saja bohong, karena gak ada sumber energi yang tersedia, gak ada pembangkit listrik se pulau Papua selain menggunakan solar dan batubara impor dari kalimantan, serta pengelolaan lingkungan yang beresiko tinggi karena hasil buangan smelter harus secara khusus dilakukan pengelolaan dengan biaya tinggi," papar sumber yang paham betul soal seluk beluk Freeport Indonesia itu...>> .."Jokowi janji akan memindahkan smelter Freeport ke salah satu kota di Papua, tapi belum tahu akan dibuat di kota mana. Pekerja (Freeport) rekam pembicaraan mereka dengan Jokowi," ujar seorang sumber kepada redaksi rmol tadi malam (Kamis, 25/7)..??? >> Tiap kali Pemilu, Teknologi Infoemasi (IT) Komisi Pemilihan Umum selalu ngadat, pengumpulan suara lamban dan membosankan. Keadaan ini membuat orang lelah, apatis dan akhirnya putus asa serta tidak perduli lagi. Dalam keadaan seperti itu, praktik jual beli suara, transaksi pemindahan suara dari 1 parpol ke parpol lain terjadi dengan mudahnya. Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. Kedaulatan rakyat hanyalah mimpi...>>....>>

Kemenangan Dusta Jokowi Bikin Megawati Menangis


By on 6:41 PM



Saya sulit membayangkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan kelompoknya demi secuil kekuasaan terpaksa harus melacuri diri di jalan kejahatan berdemokrasi. Sebuah bentuk prilaku busuk yang dihasilkan oleh gelora politik yang menjijikan dan tanpa rasa malu.

Dalam berbagai kesempatan Megawati berpidato dengan mulut berbusa-busa menegaskan bahwa pihaknya sangat menentang berbagai bentuk korupsi dan praktek politik kotor. Bahkan Mega mengkritik proses pemilu yang tengah berlangsung sarat dengan kecurangan, politik uang, manipulasi data IT dan dituding telah ditunggangi oleh kepentingan asing dan pemilik modal besar.

Namun ucapan-ucapan Megawati hanyalah retorika kosong dan inkonsisten. Bahkan justru yang terjadi sebaliknya, terbukti mengais jalan keuntungan dari bobroknya pelaksanaan pemilu sebagai sebuah kesempatan untuk ikut melanggengkan kecurangan di depan mata rakyat.

Ihwal perilaku Megawati yang inkonsisten dan sikap munafik telah menjadi watak bawaan dan sekaligus modal politiknya untuk tetap melenggang bebas di panggung politik nasional. Tak peduli benar atau salah, yang penting dapat mengais "jatah haram" dengan berbagai cara melalui akal bulusnya untuk menipu rakyat.

Prestasi puncak dari tabiat ironi Megawati kian menjadi-jadi di perhelatan pilpres 2014. Yakni, berawal dari skandal pengingkaran "perjanjian Batu Tulis" terhadap Prabowo Subianto yang berujung pada tukar guling kepentingan politik pragmatis berupa pemberian mandat PDIP kepada Jokowi sebagai capres bonekanya.

Dari alur politik yang menyesatkan itu, Megawati tampil menghimpun berbagai kepentingan yang sejalan dengan ambisinya. Memoles rupa penampilan pencitraan Jokowi sebagai capres boneka untuk dipaksakan menang dalam sebuah proses pemilu yang curang dan tidak berkualitas.

Hasilnya, Jokowi bergerak lincah di atas kebohongan berdemokrasi, kian melaju mengejar ambisinya sebagai orang nomor satu di negeri ini. Drama politik ala capres boneka, spontan menyiram rasa haru dan puja-puji atas nama dukungan fanatik membabi-buta dari pengusung setianya.

Dan menariknya, Megawati selaku dalang di balik kisah politik Jokowi karbitan yang serba instan tersebut sangat larut menikmati semua bentuk kebohongan yang dilakukan. Tak heran, saat KPU memaksakan keputusan untuk memenangkan Jokowi melalui pemilu curang, Megawati dan komplotan pengusung capres boneka membalas dengan senyum, sembari meneteskan air mata di hadapan publik.

Situasi itu membuat berjuta pemirsa di tanah air menyindir: "para badut politik sedang euforia merayakan kemenangan dusta Jokowi melalui kebohongan berdemokrasi...". Sungguh memalukkan !
(visibaru)
salam

by Faizal Assegaf
Ketua Progres 98

NB: catatan kecil ini dibuat sebagai renungan jelang lebaran, semoga dapat membuka kesadaran anak bangsa untuk berpikir kritis dan selalu berpihak pada kebenaran.

Ini Isi Perjanjian Batu Tulis Antara-Megawati dengan Prabowo

Selasa, 18 Maret 2014 - 02:12 wib | Angkasa Yudhistira - Okezone


Ini Isi Perjanjian Batu Tulis Antara-Megawati dengan Prabowo 

  Foto perjanjian Batu Tulis yang beredar di internet JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Pejuangan telah mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon Presiden pada Pemilu 2014. Tak terima, Partai Gerindra pun mengusut perjanjian keduanya pada 2009 yang dikenal dengan batu tulis.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memastikan  perjanjian Batu Tulis yang disepakati pada 2009 lalu menyebut, PDI Perjuangan akan memberikan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2014.

Berikut isi keseluruhan perjanjian yang ditandatangani pada 16 Mei 2009 itu:

Kesepakatan Bersama PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia 2009-2014

Megawati Soekarnopitri sebagai Calon Presiden, Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden dan Prabowo Subianto sebgai calon Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

2. Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden, jika terpilih, mendapat penguasaan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan asas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistim presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan Presiden dan calon Wakil Presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

3. Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet berdasarkan pada penugasan butir 2 di atas. Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait, menteri-menteri tersebut adalah: Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindra untuk kemakmuran rakyat.

5. Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan prosentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dibentuk bersama-sama melibatkan kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat.

7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Jakarta 16 Mei 2009

Megawati Soekarnoputri

Prabowo Subianto (keduanya tandatangan di atas materai) (kem)

Sabam Sirait:
Tidak Benar Perjanjian Batu Tulis Capreskan Prabowo
Rabu, 19 Maret 2014 | 17:37

 
Sabam Sirait. [Antara]







Sabam Sirait. [Antara]


[JAKARTA] Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Sabam Sirait  membantah ada kesepakatan antara PDI-P dan Partai Gerindra untuk menjadikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu 2014.  

“Saya tidak pernah dengar ada kesepakatan itu. Atau mungkin Megawati membuat kesepakatan lain di luar pertemuan Batu Tulis,” kata Sabam di Jakarta, Rabu (19/3).  

Calon anggota DPD RI itu menuturkan, pada 16 Mei 2009, dirinya diundang ke Batu Tulis. Ada enam orang dari PDI-P dan enam orang dari Partai Gerindra yang hadir.  

“Prabowo ada di situ. Megawati ada di situ. Kami sepakat memutuskan PDI-P dan Gerindra mencalonkan Megawati-Prabowo sebagai calon presiden dan calon wakil presiden 2009,” katanya.  

“Itu saja. Tidak ada di luar itu. Saya dengar setelah mau pulang, ada yang bicara tahun 2014. Karena itu tidak ada di agenda pertemuan, semua teman-teman pulang. Agenda hanya membicarakan Pemilu 2009,” tambah Sabam.  

Sementara itu, pengamat politik M Qodari melihat ada perbedaan penafsiran soal isi Perjanjian Batu Tulis.  


“Kalau Gerindra tidak melihat semua isi perjanjian, tetapi langsung ke nomor 7. Kalau PDI-P melihat secara keseluruhan,” katanya.  
Di Pasal 3 perjanjian itu, kata Qodari, berbunyi, “Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet. Berkaitan dengan penugasan pada butir 2 di atas, Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait. Menteri-menteri tersebut adalah Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.”

Sementara bagi PDI-P, kalau perjanjian nomor 3 ini terpenuhi, dimana keduanya menang Pemilu 2009, maka Prabowo Subianto akan diusung menjadi calon presiden pada Pemilu 2014.  

Tetapi Partai Gerindra langsung melihat Pasal 7 yang berbunyi, “Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.”  
Selain itu, kata Qodari, langkah Gerindra  mempersoalkan hal ini ke media sudah salah. “Gerindra lakukan pendekatan yang salah ke PDI-P, terutama ke Megawati Soekarnoputri,” katanya.

Menurut Qodari, Ibu Megawati itu orang yang tidak bisa ditekan. Makin ditekan, makin keras sikapnya. Ibu Megawati tidak bisa dikalkulasi secara rasional, perlu pendekatan hati.  

Jangan pernah melakukan upaya politik menyakiti hatinya. Karena kalau Megawati merasa sakit hatinya, semua pintu akan tertutup dengan sendirinya.  

“Pendekatan teman-teman dari Gerindra ini menyerang dan menekan. Apakah dengan sikap itu akan mengubah situasi? Jawabannya tidak akan,” kata Qodari. [L-8]    

Berikut ini isi Perjanjian Batu Tulis yang dipersoalkan Prabowo:
KESEPAKATAN BERSAMA
PDI PERJUANGAN DAN PARTAI GERINDRA
DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 2009-2014

Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden
Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindera) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

2. Prabowo Subianto sebagai wakil presiden, jika terpilih, mendapat penugasan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan azas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan kepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistem presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan calon presiden dan calon wakil presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

3. Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet. Berkaitan dengan penugasan pada butir 2 diatas, Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait. Menteri-menteri tersebut adalah Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindera untuk kemakmuran rakyat.

5. Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan presentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 dibentuk bersama-sama melibatkan kader-kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindera serta unsur-unsur masyarakat.

7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Jakarta, 16 Mei 2009
http://www.suarapembaruan.com/home/tidak-benar-perjanjian-batu-tulis-capreskan-prabowo/51518

Ternyata Jokowi Sudah Teken Kontrak Terkait Freeport Sebelum Pilpres


By on 2:58 AM



Mayoritas suara Pilpres 2014 di Bumi Cenderawasih  mengalir ke Joko Widodo alias Jokowi. Di Provinsi Papua, Jokowi menang telak dengan perolehan suara 72,49 persen, sementara di Provinsi Papua Barat unggul dari Prabowo Subianto dengan mendapat 67,63 persen suara.

Belakangan terbongkar soal strategi Jokowi mendulang kemenangan di Papua. Salah satu strateginya adalah menandatangani kontrak politik terkait operasi Freeport, perusahaan tambang asal Amerika Serikat di Papua.

"Jokowi janji akan memindahkan smelter Freeport ke salah satu kota di Papua, tapi belum tahu akan dibuat di kota mana. Pekerja (Freeport) rekam pembicaraan mereka dengan Jokowi," ujar seorang sumber kepada redaksi rmol tadi malam (Kamis, 25/7).

Freeport berencana akan PHK 50 persen pekerja tambang lapangannya. Selama ini rencana PHK selalu dikait-kaitkan karena Freeport tidak mau membangun smelter. Freeport sendiri memang sama sekali tidak berencana dan berkeinginan membangun smelter karena menurut mereka kewajiban tersebut sudah dipenuhi tahun 1995 ketika Smelter Gresik beroperasi, dimana 75% nya diurus Mitsubishi dan 25% Freeport McMoran.

Tidak mau berurusan dengan arbitrase dan urusan lain-lain dengan pemerintah, Freeport secara terpaksa belakangan mau membangun smelter lagi.
Smelter akan bangun di Gresik, Jawa Timur. Daerah Gresik dipilih karena faktor bisnis dimana di sana tersedia energi gas. Pertimbangan lainnya karena faktor lingkungan dimana produk buangan smelter berupa H2SO4 atau asam sulfat pekat yang sangat beracun dapat dikelola langsung oleh Pupuk Gresik sebagai salah satu bahan utama pembuatan pupuk.

Janji Jokowi membangun smelter di Papua tidak tepat. Juga, tidak tepat upaya Jokowi mengatasi rencana 50 persen PHK pekerja Freeport dengan membangun smelter di Papua.

"Kalau bangun di Papua sama saja bohong, karena gak ada sumber energi yang tersedia, gak ada pembangkit listrik se pulau Papua selain menggunakan solar dan batubara impor dari kalimantan, serta pengelolaan lingkungan yang beresiko tinggi karena hasil buangan smelter harus secara khusus dilakukan pengelolaan dengan biaya tinggi," papar sumber yang paham betul soal seluk beluk Freeport Indonesia itu.

Diingatkan, smelter merupakan pabrik yang mengandalkan mekanisasi dan otomatisasi. Pabrikasi tidaklah padat karya. Paling banyak smelter hanya akan memiliki tenaga kerja 600 orang, atau jauh lebih kecil dari jumlah tenaga kerja pabrik panci Maspion, atau pabrik garment kelas menengah di Bandung.

"Mungkin saja Jokowi dan Freeport main mata soal smelter akan dibangun di Papua. Untung untuk Jokowi dapat suara banyak di timur. Untuk Freeport biar rugi sedikit asal dapat kepastian di perpanjang sampai 2041," demikian sumber itu menutup perbincangan dengan redaksi.


sumber: rmol

Bukti Ditemukan Indikasi Kuat, KPUD Hingga KPU Menerima Uang Untuk Jegal Prabowo 

 http://www.suaranews.com/search/label/top/


Calon presiden (capres) Prabowo Subianto mengatakan pelaksanaan pilpres lalu banyak terjadi kecurangan khususnya dalam proses rekapitulasi.

Bahkan kecurangan tersebut melibatkan para pejabat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi yang berpihak kepada salah satu kandidat karena telah menerima sejumlah uang.


"Ini mencemaskan kita semua bagaimana bisa kita hidup sebagai negara merdeka kalau semua pejabat kita atau hampir semua pejabat kita tidak punya integritas, bisa disogok, bisa dibeli, dimana tempat keadilan untuk rakyat yang tidak punya uang," ujar Prabowo dalam pernyataannya yang dikutip dari akun Youtube pribadinya, Sabtu (26/7/2014).

Menurutnya, seharusnya para pejabat terutama penyelenggara pemilu bisa bersikap independen dan tidak berpihak. Bahkan tidak boleh berpihak karena ada sejumlah uang yang diterima.

"Ternyata kalau semua lembaga-lembaga tersebut buntu karena korupsi, hakim-hakim sudah tidak punya integritas. Hakim bisa dibeli, pejabat KPU bisa dibeli, pejabat KPUD bisa dibeli, kalau ini terjadi apa masa depan bangsa kita," ungkapnya.

Prabowo mengatakan, sikapnya yang menolak hasil rekapitulasi KPU semata-mata karena ingin menegakkan demokrasi yang sebenarnya. Sebab proses pilpres yang baru lalu jauh dari kata demokrasi.

"Apakah kita berdiri tegak untuk membela keutuhan bangsa, kemandirian bangsa, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi atau kita menyerah kepada uang, kita menjual nilai-nilai kita, menjual diri, kepribadian, dan harga diri kita," tandasnya.
 

Modus Rekayasa Agar Cocok Hasil Survey Dengan Hasil Pemilu

Yusril Ungkap Modus Rekayasa bagaimana Hasil pemilu bisa sama dengan hasil Lembaga Survei

Lembaga Survei & Kedaulatan Rakyat
Yusril Ihza Mahendra: Pakar Hukum Tata Negara

yusril_im 

Saya ingin menuliskan tentang lembaga survei Pemilu yang akhir-akhir ini sering menghebohkan dunia politik kita.

Kita sudah tahu-sama-tahu bahwa lembaga-lembaga survei yang menjamur itu bukanlah lembaga yang murni akademis, tetapi lembaga profesial yang komersial. Tidak saya pungkiri bahwa dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya tidak dapat diabaikan pula.

Partai politik atau politisi yang akan berkompetisi, sudah lazim meminta lembaga survei melakukan kegiatannya. Tujuannya bukan semata-mata untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dirinya, tetapi juga untuk membentuk opini publik.

Tidak jarang suatu lembaga survei sdh menandatangani kontrak dengan partai politik atau politisi untuk jangka waktu tertentu. Besarnya nilai kontrak tentu sesuai kemampuan partai atau politisi yang bersangkutan. Makin besar uang, makin canggih lembaga surveinya.

Biasanya laporan hasil riset ada 2 macam. Satu yang benar, hanya untuk kepentingan internal; dan yang tidak benar, untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk memengaruhi opini publik.

Hasil survei yang disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survei yang disulap itu bisa dijadikan sebagai bagian dari upaya kecurangan pemilu secara sistemik. Melalui pengumuman hasil survei yang meluas itu, pelan-pelan opini publik akan terbentuk, mana partai atau tokoh yang unggul, mana yang memble.

Kalau opini sudah terbentuk, langkah selanjutnya merekayasa perolehan suara agar pas seperti hasil survei. Banyak cara dapat dilakukan untuk merekayasa perolehan suara. Langkah pertama dimulai dari penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Makin kacau dan tidak akurat DPT, rekayasa akan makin mudah. Surat suara yang berlebih, bisa dicoblos sendiri untuk menangkan suatu parpol.

Berbagai trik untuk mengatur perolehan suara dilakukan sejak dari tingkatan TPS (lokasi), PPS (Desa/Kelurahan), PPK (Kecamatan) sampai Kabupaten/kota. Luasnya wilayah negara kita membuat pengawasan penghitungan suara menjadi sangat sulit dan rumit. Ada potensi untuk curang disini.

Tiap kali Pemilu, Teknologi Infoemasi (IT) Komisi Pemilihan Umum selalu ngadat, pengumpulan suara lamban dan membosankan. Keadaan ini membuat orang lelah, apatis dan akhirnya putus asa serta tidak perduli lagi. Dalam keadaan seperti itu, praktik jual beli suara, transaksi pemindahan suara dari 1 parpol ke parpol lain terjadi dengan mudahnya.

Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. Kedaulatan rakyat hanyalah mimpi.

Akhirnya apa yang terjadi? Hasil akhir pemilu persis seperti hasil survei yang sebelumnya sudah dicekokkan kepada public. Rakyat pun akhirnya dapat menerima urutan pemenang pemilu, toh sudah cocok dengan hasil survei jauh hari sebelum pemilu yang sudah ada di otak mereka. Kalau demikian, maka bukan lembaga survei itu yang canggih bisa memprediksi hasil Pemilu. Tapi sebaliknya, hasil pemilu yang direkayasa secara sistemik agar hasilnya sesuai dengan hasil survei.

Demikian tulisan saya. Semoga mencerahkan mengenai sisi lain survei dan hasil Pemilu di negeri yang makin antah berantah ini.
Terima kasih.